• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN

G. Efek Analgesik Ekstrak Etil Asetat Daun Iler

Penelitian analgesik ini menggunakan metode rangsang kimia yang merupakan langkah pengujian awal untuk mengetahui ada atau tidaknya efek analgesik pada suatu senyawa. Metode ini cukup peka untuk menguji senyawa analgesik lemah, sederhana dan mudah untuk dilakukan (Prambudi, 2020).

Dalam penelitian ini, menggunakan 25 ekor mencit betina galur DDY yang dibagi secara acak kedalam 5 kelompok. Kelompok I merupakan kontrol negatif CMC-Na 1%; kelompok II sebagai kontrol positif asetosal; dan kelompok III, IV, V sebagai kelompok perlakuan ekstrak etil asetat daun iler dengan dosis 50; 100 dan 200 mg/kgBB. Semua kelompok diberikan perlakuan secara peroral, selanjutnya mencit diinjeksikan induktor nyeri berupa asam asetat 1% secara intraperitoneal setelah 15 menit. Respon nyeri akan ditunjukkan dengan adanya geliat berupa gerakan mencit menarik kedua kaki kedepan dan kebelakang hingga perut menempel pada alas pengamatan dan tubuh mencit terlihat memanjang.

Jumlah geliat mencit diamati setiap 5 menit selama 60 menit (Lara dkk., 2021).

29

Asam asetat merupakan senyawa iritan yang merusak jaringan lokal dan menyebabkan nyeri pada rongga perut saat pemberian intraperitoneal. Hal tersebut diakibatkan oleh naiknya ion H+ oleh karena turunnya pH di bawah 6 dan menyebabkan luka membran. Luka yang terbentuk akan mengaktifkan enzim fosfolipase pada fosfolipid membran sel dan menghasilkan asam arakidonat yang selanjutnya membentuk prostaglandin. Prostaglandin yang terbentuk akan meningkatkan sensitivitas reseptor nyeri sehingga mencit akan memberikan respon berupa geliat. Konsentrasi asam asetat yang digunakan adalah 1% dengan dosis 50 mg/kgBB (Wulandari dan Hendra, 2011).

Data yang diperoleh dari masing-masing kelompok perlakuan digunakan untuk menghitung persen proteksi dan perubahan persen proteksi. Persen proteksi dibandingkan dengan kontrol negatif, sedangkan perubahan persen proteksi senyawa uji dibandingkan dengan asetosal sebagai kontrol positif. Perhitungan persen proteksi geliat ditujukan untuk mengetahui besarnya proteksi yang diberikan ekstrak etil asetat daun iler terhadap induksi asam asetat, sedangkan perhitungan perubahan persen proteksi bertujuan untuk mengetahui besarnya perubahan proteksi asetosal dibandingkan dengan persen proteksi yang diberikan ekstrak etil asetat daun iler (Purnomo, 2018).

Hasil rata-rata jumlah kumulatif geliat mencit, persen proteksi dan perubahan persen proteksi ekstrk etil asetat daun iler disajikan dalam bentuk Mean

± Standard Error yang dapat dilihat pada tabel II. Data selanjutnya dianalisis secara statistik dengan Shapiro Wilk Test untuk mengetahui normalitas data. Hasil uji menunjukkan nilai p>0,05, sehingga dapat disimpulkan data terdistribusi normal. Selanjutnya, dilakukan analisis variansi satu arah untuk mengetahui ada tidaknya perbedaan antar kelompok uji. Hasil uji menunjukkan nilai p<0,05 yang berarti bahwa terdapat perbedaan antar kelompok uji. Setelah itu, dilakukan uji post hoc Bonferroni untuk mengetahui kelompok mana yang memiliki perbedaan bermakna. Hasil uji post hoc Bonferroni disajikan dalam tabel III.

Tabel II. Rata-rata Jumlah Geliat Mencit, % Proteksi dan Perubahan %

EEADI : Ekstrak Etil Asetat Daun Iler

Kontrol negatif yang digunakan dalam penelitian ini adalah CMC-Na 1%

yang merupakan pelarut asetosal dan pelarut ekstrak. Kontrol negatif CMC-Na menunjukkan rata jumlah kumulatif geliat, rata persen proteksi dan rata-rata perubahan persen proteksi geliat secara berturut-turut sebesar 99 ± 1,2; 0 ± 1,2; -100 ± 1,6. Tingginya jumlah geliat serta persen proteksi dan perubahan persen proteksi yang sangat rendah menunjukkan bahwa asam asetat mampu menginduksi nyeri dan CMC-Na sebagai kontrol negatif tidak memiliki aktivitas analgesik karena tidak mengandung zat aktif (Keswara dan Handayani, 2019).

