BAB II KAJIAN PUSTAKA
2.2 Infeksi HIV selama kehamilan
2.2.3 Efek Kehamilan terhadap progresivitas penyakit HIV/AIDS…
Data yang didapat dari negara berkembang menunjukkan bahwa kehamilan tidak meningkatkan progresivitas dari penyakit HIV/AIDS. Pada penelitian
prospective lebih dari 4000 wanita di Malawi, MMR adalah sebesar 370 per 100.000
wanita dan angka kematian diantara 6 minggu dan 1 tahun post partum adalah 341 per 100.000 kelahiran hidup. AIDS dan anemia merupakan faktor utama kematian post kehamilan. Di Zaire, angka kematian maternal ibu yang terinfeksi HIV 10 kali lebih tinggi dibandingkan ibu yang tidak terinfeksi HIV, dimana 22% dari ibu yang terinfeksi tersebut ada pada kondisi tubuh yang sangat menurun selama di follow up dalam periode 3 tahun (Hammilil et al., 2004; McIntyre, 2003).
John dan kawan kawan telah menunjukkan adanya hubungan yang menarik antara polimorfisme CCR5 dengan peningkatan kematian pasca kehamilan pada penelitian cohort di Kenya. Pada penelitian tersebut, ibu dengan genotip 5936 C/T memiliki risiko meninggal hingga 3,1 kali lipat dalam periode 2 tahun dan peningkatan jumlah HIV-1 secara signifikan di vagina, dibandingkan dengan wanita dengan genotip 59356 C/C. Hal ini menandakan bahwa banyak faktor seperti nutrisi dan genetika, yang berpengaruh terhadap progresivitas infeksi HIV selama dan sesudah kehamilan (Lambert et al, 2005)
Bessinger et al melaporkan hasil penelitian meta analisis cohortnya pada tahun 1998, bahwa kehamilan yang aterm dengan infeksi HIV tidak memberikan dampak yang signifikan pada progresivitas penyakit HIV. Penelitian tersebut mempelajari hubungan antara kehamilan aterm dengan progresivitas penyakit HIV, dimana setelah ditetapkan jumlah CD4+ absolut pada wanita terinfeksi HIV yang tidak hamil kemudian diikuti jumlah CD4+ absolutnya hingga hamil aterm, didapatkan hasil peningkatan progresivitas HIV/AIDS selama hamil, namun secara
statistika kurang signifikan. Selain itu, hanya ada satu wanita dengan jumlah CD4+
absolut yang menurun dibawah 200 sel/ml pada saat hamil. Pada penelitian ini dipilih sebagai kriteria inklusi adalah wanita hamil yang aterm, oleh karena pada beberapa penelitian yang dilakukan oleh Dinsmoor MJ and collegeas menunjukkan bahwa immunosupresi paling sering terjadi di akhir kehamilan, sehingga wanita pada kehamilan aterm lebih berisiko tinggi terhadap progresivitas penyakit. Meskipun tidak didapatkan peningkatan progresivitas penyakit yang signifikan, pada penelitian ini masih belum didapati kejelasan apakah AIDS saat hamil dapat meningkatkan risiko kematian. Selain itu, penelitian ini belum menjawab pertanyaan apakah wanita hamil yang terinfeksi HIV akan mengalami episode penyakit yang lebih berat dari pada wanita terinfeksi HIV yang tidak hamil (Bessinger et al., 1998).
2.2.4 Efek HIV/AIDS terhadap komplikasi kehamilan
Penyebab obstetric dari morbiditas dan mortalitas maternal bisa lebih berat pada wanita yang terinfeksi HIV, dan lebih rentan terhadap infeksi serta komplikasi post operasi. Termasuk dalam hal ini adalah lebih tingginya kejadian kehamilan ektopik, early abortus, bacterial pneumonia, infeksi saluran kencing, oral dan vaginal thrush berulang serta infeksi infeksi yang lain. Malaria dan Tuberkulosis telah menjadi komplikasi HIV yang paling sering terjadi pada wanita yang terinfeksi.
Anemia juga lebih sering terjadi dan tampak lebih berat pada wanita yang terinfeksi HIV, khususnya yang mengalami komplikasi dari penyakit AIDS seperti Malaria (McIntyre, 2003).
