INSTITUT PERTANIAN BOGOR
DAFTAR LAMPIRAN
II. TINJAUAN PUSTAKA DAN KERANGKA PEMIKIRAN
2.1. Konsep Liberalisasi Perdagangan 1 Pengertian Perdagangan Internasional
2.1.3. Teori Liberalisasi Perdagangan 1.Pengertian Liberalisasi Perdagangan
2.1.3.2. Dukungan dan Tantangan terhadap Perdagangan Bebas
Ada beberapa persoalan dan argumen utama di seputar perdebatan antara para penganjur perdagangan bebas yang mengutamakan pembangunan yang berorientasi ke luar dan strategi promosi ekspor dengan para penganjur yang menentang perdagangan bebas dan sebaliknya menganjurkan proteksi yang lebih besar yaitu dengan penetapan strategi substitusi impor. Menurut Todaro (2006), argumen-argumen yang menentang perdagangan bebas, antara lain: (1) terbatasnya laju pertumbuhan atas permintaan dunia terhadap ekspor primer dari negara-negara Dunia Ketiga; (2) kemerosotan dasar-dasar perdagangan atau nilai tukar perdagangan secara sepihak yang dialami oleh negara-negara berkembang penghasil komoditi primer; serta (γ) terus meningkatnya “proteksionisme baru” di kalangan negara-negara maju terhadap ekspor produk manufaktur dan produk- produk pertanian olahan dari negara-negara berkembang.
Para pendukung perdagangan bebas juga berkeyakinan bahwa liberalisasi perdagangan yang meliputi upaya promosi ekspor, devaluasi mata uang domestik, penghapusan segala bentuk hambatan-hambatan perdagangan internasional, serta pengikisan distorsi-distorsi harga merupakan syarat terciptanya pertumbuhan ekonomi dan peningkatan ekspor. Pada hakikatnya perdagangan bebas memiliki sejumlah keuntungan, diantaranya:
1. Perdagangan bebas dapat meningkatkan persaingan, memperbaiki alokasi segenap sumberdaya serta menciptakan skala ekonomis di bidang-bidang ekonomi di mana negara berkembang memiliki keunggulan komparatif. Namun, konsekuensinya adalah perdagangan bebas akan menurunkan biaya-biaya produksi pada umumnya.
2. Perdagangan bebas menimbulkan tekanan-tekanan yang mengarah pada peningkatan efisiensi, perbaikan kualitas produk, serta menyempurnakan mutu teknologi-teknologi produksi.
3. Perdagangan bebas memacu pertumbuhan ekonomi, meningkatkan nilai laba dan merangsang tabungan serta investasi.
4. Perdagangan bebas akan menciptakan capital inflow, keahlian, dan teknologi dari luar negeri, yang merupakan sumber daya yang sangat dibutuhkan, tetapi langka di negara berkembang.
5. Perdagangan bebas akan menghasilkan devisa yang dapat digunakan untuk membiayai impor.
6. Perdagangan bebas akan menghapuskan distorsi harga yang mahal akibat adanya intervensi pemerintah yang salah arah, baik itu di pasar ekspor maupun pasar valuta asing.
7. Perdagangan bebas memungkinkan negara-negara berkembang untuk mengambil keuntungan penuh dari reformasi yang dilakukan WTO.
