• Tidak ada hasil yang ditemukan

Efektifitas Manajeman Berbasis Sekolah (MBS) 1.Pengertian Efektifitas

Dalam kamus besar bahasa Indonesia, kata efektifitas berasal dari bahasa Inggris, yaitu effective yang bermakna ”1) ada efeknya (akibatnya, pengaruhnya, kesannya), 2) manjur atau mujarab (tentang obat), 3) dapat membawa hasil, berhasil guna (tentang usaha atau tindakan).”22

Menurut Lipham dan Hoel (1987) yang dikutip E. Mulyasa meninjau efektifitas suatu kegiatan dari faktor pencapaian tujuan, yang memandang bahwa ”efektifitas berhubungan dengan pencapain tujuan bersama bukan pencapaian tujuan pribadi. Suatu organisasi dan lembaga, termasuk sekolah dikatakan efektif jika tujuan bersama dapat dicapai, dan belum bisa dikatakan efektif meskipun tujan individu yang ada didalamnya dapat dipenuhi”.23

Sementara itu, T. Hani Handoko berpendapat bahwa ”efektifitas merupakan kemampuan untuk memilih tujuan yang tepat atau peralatan yang tepat untuk pencapaian tujuan yang telah ditetapkan”.24 Dengan kata lain, seorang manajer efektif dapat memilih pekerjaan yang harus dilakukan atau metoda (cara) yang tepat untuk mencapai tujuan.

Berdasarkan pengertian di atas, dapat dikemukakan bahwa efektifitas berkaitan dengan terlaksananya tugas pokok, tercapainya tujuan, ketepatan waktu, dan adanya partisipasi aktif dari anggota. Dengan demikian, efektifitas manajeman berbasis sekolah (MBS) berarti bagaimana manajeman berbasis sekolah berhasil melaksanakan semua tugas pokok sekolah, menjalin partisipasi masyarakat, mendapatkan serta memanfaatkan sumber daya, sumber dana, sumber belajar untuk mewujudkan tujuan sekolah.

22

Tim Penyusun kamus Pusat Bahasa, Kamus Besar Bahasa Indonesia, (Jakarta: Balai Pustaka, 2002), Cet. II, h. 284.

23

E.Mulyasa, , Manajemen Berbasis Sekolah:Konsep, Strategi dan Implementasi, (Bandung: PT. Remaja Rosdakarya, 2006), h. 83

24

2. Strategi Efektifitas manajeman Berbasis Sekolah (MBS)

Apa yang membuat implementasi sekarang menjadi efektif? Dasarnya adalah - Manajemen implementasi yang bagus. Seperti semua inisiatif yang lain, manajemen yang bagus adalah kunci untuk implementasi yang afektif. Bila perubahan sistemik dilaksanakan tanpa perubahan kebudayaan organisasi, implementasinya sering gagal dan kembali ke keadaan sebelumnya, seperti kita sudah melihat dulu setelah kepala sekolah yang mendorong prosesnya dipindahkan kesekolah yang lain.

Untuk implementasi yang bagus semua stakeholder harus sangat mengerti peran mereka masing-masing. Sesuai dengan etos MBS peran mereka tidak dapat dipastikan dari awal secara hitam di atas putih, mereka perlu, secara proses terbuka, mendiskusikan dan menukar pikiran supaya peran mereka yang paling mendukung guru di lapangan dan proses belajar-mengajar secara maksimal dapat ditentukan. Di dalam program baru, tidak ada peserta (stakeholder) yang dianggap superior, semua stakeholder walau mereka adalah Dewan Pendidikan, guru baru, atau orang tua yang petani, membawa input (pengalaman) dan kebutuhan mereka ke meja diskusi untuk mencari jalan terbaik untuk membantu stakeholder yang lain maupun keperluan mereka sendiri. Sekarang, yang juga sangat mendukung prosesnya adalah kita sekalian mengimplementasikan PAKEM (Pembelajaran Aktif, Kreatif dan Menyenangkan)

Bila proses-proses di atas sudah diikuti dengan baik, dan berjalan secara efektif kita seharusnya dapat melihat situasi pengajaran dan pelajaran yang lebih baik, tetapi bila kita tidak mulai menghadapi hal cara siswa kita belajar, dan apa yang mereka pelajari keuntungan mungkin tidak dapat dilihat dari hasil karya mereka (outcomes).

