• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB III METODE PENELITIAN

F. Tata Cara Penelitian

14. Perlakuan hewan uji

Mencit dikelompokkan secara acak kedalam 5 kelompok, masing-masing terdiri dari 5 ekor. Kelompok I sebagai kontrol negatif (CMC-Na 1%), kelompok II sebagai kontrol positif (asetosal 91 mg/kgBB) dan kelompok III, IV, V adalah perlakuan senyawa uji yang terdiri dari 3 peringkat dosis yaitu 50;

100; dan 200 mg/kgBB yang diberikan secara oral. Selanjutnya, diberikan asam asetat 1% sebagai rangsang kimia secara intraperitoneal setelah 15 menit.

Respon geliat dicatat tiap 5 menit selama 60 menit.

Gambar 4. Skema Alur Kerja 15. Penentuan persen proteksi geliat

Besarnya penghambatan jumlah geliat dihitung dengan persamaan berikut.

% Proteksi = 100 – [(P/K) x 100]

Keterangan:

P = Jumlah kumulatif geliat hewan uji pada kelompok percobaan

K = Jumlah rata-rata kumulatif geliat hewan uji kelompok kontrol negatif Perubahan % Proteksi Geliat terhadap kontrol positif dihitung dengan rumus:

Perubahan % proteksi geliat = (P–Kp) / Kp x 100%

Keterangan:

P = % proteksi geliat pada tiap kelompok perlakuan

Kp = Rata-rata proteksi geliat pada kelompok kontrol positif

(Paat dkk., 2018) G. Tata Cara Analisis Hasil

Data jumlah geliat yang diperoleh dikumulatifkan dan dianalisis dengan Shapiro Wilk Test untuk melihat distribusi data. Jika data terdistribusi normal, maka dilanjukan analisis variansi satu arah dengan taraf kepercayaan 95% untuk mengetahui ada tidaknya perbedaan antar kelompok uji. Nilai probabilitas yang lebih kecil dari 0,05 menunjukkan bahwa antar kelompok uji terdapat perbedaan.

23

Analisis dilanjutkan dengan uji Bonferroni untuk mengetahui kebermaknaan perbedaan antar kelompok. Jika diperoleh nilai p<0,05 maka terdapat perbedaan bermakna antar kelompok uji (Dewi, 2016). Jika data tidak terdistribusi normal, maka analisis dilanjutkan dengan Kruskal Wallis Test dengan taraf kepercayaan 95%. Jika bermakna secara statistik (p<0,05), maka analisis dilanjutkan dengan Mann Whitney Test untuk mengetahui perbedaan tiap kelompok perlakuan (Wilianto dan Wijayahadi, 2016).

24 BAB IV

HASIL DAN PEMBAHASAN

A. Determinasi Tanaman

Tanaman yang digunakan sebagai bahan dalam penelitian ini adalah daun iler. Determinasi tanaman dilakukan dengan mengamati hasil foto dua bagian tanaman yakni daun dan batang tanaman iler yang diperoleh dari Perumahan Taman Cemara, Krodan, Maguwoharjo, Depok, Sleman, Yogyakarta. Determinasi bertujuan untuk memperoleh kebenaran identitas secara jelas dari tanaman yang digunakan dalam penelitian dan menghindari adanya kesalahan dalam pengumpulan bahan penelitian (Diniatik, 2015). Determinasi dilakukan oleh Laboratorium Kebun Tanaman Obat Fakultas Farmasi Universitas Sanata Dharma Yogyakarta dengan nomor referensi 657/LKTO/Far-USD/II/2022. Berdasarkan hasil determinasi tersebut diperoleh hasil bahwa tanaman yang diuji merupakan tanaman iler (Coleus scutellarioides (L.) Benth) yang merupakan sinonim Coleus atropurpureus (L.) Benth. (Royal Botanic Gardens Kew, 2022) (Lampiran 2).

B. Pengajuan Ethical Clearance

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui efek analgesik ekstrak etil asetat daun iler pada mencit betina galur DDY yang diinduksi asam asetat 1%

secara intraperitoneal. Sebelum melakukan penelitian, dilakukan pembuatan Ethical Clearance sebagai syarat kelayakan penelitian dan telah disetujui oleh Komisi Etik Penelitian Kesehatan Fakultas Kedokteran Universitas Kristen Duta Wacana Yogyakarta dengan nomor referensi 1392/C.16/FK/2022 (Lampiran 1).