2.2. Konsep mengenai Beban Utang Luar Negeri 2.2.1. Teori Three Gap Model
Dalam perekonomian, terdapat tiga defisit, yaitu defisit tabungan investasi, defisit anggaran, dan defisit transaksi berjalan. Ketiga defisit tersebut harus dibiayai melalui utang luar negeri melalui pendekatan pendapatan nasional. Hubungan antara ketiga defisit ini dijelaskan dengan menggunakan kerangka teori
Three Gap Model yang diperoleh dari persamaan identitas pendapatan nasional (Basri,1995), yaitu: Sisi Pengeluaran Y = C + I + G + (X-M) (2.1) Keterangan: Y = GDP G = pengeluaran pemerintah X = ekspor barang dan jasa M = impor barang dan jasa C = konsumsi masyarakat I = investasi
Sisi Pendapatan
Keterangan:
S = tabungan domestik
T = penerimaan pajak pemerintah
Jika kedua identitas pendapatan nasional digabung, maka akan diperoleh:
(M – X) = (I – S) + (G – T) (2.3)
Keterangan:
M – X = defisit transaksi berjalan G – T = defisit anggaran pemerintah I – S = defisit tabungan investasi
Hubungan antara kebutuhan utang luar negeri dan ketiga defisit tersebut diperlihatkan dengan menggunakan persamaan identitas neraca pembayaran, yaitu:
Dt = (M – X)t + Dst– NFLt + Rt + NOLt (2.4)
Keterangan:
Dt = utang pada tahun t,
(M – X)t = defisit transaksi berjalan pada tahun t,
Dst = pembayaran beban utang (bunga + amortisasi) tahun t, NFLt = arus masuk bersih modal swasta pada tahun t, Rt = cadangan otoritas moneter tahun t,
NOLt = arus keluar modal bersih jangka pendek seperti capital flight dan lain-lain pada tahun t.
Persamaan ini menunjukkan bahwa utang luar negeri (sisi kiri) digunakan untuk membiayai defisit transaksi berjalan, pembayaran utang, cadangan otoritas moneter, dan kebutuhan modal serta pergerakan arus modal jangka pendek seperti
capital flight. Bila persamaan (2.3) disubstitusikan ke dalam persamaan (2.4), maka akan diperoleh persamaan :
Dt = ( I – S)t + (G – T)t +DSt – NFLt + Rt + NOLt (2.5) Identitas (2.5) ini menunjukkan, selain untuk membiayai defisit transaksi berjalan, utang luar negeri juga dibutuhkan untuk membiayai defisit anggaran pemerintah, serta kesenjangan tabungan – investasi dengan utang luar negeri.
Todaro (2006)berpendapat bahwa akumulasi utang luar negeri merupakan suatu gejala umum yang wajar. Rendahnya tabungan dalam negeri tidak
memungkinkan dilakukannya investasi secara memadai, sehingga pemerintah negara-negara berkembang harus menarik dana pinjaman dan investasi dari luar negeri. Bantuan luar negeri dapat memainkan peranan yang sangat penting dalam usaha negara yang bersangkutan guna mengurangi kendala utamanya yang berupa kekurangan devisa, serta untuk mempertinggi tingkat pertumbuhan ekonominya.
2.2.2. Teori Kurva Laffer Utang
Kurva Laffer Utang (Debt Laffer Curve) adalah kurva yang menggambarkan hubungan antara jumlah utang luar negeri dan kemampuan membayar utang tersebut dimana peningkatan stok utang dapat mengurangi kemampuan untuk membayar utang luar negeri. Teori ini menggambarkan efek akumulasi utang terhadap pertumbuhan GDP. Menurut teori ini, pada dasarnya utang itu diperlukan pada tingkat yang wajar. Penambahan utang akan memberikan dampak positif terhadap pertumbuhan ekonomi sampai pada satu titik atau batas tertentu. Pada kondisi tersebut utang merupakan kebutuhan normal setiap negara. Namun, pada saat stok utang telah melebihi batas tersebut, maka penambahan utang mulai membawa dampak negatif terhadap pertumbuhan ekonomi.
Sumber : Pattillo dalam Listiani, 2002
Gambar 2.2. Kurva Laffer Utang
Gambar 2.2. menjelaskan bahwa pada titik OA, penambahan jumlah utang berhubungan positif terhadap peningkatan kemampuan membayar utang sampai
B
Expected Debt Repayment
Debt Overhang
Debt Stock
A
pada titik batas (debt overhang). Debt overhang merupakan kondisi dimana negara tidak memiliki kemampuan untuk membayar utang secara penuh dan pembayaran aktual tergantung dari pelaksanaan kebijakan ekonomi. Apabila jumlah utang luar negeri selalu meningkat melebihi titik batas (titik OB), maka akan berhubungan negatif terhadap kemampuan membayar utang. Hal ini akan menurunkan tingkat pertumbuhan ekonomi. Akumulasi utang menimbulkan kewajiban pembayaran utang yang besar sehingga meningkatkan pajak untuk membayar pelunasan utang. Tingkat pajak yang tinggi akan menurunkan investasi yang akan berdampak pada pertumbuhan ekonomi yang menurun.
