Mitra Gathering 2021 Gambar 5.1.1
ECONOMIC RECOVERY
15th March 2022 via Video Conference
1. We, the Heads of Competition Agencies of ASEAN Member States reiterate the importance for ASEAN to consider competition policy and its role in supporting economic recovery.
2. We acknowledge the importance of the ASEAN Comprehensive Recovery Framework (ACRF), and discussed the role of competition policy contributing to the objectives of the ACRF.
3. We observe that a closer governmental engagement is critical to facilitate economic recovery. As part of the efforts to support economic recovery in ASEAN, the ASEAN Member States, led by Indonesia, undertook a Study on
“The Impact of COVID-19 Pandemic and Economic Recovery to Competition Law and Policy” to identify measures taken by competition agencies during the COVID-19 pandemic.
We reaffirm the Joint Statement by the ASEAN Experts Group on Competition (AEGC) in Response to the Coronavirus Disease (COVID-19) Pandemic which was issued in June 2020, and acknowledge the need for ASEAN to adopt a common understanding on the enforcement of competition law to maintain and improve competition in the region, and agreed to take the following actions:
a. Support economic recovery by focusing enforcement efforts on strategic markets and industries that are important for economic recovery, and streamlining processes to make them business-friendly;
b. Strengthen advocacy efforts to policymakers from an early stage to ensure that competition issues form part of their considerations in developing new policies and regulations;
c. Provide the government and other relevant legislative bodies with advice and recommendations on competition law and policy;
d. Ensure that anti-competitive activities do not take place under the guise of economic recovery, and cooperate with other competition authorities as appropriate to curtail such anti-competitive activities;
e. Enhance our national and regional capacity to assess and handle competition issues relating to digital markets; and
f. Strengthen our outreach to small and medium-sized enterprises (SMEs).
ASEAN lainnya yang dilaksanakan pada tahun 2021, yakni:
(1) ASEAN Expert Group on Competition Meeting (AEGC Meeting)
Pertemuan bertujuan untuk melakukan pembahasan substansi dan perkembangan pelaksanaan inisiatif hukum dan kebijakan persaingan di bawah rencana strategis AEGC.
(2) ASEAN Australia New Zealand Free Trade Agreement (AANZFTA) Competition Committee Meeting
Pertemuan AANZFTA Competition Committee Meeting bertujuan untuk membahas perkembangan pelaksanaan inisiatif di bawah dukungan pembiayaan Negara anggota AANZFTA .
(3) Sub-Project Steering Committee (PSC) Meeting
Pertemuan bertujuan untuk membahas perkembangan pelaksanaan inisiatif di bawah dukungan pembiayaan GIZ (German International Cooperation).
(4) ASEAN Competition Enforcers’ Network (ACEN) Meeting
Pertemuan berfungsi sebagai platform bagi para penegak hukum untuk bertukar pengalaman dan informasi terkait kasus lintas batas dan mekanisme penegakan hukum dalam lingkungan yang bersifat rahasia.
Perundingan Perjanjian Perdagangan Internasional
Persaingan Usaha sudah masuk ke dalam lingkup perjanjian internasional dengan focus memasukkan unsur prinsip-prinsip persaingan usaha, seperti transparansi, non diskriminasi dan prosedur yang adil. Adanya trend liberalisme perdagangan internasional dan perlunya kerja sama lintas batas antar otoritas persaingan usaha merupakan salah satu pertimbangan untuk memasukkan isu persaingan usaha sebagai bagian dari Perjanjian Perdagangan Internasional.
Inklusi isu persaingan usaha ke dalam perjanjian perdagangan internasional akan bermanfaat dalam membantu negara – negara anggota untuk mengatasi dampak pelanggaran persaingan usaha lintas batas yang dilakukan oleh pelaku usaha dari negara tertentu, dan membantu mengatasi dampak kebijakan pemerintah negara tertentu yang berpengaruh kurang baik terhadap kondisi persaingan di negara lainnya.