Pada tabel II, kontrol positif asetosal memiliki jumlah rata-rata kumulatif geliat sebesar 21,8 ± 1. Nilai rata-rata persen proteksi dan rata-rata perubahan persen proteksi asetosal secara berturut-turut adalah 78 ± 1 dan 0 ± 1,3. Hal ini membuktikan bahwa asetosal memiliki aktivitas analgesik yang ditunjukkan dengan nilai persen proteksi ≥50% (Yayasan Pengembangan Obat Bahan Alami

31

Phytomedika, 1991). Dosis asetosal yang digunakan adalah 91 mg/kgBB dan bekerja dengan menghambat prostaglandin. Prostaglandin yang dilepaskan akan meningkatkan sensitivitas reseptor nyeri, sehingga menyebabkan nyeri.

Penghambatan produksi prostaglandin akan mengakibatkan pesan nyeri yang disampaikan dari reseptor nyeri ke otak menjadi berkurang (Ford dan Roach, 2010).

Tabel III. Hasil Analisis Bonferroni Test Terhadap Rata-rata Jumlah Geliat,

% Proteksi dan Perubahan % Proteksi Kontrol

BB : Berbeda Bermakna (p<0,05) BTB : Berbeda Tidak Bermakna (p>0,05)

Pada tabel III didapatkan bahwa hasil analisis antara kelompok kontrol negatif dengan kontrol positif berbeda bermakna.

Pada tabel II disajikan data rata-rata geliat dari tiga peringkat dosis ekstrak etil asetat daun iler 50; 100; dan 200 mg/kgBB secara berturut-turut yaitu 47,2 ± 1,7; 41,8 ± 1,6; dan 34 ± 1,5. Selain itu, diperoleh juga nilai rata-rata persen proteksi dari dosis terendah hingga tertinggi yaitu 52,3 ± 1,7; 57,8 ± 1,6 dan 65,7 ± 1,5. Data yang diperoleh selanjutnya diolah menggunakan statistik dan diperoleh bahwa ketiga kelompok perlakuan dengan kelompok kontrol negatif

memiliki perbedaan yang bermakna. Perbedaan bermakna tersebut menandakan bahwa sediaan ekstrak etil asetat daun iler dapat memberikan proteksi terhadap nyeri dan ditandai dengan penurunan jumlah geliat pada mencit yang telah diinduksi dengan asam asetat 1% secara intraperitoneal pada kelompok perlakuan dibandingkan dengan kelompok kontrol negatif CMC-Na.

Apabila ketiga peringkat dosis dibandingkan dengan kontrol positif, terlihat bahwa tiga kelompok dosis tidak memiliki efek analgesik sebesar asetosal sebagai kontrol positif. Hal ini terlihat pada hasil analisis uji statistik dari tiga kelompok dosis yang berbeda bermakna dengan kontrol positif asetosal dosis 91 mg/kgBB. Berdasarkan pada tabel II, ketiga dosis memiliki persen proteksi yang lebih rendah dibandingkan dengan asetosal. Dosis 50; 100 dan 200 mg/kgBB memiliki persen proteksi secara berturut-turut adalah sebesar 52,3 ± 1,7; 57,8 ± 1,6; dan 65,7 ± 1,5. Sedangkan, asetosal dosis 91 mg/kgBB memiliki persen proteksi yang lebih tinggi yaitu sebesar 78 ± 1. Dosis ekstrak etil asetat daun iler yang digunakan masih dapat ditingkatkan untuk memperoleh dosis dengan persen proteksi yang sebanding dengan asetosal 91 mg/kgBB.

Pada tabel II juga disajikan data rata-rata perubahan persen proteksi tiga kelompok dosis 50; 100; dan 200 mg/kgBB secara berturut-turut adalah sebesar -32,9 ± 2,2; -25,9 ± 2,1 dan -15,8 ± 2. Berdasarkan data pada tabel III, diperoleh hasil uji statistik bahwa dosis 50 mg/kgBB berbeda bermakna dengan dosis 200 mg/kgBB dan berbeda tidak bermakna dengan dosis 100 mg/kgBB. Sedangkan, dosis 100 mg/kgBB berbeda bermakna dengan dosis 200 mg/kgBB. Hal ini menandakan bahwa dosis 200 mg/kgBB memiliki proteksi yang lebih baik bila dibandingkan dengan dosis 50 mgkgBB dan dosis 50 mg/kgBB dengan dosis 100 mg/kgBB memiliki efek analgesik yang hampir sama.