2.3. Tinjauan Teoritis 2.3.1. Teori Trade Openness
Negara yang melakukan liberalisasi perdagangan merupakan negara yang menganut sistem perekonomian terbuka, dimana penduduk negara tersebut telah melakukan perdagangan dengan penduduk negara lain baik itu sektor rumah tangga, sektor perusahaan, maupun sektor pemerintah. Negara yang mempunyai kelebihan sumber daya baik itu sumber daya alam maupun sumber daya manusia dapat melakukan spesialisasi yaitu dengan memproduksi barang dan jasa yang mempunyai keunggulan komparatif di negara tersebut. Hasil produksi tersebut dapat digunakan untuk kebutuhan domestik maupun untuk ekspor ke luar negeri. Sedangkan barang dan jasa yang tidak mampu diproduksi dalam negeri dapat diimpor dari luar negeri.
Pendapatan dari ekspor merupakan sumber devisa negara. Negara dapat melakukan ekspor jika barang dan jasa negara yang bersangkutan mempunyai daya saing di pasar internasional. Ekspor merupakan salah satu komponen dari pengeluaran agregat. Semakin banyak jumlah barang yang dapat diekspor, semakin besar pengeluaran agregat, dan semakin tinggi pula pendapatan nasional yang diperoleh oleh negara yang bersangkutan. Namun, pendapatan nasional yang tinggi belum tentu meningkatkan ekspor. Sifat yang seperti ini menunjukkan bahwa ekspor dianggap sebagai variabel eksogen (Lihat Gambar 2.3. bagian a).
Impor mempunyai sifat yang berlawanan terhadap ekspor. Semakin besar impor, semakin tinggi pula devisa yang digunakan untuk membiayai impor dan
akan mengurangi pendapatan nasional, hal ini menunjukkan bahwa terdapat hubungan langsung antara impor dengan pendapatan nasional yang nilainya ditentukan oleh kecenderungan mengimpor atau MPM (m).
m = ∆ε ∆Y (2.6)
Hubungan antara impor dan pendapatan nasional secara matematis dirangkum oleh fungsi impor sebagai berikut:
M = Mo + mY (2.7)
Dimana:
M = jumlah impor
Mo = jumlah impor yang nilainya tidak ditentukan oleh Y m = marginal propencity to import.
Y = pendapatan nasional
Sumber: Deliarnov (1995)
Gambar 2.3. Hubungan antara Ekspor dan Impor dengan Tingkat Pendapatan Nasional
Keterangan :
a. Ekspor ditentukan oleh faktor eksogen dan tidak tergantung pada besarnya pendapatan nasional.
b. Impor dan pendapatan nasional yang berkaitan erat. Makin besar pendapatan nasional, makin besar impor, ditentukan oleh marginal propencity to import. o o X X Y M Y M=Mo + mY M0 M ∆ ∆ Y ∆ ∆ a b )
Keseimbangan Perekonomian Terbuka
Pengeluaran agregat domestik dari negara yang menganut sistem perekonomian terbuka terdiri dari pengeluaran konsumsi oleh rumah tangga, pengeluaran investasi oleh perusahaan, pengeluaran pemerintah, dan pengeluaran unutk membeli barang impor.
Y= C + I + G – M (2.8) Tanda M negatif dikarenakan pengeluaran tersebut bukan diterima oleh perusahaan-perusahaan dalam negeri, melainkan oleh pihak luar negeri. Tetapi sebagian produk dalam negeri ada pula yang diekspor ke luar negeri. Dengan demikian jumlah pengeluaran agregat menjadi:
Y= C + I + G + (X – M) (2.9) Perdagangan yang terbuka ditandai dengan adanya ekspor dan impor. Nilai (X-M) merupakan ekspor bersih. Tanda ini bisa positif bisa pula negatif. Apabila tandanya positif berarti jumlah barang yang diekspor ke luar negeri lebih banyak daripada barang yang diimpor dari luar negeri. Tanda negatif berarti sebaliknya.