Komplikasi pasca persalinan maupun pasca sectio caesaria telah dijabarkan dalam banyak penelitian. Perdarahan post partum sering terjadi, dan kejadiannya lebih serius jika disertai dengan anemia pada wanita yang terinfeksi HIV. Morbiditas pasca melahirkan terjadi pada 15% diantara 1186 persalinan selama tahun 1990-1998 pada penelitian transmisi wanita dan anak anak di Amerika Serikat. Kejadian morbiditas pasca melahirkan yang paling sering dilaporkan adalah demam tanpa sumber infeksi. Perdarahan atau anemia berat, endometritis, infeksi saluran kencing dan komplikasi luka operasi. Komplikasi pasca sectio caesaria juga dilaporkan cukup tinggi, khususnya pada wanita yang mengalami immunosupresi berat, namun hal ini jarang terjadi jika antibiotika profilaksis tersedia untuk diberikan (McIntyre , 2003).
Selain itu, dilaporkan juga angka kejadian preeclampsia juga lebih rendah pada wanita yang terinfeksi HIV yang tidak mendapatkan pengobatan ARV dibandingkan dengan wanita terinfeksi HIV yang mendapatkan pengobatan maupun yang tidak terinfeksi HIV. Namun, hubungan tersebut belum dapat diujikan oleh penelitian cohort lainnya (McIntyre, 2003).
2.2.5. Manifestasi klinis infeksi HIV
Periode inkubasi dari paparan virus hingga timbul gejala klinis adalah beberapa hari hingga minggu, dengan rata rata adalah 2 minggu hingga 4 minggu.
Sedangkan, serokonversi untuk antibodi dari HIV pada umumnya terjadi dalam waktu tiga hingga enam minggu setelah infeksi. Rata rata 80% hingga 90% dari individu yang terinfeksi merupakan carier asimptomatis. Infeksi akut HIV sama dengan sindroma infeksi virus lainnya dan umumnya bertahan kurang dari 10 hari.
Pada saat gejala dan tanda klinis penyakit muncul, infeksi awal ditandai oleh demam, malaise, eritema makulopapular rash, myalgia, arthralgia, sakit kepala, fotofobia dan limfadenopati yang umumnya terjadi pada minggu kedua setelah infeksi. Jika secara bersamaan didapatkan penurunan tajam dari jumlah CD4+ absolut, infeksi opportunistic bisa terjadi yaitu candidiasis oral. Adapun infeksi opportunistic lainnya
yang juga bisa terjadi antara lain adalah, candidiasis pulmonary atau esophageal, lesi persisten herpes simplex atau zoster, condyloma accuminata, tuberculosis paru, pneumonia cytomegalovirus, retinitis atau penyakit gastrointestinal, molluscum contagiosum, Pneumocystis jiroveci pneumonia, toxoplasmosis dan lain lain.
Penyakit neurologis juga sering terjadi, dan rata rata sebagian penderita timbul gejala gangguan susunan saraf pusat. Sindroma tersebut bisa dikatakan sebagai Acute Retroviral Syndrome, yang mana sering terjadi dalam beberapa minggu awal setelah
infeksi HIV, sebelum tes antibodinya menjadi bernilai positif. Sindroma tersebut rata rata terjadi pada 70% individu. Pencatatan bahwa penyakit tersebut disebabkan oleh Acute Retroviral Syndrome harus didukung dengan menilai jumlah HIV RNA dalam
plasma. Hasil yang positif untuk selanjutnya harus dikonfirmasi dengan Enzim Immunoassay dan tes Western Blots. Rute infeksi, patogenitas strain virus, inokulasi
awal virus dan status imunologis host sangat mempengaruhi kecepatan progresivitas penyakit. Selain itu, guideline terbaru menyarankan dengan penanganan sedini mungkin terhadap sindroma akut tersebut menggunakan terapi ARV, maka prognosa yang lebih baik bisa didapatkan. (DeCherney et al., 2005; Hammili et al, 2004, Cunningham et al, 2010)
Setelah fase akut lewat, bentuk penyakit yang lebih berat dapat terjadi.
