• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

H. Hipotesis

1. Ekstrak etil asetat daun iler dapat memberikan efek analgesik pada mencit betina galur DDY yang terinduksi asam asetat.

2. Ekstrak etil asetat daun iler memiliki efek analgesik yang dilihat berdasarkan nilai persen proteksi geliat pada mencit betina galur DDY yang terinduksi asam asetat.

16 BAB III

METODE PENELITIAN

A. Jenis dan Rancangan Penelitian

Penelitian mengenai aktivitas analgesik ekstrak etil asetat daun iler pada mencit betina galur DDY yang diinduksi asam asetat merupakan penelitian eksperimental murni dengan menggunakan rancangan acak lengkap pola searah.

B. Variabel Penelitian 1. Variabel bebas

Dosis ekstrak etil asetat daun iler 2. Variabel tergantung

Jumlah geliat yang dihitung sebagai % proteksi 3. Variabel pengacau

a. Variabel terkendali

1) Subyek uji berupa mencit betina galur DDY 2) Umur subjek uji yaitu 2-3 bulan

3) Berat badan subjek uji yaitu 20-30 gram 4) Umur tanaman iler 4-6 bulan

b. Variabel tidak terkendali

1) Kondisi patofisiologi subyek uji 2) Media pertumbuhan tanaman 3) Pencahayaan pada tanaman

C. Definisi Operasional

1. Daun iler yang digunakan adalah daun segar yang berumur 4-6 bulan, berwarna ungu kemerahan, diambil sebanyak 1-6 lembar daun dari pucuk dan dipanen pada waktu pagi hari. Daun diperoleh dari Perumahan Taman Cemara, Krodan, Maguwoharjo, Depok, Sleman, Yogyakarta.

2. Ekstrak etil asetat daun iler adalah sediaan kental yang dibuat dengan cara maserasi yaitu merendam serbuk daun iler menggunakan pelarut etil asetat selama 24 jam pada suhu ruang dengan sesekali pengadukan dan dilakukan pengulangan penyarian minimal sebanyak satu kali.

17

3. Analisis kadar air pada ekstrak kental etil asetat daun iler diuji dengan susut pengeringan metode gravimetri.

4. Dosis adalah sejumlah mg ekstrak etil asetat tiap KgBB mencit yang diberikan pada tiap kelompok perlakuan.

5. Jumlah geliat adalah geliat hewan uji yang dihitung tiap 5 menit dan di akumulasi dari menit ke 0 sampai 60.

6. Geliat adalah respon mencit ketika menarik kedua kaki belakang ke arah belakang hingga perut mencit menyentuh alas tempat mencit tersebut berpijak.

7. Efek analgesik adalah angka persen proteksi yang dihitung berdasarkan rumus persen proteksi geliat dengan cara menghitung seratus dikurangi jumlah kumulatif geliat kelompok perlakuan dibagi rata-rata jumlah kumulatif geliat kelompok kontrol negatif dan dikalikan dengan 100 persen.

D. Bahan Penelitian

Bahan-bahan yang digunakan dalam penelitian ini anatara lain adalah daun iler diperoleh dari Perumahan Taman Cemara, Krodan, Maguwoharjo, Depok, Sleman, Yogyakarta. Asetosal sebagai kontrol positif, asam asetat sebagai perangsang nyeri buatan, etil asetat sebagai pelarut ekstrak, CMC-Na sebagai kontrol positif dan pensuspensi asetosal dan senyawa uji, aquadest sebagai pelarut CMC-Na, pereaksi uji tabung (HCl pekat, serbuk magnesium, larutan FeCl35%

dan pereaksi dragendorff) serta mencit betina galur DDY berusia sekitar 2-3 bulan dengan berat badan 20-30 gram yang diperoleh dari Laboratorium Hayati Imono, Fakultas Farmasi, Universitas Sanata Dharma.

E. Alat atau Instrumen Penelitian

Alat atau instrumen yang digunakan dalam penelitian ini adalah timbangan analitik, wadah maserasi, rotary evaporator, oven, kotak kaca sebagai tempat subjek uji, mesin penyerbuk, ayakan nomor mesh 40, cawan porselen, stopwatch, syringe dan spuit injeksi dan oral serta alat-alat gelas berupa batang pengaduk, labu ukur, beaker glass, gelas ukur, tabung reaksi, pipet tetes.