Pengeluaran agregat terdiri dari dua bagian, yaitu pengeluaran yang bersifat otonom (autonomous) dan pengeluaran yang sifatnya terpengaruh (induced). Pengeluaran agregat yang otonom jumlahnya tidak dipengaruhi oleh pendapatan nasional. Yang termasuk di dalam pengeluaran yang otonom ini adalah Investasi (I), pengeluaran pemerintah (G) dan ekspor (X). Sedangkan yang dikategorikan ke dalam pengeluaran yang terpengaruh adalah pengeluaran untuk konsumsi (C) dan impor (M). Dilain pihak penawaran agregat adalah penjumlahan antara pengeluaran konsumsi rumah tangga, tabungan, pajak dan transfer, atau:
AS = C + S + T - Tr (2.10)
Keseimbangan perekonomian terbuka akan tercapai jika:
C + I + G + (X – M) = C + S + T – Tr (2.11) Jika C dihilangkan dari kedua sisi, dan M dipindahkan ke kanan,maka rumus keseimbangan menjadi:
I + G + X = S + T + M – Tr (2.12) Keseimbangan pendapatan nasional perekonomian terbuka secara grafis dapat dilihat pada Gambar 2.4.
Gambar 2.4. Keseimbangan Perekonomian Terbuka
Keterangan:
Keseimbangan pendapatan nasional dalam suatu perekonomian terbuka tercapai pada saat C + I + G + (X – M), terjadi pada titik E. Cara lain untuk mencari keseimbangan dalam perekonomian empat sektor ialah pada saat I + G + X = S + T + M – Tr, yang seperti terlihat pada panel bawah juga terjadi pada titik E.
2.3.2. Teori Suku Bunga
Menurut Lipsey, dkk (1995) suku bunga adalah harga yang dibayarkan untuk satuan mata uang yang dipinjam pada periode waktu tertentu. Suku bunga dapat dibedakan menjadi dua yaitu suku bunga nominal dan suku bunga riil. Suku bunga nominal adalah rasio antara jumlah uang yang dibayarkan kembali dengan
E C + I C,I,G, (X-M) C + I + G + (X – M) C = a + bY C + I + G + (X – M) a 0 Y* Y 0 Y* Y I,G,X ,dan S,T,M S + T +M - Tr I + G + X
jumlah uang yang dipinjam. Sedangkan suku bunga riil merupakan rasio daya beli uang yang dibayarkan kembali terhadap daya beli uang yang dipinjam. Suku bunga riil adalah selisih antara suku bunga nominal dengan laju inflasi.
Menurut Mankiw (2006), suku bunga terbagi menjadi 2 bagian, yaitu suku bunga nominal dan suku riil. Suku bunga nominal merupakan suku bunga yang dibayarkan oleh bank, sedangkan suku bunga riil merupakan kenaikan dalam daya beli masyarakat. Efek Fisher menyatakan i adalah suku bunga nominal, dan r
adalah suku bunga riil serta adalah ekspektasi inflasi, maka hubungan ketiga variabel ini dapat ditulis sebagai berikut:
i = r + (2.13)
Pada persamaan 2.13 terlihat bahwa suku bunga nominal merupakan penjumlahan dari suku bunga riil dan ekspektasi inflasi. Hal ini menunjukkan bahwa suku bunga dapat berubah karena dua alasan yaitu suku bunga riil yang berubah atau ekspektasi inflasi yang berubah.
Suku Bunga Internasional (LIBOR)
LIBOR (London Interbank Offered Rate) adalah suku bunga pinjaman antar bank yang diberlakukan oleh bank-bank London dan digunakan sebagai landasan untuk suku bunga bank di seluruh dunia sebagai suku bunga internasional. Edward dan Khan (1985) dalam Kinantiarin, mengatakan bahwa suku bunga ditentukan oleh dua faktor yaitu internal dan eksternal. Faktor internal meliputi pendapatan nasional, ekspektasi inflasi, dan jumlah uang beredar. Sedangkan faktor eksternalnya adalah penjumlahan suku bunga luar negeri dan tingkat ekspektasi perubahan nilai tukar valuta asing.
