dan mungkin kurang bisa dipercaya serta kurang bisa dipertang- gungjawabkan secara ilmiah. Karena itu, paparan ini janganlah dianggap sebagai sebuah metode, apalagi sebagai suatu rumusan. Tulisan ini hanya sebagai masukan ringan saja, boleh dipercaya, boleh tidak.
Pentingnya Keaktoran
Hal pertama yang harus disadari, sebuah pembacaan cerpen di depan publik merupakan peristiwa teater. Nuansanya tentu saja berbeda dengan pertunjukkan drama. Tepatnya, pembacaan cerpen adalah peristiwa teater yang bernuansa sastra. Jadi, nuansa sastra inilah yang harus tetap dipertahankan keberadaan- nya, bukannya disingkirkan atau dikorbankan demi suksesnya pertunjukan semata-mata. Seorang pembaca cerpen tidak boleh menggagahi cerpen yang sedang dibacakannya, sehingga hanya penampilan dirinyalah yang menarik, sebaliknya makna cerpen menjadi kabur. Akting memang sangat diperlukan tapi pembaca- an cerpen bukanlah pertunjukkan akting. Sehebat apa pun akting yang dilakukan, semata-mata tujuannya hanyalah untuk mendukung sampainya makna cerpen, bukan untuk mengejar munculnya efek-efek teateral yang tak ada kaitannya dengan makna cerpen. Semua unsur pendukung itu digunakan hanya secukupnya saja, jangan berlebihan dan jangan berkekurangan. Jika berlebihan akan menenggelamkan makna cerpen. Jika berke- kurangan, pertunjukan jadi kurang daya tariknya dan makna cerpen otomatis kurang terkomunikasikan.
Pembacaan cerpen bisa dilakukan secara sendirian atau ber- kelompok. Wawasan mengenai seni panggung mutlak diperlu- kan mengingat pembacaan cerpen sudah menjadi peristiwa pang- gung. Tentu saja wawasan panggung semata tidak cukup jika tidak dilengkapi dengan wawasan sastra yang memadai. Tidak semua orang panggung yang hebat bisa memanggungkan cerpen dengan baik dan tidak semua cerpenis handal bisa mengangkat cerpennya ke panggung dengan baik. Orang panggung memerlu-
kan wawasan sastra dan cerpenis memerlukan wawasan seni panggung. Kita ingat, ada banyak penyair yang mencoba beraksi di atas panggung membacakan sajak-sajaknya, tapi penampilan- nya memilukan hati dan pantas dikasihani. Dia tampak seperti tengah menyembelih harga dirinya sendiri, tentu saja ini gara- gara dia tidak melengkapi dirinya dengan wawasan seni pang- gung sebelum beraksi di atas panggung. Perihal keaktoran tak sedikit pun dipahami dan dimilikinya. Sebaliknya, sering terlihat para aktor dan awak panggung menghina puisi di panggung lewat aksinya yang megah dan gagah. Kalimat-kalimat puisi di- sampaikannya tapi maknanya tidak dibunyikan. Puisi hanya diperalat untuk melahirkan serentetan action.
Keaktoran sangat diperlukan oleh pembaca cerpen karena keaktoran merupakan alat untuk memperagakan diri. Alat ko- munikasi dan alat mengekspresikan segala sesuatu yang terkan- dung di dalam cerpen. Dengan keaktoranlah seorang pembaca cerpen “membunyikan” kalimat-kalimat yang sudah disusun oleh pengarang cerpen menjadi bangunan cerita. Keaktoran meli- puti penguasaan jasmani dan rohani, teknik pemeranan, memba- ngun watak, totalitas penampilan diri dan sebagainya. Keaktoran merupakan jembatan utama untuk menghubungkan penonton dengan cerpen yang tengah diekspresikan oleh seorang pembaca cerpen. Tanpa didukung keaktoran yang mencukupi, seorang pembaca cerpen tidak akan didengarkan dan tidak akan “terli- hat”. Keaktoranlah yang akan membuat sebuah acara pembacaan cerpen (bahkan) enak dinikmati oleh orang tuli dan orang buta. Orang tuli merasa sudah cukup melihat penampilan tubuh yang ekspresif dan berdaya tarik kuat, sedangkan orang buta bisa puas mendengarkan musikalitas, variasi dan ekspresi pengucap- an kalimat yang enak penyampaiannya.