C. Pembuatan Simplisia dan Serbuk Simplisia Daun Iler

Daun iler yang digunakan merupakan daun segar yang berumur 4-6 bulan, berwarna ungu kemerahan, diambil sebanyak 1-6 lembar daun dari pucuk dan dipanen pada waktu pagi hari. Setelah dipanen, daun disortasi basah dengan cara memisahkan kotoran atau benda asing dari daun iler. Sortasi basah dilakukan untuk mengurangi atau menghilangkan bahan pengotor yang berpotensi menurunkan mutu simplisia (Widaryanto dan Azizah, 2018). Selanjutnya, daun iler dicuci dengan air mengalir hingga bersih untuk menghilangkan tanah atau

25

pengotor yang menempel pada daun (Wahyuni dkk., 2014). Daun iler kemudian ditiriskan lalu dikering anginkan dengan menyusun daun satu per satu di atas wadah dengan dasar anyaman bambu dan ditutup kain hitam pada bagian atasnya supaya tidak terkena sinar matahari langsung. Pengeringan dilanjutkan dengan menggunakan oven dengan suhu 50⁰C hingga daun benar-benar kering dan mudah dihancurkan. Pengeringan bertujuan untuk menurunkan kadar air yang terdapat pada sampel sehingga bahan tidak mudah mengalami kerusakan baik secara kimia, mikrobiologis maupun enzimatis (Widaryanto dan Azizah, 2018). Setelah daun kering, dilakukan penyerbukan dengan mesin penyerbuk. Pembuatan serbuk dilakukan untuk memperkecil ukuran partikel simplisia sehingga luas permukaan partikel akan lebih besar dan meningkatkan kemampuan pelarut untuk melarutkan senyawa aktif dari simplisia (Salamah dkk., 2017). Serbuk selanjutnya diayak dengan ayakan nomor 40 mesh hingga diperoleh serbuk simplisia daun iler yang halus. Hasil serbuk simplisia yang didapatkan adalah sebanyak 346,77 gram.

D. Pembuatan Ekstrak Etil Asetat Daun Iler

Ekstrak dibuat dengan cara maserasi, serbuk tanaman direndam dengan pelarut yang sesuai dalam wadah yang ditutup rapat pada suhu ruang (Badaring dkk., 2020). Serbuk simplisia sebanyak 100 gram dimasukkan kedalam erlenmeyer dan ditambahkan etil asetat sebanyak 1000 ml. Etil asetat yang digunakan merupakan pelarut yang bersifat semi polar sehingga diharapkan dapat menarik senyawa yang bersifat polar maupun nonpolar dari daun iler (Putri dkk., 2013). Selanjutnya, dilakukan pengadukan selama 6 jam dengan bantuan shaker dan didiamkan selama 18 jam pada suhu ruang. Pengadukan menggunakan shaker bertujuan untuk menghomogenkan senyawa yang mengalami kontak dengan pelarut sehingga diperoleh hasil ekstraksi yang maksimal (Mahasuari dkk., 2020).

Setelah perendaman, maserat dipisahkan dengan cara filtrasi menggunakan kertas saring dan corong buncher. Setelah proses filtrasi, selanjutnya dilakukan remaserasi dengan menambahkan kembali pelarut etil asetat pada erlenmeyer sebanyak 500 ml dengan proses yang sama. Proses remaserasi dilakukan untuk mendapatkan hasil ekstrak yang maksimal sehingga senyawa yang tersari akan lebih banyak (Kusuma dkk., 2018). Maserasi dilakukan sebanyak tiga kali dengan