Peningkatan mutu pendidikan di sekolah perlu didukung kemampuan manajerial para kepala sekolah. Sekolah perlu berkembang maju dari tahun ke tahun, karena itu hubungan baik antarguru perlu diciptakan agar terjalin iklim dan suasana kerja yang kondusif dan menyenangkan. Dalam rangka inilah dirasakan perlunya efektifitas manajemen berbasis sekolah untuk mengimplementasikan manajemen berbasis sekolah secara efektif dan efisien, kepala sekolah perlu memiliki pengetahuan kepemimpinan, perencanaan. Wibawa kepala sekolah harus ditumbuh kembangkan

dengan mengembangkan sikap kepedulian, semangat belajar, disiplin kerja, keteladanan dan hubungan manusiawi sebagai modal perwujudan iklim kerja yang kondusif.25

3. Keterlibatan Masyarakat pada Efektifitas Manajemen Berbasis Sekolah (MBS).

Menurut Mulyasa,26 hubungan sekolah dengan masyarakat bertujuan antara lain: a. Untuk memajukan kulitas pembelajaran dan pertumbuhan anak.

b. Memperkokoh tujuan serta meningkatkan kulitas hidup dan penghidupan masyarakat.

c. Merangsang masyarakat untuk menjalin hubungan dengan sekolah.

Tujuan hubungan sekolah dengan orang tua menurut Mulyasa,27 dimaksudkan agar orang tua mengetahui berbagai kegiatan peserta didik dan juga agar orang tua murid mau memberi perhatian yang besar dalam menunjang program-program sekolah. Tujuan hubungan sekolah dan orang tua peserta didik antara lain sebagai berikut:

a. Saling membantu dan isi-mengisi. b. Bantuan keuangan dan barang-barang.

c. Untuk mencegah perbuatan-perbuatan yang kurang baik. d. Bersama-sama membuat rencana yang baik untuk sang anak.

5. Sistem pendidikan Nasional yang Diperlukan Masyarakat Masa Depan. Dalam koridor reformasi, otonomi pendidikan mempunyai dua arti:

pertama ialah menata kembali sistem pendidikan nasional yang sentralistis menuju kepada suatu sistem yang memberikan suatu kesempatan luas kepada inisiatif masyarakat. Otonomi pendidikan berarti pula demokratisasi sistem pendidikan yang berarti mengembalikan hak dan kewajiban masyarakat untuk mengurus pendidikan.

25

E. Mulyasa, Manajemen Berbasis Sekolah:Konsep, Strategi dan Implementasi, h. 57.

26

E.Mulyasa, Manajemen Berbasis Sekolah:Konsep, Strategi, dan Implementasi, h. 50.

27

Kedua yang dapat diamati adalah otonomi pendidikan bukan berarti melepaskan segala ikatan untuk membangun Negara kesatuan Republik Indonesia otonomi pendidikan justru berarti untuk memperkuat dasar-dasar pendidikan pada tingkat Grass-Root untuk membentuk suatu masyarakat Indonesia yang bersatu berdasarkan kebhinekaan masyarakat kita.28

GBHN, menetapkan misi dalam rangka mewujudkan visi bangsa Indonesia antara lain:

1. Perwujudan kehidupan sosial budaya yang berkepribadian dinamis, kreatif dan berdaya tahan terhadap pengaruh globalisasi.

2. Pemberdayaan masyarakat dan seluruh kekuatan ekonomi nasional, terutama pengusaha kecil, menengah dan koperasi dengan mengembangkan sistem ekonomi kerakyatan yang bertumpu pada mekanisme pasar yang berkeadilan berbasis pada sumber daya alam dan sumber daya manusia yang produktif, mandiri, maju, berdaya asing, berwawasan lingkungan, berkelanjutan.

3. Perwujudan sistem dan iklim pendidikan nasional yang demokratis dan bermutu guna memperteguh akhlak mulia, kreatif, inovatif, berwawasan kebangsaan, cerdas, sehat, berdisiplin dan bertanggung jawab, berketerampilan serta menguasai ilmu pengetahuan dan teknologi dalam rangka mengembangkan kualitas manusia Indonesia.

Masalah efektifitas biasanya berkaitan erat dengan perbandingan antara antara tingkat pencapaian tujuan dengan rencana yang telah disusun sebelumnya, atau perbandingan hasil nyata dengan hasil yang direncanakan.

Dari berbagai analisis teori tentang efektifitas MBS, maka yang dimaksud dengan efektifitas MBS adalah bagaimana keberhasilan MBS dalam melaksanakan semua tugas pokok sekolah, menjalin partisipasi masyarakat, mendapatkan serta memanfaatkan sumber daya, sumber dana, dan sumber belajar untuk mewujudkan tujuan sekolah.

28

Dokumen terkait