• Tidak ada hasil yang ditemukan

Hakim dalam menerapkan pembuktian sederhana, kadangkala mengalami hambatan ketika memutuskan perkara untuk masuk dalam ranah perkara gugatan

A. Duduk Perkara Kepailitan PT. Serba Indah Aneka Pangan

Pemohon pailit pada perkara ini permohonan pailit perusahaan ini adalah PT. Bank Negara Indonesia (Persero), Tbk yaitu suatu perseroan terbatas yang berkedudukan di Jakarta dan beralamat di Jalan Jenderal Sudirman Kavling 1, Jakarta Pusat, yang dalam hal ini diwakili oleh kuasanya yaitu Duma Hutapea, SH, Isak Franky P. Napitupulu, SH, Lambok Parulian Hutapea, SH, Johan Bastian Sihite, SH, yang masing-masing adalah Advokat pada Law Firm Duma & Co, beralamat di Jalan Raya Gading Batavia Blok LC. 10 Nomor 30 Kelapa Gading, Jakarta Utara, 14240, berdasarkan Surat Kuasa Khusus Nomor. HUK/2/075 tertanggal 01 Desember Tahun 2011.

Termohon pailit dalam perkara ini adalah PT. Serba Indah Aneka Pangan, yaitu suatu perseroan terbatas yang berkedudukan dan beralamat di Jalan Kol. Yos Sudarso Nomor 398, Kel. Cengkeh Turi, Kec. Binjai Utara, Binjai, Sumatera Utara yang didirikan berdasarkan Akta Pendirian Nomor 44 tertanggal 11 September 2000 yang dibuat di hadapan Notaris Hustiati, SH, Notaris di Medan, beserta perubahan-perubahannya yang terakhir sebagaimana termaktub dalam Akta Berita Acara Rapat Nomor 100 tertanggal 24 Desember 2004 yang dibuat dihadapan Notaris H. Makmur Ritonga, SH, Notaris di Medan.

Pemohon pailit telah mengajukan permohonan pernyataan pailit tertanggal 13 Desember 2011 dan telah didaftarkan di Kepaniteraan Niaga Pada Pengadilan Negeri Medan pada tanggal 13 Desember 2011, dengan mengemukakan dalil-dalil sebagai berikut:

1. Domisili Hukum

Bahwa berdasarkan Pasal 3 Ayat (1) dan (5) Undang-Undang Nomor 37 Tahun 2004 Tentang Kepailitan Dan Penundaan Kewajiban Pembayaran Utang, Pasal 3 Ayat (1) dinyatakan bahwa “putusan atas permohonan pernyataan pailit dan hal-hal lain yang berkaitan dan/atau dalam undang-undang ini diputuskan oleh pengadilan yang daerah hukumnya meliputi daerah tempat kedudukan debitur.” Selanjutnya Pasal 3 Ayat (5) dinyatakan bahwa “dalam hal debitur merupakan badan hukum, tempat kedudukan hukumnya adalah sebagaimana dimaksud dalam anggaran dasarnya.”

Bahwa berdasarkan anggaran dasar yang termuat dalam Akta Pendirian Nomor 44 tertanggal 11 September 2000 yang dibuat dihadapan Hustiati, SH, Notaris di Medan beserta perubahan-perubahan yang terakhir sebagaimana termaktub dalam Akta Berita Acara Rapat Nomor 100 tertanggal 24 Desember 2004 yang dibuat dihadapan Makmur Ritonga, SH, Notaris di Medan, kedudukan termohon pailit adalah di Binjai, Propinsi Sumatera Utara, sebagaimana dinyatakan dalam perjanjian-perjanjian kredit beserta perubahan-perubahannya yang ditandatangani oleh pemohon pailit dengan termohon pailit.

Bahwa Pasal 2 Ayat (2) Keputusan Presiden Nomor 97 Tahun 1999 mengatur tentang kompetensi relatif Pengadilan Niaga, yaitu “daerah hukum Pengadilan Niaga pada Pengadilan Negeri Medan meliputi wilayah Propinsi Sumatera Utara, Riau, Sumatera Barat, Bengkulu, Jambi dan Daerah Istimewa Aceh.” Bahwa berdasarkan uraian tersebut, karena kedudukan hukum termohon pailit berdasarkan anggaran dasar adalah di Binjai yang terletak di Propinsi Sumatera Utara yang merupakan wilayah hukum Pengadilan Niaga

Medan pada Pengadilan Negeri Medan, maka dengan demikian pengajuan permohonan pernyataan pailit terhadap termohon pailit yang di ajukan ke Kepaniteraan Pengadilan Niaga Medan adalah telah berdasarkan hukum.