dua kali pengulangan. Seluruh maserat disatukan dan dipekatkan menggunakan rotary evaporator (Kementerian Kesehatan RI, 2017). Penggunaan rotary evaporator bertujuan untuk memisahkan pelarut pada ekstrak setelah proses maserasi. Prinsip kerja rotary evaporator yaitu adanya proses penguapan pelarut ekstrak dibawah titik didihnya. Proses penguapan dibawah titik didih dikarenakan adanya tekanan yang menyebabkan uap pelarut mengembun dan selanjutnya terkumpul pada wadah penampung sehingga senyawa yang dipisahkan dari pelarut etil asetat tidak rusak oleh suhu tinggi (Monk, 2004). Selanjutnya, ekstrak dipindahkan ke dalam cawan porselen dan dipekatkan dengan oven hingga diperoleh bobot tetap. Penetapan bobot tetap dilakukan untuk menghilangkan pelarut etil asetat yang masih tertinggal pada ekstrak dengan cara menimbang ekstrak yang sudah di oven selama 1 jam hingga diperoleh perbedaan dua kali penimbangan berturut-turut tidak melebihi 0,5 mg pada timbangan analitik (Kementerian Kesehatan RI, 2017). Hasil akhir ekstrak etil asetat yang didapatkan adalah 8,2454 gram dengan persen rendemen sebesar 8,2454%.

E. Penetapan Kadar Air Ekstrak Etil Asetat Daun Iler

Penetapan kadar air dilakukan untuk mengetahui residu yang terdapat pada ekstrak kental. Penetapan kadar air ekstrak etil asetat daun iler dilakukan dengan menggunakan alat moisture balance. Prinsip kerja dari alat ini adalah dengan memanaskan sampel pada suhu tertentu hingga terjadinya penguapan dari kandungan lembab yang dimiliki sampel. Penguapan yang terjadi mengakibatkan massa sampel akan berkurang hingga proses penguapan berakhir. Panas yang dihasilkan bersumber dari lampu halogen, sehingga pemanasan dapat berlangsung dalam waktu yang singkat (Puteri dkk., 2018). Pada penelitian ini, digunakan 2 gram ekstrak kental yang diletakkan pada wadah sampel didalam moisture balance dengan suhu 105⁰C. Hasil uji kadar air yang terdapat pada ekstrak etil asetat daun iler adalah 18,061% (Lampiran 9).

F. Skrining Fitokimia Ekstrak Etil Asetat Daun Iler

Skrining fitokimia bertujuan untuk mengidentifikasi kandungan senyawa metabolit sekunder suatu bahan alam. Skrining fitokimia dapat dilakukan secara kualitatif maupun kuantitatif. Skrining fitokimia secara kualitatif dilakukan

27

dengan mereaksikan sampel dengan pereaksi tertentu (Vifta dan Advistasari, 2018). Pada penelitian ini, dilakukan uji kandungan flavonoid, alkaloid dan tanin.

Tabel I. Hasil Skrining Fitokimia Ekstrak Etil Asetat Daun Iler

Senyawa Uji Pengujian Hasil Keterangan Hasil

Flavonoid 1 ml ekstrak + 0,5 g serbuk Mg

+ 10 tetes HCl (+) Larutan Jingga Alkaloid 1 ml ekstrak + 3 tetes pereaksi

dragendorff (+) Endapan Jingga

Tanin 1 ml ekstrak + 3 tetes larutan

FeCl3 5% (-) Larutan berwarna coklat kemerahan Berdasarkan uji fitokimia ekstrak etil asetat daun iler, diperoleh hasil bahwa ekstrak tersebut mengandung senyawa flavonoid dan alkaloid. Kandungan flavonoid ditunjukkan dengan adanya perubahan warna sampel menjadi jingga setelah ditambahkan 0,5 gram serbuk Mg dan 10 tetes HCl (Rizal dkk., 2018).

Penambahan serbuk Mg dan HCL bertujuan untuk mereduksi inti benzopiron dalam struktur flavonoid sehingga terjadi pembentukan garam flavilium berwarna jingga (Dewi dkk., 2021). Flavonoid sebagai agen analgesik memiliki mekanisme menghambat produksi sitokin dan prostaglandin sehingga rasa nyeri akan berkurang (Verri dkk., 2012). Reaksi yang terjadi antara serbuk Mg dan HCl dengan senyawa flavonoid terlihat pada gambar 5.

