• Tidak ada hasil yang ditemukan

EASY OR NOT EASY? P Ari Subagyo

Dalam dokumen PROSES KREATIF PENULISAN DAN PEMANGGUNGA (Halaman 34-46)

panduan, terutama untuk menulis esai. Pembahasan mencakup perihal (1) hakikat menulis, (2) pentingnya latihan dan praktik, (3) pengertian dan ciri-ciri esai, dan (4) tahap-tahap menulis.

Hakikat Menulis

Menulis merupakan salah satu dari empat keterampilan berbahasa di samping berbicara, menyimak, dan membaca. Me- nulis termasuk keterampilan berbahasa yang bersifat aktif- produktif, tertulis, dan tidak langsung. Menulis dan tiga keterampilan berbahasa lainnya itu saling berkaitan. Keterampilan yang satu dapat memengaruhi keterampilan yang lain. Suparno dan Mohamad Yunus (Keterampilan Dasar Menulis, 2011:1.6) menggambarkan saling hubungan empat keterampilan berbahasa tersebut dalam tabel berikut ini:

Keterampilan Berbahasa Lisan dan Langsung Tertulis dan Tidak Langsung Aktif Reseptif (menerima pesan) Menyimak Membaca Aktif Produktif (menyampaikan pesan) Berbicara Menulis

Menulis dikatakan aktif-produktif karena menulis bersifat menyampaikan pesan. Adapun menulis dikatakan tertulis dan

tidak langsung karena komunikasi terjadi secara tertulis (dengan tulisan) dan tidak langsung (penulis dan pembaca tidak berhadap- hadapan langsung, tetapi terpisahkan oleh ruang dan waktu).

Menulis kait-mengait dengan tiga keterampilan berbahasa yang lain. Menyimak dapat menopang keterampilan menulis, misalnya ketika penulis memerlukan informasi dari sumber-sum- ber lisan (tak tercetak), seperti radio, televisi, ceramah, pidato, diskusi, debat, wawancara, ataupun obrolan. Menulis berkaitan dengan membaca sebab seseorang yang membaca tidak hanya memeroleh informasi dari sumber-sumber tertulis (buku, artikel, makalah, dan sebagainya), tetapi ia juga bisa belajar memilih topik, mengemukakan ide, menata gagasan, memilih dan meng-

gunakan gaya penulisan, dan sebagainya, dari tulisan-tulisan yang dibacanya. Menulis berhubungan dengan berbicara sebab keduanya sama-sama keterampilan aktif produktif. Keterampilan menulis dan berbicara menuntut kemampuan memilih topik, me- nentukan tujuan dan sasaran, mencari data dan informasi, me- nerapkan cara penyampaian, dan memilih corak teks yang sesuai (narasi, deskripsi, eksposisi, argumentasi, atau persuasi).

Hal penting yang juga harus disadari adalah bahwa menulis merupakan kegiatan mengemukakan pemikiran. Artinya, me- nulis hanya dapat dilakukan dengan berpikir. Menulis adalah berpikir. Otaklah yang lebih banyak bekerja daripada tangan dan bagian tubuh lainnya. Tangan dan bagian tubuh yang lain lebih mengerjakan hal-hal teknis, dan otaklah konseptor utama- nya. Maka, menulis menuntut ketenangan, konsentrasi, dan mood

(perasaan tanpa beban) supaya otak dapat bekerja tanpa ganggu- an. Tempat dan suasana menjadi faktor pendukung utama.

Namun, tempat dan suasana saja tidaklah cukup. Jika sese- orang sedang tidak tenang, pikiran kacau, atau perasaan gerah dan gundah, bisa dipastikan ia tidak mampu menulis. Tentu saja minat, hasrat, atau gairah juga harus bernyala dalam diri sese- orang. Tanpa adanya minat, hasrat, dan gairah, akan sia-sialah gagasan atau pemikiran yang telah tumbuh dalam benak kita. Tulisan pun tidak pernah akan terwujud.