F. Tata Cara Penelitian 1. Pengumpulan bahan

Bahan berupa daun iler diperoleh dari Perumahan Taman Cemara, Krodan, Maguwoharjo, Depok, Sleman, Daerah Istimewa Yogyakarta.

2. Determinasi tanaman

Determinasi tanaman iler dilakukan dengan mencocokan ciri-ciri tanaman dengan buku acuan yang dilakukan di Laboratorium Kebun Tanaman Obat, Fakultas Farmasi, Universitas Sanata Dharma.

3. Pembuatan ethical clearance

Ethical clearance dibuat oleh bagian dari Komisi Etik Fakultas Kedokteran, Universitas Kristen Duta Wacana.

4. Pembuatan simplisia dan serbuk simplisia daun iler

Daun iler sebanyak 4 kg disortasi basah dan dicuci bersih dengan air mengalir terlebih dahulu. Sampel kemudian ditiriskan dan dikering anginkan selama 2 hari menggunakan wadah yang memiliki dasar yang berlubang seperti anyaman bambu agar aliran udara dari atas ke bawah atau sebaliknya berjalan lancar dan ditutup kain hitam pada bagian atasnya. Selanjutnya, pengeringan dilanjutkan menggunakan oven dengan suhu 50⁰C. Setelah sampel kering atau mudah dihancurkan, kemudian dilakukan penyerbukan dan diayak dengan ayakan nomor 40 mesh hingga diperoleh serbuk simplisia yang halus.

5. Pembuatan ekstrak etil asetat daun iler

Serbuk daun iler sebanyak 100 gram dimasukkan kedalam wadah kaca maserasi dan rendam serbuk menggunakan pelarut etil asetat sebanyak 1000 ml, diaduk selama 6 jam dengan bantuan shaker, kemudian didiamkan selama 18 jam pada suhu ruang. Setelah perendaman, pisahkan maserat dengan cara filtrasi menggunakan kertas saring. Setelah itu, dilakukan remaserasi minimal satu kali dengan menggunakan jenis pelarut yang sama dan jumlah volume pelarut sebanyak setengah kali jumlah volume pelarut pada penyarian pertama yaitu sebanyak 500 ml pelarut dengan proses yang sama. Seluruh maserat disatukan dan dipekatkan menggunakan rotary evaporator (Kementerian

19

Kesehatan RI, 2017). Ekstrak dipindahkan ke dalam cawan porselen dan dipekatkan dengan oven hingga diperoleh bobot tetap.

6. Pengujian kadar air

Uji kadar air dilakukan dengan susut pengeringan menggunakan alat moisture balance. Alat dinyalakan dan dipanaskan terlebih dahulu. Ekstrak kental daun iler dimasukkan kedalam wadah sampel sebanyak 2 gram. Moisture balance ditutup kemudian tunggu hingga lampu mati dan hasilnya dicatat (Sediarso dkk., 2018).

7. Pengujian fitokimia a. Flavonoid

Identifikasi dilakukan dengan menambahkan 0,5 gram serbuk Mg dan 10 tetes HCl pekat pada 1 ml ekstrak. Timbulnya warna jingga, merah muda hingga merah menunjukkan adanya senyawa flavonoid (Rizal dkk., 2018).

b. Tanin

Ekstrak sebanyak 1 ml dimasukkan ke dalam tabung reaksi dan ditambahkan 3 tetes larutan FeCl3 5%. Uji positif ditunjukkan dengan terbentuknya warna hijau hingga hitam (Rizal dkk., 2018).

c. Alkaloid

Uji kandungan alkaloid dilakukan dengan menambahkan 3 tetes pereaksi dragendorff pada 1 ml ekstrak. Uji positif ditunjukan dengan terbentuknya endapan jingga (Rizal dkk., 2018).

8. Penetapan dosis ekstrak etil asetat daun iler

Dosis ektrak yang digunakan dalam penelitian ini adalah tiga dosis bertingkat yaitu 50; 100 dan 200 mg/kgBB. Dosis yang digunakan berdasarkan penelitian Verawati dkk (2016) yaitu 200 mg/kgBB mencit sebagai dosis peringkat III, penetapan dosis tersebut dikarenakan senyawa antiinflamasi umumnya bekerja dengan menghambat sintesis prostaglandin sehingga senyawa yang berperan sebagai antiinflamasi juga berpotensi sebagai agen analgesik. Dosis peringkat II diperoleh dengan menurunkan ½ dari dosis peringkat III sehingga diperoleh dosis 100 mg/kgBB. Dosis peringkat I diperoleh dengan menurunkan ½ dari dosis peringkat II sehingga diperoleh dosis 50 mg/kgBB.