Memilih Cerpen
Tidak semua cerpen yang bagus sebagai karya sastra akan menjadi enak jika dibacakan di atas panggung. Bahkan tidak
sedikit cerpen yang luar biasa bagusnya sebagai karya sastra menjadi sangat menyebalkan manakala dipanggungkan: tidak enak diucapkan oleh lidah pembaca cerpen dan tidak enak di- dengarkan oleh telinga penonton. Cerpen tersebut hanya enak dibaca saja secara diam-diam dalam hati dan bukan dibacakan untuk didengarkan.
Sama halnya dengan puisi dan naskah drama. Banyak puisi yang bagus sebagai puisi, tapi alangkah sukarnya dibacakan oleh seorang pembaca puisi yang handal sekali pun. Puisi tersebut bila nekat dibacakan akan menjadi porak-poranda nuansanya. Iramanya dan ritmenya jadi patah-patah, maknanya tak mau berbunyi sebagaimana adanya. Akhirnya sang pembaca hanya mengucapkan sederetan kalimat kosong belaka, sedangkan muatannya tak berhasil dimunculkan. Sebaliknya, ada puisi yang sangat gagal sebagai puisi tapi ketika dibacakan di atas panggung mendapat tepukan meriah dan enak dinikmati penonton. Apa- kah puisi bagus yang tak enak dibacakan itu kurang komplit sebagai puisi? Sama sekali tidak. Memang ada puisi yang bagus sebagai karya sastra, enak dibaca dalam hati sekaligus enak di- bacakan dan didengarkan. Meskipun begitu bukan berarti puisi seperti ini yang paling berhasil sebagai puisi.
Naskah drama juga begitu. Banyak naskah drama yang ditulis para pengarang Indonesia sebelum tahun 1960-an sangat bagus sebagai karya sastra, akan tetapi benar-benar menyulitkan para aktor dan sutradara untuk mengangkatnya ke atas pang- gung. Hanya enak dibaca di dalam kamar saja. Ini lebih diakibat- kan oleh tiadanya pemahaman yang memadai dari para penga- rang terhadap karakter dasar seni panggung. Mereka lebih ber- asyik-masyuk dengan pengolahan kesustraannya saja, tapi ke- mungkinan pemanggungannya tidak dipikirkan.
Kalau dalam perpuisian ada istilah puisi kamar dan puisi auditorium, maka dalam cerpen pun istilah itu layak pula diterap- kan. Kata “kamar” menunjukkan bahwa karya tersebut hanya
enak dinikmati sendirian di dalam kamar atau lebih tepat dibaca di dalam hati. Sedang kata “auditorium” menunjukkan bahwa karya tersebut sangat enak dibacakan atau diperdengarkan di depan publik, menjadi semakin lengkap dan semakin kaya akan kemungkinan. Tentu saja “puisi kamar” masih mungkin dibaca- kan di depan publik jika jumlahnya hanya satu-dua buah saja. Pernah terjadi ada penyair goblok yang nekad membacakan ber- puluh-puluh “puisi kamar” karyanya di depan publik; akibatnya para penonton seperti disiksa habis-habisan, apalagi pada dasarnya penyair tersebut kurang becus membacakan puisi di atas panggung. Namun anehnya, dia tetap enjoy meski para pe- nonton sudah seperti diguyur air panas. Lalu apakah “cerpen kamar” masih mungkin dibacakan di atas panggung dengan jumlah penonton yang besar? Mungkin saja jika cerpennya benar- benar pendek, misalkan sepertiga halaman folio, dan tentunya ini termasuk cerpen eksperimental. Jika “cerpen kamar” agak panjang sebagaimana cerpen konvensional yang biasa dijumpai di media massa, bisakah dibacakan di depan publik? Ya, tetap boleh-boleh saja kalau tujuannya memang ingin membuat para penonton terhina habis-habisan hati nuraninya.
