• Tidak ada hasil yang ditemukan

PENGARUH MARXISME TERHADAP EKSISTENSIALISME JEAN PAUL SARTRE

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2022

Membagikan "PENGARUH MARXISME TERHADAP EKSISTENSIALISME JEAN PAUL SARTRE"

Copied!
97
0
0

Teks penuh

(1)

PENGARUH MARXISME TERHADAP EKSISTENSIALISME JEAN PAUL SARTRE

Skripsi

Diajukan untuk memenuhi persyaratan memperoleh Gelar Sarjana Agama (S.Ag.)

Oleh

Muhammad Rohmadin NIM 11170331000031

PROGRAM STUDI AQIDAH DAN FILSAFAT ISLAM FAKULTAS USHULUDDIN

UNIVERSITAS ISLAM NEGERI SYARIF HIDAYATULLAH JAKARTA

1443 H / 2021 M

(2)

i

(3)

ii

PENGARUH MARXISME TERHADAP EKSISTENSIALISME JEAN PAUL SARTRE

Skripsi

Diajukan ke Fakultas Ushuluddin untuk Memenuhi Persyaratan Meraih Gelar Sarjana Agama (S. Ag.)

Oleh:

Muhammad Rohmadin NIM: 11170331000031

Dosen Pembimbing:

Dr. Edwin Syarif MA NIP. 19670918 1997031 001

PROGRAM STUDI AQIDAH DAN FILSAFAT ISLAM

FAKULTAS USHULUDDIN

UNIVERSITAS ISLAM NEGRI SYARIF HIDAYATULLAH

JAKARTA

1441 H./2020 M.

(4)

iii

LEMBAR PENGESAHAN

Skripsi berjudul “PENGARUH MARXISME TERHADAP

EKSISTENSIALISME JEAN PAUL SARTRE” telah diujikan

dalam sidang munaqasyah Fakultas Ushuluddin Universitas Islam Negeri Syarif Hidayatullah Jakarta pada tanggal 30 November 2021, Skripsi ini telah diterima sebagai salah satu syarat memperoleh gelar sarjana agama (S.Ag) pada program studi Aqidah dan Filsafat Islam.

Sidang Munaqasyah,

Ketua Merangkap Anggota, Sekretaris Meranggkap Anggota,

Dr. Tien Rohmatien, MA NIP. 19680803 199403 2 002

Dra. Banun Binaningrum, M.Pd NIP. 19680618 199903 2 001 Punguji,

Penguji I Penguji II

Drs. Agus Darmaji, M.Fils NIP. 196108271993031002

Rosmaria Sjafariah Widjajanti, S.S, M.Si

NIP. 19710409 199803 2 003 Pembimbing

Dr. Edwin Syarif, MA Nip. 196709181997031001

(5)

iv ABSTRAK

Marxisme merupakan sebuah gerakan filsafat yang dibawa oleh Marx. Yang saat itu Marx sendiri menyusn teori-teori sistem ekonomi, politik dan sosiologi. Pengikut teori ini yang disebut marxis. Sedangkan eksistensi merupakan sebuah aliran filsafat yang menekankan keberadaan manusia. Dalam pandangan Sartre eksistensi mendahului esensi. Perkembangan filsafat Sartre dimulai dari filsafat eksistensinya yang menekankan konsep kebebasan dan eksistensi. Saat Sartre menulis buku Being and Nothingness dan Existentialism and Humanism Sartre masih menekankan kebebasan individu dan sangat kuat mengkritik gerakan marxisme. Akan tetapi setelah perang dunia kedua Sartre berpindah haluan menjadi seorang marxisme yang sangat menekankan konsep kebebasan kelompok yang saat itu ditulis dalam karyanya Critique of Dialectical Reason dan Search Search For A Method. Dalam karya ini Sartre menjelaskan pemikiran kirinya. Marxisme menurut Sartre menjadi sebuah gerakan politik dan eksistensi menjadi sebuah ideologi. Sartre menjelaskan saat manusia mengalami kelangkaan marxisme akan selalu ada dan berperan penting untuk mengatasi kelangkaan. Kebutuhan atas makanan menjadi hal yang sangat penting bagi manusia, saat manusia sulit dalam memenuhi kebutuhan yang disebabkan oleh kapitalisme dalam mengendalikan pasar atau dalam pandangan Sartre disebut Totalisasi (Institusi besar dan organisasi). Bagaimana masyarakat yang kekurang dapat mengatasi itu, Sartre mengusulkan dengan adanya sebuah kelompok yang bisa memberikan wadah untuk melawan kapitalisme dari problem kelangkaan. Walaupun dengan adanya kelompok itu manusia akan selalu bebas, akan teapi kebebasan itu harus disertai dengan tanggung jawab. Marxisme dan eksistensi menjadi filsafat yang baru dalam akhir-akhir usia Sartre yang membuat masyarakat saat itu melihat Sartre sebagai seorang marxisme yang membela masyarakat yang tertindas dari kuatnya sistem kapitalisme.

Kata Kunci : Eksistensialisme, Sartre, Marxisme, Kebebasan, Keterasingan

(6)

v

Kata Pengantar

Puji syukur atas kehadirat Allah SWT, Tuhan semesta alam yang telah menganugrahkan segala nikmat dan hidayah-Nya. Sehingga penulis diberi kekuatan dan kemampuan dalam menyusun dan menyelesaikan tugas akhir ini. Shalawat serta salam penulis haturkan kepada junjungan Nabi Muhammad SAW yang telah menuntun umat manusia kedalam zaman jahiliyyah. Semoga penulis dan kita semua tergolong kedalam umatnya dan mendapat syafa‟atnya kelak dihari akhir.

Penting penulis utarakan, dengan penuh rasa syukur pada Allah SWT, akhirnya tugas akhir ini bisa diselesaikan dengan baik dan penuh tanggung jawab. Disini penulis belajar banyak dari berbagai pengalaman dan kesabaran sebagai catatan dikemudian hari bahwa proses adalah pintu gerbang keberhasilan yang sesungguhnya.

Penulis mengucapkan banyak terimakasih atas berbagai dukungan, bimbingan dan arahan-arahan yang diberikan kepada penulis. Pihak-pihak yang telah mendukung dan membantu dalam penyusunan skripsi ini, yaitu kepada:

1. Yth Prof. Dr. Amany Burhanudin Lubis, Lc., M.A., selaku Rekto UIN Syarif Hidayatullah Jakarta

2. Dr. Yusuf Rahman, M.A., selaku Dekan Fakultas Ushuluddin UIN

Syarif Hidayatullah Jakarta

(7)

vi

3. Ibu Dr. Tien Rohmatin, M.A., selaku Ketua Jurusan Aqidah dan Filsafat Islam UIN Syarif Hidayatullah Jakarta yang telah membantu dalam menyusun skripsi ini.

4. Bapak Dr. Edwin Syarif, M.A., selaku Dosen Pembimbing Skripsi, yang telah sangat sabar dalam membimbing penulis. Walaupun terkadang penulis sedikit lama dalam perevisian, tapi beliau selalu memberikan kebebasan, memahami dan dengan tabah membantu hamba dalam menyelesaikan skripsi ini.

5. Kepada Bapak/Ibu Dosen Fakultas Ushuluddin UIN Syarif Hidayatullah Jakarta yang telah memberikan dan mengampu mata kuliah selama penulis mengerjakan skripsi ini. Prof. Mulyadi Kartanegara, Dr. Agus Darmaji, Dr.Tien Rohmatin, M.A., Miss Banun Binaningrum, MPd, Alm Dr Nanang Tahqiq, Dr. Hanafi, Prof. Zainun Kamal, Alm Dr. Iqbal Hasanuddin, Dr. Din Wahid. Dr. Khalid Walid, Drs Ramlan Abdul Gani, Dr. Kusen Phd. Dra. Wiwi Siti Syajarah.

6. Teruntuk buat Alm Dr. Pariz Pari dan keluarganya, yang sudah membantu saya dalam mengerjakan skripsi ini. Beliau sudah mengantarkan saya memberanikan menulis dan literasi yang berat, walaupun terkadang saya banyak ngeluhnya. Para keluarganya pun sudah memberikan fasilitas pada saat saya mengerjakan skripsi ini dan alhamdulillas sudah sampai tahap selesai.

7. Teruntuk orangtuaku Ema dan Bapak yang ingin selalu melihat anaknya bahagia, yang selalu membaggakan anaknya (yang serba kurang) di setiap orang, yang tak pernah luput memberikan doa.

Penulis khususkan skripsi ini untuk Ema dan Bapak. Kepada adik-

(8)

vii

adikku dan kakek yang sudah banyak membantu cucunya pada saat mengerjakan skripsi in dalam bentuk material yang tak dapat di hitung.

8. Kepada segenap sahabat-sahabat, teman seperjuangan, Riadis Saudi, Umy, Bahari Dikba, Zezen, Hendi, dan Zikraini, dan semua teman- teman yang tak bisa saya sebutkan., kalian telah memberikan motivasi dan masukan-masukan dalam penyusunan skripsi ini. Alhamdulillah semoga kalian sukses dan kapan-kapan bisa kumpul bareng lagi.

9. Terkhusukan buat para senior-senior yang sudah banyak membantu.

Bung Emha, Bung Renaldi, Bung Islah, Bung Tomo yang sudah membantu saya dalam mengerjakan skripsi dengan baik, yang sudah membantu saya bagaimana menulis skripsi ini. Dan juga kepada Kak Yaziz terimakasih banyak atas saran-sarannya dan masukkannya, yang membuat saya yang awalnya putus asa menjadi lebih semangat lagi.