9. Pembuatan sediaan

a. Larutan asam asetat 1% 25 ml

Asam asetat 100% yang tersedia diambil dan dilakukan pengenceran untuk mendapatkan larutan asam asetat 1%. Volume pengambilan dihitung dengan menggunakan rumus : mengembang dan homogen. Selanjutnya dimasukkan kedalam labu ukur 100 ml dan ditambahkan aquades hingga tanda batas kemudian digojog.

c. Suspensi asetosal 1% 25 ml dalam CMC Na 25 ml

Suspensi dibuat dengan mensuspensikan 250 mg asetosal dalam CMC Na 1% pada labu ukur 25 ml.

d. Suspensi ekstrak etil asetat daun iler dosis 50 mg/kgBB, 100 mg/kgBB dan 200 mg/kgBB dengan larutan CMC Na 1%

10. Penentuan dosis asam asetat

Dosis yang digunakan didasarkan pada penelitian yang dilakukan sebelumnya yaitu 50 mg/kgBB mencit (Wulandari dan Hendra, 2011).

11. Penentuan dosis CMC-Na 1%

Dosis CMC-Na 1% diperoleh dengan menggunakan ½ volume maksimal yang dapat diberikan pada mencit dan berat badan mencit 20 gram.

D x BB = C x V

21

12. Penentuan dosis asetosal

Dosis lazim asetosal yang digunakan untuk manusia dengan berat badan 50 kg adalah 500 mg, selanjutnya dikonversikan pada mencit 20 gram dengan faktor konversi dari manusia 70 kg.

Dosis untuk manusia 70 kg = (70/50) x 500 mg

= 700 mg

Konversi dosis untuk mencit 20 g = dosis lazim x faktor konversi

= 700 mg x 0,0026

= 1,82 mg/20 gram

= 0,091 mg/gBB

= 91 mg/kgBB

Berdasarkan faktor konversi, didapatkan dosis asetosal sebesar 91 mg/kgBB.

13. Penentuan selang waktu pemberian rangsang

Selang waktu pemberian rangsang nyeri oleh asam asetat merupakan jeda antara pemberian senyawa uji secara peroral dengan pemberian injeksi asam asetat secara intraperitoneal. Pada saat selang waktu tersebut, zat uji diharapkan telah diabsorbsi sehingga dapat memberikan efek analgesik secara optimal. Selang waktu yang digunakan didasarkan pada penelitian yang telah dilakukan sebelumnya yaitu 15 menit. Pada selang waktu 15 menit, mencit menghasilkan jumlah geliat yang lebih sedikit dibanding selang waktu 5 dan 10 menit (Wulandari dan Hendra, 2011).

14. Perlakuan hewan uji

Mencit dikelompokkan secara acak kedalam 5 kelompok, masing-masing terdiri dari 5 ekor. Kelompok I sebagai kontrol negatif (CMC-Na 1%), kelompok II sebagai kontrol positif (asetosal 91 mg/kgBB) dan kelompok III, IV, V adalah perlakuan senyawa uji yang terdiri dari 3 peringkat dosis yaitu 50;

100; dan 200 mg/kgBB yang diberikan secara oral. Selanjutnya, diberikan asam asetat 1% sebagai rangsang kimia secara intraperitoneal setelah 15 menit.

Respon geliat dicatat tiap 5 menit selama 60 menit.

Gambar 4. Skema Alur Kerja 15. Penentuan persen proteksi geliat

Besarnya penghambatan jumlah geliat dihitung dengan persamaan berikut.

