• Tidak ada hasil yang ditemukan

Dua Puluh Empat

Dalam dokumen Vanesa Marcella - Friendzone(1) (Halaman 128-133)

Rambut panjang dan sedikit bergelombang milik gadis itu pun bergerak ke sana kemari, mengikuti arah dari angin yang bertiupan. Di atas rumput hijau, pandangannya menerawang. Ia sudah menolong kedua temannya agar mereka bisa bersatu, tapi, bagaimana dengan dirinya? Lunetta tulus untuk membantu Abel dan David, tapi bagaimana dengannya? Apa ia hanya ditugaskan untuk membantu? Dan, ditinggalkan begitu saja?

Tenang, ia tidak menyukai David. Tapi, Lunetta hanya bingung dan tidak tahu harus berbuat apa. Sejak kejadian waktu Lunetta masih kecil dia sudah ditinggalkan oleh sahabat kecilnya karena keluarganya ingin tinggal di Amerika Serikat dan terpaksa meninggalkan Lunetta. Bahkan, dia sudah lupa nama sahabatnya karena itu kejadian yang sudah lama. Tapi, Lunetta masih mengingat sebuah lagu yang menandakan persahabatan mereka.

Lunetta memejamkan matanya, bernyanyi lagu itu dalam hati. Memutar setiap kejadian sewaktu ia dan sahabatnya masih kecil. Sebut saja nama sahabatnya itu Teddy. Dulu, Teddy pernah memberikan satu boneka Teddy Bear tepat pada hari sebelum keberangkatannya ke Amerika. Makanya, Lunetta selalu memakai nama itu dan sampai sekarang pun belum tahu siapa nama yang sebenarnya.

“Lo ke mana, sih? Sejak lo ke Amerika, gue sendirian di rumah. Nggak ada temen buat main, lo tahu kan gue anak tunggal?” tanya Lunetta seakan-akan sosoknya ada di hadapannya.

“Oh, apa lo lupa sama gue? Apa nasib gue, ya? Cuma ada di belakang layar doang. Gue masih inget, kalau gue main bareng lo, lo selalu manggil nama gue ‘Neta’. Gue suka, cuma lo doang yang manggil gue gitu.”

Lunetta berdiri dari duduknya, dilihatnya keadaan sekitar. Kosong. Hanya penuh dengan bunga-bunga anyelir. Andai saja, ada Abel di sini pasti Abel sudah heboh dengan pemandangan ini. Gadis itu berjongkok untuk memetik satu tangkai bunga anyelir yang berkelopak putih dan merah jambu. Setelah itu, Lunetta kembali duduk di tempatnya yang semula. Satu ide muncul di otaknya untuk memetik satu per satu kelopaknya dengan berkata dalam hati.

“Apa gue akan bertemu lagi dengan dia?” Lalu, dicabutnya satu per satu kelopak bunga anyelir dengan menutup mata.

No. Yes. No. Yes. No. Yes.

Jari Lunetta meraba-raba, apa masih ada kelopak yang tertinggal. Tetapi, hasilnya tidak ada, sudah habis. Ia membuka mata dan benar saja, kelopak bunga itu sudah habis tak tersisa. Yes. Itu jawaban yang terakhir, yang artinya Lunetta masih bisa bertemu dengan sahabatnya.

Tapi, di mana gue bisa bertemu dia? Siapa namanya? Dan, kapan gue bisa ketemu dia?

Terlalu banyak tanda tanya di dalam kepalanya, tapi ia tidak dapat menemukan jawabannya dari sekian banyak pertanyaan itu.

Pandangan Lunetta tiba-tiba menghitam. Bukan, ia bukan pingsan atau semacamnya, tetapi seseorang menutup kedua mata Lunetta.

“Ini siapa? Lepasin!” cecar Lunetta sambil mencoba melepaskan telapak tangan seseorang yang menutup matanya. Ia agak parno, takut kalau itu penculik atau penjahat. Tapi, tetap saja ia tidak bisa melepaskannya.