10. Terkhususkan buat lembaga diskudi Ciputat FORMACI, yang sudah mengajarkan saya banyak tentang keilmuan yang tak bisa saya dapatkan di kampus. Buat yang tinggal di Formaci Bung Emha, Bung Toif, Bung Aji, Bung Kholis dan Bung Farhan, kalian sudah menjadi teman diskusi selama beberapa waktu.

11. Dan terakhir saya khsusukan dan persembahkan kepada guru dan

orangtua intelektual saya, Bapak Harun Nasution dan Ibu Sayedah

Nasution, Bapak Alm Fakhruddin.

(9)

viii

Daftar Isi

LEMBAR PERSETUJUAN PEMBIMBING ... i

LEMBAR PERNYATAAN ... ii

LEMBAR PENGESAHA. ... iii

ABSTRAK ... iv

KATA PENGANTAR ... vii

DAFTAR ISI ... vi

PEDOMAN TRANSLITERASI ... x

BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah ... 1

B. Batasan dan Rumusan Masalah ... 7

C. Manfaat Penelitian ... 8

D. Tinjauan Pustaka ... 8

E. Metode Penelitian ... 9

F. Sistematika Penulisan ... 10

BAB II MARXISME DAN EKSISTENSIALISME A. Pengertian dan Sejarah Marxisme ... 12

a. Marxisme Karl Marx ... 14

b.. Marxisme Lenin ... 16

B. Pengertian dan Sejarah Eksistensialisme ... 19

B.1. Eksistensialisme Soren Kieerkegaard ... 22

b. Eksistensi Estetis ... 25

c. Eksistensi Etis ... 26

d. Eksistensi Religius ... 27

B.2. Eksistensialisme Heidegger ... 28

a. Konsep Manusia ... 29

b. Eksistensi Heidegger ... 30

BAB III MENGENAL JEAN PAUL SARTRE A. Biografi Jean Paul Sartre ... 32

B. Pemikiran dalam Ada dan Ketiadaan ... 36

(10)

ix

1. Dua Cara Berada:être-en-soi dan être-pour-soi ... 38

2. Filsafat Kebebasan Jaen Paul Sartre ... 43

3. Pemikiran tentang Relasi Antarmanusia ... 48

BAB IV ANALISIS PENGARUH MARXISME TERHADAP EKSISTENSIALISME JEAN PAUL SARTRE A. Pemikiran dalam Kritik atas Rasio Dialektis ... 52

1. Totalisasi ………..… ... 57

2. Kelangkaan (Scarcity) ... 58

3. Serialitas ... 59

B. Eksistensialisme dan marxisme Jean Paul Sartre ……… ... 61

C. Sartre dan Mrxisme ... 64

D. Pandangan Marxisme dan eksistensialisme dalam Perspektif Islam ………....66

1. Pandangan Marxisme Ali syariati………. ….…66

2. Pandangan Eksistensialisme Muhammad Iqbal……… …...………..72

BAB V PENUTUP A. Kesimpulan ... 78

B. Saran ... 80

Daftar Pustaka ... 82

(11)

x

PEDOMAN TRANSLITERASI ARAB-LATIN

Surat keputusan Rektor UIN Syarif Hidayatullah Jakarta No: 507 Tahun 2017 tentang Pedoman Penulisan Karya Ilmiah (Skripsi, Tesis, dan Disertasi ) UIN Syarif Hidayatullah Jakarta

No Huruf Arab Huruf Latin Keterangan

1 ﺍ Tidak dilambangkan

2 ب B Be

3 T Te

4 Ts te dan es

5 J Je

6 H H dengan garis bawah

7 Kh Ka dan ha

8 D De

9 Dz De dan zet

10 R Er

11 Z Zet

12 S Es

13 Sy Es dan ya

14 S Es dengan garis di bawah

15 D De dengan garis di bawah

16 T te dengan garis di bawah

17 Z Zet dengan garis di bawah

18 „ Koma terbalik di atas hadapan kanan

19 Gh Ge dan ha

20 F Ef

21 Q Ki

22 K Ka

23 L El

(12)

xi

24 M Em

25 N En

26 W We

27 H Ha

28 ` Apostrof

29 Y Ye

(13)

1 BAB I PENDAHULUAN

A. Latar Belakang Masalah

Perkembangan Eksitensialisme yang pertama dilakukan oleh seorang bernegara Denmark yaitu Soren Kierkergard dan yang paling terkenal yaiiu Jean Paul Sartre yang dimana eksistensilaisme membantah teorinya Hegelian di Jerman. Marxisme sebuah gerakan dari Karl Marx yang dimana teori filsafatnya yang paling terkenal adalah Materialisme Karl Marx. Munculnya paham eksistensialisme merupakan kritik terhadap filsafat klasik dan pertengahan yang cenderung fatalisme. Pada era filsafat klasik dan pertengahan akar-akar historis eksistensialisme sudah ada tetapi tidak di bahas dalam kajian manusia dalam sisi pandangnya, yang menjadikan manusia sebagai objek pemikirannya sehingga terlepas dari kehidupan nyata (Abstrak), “pemikiran-pemikiran filsafat terdahulu menghancurkan kebebasan manusia itu sendiri, dan analisis filsafat berfilsafat abstrak seolah-seolah sang pemikir tidak memikirkan dirinya sendiri secara konkrit”.1

Dalam pandangan Ahmad Tafsir mengatakan bahwa filasafat eksitensialisme merupakan filsafat yang menempatkan cara wujud manusia sebagai tema sentral. Inilah adalah salah satu ragam satu filsafat. Tokoh-tokoh yang dapat digolongkan kedalam filsafat eksistensi sudah banyak terdapat sebelum lahirnya filsafat eksitensialisme. Adapun yang dimaksud dengan filsafat eksistensialisme, rumusannya lebih sulit dari pada eksistensi. Sejak munculnya filsafat eksistensi, cara wujud manusia telah dijadikan tema sentral pembahasan filsafat, tetapi belum pernah ada eksistensi yang secara begitu radikal mengahadapkan manusia kepada dirinya seperti pada eksistensialisme.2 Bagi Jan Hendrik Rapar dalam karyanya menjelaskan eksistensialisme adalah sautu filsafat yang menolak pemutlakan akal budi dan menolak pemikiran-pemikiran abstrak murni. Eksistensialisme berupaya untuk memahami manusia yang berada didalam

1Save M. Dagun. Filsafat Eksistensialisme, (Jakarta: Rineka Cipta, 1990), h. 45.

2Ahmad Tafsir. Filsafat umum akal dan hati sejak Thales sampai Capra, (Bandung:

Rosda, 2006), h. 218-219.

(14)

2

dunia, yakni manusia yang berada pada situasi yang khusus dan unik. Blackham mengatakan bahwa eksistensialisme adalah suatu filsafat keberadaan, suatu filsafat pembenaran dan penerimaan dan suatu penolakan terhadap usaha rasionalisasi pemikiran yang abstrak tentang kebenaran.3Metode yang digunakan oleh para pemikir eksistensialis disebut metode eksistensial. Metode-metode eksistensial dipengarruhi oleh pemikiran Kierkegaard (1813-1855), bapak eksistensialisme, pemikiran dan metode Kierkegaard merupakan reaksi yang terutama tertuju kepada rasionalisme idealistis Hegel yang dianggapnya telah mati dan tidak berguna lagi.

Eksistensialisme juga muncul sebagai reaksi terhadap pandangan idealisme Yunani, terutama idealisme Hegel. Idealisme menurunkan seluruh realitas pada suatu bentuk yang disebut jiwa dan roh. Plato misalnya, berpendapat bahwa ide adalah realitas yang sebenarnya, sedangkan yang realitas yang sebenarnya, sedangkan yang selain ide merupakan bayangan dari ide tersebut.

Idealisme Hegel, memandang manusia sebagai makhluk rohani, yaitu wujud manusia terletak didalam rohnya, dengan demikian manusia bukanlah suatu otonom yang berpripadi, melainkan hanya bagian dari suatu keseluruhan proses kesempurnaan diri roh untuk menjadi absolut.4 Idealisme yang demikian menjadikan yang subjektivitas manusia tidak mencerminkan kehidupan yang konkret, karena makna dan kedudukannya terserap kedalam kesadaran absolut.

Pokok pemikiran eksistensialisme adalah manusia, dimana manusia mampu berada untuk “menjadi‟ dan eksis didunia ini. Filsafat yang pada dasarnya adalah ontologis, oleh karenanya filsafat eksistensialisme mempertanyakan mengapa manusia ada dan berada?, siapakah manusia itu?, untuk apa manusia ada dan berada?5 Pusat perhatian Eksistensialisme adalah persoalan manusia yang dilihat dari sudut cara beradanya. Eksistensialisme, dengan demikian, membahas

3Jan Hendrik Rapar, Pustaka Filsafat pengantar filsafat, (Yogyakarta: Kanisius, 1996), h.

116.

4Muzairi. Eksistensialisme Jean Paul Sartre (Sumur tanpa dasar kekebasan manusia), (Yogyakarta: Pustaka pelajar, 2002), h. 19-21.

5Soerjono Soermargono. Filsafat Abad 20. (Yogyakarta: PT Tiara Wacana, 1998), h. 140.

(15)

3

persoalan manusia akan tetapi bahasan marxisme lebih fokus pada persoalan sosial dan ekonomi manusia.

