FEVD IRF
IV. HASIL DAN PEMBAHASAN
4.6. Hasil Estimasi VECM
Variabel yang tidak stasioner pada tingkat level tetap dapat dilakukan estimasi VECM jika terdapat minimal satu persamaan yang terkointegrasi. Estimasi VECM ini dilakukan untuk menghindari kehilangan informasi jangka panjang akibat variabel yang tidak stasioner. VECM menunjukkan hubungan keseimbangan jangka pendek dan jangka panjang antara liberalisasi perdagangan terhadap beban utang luar negeri Indonesia. Variabel dependennya adalah utang luar negeri Indonesia (FD), sedangkan variabel independennya adalah TRADE, LIBOR, RER, dan GDP.
Tabel 4.7. Hasil Estimasi VECM Jangka Pendek
Jangka Pendek
Variabel Koefisien T-statistik
CointEq1 -0.503678 2.57344* D(FD(-1)) 0.518870 2.52143* D(GDP(-1)) 0.015223 0.02699 D(RER(-1)) -0.077375 0.34103 D(TRADE(-1)) -0.000233 0.8089 D(LIBOR(-1)) -0.004184 0.43927 C -0.014511 2.66468
Sumber: Lampiran 6, data diolah Keterangan: * signifikan pada α = 5%
Hasil estimasi VECM dalam jangka pendek menunjukkan bahwa hanya terdapat satu variabel yang berpengaruh signifikan terhadap utang luar negeri Indonesia, yaitu variabel utang luar negeri (FD) lag pertama. Sedangkan variabel lain yaitu GDP lag pertama, RER lag pertama, TRADE lag pertama, dan LIBOR
lag pertama tidak mempunyai pengaruh yang signifikan terhadap utang luar negeri Indonesia dalam jangka pendek. Hasil signifikansi tersebut dilihat dari nilai |T-statistik| yang harus lebih besar dari dua. Selain itu dengan nilai kointegrasi kesalahan yang signifikan dan bernilai negatif sebesar -0,50 persen maka dinyatakan bahwa terbukti adanya mekanisme penyesuaian dari jangka pendek ke jangka panjang.
FD lag pertama berpengaruh signifikan terhadap FD itu sendiri pada taraf nyata lima persen secara positif sebesar 0,518870, artinya jika utang luar negeri Indonesia lag pertama mengalami peningkatan sebesar satu persen maka utang luar negeri Indonesia saat ini akan mengalami peningkatan sebesar 0,518870 persen. Utang luar negeri periode sebelumnya yang meningkat menyebabkan utang luar negeri saat ini juga mengalami peningkatan, hal ini disebabkan oleh jumlah utang luar negeri yang semakin terakumulasi ditambah dengan beban bunga utang yang harus dibayar. Dengan demikian apabila pemerintah Indonesia terus melakukan pinjaman dari luar negeri maka akan berdampak pada peningkatan jumlah utang luar negeri Indonesia untuk periode selanjutnya.
Peningkatan akumulasi utang luar negeri Indonesia disebabkan oleh manajemen pengelolaan utang luar negeri Indonesia yang kurang baik. Menurut Harinowo (2004), jika dilihat asalnya, utang pemerintah Indonesia tidak hanya dari utang luar negeri tapi juga merupakan campuran antara utang luar negeri dan domestik. Oleh karena itu, pengelolaan utang harus mempertimbangkan berbagai variabel makro dan internasional seperti tingkat bunga, nilai tukar dan inflasi. Berdasarkan kajian direktorat internasional BI 2009, pengelolaan utang yang tidak tepat dapat berisiko meningkatkan biaya atas perekonomian. Para investor cenderung akan menetapkan risk premium sebagai biaya tambahan atas ketidakpastian dalam kerangka kerja kebijakan pemerintah dan kondisi ekonomi.
Dengan demikian, pengelolaan utang pemerintah secara tidak tepat akan dapat meningkatkan risk premium pinjaman luar negeri pemerintah. Peningkatan risk
premium dapat dilihat dari pandangan negatif investor yang pada akhirnya dapat mengakibatkan instabilitas pasar keuangan domestik dan meningkatkan kerentanan terhadap gangguan sektor keuangan.
Kebijakan pengelolaan utang tidak hanya mencakup masalah pinjaman dan alokasi. Dalam pemanfaatan sumber pembiayaan negara, perlu memperhatikan aspek-aspek manajemen risiko dan analisa biaya dengan baik. Hal ini berkaitan dengan perbedaan karakteristik yang dimiliki oleh setiap negara debitur. Minimalisasi biaya dapat dilakukan dengan cara penggunaan instrumen dan teknik penjualan yang inovatif. Sedangkan untuk mencapai tingkat risiko yang aman, manajemen risiko yang bersifat prudensial juga dirasakan penting sekali bagi pengelola utang (debt manager).
Portofolio utang pemerintah umumnya merupakan portofolio keuangan terbesar di suatu negara dengan struktur keuangan dan risiko yang kompleks dan berisiko yang dapat menimbulkan risiko substansial terhadap balance sheet milik pemerintah dan stabilitas keuangan Negara. Di samping itu, menurut IMF dan World Bank 2003, portofolio utang pemerintah juga rentan terhadap kemungkinan gagal bayar dan besarnya kerugian yang mungkin akan ditanggung pemerintah sehingga menyebabkan akumulasi utang luar negeri yang semakin meningkat.