“Coba tebak, gue siapa,” ujar seseorang yang Lunetta yakini adalah suara laki-laki. Kok familier, ya?

“Ini siapa, sih? Penasaran ....”

Akhirnya, tangan itu lepas dari mata Lunetta. Ia langsung mendongak dan melihat seseorang yang tidak pernah ia pikirkan.

“Steven? Lo ngapain di sini? Sama cewek lo, ya?” tanya Lunetta yang tidak secara langsung menyindir.

“Idih, nggak. Cici gue lagi foto buat pernikahannya nanti dan gue diajak ke sini, karena gue bosen, ya udah gue jalan-jalan aja. Eh tahunya ketemu lo,” jawab Steven panjang lebar.

“Oh, tumben lo nggak jalan gitu sama cewek lo, kan lo playboy banget,” sindir Lunetta.

“Nih, di sebelah gue udah ada cewek,” ucap Steven enteng yang mendapatkan satu pukulan di lengannya.

“Tuh, kan.”

“Sakit gila, Lun. Oh iya, lo ngapain di sini sendirian?” tanya Steven.

“Gue? Nggak ngapa-ngapain, cuma lagi nge-flashback aja,” jawabnya. Steven yang duduk di sebelah Lunetta hanya membulatkan mulutnya. Mereka berdua terdiam. Karena bosan, Steven pun bersenandung sebuah lagu. Lunetta pun tidak memedulikannya, sampai ia akhirnya tersadar akan

suatu hal yang membuat matanya sukses memelotot. “Lo tahu dari mana lagu itu?” tanya Lunetta hati-hati. “Hah? Lagu apa?” Steven menanyakan balik.

“Lagu yang tadi lo nyanyiin, Steve!” jawabnya dengan nada naik dua oktaf.

“Oh, itu lagu pas gue masih kecil. Sebelum gue pergi ke Amerika. Udah lama sih, tapi gue masih inget. Abisnya, i—”

Badan Lunetta menegang. “Teddy?” Steven langsung menghadap Lunetta, matanya memicing, ia mencocokkan wajah Neta dengan Lunetta. Mirip!

“Neta?”

“Ini serius? Elo? Jadi, lo itu,” ucapan Lunetta terhenti karena Steven sudah memeluknya erat. “Lo tahu nggak, gue kangen sama lo, Neta. Kangen banget gue,” kata Steven.

“Gue juga. Gue bahkan nggak nyangka kalau gue ketemu sama lo setelah lo ke Amerika,” balas Lunetta.

“Maafin gue, Lun.”

“Lo jahat!!! Lo udah ninggalin gue!!! Lo nggak tahu, kan? Kalau gue sendirian, nggak ada temen!!! Coba aja lo nggak pergi, Steve!!! Pasti gue nggak sendirian,” omel Lunetta yang sudah menangis di pelukan Steven.

“Sssttt, kamu jangan nangis, lupain yang dulu. Yang penting, aku udah ketemu lagi sama kamu,” kata Steven melembut. Lunetta kaget, apalagi ia menyadari perbedaan dari perkataan Steven, dari “lo-gue” menjadi “aku-kamu”. Astaga.

“Ih! Nggak usah gombal!” gerutu Lunetta yang sudah tidak menangis lagi.

“Kamu tadi mewek, sekarang udah marah-marah aja. Ayo, sini peluk lagi,” goda Steven seraya mengerling jail.

“Modus. Dan, nggak usah pakai ‘aku-kamu’! Itu geli banget tahu nggak,” tolaknya. “Lun,” panggil Steven.

“Apa?” jawab Lunetta. “Sekarang tanggal berapa?”

“Hm, tanggal 10 bulan Juli. Kenapa?”

“Pokoknya, kita harus inget tanggal hari ini. Karena, bulan depan kita udah satu bulan.” Lunetta tertegun. “Maksud lo?”

“Kita official hari ini, Babe,” jawab Steven dengan senyum memesonanya.