Eksistensi Sartre menyebutnya sebagai en-soi, suatu badan yang bukan subjek. Menurut filosof perancis, selain en-soi, ada juga yang di sebut poursoi, yaitu sesuatu yang sadar akan dirinya sendiri. Bagi Adelbert Snijders seorang yang dalam bidang Antropologi menjelaskan, eksistensialisme juga berpendapat bahwa sifat khusus tentang cara manusia berada disangkal dan dilalaikan oleh materialisme, dan manusia diposisikan sebagai objek, padahal manusia juga merupakan subjek yang berhadapan dengan objek.6 Materialisme menganggap keberadaan manusia sama saja dengan benda-benda lainnya. Eksistensialisme menolak pandangan ini, karena cara manusia berada manusia dengan benda-benda tidaklah sama. Manusia menyadari dirinya ada di dunia, sedangkan benda-benda tidak sama. Manusia menyadari dirinya ada di dunia, sedangkan benda-benda tidak. Manusia yang dimaksud materialisme, dalam istilah Satre, hanyalah sebagai being-in-itself (ada dalam diri) saja, bukan being-for-itself (ada-untuk dirinya).

Sejauh ini, tidak ada yang mengankal bahwa Sartre amat dipengaruhi oleh gagasan Karl Marx.

Perkembangan Marxisme dapat ditemukan diartikel surat kabar Perancis Sartre pada saat kunjungnnya ke Amerika Serikat pada tahun 1945. Dibagian inilah yang tidak dapat diketahui oleh Amerika Serikat hingga tahun 2021 dan tidak diterbikan ulang dalam bahasa perancis, dia pertamakali menggunakan kategori Marxis untuk menjelaskan AS dan kelas pekerja. Sartre menekankan bahwa pekerja AS adalah ”belum proletar” karena mereka “dipenjara” oleh individualisme dan menikmati kesetaraan yang nyata. Sartre akhirnya meawarkan esksistensialisme sebagai alternatif dari Marxisme Stalin. Menurut Aronson keinginan Sartre adalah untuk menggantikan determinisme Marxisme Soviet dengan dorongan manusia untuk bertansformasi dan mencipta yaitu dengan sebuah kebebasan sebagai dasar revolusi. Sartre menyerap bahasa Marxisme dan caranya memahami sejarah dan masyarakat, sementara itu kaum komunisme

6Adelbert Snijders. Antropologi Filsafat;Manusia, Paradoks dan Seruan, (Yogyakarta:

Kanisius, 2004), h. 24.

(16)

4

menyebut eksistensialisme sebagai ”Filosofi yang kotor dan sembrono untuk orang sakit”. Meskipun Sartre berusaha keras untuk membedakan eksistensialisme dari Marxisme Stalin. Dalam karyanya Being and Nothingess telah membuatnya mengeksplorasi secara panjang lebar kebebasan secara panjang lebar kebebasan manusia untuk meniadakan atau melampaui “fakta” atau hal-hal yang kita temukan dalam diri kita. Mengatakan bahwasanya kita selalu dalam situasi yang dibatasi oleh realitas sosial dan sejarah, dari bahasa, lingkungan, ras, jenis kelamin, pendidikan hingga seterata kelas yang terjadi dalam kehidupan sehari hari. Menurut Sartre keberadaan manusia tidak pernah dapat bisa ditentukan.

Kebebasan menurut Sartre tiada artinya diluar situasi konkret, betapun membatasi atau menindasnya. Dalam upaya memahami keadaan situasi penindasan, Sartre melakukan kontak yang semakin dalam dengan pendekatan Marxis terhadap struktur sejarah dan sosial. Menurut Aronson teori ini memiliki pengaruh sangat besar pada budaya dan intektualnya saat itu.7

Sejauh ini, tidak ada yang mengankal bahwa Sartre amat dipengaruhi oleh gagasan Karl Marx. Dalam What is Literature? Sartre menilai bahwa sastra kaum borjuis (dengan adagium art for art‟s sake), berada diluar jangkauan kaum proletar. Apalagi teknik sastra yang simbolik dan surelis saat itu mengecam bentuk-bentuk sastra yang simbolis dan surealis saat itu mengecam bentuk-bentuk sastra serta sikap kompromostis kaum borjuis, mereka sama sekali tidak mengubah struktur masyarakat. Mengikuti Marx, Sartre mendang bahwa kaum proletar merupakan pelaku sastra praksis yang terbuka pada perubahan. Baik Sartre maupun Marx memiliki agenda yang sama: membebaskan individu, Sartre menjelaskan psikologi dan kesadaran individual.8

Marxisme dalam pandangan Sartre dalam kepartaian komunis perancis menjadikan marxisme tak ubahnya ilmu alam karena berfokus pada relasi eksternal. Merespon “marxisme Umum”, atau “marxisme yang telah berhenti”

7Ronald Aronson, The Philosophy of Our Time: Marxisme eksistensial Jean-Paul Sartre menawarkan landasan filosofis radikal untuk kritik kapitalisme yang direvitalisasi hari ini , ” Boston Review , 14 November 2020, pada pukul 12:23.

8A. Setyo Wibowo & majalah Driyakarya, Filsafat Eksisitensialisme bJean Paul Sartre, (Yogyakarta: Kanisius, 2011), h. 96-99.

(17)

5

sebagaimana telah dikemukakan Sartre. Sartre melihat eksistensialislah yang dapat membebaskan dari kekakuan atau “kepadatan yang mandeg” Marxisme yang cenderung menyeragam individu-individu dari kelas sosial. Dengan kata lain

“Marxisme Umum” takkan memiliki filsafat sosial yang memadai jika sekedar membincang dimensi eksternal manusia (kelas sosial, masyarakat). Dan tak kemampuan menjelaskan individu maupun perbuatan-perbuatan bebas. Sartre memulai dalam bukunya dengan apa yang dapat disebut semacam “pengakuan iman marxis”, mengatakan bahwasanya marxis sebuah filsafat bagi zaman kita.

Marxisme merupakan satu-satunya filsafat yang benar dan definitif. Sartre dengan kerasnya menagatakan bahwa filsafat bukan hanya sebuah ide yang cermerlang yang akan menggiurkan hati. Melainkan mewujudkan kesatuan yang konkret dan dialektis antara pemikiran dan gerakan kaum buruh. Karena itu Marx bukan hanya seorang filsuf modern dari sekian banyak filsuf lain,

Dalam pandangan Sartre marxisme merupakan semacam filsafat abadi yang tidak pernah dilampaui lagi. Marxisme berlaku terhadap pemikiran dan tindakan kita dalam keadaan kelangkaan (scarcity): barang yang tersedia tidak dapat mencukupi ketimbang jumlah terlalu besar pemakaiannya. Bila suatu saat nanti kelangkaan dapat diatasi. Marxisme dengan sendirinya akan lenyap dan ada saatnya akan muncul sebuah filsafat baru, suatu filsafat kebebasan, menurut Sartre akan muncul dimana manusia akan bebas dalam memenuhi kebutuhan hidupnya.

Tetapi bagaimana pun kedepannya di zaman kita saat ini, manusia masih tertekan oleh kelangkaan dah karena itu marxisme masih dibutuhan dan dapat menjawab permasalahan ini.9

Dalam Thomas R. Flynn menjelaskan bahwa pandangan Sartre terhadap marxisme dijelaskan dalam bentuk teori yang tertuang di buku Critique-Nya dalam hal peraktek Sartre menyuarakan dengan sebuah revolusi. Karena konflik kelas disebabkan oleh pertentangan antara proletar dan borjuis dalam hal ini menurut Sartre sangat sulit dihindari. Thomas R. Flynn memperhatikan perdebatan yang terjadi antar Sartre dengan Goldmann. Menurut Goldmann Sartre

9K. Bertens, Sejarah filsafat kontemporer perancis, (Jakarta: PT. Gramedia Pustaka Utama, 2013), h. 106-107.

(18)

6

tidak kuat mempertahankan konsep tanggung jawab disebabkan Sartre tidak mempunyai sebuah konsep subjek kebersamaan. Goldmann menyatakan bahwasanya konsep kolektif dikuatkan dalam sejarah, yang tidak pernah terpisah dari kelompok sosial yang jelas, yang dihubungkan dari peristiwa, perilaku dan institusi. Sartre dengan tegas mengatakan bahwa subjek kolektif dengan jelas memisahkan dari marxisme. Sartre memperluas konflik sosial dengan menunjukkan kelas sosial semacam subjek kolektif yang diberi hak-hak istimewa.10

Dalam hal ini penulis ingin membuktikan dalam karya Sartre bahwa ia mulai membicarakan perihal marxisme. Didalam karya Critique of Dialectical Reason Sartre dengan usahanya untuk mengadakan integrasi antara eksistensialisme dan marxisme. Ia ingin menunjukkan adanya suatu kesatuan yang wajar antara eksistensialisme dan marxisme, bila kedua aliran ini di mengerti dengan tepat. Dengan jelasnya Sartre menjelaskan bahwa ada kesinambungan antara kedua karya filosofisnya yang besar, Being and Nothingness and Critique of Dialectikal Reason. Walaupun di karya pertama Sartre belum dapat menjelaskan secara jelas bahwa Sartre membicarakan marxisme, akan tetapi didalam karya keduanya dengan jelas Sartre sudah mulai membicarakan terkait marxisme. Dikarya kedua ini Sartre sudah membicarakan kebebasan bersama dan juga perihal produksi dan pembentukkan grub. Dalam Critique of Dialectikal Reason Sartre menjelaskan rasio dialektis dan organisme praktis. Sartre membedakan rasio dialektis dengan rasio analitis. Rasio analitis dijalankan dengan pengetahuan. Sartre juga membicarakan kebenaran yang ia telah jadikan atau dengan kata lain merupakan buah hasil suatu proses historis dan bahwa kebenaran merupakan sebuah totalisasi. Dalam hal ini muncul istilah totalisasi dan mentotalisasi yang memainkan peran penting dalam buku Sartre ini.11

Sartre dalam Critique of Dialectikal Reason sangat mempertahankan pendapatnya tentang kebebasan manusia, yang merupakan batu sendi dalam filsafatnya dulu. Manusia merupakan sebagai individu yang tetap bebas. Akan

10Thomas R. Flynn, Sartre and Marxist Existensialism,(Chicago Amerika Serikat The University of Chicago Press, 1984). H. 174.