Pentingnya Latihan dan Praktik

Arswendo menekankan pentingnya latihan. Agar terampil menulis, kita memang harus banyak berlatih. Resep keberhasilan menulis sebenarnya sederhana, yaitu 3L: latihan, latihan, dan

latihan. Semakin banyak minum “vitamin 3L”, semakin cepat dan gampang kita menulis. Tidak ada cara lain. Di dalamnya termasuk jatuh-bangun dan berkucur peluh karena proses trial

and error: terus-menerus mencoba dan mencoba demi mengatasi

kesalahan. Salah tidak apa-apa, sebab itu menjadi bagian yang wajar dan tak terpisahkan dari proses belajar.

Andrias Harefa, seorang penulis beken buku-buku motivasi, juga menekankan pentingnya latihan dengan istilah praktik. Le- wat buku Agar Menulis/Mengarang Bisa Gampang (Gramedia Pus- taka Utama, 2002), ia menyebut perlunya keyakinan dan sikap dasar (beliefs and basic attitude) bahwa bagi kita pun bisa menulis- mengarang dengan gampang. Di atas bangunan keyakinan dan sikap dasar itu, kita perlu menambahkan secara bertahap dan kontinyu pengetahuan dan wawasan di seputar tulis-menulis maupun ide-ide pokok sesuai dengan minat dan ambisi kita ma- sing-masing. Selebihnya adalah praktik, praktik, dan praktik.

Menurut Andrias Harefa, belajar menulis harus didasari “kesadaran atas suatu ketidakmampuan” (conscious-incompetent), dalam hal ini kita sadar bahwa kita tidak mampu menulis. Keti- dakmampuan wajib disadari dan diakui dengan jujur dan rendah hati. Namun, dengan terus berpraktik, kita akan berkembang menuju tahap “sadar bahwa kita mampu” (conscious-competent). Ketidakmampuan kita ubah menjadi kemampuan. Jika tidak lelah berpraktik, akhirnya kita akan mencapai tahap “tak sadar tapi kompeten” (unconscious-competent). Pada tahap inilah kita akan mengalami (bukan sekadar mengetahui) bahwa menulis dan me- ngarang memang gampang. Inilah tahap seseorang menjadi pe- nulis profesional: menulis dan mengarang segampang mengge- rakkan kaki dan tangan.

Satu hal yang sangat tidak diharapkan oleh Andrias Harefa adalah kita berada pada keadaan “tidak sadar bahwa kita tidak/ belum mampu” (unconscious-incompetent). Mengapa? Karena ke- adaan itu membuat kita tidak bisa dan tidak pernah belajar. Kita tidak tahu kelemahan atau keterbatasan diri sendiri. Atau kita malas dan takut mengetahui kelemahan dan keterbatasan itu sehingga kita tidak mampu mengembangkan diri dalam segi apa pun, termasuk dalam menulis.

Pengertian dan Ciri-ciri Esai

Esai merupakan naturalisasi (penulisan dengan tata tulis bahasa Indonesia) kata bahasa Inggris essay. Pengertian esai me- nurut Longman Dictionary of Contemporary English (2001:464) adalah “a short piece of writing giving someone’s ideas about politics,

society, etc.”. Esai merupakan jenis tulisan untuk mengemukakan

gagasan tentang persoalan sosial, politik, dan sebagainya. Ada- pun menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (2008:381), esai adalah “karangan yang membahas suatu masalah secara sepintas-lalu dari sudut pandang pribadi penulisnya”.