Gambar 5. Reaksi Flavonoid dengan Serbuk Mg dan HCl (Ergina dkk., 2014)

Uji kandungan alkaloid pada ekstrak etil asetat daun iler juga menunjukkan bahwa ekstrak tersebut mengandung senyawa alkaloid yang ditunjukkan dengan terbentuknya endapan kuning atau jingga. Senyawa golongan alkaloid yang bersifat semipolar mengandung nitrogen sebagai bagian dari sistem siklik dan mengandung variasi substituen seperti gugus amina, amida, fenol dan metoksi yang dapat larut dalam pelarut semi polar (Rizal dkk., 2018). Senyawa alkaloid sebagai agen analgesik bekerja dengan mekanisme menghambat fosfolipase sehingga menyebabkan penurunan ketersediaan prekursor asam arakidonat yang diperlukan dalam sintesis prostaglandin (Hayfaa dkk., 2013).

Hasil uji kandungan tanin pada ekstrak etil asetat daun iler menunjukkan bahwa ekstrak tidak mengandung tanin, hal ini ditandai dengan terbentuknya larutan berwarna hijau hingga hitam setelah dilakukan penambahan 3 tetes larutan FeCl3 5% pada sampel (Rizal dkk., 2018). Tanin bekerja dengan mekanisme merangsang pelepasan enzim lipomodulin yang menyebabkan terhambatnya enzim fosfolipase, sehingga menyebabkan terputusnya jalur siklooksigenase dan lipooksigenase (Lara dkk., 2021).

G. Efek Analgesik Ekstrak Etil Asetat Daun Iler

Penelitian analgesik ini menggunakan metode rangsang kimia yang merupakan langkah pengujian awal untuk mengetahui ada atau tidaknya efek analgesik pada suatu senyawa. Metode ini cukup peka untuk menguji senyawa analgesik lemah, sederhana dan mudah untuk dilakukan (Prambudi, 2020).

Dalam penelitian ini, menggunakan 25 ekor mencit betina galur DDY yang dibagi secara acak kedalam 5 kelompok. Kelompok I merupakan kontrol negatif CMC-Na 1%; kelompok II sebagai kontrol positif asetosal; dan kelompok III, IV, V sebagai kelompok perlakuan ekstrak etil asetat daun iler dengan dosis 50; 100 dan 200 mg/kgBB. Semua kelompok diberikan perlakuan secara peroral, selanjutnya mencit diinjeksikan induktor nyeri berupa asam asetat 1% secara intraperitoneal setelah 15 menit. Respon nyeri akan ditunjukkan dengan adanya geliat berupa gerakan mencit menarik kedua kaki kedepan dan kebelakang hingga perut menempel pada alas pengamatan dan tubuh mencit terlihat memanjang.

Jumlah geliat mencit diamati setiap 5 menit selama 60 menit (Lara dkk., 2021).

29

Asam asetat merupakan senyawa iritan yang merusak jaringan lokal dan menyebabkan nyeri pada rongga perut saat pemberian intraperitoneal. Hal tersebut diakibatkan oleh naiknya ion H+ oleh karena turunnya pH di bawah 6 dan menyebabkan luka membran. Luka yang terbentuk akan mengaktifkan enzim fosfolipase pada fosfolipid membran sel dan menghasilkan asam arakidonat yang selanjutnya membentuk prostaglandin. Prostaglandin yang terbentuk akan meningkatkan sensitivitas reseptor nyeri sehingga mencit akan memberikan respon berupa geliat. Konsentrasi asam asetat yang digunakan adalah 1% dengan dosis 50 mg/kgBB (Wulandari dan Hendra, 2011).

Data yang diperoleh dari masing-masing kelompok perlakuan digunakan untuk menghitung persen proteksi dan perubahan persen proteksi. Persen proteksi dibandingkan dengan kontrol negatif, sedangkan perubahan persen proteksi senyawa uji dibandingkan dengan asetosal sebagai kontrol positif. Perhitungan persen proteksi geliat ditujukan untuk mengetahui besarnya proteksi yang diberikan ekstrak etil asetat daun iler terhadap induksi asam asetat, sedangkan perhitungan perubahan persen proteksi bertujuan untuk mengetahui besarnya perubahan proteksi asetosal dibandingkan dengan persen proteksi yang diberikan ekstrak etil asetat daun iler (Purnomo, 2018).