11 K. Bertens, Sejarah filsafat kontemporer perancis, h. 109-110.

(19)

7

tetapi Sartre membicarakan kebebasnya dalam bentuk praksis. Dalam hal ini Sartre melukiskan timbulnya sebuah grub manusiawi akibat suatu alienasi atau keterasingan kebebasan. Praksis organis mengobjektivasi diri dalam produk- produknya. Ini sudah semacam keterasingan pertama, karena bagaimana pun aktivitas bebas saya seakan-akan “dibekukan”. Tetapi keterasingan itu dipertajam lagi jika selain saya ada praksis-praksis bebas lain lagi yang mengelola materi.

Sebagai akibatnya produk-produk saya hampir tidak dikenal lagi oleh diri sendiri.

Dalam kebanyakan aktivitas manusiawi merupakan sebuah negasi (pengingkaran) terhadap totalisasi aktif. Hal itu yang akan menimbulkan sebuah kelangkaan yang dihadapi oleh manusia.12

B. Batasan dan Rumusan Masalah

Dalam skripsi ini, melakukan analisa teks primer Sartre yang menjelaskan bahwa Sartre akhir-akhir usianya mulai keterlibatan terhadap gerakan masrxisme di Perancis. Dan penulis hanya menulusuri dua buku yang menjadi awal Sartre menjelaskan marxisme yakni karya Critique of Dialectical Reason dan Search for A Method dalam buku inilah Sartre mencoba menjelaskan peran antarmanusia sangatlah penting, gerakan revolusi yang Sartre inginkan di dalam karya inilah dijelaskan.

Penelitian ini di tunjukan karena penulis merasa tertantang pada saat membahsas bagaimana eksistensialisme Sartre di akhir usianya di pengaruhi oleh para pemikir marxisme. Karena di awal Sartre mencoba menulis dalam karya Being and Nothingness Sartre sangat sengit terhadap orang lain, karena menurutnya orang lain hanya menjadi halangan bagi kebebasan manusi. Dalam hal ini penulis ingin mencoba kenapa Sartre berubah dan menjadi marxis.

Masalah pokok yang terdapat dalam proposal skripsi ini adalah bagaimana Pengaruh Marxisme terhadap Eksistensi Jean Paul Sartre. Untuk menjawab masalah pokok tersebut secara sistematis, maka perlu disusun rumusan masalah. Adapun rumusan masalah yang terdapat dalam proposal skripsi ini adalah:

12 K. Bertens, Sejarah filsafat kontemporer perancis., h. 111-112.

(20)

8

1. Corak seperti apakah eksistensialisme Jean Paul Sartre?

2. Bagaimana pandangan Sartre Terhadap Marxisme itu sendiri?

3. Bagaimana Marxisme dapat mempengaruhi Eksistensi Jean Paul Sartre?

B. Manfaat Penelitian

Meskipun Sartre adalah tokoh yang banyak dibahas oleh para tokoh sejarawan, akan tetapi, hingga saat ini penulis belum bisa banyak melihat literasi terkait Marxisme dan Eksistensialisme Jaen Paul Sartre. Sekaligus menyajikan pengaruh marxismenya Karl Marx terhadap Eksistensialisme Jaen Paul Sartre.

Dengan penelitian ini, diharapkan ada nuansa baru terhadap filsafat itu sendiri. Sebab sehingga saat ini tradisi filsafat dianggap berada ranah parifel dalam diskursus filsafat secara global. Pengenalan akan konsep marxisme dan eksistensialisem Jaen Paul Sartre merupakan upaya agar di masa yang akan dating para cendikiawan dapat masuk pada wacana filosofis.

C. Tinjauan Pustaka

Penelitian ini bukan yang pertama kalinya, ada beberapa karya imiah yang sudah dipublikasikan tentang Eksistensialisme Jean Paul Sartre.

Pertama, Diana Mella Yussafina, 2015, “Eksistensialisme Jean Paul Sartre dan Relevansinya Dengan Moral Manusia”, Semarang: Program Aqidah Dan Filsafat, Fakultas Ushuluddin, Universitas Islam Negri Walisongo Semarang.

Dalam Karya ini menjelaskan bagaimana eksistensialisme Jean Paul Sarte, serta bagaimana relevansinya dengan moral manusia dalam ajaran islam.

Kedua, R.A. Fachrurrazy Hasannusi, 2005, “Eksistensialisme Jean Paul Sartre (Tinjauan Kritis Terhadap Eksistensialisme Jean Paul Sartre)”, Jakarta:

Program Studi Aqidah dan Filsafat, Fakultas Ushuluddin, UIN Syarif Hidayatullah Jakarta. Dalam Karya ini menjelaskan Bagaimana pandangan Jean Paul Sartre mengenai eksistensi manusia yang otentik dan kaitannya dengan humanism.

Ketiga, Salbiyah Madrijul Ulum, 2018, “Mengatasi Kecemasan Dalam Konsep Jean Paul Sartre Dengan Terapi Zikir Al-Maraghi”, Surabaya: Program Aqidah dan Filsafat Islam, Fakultas Ushuluddin, Universitas Islam Negri Sunan

(21)

9

Ampel Surabaya. Dalam karya ini penulis menghadirkan al-Maraghi sebagai jawabn kecemasan Sartre atau Manusia modern dengan teraoi zikirnya.

Keempat, Maria, 2005, “Eksistensialisme Dalam Novel The Age Of Reason Karya Jean Paul Sartre”, Yogyakarta, Program: Aqidah Filsafat, Fakultas Ushuluddin, Universitas Islam Negri Sunan Kalijaga Yogyakrta. Dalam Karya penulis menjelaskan sebuah Novel Sartre yang berjudul Novel The Age Of Reason, sebuah realitas kebebasan manusia yang diiringi dengan kesadaran untuk bertanggung jawab atas kebebasannya.

Berdasarkan tinjauan pustaka diatas, penulis tidak menemukan adanya kesamaan judul dan tema skripsi yang dengan skripsi yang penulis tulis. Tinjauan pustakan terkai Jean Paul Sartre lebih banyak pada aspek kebebasan dan kemanusian. Khususnya Kemanusia dan kebebasan yang berwawasan eksistensialisme yang dilakukan oleh Jean Paul Sartre.

D. Metode penelitian

Meskipun Sartre adalah tokoh yang sudah banyak dibahas pleh sarjanawan. Namun, hingga saat ini penulis belum menemukan suatu tulisan yang meneliti kepengaruhan marxisme terhadap eksistensialisme Jean Paul Sartre.

Dengan penelitian ini, diharapkan terdapat nuansa segar bagi pemikiran filsafat itu sendiri. Sebab hingga saat ini tradisi filsafat barat dan islam dianggap berada diranah peripheral dalam diskursus filsafat secara global.

Adapun metode penelitian yang digunakan oleh penulis, antara lain;

Pengumpulan data, Melacak dari segi sejarah dan Sumber data.

1. Pengumpulan Sumber

Dalam penulisan ini saya memakai beberapa sumber primer Sartre seperti Critique of Dialectical Reason, Search Search For A Method dan Being and Nothingness dan Existentialism and Humanism. Dan juga beberapa karya sekunder baik dari jurnal maupun buku.

2. Melacak dari segi sejarah

Sejauh mana pembaca Sartre yang mengatakan Sartre diakhir usianya dipengaruhi oleh Marxisme. Penulis melihat seperti Ronald Aronson dan Simon de Beavoir. Dan juga dari segi sejarah penulis

(22)

10

membaca karya-karya Critique of Dialectical Reason dan Search Search For A Method yang menjelaskan Sartre menjadi seorang marxisme.

3. Sumber data

Penelitian ini sepenuhnya menggunakan library research, yaitu suatu teknik penelitian untuk mendapatkan data yang relevan dengan pokok masalah mencari pengaruh marxisme terhadap eksistensialisme Jaean Paul Sartre. Penulis menggunakan referensi-referensi yang berhubungan dengan subyek penelitian.

Penggunaan metode ini diketengahkan untuk menggambarkan mengenai kontribusi falsafat terhadap ilmu-ilmu keislaman. Adapun tehnik penulisan dalam skripsi ini menggunakan buku Pedoman Penulisan Karya Ilmiah (Skripsi, Tesis, dan Disertasi) Keputusan Rektor Universitas Syarif Hidayatullah Jakarta Nomor: 507 Tahun 2017.

E. Sistematika penulisan

Bab I berisi pendahuluan yang menerangkan tentang latar belakang masalah, tentang alasan mengapa judul “Pengaruh Marxisme terhadap Eksistensialisme Jean Paul Sartre”. Perlu diteliti, dan bagaimana penelitian ini dapat menyumbangkan solusi bagi permasalahan tersebut.

Bab II akan mengenai tinjauan umum mengenai marxisme dan eksistensialisme serta dalam bab ini juga akan membahas mengenai para filsuf marxisme dan eksistensialisme dari masing-masing tokoh.

Bab III akan membahas mengenai riwat hidup Jaen Paul Sartre kemudian dilanjutkan dengan corak pemikiran Jaen Paul Sartre, melalui filsafat kebebasannya dan diakhiri dengan eksistensi melaui esensinya Jean Paul Sartre.