Mobil sport milik David membelah jalan raya di Jakarta dengan kecepatan tinggi. Ini semua hanya untuk bertemu dengan Abel. Apalagi, ia telah memetik beberapa tangkai bunga anyelir. Saking

buru-burunya, ia lupa kalau Abel sedang berada di rumah mamanya. David pun memarkirkan mobil di kosannya. Karena membawa kunci cadangan, David membuka pintu dan langsung memasuki rumah. Setelah mengingat kalau Abel pergi, ia menepuk jidatnya.

“Kenapa gue bisa lupa gini, sih?” tanyanya geram. Lalu, ia duduk di sofa sambil menyalakan televisi. Di pencetnya tombol remote untuk kali kesekian. Tidak ada acara yang menarik. David mematikan televisi itu dan melirik sekitarnya sehingga melihat binder milik Abel. Ia mengambilnya dan membukanya perlahan.

Hari pertama.

Hari ini gue jadi anak SMA. Gue udah bersiap-siap untuk ke sekolah, setelah merapikan tempat tidur gue, gue keluar dari kamar. Ih, pasti dia belum bangun. Emang kebo itu orang. Dia itu David, David Lucian. Sahabat gue dari kecil, tapi gue udah jatuh dengan dia ....

Kenapa Abel nggak bilang dari awal? batin David.

Setelah membaca seluruh halaman yang tulisannya asli ditulis tangan oleh Abel, ia membuka lembaran demi lembaran baru. “Pantes Abel selalu nulis-nulis di sini dan bodohnya gue nggak pernah tanyain tentang apa yang dia tulis di buku ini,” rutuknya menyesal.

Lo yakin bakal nangkep gue kalau gue jatuh? Bahkan, gue yakin lo nggak sadar kalau gue udah jatuh terlalu dalam buat lo. Lo itu terlalu nggak peka, Dav.

David merasa dirinya diterjang ribuan pisau, bukan rasa sakit yang ia rasakan, tetapi perasaan bersalah pada dirinya.

“Kenapa lo bego banget sih, Dav? Bahkan, kebodohan lo melebihi seekor keledai!”

Gue akan menunggu sampai kapan pun, kalau itu jalan yang terbaik untuk gue. I’ll wait as long as forever to be with you.

Demi Dewi Fortuna! David merasa lebih bersalah daripada yang sebelumnya ketika membaca kalimat yang ditulis oleh Abel.

I hate that I can’t hate you, D.

Lo nggak seharusnya gini, Bel, ucap David dalam hati.

Lalu, David membuka halaman selanjutnya. Ia tidak menyangka kalau Abel begitu sabarnya dan kuat. David tidak mau tahu, pokoknya hari ini juga ia harus bisa mengatakan perasaannya dan juga meminta maaf.

Arti nama lo pas banget sama gue, Dav. Arti nama lo itu.

Orang yang dicintai.

dengan perasaan yang sangat teramat bersalah, David akhirnya sampai pada halaman terakhir. Ini baru ditulis tadi siang, sebelum gue pergi, selidik David.

Tiba-tiba, lo memeluk gue dengan erat karena lo khawatir sama gue, tapi sedetik kemudian, lo menjatuhkan gue dengan tiba-tiba. Dan bodohnya, kenapa gue mau bertahan dengan ini semua? Ini semua karena lo, David Lucian.

Untuk kali kesekian, David tertegun sampai-sampai membuat tubuhnya mengeluarkan keringat dingin. Dirinya merasa kalau ia merupakan manusia paling bodoh di dunia ini. David meletakkan buku itu di sampingnya, lalu ia menyandarkan kepalanya dan juga memejamkan mata. Rasanya, ia tidak mau memaafkan dirinya sendiri. Selagi merenung, ponsel David berbunyi menandakan ada telepon masuk. Hatinya begitu senang ketika melihat caller id-nya itu Abel. Cepat-cepat David menerima panggilan itu.

Dalam dokumen Vanesa Marcella - Friendzone(1) (Halaman 128-133)