DAVID
Pada malam hari yang, entahlah, menurut gue ini gloomy banget, gue duduk di sofa sambil memperhatikan Abel yang sedang sibuk menulis sesuatu di binder miliknya sembari duduk di pinggir kolam renang. Berani juga itu anak.Padahal, sebelumnya gue udah kasih tahu kalau di kolamnya ada Sisca, ya walaupun dia nggak ganggu, sih. Gue merasakan sofa terasa miring ke samping. Oh, mereka. Ya siapa lagi kalau tiga sohib gue yang betah banget nginep di rumah gue. Padahal, makan aja seadanya.
“Dav, lo kenapa lihat ke kolam terus?” tanya Finn.
“Lah, lo masa nggak tahu, Finn? Lihatin bebebnya dia, lah, hahaha ...,” sahut Axel. “Gue lagi bingung dan sekarang gue lagi jagain Abel dari Sisca,” jawab gue jujur.
“Bingung kenapa? Sisca? Siapa, tuh? Cakep, kagak?” tanya Steven dengan muka penasaran. Playboy banget, nih, manusia.
“Ini. Gue dikasih kalung sama Flawrence pas tadi siang di stan ramalan itu,” ucap gue seraya mengeluarkan kalung dari saku celana. “Katanya, jangan sampai gue telat buat kasih ini ke dia. Gue bingung, apalagi gue juga nggak tahu dia itu siapa.”
Seperti udah direncanakan, mereka langsung saling pandang dengan tatapan yang sulit buat diartikan.
“Lo beneran nggak tahu?” “Nggak.”
Steven menepuk jidatnya. “Sumpah. Lo peka, dong. Gila lo!” Kok, jadi gue?! “Kok gue, sih?” protes gue.
“Makanya peka!” balas mereka kompak.
“Oke, oke. Kalian tahu siapa yang dimaksud dengan ‘dia’?” tanya gue.
“Gue tahu. Dan, gue nggak mau kasih tahu. Kenapa? Karena gue pengin lo yang cari tahu sendiri, lagi pula kalau gue kasih tahu sekarang, bukan hak gue,” jawab Finn panjang lebar.
“Gue setuju. Kita aja tahu, masa lo nggak? Wah, payah nih lo. Padahal, kan, lo yang paling deket sama dia,” sahut Steven. Otak gue berputar keras.
kalah sama yang kita mau,” ucap Finn yang udah nepuk-nepuk bahu gue prihatin.
“Finn, nggak usah lebay. Oh iya, Flawrence bilang apa tentang kalian? Lo orang pada pergi ke tenda ramalan itu, kan?” tanya gue.
“Kata dia, ada karma yang berlaku pokoknya gitu-gitu, deh. Gue juga nggak peduli banget,” jawab Steven acuh tak acuh.
“Gue sebenarnya nggak ngerti-ngerti banget Flawrence ngomongin apaan. Gue juga lupa,” sahut Axel. Kami langsung menatap Finn dengan tatapan meminta jawaban.
“Nggak usah pada kompak lihatin gue napa. Flawrence nggak kasih tahu gue apa-apa,” jawab Finn dengan santai, tapi masih ada nada bingung.
“Kok bisa? Emang gimana ceritanya?” tanya gue penasaran.
Finn mengedikkan bahu sebentar. “Jadi, pas gue dateng. Gue disuruh tulis nama, kan. Nah, waktu dia minta telapak tangan gue, tiba-tiba dia jadi aneh. Nggak fokus terus sampai berulang-ulang, tapi tetep aja nggak ada apa-apa,” jelas Finn.
“Kok dia aneh. Mungkin dia alergi sama cowok kayak lo, Finn,” ledek Steven.
“Terus dia ngomong apa gitu, nggak?” tanya Axel yang lagi fokus-fokusnya. Tumben, tuh anak. “Ada. Kan, dia lagi bingung gitu, terus dia bilang dengan suara kecil, ‘Kenapa nggak terjadi apa-apa? Apa .... Jangan-jangan .... Nggak! Nggak mungkin!’” lanjut Finn.
“Cie, dihafalin nih yeee kata-kata dia! Hahaha ...,” ledek gue sambil ketawa.
“Kan, tadi Axel yang minta gue sebutin dia ngomong apaan. Terus ya, keadaannya tuh awkward banget. Pokoknya aneh banget, deh!” ucapnya lagi.
“Hm ... mungkin ada sesuatu di antara kalian berdua. Tapi, gue nggak tahu apaan. Dav, Sisca siapa? Kasih tahu gue, nggak,” komentar Steven, tapi ujung-ujungnya penasaran juga Sisca siapa.
“Lo ke kolam renang aj—”
“HAHAHA UDAH AH GELI TAHU KAKI GUE!!! HAHAHA!!! UDAH WOI!!!”
Kami menengok ke asal suara. Suara Abel yang lagi ketawa-ketawa sambil megangin kakinya. Astaga! Itu ....