Keseimbangan pasar uang melibatkan unsur utamanya, yaitu permintaan dan penawaran uang. Bila mekanisme pasar dapat berjalan tanpa hambatan maka pada prinsipnya keseimbangan di pasar uang dapat terjadi, dan merupakan wujud kekuatan tarik menarik antara permintaan dan penawaran uang. Apabila suku bunga domestik lebih besar dari suku bunga internasional, maka aliran modal akan masuk ke dalam negeri. Capital inflow menyebabkan penawaran akan mata uang asing meningkat sehingga nilai mata uang asing tersebut terdepresiasi dan nilai mata uang domestik terapresiasi. Harga domestik lebih mahal dibandingkan
harga luar negeri dan menyebabkan impor lebih besar dari pada ekspor dan akan meningkatkan defisit neraca transaksi berjalan yang juga akan meningkatkan utang luar negeri. Begitu juga sebaliknya, apabila suku bunga dalam negeri lebih kecil dibanding suku bunga internasional maka terjadi capital outflow yang menyebabkan mata uang domestik terdepresiasi dan akan meningkatkan ekspor serta mengurangi utang luar negeri (perhatikan gambar 2.5).
John Maynard Keyness mengkritik teori ekonomi klasik tentang pengembangan teori suku bunga. Menurut Keyness, teori klasik berlaku hanya untuk bunga jangka panjang. la mengembangkan teori preferensi likuiditas ini untuk menjelaskan suku bunga untuk jangka pendek. Suku bunga menurut Keyness adalah harga yang di keluarkan debitur untuk mendorong seorang kreditur memindahkan sumber daya langka (uang) mereka, akan tetapi, uang yang dikeluarkan debitur mempunyai kemungkinan adanya kerugian berupa risiko tidak diterimanya tingkat bunga tertentu. Dalam teori ini terdapat dua macam investasi yang dapat dikembangkan, yaitu uang dan obligasi. Keyness mengatakan bahwa, peningkatan permintaan terhadap uang akan menaikkan suku bunga.
(a) Pandangan Klasik
r1 r0 r2 0 Suku bunga Jumlah Investasi I0 I2 I1 E2 E Sm S‟m E1 Dm D‟m
(b) Pandangan Keynes
Sumber: Sukirno (1985)
Gambar 2.5. Pandangan Mengenai Penentang Suku Bunga 2.3.3. Teori GDP
Produk Domestik Bruto (Gross Domestic Produk, GDP), merupakan pendapatan total dan pengeluaran total nasional atas output barang dan jasa (Mankiw, 2006). GDP sering dianggap sebagai ukuran terbaik untuk mengukur kinerja perekonomian, tujuannya adalah meringkas aktivitas ekonomi dalam suatu nilai uang tertentu selama periode waktu tertentu. Dalam suatu perekonomian yang hanya memproduksi satu jenis barang, GDP dapat dihitung dengan cara yang sederhana yaitu dengan menambahkan pengeluaran total atas barang tersebut. Namun, dalam perekonomian yang lebih kompleks, GDP diartikan sebagai nilai pasar semua barang dan jasa akhir yang diproduksi dalam perekonomian selama kurun waktu tertentu.
GDP terdiri dari GDP nominal dan GDP riil. GDP nominal dihitung dengan cara menjumlahkan nilai dari seluruh barang yang diproduksi yaitu harga dikali jumlah barang. Ukuran ini tidak dapat mecerminkan sejauh mana perekonomian bisa memenuhi permintaan rumah tangga, perusahaan dan pemerintah. Jika seluruh harga digandakan tanpa ada perubahan dalam jumlah, maka GDP akan berlipat ganda. GDP yang berlipat ganda ini bukan berarti bahwa perekonomian telah berhasil memuaskan permintaan konsumen secara berlipat ganda. Karena ukuran perekonomian melalui GDP nominal bukanlah ukuran terbaik, maka digunakanlah GDP riil yang merupakan ukuran kemakmuran
Suku bunga M0 M1 r1 r0 LP Jumlah uang
ekonomi yang lebih baik dalam menghitung output barang dan jasa dalam perekonomian dan tidak akan dipengaruhi oleh perubahan harga. Penghitungan GDP riil menggunakan harga konstan dan menunjukkan apa yang akan terjadi terhadap pengeluaran atas output jika jumlah berubah tetapi harga tidak. GDP yang digunakan untuk mencerminkan apa yang sedang terjadi pada seluruh tingkat harga dalam perekonomian disebut GDP deflator. GDP deflator juga disebut dengan deflator harga implisit untuk GDP dan didefinisikan sebagai rasio GDP nominal terhadap GDP riil.