Sepanjang tahun 2021, KPPU berperan aktif dalam beberapa perundingan per-janjian perdagangan internasional yang dijalin Pemerintah Indonesia dengan negara mitra dagangnya, khususnya pada perundingan Bab Persaingan Usaha.
Beberapa perjanjian perdagangan internasional tersebut adalah sebagai berikut:
1. Indonesia EU CEPA (Indonesia – European Union Comprehensive Economic Partnership Agreement)
Bab Persaingan Usaha dalam IEU CEPA mencakup prinsip-prinsip per-saingan usaha, pengaturan non diskriminasi, prosedur penegakan hukum yang adil, dan aspek kerja sama. Bab ini juga mengangkat upaya pence-gahan distorsi atas persaingan di pasar, yang mungkin ditimbulkan oleh fasilitasi pemerintah kepada pelaku usaha. Secara keseluruhan penyele-saian perundingan ini akan mendorong upaya pemulihan ekonomi pasca Covid-19.
2. IUAECEPA (Indonesia - United Arab Emirates Comprehensive Economic Part-nership Agreement)
Isu persaingan usaha dalam perjanjian ini diadopsi sebagai prinsip yang mendasari aktivitas perdagangan dan investasi pada semua sektor yang termasuk di dalam perjanjian. Inklusi isu persaingan usaha juga dituju-kan untuk meningkatdituju-kan hubungan kerja sama dalam mencegah praktik anti persaingan di kedua negara.
3. AANZFTA (ASEAN-Australia-New Zealand Free Trade Area) Competition Chapter Upgrade
Bab persaingan usaha dalam AANZFTA bertujuan untuk mempromosikan prinsip persaingan usaha yang sehat dan perlindungan konsumen yang efektif guna meningkatkan efisiensi ekonomi dan kesejahteraan kon-sumen. Bab Persaingan Usaha tersebut mencakup prinsip-prinsip per-saingan usaha, pengaturan non diskriminasi, prosedur penegakan hukum yang adil, serta kerja sama teknis di antara negara anggota.
Dalam mendukung proses penegakan hukum, KPPU turut memanfaatkan hubungan luar negeri guna memperoleh berbagai perspektif dan masukan dari praktik terbaik internasional. Terdapat delapan kegiatan yang telah dilaksanakan terkait hal ini, yakni;
1. 1st Workshop with U.S Departement of Justice (USDOJ) on Business Process in Digital Platform.
2. 2nd Workshop with USDOJ on Cross Border Cases.
3. 3rd Workshop with USDOJ on Predatory Pricing.
mision (JFTC).
5. Webinar Indepth Case Study on Digital Economy with BUNDESKARTELLAMT.
6. Webinar Digital Economy on Case Motorola Mobility LLC and Google Inc.
7. Japan – ASEAN Integration Fund (JAIF) Virtual Training Course on Unilateral Conduct and Abuse of Dominance.
8. Japan – ASEAN Integration Fund (JAIF) Workshop on New Economic Issues in Merger Enforcement.
Komunikasi Publik Sepanjang 2021
5.3. Komunikasi Publik dan Informasi
Sebagai lembaga Independen yang dibentuk untuk mengawasi pelaksanaan Undang-Undang Nomor 5 Tahun 1999 tentang Larangan Praktek Monopoli dan Persaingan Usaha Tidak Sehat, KPPU perlu meningkatkan dan membentuk kesa-daran stakeholder KPPU mengenai program-program yang dilaksanakan oleh KPPU, serta mempublikasikannya kepada publik. Bentuk komunikasi publik yang dilakukan KPPU meliputi (i) Penyebaran Informasi melalui Website Resmi KPPU;
(ii) Perencanaan Konten Media Sosial dan Penyebaran Informasi melalui Kanal Komunikasi KPPU; (iii) Penyelenggaraan Diskusi Publik, Talkshow, dan Webinar Persaingan Usaha; dan (iv) Penyelenggaraan Forum Jurnalis dan Media Gathering.
