• Tidak ada hasil yang ditemukan

IKAN KOAN HIDRODINAMIK

2.3 Eceng gondok ( Eichhornia crassipes )

Taksonomi Eceng gondok (Eichhornia crassipes (Mart) Solms) menurut USDA (2010) sebagai berikut :

Divisi : Magnoliophyta

9

Sub Kelas : Liliidae

Bangsa : Liliales

Suku : Pontederiaceae

Marga : Eichhornia Kunth

Jenis : Eichhornia crassipes (Mart) Solms

Nama umum/dagang : Eceng gondok English name : Water hyacinth

Eichhornia crassipes (Mart,) Solms adalah sinonim dengan Eichhornia spiciosa Kunth. Tumbuhan ini berasal dari Brazilia dan tersebar ke beberapa negara karena memiliki bunga yang indah (Soerjani, 1982). Eceng gondok termasuk salah satu dari 100 spesies invasif yang sangat berbahaya menurut IUCN dan menurut GEIB (Biological Invasion Specialist Group) masuk dalam TOP 20 (Tellez et al., 2008).

Lebih dari tiga abad yang lalu pada tahun 1894, eceng gondok didatangkan dan diperkenalkan di Indonesia oleh ’s Lands Plantentuin, yang sekarang menjadi Kebun Raya Indonesia. Selanjutnya tahun 1976 Eichhornia crassipes tercatat sebagai gulma air yang paling penting di dunia, Asia Tenggara dan khususnya di Indonesia (Soerjani et al.,1976, Holm et al., 1977, dan Pancho & Suryani, 1978 in Soerjani et al,,1982). Sampai saat ini enceng gondok masih merupakan gulma yang paling penting (Lancar & Krake, 2002).

Komposisi tumbuhan air berdasarkan letak akar di permukaan air Danau Limboto tertera pada Tabel 3. Komposisi tumbuhan air di Danau Limboto yang menginvasi permukaan air danau seluas 30–40 % didominansi oleh eceng gondok sebanyak 85%, sedangkan Hydrilla, kangkung air, rumput, tumbili masing-masing hanya 2,5%, dan teratai serta kiambang masing-masing 0,5% (Krismono et al., 2007). Tidak ada informasi pasti tentang kapan eceng gondok mulai ada di Danau Limboto, tetapi pengaruh eceng gondok terhadap kualitas air danau ini sudah diteliti sejak tahun 1990.

Peran eceng gondok di Danau Limboto sangat besar dan peran tersebut dapat berdampak negatif yaitu antara lain menutup sebagian permukaan air danau, mempercepat evapotranspirasi, mengganggu transportasi perahu, maupun dampak positif terhadap ekosistem perairan antara lain sebagai tempat untuk berkembangbiak, berlindung atau mencari makan bagi ikan.

10

Tabel 3. Komposisi tumbuhan air berdasarkan letak akar di Danau Limboto tahun 2006

Nama Lokal Nama Ilmiah Penutupan luas

permukaan air (%)

Akar tumbuhan

Eceng gondok Eichhornia crassipes 85 Mengapung

Hidrilla Hydrilla verticillata 2,5 Tenggelam

Kangkung air Ipomea aquatica 2,5 Mengapung

Rumput Panicum repens 2,5 Mengapung

Tumbili Pistia stratiotes 2,5 Mengapung

- Alternanthera philoxiroides 2,5 Mengapung

Rumput Scirpus mucronatus 1,5 Mengapung

Teratai Nelumbium sp, 0,5 Mengapung

Kiambang Azolla pinata 0,5 Mengapung

Sumber: Krismono et al., 2007

Eceng gondok merupakan tumbuhan air yang terdiri atas akar, petiole, dan daun (Gambar 2a). Petiole eceng gondok ada yang menggelembung dan ada yang tidak (Gambar 2b). Eceng gondok yang sudah dimakan ikan koan akan berbeda akarnya dibanding yang tidak dimakan ikan koan seperti pada Gambar 2c.

Makrofita di perairan selain berdampak negatif juga mempunyai fungsi positif bagi perikanan. Hasil penelitian Petr (2000), Pokorny & Kvet (2004), Pipalova (2006), dan Krismono et al., (2007) menyatakan bahwa makrofita merupakan komponen yang penting dalam ekosistem sebagai habitat pemijahan ikan, asuhan ikan, menempelnya pakan alami dan penyerap konsentrasi nutrien serta logam berat. Secara umum pengaruh makrofita pada ekosistem danau merupakan bagian dari rantai stabilitas perairan.