Suatu senyawa dikatakan memiliki efek analgesik apabila mampu mengurangi nyeri dengan persen proteksi ≥50% (Yayasan Pengembangan Obat Bahan Alami Phytomedika, 1991). Pada tabel II terlihat nilai persen proteksi dari tiga kelompok perlakuan ekstrak etil asetat daun iler dosis 50; 100 dan 200 mg/kgBB secara berturut-turut adalah 52,3 ± 1,7; 57,8 ± 1,6 dan 65,7 ± 1,5.

33

Berdasarkan data tersebut, maka dapat dikatakan bahwa ketiga peringkat dosis ekstrak etil asetat daun iler memiliki efek analgesik.

Berdasarkan uraian di atas, diketahui bahwa ekstrak etil asetat daun iler dosis 50 mg/kgBB memiliki efek yang sama besar dengan ekstrak etil asetat daun iler dosis 100 mg/kgBB. Sedangkan, dosis 200 mg/kgBB memiliki efek analgesik yang lebih besar dibandingkan dengan dosis 50 mg/kgBB dan 100 mg/kgBB. Hal ini dibuktikan dengan hasil analisis Bonferroni Test yang menunjukkan bahwa dosis 50 mg/kgBB berbeda tidak bermakna dengan dosis 100 mg/kgBB dan berbeda bermakna dengan dosis 200 mg/kgBB. Dosis 100 mg/kgBB berbeda bermakna dengan dosis 200 mg/kgBB.

Tumbuhan iler memiliki beberapa senyawa kimia, diantaranya adalah flavonoid dan alkaloid. Senyawa flavonoid diduga memiliki efek analgesik dengan mekanisme menghambat produksi sitokin dan prostaglandin sehingga rasa nyeri akan berkurang (Verri dkk., 2012). Senyawa alkaloid sebagai agen analgesik bekerja dengan mekanisme menghambat fosfolipase sehingga menyebabkan penurunan ketersediaan prekursor asam arakidonat yang diperlukan dalam sintesis prostaglandin (Hayfaa dkk., 2013).

34 BAB V

KESIMPULAN DAN SARAN

A. Kesimpulan

1. Ekstrak etil asetat daun iler dosis 50; 100 dan 200 mg/kgBB memiliki efek analgesik terhadap mencit betina galur DDY yang terinduksi asam asetat.

2. Kelompok perlakuan ekstrak etil asetat daun iler dosis 50; 100 dan 200 mg/kgBB secara berturut-turut memiliki persen proteksi sebesar 52,3; 57,8;

dan 65,7 %.

B. Saran

Pada penelitian ini, ekstrak etil asetat daun iler dosis 50; 100; dan 200 mg/kgBB memiliki efek analgesik yang tidak sebanding dengan asetosal dosis 91 mh/kgBB. Apabila kedepannya akan dilakukan penelitian yang serupa, maka dosis yang digunakan dapat ditingkatkan untuk memperoleh dosis dengan persen proteksi yang sebanding dengan asetosal 91 mg/kgBB.

35

DAFTAR PUSTAKA

Argoff, C.E., Dubin, A., Pilitsis, J.G., 2018. Pain Management Secrets, 4th ed.

Elsevier.

Badaring, D.R., Sari, S.P.M., Nurhabiba, S., Wulan, W., Lembang, S.A.R., 2020.

Uji Ekstrak Daun Maja (Aegle marmelos L.) terhadap Pertumbuhan Bakteri Escherichia coli dan Staphylococcus aureus. Indonesian Journal of Fundamental Sciences (IJFS), 6(1), 16–26.

Badrunasar, A., Santoso, H.B., 2017. Tumbuhan Liar Berkhasiat Obat. Forda Press, Bogor.

Bahrudin, M., 2017. Patofisiologi Nyeri (Pain). Saintika Medika, 13(1), 7–13.

Benjamin, S.G., Yudistira, A., Rotinsulu, H., 2020. Uji Efek Antipiretik Ekstrak Etanol Daun Miana(Coleus Scutellarioides [L]) Benth Pada Tikus Putih Jantan Galur Wistar (Rattus Norvegicus). Pharmacon, 9(1), 55–62.

Dalimartha, S. 2000. Atlas Tumbuhan Indonesia Jilid 2. Trubus Agriwidya, Jakarta.

Departemen Kesehatan, 2000. Parameter Standar Umum Ekstrak Tumbuhan Obat. Departemen Kesehatan RI, Jakarta.

Depkes RI, 2020. Farmakope Indonesia Edisi VI. Kementerian Kesehatan RI, Jakarta.