Jadi, problem pertama seorang pembaca cerpen adalah me- milih cerpen yang memungkinkannya bisa meraih sukses di atas panggung. Cerpen yang dijadikan pilihan sebaiknya adalah cerpen yang enak ditafsirkan, dihayati, diucapkan, dan enak ditampilkan. Enak ditafsirkan artinya modal wawasan pembaca memang cukup untuk mendekati dan memahami cerpen itu. Mes- ki cerpennya kaliber kakap kualitasnya, tapi kalau jangkauan pembaca belum cukup untuk menyentuh cerpen itu maka sia- sialah upaya pendekatannya. Akhirnya tak mungkin melangkah ke tahapan lebih lanjut, yaitu menghayati cerpen yang akan diba- cakan. Oleh sebab itu, kesadaran untuk berkaca diri, mengukur kemampuan diri sendiri, sangat layak dimiliki. Tak sedikit orang panggung yang lebih terpukau oleh nama besar pengarangnya
dan mitos karyanya, lalu mengangkatnya ke panggung hanya untuk gagah-gagahan. Padahal dia sesungguhnya kurang mampu menafsirkan dengan baik karya tersebut.
Enak dihayati artinya setelah tahapan penafsirannya dibe- reskan dengan baik, karya yang bersangkutan nyaman untuk dirasa-rasakan, diimajinasikan dan dinalurikan, asyik “disetu- buhi”, intensitas penghayatan mengalir lancar dan tidak terpu- tus-putus. Ini bisa terjadi bila problem-problem di dalam cerpen itu bersinggungan erat dengan pengalaman batin dan pengalam- an berpikir pembacanya. Kalau pacaran atau sekadar jatuh cinta saja belum pernah, lalu bagaimana bisa mengekspresikan kein- dahan cinta yang terkandung dalam cerpen secara tepat? Paling- paling ya ngawur, atau asal-asalan saja.
Enak diucapkan artinya kata dan kalimat yang dipilih dan disusun pengarangnya terasa nyaman di lidah. Tidak membuat lidah pembaca cerpen gampang keseleo atau cepat merasa kelu. Susunan bunyi, ritme, irama dan tata bahasanya tidak rumit se- hingga gampang diucapkan sekaligus memiliki kekuatan teateral, lentur dan komunikatif bila diruangkan. Sekali diucapkan, pe- nonton bisa langsung menangkap maksudnya. Pada tataran ini perlu disadari bahwa mendengarkan berbeda dengan membaca. Mendengarkan orang ngomong di panggung bila kurang jelas maksudnya maka tidak mungkin penonton meminta mengu- langinya. Berbeda kalau membaca sendirian, jika ada kalimat yang agak sukar ditangkap maksudnya, masih dapat diulangi berkali-kali secara perlahan. Kalimat yang tersusun indah bila tidak memiliki daya komunikasi tinggi manakala diucapkan oleh seorang aktor, maka kurang memenuhi syarat sebagai bahasa panggung. Di sinilah kuncinya, bahasa karya untuk pementasan sangat berbeda dengan bahasa buku bacaan. Bila bahasa yang digunakan cerpenis punya karakter kuat sebagai bahasa pang- gung, maka cerpen itu layak dipilih untuk dipentaskan. Memang, yang paling enak bila seorang pembaca cerpen dapat menulis cerpen sendiri.