Bab IV akan membahas Analisis Pengaruh Marxisme terhadap Eksistensinya Jean Paul Sartre, dan bab ini juga dari pandangan Jaen Paul Sartre itu sendiri terhadap marxisme dan eksistensialisme dalam ranah psikologis dan politik.

(23)

11

Bab V akan membahas kesimpulan dan penutup, yang merupakan intisari dari pembahasan ini.

(24)

12 BAB II

TINJAUAN UMUM MENGENAI MARXISME DAN EKSISTENSIALISME

A. Pengertian dan Sejarah Marxisme

Dalam memahami Marxisme kita dapat mendefinisikan “Marxisme”

sebagai sebuah aliran dari pemikiran Marx serta ajaran-ajaran Marx. Sebuah imbuahan isme di belakangnya mengandung arti aliran, paham dan ajaran.

Mengacu pada lingkaran marxisme tidak lepas dari berbagai pemikiran yang membentuk marxisme itu sendiri, atau dapat disebut sebagai epistemologi marxisme. Secara ontologi marxisme adalah aliran pemikiran Marx, atau berbagai pemikiran (ajaran) Marx. Dalam epistemologi marxisme terbentuk melaui dialektika Hegel, Materialisme Feuerbach, konsep nilai kerja David Ricardo, dan anarkisme Proudhon1, serta analisis kelas pekerja Engels. Sedangkan dalam Aksiologi marxisme berfungsi sebagai senjata (pedoman) perjuangan kaum buruh untuk melawan/menumbangkan borjuasi dan kapitalisme.2

Selama paruh kedua abad ke-19, berbagai organisasi sayap kiri di seluruh Eropa terus melakukan kampanye melawan banyak rezim sayap kanan Otokratis yang saat itu sedang berkuasa. Di Prancis, kaum sosialis mendirikan pemerintahan yang dikenal sebagai Komune Paris setelah jatuhnya Napoleon III pada tahun 1871. tetapi mereka segera digulingkan dan banyak anggotanya dieksekusi oleh kontra-revolusioner. Sementara itu, Karl Marx dan Friedrich Engels bergabung dengan Partai Sosial Demokrat Jerman yang dibentuk pada tahun 1875, namun dilarang pada tahun 1879 oleh pemerintah Jerman, kemudian dipimpin oleh Kanselir dari para pendukungnya. Pada tahun 1890 partai tersebut disahkan kembali dan pada saat itu telah sepenuhnya mengadopsi prinsip-prinsip Marxis. la kemudian meraih seperlima suara dalam pemilihan umum Jerman dan beberapa

1Anarkisme Proudhon' anarkisme damai', sikap anti terhadap angkatan bersenjata yang merupakan alat sekaligus penguat sistem negara, sebab menurut keyakinannya masyarakat yang secara moral layak bertahan hanya boleh tergantung kepada niat-baik yang sukarela dari anggota- anggotanya

2Wahyu Budi Nugroho, Memahami Kembali Marx, Marxisme Dan Perkembangannya, (Yogayakarta: Pustaka Pelajar, 2019), h. 54-55.

(25)

13

pemimpinnya. Dicontohkan oleh August Bebel dan Wilhelm Liebknecht, menjadi seorang tokoh publik Komunis yang dimana tujuannya untuk meremehkan dan menyembunyikan pandangannya secara terbuka, untuk mengungkapkan bahwa tujuan mereka hanya dapat dicapai dengan semua kondisi sosial yang ada. Biarkan kelas penguasa gemetar pada revolusi komunis.. Mereka memiliki dunia untuk dimenangkan.

Pada Saat itu. Marxisme berkembang tidak hanya di Jerman. tetapi juga mendapatkan popularitas di Hongana. Sebuah Monarki komunisme di Hansburg dan Belanda, walaupun kenyataannya ia tidak mencapai kesuksesan seperti itu di negara-negara Eropa lain seperti Inggris, di mana Marx dan Engels pernah berbasis ideologi politik baru-baru ini yang mendapatkan dukungan yang cukup sehingga sebuah organisasi yang dikenal sebagai Internasional Kedua yang dapat menyatukan berbagai kelompok Marxis di seluruh dunia yang didirikannya. Pada saat Marxisme lepas landas, ia juga mulai mendapat kecaman dari intelektual Eropa lainnya. termasuk sesama sosialis kiri. Seperti kolektivitas anarkis Rusia Mikhail Bakunin yang mengkritik keyakinan yang dimana sebagai sebuah kelemahan dalam hipotesis Marxian bahwa negara pada akhirnya akan dibubarkan di bawah pemerintahan Marxis, sebagai gantinya dia percaya bahwa negara akan memperoleh kekuasaan dan menjadi otoriter. Kritik juga datang dari sosiolog lain yang dicontohkan oleh Max Weber di Jerman, yang sementara mengagumi Marx tidak setuju dengan beberapa asumsinya tentang sifat masyarakat. Beberapa Marxis mencoba untuk beradaptasi dengan kritik ini dan sifat kapitalisme yang berubah. Eduard Bernstein menekankan pandangan Marxis yang membawa tantangan hukum terhadap pemerintahan saat ini atas perlakuan terhadap kelas pekerja daripada hanya menekankan revolusi kekerasan seperti yang dilakukan oleh kaum Marxis yang lebih ortodoks.3 Kaum Marxis Iainnya menentang Bernstein dan revisionis Iainnya termasuk Karl Marx.

3Martin Bakers, Tobias Lanslor, Willem Brownstok, Sejarah Komunisme dan Marxisme- Leninisme: Dari Awal ke Penurunan, Penerjemah Budi Hidayat, ( Cambridge Stanford)

(26)

14

Marxisme merupakan sebuah teori sosial dan politik, yang mencakup teori konflik kelas sosial dan ekonomi marxian. Marxisme pertama kali dirumuskan secara terbuka dalam pamphlet 1848. Sebuah buku The Communist Manifesto, yang ditulis oleh Marx dan Engels, yang menjelaskan teori perjuangan kelas dan revolusi. Ilmu ekonomi Marxian berfokus pada kritiknya terhadap kapitalisme, yang ditulis oleh Karl Marx dalam bukunya tahun 1867, Das capital.4 Selama 200 tahun terakhir, kritikus utama kapitalisme adalah Karl Marx, yang dimana marxisme banyak dipengaruhi oleh pikiran dan karya Marx. Dengan kata lain, Marxisme telah menjadi sebuah tradisi pemikiran dan praktik terkemuka yang kritis terhadap kapitalisme. Dalam beberapa generasi ke generasi yang terkumpul di sekitar dunia, mencoba untuk memindahkan masyarakat dalam melampaui kekuatan kapitalisme dengan menggunakan pengetahuan kritis Marx. Marx dan Marxisme sama pentingnya dengan mengkritik kapitalisme seperti Adam Smith, David Ricardo, dan John Maynard Keynes berada di sisi mereka yang merayakan kapitalisme.

a. Marxisme Karl Marx

Karl Marx (1818-1883), pelopor gagasan sosialisme ilmiah dilahirkan dikota Trier di Prussian Rhineland, satu bekas provinsi liberal yang dibawah pemerintahan yang opresif. Orang tua Marx berasal dari sebuah keluarga yang beragama, tapi ayahnya Marx memaksa semua keluarganya untuk memeluk agama protestan sebagai jalan keluar dari politik diskriminasi terhadap orang- orang Yahudi. Marx pernah belajar di Universitas Bonn, setelah itu Marx melanjutkan selama lima tahun belajar di Universitas Berlin. Mulai dari disinilah Marx berkenalan dengan filsafat Hegel yang terlibat dalam aktivitas intelektual sayap kiri yang dikenal sebagai Hegelian Muda yang menaruh minat terutama pada kritik agama. Dari ketekunannya lahirlah sebuah karya The Critique of Hegel‟s Philosophy of Right, sebuah komentar tentang karya Hegel.5

4Theodore M. Brown and Elizabeth Fee, Friedrich Engels:Businessman and Revolutionary. Vol. 93. No. 8. Summer 2003.

5John Elster, Karl Marx Marxisme –Analisis Kritis, (Jakarta: PT. Pretasi Pustakaraya, 2000), h. 8-9.

(27)

15

Tiga bagiannya Marxisme yang tidak dapat dipisahkan satu sama lain.

Yaitu menyangkut ajaran-ajaranya terkait: Ekonomi Politik, Filsafat dan Sejarah.

1. Ekonomi politik marxis, bersumber pada ajaran-ajaran ekonomi politik klasik Inggris yang mengacu pada teori kerja Adam Smith dan David Ricardo. Marx menjadi batu pertama teori ekonomi Marx, yaitu teori nilai lebih. Dari sinilah Marx mebangun teorinya bahwa krisis kapitalisme pada umumnya itu tak terhindarkan, bahwa kapitalisme itu ada didalam diri sendiri mengandung dan menyimpan satu hukuman mati, dan mau tak mau sistem kapitalisme harus dihilangkan dari panggung sejarah untuk memberikan tempat dan sistem yang baru, bagi sosialisme. Beberapa ekonom politik Marxis mengatakan bahwa salah satu bagian penting dari teori marxisme ialah apa yang mereka sebut sebagai teori Verelendung, (teori pemeralatan). Dengan ini mereka mencoba menggambarkan bahwa kaum marxis gandrung terhadap kemelaratan, karena dari kemeralatanlah lahir sebagai pemenang.

2. Filsafat marxisme, seperti yang diketahui bersumber pada filsafat klasik Jerman yang telah mencapai puncaknya pada dua nama; Hegel dan Feuerbach. Kontribusi terbesar Hegel yang terpenting adalah sistem dialektikanya, yang berdiri atas landasan idealisnya, telah dirombak oleh Marx dan ditegakkan di atas landasan yang sebaliknya, yaitu materialisme.