Esai memiliki tiga ciri. Pertama, esai berdasarkan masalah, peristiwa, atau keadaan yang faktual dan aktual terjadi dalam masyarakat. Jadi, esai bukan tulisan fiktif (rekaan). Esai memang bisa berupa harapan imajinatif, tetapi tetap berdasarkan fakta aktual yang secara eksplisit (tersurat) dikemukakan dalam esai. Kedua, esai bercorak argumentatif. Maksudnya, esai ditulis dengan tujuan untuk mengemukakan opini (pendapat, usulan, rekomendasi, kritik, atau sikap verbal) secara argumentatif se- hingga mampu memengaruhi pikiran dan sikap pembaca. Untuk memperkuat argumentasi, diperlukan data, teori, pendapat ahli, dan/atau analisis yang bernalar (logis). Ketiga, esai bersifat il- miah popular. Di satu sisi, esai berciri ilmiah sehingga cara ber- pikir dan penulisannya mematuhi kaidah-kaidah ilmiah. Di sisi lain, esai ditujukan untuk pembaca umum, tidak terbatas pada kalangan keilmuan tertentu. Oleh sebab itu, pembahasaannya (pilihan kata, pengalimatan, dan sebagainya) diupayakan mudah dipahami masyarakat umum (popular). Ciri terakhir ini berkaitan dengan media pemuatan esai, yakni surat kabar umum (harian atau majalah) atau buku popular.

Tahap-tahap Menulis Esai

Selain sebagai “kerja otak”, menulis — termasuk menulis esai — pun merupakan sebuah proses. Sebagai sebuah proses, menulis berisi serangkaian kegiatan yang dapat diibaratkan

sebagai membangun rumah. Membangun sebuah rumah memer- lukan tahap-tahap yang tertata rapi. Misalnya, merancang bangunan, memilih corak arsitekturnya, membeli bahan-bahan yang sesuai, membuat pondasi, merangkai kerangka, menembok dan menempatkan kusen, memasang atap, merangkai jaringan listrik, menyemen tembok, memasang ubin lantai, mengecat, dan sebagainya. Menulis perjalanan juga demikian. Ada tiga fase yang perlu dilewati, yaitu tahap prapenulisan, penulisan, dan pasca- penulisan.

Tahap Prapenulisan

Tahap prapenulisan merupakan fase persiapan sebelum seseorang menulis. Sebagaimana kegiatan lain apa pun juga, menulis pun perlu persiapan. Persiapan yang baik menjamin 50% keberhasilan. Persiapan yang mantap akan membuat tulisan yang dihasilkan juga mantap. Tahap prapenulisan meliputi, pertama, pemilihan/penentuan topik (pokok pembicaraan). Topik dika- takan baik jika (i) problematis atau bermasalah, (ii) cakupannya pas, dalam arti tidak terlalu luas dan tidak terlalu sempit, (iii)

feasible atau layak ditulis, baik dalam kaitannya dengan kepen-

tingan bersama maupun ketertiban umum (tidak bersifat SARA), serta (iv) relatif dikuasai oleh penulis. Topik esai dapat dipilih/ ditentukan berdasarkan kalendarium rutin tahunan (1 Januari sampai dengan 31 Desember, tingkat lokal, nasional, regional, hingga internasional), agenda atau momen insidental (tingkat lokal hingga internasional), dan isu-isu aktual yang sedang men- jadi perhatian masyarakat.

Kedua, perumusan masalah. Esai hanya dapat ditulis karena

adanya masalah (problem based). Namun, tidak setiap masalah layak untuk ditulis. Yang layak diangkat menjadi esai hanya masalah-masalah yang menyangkut keperluan hidup orang ba- nyak. Masyarakat perlu lebih memahami masalah itu agar tidak- timbul kebingungan yang luas. Sangat mungkin, lewat esai, penu- lis menawarkan kemungkinan jalan keluar atau solusi sehingga

masyarakat terbebas dari persoalan yang lebih besar. Sangat mungkin, sebuah persoalan tidak pernah disadari oleh masyara- kat atau khalayak umum, maka kejelian menemukan masalah dan mengemukakannya kepada khalayak, apalagi disertai jalan keluar atau solusi, seyogianya menjadi naluri seorang penulis esai. Agar lebih jelas bagi pembaca maupun penulisnya sendiri, masalah seyogianya dirumuskan dalam bentuk kalimat tanya. Jumlah masalah harus disesuaikan dengan panjang esai yang akan dibuat.