% Proteksi = 100 – [(P/K) x 100]

Keterangan:

P = Jumlah kumulatif geliat hewan uji pada kelompok percobaan

K = Jumlah rata-rata kumulatif geliat hewan uji kelompok kontrol negatif Perubahan % Proteksi Geliat terhadap kontrol positif dihitung dengan rumus:

Perubahan % proteksi geliat = (P–Kp) / Kp x 100%

Keterangan:

P = % proteksi geliat pada tiap kelompok perlakuan

Kp = Rata-rata proteksi geliat pada kelompok kontrol positif

(Paat dkk., 2018) G. Tata Cara Analisis Hasil

Data jumlah geliat yang diperoleh dikumulatifkan dan dianalisis dengan Shapiro Wilk Test untuk melihat distribusi data. Jika data terdistribusi normal, maka dilanjukan analisis variansi satu arah dengan taraf kepercayaan 95% untuk mengetahui ada tidaknya perbedaan antar kelompok uji. Nilai probabilitas yang lebih kecil dari 0,05 menunjukkan bahwa antar kelompok uji terdapat perbedaan.

23

Analisis dilanjutkan dengan uji Bonferroni untuk mengetahui kebermaknaan perbedaan antar kelompok. Jika diperoleh nilai p<0,05 maka terdapat perbedaan bermakna antar kelompok uji (Dewi, 2016). Jika data tidak terdistribusi normal, maka analisis dilanjutkan dengan Kruskal Wallis Test dengan taraf kepercayaan 95%. Jika bermakna secara statistik (p<0,05), maka analisis dilanjutkan dengan Mann Whitney Test untuk mengetahui perbedaan tiap kelompok perlakuan (Wilianto dan Wijayahadi, 2016).

24 BAB IV

HASIL DAN PEMBAHASAN

A. Determinasi Tanaman

Tanaman yang digunakan sebagai bahan dalam penelitian ini adalah daun iler. Determinasi tanaman dilakukan dengan mengamati hasil foto dua bagian tanaman yakni daun dan batang tanaman iler yang diperoleh dari Perumahan Taman Cemara, Krodan, Maguwoharjo, Depok, Sleman, Yogyakarta. Determinasi bertujuan untuk memperoleh kebenaran identitas secara jelas dari tanaman yang digunakan dalam penelitian dan menghindari adanya kesalahan dalam pengumpulan bahan penelitian (Diniatik, 2015). Determinasi dilakukan oleh Laboratorium Kebun Tanaman Obat Fakultas Farmasi Universitas Sanata Dharma Yogyakarta dengan nomor referensi 657/LKTO/Far-USD/II/2022. Berdasarkan hasil determinasi tersebut diperoleh hasil bahwa tanaman yang diuji merupakan tanaman iler (Coleus scutellarioides (L.) Benth) yang merupakan sinonim Coleus atropurpureus (L.) Benth. (Royal Botanic Gardens Kew, 2022) (Lampiran 2).

B. Pengajuan Ethical Clearance

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui efek analgesik ekstrak etil asetat daun iler pada mencit betina galur DDY yang diinduksi asam asetat 1%

secara intraperitoneal. Sebelum melakukan penelitian, dilakukan pembuatan Ethical Clearance sebagai syarat kelayakan penelitian dan telah disetujui oleh Komisi Etik Penelitian Kesehatan Fakultas Kedokteran Universitas Kristen Duta Wacana Yogyakarta dengan nomor referensi 1392/C.16/FK/2022 (Lampiran 1).

C. Pembuatan Simplisia dan Serbuk Simplisia Daun Iler

Daun iler yang digunakan merupakan daun segar yang berumur 4-6 bulan, berwarna ungu kemerahan, diambil sebanyak 1-6 lembar daun dari pucuk dan dipanen pada waktu pagi hari. Setelah dipanen, daun disortasi basah dengan cara memisahkan kotoran atau benda asing dari daun iler. Sortasi basah dilakukan untuk mengurangi atau menghilangkan bahan pengotor yang berpotensi menurunkan mutu simplisia (Widaryanto dan Azizah, 2018). Selanjutnya, daun iler dicuci dengan air mengalir hingga bersih untuk menghilangkan tanah atau

25

pengotor yang menempel pada daun (Wahyuni dkk., 2014). Daun iler kemudian ditiriskan lalu dikering anginkan dengan menyusun daun satu per satu di atas wadah dengan dasar anyaman bambu dan ditutup kain hitam pada bagian atasnya supaya tidak terkena sinar matahari langsung. Pengeringan dilanjutkan dengan menggunakan oven dengan suhu 50⁰C hingga daun benar-benar kering dan mudah dihancurkan. Pengeringan bertujuan untuk menurunkan kadar air yang terdapat pada sampel sehingga bahan tidak mudah mengalami kerusakan baik secara kimia, mikrobiologis maupun enzimatis (Widaryanto dan Azizah, 2018). Setelah daun kering, dilakukan penyerbukan dengan mesin penyerbuk. Pembuatan serbuk dilakukan untuk memperkecil ukuran partikel simplisia sehingga luas permukaan partikel akan lebih besar dan meningkatkan kemampuan pelarut untuk melarutkan senyawa aktif dari simplisia (Salamah dkk., 2017). Serbuk selanjutnya diayak dengan ayakan nomor 40 mesh hingga diperoleh serbuk simplisia daun iler yang halus. Hasil serbuk simplisia yang didapatkan adalah sebanyak 346,77 gram.