Enak ditampilkan artinya cerpen tersebut memberikan pe- luang besar bagi pembaca cerpen untuk tampil sekreatif mung- kin. Ada keleluasaan berakting dan berekspresi yang ditawar- kan. Bangunannya sedemikian rupa sehingga pembaca cerpen dapat mengembangkan permainan dan daya tarik artistiknya dari detik ke detik. Makin lama makin menarik, makin berkem- bang dan makin memancing rasa penasaran penonton untuk mengikuti arus cerita menuju klimaks dan selesaian. Kemungkin- an, daya tarik ini terdapat juga pada segi audio maupun visuali- sasinya. Cerpen yang dibacakan kaya akan kemungkinan pang- gung, inspiratif bagi pemanggung sekaligus bagi penonton. Bu- kankah sebuah pertunjukan pada akhirnya merupakan sebuah upacara bersama?
Ketepatan seorang pembaca cerpen memilih cerpen yang akan dibacakan di atas panggung merupakan separuh dari ke- berhasilannya. Kemelesetan memilih berarti kegagalan sudah dikantongi sebelum pertunjukan dilakukan. Karenanya, kesadar- an mengenai diri sendiri mutlak perlu. Sampai seberapa jauh batas-batas kemampuan yang dimiliki. Di sudut-sudut mana saja kekuatan dan kelemahan digenggam. Jika sudah diketahui letak- nya, kekuatan yang dimiliki harus dieksploitir semaksimal mung- kin untuk mencapai keutuhan penampilan. Sedangkan kele- mahannya kalau bisa diolah menjadi kekuatan dan kalau tidak bisa dicari cara bagaimana menyembunyikannya agar tidak men- cuat ke permukaan.
Membacakan Cerpen yang Baik
Pengertian atas pembacaan cerpen yang baik sebenarnya sederhana saja, yaitu membacakan cerpen dengan cara-cara ter- tentu sehingga apa yang dibacakan bisa dipahami dan diyakini oleh orang-orang yang mendengarkan dan menyaksikan. Komu- nikasi antara publik dengan sang pembaca seyogianya terjalin akrab dan penuh pengertian. Caranya? Ya, sekomunikatif mung- kin dalam penampilan. Tujuannya agar mampu dimengerti dan
meyakinkan serta terdengar jelas tentunya. Untuk itu, pembaca cerpen harus terlebih dulu memahami dan meyakini apa-apa yang mau disampaikannya. Kalimat demi kalimat, alinea demi alinea, lalu bangunan cerpen secara menyeluruh, baru kemudian publiklah yang akan merasa mengerti dan meyakini. Sebesar apa keyakinan pembaca cerpen maka sebesar itu pulalah keya- kinan publik terhadap dirinya. Bila pembaca cerpen hanya ber- pura-pura menyampaikan cerita maka publik pun hanya berpura- pura menerima cerita.
Tentu saja untuk dapat menyampaikan cerpen dengan baik dituntut adanya bermacam-macam persiapan. Agar mampu me- mahami cerpen maka pikiran harus diasah dan diisi dengan wa- wasan luas. Untuk bisa meyakini maka imajinasi, intuisi, emosi dan naluri harus dipertajam kepekaannya melalui latihan olah rasa dan olah jiwa yang disiplin. Supaya terdengar maka perna- pasan dan vokal perlu digembleng kekuatannya meliputi volume, nada, tempo, irama, intonasi, artikulasi, diksi dan sebagainya. Dan agar bisa tampil menawan maka seluruh badan dan anggota badan perlu dibina melalui sistem latihan olah tubuh tertentu sehingga akan menjadi artistik setiap kemungkinan gerakannya. Jadi, yang dilakukan lebih dahulu memahami dan meyakini, ke- mudian barulah mengucapkan dan menyampaikan. Isi cerpen dikuasai, berikutnya bentuk pengekspresiannya dicari. Pembaca cerpen menyiapkan dulu “alat-alat dalam”-nya, kemudian “alat- alat luar”-nya.