Hasil rata-rata jumlah kumulatif geliat mencit, persen proteksi dan perubahan persen proteksi ekstrk etil asetat daun iler disajikan dalam bentuk Mean

± Standard Error yang dapat dilihat pada tabel II. Data selanjutnya dianalisis secara statistik dengan Shapiro Wilk Test untuk mengetahui normalitas data. Hasil uji menunjukkan nilai p>0,05, sehingga dapat disimpulkan data terdistribusi normal. Selanjutnya, dilakukan analisis variansi satu arah untuk mengetahui ada tidaknya perbedaan antar kelompok uji. Hasil uji menunjukkan nilai p<0,05 yang berarti bahwa terdapat perbedaan antar kelompok uji. Setelah itu, dilakukan uji post hoc Bonferroni untuk mengetahui kelompok mana yang memiliki perbedaan bermakna. Hasil uji post hoc Bonferroni disajikan dalam tabel III.

Tabel II. Rata-rata Jumlah Geliat Mencit, % Proteksi dan Perubahan %

EEADI : Ekstrak Etil Asetat Daun Iler

Kontrol negatif yang digunakan dalam penelitian ini adalah CMC-Na 1%

yang merupakan pelarut asetosal dan pelarut ekstrak. Kontrol negatif CMC-Na menunjukkan rata jumlah kumulatif geliat, rata persen proteksi dan rata-rata perubahan persen proteksi geliat secara berturut-turut sebesar 99 ± 1,2; 0 ± 1,2; -100 ± 1,6. Tingginya jumlah geliat serta persen proteksi dan perubahan persen proteksi yang sangat rendah menunjukkan bahwa asam asetat mampu menginduksi nyeri dan CMC-Na sebagai kontrol negatif tidak memiliki aktivitas analgesik karena tidak mengandung zat aktif (Keswara dan Handayani, 2019).

Pada tabel II, kontrol positif asetosal memiliki jumlah rata-rata kumulatif geliat sebesar 21,8 ± 1. Nilai rata-rata persen proteksi dan rata-rata perubahan persen proteksi asetosal secara berturut-turut adalah 78 ± 1 dan 0 ± 1,3. Hal ini membuktikan bahwa asetosal memiliki aktivitas analgesik yang ditunjukkan dengan nilai persen proteksi ≥50% (Yayasan Pengembangan Obat Bahan Alami

31

Phytomedika, 1991). Dosis asetosal yang digunakan adalah 91 mg/kgBB dan bekerja dengan menghambat prostaglandin. Prostaglandin yang dilepaskan akan meningkatkan sensitivitas reseptor nyeri, sehingga menyebabkan nyeri.

Penghambatan produksi prostaglandin akan mengakibatkan pesan nyeri yang disampaikan dari reseptor nyeri ke otak menjadi berkurang (Ford dan Roach, 2010).

Tabel III. Hasil Analisis Bonferroni Test Terhadap Rata-rata Jumlah Geliat,

% Proteksi dan Perubahan % Proteksi Kontrol

BB : Berbeda Bermakna (p<0,05) BTB : Berbeda Tidak Bermakna (p>0,05)

Pada tabel III didapatkan bahwa hasil analisis antara kelompok kontrol negatif dengan kontrol positif berbeda bermakna.

Pada tabel II disajikan data rata-rata geliat dari tiga peringkat dosis ekstrak etil asetat daun iler 50; 100; dan 200 mg/kgBB secara berturut-turut yaitu 47,2 ± 1,7; 41,8 ± 1,6; dan 34 ± 1,5. Selain itu, diperoleh juga nilai rata-rata persen proteksi dari dosis terendah hingga tertinggi yaitu 52,3 ± 1,7; 57,8 ± 1,6 dan 65,7 ± 1,5. Data yang diperoleh selanjutnya diolah menggunakan statistik dan diperoleh bahwa ketiga kelompok perlakuan dengan kelompok kontrol negatif

memiliki perbedaan yang bermakna. Perbedaan bermakna tersebut menandakan bahwa sediaan ekstrak etil asetat daun iler dapat memberikan proteksi terhadap nyeri dan ditandai dengan penurunan jumlah geliat pada mencit yang telah diinduksi dengan asam asetat 1% secara intraperitoneal pada kelompok perlakuan dibandingkan dengan kelompok kontrol negatif CMC-Na.