Manifestasi klinisnya antara lain adalah limfadenopati general, keringat dingin di malam hari, demam, diare, penurunan berat badan, dan kelelahan. Selain itu, infeksi seperti herpes zoster dan candidiasis oral dapat terjadi. Dalam tempo 4 hingga 5 tahun setelah itu, 30 % kasus akan berkembang menjadi AIDS. Sedangkan progresivitas mulai dari viremia asimptomatis menjadi AIDS memiliki rata rata waktu 10 tahun, dengan kisaran waktu antara beberapa bulan hingga 17 tahun. Individu yang terinfeksi HIV pada akhirnya akan menunjukkan bukti adanya disfungsi sistem imun yang progresif, dan kondisi tersebut berkembang menjadi AIDS, sejalan dengan supresi sistem imun serta organ sistemik yang terlibat makin bertambah banyak dan bertambah berat. AIDS merupakan tahap akhir dari infeksi HIV dan pada umumnya berkembang pada sebagian besar individu terinfeksi HIV yang tidak mendapatkan pengobatan dalam 17 tahun setelah terinfeksi. Dengan adanya supresi sistem imun tersebut, maka, tanda dan gejala klinis AIDS akan mudah berkembang jika didapatkan pathogen sekunder. Sindroma yang muncul akibat ketidakmampuan tubuh dalam melawan infeksi, atau melawan reaktivasi infeksi yang dorman, antara lain adalah :
1. Kelelahan hebat, yang terkadang disertai dengan pusing, sakit kepala
2. Demam terus menerus yang juga disertai dengan keringat di malam hari yang berlebihan
3. Berat badan menurun hingga 10 kg, yang bukan disebabkan oleh diet maupun peningkatan aktivitas fisik
4. Pembesaran kelenjar di leher, lengan dan di lipat paha
5. Pertumbuhan warna keunguan pada kulit atau mukosa membrane (didalam mulut, anus dan hidung)
6. Batuk kering ringan yang kontinyu yang bukan berasal dari asap rokok, atau bisa akibat flu yang tidak juga sembuh.
7. Diare kronis
8. Leukoplakia oral yang disertai dengan sakit tenggorokan
9. Perdarahan dari rongga tubuh yang terbuka yang tidak jelas penyebabnya serta mudah memar
10. Sesak nafas yang progresif
Sindroma tersebut umumnya membaik dalam waktu beberapa minggu, dan penderita akan menjadi asimptomatis (DeCherney et al., 2005; Hammilil, 2004, Cunningham et al, 2010).
Center Disease of Control and Prevention (CDC) memberikan definisi AIDS
berupa penderita terinfeksi HIV dengan infeksi opportunistic, neoplasia (contoh : Sarcoma Kaposi), dementia, encephalopathy, progresivitas memburuk dysplasia cervical menjadi kanker, atau jumlah CD4+ absolut < 200/mm3. Penderita yang dinyatakan secara klinis terinfeksi tanpa didukung oleh bukti infeksi secara laboratories juga bisa terdiagnosis AIDS jika didapat salah satu dari indikator penyakit serta tidak ditemukan penyebab disfungsi sistem imun. Seluruh wanita yang terdiagnosis HIV akan membutuhkan konseling, evaluasi dan penanganan penyakit menular sexual, pap smear, darah lengkap, kimia darah, antibodi toxoplasma, panel
hepatitis, dan foto thorax. Selain itu, seluruh pasien perlu mendapatkan tawaran untuk vaksinasi hepatitis B, influenza dan pneumococus (DeCherney et al., 2005).
2.2.6 Skrining HIV prenatal
Pengawasan selama kehamilan penderita terinfeksi HIV harus di lakukan secara terpisah dan dengan penanganan khusus. Skrining untuk penyakit menular seksual lainnya (siphilis, gonorrhea, dan infeksi HSV) penting untuk dilakukan.
