• Tidak ada hasil yang ditemukan

sampai Merauke

7.6. Isu dan Kinerja Persaingan di Kantor Wilayah VI

Ada tiga kegiatan pada Kantor Wilayah VI yang perlu mendapatkan perhatian.

Pertama, melakukan advokasi persaingan usaha pada Sektor Pelayaran yang sebelumnya dikeluhkan para forwarders/Jasa Pengurusan Transportasi (JPT).

Dalam hal ini, masalah yang dikeluhkan adalah terkait penyesuaian jasa dan tarif yang sebelumnya biaya cleaning container 20 feet dikenakan Rp50.000 dan 40 feet Rp100.000, maka pada bulan Juni 2021 dikenakan jasa cleaning and maintenance dengan biaya Rp200.000 untuk 20 feet dan Rp400.000 untuk 40 feet. Melihat hal ini mampu menimbulkan persaingan usaha tidak sehat, Kantor Wilayah VI melakukan advokasi dan rencana penyesuaian jasa dan tarif tersebut dibatalkan.

Kedua, pengawasan perubahan perilaku menindaklajuti Perkara Nomor 23/

KPPU-L/2020 tentang Dugaan Pelanggaran Pasal 19 Huruf (a) dan (d) Undang – Undang Nomor 5 Tahun 1999 terkait Operasional Taksi di Bandar Udara Sultan Hasanuddin. Di sini, PT angkasa Pura I (persero) telah melaksanakan sepenuhnya 8 (delapan) poin pakta integritas perubahan perilaku. PT Angkasa Pura I (persero) telah melakukan laporan secara berkala sesuai yang dipersyaratkan dalam pakta integritas. PT Angkasa Pura I (persero) Jakarta dan PT Angkasa Pura I (persero) Cabang Makassar aktif berkoordinasi baik melalui offline maupun online dalam pelaksanaan pakta integritas perubahan perilaku.

Ketiga, Kantor Wilayah VI KPPU berkolaborasi dengan Pemerintah Provinsi Sulawesi Selatan melalui advokasi pengawasan kemitraan ayam. Kolaborasi ini dalam bentuk komitmen antara pelaku usaha kemitraan peternakan maupun satgas kemitraan peternakan untuk mematuhi regulasi yang ada dan proaktif untuk bersinergi dalam menghasilkan kebijakan dalam industri peternakan di Sulawesi Selatan.

Dari sisi penegakan hukum, Kantor Wilayah VI menerima 25 klarifikasi laporan, 1 penelitian inisiatif, dan 1 pengawasan kemitraan. Dan 2 perkaranya masuk ke tahap penyelidikan, serta 1 perkara masuk ke tahap Pemeriksaan Pendahuluan I. Perkara tender mendominasi laporan yang diterima.

Dari sisi kajian, Kantor Wilayah VI melakukan kajian distribusi obat terapi Covid-19 dan oksigen medik di Sulawesi Selatan dan kajian terhadap tindakan Swab RT-PCR oleh fasilitas kesehatan di Sulawesi Selatan. Tahun 2021, Kantor Wilayah VI juga melakukan 2 (dua) asistensi dan/atau evaluasi kebijakan Pemerintah Daerah atas Peraturan

Wilayah VII

Kantor Wilayah VII yang berkedudukan di Kota Yogyakarta adalah Kantor Wilayah yang baru terbentuk pada bulan Juli tahun 2021 dan secara legal baru diresmikan pada tanggal 15 September 2021 ini memiliki 2 (dua) wilayah kerja yaitu Provinsi D.I.Yogyakarta dan Jawa Tengah. Pada awal pembentukannya, Ketua KPPU telah menyampaikan bahwa Kantor Wilayah VII KPPU ini akan berfokus pada Advokasi Persaingan Usaha khususnya pada pengawasan perjanjian kemitraan UMKM dan juga penguatan kelembagaan di wilayah kerja Kantor Wilayah VII KPPU.

Dalam upaya mengemban tugasnya, Kantor Wilayah VII perlu bersinergi dengan berbagai pemangku kepentingan yang meliputi pelaku usaha, pemerintah daerah, perguruan tinggi, dan pemangku kepentingan lainnya di Provinsi Jawa Tengah dan Daerah Istimewa Yogyakarta. Dengan demikian, tahun 2021 ini kegiatan Kantor Wilayah VII memprioritaskan kegiatan pada koordinasi dan sinergi, memperkenal-kan tugas dan fungsi KPPU melalui kegiatan audiensi kepada para pihak terkait.

Dalam kurun waktu bulan Juli s.d Desember 2021, Kantor Wilayah VII KPPU telah melakukan berbagai kegiatan di bidang penegakan hukum, pengawasan kemitraan, serta kajian dan asistensi kebijakan dan/atau peraturan daerah.

Kegiatan penegakan hukum yang dilakukan, terdapat setidaknya 11 (sebelas) klarifikasi laporan dengan jenis pelanggaran tender. Walaupun baru berdiri tidak lebih dari setengah tahun, Kantor Wilayah VII KPPU sudah melakukan 3 (tiga) kegiatan advokasi.

Advokasi Persaingan Usaha di Jawa Tengah, misalnya, menghasilkan output berupa permohonan konsultasi dari Bank Indonesia (BI) Jateng terkait komoditas jagung dan kemudian ditindaklanjuti dengan permohonan masukan dalam forum TPID Prov. Jateng. Selain itu, Pemprov Jateng juga mengajukan permohonan MoU antara KPPU dengan Pemprov Jateng, karena dirasa kebedaan KPPU khususnya Kantor Wilayah VII KPPU sangat dibutuhkan di Prov. Jateng. Kegiatan advokasi Persaingan Usaha lain yang dilakukan adalah dengan Pemerintah Provinsi D.I.Yogyakarta dan di Kota Surakarta.