Apabila ketiga peringkat dosis dibandingkan dengan kontrol positif, terlihat bahwa tiga kelompok dosis tidak memiliki efek analgesik sebesar asetosal sebagai kontrol positif. Hal ini terlihat pada hasil analisis uji statistik dari tiga kelompok dosis yang berbeda bermakna dengan kontrol positif asetosal dosis 91 mg/kgBB. Berdasarkan pada tabel II, ketiga dosis memiliki persen proteksi yang lebih rendah dibandingkan dengan asetosal. Dosis 50; 100 dan 200 mg/kgBB memiliki persen proteksi secara berturut-turut adalah sebesar 52,3 ± 1,7; 57,8 ± 1,6; dan 65,7 ± 1,5. Sedangkan, asetosal dosis 91 mg/kgBB memiliki persen proteksi yang lebih tinggi yaitu sebesar 78 ± 1. Dosis ekstrak etil asetat daun iler yang digunakan masih dapat ditingkatkan untuk memperoleh dosis dengan persen proteksi yang sebanding dengan asetosal 91 mg/kgBB.

Pada tabel II juga disajikan data rata-rata perubahan persen proteksi tiga kelompok dosis 50; 100; dan 200 mg/kgBB secara berturut-turut adalah sebesar -32,9 ± 2,2; -25,9 ± 2,1 dan -15,8 ± 2. Berdasarkan data pada tabel III, diperoleh hasil uji statistik bahwa dosis 50 mg/kgBB berbeda bermakna dengan dosis 200 mg/kgBB dan berbeda tidak bermakna dengan dosis 100 mg/kgBB. Sedangkan, dosis 100 mg/kgBB berbeda bermakna dengan dosis 200 mg/kgBB. Hal ini menandakan bahwa dosis 200 mg/kgBB memiliki proteksi yang lebih baik bila dibandingkan dengan dosis 50 mgkgBB dan dosis 50 mg/kgBB dengan dosis 100 mg/kgBB memiliki efek analgesik yang hampir sama.

Suatu senyawa dikatakan memiliki efek analgesik apabila mampu mengurangi nyeri dengan persen proteksi ≥50% (Yayasan Pengembangan Obat Bahan Alami Phytomedika, 1991). Pada tabel II terlihat nilai persen proteksi dari tiga kelompok perlakuan ekstrak etil asetat daun iler dosis 50; 100 dan 200 mg/kgBB secara berturut-turut adalah 52,3 ± 1,7; 57,8 ± 1,6 dan 65,7 ± 1,5.

33

Berdasarkan data tersebut, maka dapat dikatakan bahwa ketiga peringkat dosis ekstrak etil asetat daun iler memiliki efek analgesik.

Berdasarkan uraian di atas, diketahui bahwa ekstrak etil asetat daun iler dosis 50 mg/kgBB memiliki efek yang sama besar dengan ekstrak etil asetat daun iler dosis 100 mg/kgBB. Sedangkan, dosis 200 mg/kgBB memiliki efek analgesik yang lebih besar dibandingkan dengan dosis 50 mg/kgBB dan 100 mg/kgBB. Hal ini dibuktikan dengan hasil analisis Bonferroni Test yang menunjukkan bahwa dosis 50 mg/kgBB berbeda tidak bermakna dengan dosis 100 mg/kgBB dan berbeda bermakna dengan dosis 200 mg/kgBB. Dosis 100 mg/kgBB berbeda bermakna dengan dosis 200 mg/kgBB.

Tumbuhan iler memiliki beberapa senyawa kimia, diantaranya adalah flavonoid dan alkaloid. Senyawa flavonoid diduga memiliki efek analgesik dengan mekanisme menghambat produksi sitokin dan prostaglandin sehingga rasa nyeri akan berkurang (Verri dkk., 2012). Senyawa alkaloid sebagai agen analgesik bekerja dengan mekanisme menghambat fosfolipase sehingga menyebabkan penurunan ketersediaan prekursor asam arakidonat yang diperlukan dalam sintesis prostaglandin (Hayfaa dkk., 2013).