Infeksi lain yang berhubungan dengan HIV juga harus dicari, seperti P Carinii pneumonia, Mycobacterium tuberculosis, infeksi citomegalovirus, toksoplasmosis dan candidiasis. Sedikitnya, penderita terinfeksi HIV harus dilakukan pemeriksaan foto rontgen thorax, tes tuberculin kulit dengan kontrol, serta pemeriksaan serologi toksoplasmosis. Penderita yang rentan mengalami infeksi sekunder perlu mendapatkan vaksin hepatitis B, pneumococus, dan influenza. Jumlah CD4+ absolut perlu dimonitor setiap trimester. Jumlah CD4+ absolut kurang dari 200/mm3 merupakan indikasi profilaksis terhadap P carinii pneumonia. Jumlah Viral Load (HIV-1 RNA) dalam plasma juga perlu dimonitor selama kehamilan. Kadar HIV-1 RNA harus dimonitor tiap 3-4 bulan atau tiap trimester dan pada saat usia kehamilan 34-36 minggu untuk menentukan rute persalinannya (DeCherney et al., 2005;
Hammili et al., 2004)
Skrining dilakukan dengan menggunakan tes Enzime Linked Immunosorbent Assay (ELISA) yang memiliki sensitivitas lebih dari 99,5%. Hasil yang positif perlu
dilakukan konfirmasi ulang kembali dengan ELISA, lalu dilanjutkan dengan menggunakan Western blot atau Immunofluoresence Assay (IFA), yang mana
keduanya memiliki spesifitas yang tinggi. Berdasarkan CDC tahun 2001, antibodi dapat terdeteksi pada sebagian besar penderita dalam kurun waktu 1 bulan setelah infeksi awal. Untuk infeksi awal HIV primer, identifikasi virus RNA atau DNA mungkin untuk dilakukan. Hasil konfirmasi yang false positif jarang terjadi (Cunningham et al., 2010).
2.2.7 Diagnosis infeksi HIV
Diagnosis infeksi HIVdapat ditegakkan dengan melakukan pemeriksaan pemeriksaan sebagai berikut :
1. Pemeriksaan Antibodi HIV
Diagnosis HIV pada umumnya dengan tes antibodi HIV-1, yang mendeteksi antibodi dari bagian membrane atau envelope dari virus. Tes rutin HIV-2, terkecuali untuk bank darah, baru baru ini tidak direkomendasikan oleh karena berdasarkan data epidemiologi, angka kejadian infeksi HIV-2 masih rendah, kecuali jika ditemukan penderita berisiko terinfeksi HIV-2 atau memiliki tanda klinis penyakit HIV dan pernah memiliki hasil tes antibodi HIV-1 yang negatif (DeCherney et al., 2005; Piercy, 2006).
Seperti yang telah dijelaskan pada bagian skrining HIV prenatal, pemeriksaan ELISA memiliki fungsi sebagai tes skrining pada wanita yang terpapar HIV.
Sebagian besar penderita yang terpapar HIV akan menunjukkan kadar antibodi HIV yang ada di darah dalam tempo 12 minggu setelah paparan.
Adanya antibodi tersebut mengindikasikan infeksi baru, meskipun penderita bisa mengalami gejala asimptomatis selama bertahun tahun. Pemeriksaan
antibodi HIV akan bernilai positif sejalan dengan penurunan kadar antigen core p24. Sensitivitas dan spesifitas dari ELISA adalah 99% bila reaktif secara berulang. Oleh karena itu, tes antibodi HIV adalah negatif jika ELISA nya non reaktif, dan hal ini mengindikasikan rendahnya infeksi HIV kecuali jika periode waktu dalam mendeteksi produksi antibodi terlalu dini (DeCherney et al., 2005; Piercy, 2006)
Hasil tes yang positif timbul jika ELISA reaktif secara berulang yang diikuti dengan hasil tes yang positif dari pemeriksaan Western Blot. Western blot mendeteksi antigen virus spesifik dan bernilai positif jika didapatkan dua dari tiga antigen yang teridentifikasi yaitu : p24 (capsid), gp41 (envelope) dan gp120/160 (envelope). Kebanyakan tes serologis yang digunakan saat ini mendeteksi antibodi spesifik untuk HIV-1 dan HIV-2, dan juga didapatkan beberapa tes darah “rapid” yang memiliki efektivitas yang sama dengan pemeriksaan ELISA. Pada penderita yang dicurigai terinfeksi HIV, tes antibodi HIV dapat bernilai negatif. Oleh karena itu jumlah asam nukelat HIV, deteksi antigen p24, atau isolasi HIV lewat kultur virus perlu dipakai dalam proses diagnosis. (Adams et al., 2007; DeCherney et al., 2005; Piercy, 2006).