D. Pembuatan Ekstrak Etil Asetat Daun Iler

Ekstrak dibuat dengan cara maserasi, serbuk tanaman direndam dengan pelarut yang sesuai dalam wadah yang ditutup rapat pada suhu ruang (Badaring dkk., 2020). Serbuk simplisia sebanyak 100 gram dimasukkan kedalam erlenmeyer dan ditambahkan etil asetat sebanyak 1000 ml. Etil asetat yang digunakan merupakan pelarut yang bersifat semi polar sehingga diharapkan dapat menarik senyawa yang bersifat polar maupun nonpolar dari daun iler (Putri dkk., 2013). Selanjutnya, dilakukan pengadukan selama 6 jam dengan bantuan shaker dan didiamkan selama 18 jam pada suhu ruang. Pengadukan menggunakan shaker bertujuan untuk menghomogenkan senyawa yang mengalami kontak dengan pelarut sehingga diperoleh hasil ekstraksi yang maksimal (Mahasuari dkk., 2020).

Setelah perendaman, maserat dipisahkan dengan cara filtrasi menggunakan kertas saring dan corong buncher. Setelah proses filtrasi, selanjutnya dilakukan remaserasi dengan menambahkan kembali pelarut etil asetat pada erlenmeyer sebanyak 500 ml dengan proses yang sama. Proses remaserasi dilakukan untuk mendapatkan hasil ekstrak yang maksimal sehingga senyawa yang tersari akan lebih banyak (Kusuma dkk., 2018). Maserasi dilakukan sebanyak tiga kali dengan

dua kali pengulangan. Seluruh maserat disatukan dan dipekatkan menggunakan rotary evaporator (Kementerian Kesehatan RI, 2017). Penggunaan rotary evaporator bertujuan untuk memisahkan pelarut pada ekstrak setelah proses maserasi. Prinsip kerja rotary evaporator yaitu adanya proses penguapan pelarut ekstrak dibawah titik didihnya. Proses penguapan dibawah titik didih dikarenakan adanya tekanan yang menyebabkan uap pelarut mengembun dan selanjutnya terkumpul pada wadah penampung sehingga senyawa yang dipisahkan dari pelarut etil asetat tidak rusak oleh suhu tinggi (Monk, 2004). Selanjutnya, ekstrak dipindahkan ke dalam cawan porselen dan dipekatkan dengan oven hingga diperoleh bobot tetap. Penetapan bobot tetap dilakukan untuk menghilangkan pelarut etil asetat yang masih tertinggal pada ekstrak dengan cara menimbang ekstrak yang sudah di oven selama 1 jam hingga diperoleh perbedaan dua kali penimbangan berturut-turut tidak melebihi 0,5 mg pada timbangan analitik (Kementerian Kesehatan RI, 2017). Hasil akhir ekstrak etil asetat yang didapatkan adalah 8,2454 gram dengan persen rendemen sebesar 8,2454%.

E. Penetapan Kadar Air Ekstrak Etil Asetat Daun Iler

Penetapan kadar air dilakukan untuk mengetahui residu yang terdapat pada ekstrak kental. Penetapan kadar air ekstrak etil asetat daun iler dilakukan dengan menggunakan alat moisture balance. Prinsip kerja dari alat ini adalah dengan memanaskan sampel pada suhu tertentu hingga terjadinya penguapan dari kandungan lembab yang dimiliki sampel. Penguapan yang terjadi mengakibatkan massa sampel akan berkurang hingga proses penguapan berakhir. Panas yang dihasilkan bersumber dari lampu halogen, sehingga pemanasan dapat berlangsung dalam waktu yang singkat (Puteri dkk., 2018). Pada penelitian ini, digunakan 2 gram ekstrak kental yang diletakkan pada wadah sampel didalam moisture balance dengan suhu 105⁰C. Hasil uji kadar air yang terdapat pada ekstrak etil asetat daun iler adalah 18,061% (Lampiran 9).