Dewi, I.S., Saptawati, T., Rachma, F.A., 2021. Skrining Fitokimia Ekstrak Etanol Kulit dan Biji Terong Belanda (Solanum betaceum Cav.). Prosiding Seminar Nasional UNIMUS, 4, 1210–1218.

Dewi, N.K.P.A., 2016. Uji Aktivitas Analgesik Ekstrak Metanol Biji Alpukat (Persea americana Mill.) Pada Mencit Betina Terinduksi Asam Asetat.

Universitas Sanata Dharma, Yogyakarta.

Diniatik, 2015. Penentuan Kadar Flavonoid Total Ekstrak Etanolik Daun Kepel (Stelechocarpus burahol (BI.) Hook f. & Th.) Dengan Metode Spektrofotometri. Kartika Jurnal Ilmiah Farmasi, 3(1), 1–5.

Dipiro, J.T., Talbert, R.L., Yee, G.C., Matzke, G.R., Wells, B.G., Posey, L.M., 2011. Pharmacotherapy A Pathophysiologic Approach, 8th ed. Mc Graw Hill Medical, New York.

Ergina, Nuryanti, S., Puspitasari, I.D., 2014. Uji Kualitatif Senyawa Metabolit Sekunder Pada Daun Palado (Agave angustifolia) Yang Diekstrakis

Dengan Pelarut Air dan Etanol. Jurnal Akademika Kimia, 3(3), 165–172.

Fitriyanti, Hikmah, N., Astuti, K.I., 2020. Efek Antiinflamasi Infusa Bunga Asoka (Ixora coccinea l) pada Tikus Jantan yang Diinduksi Karagenan. Jurnal Sains dan Kesehatan, 2(4), 355–359.

Ford, S.M., Roach, S.S., 2010. Roach’s Introductory Clinical Pharmacology, 9th ed. Lippincott Wiliams & Wilkins, USA.

Hayfaa, A.A., Sahar, A.A.M.A., Awatif, M.A., 2013. Evaluation of Analgesic Activity and Toxicity of Alkaloids in Myristica fragans Seeds in Mice.

Journal of Pain Research, 3(6), 611-615.

Indijah, S.W., Fajri, P., 2016. Farmakologi. Pusdik SDM Kesehatan, Jakarta.

Jumadil, R., Manjang, Y., Afrizal, 2016. Isolasi dan Karakterisasi Senyawa Metabolit Sekunder Dari Fraksi Etil Asetat Daun Miana (Plecatranthus Scutellariodes, (L)) Sebagai Antioksidan. Jurnal Kimia Unand, 5(3), 21–

24.

Kementerian Kesehatan RI, 2017. Farmakope Herbal Indonesia Edisi II.

Kementrian Kesehatan RI, Jakarta.

Kementerian Kesehatan RI, 2011. 100 Top Tanaman Obat Indonesia.

Kementerian Kesehatan RI, Jakarta.

Keswara, Y.D., Handayani, S.R., 2019. Uji Aktivitas Analgetik Ekstrak Etanol Daun Inggu (Ruta angustifolia [l.] Pers) Pada Tikus Putih Jantan. Journal Syifa Sciences and Clinical Research, 1(2), 57–69.

Kuntari, Aprianto, T., Noor, R.H., Baruji, 2017. Verifikasi Metode Penentuan Asetosal Dalam Obat Sakit Kepala Dengan Metode Spektrofotometri UV. JST (Jurnal Sains dan Teknologi), 6(1), 31–40.

Kusuma, A.T., Adelah, A., Abidin, Z., Najib, A., 2018. Penentuan Kadar Flavonoid Ekstrak Etil Asetat Daun Sukun (Artocarpus altilis). ad-Dawaa’Jour.Pharm.Sci, 1(1), 25–31.

Lara, A.D., Elisma, K, F.S., 2021. Uji Aktivitas Analgesik Infusa Daun Jeruju (Acanthus ilicifolius L.) Pada Mencit Putih Jantan (Mus musculus).

Indonesian Journal of Pharma Science, 3(2), 71–80.

Lenny, S., Zuhra, C.F., Marpaung, L., 2014. Improvement of Purity Silicon Obtained from Natural Sand by Antioxidant and Antimicrobial Activities from Leaves of Coleus atropurpureus Benth. Proceedings of the 2nd International Conference on Natural and Environmental Sciences

37

(ICONES), 141–154.