Tabel 4.8. Hasil Estimasi VECM Jangka Panjang
Jangka Panjang
Variabel Koefisien T-statistik
GDP(-1) 2.997716 23.7031*
RER(-1) 1.14683 9.84002*
TRADE(-1) -0.012415 3.94912*
LIBOR(-1) -0.005226 0.97889
Sumber: Lampiran 6, data diolah Keterangan: * signifikan pada α = 5%
Hasil estimasi model VECM pada persamaan jangka panjang menunjukkan bahwa terdapat tiga variabel yang signifikan yaitu Gross Domestic Product (GDP) lag pertama, Real Exchange Rate (RER) lag pertama, dan trade openness (TRADE) lag pertama, sedangkan international interest rate (LIBOR)
lag pertama tidak signifikan pada jangka panjang.
Gross Domestic Product (GDP) lag pertama pada jangka panjang berpengaruh signifikan terhadap utang luar negeri Indonesia (FD) pada tingkat
lima persen secara positif sebesar 2,997716, artinya jika GDP meningkat satu persen maka FD mengalami peningkatan sebesar 2,997716 persen. Hasil estimasi ini sesuai dengan identitas (2.1) dan identitas (2.2), dimana GDP merupakan komponen dari konsumsi, pengeluaran pemerintah, pajak, investasi, tabungan, eskpor dan impor. Setiap kenaikan dari pengeluaran pemerintah (G) dan investasi (I), maka akan menyebabkan terjadinya peningkatan GDP namun berdampak pada defisit anggaran pemerintah serta defisit tabungan dan investasi yang tinggi dan menyebabkan utang luar negeri Indonesia juga meningkat sesuai dengan identitas (2.5) sebagai berikut:
Dt = ( I – S)t + (G – T)t +DSt – NFLt + Rt + NOLt (2.5) Identitas (2.5) ini menunjukkan bahwa selain untuk membiayai defisit transaksi berjalan, utang luar negeri juga dibutuhkan untuk membiayai defisit anggaran pemerintah, serta kesenjangan tabungan dan investasi. Dengan demikian, apabila G dan I meningkat akan meningkatkan GDP dan juga akan meningkatkan utang luar negeri Indonesia.
Real Exchange Rate (RER) lag pertama pada jangka panjang berpengaruh signifikan terhadap utang luar negeri Indonesia (FD) pada tingkat lima persen secara positif sebesar 1,14683, artinya jika RER meningkat satu persen maka FD mengalami peningkatan sebesar 1,14683 persen. Teori ekonomi menyatakan bahwa apabila terjadi depresiasi mata uang Rupiah terhadap Dollar AS maka akan berdampak pada peningkatan jumlah Rupiah yang harus dikeluarkan untuk membayar setiap Dolar utang luar negeri Indonesia. Hal ini menyebabkan jumlah utang luar negeri Indonesia semakin meningkat, begitu juga sebaliknya. Namun, fakta menunjukkan bahwa jumlah utang luar negeri Indonesia selalu meningkat setiap tahunnya baik pada saat Rupiah terdepresiasi atau terapresiasi. Hal ini dikarenakan pemerintah lebih berorientasi pada defisit anggaran yang harus dibiayai oleh utang luar negeri, sehingga jumlah utang luar negeri Indonesia selalu meningkat.
Trade openness (TRADE) lag pertama pada jangka panjang berpengaruh signifikan terhadap utang luar negeri Indonesia (FD) pada tingkat lima persen secara negatif sebesar 0,012415, artinya jika TRADE meningkat satu persen maka FD akan menurun sebesar 0,012415 persen. Liberalisasi perdagangan mempunyai
hubungan yang negatif terhadap beban utang luar negeri, yaitu apabila terjadi peningkatan liberalisasi perdagangan maka akan terjadi penurunan utang luar negeri Indonesia. Hal ini dikarenakan liberalisasi perdagangan akan meningkatkan kegiatan ekspor dan impor dimana suatu negara dapat dengan bebas melakukan kegiatan ekspor ke negara lain tanpa ada hambatan tarif maupun non tarif dan akan meningkatkan devisa suatu negara .
Menurut Auboin (2004), liberalisasi perdagangan dapat meningkatkan alokasi sumber daya pada tingkat nasional dan internasional, dan dapat meningkatkan ketahanan terhadap guncangan eksternal. Apabila liberalisasi perdagangan memerhatikan kebutuhan khusus negara berkembang, mereka juga bisa mendapatkan keuntungan dari liberalisasi perdagangan tersebut. Namun, apabila Indonesia belum mempunyai daya saing terhadap barang dan jasa asing yang masuk ke pasar domestik, liberalisasi perdagangan justru membuat pasar dalam negeri melimpah akan produk impor dari negara lain dan hal ini akan menurunkan net eskpor dan meningkatkan utang luar negeri Indonesia.
Variabel international interest rate (LIBOR) lag pertama pada jangka panjang berpengaruh tidak signifikan terhadap utang luar negeri Indonesia (FD) pada tingkat lima persen secara negatif sebesar 0,005226, artinya jika LIBOR meningkat satu persen maka FD akan menurun sebesar 0,012415 persen. Suku bunga internasional yang mengalami peningkatan menyebabkan Indonesia mengurangi jumlah utang luar negerinya. Hal ini disebabkan karena suku bunga yang tinggi akan membebankan pemerintah Indonesia atas modal yang dipinjam dari luar negeri yang harus dikembalikan dengan jumlah yang lebih tinggi seiring dengan peningkatan suku bunga, sehingga mengurangi keinginan pemerintah Indonesia untuk melakukan pinjaman dari luar negeri.