2. Termohon Pailit Memiliki Utang Kepada Pemohon Pailit Yang Sudah Jatuh Tempo Dan Dapat Ditagih

Pemohon pailit adalah sebuah perusahaan yang bergerak di bidang jasa perbankan (bank), sedangkan termohon pailit adalah perusahaan yang bergerak di bidang industri pembuatan makanan dan minuman instan. Pemohon pailit telah memberikan fasilitas kredit kepada termohon pailit yang pada saat permohonan pailit ini diajukan telah jatuh tempo dan dapat ditagih. Adapun fasilitas kredit yang merupakan dasar utang termohon pailit kepada pemohon pailit diatur dalam Perjanjian Kredit Modal Kerja (KMK) dan Kredit Investasi (KI),

3. Jangka Waktu Kredit

Untuk Fasilitas Kredit Modal Kerja (KMK) pemberian jangka waktu kredit fasilitas Kredit Modal Kerja (KMK) sebesar Rp. 15.500.000.000,- (lima belas milyar lima ratus juta rupiah) adalah terhitung sejak tanggal 08 Desember 2006 sampai dengan tanggal 07 Maret 2009, sebagaimana diatur dalam Pasal 4 Perjanjian Kredit Perjanjian Kredit (PK) Nomor 2006.780 SKM.COC tertanggal 08 Desember 2006 dan terakhir diubah dengan jo. Pasal 5 Ayat (1) Persetujuan Perubahan Perjanjian Kredit (PPPK) Nomor (3), Nomor 2006.780 SKM.COC tertanggal 23 Desember 2008.

222

222 Putusan Nomor : 16/PAILIT/2011/PN.Niaga/Mdn, hal. 3

Bahwa sampai dengan jangka waktu kredit tersebut jatuh tempo pada tanggal 07 Desember 2007, termohon pailit ternyata tidak dapat memenuhi kewajibannya untuk membayar utangnya, sehingga Pemohon Pailit menyetujui perubahan terhadap Pasal 5 mengenai jangka waktu kredit yaitu memperpanjang jangka waktu kredit menjadi 08 Desember 2007 sampai dengan 07 Desember 2008, sebagaimana terbukti adanya Persetujuan Perubahan Perjanjian Kredit Nomor (1) 2006.780.SKM.COC tertanggal 07 Desember 2007.223

Bahwa selanjutnya, termohon pailit ternyata kembali tidak dapat memenuhi kewajibannya untuk membayar utangnya yang sudah jatuh tempo secara tepat waktu kepada pemohon pailit sekalipun telah di perpanjang, sehingga pemohon pailit kembali terpaksa menyetujui perubahan terhadap Pasal 5 mengenai jangka waktu kredit yaitu memperpanjang jangka waktu kredit menjadi 08 Desember 2008 sampai dengan 07 Maret 2009, sebagaimana terbukti dengan adanya Persetujuan Perubahan Perjanjian Kredit Nomor (3) 2006.780.SKM.COC tertanggal 23 Desember 2008.224

Berdasarkan hal tersebut di atas, sesuai dengan Pasal 20 Perjanjian Kredit (PK) Nomor 2006.780 SKM.COC tertanggal 08 Desember 2006, pemohon pailit berhak mengakhiri jangka waktu kredit tersebut, sehingga termohon wajib membayar lunas

Bahwa dari perubahan-perubahan terhadap Perjanjian Kredit Nomor 2006.780 SKM.COC tersebut di atas terbukti termohon pailit sudah beberapa kali gagal memenuhi kewajibannya yang telah jatuh tempo kepada pemohon pailit walaupun terhadap jangka waktu kredit yang sudah jatuh tempo tersebut telah dilakukan perpanjangan berkali-kali.