Ketiga, penentuan tujuan. Menulis merupakan kegiatan yang

berorientasi pada tujuan (goal-oriented activity). Seorang penulis memiliki tujuan tertentu sehingga ia menulis esai kepada masya- rakat pembaca. Tujuan itu membentang dari mulai sekadar mengulas atau mengurai suatu persoalan, menolak atau meng- kritik sebuah kebijakan, hingga mengusulkan kebijakan atau jalan keluar yang lebih baik. Berkaitan dengan tujuan ini, penulis esai potensial berperan sebagai opinion leader. Ia mencerahkan, me- mandu, dan memimpin masyarakat dengan pendapat-pendapat yang ditulisnya. Bisa juga ia menyentil atau mengingatkan para pejabat agar berbuat bijak bagi masyarakat.

Keempat, penyusunan rancangan atau kerangka karangan.

Langkah ini penting tidak hanya bagi penulis pemula, tetapi juga penulis yang sudah profesional sekalipun. Pada prinsipnya, rancangan/kerangka karangan merupakan sekumpulan pokok- pokok pikiran yang terkait dengan topik dan permasalahan. Po- kok-pokok pikiran itu tidak sekadar didaftar atau diinventaris, tetapi diurutkan dari awal (bagian pembuka), tengah (bagian pembahasan), hingga akhir (bagian penutup). Pokok-pokok itu dapat ditulis dengan model kata/frasa pokok atau model kalimat pokok. Rancangan/kerangka karangan memiliki fungsi praktis bagi penulis, yaitu menjadi pola untuk dikembangkan menjadi karangan utuh, ibarat kerangka bangunan yang diisi batu-bata dan/atau bahan-bahan lain oleh para tukang.

Kelima, pencarian bahan-bahan rujukan. “Rujukan” ialah berbagai data, informasi, teori, pendapat ahli, dan sebagainya untuk dasar atau penguat argumentasi. Selain itu, adanya rujukan sekaligus juga menunjukkan ciri ilmiah sebuah esai. Namun, karena esai tergolong karangan ilmiah popular, tata cara penu- lisan rujukan tidak seketat dalam karangan ilmiah “murni”. Sebagai contoh, esai tidak menuntut adanya daftar pustaka (bi- bliografi) maka nama pengarang dan judul buku rujukan disatu- kan dalam teks (seperti dalam artikel ini). Penulis tertentu yang kapasitas kepakarannya telah diakui secara luas, misalnya se- orang prosefor yang sudah lama diakui sebagai esais, kadang tidak dituntut mencantumkan rujukan. Mengapa? Sebab penda- pat/opininya dihargai setara dengan rujukan yang dikemukakan ahli-ahli lain, atau pendapat/opini beserta analisis/kajian sang profesor diakui sebagai rujukan itu sendiri.

Tahap Penulisan

Tahap penulisan merupakan kelanjutan tahap prapenulisan. Tiga kegiatan yang lazim dilakukan dalam tahap ini adalah,

pertama, pengembangan rancangan/kerangka karangan. Telah

dipaparkan dalam Tahap Prapenulisan (catatan keempat), ran- cangan/kerangka karangan ibarat kerangka bangunan yang lalu diisi dengan batu-bata dan/atau bahan-bahan lain. Pokok-pokok pikiran dalam rancangan/kerangka karangan esai juga demikian, yakni dikembangkan dengan “batu-bata” berwujud kalimat-ka- limat yang variatif dan tertata dengan urutan yang tepat. Adapun “bahan-bahan lain” berupa penghubung antar-kalimat serta kata- kata yang dipilih dan ditempatkan secara cermat. Semua unsur itu membentuk paragraf dan karangan utuh yang kohesif (padu makna) dan koheren (padu bentuk).