Lumbessy, M., Abidjulu, J., Paendong, J.J.E., 2013. Uji Total Flavonoid Pada Beberapa Tanaman Obat Tradisonal Di Desa Waitina Kecamatan Mangoli Timur Kabupaten Kepulauan Sula Provinsi Maluku Utara.

Jurnal MIPA Unsrat Online, 2(1), 50–55.

Mahasuari, N. P. S., Paramita, N. L. P. V., Putra, A.A. G. R. Y., 2020. Effect of Methanol Concentration as a Solvent on Total Phenolic and Flavonoid Content of Beluntas Leaf Extract (Pulchea indica L.). Journal of Pharmaceutical Science and Application, 2(2), 77-84.

Moelyono, M.W., Rochjana, A.U.H., Diantini, A., Musfiroh, I., Sumiwi, S.A., Iskandar, Y., Susilawati, Y., 2016. Aktivitas Antioksidan Daun Iler Plectranthus scutellarioides (L.) R. Br. Jurnal Farmasi Indonesia, 8(1), 271–276.

Monk, P., 2004. Physical Chemistry Understanding Our Chemical World. John Wiley & Sons Ltd, England.

Mukhriani, 2014. Ekstraksi, Pemisahan Senyawa, Dan Identifikasi Senyawa Aktif. Jurnal Kesehatan, 7(2), 361–367.

Novanti, H., Susilawati, Y., 2017. Review: Aktivitas Farmakologi Daun Iler (Plectranthus scutellarioides (L.) R.Br.). Farmaka, 15(1), 146–152.

Octavianus, S., Fatimawali, Lolo, W.A., 2014. Uji Efek Analgetik Ekstrak Etanol Daun Pepaya (Carica Papaya L) Pada Mencit Putih Jantan (Mus Mucculus). Pharmacon, 3(2), 87–92.

Paat, M., Mongi, J., Palandi, R., Untu, S., 2018. Uji Efek Analgesik Infusa Daun Pepaya Carica papaya L. Pada Tikus Putih Rattus norvegicus Yang Diinduksi Asam Asetat. Jurnal Biofarmasetikal Tropis, 1(1), 5–8.

Pangestuti, B.M.E., 2016. Uji Antiinflamasi Ekstrak Metanol Akar Eurycoma longifolia Jack Pada Mencit Jantan Galur Swiss Terinduksi Karagenin.

Universitas Sanata Dharma, Yogyakarta.

Perhimpunan Reumatologi Indonesia, 2014. Penggunaan Obat Anti Inflamasi Non Steroid, Perhimpunan Reumatologi Indonesia.

Prambudi, H., 2020. Uji Analgetik Infus Daun Jambu Biji Berdaging Merah pada Mencit Jantan dengan Metode Rangsangan Kimia. Health Information Jurnal Penelitian, 12(1), 76–85.

Prayoga, T., Lisnawati, N., 2020. Ekstrak Etanol Daun Iler (Coleus atropupureus

L. Benth). CV. Jakad Media Publishing, Surabaya.

Purnomo, M.A.S.R., 2018. Uji Efek Analgesik Ekstrak Etanol 70% Daun Apel var. manalagi (Malus domestica Borkh.) Pada Mencit Betina Galur Swiss Dengan Metode Rangsang Kimia. Universitas Sanata Dahrma, Yogyakarta.

Puteri, R.A.M., Mutmainah, Setiadi, M.B., 2018. Perancangan Alat Sampling Pasir Silica dalam Proses Pengecekan di PT. XYZ. Seminar Nasional Fakultas Teknik Universitas Muhammadiyah Jakarta, 1–5.

Putri, W.S., Warditiani, N.K., Larasanty, L.P.F., 2013. Skrining Fitokimia Ekstrak Etil Asetat Kulit Buah Manggis (Garcinia mangostana L .). Jurnal Farmasi Udayana, 2(4), 56–59.

Qalbi BM, A.N., Djangi, J., Muhaedah, 2017. Isolasi dan Identifikasi Senyawa Metabolit Sekunder Ekstrak Kloroform Daun Tumbuhan Iler (Coleus scutellarioides, Linn, Benth). Jurnal Chemica, 18(1), 48–55.

Rahmadanita, F.F., Sumarno, 2019. Kajian Pustaka Efek Samping Aspirin : Aspirin-Exacerbated Respiratory Disease ( AERD ). Pharmaceutical Journal Of Indonesia, 5(1), 1–5.

Ridwan, Y., Satrija, F., Handharyani, E., 2020. Aktivitas Anticestoda In Vitro Metabolit Sekunder Daun Miana (Coleus blumei. Benth) terhadap Cacing Hymenolepis microstoma. Jurnal Medik Veteriner, 3(1), 31–37.