223 Bukti P-2 dalam Putusan Nomor : 16/PAILIT/2011/PN.Niaga/Mdn

224 Bukti P-4 dalam Putusan Nomor : 16/PAILIT/2011/PN.Niaga/Mdn

seketika dan sekaligus atas kredit yang telah ditariknya dan mengenai hal tersebut telah diperingatkan oleh pemohon pailit melalui:

a. Surat Pemohon Pailit Nomor RMV/1/2/057, perihal Penyelesaian Kewajiban Kredit PT.

Serba Aneka Pangan tertanggal 13 Juni 2011.

b. Surat Pemohon Pailit Nomor RMV/1/2/016, perihal Penyelesaian Kewajiban Kredit PT.

Serba Aneka Pangan tertanggal 09 Mei 2011.

c. Surat Pemohon Pailit Nomor RMV/1/2/2008, perihal Penyelesaian Kewajiban Kredit PT.

Serba Aneka Pangan tertanggal 28 April 2011, namun termohon pailit hingga permohonan pailit ini diajukan, tidak dapat melunasi kewajibannya sehingga utangnya telah jatuh tempo.225

Untuk Fasilitas Kredit Modal Kerja (KMK), jangka waktu kredit untuk fasilitas Kredit Investasi (KI) sebesar Rp. 17.500.000.000,- (tujuh belas milyar lima ratus juta rupiah) sebagaimana diatur dalam Pasal 4 Perjanjian Kredit Nomor 2006.781.SKM.COC tertanggal 08 Desember 2006 adalah 72 (tujuh puluh dua) bulan sejak perjanjian kredit pertama ditandatangani jo. persetujuan Perubahan Perjanjian Kredit Nomor (1) 2006.781.SKM.COC tertanggal 18 April 2008 adalah 84 (delapan puluh empat) bulan sejak tanggal 08 Desember 2006.

Bahwa ternyata termohon pailit tidak mematuhi pembayaran utang-utangnya sesuai jadwal angsuran yang ditentukan tersebut dan hanya membayar sebagian kecil dari utangnya. Sesuai dengan jadwal angsuran, termohon pailit diwajibkan membayar ataupun

225 Putusan Nomor : 16/PAILIT/2011/PN.Niaga/Mdn, hal. 5

mengangsur utangnya setiap bulan yang dimulai dari Desember Tahun 2006.226

a. Surat Pemohon Pailit Nomor RMV/1/2/057, perihal Penyelesaian Kewajiban Kredit PT.

Serba Aneka Pangan tertanggal 13 Juni 2011.

Berdasarkan perubahan jadwal angsuran pelunasan Kredit Investasi (KI) tersebut pun termohon pailit tidak dapat memenuhi kewajibannya sesuai jadwal yang telah disepakati sejak angsuran bulan Januari 2009, sehingga angsuran pembayaran sejak Januari 2009 sampai dengan Desember 2011 sudah jatuh tempo.

Pemohon pailit berhak untuk mengakhiri jangka waktu kredit dan termohon pailit wajib membayar lunas seketika dan sekaligus atas kredit yang telah ditariknya yang sampai saat diajukannya permohonan pernyataan pailit ini, termohon pailit tidak dapat melunasi kewajibannya yang sudah jatuh tempo meskipun sudah dilakukan perpanjangan jangka waktu kredit dan perubahan jadwal angsuran, maka sesuai dengan Pasal 20 Perjanjian Kredit Nomor 2006.781.SKM.COC tertanggal 08 Desember 2006 jo. Pasal 24 Persetujuan Perubahan Perjanjian Kredit (PPPK) Nomor (1) No. 2006.781 SKM.COC tertanggal 08 Desember 2008, yang mana hal tersebut telah diperingatkan oleh pemohon pailit melalui surat-surat pemohon pailit sebagaimana tersebut di bawah ini:

b. Surat Pemohon Pailit Nomor RMV/1/2/016, perihal Penyelesaian Kewajiban Kredit PT.

Serba Aneka Pangan tertanggal 09 Mei 2011.

c. Surat Pemohon Pailit Nomor RMV/1/2/2008, perihal Penyelesaian Kewajiban Kredit PT.

Serba Aneka Pangan tertanggal 28 April 2011, namun termohon pailit hingga

226 Tabel Angsuran tersebut tertera pada Putusan Nomor : 16/PAILIT/2011/PN.Niaga/Mdn, halaman. 5-11

permohonan pailit ini diajukan, tidak dapat melunasi kewajibannya sehingga utangnya telah jatuh tempo.227