Penguasaan yang baik terhadap kedua alat-alat tersebut akan mengantar pada peristiwa pembacaan cerpen yang baik. Keseimbangan dalam penguasaan kedua alat itu harus dijaga. Jika berat sebelah, hasilnya pasti timpang. Persoalan yang dimak- sud dengan menguasai “alat-alat dalam” adalah kepintaran da- lam menafsirkan dan menghayati cerpen. Artinya perangkat un- tuk mengurai dan menganalisis cerpen telah dipegang dan dida- yagunakan dengan baik. Sedang menguasai “alat-alat luar” ada-
lah menyangkut kecanggihan tubuh menyampaikan isi cerpen, menyangkut penguasaan teknik pembacaan dan teknik akting. Menguasai “alat-alat dalam” tanpa menguasai “alat-alat luar” belum cukup untuk menjadi seorang pembaca cerpen. Buktinya para kritikus yang hanya pintar mengurai dan menafsir- nafsirkan isi cerpen belum tentu bisa membacakan cerpen dengan baik. Sebaliknya menguasai “alat-alat luar” tanpa ditunjang pe- nguasaan “alat-alat dalam” maka pembacaan cerpen yang dilakukan hanyalah peragaan fisik semata tanpa ada aktivitas rohani. Kosong tanpa isi, tanpa bobot, kering kerontang, tak ada makna yang dihidupkan. Hanya baris-baris kalimat hampa yang digaungkan. Mungkin ucapan-ucapan dan action-nya terasa enak didengar dan dilihat karena disangga oleh teknik akting yang prima, tapi semuanya hanyalah pertunjukan pucat-pasi tan- pa jiwa, ibarat polah tingkah robot belaka. Sungguh tidak sulit membuat sebuah pertunjukan yang sekadar memukau dan enak dilihat tetapi membuat penonton menjadi dungu. Sekali lagi, demonstrasi teknik tanpa penjiwaan yang hidup hanya akan menampilkan permainan yang kering; tak bisa lagi disebut se- bagai kerja kesenian, tapi cuma kerajinan tangan. Kesenian selalu melibatkan nyawa atau roh, sedangkan kerajinan tangan hanya mengandalkan ketrampilan, kerja rutin mengulang-ulang tanpa kreativitas, dan keahlian fisik belaka. Sebaliknya, penjiwaan yang dahsyat tanpa ditunjang teknik yang mapan hanya akan mengha- silkan pertunjukan liar, tanpa kontrol dan tanpa kendali artistik dalam usaha penciptaan. Akibatnya faktor kebetulan banyak ber- bicara dalam penentuan hasil akhir. Untung-untungan sifatnya. Bisakah ini disebut sebuah penciptaan seni yang ideal?
Kalau seorang cerpenis telah berjuang keras menyeleksi sisi- sisi kehidupan, memeras makna dan direkam dalam sususnan kalimat yang dipungutnya dari khazanah bahasa secara selektif, maka apakah tugas pembaca cerpen? Tak lain membunyikan dan menghidupkan apa-apa yang sudah dikerjakan cerpenis tersebut.
Oleh sebab itu, alat-alat untuk kepentingan tersebut harus sudah dijinakkan oleh pembaca cerpen. Dimiliki sepenuhnya untuk dikemudikan sesuka hati, seperti apa yang diinginkan dan di- maui. Teknik dan “alat-alat luar” senantiasa harus siap menerima instruksi “alat-alat dalam” untuk memberikan bentuk sebagai- mana yang diinspirasikan.
Dalam upayanya membunyikan dan menghidupkan cerpen ke dalam kenyataan panggung, seorang cerpenis perlu memiliki kemampuan menguraikan dan menghidupkan kalimat. Kata-kata tertentu yang terkandung dalam kalimat dipilih untuk diberi tekanan tertentu dalam pengucapannya. Pertimbangan pilihan- nya berdasarkan penyelidikan atas jiwa kalimat. Dengan begini akan tersadari betapa beragamnya kemungkinan yang terkan- dung dalam sebuah kalimat. Sedangkan agar pengucapan men- jadi hidup, menarik dan bernyawa, maka diperlukan keahlian mengemudikan suara dalam menciptakan variasi-variasi. Bagai- mana memainkan lemah-kerasnya suara, cepat-lambatnya dan kendor-kencangnya pengucapan, tinggi-rendahnya nada, kese- muanya itu dimainkan dengan titik tekan berbeda-beda secara bergantian dan secara berkesinambungan. Ada pula yang disebut teknik modulasi, yakni teknik mengubah-ubah volume suara un- tuk penyesuaian dengan kondisi dan situasi di mana pembacaan cerpen dilakukan. Akhirnya, penguasaan terhadap berbagai ma- cam warna dan karakter suara, sebagaimana seorang dalang wayang kulit, perlu dimiliki. Ini berkaitan dengan upaya meng- hidupkan tokoh-tokoh. Sebab setiap tokoh menggenggam ke- unikan sendiri-sendiri sehingga perlu dihidupkan dengan cara sendiri-sendiri pula.
