“Kita mau ke mana ini?” tanya Abel pada Carlos. “Gimana kalau makan? Lo udah makan belum?”
“Yah, gue barusan makan sama Nyokap. Masih kenyang banget, nih, perut gue,” ujar Abel sambil memegang perutnya.
“Ya udah, nggak usah makan. Kita nonton aja, yuk! Nanti gue beli camilan aja sambil nonton.” “Eh, jangan, dong! Lo makan aja, gue nemenin lo makan juga nggak apa-apa.”
“Beneran? Kalau gitu nanti gue cari tempat makan deket bioskop aja,” ujar Carlos sambil tersenyum. Abel balas tersenyum walau Carlos nggak melihatnya. Aduh, gue harus ngomong apa lagi ini? Gini nih, makanya tadi gue nolak diajak jalan sama Carlos. Hmmm ... apa gue pancing aja soal David, ya?
“Eh iya, dulu lo temenan sama David, ya? Sekarang David satu kos sama gue loh!” jelas Abel tanpa menunggu jawaban Carlos.
“David Lucian? Iya gue kenal. Kok, lo tahu gue kenal sama dia?” jawab Carlos berbohong. Sebenarnya dia sudah tahu bahwa David dan Abel kos di tempat yang sama. Bahkan, Carlos tahu mereka berdua adalah sahabat akrab sejak dulu.
“Mmmm ... David yang cerita sama gue ...,” ucap Abel ragu. Salah nggak ini gue ngomong gini? batinnya dalam hati. Tak ada respons dari Carlos. Dia tetap fokus menyetir di jalanan yang macet. Tak lama ia tersenyum. Senyuman yang beda dari yang biasa ia berikan kepada Abel.
“Dia pasti cerita yang jelek-jelek soal gue,” ujar Carlos lagi. Senyumannya tercabik antara seringaian dan kepedihan. Abel terdiam. Dia hanya ingin mendamaikan dua teman lama ini. Tapi, sepertinya ia mengambil langkah yang salah.
“Eh, ng, nggak kok! Dia nggak ngejelek-jelekin lo. Dia bahkan bilang kalau dulu kalian berdua itu temen ba ....”
“Nggak usah bo’ong lo!” potong Carlos setengah berteriak. Abel terkejut dan menutup mulutnya. “Dia pasti cerita betapa buruknya gue yang udah ngerebut ceweknya, kan? Dia juga pasti cerita kalau gue mukulin dia, kan?” sambung Carlos. Abel tetap diam. Ia menyesali pilihan topik pembicaraan ini.
semua orang yang mendewakan David. Apa, sih, bagusnya David Lucian? Apa lebihnya dia dari gue?” Carlos berbicara panjang lebar dengan nada yang tinggi. Sesekali dia melihat ke arah Abel.
“Nggak gitu Car, gue ....”
“Alah, nggak usah sok ngebela dia lo! Sebentar lagi juga lo bakal ngerasain sakit yang sama kayak gue. Lo suka sama dia, kan?” tuduh Carlos mengena. Abel terdiam.
“Diam artinya iya. Gue aja tahu lo suka sama dia. Dia tahu, nggak? Nggak, kan? Dia mana pernah merhatiin perasaan temennya. Semua di dunia ini cuma soal dia. David Lucian. Semua nggak penting. Cuma dia doang yang paling penting.” Wajah Carlos memerah. Hati Abel mulai panas mendengar Carlos menjelek-jelekan David di depannya.
“Tapi Car ....”
“Lo pikir siapa yang ngerebut siapa? Gue duluan yang suka sama Chelsea! Gue! Gue curhat panjang lebar sama David soal perasaan gue ke Chelsea, tapi apa? Dia yang dapetin Chelsea. Dan, semua orang tetep aja muja-muja David tanpa tahu perasaan gue. Semua orang Bel! Semua orang nuduh gue ngerebut Chelsea dari temen lo itu! Dan, gue jadi terpojok ke mana pun gue pergi! Termasuk lo, lo juga pasti udah kemakan kebohongan temen lo itu ....”
“Turunin gue,” kata Abel tiba-tiba. “Mau ngapain lo?” tanya Carlos. “Gue bilang, turunin gue!”
“Gue nggak mau.”
“Lo lagi stres, gue nggak mau jalan sama orang stres kayak lo! Turunin gue!” “Nggak! Lo harus tetep ikut gue!”
“Gue nggak nyangka. Gue kira lo udah berubah nggak kayak yang David ceritain ke gue. Ternyata lo masih sama aja. Nggak waras,” ucap Abel. Carlos hanya menyunggingkan seringaian.
“Bener dugaan gue. David udah fitnah gue macem-macem,” ujar Carlos. “Dia nggak fitnah lo! Lo yang fitnah dia!”