34 BAB V

KESIMPULAN DAN SARAN

A. Kesimpulan

1. Ekstrak etil asetat daun iler dosis 50; 100 dan 200 mg/kgBB memiliki efek analgesik terhadap mencit betina galur DDY yang terinduksi asam asetat.

2. Kelompok perlakuan ekstrak etil asetat daun iler dosis 50; 100 dan 200 mg/kgBB secara berturut-turut memiliki persen proteksi sebesar 52,3; 57,8;

dan 65,7 %.

B. Saran

Pada penelitian ini, ekstrak etil asetat daun iler dosis 50; 100; dan 200 mg/kgBB memiliki efek analgesik yang tidak sebanding dengan asetosal dosis 91 mh/kgBB. Apabila kedepannya akan dilakukan penelitian yang serupa, maka dosis yang digunakan dapat ditingkatkan untuk memperoleh dosis dengan persen proteksi yang sebanding dengan asetosal 91 mg/kgBB.

35

DAFTAR PUSTAKA

Argoff, C.E., Dubin, A., Pilitsis, J.G., 2018. Pain Management Secrets, 4th ed.

Elsevier.

Badaring, D.R., Sari, S.P.M., Nurhabiba, S., Wulan, W., Lembang, S.A.R., 2020.

Uji Ekstrak Daun Maja (Aegle marmelos L.) terhadap Pertumbuhan Bakteri Escherichia coli dan Staphylococcus aureus. Indonesian Journal of Fundamental Sciences (IJFS), 6(1), 16–26.

Badrunasar, A., Santoso, H.B., 2017. Tumbuhan Liar Berkhasiat Obat. Forda Press, Bogor.

Bahrudin, M., 2017. Patofisiologi Nyeri (Pain). Saintika Medika, 13(1), 7–13.

Benjamin, S.G., Yudistira, A., Rotinsulu, H., 2020. Uji Efek Antipiretik Ekstrak Etanol Daun Miana(Coleus Scutellarioides [L]) Benth Pada Tikus Putih Jantan Galur Wistar (Rattus Norvegicus). Pharmacon, 9(1), 55–62.

Dalimartha, S. 2000. Atlas Tumbuhan Indonesia Jilid 2. Trubus Agriwidya, Jakarta.

Departemen Kesehatan, 2000. Parameter Standar Umum Ekstrak Tumbuhan Obat. Departemen Kesehatan RI, Jakarta.

Depkes RI, 2020. Farmakope Indonesia Edisi VI. Kementerian Kesehatan RI, Jakarta.

Dewi, I.S., Saptawati, T., Rachma, F.A., 2021. Skrining Fitokimia Ekstrak Etanol Kulit dan Biji Terong Belanda (Solanum betaceum Cav.). Prosiding Seminar Nasional UNIMUS, 4, 1210–1218.

Dewi, N.K.P.A., 2016. Uji Aktivitas Analgesik Ekstrak Metanol Biji Alpukat (Persea americana Mill.) Pada Mencit Betina Terinduksi Asam Asetat.

Universitas Sanata Dharma, Yogyakarta.

Diniatik, 2015. Penentuan Kadar Flavonoid Total Ekstrak Etanolik Daun Kepel (Stelechocarpus burahol (BI.) Hook f. & Th.) Dengan Metode Spektrofotometri. Kartika Jurnal Ilmiah Farmasi, 3(1), 1–5.

Dipiro, J.T., Talbert, R.L., Yee, G.C., Matzke, G.R., Wells, B.G., Posey, L.M., 2011. Pharmacotherapy A Pathophysiologic Approach, 8th ed. Mc Graw Hill Medical, New York.

Ergina, Nuryanti, S., Puspitasari, I.D., 2014. Uji Kualitatif Senyawa Metabolit Sekunder Pada Daun Palado (Agave angustifolia) Yang Diekstrakis

Dengan Pelarut Air dan Etanol. Jurnal Akademika Kimia, 3(3), 165–172.

Fitriyanti, Hikmah, N., Astuti, K.I., 2020. Efek Antiinflamasi Infusa Bunga Asoka (Ixora coccinea l) pada Tikus Jantan yang Diinduksi Karagenan. Jurnal Sains dan Kesehatan, 2(4), 355–359.