Berikutnya, yang sangat vital berkaitan dengan kekuatan menghimpun konsentrasi sewaktu tampil dalam pembacaan cerpen. Setelah segala masalah yang berkaitan dengan teknik penampilan diketahui, dikenali dan dikuasai, pembaca cerpen memfokuskan segenap perhatiannya untuk berkonsentrasi se- penuh-penuhnya tampil di panggung. Derajat konsentrasinya
sebanding dengan derajat perhatian publik kepadanya. Jika kuat konsentrasinya maka kuat pula perhatian publik kepadanya. Begitu pula jika lemah konsentrasinya maka lemah pula perhatian publik kepadanya. Penonton tak mungkin menjadi “greng”, ter- haru, terpesona dan yakin apabila di dalam diri si pembaca cerpen tak ada “greng”, keterharuan, daya pesona dan keyakinan diri sangat diperlukan. Karena itu, “bermainlah” tapi jangan mem- buat dirimu “bermain”. Beraktinglah tapi jangan membuat di- rimu berakting. Bacakanlah cerpen tapi jangan membuat dirimu seperti membacakan cerpen. Di dalam pembacaan cerpen atau puisi, tak ada pola-pola tertentu yang harus dianut, baik dalam gaya pengucapan maupun teknik tampilnya. Setiap karya me- miliki jiwanya sendiri. Oleh sebab itu setiap karya menghendaki pola pengucapan dan pola tampilannya sendiri-sendiri pula. Bila pembaca cerpen, pembaca puisi, deklamator dan aktor sudah mengurung dirinya di dalam satu pola penampilan yang disu- kainya, maka berakhirlah riwayat kreativitasnya. Terkubur di dalam lubang gelap yang digalinya sendiri.
Pengantar
Secara etimologis, kata fiksi yang dalam bahasa Inggris dise-
but fiction diturunkan dari bahasa Latin fictio yang berarti “mem-
bentuk; membuat; mengadakan; menciptakan” (Tarigan, 1993:20). Dengan demikian, cerita fiksi adalah cerita yang diben- tuk, dibuat, diadakan, atau diciptakan (oleh pengarang atau sas- trawan). Lawan dari fiksi adalah nonfiksi. Jika fiksi merupakan realitas, nonfiksi bersifat aktualitas. Aktualitas adalah apa-apa yang benar terjadi, sedangkan realitas adalah apa-apa yang dapat atau mungkin terjadi dan belum tentu terjadi (Tarigan, 1993:122). Karena fiksi “diciptakan” oleh pengarang, hal itu berarti bahwa fiksi merupakan suatu karya batin. Artinya, seorang penulis fiksi dalam menjalankan aktivitasnya lebih banyak meng- gunakan kekuatan dan kemampuan mental-spiritual. Sebagai karya batin, tulisan fiksi hendaknya tetap setia kepada tugasnya untuk memberi manfaat kepada umat manusia, yakni memba- ngun, memperbaiki, dan menyempurnakan dengan memasukkan unsur informasi, edukasi, dan rekreasi (hiburan) sebagai satu kesatuan yang utuh. Oleh karena itu, para penulis fiksi hidup dalam dunia olah batin yang senantiasa aktif, selalu memperkaya pengetahuan dan pengalaman, menjernihkan rohani agar dapat