“Jangan bilang ... itu ....”
“Iya. Sisca lagi gelitikin kaki Abel ....”
ABEL
“Pokoknya gue nggak mau di kolam sendirian lagi! Titik! Lagian lo juga, nggak kasih tahu gue, Dav. Ih!” gerutu gue sambil memakai kaus kaki. Gila. Tadi malem, itu creepy banget. Padahal, gue, kan, cuma mau ketenangan buat nulis hari-hari gue di binder. Tahunya malah ....
malah jail gitu,” kata Axel.
Jadi, David jagain gue dari jauh? Gila. Gila. Gue nggak percaya.
“Kok, lo bisa dijailin gitu, sih? Perasaan tadi malem gue cuma lihat dia lagi lihatin lo doang. Nggak ngapa-ngapain,” tanya David.
“Jadi, gue kan, duduk anteng lagi nulis. Eh, tiba-tiba air di kolam kayak gerak-gerak gitu. Ya udah gue diemin aja, kan abisnya gue belum mikir aneh-aneh. Eh, pas udah beberapa lama anginnya kayak dingin banget. Sumpah gue nggak bo’ong, deh,” jawab gue panjang.
“Terus?”
Gue minum air dikit. Haus. “Gue udah berasa nggak enak gitu kan, tapi gue tetep nggak peduli. Kaki gue kan gue cemplungin gitu di air, kayak ada yang narik-narik gitu. Gila, gue pengin manggil kalian, tapi nggak bisa ngomong gitu, gila kan? Tapi, pas gue mau berdiri, kaki gue ditahan, terus digelitikin deh, bener-bener, ya!”
“Hahaha! Di-bully sama hantu, dong, lo,” ledek Finn sambil menunjuk gue. “Nggak usah ledekin bisa, nggak? Tapi, iya juga ya ....”
“Oh iya, Bel! Lo bisa bantuin gue, nggak?” tanya David. “Bantuin apaan?” tanya gue balik.
“Lo temen deket Lunetta, kan? Lo tanyain dong, lusa dia ada waktu kosong, nggak? Gue mau ngajak dia jalan soalnya,” kata David dengan memasang muka memohon.
Lunetta? Lagi? Sampai kapan gue harus memasang topeng gini? Dan, lusa nanti mereka mau jalan, berdua. Berdua.
David menyukai Lunetta yang notabene sahabat cewek gue satu-satunya. Dan gue? Gue cuma menjadi perantara di antara mereka, menjadi jembatan. Yang rela dan nggak peduli kalau perasaannya terus diinjak-injak. Rasanya gue mau keluar dari lingkaran ini.
Gue memasang wajah ceria. “Kapan? Mau gue tanyain hari ini? Cie! Tahu kok, tahu yang mau nge-date.”
“Hari ini aja. Yeee, dia aja belum tentu bisa,” elak David. Walaupun gue tahu pasti di dalam hatinya udah seneng banget.
“Ya udah, nanti gue tanyain. Dan, gue yakin, dia pasti bisa kok,” ucap gue yakin. Tapi, hati gue mengharapkan sebaliknya. Astaga, gue nggak boleh gitu. Gue harus bikin mereka bisa bahagia. Melihat dia bisa berbahagia dengan cewek lain juga bisa buat gue senang walaupun di dalam hati kecil gue, gue selalu ingin menggantikan posisi Lunetta.
ABEL
pipi gue lagi, sakit atuh.
“Nggak usah sok formal, sakit ini pipi gue,” omel gue.
“Pipi lo kan tembem, enak buat dicubitin. Sekali lagi, deh. Bye! Bakpao!” ledek David yang mencubit pipi gue lagi dengan gemes, lalu berlari ke kelasnya. Jail banget itu anak, asli. Gue berjalan memasuki kelas dan melihat Lunetta lagi sibuk membaca novel. Novel apa tuh? Seru, nggak?
“Seru kok, seru. Walaupun baru baca setengah,” jawabnya setelah membaca pikiran gue. Setelah menaruh tas di bangku, gue mengeluarkan iPhone beserta earphone untuk mendengarkan lagu selagi guru belum datang.
“Lun, jangan baca pikiran gue, ya. Gue lagi mau memikirkan sesuatu, nih,” pinta gue.
“Mana bisa. Lo mau mikir apaan emang? Nggak usah sok privasi deh, Bel,” ledeknya. Nyebelin, lo. Gue tanya sekarang aja kali, ya.
“Hm, lo lusa ada acara, nggak?” tanya gue pada akhirnya.
“Nggak ada. Kenapa? Oh, gue tahuuu, lo pasti mau ngajak gue jalan, kan, ke mal? Terus kita shopping!!! Astaga, gue udah lama nggak ke mal tahu nggak. Lusa kita mau ke mal mana? GI? CP? PI?” cerocos Lunetta panjang.
“Lo kata shopping nggak pakai duit? Gue bokek, Cuy. Lagian, bukan gue yang mau ngajakin, tapi David,” kata gue jujur.