F. Skrining Fitokimia Ekstrak Etil Asetat Daun Iler

Skrining fitokimia bertujuan untuk mengidentifikasi kandungan senyawa metabolit sekunder suatu bahan alam. Skrining fitokimia dapat dilakukan secara kualitatif maupun kuantitatif. Skrining fitokimia secara kualitatif dilakukan

27

dengan mereaksikan sampel dengan pereaksi tertentu (Vifta dan Advistasari, 2018). Pada penelitian ini, dilakukan uji kandungan flavonoid, alkaloid dan tanin.

Tabel I. Hasil Skrining Fitokimia Ekstrak Etil Asetat Daun Iler

Senyawa Uji Pengujian Hasil Keterangan Hasil

Flavonoid 1 ml ekstrak + 0,5 g serbuk Mg

+ 10 tetes HCl (+) Larutan Jingga Alkaloid 1 ml ekstrak + 3 tetes pereaksi

dragendorff (+) Endapan Jingga

Tanin 1 ml ekstrak + 3 tetes larutan

FeCl3 5% (-) Larutan berwarna coklat kemerahan Berdasarkan uji fitokimia ekstrak etil asetat daun iler, diperoleh hasil bahwa ekstrak tersebut mengandung senyawa flavonoid dan alkaloid. Kandungan flavonoid ditunjukkan dengan adanya perubahan warna sampel menjadi jingga setelah ditambahkan 0,5 gram serbuk Mg dan 10 tetes HCl (Rizal dkk., 2018).

Penambahan serbuk Mg dan HCL bertujuan untuk mereduksi inti benzopiron dalam struktur flavonoid sehingga terjadi pembentukan garam flavilium berwarna jingga (Dewi dkk., 2021). Flavonoid sebagai agen analgesik memiliki mekanisme menghambat produksi sitokin dan prostaglandin sehingga rasa nyeri akan berkurang (Verri dkk., 2012). Reaksi yang terjadi antara serbuk Mg dan HCl dengan senyawa flavonoid terlihat pada gambar 5.

Gambar 5. Reaksi Flavonoid dengan Serbuk Mg dan HCl (Ergina dkk., 2014)

Uji kandungan alkaloid pada ekstrak etil asetat daun iler juga menunjukkan bahwa ekstrak tersebut mengandung senyawa alkaloid yang ditunjukkan dengan terbentuknya endapan kuning atau jingga. Senyawa golongan alkaloid yang bersifat semipolar mengandung nitrogen sebagai bagian dari sistem siklik dan mengandung variasi substituen seperti gugus amina, amida, fenol dan metoksi yang dapat larut dalam pelarut semi polar (Rizal dkk., 2018). Senyawa alkaloid sebagai agen analgesik bekerja dengan mekanisme menghambat fosfolipase sehingga menyebabkan penurunan ketersediaan prekursor asam arakidonat yang diperlukan dalam sintesis prostaglandin (Hayfaa dkk., 2013).

Hasil uji kandungan tanin pada ekstrak etil asetat daun iler menunjukkan bahwa ekstrak tidak mengandung tanin, hal ini ditandai dengan terbentuknya larutan berwarna hijau hingga hitam setelah dilakukan penambahan 3 tetes larutan FeCl3 5% pada sampel (Rizal dkk., 2018). Tanin bekerja dengan mekanisme merangsang pelepasan enzim lipomodulin yang menyebabkan terhambatnya enzim fosfolipase, sehingga menyebabkan terputusnya jalur siklooksigenase dan lipooksigenase (Lara dkk., 2021).

G. Efek Analgesik Ekstrak Etil Asetat Daun Iler

Penelitian analgesik ini menggunakan metode rangsang kimia yang merupakan langkah pengujian awal untuk mengetahui ada atau tidaknya efek analgesik pada suatu senyawa. Metode ini cukup peka untuk menguji senyawa analgesik lemah, sederhana dan mudah untuk dilakukan (Prambudi, 2020).