Ukuran Rantai Tertimbang GDP Riil
Penghitungan GDP riil menggunakan harga yang tidak pernah berubah atau konstan. Penggunaan harga yang sama dari tahun ke tahun menunjukkan bahwa harga tidak mengalami kenaikan atau penurunan dan tidak mengikuti perkembangan zaman. Misalnya harga mobil turun secara signifikan, sementara uang perkuliahan naik dari tahun ke tahun. Ketika menilai produksi mobil dan pendidikan tidak tepat apabila kita menggunakan harga yang diberlakukan sepuluh tahun lalu. Oleh karena itu, Biro Analisis Ekonomi memperbaharui harga secara periodik untuk menghitung GDP riil, yaitu setiap lima tahun. Harga-harga itu dipertahankan untuk mengukur perubahan dalam produksi barang dan jasa dari tahun ke tahun sampai tahun dasar diperbaharui lagi
Pada tahun 1995, Biro Analisis Ekonomi mengumumkan kebijakan baru yang terkait dengan perubahan tahun dasar. Kebijakan baru tersebut adalah ukuran rantai-tertimbang GDP riil. Ukuran ini akan memperbaharui tahun dasar secara terus-menerus. Tingkat pertumbuhan tahun ke tahun yang berbeda-beda kemudian disatukan oleh rantai tertimbang yang bisa digunakan untuk membandingkan output barang dan jasa diantara dua waktu. Ukuran ini dinilai jauh lebih baik daripada ukuran sebelumnya, karena harga yang digunakan untuk menghitung GDP riil tidak of date.
2.3.4. Teori Nilai Tukar (Kurs) 2.3.4.1.Pengertian Nilai Tukar (Kurs)
Nilai tukar adalah harga relatif mata uang suatu negara terhadap mata uang negara lain. Pembayaran internasional yang memerlukan pertukaran mata uang satu negara menjadi mata uang negara lain dapat dilakukan dengan berbagai cara meskipun pada hakikatnya hanya menyangkut pertukaran mata uang antar masyarakat yang memiliki satu jenis mata uang dan membutuhkan jenis mata uang lainnya. Nilai tukar (exchange rate) satu mata uang terhadap lainnya merupakan bagian dari proses valuta asing. Valuta asing mengacu pada mata uang asing aktual atau berbagai klaim atasnya, seperti deposito bank atau surat sanggup bayar yang diperdagangkan. Nilai tukar valuta asing merupakan harga di mana pembelian dan penjualan valuta asing berlangsung; nilai tukar merupakan jumlah mata uang dalam negeri yang harus dibayarkan untuk memperoleh satu unit mata uang asing (Lipsey, 1995).
Nilai tukar terdiri dari dua aspek, yaitu nominal dan riil. Nilai tukar nominal adalah harga relatif dari mata uang dua negara. Sedangkan, nilai tukar riil merupakan harga relatif dari barang-barang kedua negara. Kurs dapat diperoleh melalui perkalian antara kurs nominal dengan rasio tingkat harga. Rasio tingkat harga merupakan perbandingan antara harga barang domestik dan harga barang di luar negeri (Mankiw, 2006).