2. Pemeriksaan HIV RNA atau DNA
Pada infeksi awal dapat didiagnosis dengan mengidentifikasi P24 core antigen virus atau adanya HIV RNA atau DNA didalam darah. Pemeriksaan HIV RNA atau DNA dapat dilakukan dengan Polymerase Chain Reaction (PCR).
HIV RNA atau Viral Load merupakan prediktor utama dari kecepatan progresivitas penyakit. Selain itu, progresivitas penyakit juga berhubungan dengan rendahnya kadar antibodi p24 dan rekurensi dari antigen p24 (Piercy, 2006)
3. Pemeriksaan jumlah CD4+ absolut
Jumlah CD4+ absolut mengindikasikan derajat immunosupresi. Tanda dari infeksi HIV adalah penurunan progresif dari jumlah CD4+ absolut yang mana tanpa pengobatan, kadarnya menurun hingga rata rata 60 sel/mm3/tahun (Piercy, 2006)
Tanpa pengobatan, HIV akan menginfeksi lebih dan lebih banyak lagi sel. Hal tersebut menyebabkan jumlah CD4+ absolut menurun, umumnya 50 hingga 100 sel/mm3 per tahunnya pada sebagian besar individu dengan HIV positif.
Dengan penurunan jumlah CD4+ absolut individu yang positif HIV akan mudah mengalami infeksi opportunistik dan kanker, dengan ketentuan nilai sebagai berikut :
Jumlah CD4+ absolut diatas 500 sel/mm3 : individu terinfeksi HIVdengan kadar sel T CD4+ diatas 500 sel/mm3 pada umumnya memiliki sistem imun cukup normal dan risiko rendah mengalami infeksi opportunistic.
Jumlah CD4+ absolut dibawah 200 sel/mm3: individu terinfeksi HIV yang memiliki kadar sel T CD4+ dibawah 200 sel/mm3 merupakan individu yang terdiagnosis AIDS dan berisiko untuk mengalami infeksi opportunistic yang
serius seperti Pneumocystis pneumonia (PCP), Mycobacterium avium complex (MAC), dan citomegalovirus (CMV) (Piercy, 2006)
2.2.8 Diagnosis AIDS
Diagnosis definitif AIDS hingga saat ini masih belum ditetapkan, namun, diagnosis AIDS dibuat berdasarkan gejala klinis. Center for Disease Control’s (CDC) awalnya membuat definisi AIDS berdasrkan adanya Kaposi Sarcoma yang terbukti dengan biopsy pada individu yang berusia kurang dari 60 tahun dan atau dengan adanya Pneumocystis carinii Pneumonia (PCP) atau infeksi opportunistic lainnya pada individu dengan penyakit mendasar immunosupresif yang belum jelas dan positif terinfeksi HIV. Kemudian, definisi AIDS diperluas menjadi beberapa penyakit berikut ini yang disertai dengan adanya antibodi HIV-1, yaitu : histoplasmosis disseminated, isosporia yang menyebabkan diare lama lebih dari satu bulan, candidiasis pulmonary, atau infeksi paru yang disebabkan oleh jamur tertentu, nonHodgkin’s lymphoma, dan pneumonia tertentu (Hammili et al., 2004).
Definisi AIDS terbaru berdasarkan revisi CDC terbaru adalah sebagai berikut :
1. Jika tanpa disertai bukti laboratoris infeksi HIV, baik itu pemeriksaan laboratorium tidak dilakukan maupun tidak memberikan hasil yang dapat disimpulkan dan juga tidak didapatkan penyebab lain dari immunodeficiency, maka berikut salah satu dari penyakit di bawah ini yang mengindikasikan AIDS :
a. Candidiasis Esofagus, trachea, bronchus, atau paru paru b. Cryptococcosis, extrapulmonal
c. Cryptosporidiosis dengan diare yang berlangsung hingga 1 bulan d. Penyakit cytomegalovirus yang mengenai organ tubuh selain liver,
limpha, atau limfonodi pada penderita dengan usia lebih dari 1 bulan
e. Infeksi Herpes Simplex Virus yang menyebabkan ulserasi mukokutan yang bertahan lebih dari 1 bulan ; atau bronchitis, pneumonia, atau esofagitis dengan variasi durasi yang mengenai penerita lebih dari usia 1 bulan
f. Sarcoma Kaposi yang mengenai penderita berusia kurang dari 60 tahun
g. Limfoid interstitial pneumonia dan atau pulmonary lymphoid hyperplasia (LIP/PLH complex) mengenai anak usia dibawah 13 tahun
h. Mycobacterium avium complex atau penyakit M kansasii i. Pneumocystis carinii pneumonia
j. Leukoencephalopaty multifocal progresif
k. Toksoplasmosis otak yang mengenai penderita berusia lebih dari 1 bulan.