Sedangkan Feuerbach kontribusinya adalah kritiknya terhadap idealisme Hegel. Tetapi Feuerbach, ketika pada wilayah gejala-gejala alam pendekatannya sangat materialis, sedangkan pada gejala-gejala sosial pendekannya sangat idealis. Setelah ini dirombak oleh Marx dengan menggunakan filsafat sejarahnya. Materialisme Feuerbach adalah sebuah pelawanan terhadap nilai-nilai transendensi yang digunakan Feuerbach untuk menjelaskan bahwasanya Kristus seorang manusia biasa dan upayanya menghilangkan nilai-nilai yang berbau supranatural yang datangnya dari Tuhan dan Agama.6 Dalam pemikiran Franz magnis suseno mengatakan sebenarnya kritikan Feuerbach terhadap agama yang

6 Wahyu Budi Nugroho, Memahami Kembali Marx, Marxisme Dan Perkembangannya…h. 68.

(28)

16

menyatakan bukan Tuhan yang menciptakan manusia akan tetapi manusialah yang menciptakan Tuhan melaui angan-angan pikiran manusia. Agama hanyalah sebuah ciptaan Tuhan dengan melaui angan- angan pikiran manusia. Agama hanyalah ciptaan manusia. Feuerbach juga menjelaskan alam akhir seperti surga, neraka dan malaikat adalah hanya sebuah gambaran manusia yang dibentuk oleh manusia terkait dirinya sendiri.7

3. Marxisme dalam pendekatan sejarah, Marx bersumber pada sosialisme khayali seperti yang diwakili dalam tulisan-tulisan Simon, Fourier, dan Owen. Sosialisme khayali mendambakan sosialisme dengan jalan dan cara yang tidak menjamin datangnya sosialisme dengan cara mengumpulkan koloni-koloni dengan mengupulkan dana-dana dari kaum kapitalis, dsb, sosialisme marxis menunjukan hukum perkembangan kapitalisme dengan menunjukkan bahwa perjuangan kelaslah sebagai sebuah motor atau lokomotif dari perkembangan sejarah, dan oleh sebab itu gerakan revolusioner kelas buruh adalah satu-satunya jalan menuju sosialisme.8 b. Marxisme Lenin

Pemikiran Karl Marx hanya teringat oleh beberapa ahli filsafat dan sejarah ilmu ekonomi. Marx memang memikirkan kondisi-kondisi penghancuran kapitalisme dalam revolusi sosialis, tetapi Leninlah yang memikirkan bagaimana ini harus terjadi. Sesudah 15 tahun digerakkan oleh Lenin kaum Bolshevik dalam melaksanakan revolusi tersebut. Lenin adalah pendiri Uni Soviet, negara sosialis pertama didunia. Lenin memerlukan 30 tahun untuk mendirikan Uni Soviet yang menjadi negara adikuasa kedua di dunia. Latar belakang Lenin, yang dimana seseorang sering memanggil dengan sebutan Lenin sebenarnya nama aslinya Vladimir Ilyic Ulyanov lahir pada tanggal 22 April 1870 di Simbirsk (sejak 1927 Ulyanovsk). Lenin merupakan seorang anak bangsawan rendah yang menikah dengan seorang tuan tanah.

Pendidikannya mengambil studi hukum di Universitas Petersburg. Pekerjaanya

7Franz Magnis Suseno, Pemikiran Karl Marx dari Sosialisme Utopis ke Perselisihan Revisionisme, (Jakarta: PT. Gramedia Pustaka Utama, 1999), h. 69.

8Njoto, Marxisme Ilmu dan Amalnya, (Jakarta: Harian Rajat, 1962), h. 8-10.

(29)

17

sebagai seorang pengacara dan aktif dalam berbagai kelompok Marxis. Lenin sering menulis artikel-artikel terkait problem sosialisme. Lenin mulai menyuarakan terkait sosialisme, bahwasanya indrustrilisasi yang dikembang oleh kelompok Borjuis itu mengakibatkan terbentuklah sebuah kelompok kapitalisme. Rusia pada saat itu masih kuat dengan bentuk sebuah kerajaan yang dipimpin oleh Tsar Nikolaus II. Karena kritis pada sebuah politik, Lenin akhirnya diasingkan dan di hukum pada tahun 1896 ke Siberia.9

Lenin menjadi seorang tokoh gerakan revolusioner, dengan adanya Marxisme Leninisme sebagai sosok penting bagi ideologi komunisme di abad 20. Komunisme menjadi sebuah ideologi yang paling ditakuti di seluruh dunia pada abad ke 20, gerakan politiknya yang cetuskan oleh Lenin. Marxisme pasca Marx dan bukan hanya Lenin lupa pada teorinya Marx muda yang penegasannya pada sebuah Teori tentang sebuah Revolusi sosialis dan perjuangan praktis proletariat yang sudah lama diabaikan. Gagasan bahwasanya gerakan sosialis hanya bisa dicapai. Teori yang sangat membedakan antara Marx dan Lenin. Lenin menjelaskan walaupun kaum buruh tidak membuka tindakannya terhadap sebuah Revoluioner yang dinaungkan oleh Marx, dan dari sini Lenin mulai membentuk sebuah partai komunisme yang menjadikan kemerdekan bagi kaum Bolshevik pada tahun 1917. Paada saat itu Lenin mulai membentuk perkumpulan dari berbagai negara untuk mencapai sebuah partai komunisme didunia.10

Dalam pemikiran Georg Klaus yang di tulis dalam sebuah karya Filsafat Marxis-Leninis menjelaskan bahwasanya, Marxisme-Leninisme adalah sebuah sistem yang seragam, utuh yang ada pada dirinya sendiri, yang mencakup sebuah pemikiran Marx, Engels, dan Lenin, teori ilmiah kelas buruh, sosialisme dan komunisme. Marxisme-Leninisme merupakan basis teoritis kaum proletariat yang digunakan untuk memperjuangkan kelas, dalam gerakan revolusi sosialis dan komunis. Franz Magnis menjelaskan dalam karyanya Dari Mao ke Marcuse, Marxisme-Leninisme sebuah dasar praktis yang mengacu

9Franz Magnis Suseno, Dalam Bayang-bayang Lenin Enam pemikiran Marxisme dari Lenin sampai Tan Malaka, (Jakarta: PT. Gramedia Pustaka Utama, 2003), h. 2-3.

10Franz Magnis Suseno, Dalam Bayang-bayang Lenin, h. 44-46.

(30)

18

pada gerakan partai revolusioner kelas buruh. Dengan demikian, Marxisme- Leninisme adalah ideologi komunisme. Ideologi sudah dimulai pada tahun 50- an yang menjadi sebuah pandangan resmi Soviet terkait dunia, masyarakat, sejarah, dan perjuangan kaum buruh dalam mendirikan partai komunisme yang tujuannya sebagai pembelaan atas kaum proletariat untuk melawan kapitalisme.11

Selama Lenin masih hidup teori Partai komunisme dinamakan Marxisme, Lenin dan para pengikutnya mengklaim sebagai pewaris dari pemikiran Marx. Istilah Leninisme digunakan oleh Stalin dan pengikiutnya yang dipakai pertama kalinya pada Kongres Serikat Buruh Uni Soviet pada tahun 1924 untuk menyatakan sebagai pengikut ideologi Lenin. Menurut Stalin Leninisme adalah sebuah teori dari ajaran Marx yang dikembangkan oleh Lenin yang dipakai sebagai bentuk pelawan dalam menghancurkam imperialisme dalam membantu kaum proletariat untuk melawan kapitalisme. Filsafat Soviet menjelaskan ada tiga pokok utama dalam Marxisme-Leninisme (1) filsafat Marxis-Lenin (2) Ekonomi politik dan (3) komunisme ilmiah. Dalam Filsafat Marxis-Lenin ada dua bagian; Materialisme Dialektis dan Materialisme Historis.12

Materialisme Dialektis adalah keyakinan bahwasanya realitas terdiri dari Materi. Karl Marx mengartikan materialisme sebagai proses perubahan yang terus menerus tanpa ada hentinya. Materi yang dijelaskan menjadi sumber-sumber keberadaan benda-benda alamiah, senantiasa bergerak dan berubah tanpa henti. Dalam pergerakan dan perubahan menuju pada tingkatan yang tinggi tidak melaui proses yang lamban melainkan secara dialektis yaitu melaui pertentangan-pertentangan yang pada dasarnya sudah mengandung benih itu sediri. Dengan demikian gagasan materialisme dialektis memperlihatkan nuansa lain dari pandangan materialisme sebelumnya.

Dialektika materialisme pada perkembangan selanjutnya merupakan sebuah

11Franz Magnis Suseno, Dari Mao ke Marcuse, (Jakarta: PT Gramedia Pustaka Utama, 2013), h. 60-62.

12Franz Magnis Suseno, Dari Mao ke Marcuse, h. 63-65.