Untuk memberikan performa informasi publik yang baik, KPPU terus meningkatkan diri dan kualitas komunikasi publik yang dilakukan secara luas.
Komunikasi publik yang baik terlebih di era digital saat ini, mulai diperbaiki salah satunya dengan peningkatan informasi yang diberikan dapat diandalkan oleh publik. Keakuratan informasi, kejelasan informasi, kemudahan akses terhadap informasi, kualitas informasi yang disajikan, kualitas desain dan tampilan, dan kemudahan akses publik terhadap media komunikasi. Manfaat peningkatan ini tentunya juga sebagai evaluasi kinerja kehumasan KPPU, menjadi acuan pembuatan strategi komunikasi publik, dan perencanaan peningkatan kualitas informasi dan media publikasi KPPU.
Menilik peningkatan ini, KPPU menyurvey publik melalui kualitas publikasi yang dilakukan. Khususnya dalam menilai kualitas media publikasi dan saluran komunikasi yang dimiliki. Berdasarkan penilaian publik, dengan nilai 5,029 dari total 6.00, publik mengapresiasi komunikasi publik yang dilakukan KPPU melalui media publikasinya. Ke depan, komunikasi publik ini akan terus dibaharukan, guna terus menyajikan informasi yang akurat, lengkap, jelas, serta dapat diandalkan.
Pantauan Media
KPPU sebagai lembaga independen yang berdiri di atas tonggak persaingan usa-ha, selalu mempublikasikan berbagai regulasi maupun kegiatan kepada publik melalui media massa. Tujuan dari publikasi ini adalah pembentukan opini pu-blik terhadap kebijakan maupun informasi yang dikeluarkan KPPU. Melalui pantauan media, KPPU mengukur exposure pemberitaan yang dibagi ke khalayak, memitigasi isu atau krisis komunikasi yang terjadi, serta menjadi bagian dari early warning system komunikasi publik. Pantauan media yang dilakukan KPPU mencakup tahapan media clipping, media tracking, dan media content analysis.
Di mana tiga cakupan ini menghasilkan tonase dan nilai pemberitaan, sebagai bagian dari framing isu yang digelontorkan soal persaingan usaha.
Sepanjang tahun 2021, pemberitaan seputar KPPU dan persaingan usaha di me-dia massa adalah sebanyak 4.253 pemberitaan, turun 20% dari tahun sebelum nya.
Dengan tonase positif sebesar 73% dengan jumlah 3.084 pemberitaan. Jumlah pemberitaan positif trennya menurun dari tahun sebelumnya sebesar 6% dikare-nakan jumlah keseluruhan pemberitaan yang juga menurun. Untuk tonase netral sebesar 26% dengan jumlah 1.133 pemberitaan, dan tonase negatif sebesar 1%
dengan 36 pemberitaan. Jumlah tonase negatif menurun dari tahun sebelumnya yakni 69 pemberitaan negatif.
Perpustakaan Persaingan Usaha
Perombakan besar terjadi pada penyajian keilmuan persaingan usaha melalui perpustakaan. Perpustakaan Persaingan Usaha, atau yang disingkat PERPUS, mengalami revitalisasi secara fisik dan sistem elektroniknya. Tahun 2021, PERPUS lahir kembali menjadi pusat baca ilmu persaingan usaha yang nyaman, dan menyediakan sistem e-library yang komprehensif dan menyediakan buku-buku cetak maupun elektronik yang berkaitan dengan persaingan usaha, baik dari segi hukum maupun ekonomi. Koleksi perpustakaan tentang persaingan usaha dikembangkan pula dengan penambahan koleksi e-book terkait persaingan usaha, hasil penelitian, dan hasil pemaparan konferensi hasil dari OECD. Koleksi e-book yang ada dapat diakses melalui laman https://elibrary.kppu.go.id.
Pelayanan akses untuk mendapatkan e-book harus telah terdaftar sebagai anggota perpustakaan KPPU, untuk saat ini keanggotaan didominasi oleh pihak eksternal KPPU.