Kedua, pencarian rujukan tambahan sesuai dengan keperlu-

an. Pada tahap pra-penulisan memang telah dilakukan pencarian rujukan. Namun, bisa jadi rujukan itu masih kurang atau ada ru- jukan baru yang lebih relevan, maka pada tahap penulisan masih terbuka kemungkinan untuk menambahkan rujukan-rujukan yang

sesuai dengan keperluan. Langkah ini ditempuh untuk menambah kekuatan argumentasi dan kadar keilmiahan sebuah esai. Rujukan berupa data, informasi, teori, pendapat ahli, dan sebagainya yang diperoleh dari sumber-sumber buku, artikel jurnal, artikel/berita media massa, laporan penelitian, laporan resmi sebuah instansi, makalah, hasil diskusi, dan opini masyarakat.

Ketiga, pemilihan gaya penulisan. Gaya penulisan ibarat

ornamen pada bangunan yang membuat bangunan indah dipan- dang. Atau, kalau dalam tradisi kuliner, gaya penulisan ibarat “bumbu” dan “cara penyajian” yang membuat masakan nikmat dilihat dan disantap. Gaya penulisan setidaknya berupa pemi- lihan kata, penciptaan variasi kalimat, penggunaan gaya bahasa, dan pembentukan persesuaian bunyi (semacam persajakan) pada bagian-bagian tertentu sehingga esai menjadi enak dibaca. Se- buah esai dikatakan “enak dibaca” jika pembacanya tidak merasa lelah saat membaca, tetapi justru dapat menikmati. Dengan de- mikian, pembaca dapat menangkap isi/pesan dengan mudah dan bahkan memeroleh kenikmatan dan hiburan. Pemilihan gaya pe- nulisan membuat sebuah esai memenuhi kriteria dulce et utile

(menghibur dan memberi manfaat). Berikut ini contoh penulisan yang mengabaikan dan yang menghiraukan gaya penulisan. Con- toh yang menghiraukan gaya penulisan terasa lebih enak dibaca.

No. Mengabaikan Gaya Penulisan Menghiraukan Gaya Penulisan 1 Berawal dari hasutan kata-kata, lalu amarah massa

terbakar. Nalar menjadi kacau, budi hilang. Yang tinggal hanya kemarahan yang bernyala-nyala.

Bermula dari hasutan kata-kata, lalu terbakarlah amarah massa. Nalar menjadi pudar, budi tersungkur mati. Yang tinggal hanya gelegak emosi. 2 Komputer dan internet telah menyebabkan umat

manusia memasuki cyberspace dan cyberculture. Internet menimbulkan lifestyle baru, membuka karier yang tidak terbayangkan sebelumnya, menuntut aturan-aturan yang belum ada sebelumnya, menampilkan persoalan baru, dan menimbulkan perubahan dalam kekuasaan.

Komputer dan internet telah membawa umat manusia memasuki cyberspace (jagat maya) beserta cyberculture (budaya maya). Internet menetaskan lifestyle baru, membuka karier baru, menuntut aturan baru, menampilkan isu-isu baru, dan membentuk dinamika kekuasaan baru.

Tahap Pascapenulisan

Titik terakhir bukanlah tanda penulisan esai berakhir. Masih ada tahap pasca-penulisan. Ada dua kegiatan yang disarankan pada tahap ini.