“Tahu apa lo soal gue? Selama ini gue cuma jadi bayang-bayang David! Apa yang gue lakuin nggak pernah dihargai. Semua orang cuma ngelihat David! Bukan gue! Bahkan, Chelsea akhirnya mutusin gue karena dia lebih silau sama kepopuleran seorang David Lucian,” Carlos terdiam. Ada kepedihan di matanya.
“Turunin gue Car. Semua bisa diomongin baik-baik. Nggak kayak gini caranya,” Abel menurunkan nada suaranya.
“Nggak ada lagi yang bisa diomongin. Cuma dengan cara ini gue bisa bales sakit hati gue ke David.” “Maksud lo?”
“Lo sakit jiwa tahu nggak? Turunin gue!” Abel kembali meninggi. Cowok di sebelahnya sedang kalap dan Abel mulai ketakutan. Carlos menambah kecepatan laju mobilnya setelah keluar dari kemacetan.
“Lo mau bawa gue ke mana? Gue mau turun!” Carlos tetap diam dan menyetir dengan kecepatan tinggi. Abel kebingungan. Lalu, satu-satunya yang terlintas di pikirannya hanyalah David. Iya, David pasti bisa menolongnya keluar dari situasi ini. Abel mengeluarkan ponsel dari dalam tasnya. Dia mencari kontak David dan meneleponnya. Satu dering. Dua dering.
“Halo, Abel?”
“David, tolong gue! Gue lagi di daerah Sudirman sama Carl—”
“Ngapain lo?” Carlos merebut ponsel Abel dan melemparnya keluar jendela mobil. “Lo gila, ya?! HP gue!”
David masih menempelkan ponsel di telinganya meski sambungan telepon udah terputus. Kekagetannya belum hilang. Dia masih mencoba mencerna kejadian yang dialaminya. Abel bersama Carlos? Apa yang dilakukan mantan sahabatnya itu kepada Abel? Setelah tersadar, dia langsung memutar otak.
“Abel tadi sempet bilang dia ada di daerah Sudirman. Mudah-mudahan belum jauh,” ujarnya pada diri sendiri dan bergegas keluar setelah menyambar kunci mobilnya. Sebelum menjalankan mobilnya, ia membuka grup yang anggotanya Finn, Steven, dan Axel.
David. L: Abel lagi sama Carlos, tadi gue sempet denger kalau mereka lagi ada di daerah Sudirman. Bantu gue buat nyari Abel.
Finn: Lo nggak usah bercanda.
Axel: Gue kebetulan lagi ada di sekitar sini. Oh iya, pelat mobil Carlos masih yang dulu, kan?
Steven: Sial. Carlos ngapain pakai culik-culik segala. Gue segera ke sana, pelat nomornya berapa, Xel? Axel: B 1980 SS.
Finn: Dari pelatnya aja ketahuan kalau anaknya berandal. Gue juga langsung ke sana, deh. Mudah-mudahan nggak terjadi apa-apa
David. L: Amin. Thanks, Bro.
Diambilnya kunci mobil dan juga binder milik Abel. Lalu, ia langsung pergi dengan mobilnya. Tuhan, tolong lindungi Abel di mana pun ia berada dan jauhkan ia dari yang jahat.
Amin.
Takdir.
Hal yang tidak bisa dihindari oleh semua manusia. Manusia hanya bisa mengikuti alur permainan di dalam hidup ini. Jika menang, artinya itu memang takdir. Tapi, apa yang terjadi jika kalah?
Jangan menyerah. Itu artinya, kamu harus bisa berjuang lebih keras dari yang sebelumnya. Selain takdir, ada juga waktu. Semua orang memerlukan waktu. Waktu untuk menyadari semuanya, waktu untuk menjadi yang lebih baik dan memperbaiki dirinya. Namun, terkadang waktu itu jahat. Coba bayangkan, saat kamu sedang ada janji atau apa pun itu di waktu yang telah dijanjikan dan tidak boleh telat. Lalu, di saat kamu berlari untuk mencapai tempat itu, kamu terjatuh sehingga menimbulkan luka-luka ringan. Di saat terjatuh, waktu terus berjalan, tidak memedulikanmu yang sedang terjatuh. Detik berganti menjadi menit dan menit berganti menjadi jam. Semua terus berlanjut. Waktu tidak kenal kata “membantu”. Jika waktu mengenalnya, ia akan berbaik hati menungguimu yang sedang terlambat.
Meski jahat, kebaikan waktu juga ada, contohnya, ia memberikanmu saat-saat berharga, untuk menikmati masa- mudamu. Untuk mengenang saat-saat itu sambil tersenyum, tertawa, bahkan menangis. Kamu menyebut itu dengan panggilan “masa lalu”.