(31)

19

jawaban dari filsafat zamannya.13 Dalam beberapa Materialisme dialetis juga disebut sebagai cara pandangan dunia terrhadap partai marxis-lenin. Sistem ini disebutkan sebagai sebuah paham kebendaan dialektis atau dialetika materialisme, karena pendekannya melaui fenomena alam yang terjadi. Metode penyebaran dan tafsiran terhadap fenomena yang dilakukan dari gejala fenomena yang terjadi didalam sebuah ruang lingkup masyarakat.14

Materialisme Historis menjelaskan bahwa manusia dapat dipahami melalui konteks sejarah yang terjadi. Karena hakekatnya manusia adalah makhluk sejarah. Manusia dalam sejarah tidak bisa dihilangkan dari bentuk peristiwa-peristiwa dalam masyarakat, ruang lingkup manusia tidak dapat dihilangkan dari relasi-relasi masyarakat yang terjadi. Materialisme historis adalah kelanjutan dari prinsip dialektika materialisme dalam melihat kehidupan sosial, prinsip dari dialektika materialisme adalah sebuah yang bentuk kejadian yang terjadi dalam ruang lingkup masyarakat melaui fenomena sejarah manusia. Metode dialektis ini merupakan sebuah proses pergerakan yang dapat dipahami bukan hanya sebagai ruang lingkup yang terjadi, akan tetapi sebagai gerakan yang maju keatas, dalam bentuk transisi kejadian dimasa lampau menuju transisi yang baru, sebagai perkembangan orang yang lebih tinggi menuju yang lebih rendah.15

B. Pengertian dan Sejarah Eksistensialisme

Gerakan para filsuf abad ke 20 mulai muncul dengan aliran filsafat yang menekankan terhadap manusia, para filsuf mulai mengkaji manusia dan menjadikan manusia sebagai subyek terhadap diri sendirinya dengan menggunakan penalaran yang sistematis, gerakan ini dapat diskenal dengan sebutan eksistensialisme. Sebutan ini berlaku pada sebuah dasar yang sama walaupun dalam pengurainnya berbeda, akan tetapi berasal dari sebuah rumpun yang sama dalam memahami manusi, eksistensi lebih penting ketimbang esensi.

13Andi Muawiyah Ramly, Peta Pemikiran Karl MARX (Materialsme Dialektis dan Materialisme Historis), (Yogyakarta: Penerbit LKiS, 2000), h. 110-111.

14Joseph Stalin, Dialectical and Historical Materials, (Moscow: Published by Foreign Languages Publishing House, 1950), h. 3.

15Joseph Stalin, Dialectical and Historical Materials , h. 3-6.

(32)

20

Dalam pandangan Fuad Hasan manusia sebagai esensi adalah sebuah hasil dari abstraksi sehingga pengetahuannya tidak meliputi manusia sebagai kenyataannya. Pada kenyataannya manusia dalam seluruhnya akan menjadi eksistensi yang terus menerus terjalin dalam sebuah dialog.16

Kebanyakan para filsuf eksistensialisme mengklaim bahwa dirinya sebagai seorang eksistensialis, pada akhirnya menunjukkan perbedaan anggapan mengenai eksistensi itu sendiri. Satu-satunya hal yang sama diantara mereka ialah bahwasanya filsafat harus bertitiktolak pada manusia yang konkrit, yaitu manusia sebagai eksistensi, yang mendahului esensi. Sebagai filsafat yang menekankan eksistensi manusia sebagai pusat kajiannya. Eksistensialisme mulai tumbuh sebagai suatu ragam filsafat antropologi, terutama berkembang setelah perang dunia II yang dimana banyak mempengaruhi para filsuf, sastrawan dan penulis. Akan tetapi bukan berarti eksistensialisme mulau muncul pada saat itu, Kierkegaard sebagai peletak dasar-dasarnya, yang menulis banyak karya sebelum perang dunia II. Bahkan banyak hal-hal yang menunjukkan dasar-dasar eksistensialisme itu juga ditemukan pada tokoh-tokoh seperti Dostoyevski dan Nietzsche, padahal keduanyapun belum sempat mengalami perang dunia pertama.17

Eksistensi mulai muncul sebagai salah satu arus utama pemikiran Jerman di bawah Republik Weimar, termasuk para penggeraknya yaitu Heidegger, dan Karl Jasper, sekitar satu dekade yang terjadi pada tahun 1840-an, yang dicetuskan oleh para pemikir seperti Schelling, Kierkegaard dan Marx, kritikannya yang tajam terhadap rasionalisme dan panlogisme Hegelian sampai kegenerasi berikutnya seperti Nietzsche dan Dilthey. Filsafat Eksistensialisme mulai muncul pada saat terjadinya sebuah ketegangan intelektual Jerman yang muncul sekitar abad ke 19.. pada saat itu sangat dipengaruhi oleh bencana politik dan spiritual di Jerman itu sendiri. Mulai dari perbedaan antara esensi dan eksistensi, yang mengatakan bahwa realitas atau wujud dalam bentuk

16Fuad Hasan, Psikologi-Kita & Eksistensialoisme, (Depok: Penerbit Komunitas Bambu, 2014), h. 109.

17Fuad Hasan, Berkenalan dengan Eksistensialisme, (Jakarta: PT Dunia Pustaka Jaya, 2018), h. 6-7.

(33)

21

konkritnya bukanlah sebuah esensi dan juga bukan sebuah objeck pengalaman kognitif, melainkan sebuah eksistensi yang mana realitas sebagai pengalaman langsung dengan menggunakan sebuah karakter batin dan sikap manusia itu sendiri.18

Setelah kemunculan yang sangat kuat dari filsafat eksistensialisme di dekade kelima abad ke 19. Mulai terjadi pergeseran yang sangat kuat di jerman dengan muncul sebuah gerakan idealisme Neokantian yang dicetuskan oleh Feuerbach dan Marx yang mana dengan menafsirkan pemikiran kant dengan tafsiran materialisme. Pemikiran filsafat eksistensialisme berasal dari filsafat kehidupan sekitar tahun 1880. ketikadicermati dari ruang lingkupnya filsafat kehidupan sebagian besar mencakup filsafat eksistensi. Filsafat eksistensialisme merupakan sebuah kombinasi yang dihasilkan dari filsafat kehidupan. Berlanjut dari sejarah yang ditemukan dalam bahasa jerman dengan sebutan Sosialisme Religius, yang dimana mulai munculah sebuah konsep Fenomenalogi Eksistensi yang dipelopori awal oleh Husserl dengan menakankan Fenomenaloginya.19

Salah satu prinsip eksistensialisme adalah gagasan dasar bahwa manusia tidak memiliki esensi, seperti yang dinyatakan oleh Simon de Beauvoir ketika dia menulis bahwa seseorang adalah makhluk yang esensinya tidak memiliki esensi. Atau yang dikenal oleh Jean Paul Sartre yang mengatakan “eksistensi mendahui esensi. Bagi para eksistensialis, manusia dapat mendefinisikan dirinya sendiri, dan memberi sebuah makna terhadap diri mereka sendiri, untuk membangun esensi mereka dengan melalui keberadaan yang dapat mereka lakukan dalam memilih untuk menjalani sebuah kehidupan itu sendiri. Konsep pilihan itu ternyata bagi para eksistensialis sangatlah penting, karena menurutnya manusia pada pada hakekatnya bebas. Dalam perkataan Sartre yang paradoks mengatakan “Kita dikutuk untuk bebas”. Karena esensi manusia sebagai makhluk yang bebas, di paksa untuk dapat memilih dan menjadikan dirinya sendiri sebagai suatu alat untuk dapat menjelaskan dirnya sendiri. 20

18Paul Tillich, Existential Philosophy. Vol. 5 No. 1, Summer 2013, h. 44.

19Paul Tillich, Existential Philosophy, h. 46.

20David P. Barash, Evolutionary Existentialism, Sociology, and the Meaning of Life. Vol.

50 No. 11. Summer 2000, h. 1012.

(34)

22

Munculnya filsafat eksistensialisme merupakan jawaban terhadap pertanyaan-pertanyaan makna keberadaan tersebut. Manusia tidak hanya ada: ia memahami bahwa ia ada dan meyadari keberadaannya suatu saat akan berakhir di ujung kematian. Eksistensialisme pada dasarnya merupakan protes terhadap pandangan manusia adalah “benda” serta tuntutan terhadap eksistensi personal harus benar-benar diperhatikan dengan sangat serius. Istilah eksistensialisme bisa memiliki dua arti yang paling dasar, istilah sebuah sikap terhadap kehidupan manusia yang menekankan pada pengalam hidup nyatanya terhadap tiap-tiap orang. Dalam arti yang lebih jauh istilah istilah tersebut digunakan dalam sebuah gerakan yang mencapai puncaknya pada tahun 1938-2968. Asal usul gerakan ini bisa ditelusuri sampai kepada filsuf Denmark ialah Soren Kierkegaard, yang dimana lebih menekankan pentingnya keputusan seseorang dan kesadarab terhadap eksistensi manusia.21

B.1. Eksistensialisme Soren Kieerkegaard

Soren Aabye Kierkegaard adalah seorang filsuf Denmark yang kemudian dapat dikenal dengan singkatan S.K. Ciri khas pada filsuf ini ialah kegemarannya menulis degan nama samaran, suatu hal yang tidak lazim kita jumpai di antara para tokoh-tokoh filsafat. Diantara nama-nama tersebut ialah Johannes de Climacus (Johannes sang pendaki) dan Johannes de Silentio (Johannes dari Kesunyian). Kierkegaard mengalami suatu krisis identitas diri sebagai anggota keluarganya.22 Kierkegaard menganut agama Kristiani yang diketahui pada saat itu Denmark pada abad ke 19, yaitu bahwa Lutherianisme adalah agama resmi negara tersebut. Pendata menjadi suatu jabatan tertiggi, dan menjadi seorang Kristiani adalah suatu hal yang diharrapkan dan agam Kristen menjadi agama mayoritas yang di dapat diterima di negara tersebut. Setiap orang, selain Yahudi tentunya, adalah orang Kristen ata setidaknya dirinya menklaim dirinya sebagai seorang Kristen, seperti yang Kierkegaard katakana

“Begitulah, semua adalah orang Kristen.23

21Vincent Martin, O.P.,Filsafat Eksistensialisme Kierkegaard, Sartre, Camus, (Yogyakarta: Pustaka Pelajar, 2003), h. v-vi.