Ford, S.M., Roach, S.S., 2010. Roach’s Introductory Clinical Pharmacology, 9th ed. Lippincott Wiliams & Wilkins, USA.

Hayfaa, A.A., Sahar, A.A.M.A., Awatif, M.A., 2013. Evaluation of Analgesic Activity and Toxicity of Alkaloids in Myristica fragans Seeds in Mice.

Journal of Pain Research, 3(6), 611-615.

Indijah, S.W., Fajri, P., 2016. Farmakologi. Pusdik SDM Kesehatan, Jakarta.

Jumadil, R., Manjang, Y., Afrizal, 2016. Isolasi dan Karakterisasi Senyawa Metabolit Sekunder Dari Fraksi Etil Asetat Daun Miana (Plecatranthus Scutellariodes, (L)) Sebagai Antioksidan. Jurnal Kimia Unand, 5(3), 21–

24.

Kementerian Kesehatan RI, 2017. Farmakope Herbal Indonesia Edisi II.

Kementrian Kesehatan RI, Jakarta.

Kementerian Kesehatan RI, 2011. 100 Top Tanaman Obat Indonesia.

Kementerian Kesehatan RI, Jakarta.

Keswara, Y.D., Handayani, S.R., 2019. Uji Aktivitas Analgetik Ekstrak Etanol Daun Inggu (Ruta angustifolia [l.] Pers) Pada Tikus Putih Jantan. Journal Syifa Sciences and Clinical Research, 1(2), 57–69.

Kuntari, Aprianto, T., Noor, R.H., Baruji, 2017. Verifikasi Metode Penentuan Asetosal Dalam Obat Sakit Kepala Dengan Metode Spektrofotometri UV. JST (Jurnal Sains dan Teknologi), 6(1), 31–40.

Kusuma, A.T., Adelah, A., Abidin, Z., Najib, A., 2018. Penentuan Kadar Flavonoid Ekstrak Etil Asetat Daun Sukun (Artocarpus altilis). ad-Dawaa’Jour.Pharm.Sci, 1(1), 25–31.

Lara, A.D., Elisma, K, F.S., 2021. Uji Aktivitas Analgesik Infusa Daun Jeruju (Acanthus ilicifolius L.) Pada Mencit Putih Jantan (Mus musculus).

Indonesian Journal of Pharma Science, 3(2), 71–80.

Lenny, S., Zuhra, C.F., Marpaung, L., 2014. Improvement of Purity Silicon Obtained from Natural Sand by Antioxidant and Antimicrobial Activities from Leaves of Coleus atropurpureus Benth. Proceedings of the 2nd International Conference on Natural and Environmental Sciences

37

(ICONES), 141–154.

Lumbessy, M., Abidjulu, J., Paendong, J.J.E., 2013. Uji Total Flavonoid Pada Beberapa Tanaman Obat Tradisonal Di Desa Waitina Kecamatan Mangoli Timur Kabupaten Kepulauan Sula Provinsi Maluku Utara.

Jurnal MIPA Unsrat Online, 2(1), 50–55.

Mahasuari, N. P. S., Paramita, N. L. P. V., Putra, A.A. G. R. Y., 2020. Effect of Methanol Concentration as a Solvent on Total Phenolic and Flavonoid Content of Beluntas Leaf Extract (Pulchea indica L.). Journal of Pharmaceutical Science and Application, 2(2), 77-84.

Moelyono, M.W., Rochjana, A.U.H., Diantini, A., Musfiroh, I., Sumiwi, S.A., Iskandar, Y., Susilawati, Y., 2016. Aktivitas Antioksidan Daun Iler Plectranthus scutellarioides (L.) R. Br. Jurnal Farmasi Indonesia, 8(1), 271–276.

Monk, P., 2004. Physical Chemistry Understanding Our Chemical World. John Wiley & Sons Ltd, England.

Mukhriani, 2014. Ekstraksi, Pemisahan Senyawa, Dan Identifikasi Senyawa Aktif. Jurnal Kesehatan, 7(2), 361–367.

Mukhriani, 2014. Ekstraksi, Pemisahan Senyawa, Dan Identifikasi Senyawa Aktif. Jurnal Kesehatan, 7(2), 361–367.

Dokumen terkait