Kantor Wilayah VII KPPU akan terus melanjutkan koordinasi dengan seluruh stakeholder di Provinsi D.I.Yogyakarta dan Jawa Tengah. Hal ini sangat penting dilaksanakan demi menjalankan misi awal dibentuknya Kantor Wilayah VII KPPU bahwa Kantor Wilayah VII akan fokus pada pelaksanaan kegiatan Advokasi Persaingan Usaha khususnya pada pengawasan perjanjian kemitraan UMKM di wilayah kerja Kantor Wilayah VII KPPU.

Kesimpulan

Tahun 2021 bukanlah tahun yang mudah untuk persaingan usaha. KPPU bersama masyarakat terus berjuang untuk turut andil dalam pemulihan ekonomi pasca pandemi Covid-19 menyerang. Indeks Persaingan Usaha di Indonesia meningkat 0,16 poin dari nilai 4,65 di tahun 2020 menjadi 4,81 di tahun 2022. Ini artinya, tingkat persaingan usaha di Indonesia semakin membaik. Indeks persaingan usaha merupakan suatu indikator tingkat persaingan usaha di perekonomian dan telah masuk dalam RPJMN Tahun 2020-2024 di mana target Nasional Indeks Persepsi Persaingan Usaha adalah 5.

Di tahun yang sama, KPPU berhasil memutus 26 perkara, dan berhasil memenangkan 7 perkara yang dikuatkan Pengadilan Niaga dan 10 perkara dikuatkan Mahkamah Agung. Total denda dari perkara yang diputus tersebut mencapai Rp55.283.500.000 dengan total kontribusi PNBP ke negara sebesar Rp148.460.883.992. Dari sisi transaksi notifikasi Merger dan Akuisisi, KPPU menerima 233 notifikasi dengan 99 notifikasi di antaranya adalah transaksi asing, dan sebesar 86,7%

adalah Pengambilalihan Saham, 2,1% adalah Transaksi Penggabungan Badan Usaha, 10,7% adalah Transaksi Pemindahan Aset, serta 0,4%

adalah Konsultasi Notifikasi M&A.

Masa yang tidak mudah ini, KPPU tetap optimal untuk tetap melakukan pengawasan kemitraan UMKM, hal ini dibuktikan dengan berhasil melakukan 13 pengawasan kemitraan UMKM di Indonesia, serta mengeluarkan 26 surat saran dan pertimbangan yang ditujukan kepada Pemerintah. Lima fokus kajian yang dilakukan KPPU yakni berupa kajian Pasar Bersangkutan dalam Ekonomi Digital, kajian Persaingan Usaha dan Kesejahteraan di Indonesia, kajian Kemitraan di Industri Otomotif, kajian Jabatan Rangkap, dan kajian Industri Ayam Ras.

Untuk memperluas fungsi KPPU di daerah dan mengoptimalkan perannya dalam menjaga persaingan usaha, KPPU juga meresmikan Kantor Wilayah VII pada 15 September 2021. KPPU juga menjadi Ketua Perkumpulan Otoritas Persaingan Usaha di ASEAN.

Daftar Periksa Asesmen Kebijakan Persaingan Usaha (DP AKPU)

Pertanyaan Ya Tidak

Apakah Rancangan Peraturan Perundang-undangan/ Peraturan Perundang-undangan:

1. Memberikan pelimpahan kewenangan Regulator kepada Asosiasi/

kumpulan Pelaku Usaha untuk mengatur:

a. Harga

b. Jumlah Produksi

c. Jumlah Penjualan/Pasokan d. Wilayah Pemasaran e. Lain-lain?

2. Mengatur kewajiban menyampaikan data dan informasi Pelaku Usaha kepada Asosiasi/kumpulan Pelaku Usaha terkait:

a. Biaya b. Harga

c. Jumlah Produksi

d. Jumlah Penjualan/Pasokan e. Laba/rugi?

3. Mengatur kewajiban menjadi anggota Asosiasi/perkumpulan Pelaku Usaha agar dapat melakukan penyediaan barang/jasa da-lam satu Pasar?

4. Mengatur ketentuan yang memperbolehkan terjadinya kesepaka-tan Pelaku Usaha untuk mengatur Pasar?

5. Mengatur:

a. pembatasan jumlah produksi barang/jasa

b. pembatasan jumlah Penjualan/Pasokan barang/jasa c. pembatasan pembelian barang/jasa?

6. Mengatur penunjukan satu Pelaku Usaha atau beberapa Pelaku Usaha yang:

a. memproduksi barang/jasa b. memasok/menjual barang/jasa c. membeli barang/jasa?

7. Mengatur pembatasan jumlah Pelaku Usaha di dalam Pasar?

8. Mengatur kewajiban menggunakan barang dan/atau jasa tertentu?

9. Mengatur persyaratan yang hanya dapat dipenuhi oleh satu atau beberapa Pelaku Usaha tertentu di Pasar?

10. Mengatur Pembagian Wilayah pemasaran/Distribusi barang dan/

atau jasa?

11. Mengatur penetapan Harga oleh Regulator?

12 Mengatur ketentuan Diskriminatif terhadap Pelaku Usaha tertentu di Pasar?

13. Mengatur ketentuan yang mengakibatkan terjadinya peningkatan

LAMPIRAN 2

Dokumen terkait