Eceng gondok dapat berfungsi sebagai pembersih limbah rumah tangga (Djaenudin, 2006). Eceng gondok juga dapat membersihkan waduk dan danau dari polutan pestisida dan logam berat (Warrier & Saroja 2008, Hasim 2007, dan Petr 2000). Hal ini telah dibuktikan secara histologis oleh Warrier & Seroja (2008). Eceng gondok dapat tumbuh cepat 3% hari-1 (Brades & Tobing, 2008) khususnya di saluran-saluran air Sungai Musi Sumatera selatan. Eceng gondok berkembang biak dalam satu minggu dapat tumbuh dua kali lipat (Tellez et al., 2008).

11 Sumber : Krismono et al, (2007)

Gambar 2. Struktur eceng gondok yang diambil dari Danau Limboto a) Eceng gondok dengan petiole yang menggelembung,

b) Eceng gondokdengan petiole yang tidak menggelembung,

c) Eceng gondok dengan akar yang masih utuh dan yang sudah dimakan ikan,

Akar merupakan bagian tumbuhan yang penting. Eceng gondok berakar serabut yang berdiameter kecil tetapi sangat panjang sampai 1 m lebih. Untuk menyesuaikan diri dengan lingkungan akar eceng gondok kadang bewarna putih bila di tanah dan gelap bila mengapung. Eceng gondok dapat berdiri dengan disokong oleh akar di tanah (Penfaund & Early, 1948). Akar eceng gondok berfungsi sebagai pengatur penyerapan unsur pembatas yaitu P dan N dari perairan (Xie & Yu, 2003). Menurut Wetzel (2001), bagian akar biasanya sekitar 20–50% total biomassa, sedangkan Penfaund & Early (1948) menyatakan bahwa bobot akar 52 %. Bobot kering eceng gondok hasil analisis laboratorium LRPSI, Jatiluhur bagian akar 41,4 %, petiole 50,6%, dan daun 8%. Akar eceng gondok merupakan tempat organisme makro-avertebrata menempel. Di danau Taabo pada akar eceng gondok menempel 34 famili macro-invertebrata (Kouame et al., 2010), dan di perairan Alvarado Lagoonal System, Veracruz, Mexico terdapat 96 kelas yang terdiri atas 44 % avertebrata tawar, 53 % estuari, dan 3 % laut (Ramirez et al., 2006).

Petiole yangtidak

menggelembung Daun petiola akar a b Akar

yang dimakan Akar yang utuh

12

Kandungan air eceng gondok adalah 90% dengan pengeringan menggunakan oven pada suhu 105oC. Milne et al. (2006) menunjukkan adanya hubungan linier antara bobot kering daun dan bobot kering total eceng gondok dengan kedalaman, dengan bertambahnya kedalaman air bobot kering eceng gondok bertambah serta antara penurunan serasah bobot kering dengan kandungan fosfor di sedimen.

Hasil analisis proksimat eceng gondok dari Danau Limboto (Tabel 4) dan hasil analis tangkai eceng gondok mengandung: protein 0,16%, lemak 0,35%, abu 0,44%, serat kasar 2,09%, karbohidrat 0,17%, P2O5 0,52% dan K2O 0,42%. Menurut Brades & Tobing (2008), kandungan protein eceng gondok tua dan segar 11,5%, serta hasil analisis Laboratorium Balai Riset Perikanan Budidaya Air Tawar Bogor eceng gondok dari perairan Danau Limboto sebesar 11, 4%.

Tabel 4. Hasil analisis proksimat eceng gondok Danau Limboto

Contoh Protein(%) Lemak(%) Abu(%) Serat kasar(%) Karbohidrat (%)

Akar 17,76 3,46 26,38 16,74 35,66

Daun 19,83 1,2 6,28 9,89 62,8

Petiole 4,86 1,56 14,02 9,6 69,96

Sumber : Krismono, 2007.