Dalam penelitian ini, menggunakan 25 ekor mencit betina galur DDY yang dibagi secara acak kedalam 5 kelompok. Kelompok I merupakan kontrol negatif CMC-Na 1%; kelompok II sebagai kontrol positif asetosal; dan kelompok III, IV, V sebagai kelompok perlakuan ekstrak etil asetat daun iler dengan dosis 50; 100 dan 200 mg/kgBB. Semua kelompok diberikan perlakuan secara peroral, selanjutnya mencit diinjeksikan induktor nyeri berupa asam asetat 1% secara intraperitoneal setelah 15 menit. Respon nyeri akan ditunjukkan dengan adanya geliat berupa gerakan mencit menarik kedua kaki kedepan dan kebelakang hingga perut menempel pada alas pengamatan dan tubuh mencit terlihat memanjang.

Jumlah geliat mencit diamati setiap 5 menit selama 60 menit (Lara dkk., 2021).

29

Asam asetat merupakan senyawa iritan yang merusak jaringan lokal dan menyebabkan nyeri pada rongga perut saat pemberian intraperitoneal. Hal tersebut diakibatkan oleh naiknya ion H+ oleh karena turunnya pH di bawah 6 dan menyebabkan luka membran. Luka yang terbentuk akan mengaktifkan enzim fosfolipase pada fosfolipid membran sel dan menghasilkan asam arakidonat yang selanjutnya membentuk prostaglandin. Prostaglandin yang terbentuk akan meningkatkan sensitivitas reseptor nyeri sehingga mencit akan memberikan respon berupa geliat. Konsentrasi asam asetat yang digunakan adalah 1% dengan dosis 50 mg/kgBB (Wulandari dan Hendra, 2011).

Data yang diperoleh dari masing-masing kelompok perlakuan digunakan untuk menghitung persen proteksi dan perubahan persen proteksi. Persen proteksi dibandingkan dengan kontrol negatif, sedangkan perubahan persen proteksi senyawa uji dibandingkan dengan asetosal sebagai kontrol positif. Perhitungan persen proteksi geliat ditujukan untuk mengetahui besarnya proteksi yang diberikan ekstrak etil asetat daun iler terhadap induksi asam asetat, sedangkan perhitungan perubahan persen proteksi bertujuan untuk mengetahui besarnya perubahan proteksi asetosal dibandingkan dengan persen proteksi yang diberikan ekstrak etil asetat daun iler (Purnomo, 2018).

Hasil rata-rata jumlah kumulatif geliat mencit, persen proteksi dan perubahan persen proteksi ekstrk etil asetat daun iler disajikan dalam bentuk Mean

± Standard Error yang dapat dilihat pada tabel II. Data selanjutnya dianalisis secara statistik dengan Shapiro Wilk Test untuk mengetahui normalitas data. Hasil uji menunjukkan nilai p>0,05, sehingga dapat disimpulkan data terdistribusi normal. Selanjutnya, dilakukan analisis variansi satu arah untuk mengetahui ada tidaknya perbedaan antar kelompok uji. Hasil uji menunjukkan nilai p<0,05 yang berarti bahwa terdapat perbedaan antar kelompok uji. Setelah itu, dilakukan uji post hoc Bonferroni untuk mengetahui kelompok mana yang memiliki perbedaan bermakna. Hasil uji post hoc Bonferroni disajikan dalam tabel III.

Tabel II. Rata-rata Jumlah Geliat Mencit, % Proteksi dan Perubahan %

EEADI : Ekstrak Etil Asetat Daun Iler

Kontrol negatif yang digunakan dalam penelitian ini adalah CMC-Na 1%

yang merupakan pelarut asetosal dan pelarut ekstrak. Kontrol negatif CMC-Na menunjukkan rata jumlah kumulatif geliat, rata persen proteksi dan rata-rata perubahan persen proteksi geliat secara berturut-turut sebesar 99 ± 1,2; 0 ± 1,2; -100 ± 1,6. Tingginya jumlah geliat serta persen proteksi dan perubahan persen proteksi yang sangat rendah menunjukkan bahwa asam asetat mampu menginduksi nyeri dan CMC-Na sebagai kontrol negatif tidak memiliki aktivitas analgesik karena tidak mengandung zat aktif (Keswara dan Handayani, 2019).

Pada tabel II, kontrol positif asetosal memiliki jumlah rata-rata kumulatif

Pada tabel II, kontrol positif asetosal memiliki jumlah rata-rata kumulatif

Dokumen terkait