Rizal, N.M., Nurhaeni, Ridhay, A., 2018. Aktivitas Antibakteri Ekstrak Daun Mayana (Coleus atropurpureus [L] Benth) Berdasarkan Tingkat Kepolaran Pelarut. KOVALEN: Jurnal Riset Kimia, 4(2), 180–189.

Royal Botanic Gardens Kew, 2022. Coleus scutellarioides (L.) Benth.

https://powo.science.kew.org/taxon/urn:lsid:ipni.org:names:446165-1#synonyms, diakses pada 21 Juli 2022.

Salamah, N., Rozak, M., Abror, M. Al, 2017. Pengaruh Metode Penyarian Terhadap Kadar Alkaloid Total Daun Jembirit (Tabernaemontana sphaerocarpa. BL) Dengan Metode Spektrofotometri Visibel.

Pharmaciana, 7(1), 113–122.

Sani, R.N., Nisa, F.C., Andriani, R.D., Maligan, J.M., 2014. Analisis Rendemen dan Skrining Fitokimia Ekstrak Etanol Mikroalga Laut Tetraselmis chuii.

Jurnal Pangan dan Agroindustri, 2(2), 121–126.

Sastrahidayat, I.R., 2017. Penyakit Pada Tanaman Ubi-Ubian. UB Press, Malang.

39

Suryati, Arifin, B., Vhiolita, A., 2018. Penentuan Kandungan Fenolik Total, Uji Aktivitas Aantioksidan, Aktivitas Antimikroba, dan Sitotoksik dari Fraksi Metanol Daun Miana (Plectranthus scutellarioides (L.) R. Br).

Jurnal Kimia Unand, 7(1), 1–6.

Susilawati, Y., Ahmad, M., Moektiwardoyo, M., Arifin, P.C., 2016. Aktivitas Antidiabetes Ekstrak Etanol daun Iler (Plectranthus scutellarioides (L.) R.Br) pada Tikus Putih Galuh Wistar Dengan Metode Induksi Aloksan.

Farmaka, 14(2), 82–96.

Tabalubun, E., 2013. Efek Analgestik Infusa Daun Iler (Coleus atropupureus L.

Benth) dengan Metode Rangsang Kimia Pada Mencit Betina. Universitas Sanata Dharma, Yogyakarta.

Tari, R., Posangi, J., Wowor, P.M., 2013. Uji Efek Daun Iler (Coleus atropurpureus [L.] Benth.) Terhadap Penyembuhan Luka Insisi Pada Kulit Kelinci (Oryctolagus cuniculus). Jurnal e-Biomedik, 1(1), 581–586.

Turner, R.A., 1965. Screening method in pharmacology. Academic Press, New York and London.

Utami, N.F., Nurdayanty, S.M., Sutanto, Suhendar, U., 2020. Pengaruh Berbagai Metode Ekstraksi Pada Penentuan Kadar Flavonoid Ekstrak Etanol Daun Iler (Plectranthus scutellarioides). Fitofarmaka Jurnal Ilmiah Farmasi, 10(1), 76–83.

Utami, Y.P., Umar, A.H., Syahruni, R., Kadullah, I., 2017. Standardisasi Simplisia dan Ekstrak Etanol Daun Leilem (Clerodendrum minahassae Teisjm. & Binn.). Journal of Pharmaceutical and Medicinal Sciences, 2(1), 32–39.

Verawati, Aria, M., Dira, Maisa, S., Maharani, A., 2016. Chemical Characterization And Anti-Inflammatory Activity Of Piladang Leaf (Coleus Atropurpureus) Extract. Journal of Chemical and Pharmaceutical Sciences, 9(4), 2496–2499.

Verri, W.A., Vicentini, F.T.M.C., Baracat, M.M., Georgetti, S.R., Cardoso, R.D.R., Cunha, T.M., Ferreira, S.H., Cunha, F.Q., Fonseca, M.J., Casagrande, R., 2012. Flavonoids as Anti-Inflammatory and Analgesic Drugs: Mechanisms of Action and Perspectives in the Development of Pharmaceutical Forms. Bioactive Natural Products, 36, 297-330.

Vifta, R.L., Advistasari, Y.D., 2018. Skrining Fitokimia, Karakterisasi, dan Penentuan Kadar Flavonoid Total Ekstrak dan Fraksi-Fraksi Buah Parijoto (Medinilla speciosa B.). Prosiding Seminar Nasional Unimus, 1, 8–14.