2. Jika disertai dengan bukti laboratoris infeksi HIV, tanpa memandang adanya penyebab lain dari immunodefisiensi, berikut salah satu dari penyakit yang mengindikasikan AIDS :
a. Infeksi bakteri, multiple atau berulang (atau kombinasi keduanya dalam tempo 2 tahun), dari tipe tipe penyakit berikut ini yang mengenai anak berusia dibawah 13 tahun : septicemia, pneumonia, meningitis, infeksi tulang atau sendi, atau abses organ internal atau rongga tubuh (tidak termasuk otitis media atau abses mukosa atau kulit superficial), yang disebabkan oleh Haemophillus,
Streptococcus (termasuk Pneumococcus), atau bakteri piogenik
lainnya.
b. Coccidiodomycosis, disseminated
c. HIV enscephalopaty (atau disebut juga dengan HIV dementia, AIDS dementia, atau encephalitis subakut yang disebabkan oleh HIV)
d. Histoplasmosis, disseminated
e. Isosporiasis dengan diare lebih dari 1 bulan f. Sarcoma Kaposi pada usia berapapun
g. Limfoma dari otak (primer) pada usia berapapun h. Penyakit mikrobakterial apapun yang disebabkan oleh
mycobacteria selain M. tuberculosis, disseminated
i. Penyakit yang disebabkan oleh M. tuberculosis, extrapulmonary (melibatkan sedikitnya satu sisi diluar paru paru, tanpa memadang apakah ada bagian paru paru yang terlibat)
j. Salmonella (nontyphoid) septicemia, berulang
k. HIV wasting syndrome (kurus,“slim disease”)
l. Limfoma non-Hodgkin lainnya dari sel B atau fenotip immunologis yang tidak diketahui dan berikut beberapa tipe histologist :
Burkitt dan non-Burkitt lymphoma
sarcoma immunoblastic (yang ekuivalen dengan : limfoma immunoblastik, limfoma large-cell, diffuse histiocytic lymphoma, diffuse undifferentiated lymphoma, atau high-grade lymphoma)
(Hammili et al., 2004).
Jumlah CD4+ absolut dikategorikan ke dalam 3 bagian yaitu :
Kategori I : ≥ 500 sel/μl
Kategori II : 200 – 499 sel/μl
Kategori III : < 200 sel/μl
Kategori kategori tersebut sesuai dengan jumlah CD4+ absolut per mikroliter darah dan menjadi indikator klinis serta terapeutik dalam manajemen individu yang terinfeksi HIV. Oleh karena itu, individu yang terinfeksi HIV perlu diklasifikasikan ke dalam kategori tersebut dalam manajemen HIV (Hammili et al., 2004).
2.2.9 Manajemen infeksi HIV/AIDS selama kehamilan
Penanganan wanita hamil yang terinfeksi HIV membutuhkan perhatian khusus dan juga perlu dilakukan oleh tenaga medis khusus yaitu ahli kebidanan dan ahli penyakit tropic dan infeksi khususnya infeksi HIV. Berikut ini adalah langkah langkah dalam manajemen infeksi HIV/AIDS selama kehamilan :
1. Pengawasan (Monitoring)
Langkah awal dalam perawatan adalah dengan mengawasi status imun lewat pemeriksaan kadar CD4+ dan viral loads. Meninjau resistensi virus terhadap obat obatan juga merupakan kunci utama dalam mengawasi regimen atau dosis. Pemeriksaan viral load dapat dilakukan tiap 3 hingga 4 bulan. Begitu keputusan untuk memulai pengobatan telah dimulai, pemeriksaan terhadap viral load harus dilakukan tiap bulan sampai virus tidak lagi terdeteksi dalam
darah dan kemudian frekuensi pemeriksaan viral load bisa dilanjutkan tiga hingga empat kali dalam kurun waktu 1 tahun. (Gibbs et al., 2008).