Pertama, pembacaan ulang seluruh karangan. Pembacaan ulang bermanfaat dalam memeriksa kembali tulisan untuk mene- mukan kekurangan atau kesalahan yang perlu dibenahi. Dalam fase ini, kita sebagai penulis menempatkan diri sebagai pembaca. Kita seolah-olah membaca tulisan orang lain. Kita tidak boleh berorientasi pada diri sendiri; atau asal gagasannya terungkap sebagai karangan, tanpa peduli bagaimana orang lain gampang atau sulit memahaminya. Penulis yang baik justru berorientasi pada orang lain sehingga berusaha sedemikian rupa untuk mem- buat orang lain tertarik dan mudah memahami karangannya. Dengan membaca ulang, kita dapat menilai tulisan kita sendiri secara objektif. Kita mengambil jarak dari tulisan kita, lalu me- nimbangnya apa adanya.

Kedua, penyuntingan (editing) bagian-bagian yang perlu

diperbaiki atau belum pas. Langkah ini merupakan lanjutan se- kaligus konsekuensi dari langkah membaca ulang. Kekurangan dan kesalahan yang telah kita temukan perlu diperbaiki. Langkah ini lazim disebut penyuntingan (editing). Kekurangan atau kesa- lahan itu bisa berupa hanya kesalahan ketik pada satu atau dua huruf sehingga editing-nya sekadar membetulkan sesuai huruf yang semestinya. Namun, kesalahan dapat pula berupa kesalahan konsep atau kesalahan susunan pikiran/gagasan. Jika demikian, kita harus memikirkan kembali konsep yang benar dan menata ulang pikiran/gagasan agar lebih bernalar. Penyuntingan juga merupakan upaya penulis untuk berorientasi pada pembaca. Apalagi jika esai yang kita tulis akan dikirim ke redaksi media massa. Batasan jumlah kata atau halaman mau tidak mau mewa- jibkan kita melakukan editing agar esai kita memenuhi ketentuan yang berlaku di media massa yang akan kita tuju. Bagaimana pun, redaksi surat kabar lebih memilih esai yang tidak banyak kesalahan.

Penutup

Pada akhirnya, menulis esai itu gampang atau sulit? Menulis esai is easy or not easy? Jawabnya tergantung kita masing-masing. Memahami secara teoretis bagaimana menulis esai sangat penting dilakukan. Namun, pengetahuan teoretis saja tidaklah cukup. Kita perlu banyak latihan, latihan, dan latihan. Tidak kalah penting tentu saja semangat dan gairah sehingga latihan terus-menerus tidak membuat kita mudah lelah dan putus asa. Menulis esai dapat dilakukan oleh siapa pun, termasuk kita.

“Membaca (dan atau menulis) merupakan alat pokok untuk hidup lebih baik.” – Mortimer J. Adler, dalam A. Widyamartaya

dan V. Sudiati (2004).

KOMUNIKASI ada sejak manusia ada. Artinya, sejak manu- sia lahir di dunia, dia sudah berkomunikasi dengan lingkungan terdekatnya. Salah satu “bentuk komunikasi” khas bayi adalah menangis atau menggerak-gerakan bagian tubuhnya untuk me- nyampaikan “pesan”. Karena hobinya menangis, maka untuk mengekspresikan kegembiraan atau kesedihannya, boleh jadi dia pilih menangis, selain tentu saja boleh juga tertawa.

Seiring dengan bertambahnya usia, lingkungan yang men- dukung dan teknologi komu-nikasi yang tersedia, manusia mela- kukan komunikasi kepada orang lain secara lebih baik. Komuni- kasi antarindividu dalam bentangan ruang dan waktu yang jauh sekalipun bisa dilakukan dengan baik berkat teknologi. Demikian juga untuk komunikasi massa, ada dukungan sarana prasarana yang memungkinkan untuk itu.

Untuk (ber)komunikasi massa, pada dasarnya dibutuhkan adanya komunikator, komunikan, pesan, media, dan dampak. Komunikator adalah orang yang menyampaikan pesan kepada komunikan, komunikan adalah orang yang menerima pesan dari

MENULIS ESAI ATAU ARTIKEL

Dalam dokumen PROSES KREATIF PENULISAN DAN PEMANGGUNGA (Halaman 34-46)