Berdasarkan analisis jaringan eceng gondok mengandung N, P, K dan C organik berturut-turut; 2,32 %, 0,24 %, 1,95 %, dan 46,21 %, serta rasio CN-1 = 19,92 (Haryatun, 2008), sedangkan Hakim et al.,1986 in Haryatun (2008) menyatakan bahwa rasio C/N eceng gondok termasuk rendah, dekomposisi cepat, maka eceng gondok dapat berfungsi sebagai sumber hara dan bahan organik, Hasil penelitian Karki & Dixit (1984) in Haryati (2006) menunjukkan rasio CN-1 eceng gondok 25, yang berarti mempunyai kecepatan dekomposisi lebih cepat jika dibandingkan dengan jerami padi dan jagung yang mempunyai rasio CN-1 70 dan 60, tetapi lebih lambat bila dibandingkan CN-1 rasio kotoran ayam 10, kotoran kambing 12, dan kotoranmanusia serta bebek 8.

Berdasarkan hasil analisis kimiawi eceng gondok segar mengandung bahan organik 36,59 %, C organik sebesar 21,23%, N total sebesar 0,28% , P total sebesar 0,0011%, dan K total 0,016 % (Winarno, 1993).

13 2.4 Ikan koan (Ctenopharyngodon idella)

Klasifikasi ikan koan menurut Nelson (2006) adalah sebagai berikut :

Filum : Chordata Subfilum : Craniata Superkelas : Gnathostomata Kelas : Actinopterygii Subkelas : Neopterygii Divisi : Teleostei Subdivisi : Ostarioclupeomorpha Super ordo : Ostariophysi

Seri : Otophysi Ordo : Cypriniformes Superfamili : Cyprinoidea Famili : Cyprinidae Subfamili : Squaliobarbinae Genus : Ctenopharyngodon

Spesies : Ctenopharyngodon idella Val.

Shireman & Smith (1983) menyatakan bahwa hanya sedikit variasi yang ditemukan pada morfologi ikan koan dan tidak ada subspesies yang pernah diketahui. Chilton & Muoneke (1922) dalam Cudmore & Mandrak (2004) mengemukakan bahwa secara umum bobot ikan koan dapat mencapai 30-50 kg, adapun panjang maksimalnya dapat mencapai lebih dari 1 m (Fraser, 1978 in Cudmore & Mandrak, 2004).

Cudmore & Mandrak (2004) mengemukakan bahwa ikan koan memiliki kepala yang bersisik, bentuk tubuh ikan koan memanjang dan ramping (Gambar 3). Ikan koan memiliki sirip berturut-turut sirip punggung, sirip perut, dan sirip ekor adalah 7, 8 dan 18, sirip punggungdan sirip duburtidak memiliki duri, dengan tipe sisik yaitu sisik sikloid (Page & Burr, 1991, Keith & Allaradi, 2001 in Cudmore & Mandrak, 2004). Adapun rumus gigi adalah 2,5-4,1, gigi bagian dalam lebih kuat dibandingkan gigi di bagian lateral (Shireman & Smith, 1983).

14

Sumber:Krismono et al., 2007.

Gambar 3. Morfologi ikan koan (Ctenopharyngodon idella)

Panjang usus ikan koan berkisar 1,6-2,0 kali panjang badan (Hoa, 1973 in Shireman & Smith, 1983), termasuk pendek dibanding herbivora yang lain dan lama waktu tinggal makanan didalam usus 8 jam (Masser, 2002). Lebih lanjut Cheng (1966) in Shireman & Smith (1983) mengemukakan bahwa panjang usus meningkat dari 0,5 pada saat ukuran larva dan mencapai 2,5 kali panjang badan pada ikan dewasa. Calon saluran pencernaan berdiferensiasi menjadi tekak pendek, klep pilorik, usus, dan rektum.

Pada saluran pencernaan ikan koan terjadi fermentasi mikroflora (bakteri, protozoa dan flagellata) karena pada saluran pencernaan herbivora termasuk ikan koan berkembang di dalamnya mikroflora yang mengekskresikan berbagai jenis enzim diantaranya adalah selulase. Selulase akan menghidrolisis selulosa menjadi senyawa yang lebih sederhana dan selanjutnya menjadi gula sederhana. Mikroflora juga sebagai penghasil vitamin terutama vitamin B dan bila mati di saluran pencernaan merupakan sumber protein bagi ikan, sehingga walaupun tumbuhan proteinnya rendah ikan koan tidak kekurangan protein (Opuszynski & Shireman 1995). Gonad terletak di rongga peritonium dan berdiferensiasi pada ikan dengan panjang total 58 mm (umur 50-60 hari) (Berry & Low, 1970 in Shireman & Smith, 1983).

2.5 Dampak penebaran ikan koan (herbivora) terhadap eceng gondok (makrofita)

Dokumen terkait