Wahyuni, R., Guswandi, Rivai, H., 2014. Pengaruh Cara Pengeringan Dengan Oven, Kering Angin dan Cahaya Matahari Langsung Terhadap Mutu Simplisia Herba Sambiloto. Jurnal Farmasi Higea, 6(2), 126–133.

Wang, T., Li, Q., Bi, K., 2018. Bioactive Flavonoids in Medicinal Plants:

Structure, Activity and Biological Fate. Asian Journal of Pharmaceutical Sciences, 13(1), 12–23.

Wardani, I.G.A.A.K., Putra, I.M.A.S., Adrianta, K.A., Udayani, N.N.W., 2021.

Efektivitas Analgesik Ekstrak Etil Asetat Daun Kersen (Muntingia calabura L.) Pada Mencit Putih (Mus musculas) Dengan Metode Rangsangan Panas (Hot Plate Method). Jurnal Ilmiah Medicamento, 7(1), 8–12.

Wardoyo, A.V., Oktarlina, R.Z., 2019. Tingkat Pengetahuan Masyarakat Terhadap Obat Analgesik Pada Swamedikasi Untuk Mengatasi Nyeri Akut. Jurnal Imiah Kesehatan Sandi Husada, 10(2), 156–160.

Widaryanto, E., Azizah, N., 2018. Perspektif Tanaman Obat Berkhasiat. UB Press, Malang.

Wilianto, H.C., Wijayahadi, N., 2016. Pengaruh Pemberian Ramuan Ekstrak Produk X Sebagai Analgesik Pada Mencit. Diponegoro Medical Journal (Jurnal Kedokteran Diponegoro), 5(4), 972–981.

Winarti, L., Wantiyah, 2011. Uji Efek Analgetika Ekstrak Rimpang Temu Kunci (Boesenbergia pandurata (Roxb .) Schlechter Pada Mencit Jantan Galur Swiss. Majalah Obat Tradisional, 16(1), 26–33.

Wulandari, D., Hendra, P., 2011. Efek Analgesik Infusa Daun Macaranga tanarius L. Pada Mencit Betina Galur Swiss. Jurnal Ilmu-ilmu Hayati dan Fisik, 13(2), 108–117.

Yayasan Pengembangan Obat Bahan Alami Phytomedika, 1991. Penapisan Farmakologi Pengujian Fitokimia dan Pengujian Klinik. Yayasan Pengembangan Obat Bahan Alami Phytomedika, Jakarta.

Yuda, P.E.S.K., Setiawati, N.M.W., Dewi, N.L.K.A.A., Sanjaya, D.A., Cahyaningsih, E., 2019. Aktivitas Analgesik Ekstrak Daun Liligundi (Vitex trifolia L.) Pada Mencit. Farmasains, 6(2), 73–78.

Zulkifli, Octaviany, E.E., 2019. Uji Efek Analgetik Ekstrak Akar Binasa (Plumbago indica L) Asal Kabupaten Sidenreng Rappang Terhadap Mencit Dengan Metode Writhing Reflex Test. Jurnal Herbal Indonesia, 1(1), 43–49.

41 LAMPIRAN

Lampiran 1. Surat Ethical Clearance dari Komisi Etik Penelitian Kesehatan Fakultas Kedokteran Universitas Kristen Duta Wacana

Lampiran 2. Surat Keterangan Determinasi Tanaman Iler dari Fakultas Farmasi Universitas Sanata Dharma

43

Lampiran 3. Surat Legalitas Analisis Data Statistik oleh Pusat Kajian CE&BU FK-KMK Universitas Gadjah Mada

Lampiran 4. Perhitungan Dosis 1. Dosis CMC-Na 1%

Dosis CMC-Na 1% diperoleh dengan menggunakan ½ volume maksimal yang dapat diberikan pada mencit dengan bobot badan mencit terendah yaitu 20 gram (Pangestuti, 2016). dikonversikan pada mencit 20 gram dengan faktor konversi dari manusia 70 kg sebesar 0,0026. Rata-rata berat badan orang Indonesia adalah 50 kg, maka diperlukan dosis yang tepat untuk mencit 20 gram.

Dosis lazim untuk manusia 50 kg = 500 mg

Dosis untuk manusia 70 kg = (70/50) x 500 mg

= 700 mg

Konversi dosis untuk mencit 20 g = dosis lazim x faktor konversi

= 700 mg x 0,0026

= 1,82 mg/20 gram

= 0,091 mg/gBB

= 91 mg/kgBB

Berdasarkan faktor konversi tersebut, didapatkan dosis asetosal adalah sebesar 91 mg/kgBB.