Kurs Riil = Kurs Nominal x Rasio Tingkat Harga
Є = е x (P/P*)
2.3.4.2.Sistem Nilai Tukar
Sistem nilai tukar internasional yang dianut oleh beberapa negara di dunia, antara lain; sistem nilai tukar tetap dan sistem nilai tukar fleksibel. Sistem nilai tukar tetap merupakan sistem nilai tukar yang bersifat tetap pada nominal tertentu. Contohnya adalah sistem standar emas dan sistem Bretton Woods. Sedangkan, sistem nilai tukar fleksibel itu berfluktuasi dengan bebas dan ditentukan oleh keseimbangan penawaran dan permintaan pasar, tanpa ada intervensi dari pemerintah. Selain kedua macam sistem nilai tukar yang murni, terdapat sistem nilai tukar campuran yaitu sistem nilai tukar dengan sistem patok yang masih bisa
diubah (adjustable peg) dan sistem mengambang terkendali (managed float). Dalam sistem adjustable peg, pemerintah menentukan nilai pari dari nilai tukarnya. Dalam sistem managed float, bank sentral berusaha berperan sebagai stabilisator atas nilai tukar, namun tidak menetapkan nilai parinya.
Terdapat dua sistem nilai tukar yang diterapkan di Indonesia, diantaranya: 1) Sistem Nilai Tukar Tetap
Pada sistem nilai tukar tetap, bank sentral melakukan intervensi pada bursa valuta asing untuk mencegah penyimpangan nilai tukar dari nilai nominal yang telah ditetapkan (Lipsey, 1995). Dengan mematokkan nilai mata uangnya terhadap mata uang negara tertentu, setiap bank sentral suatu negara harus mengatur dan menjaga nilai tukar yang dipilih agar dipertahankan tetap. Dalam sistem ini, terdapat permasalahan yaitu adanya ketidakseimbangan antara permintaan dan penawaran, karena penjualan dan pembelian valuta asing yang dilakukan oleh pemerintah. Permasalahan jangka pendek dari ketidakseimbangan ini dapat diatasi dengan cara memasuki pasar dan membeli serta menjual sebanyak yang diperlukan.
Apabila permintaan atas mata uang suatu negara meningkat, maka dapat terjadi apresiasi mata uang. Namun, dalam sistem nilai tukar tetap, harga mata uang tidak boleh naik atau turun. Oleh karena itu, pemerintah harus mempertahankan nilai mata uangnya agar tidak terjadi apresiasi dengan cara membeli mata uang asing dan menjual mata uangnya sendiri. Tindakan ini akan menambah cadangan valuta asingnya. Begitu juga sebaliknya, apabila permintaan atas mata uang suatu negara rendah, maka dapat terjadi depresiasi. Oleh karena itu, pemerintah harus memertahankan nilai mata uangnya agar tidak terjadi depresiasi dengan cara menjual mata uang asing dan membeli mata uangnya sendiri. Tindakan ini akan mengurangi cadangan valuta asingnya. Namun, apabila permasalahan ketidakseimbangan terjadi dalam jangka panjang, maka akan sulit untuk mempertahankan nilai patokannya, yaitu nilai parinya.
2) Sistem Nilai Tukar Fleksibel
Sistem nilai tukar fleksibel ditentukan oleh permintaan dan penawaran mata uang suatu negara tanpa ada intervensi dari pemerintah. Sistem ini sering dinamakan dengan sistem nilai tukar bebas atau sistem nilai tukar mengambang.
Negara yang menganut sistem nilai tukar ini akan mengalami fluktuasi nilai mata uang yang jauh lebih besar dan akan memengaruhi kondisi makroekonomi negara tersebut. Dampak yang ditimbulkan dari fluktuasi ini dapat membuat ketidakpastian dalam kegiatan perdagangan.
Harga valuta asing (nilai tukar) yang meningkat disebut depresiasi atas mata uang dalam negeri. Mata uang asing menjadi lebih mahal dan nilai relatif mata uang dalam negeri menurun. Sebaliknya, turunnya harga valuta asing (nilai tukar) disebut apresiasi mata uang dalam negeri. Mata uang asing lebih murah dan harga relatif mata uang domestik meningkat. Misalnya, apabila nilai dolar terhadap rupiah naik dari 7.000 Rupiah menjadi 7.500 Rupiah (dalam arti lain, nilai Rupiah terhadap Dolar menurun dari 0,0001429 US$ menjadi 0,0001333 US$), dikatakan bahwa Rupiah terdepresiasi dan Dolar mengalami apresiasi.