“David? Nggak! Gue nggak bisa. Bilang ke dia gue ada acara, jadi nggak bisa,” tolaknya. “Kenapa?” tanya gue. Kok, labil.
“Nggak usah pura-pura nggak tahu. Gue tahu kok, sebenarnya lo cuma pasang topeng, tapi di dalam hati lo? Nggak usah pura-pura lagi, Bel.”
“Pura-pura apanya? Gue nggak merasa pura-pura, kok. Gu-gue seneng, kok, kalau kalian jalan bareng, gue dukung kalian. Udah, pokoknya lusa lo harus bisa. Udah fixed,” dusta gue.
“Gue tahu lo, Bel. Gue tahu. Jangan maksa diri lo lagi, jangan pura-pura tegar padahal lo tuh rapuh dan terlalu banyak mengalah, lo jujur ke dia dong supaya dia sadar!”
“Lo tahu gue? Kalau lo tahu gue kenapa pas waktu di toko buku lo dan dia ngobrol dan kayaknya seru banget sampai ketawa? Lo nggak lihat gue, Lun? Lo nggak lihat gue?!” Dia terdiam sebentar.
“Sebenarnya ... sebenarnya, dia nyamperin gue karena dia bingung sama perasaannya sendiri.” “Maksud lo?”
“Iya, dia punya perasaan ke cewek lain selain gue,” jawab Lunetta. Ada lagi? Tapi, siapa? Gue menelungkupkan kepala gue di atas tangan gue. Gue mencoba menebak siapa cewek itu.
“Dia cantik, cantik banget malah,” kata Lunetta. Pasti, cantik, lah. Lihat aja sebelah gue. “Apaan sih, Bel!” timpalnya dengan nada naik dua oktaf yang membuat gue tersenyum jail.
Walaupun gayanya urakan, tapi dia cantik dengan gayanya itu, dia seangkatan kita loh, pokoknya dia paket lengkap banget, deh,” cerocos Lunetta panjang lebar.
Wah, pasti bule, nih. Bule? Nancy, dong! Kan, dia rambutnya blonde gitu. Pantes. Eh, tapi kan dia gayanya nggak urakan, malah sebelas-dua belas kayak Lunetta. Aduh, siapa sih?! Nggak usah gantung kali, Lun.
“Itu lo,” kata Lunetta tiba-tiba. Gue langsung menatap Lunetta dengan tatapan “lo-bohong-kan-nggak-usah-bercanda-deh”.
“Nggak percaya, ya udah. Terserah lo,” ucapnya ringan. Gue berpikir sebentar.
Masa iya gue? Bo’ong, ah.
“Ih! Lun! Nggak usah bo’ong sama gue! Kasih tahu siapa orangnya,” pinta gue.
“Lo orangnya, Abel Asterella kesayangankuuu .... Sumpah, lo batu banget jadi orang,” omelnya. GUE?!!!
ITU GUE?!
DIA NGGAK LAGI BOHONG, KAN?! SUMPAH.
RASANYA GUE LAGI MELAYANG-LAYANG DI GALAKSI. TERUS DILEMPAR KE TAMAN YANG PENUH BUNGA WARNA-WARNI DAN ... DAN ... POKOKNYA GUE SENENG BANGET!!!
“Gue ... gue ... gue nggak tahu mau ngomong apa ....”
“Tapi, gue rasa dia bakal milih lo, kok. Lo dari dulu sama dia sampai sekarang. Tenang, lo masih punya peluang, kok,” gue refleks memeluk Lunetta erat. Bodo amat dia nggak bisa napas.
“Abel gue nggak bisa napas, duh!”
“Bodo, yang penting gue seneng banget hari ini!!!” ucap gue.
“Huh, gila lo tenaganya kuli banget, sih. Gue tahu lo lagi seneng nggak usah gitu juga kali.” “Tapi, lo bisa kan, lusa?”
“Nggak! Gue nggak mau merusak mood sahabat yang duduk di sebelah gue itu jadi hancur berkeping-keping,” tolak Lunetta.
“Apaan sih, ayolah, demi sahabatmu yang sedang bergembira ini, ya, ya, ya, please?” gue memohon. Gue percaya kok, kalau Lunetta nggak bakal ada apa-apa dengan David. Makanya gue menyuruhnya untuk pergi.
“Hm, ya udah. Tapi, lo percaya sama gue, kan? Dan, jangan berpikiran yang aneh-aneh, ya?” tanyanya.
“Nggak kok, suer deh,” gue berjanji sambil mengacungkan jari telunjuk dan jari tengah gue. “Makasih, Bel.”
“Nggak, justru gue yang harus berterima kasih sama lo. Eh, maksud gue dengan kemampuan lo.” Gue tersenyum jail.
“Sumpah, lo nyebelin abis.”
“I love you. More than as a friend. More than you might think. But I do not show anything.