Rekomendasi waktu untuk memulai pengobatan telah banyak mengalami perubahan demi perubahan selama beberapa tahun terakhir, oleh karena tingkat kepedulian yang sangat tinggi selain keuntungan dari pengobatan, namun juga pengenalan yang baik terhadap toksisitas obat tersebut. Guidelines terbaru menyebutkan pengobatan awal Highly Active AntiRetroViral Treatment (HAART) dimulai pada wanita yang tidak hamil
jika jumlah viral load > 100.000 kopi, atau ketika jumlah CD4+ absolut < 350 sel/mm3 (Gibbs et al., 2008)
Meskipun dikatakan bahwa secara garis besar pengobatan wanita hamil sama dengan wanita yang tidak hamil, namun ada beberapa terapi antivirus yang perlu dimodifikasi atas dasar pertimbangan perkembangan janinnya. Salah satunya adalah Efavirenz yang merupakan golongan non-nucleoside reverse transcriptase harus diganti. Pada penelitian experimental dengan monyet betina hamil didapatkan janin yang mengalami anensephaly, anophtalmia dan bibir sumbing yang diamati 3 dari 13 binatang coba. Selain itu, Amprenavir juga dikontraindikasikan sebab mengandung propylene glycol yang sulit dimetabolisme oleh ibu hamil. Namun, potensi dari antivirus juga perlu dipertimbangkan dalam melawan risiko transmisi intrauterine, serta progresifitas dari imunodefisiensi dan atau rebound dari titer HIV. Maka dari itu dalam mengulang kembali pengobatan, dosis harus dibagi lagi secara simultan. (Gibbs et al., 2008)
2. Pemeriksaan Resistensi
Pemeriksaan resistensi telah menjadi hal yang pokok dalam perawatan penderita yang terinfeksi HIV. Virus RNA di reverse transkripsi kan oleh virus reverse transcriptase lewat penggunaan molekul tRNA lysine di sel sebagai primernya, kemudian aktivasi RNAase dari reverse transcriptase mendegradasi template dari virus RNA. Reverse transcriptase menggabungkan nukleotida secara tidak benar pada tiap 1500 hingga 4000 basa, yang menjelaskan proses mutasi yang dapat terjadi secara cepat.
Beberapa dari hasil mutasi menyediakan beberapa keuntungan yang
menyebabkan strain strain yang resisten terhadap obat. Banyak bukti bahwa mutan yang resisten dapat bertahan selama kurun waktu yang tidak dapat ditentukan setelah infeksi awal, varian virus tersebut dapat terdeteksi lewat pemeriksaan standart yang digunakan dalam praktek sehari hari. Maka dari itu, pemeriksaan resistensi HIV sekarang direkomendasikan pada semua penderita sebelum memulai pengobatan (Gibbs et al., 2008)
Pemeriksaan resistensi direkomendasikan pada individu sebelum pengobatan dimulai atau setelah gagal dalam pengobatan. Kegagalan dalam pengobatan didefiniskan sebagai kegagalan untuk mencapai kadar virus yang tidak terdeteksi atau virus yang muncul kembali setelah tidak terdeteksi (Gibbs et al., 2008).
Baru baru ini didapatkan 2 jenis pemeriksaan resistensi yaitu tes fenotip dan genotip yang masing masing mempunyai keuntungan dan kerugian masing masing. Pemeriksaan fenotip membandingkan kemampuan virus dalam bereplikasi dalam konsentrasi yang berbeda beda pada obat antiretrovirus
Baru baru ini didapatkan 2 jenis pemeriksaan resistensi yaitu tes fenotip dan genotip yang masing masing mempunyai keuntungan dan kerugian masing masing. Pemeriksaan fenotip membandingkan kemampuan virus dalam bereplikasi dalam konsentrasi yang berbeda beda pada obat antiretrovirus