22Fuad Hasan, Berkenalan dengan Eksistensialisme, h. 15.

23Vincent Martin, O.P.,Filsafat Eksistensialisme Kierkegaard, Sartre, Camu, h. 3-4.

(35)

23

Kierkegaard dilahirkan pada tanggal 5 Mei dan meninggal pada tanggal 10 November 1855. Kedua peristiwa ini merupakan sebuah peristiwa yang penting yang terjadi dalam hidupnya, Kierkegaard dalam usia dewasa hanyalah berpindah-pindah kamar sewaan di Kopenhagen. Hal ini tentunya menjadi sebab mengapa Kierkegaard menulis bahasa negrinya sendiri tidak begitu dikenal oleh orang-orang yang berada di luar batas negrinya. Akhir hidupnya pada saat menjelang usia 43 tahun yang tidak memungkinkan ia mengalami masa kejayaannya sebagai filsuf. Kierkegaard semasa hidupnya termasuk gologan kalangan berada di masyarakat Kopenhagen. Perhatian ayahnya sangatlah kuat dimana anak-anaknya sangat ditekankan terhadap pendidikan. Kierkegaard sendiri anak bungsu yang cerdas dan juga menjadi anak kesayangan ayanhnya.

Bagaimanapun ayahnya sangat menekankan nilai-nilai keagamaan, sampai dimasukkan kesekolah theologi.24

Kierkegaard merupakan filsuf pertama yang memperkenalkan istilah Eksistensi,, yang digunakannya pada abad 20 yang makna aliran itu dapat kita sebut seagai Eksistensialisme. Kritikannya yang tajam terhadap absraksionisme yang dapat kita temukan sebagai asumsi dasarnya. Asumsinya tersebut sebagai perlawanan terhadap pemikirannya Hegel. Kierkegaard memakai pengalaman pribadinya dalam menjelaskan konsep kebenaran, sebagai asumsi Hegel bahwa kebenaran adalah totalitas objektif. Sedangkan Kierkegaard mengandaikan bahwa kebenaran adalah individu yang bereksistesi. Budi hardiman dalam karyanya menjelaskan istilah eksistensi, hanya dapat diterapkan pada manusia atau pada individu yang konkret. Dengan aku yang konkrit ini yang dapat bereksistensi maka aku tidak dapat dikaitkan terhadap benda-benda, sistem ekonomi, dan idea. Bereksistensi bukan berarti hidup menurut pola-pola yang konkrit dan abstrak, melainkan terus menerus mengadakan pilihan-pilihan baru secara personal dan subjectif. Hanya dirikulah yang dapat bereksistensi dan tidak ada orang yang dapat menggantikanku bereksistensi. Dalam catatan Budi

24 Fuad Hasan, Berkenalan dengan Eksistensialisme ,h. 16.

(36)

24

Hardiman bahwa eksistensi adalah diri autentik. Sebagai eksistensi aku yang bertindak, dalam pandangan Kierkegaard sendiri dirinya disebut seperti aktor.25

Dalam struktur dasar eksistensi memiliki tiga pengertian yang berbeda, dalam contoh pertama, eksistensi bersifat nyata, konret, dan temporal terhadap keberadaan manusia. Yang kedua eksistensi mengacu pada konsep tentang keberadaan. Artinya kebutuhan itu ada akan tetapi hanya sebatas gagasan dan kebutuhan. Kalimat ketiga dari makna eksistensi adalah sebuah eksistensi yang mengacu terhadap tindakan dan cita-cita yang diwuujudkan dalam bentuk alam penjelmaan. Sedangkan Kierkegaard menggunakan konsep eksistensi yang dapat diterapkan sebagai keberadaan total manusia, termasuk kebutuhan dan nasib manusia, yang terjadi pada kenyataan pengalamannya. Ketiga itulah yang sering digunakan oleh Kierkegaard dengan landasan filosofisnya, konsep keberadaan dalam ontologi Kierkegaard terutama tidak mengacu pada kutub yang berlawanan secara dialektika diri.

Dialektika diri (The Dialectical Self), Kierkegaard mencoba mendefinisikan diri. Pertama ia mengatakan bahwa diri adalah roh, kedua mengatakatan bahwa diri adalah relasi, yang menghubungkan diri kepada dirinya sendiri, dan yang ketiga Kierkegaard menejelaskan hubungan diri sendiri kepada seluruh hubungan seperti roh dan relasi. Bagian pertama ia mencoba mendefinisikan sebuah karakter diri, sedangkan yang kedua menggambarkan diri itu sendiri, pada bagian ketiga ini Kierkegaard menjelaskan bahwasanya hubungan ini saling berkaitan satu sama lain sebagai bentuk dasar. Kierkegaard tidak mengartikan bahwa roh adalah tingkatan tertinggi dari diri manusia, atau kekuatan tertingi di dalam diri yang mengontrol dan memotivasi prilakunya.

Ketika Kierkegaard mengatakan bahwa diri adalah roh, berarti roh sebagai suatau elemen positif, yang menghubungankan dua hal yang saling berlawan secara dialektis yang menempatkan dirinya sendiri sebagai diri.26

25F. Budi Hardiman, Filsafat Modern dari Machiavelli sampai Nietzsche, (Jakarta: PT Gramedia Pustaka Utama, 2007), h. 249-250.

26John W. Elrod, Being and Existence in Kierkegaard„s Pseudonymous Work, (America:

Princenton University Press, 1975), h. 42-43.

(37)

25

Secara umum diakui bahwa eksistensialisme adalah gerakan, yang berarti sebagai penggerak utama, yang mengacu terhadap dirinya sendiri sebagai

“individu”, kritikiannya terhadap suatu institusi gereja yang paling kuat pada zamannya, gereja Lutheran dan filsafat Hegel. Dalam pandangan Kierkegaard terkait eksistensialisme, tidak ada sebuah keputusan yang rasional dari pilihan itu sendiri. Hal yang terpenting adalah kebebasan itu sendiri, karena dengan kebebasan itu manusia dapat menemukan dirinya sendiri. Namun Kierkegaard percaya bahwa dengan membuat pilihan manusia akan mempunyai kebebasan, dibandingkan dengan menjalani kehidupan yang pasif. Sepanjang karyanya Kierkegaard sebenarnya membedakan bukan dua melainkan tiga dalam bidang eksistensi: estetika, etika, dan agama. Dalam konteks ini Kierkegaard merasakan sebuah ketakutan dan kecemasan. Dalam hal ini Kierkegaard mencoba menafsirkan agama, dan kisah-kisah Ibrahim dan Ishak. Esksistensinya dilalui melalui kesadaran dan kebutuhan dirinya sendiri, yang dimana akan menimbulkan sebuah kecamasan yang disebutnya sebagai psikologi kecemasan, prasangka Kierkegaard mengatakan bahwa kecemasan adalah suatu hal yang penting bagi dirinya sendiri yang mengakibatkan menimbulkan sebuah kesadarannya terhadap kebebasan yang radikal dan sebuah kekekalan yang abadi.27

a.Eksistensi Estetis

Pada bentuk eksistensi yang estetis manusia menaruh perhatian yang besar terhadap segala sesuatu yang ada diluar dirinya. Ia hidup di dalam dunia dan di dalam masyarakat, dengan segala sesuatu yang dimiliki di dunia dan di masyarakat. Ia menikamti segala bentuk jasmani dan rohani sekalipun batinnya kosong, dan menghindari setiap kepusan yang menentukan. Bentuk eksistensi yang estetis tidak adanya ukuran-ukuran moral yang umum yang telah ditetapkan, dan tidak adanya kepercayaan keagamaan yang dapat menentukkan. Yang ada hanya keinginan untuk menikmati seluruh pengalaman emosi dan nafsu. Ia memang mengejar hal-hal yang tak terbatas, tetapi dalam arti kesenangan yang tak terbatas. Ia terbuka terhadap pengalaman emosi dan nafsu, akan tetapi ia

27Robert C. Solomon, Existentialism, (New York: Oxford University Press, 2005), h. 1.

Referensi

Dokumen terkait

ةيميت نبا دنع باتكلا لهأ )ةيليلتح ةيفصو ةسارد( :همدق كلمـلا دبع بسح :ليجستلا مقر 34.2.1.11661 مسق نايدلأا ةنراقم ةيلك نيدلا لوصأ ةيملاسلإا

Volume 36 Edisi No.. Berkala Arkeologi kali ini total menampilkan enam tulisan, dengan komposisi tiga tulisan hasil penelitian Balai Arkeologi D.I. Yogyakarta, satu

Apabila artefak berlubang tersebut, di bagian lainnya baik itu di atas atau di samping dikerjakan lebih detail untuk tajaman, maka fungsi dari artefak tersebut

Perencanaan desain yang dilakukan oleh redaksional lebih dititik beratkan kepada materi pemberitaan dengan nilai berita serta nilai jual yang baik, walaupun ada

Sementara itu, berkenaan dengan cara pemecahan kendala-kendala di atas, sebagian responden menyatakan bahwa (1) kualifikasi guru yang belum memadai alternatif pemecahan masalahnya

Terkait dengan uraian di atas cukup jelas bahwa di samping upaya pemenuhan akan kayu pertukangan yang cukup besar, juga terus dilakukan untuk membangun industri pulp

Skrining fitokimia dari ekstrak tanaman menunjukkan terdapatnya kandungan alkaloid, flavonoid, kuinon, triterpenoid, dan tannin pada kedua sampel.. Sandoricum

Telah dikemukakan sebelumnya bahwa kata kerukunan hanya digunakan atau berlaku hanya dalam kehidupan pergaulan kerukunan antar umat beragama bukan berarti