3. Dosis Ekstrak Etil Asetat Daun Iler

Penelitian ini menggunakan 3 peringkat dosis esktrak etil asetat daun iler.

Dosis tertinggi yang digunakan dalam penelitian ini berdasarkan penelitian Verawati dkk (2016) yaitu 200 mg/kgBB mencit (Dosis III). Setelah

45

memperoleh dosis maksimal (Dosis III), kemudian ditetapkan dosis tengah (Dosis II) dan dosis terendah (Dosis I) sebagai berikut:

Dosis II = Dosis III / 4

= 200 mg/kgBB mencit / 4

= 50 mg/kgBB mencit Dosis I = Dosis II / 4

= 50 mg/kgBB mencit / 4

= 12,5 mg/kgBB mencit

Berdasarkan perhitungan dosis tersebut diperoleh tiga peringkat dosis ekstrak etil asetat daun iler yaitu 12,5 mg/kgBB (dosis I), 50 mg/kgBB (dosis II) dan 200 mg/kgBB (dosis III).

4. Dosis Asam Asetat 1%

Dosis asam asetta yang digunakan berdasarkan pada penelitian yang telah dilakukan sebelumnya yaitu 50 mg/kgBB (Wulandari dan Hendra, 2011).

Lampiran 5. Pembuatan Simplisia dan Serbuk Daun Iler

Gambar 6. Daun Iler Basah

Gambar 7. Penimbangan Daun Iler Basah

Gambar 8. Daun Iler Kering

Gambar 9. Penyerbukan Daun Iler

Gambar 10. Serbuk Daun Iler Lampiran 6. Pembuatan Ekstrak Daun Iler

Gambar 11. Maserasi

47

Gambar 12. Proses Penyaringan

Gambar 13. Proses Rotary Evaporator

Gambar 14. Ekstrak Kental Etil Asetat Daun Iler

Lampiran 7. Perhitungan Persen Rendemen Ekstrak Etil Asetat Daun Iler Persentase rendemen dihitung berdasarkan perbandingan bobot ekstrak kental yang dihasilkan dengan bobot serbuk simplisia yang digunakan (Sani dkk., 2014).

% Rendemen = x 100%

= x 100% = 8,2454%

Lampiran 8. Hasil Uji Kadar Air Ekstrak Etil Asetat Daun Iler

Lampiran 9. Hasil Skrining Fitokimia Ekstrak Etil Asetat Daun Iler

Gambar 15. Uji Flavonoid

Gambar 16. Uji Alkaloid

Gambar 17. Uji Tanin

49

Lampiran 10. Uji Efek Analgesik

Gambar 18. Suspensi Ekstrak

Gambar 19. Penimbangan Mencit

Gambar 20. Pemberian Sediaan (CMC-Na, Asetosal dan Suspensi) Secara Per Oral

Gambar 21. Pemberian Asam Asetat Secara Intraperitoneal

Gambar 22. Respon Geliat Mencit

51

Lampiran 11. Hasil Uji Analisis Statistik

53

% Proteksi Geliat

Perubahan % Proteksi Geliat

55

BIOGRAFI PENULIS

Penulis skripsi yang berjudul “Efek Analgesik Ekstrak Etil Asetat Daun Iler (Coleus atropurpureus (L.) Benth) Pada Mencit Betina Galur DDY” memiliki nama lengkap Nova Tiara Santika. Penulis lahir di Tulang Bawang, Lampung pada tanggal 16 September 2000. Penulis merupakan anak keempat dari empat bersaudara pasangan Surame Hermanto dan Supartini. Pendidikan formal yang telah ditempuh yaitu TK Negeri Pembina Tulang Bawang (2005-2006), SDN 01 Tunggal Warga (2006-2012), SMP Lentera Harapan Banjar Agung (2012-2015), SMA Lentera Harapan Banjar Agung (2015-2018). Pada tahun 2018, penulis melanjutkan pendidikan sarjana ke Fakultas Farmasi Universitas Sanata Dharma, Yogyakarta. Selama masa perkuliahan, penulis terlibat dalam kegiatan kepanitiaan dan perlombaan. Penulis pernah berpartisipasi dalam kegiatan KPU Fakultas Farmasi Sanata Dharma periode 2020/2021 sebagai divisi perlengkapan pada September-Oktober 2020. Penulis juga berpartisipasi dalam beberapa perlombaan tingkat nasional yang diantaranya adalah Farmakesta Competition 2022, Lomba Poster Tingkat Nasional UNESA (2022), Kampanye Phychation Mental Health for All (2022), dan Desain Poster Teknik Fair Competition (2022).

Dokumen terkait