BAB III METODOLOGI PENELITIAN
3.6 Teknik Analisis Data
Teknik analisis data menurut Bogdan dan Biklen (dalam Moleong, 2005:
208) adalah upaya yang dilakukan dengan jalan bekerja dengan data, mengorganisasikan data memilih-milihnya menjadi satuan yang dapat dikelola, mensitesiskannya, mencari dan menemukan pola apa yang penting dan apa yang dipelajari dan memutuskan apa yang dapat diceritakan kepada orang lain.
Analisis data model Miles dan Huberman dilakukan melalui 3 tahap, yaitu : 1) Reduksi data (data reduction)
Reduksi data berarti merangkum, memilih hal pokok, memfokuskan pada hal penting, dicari pola dan temanya. Reduksi data merupakan proses pemilihan, pemusatan perhatian melalui penyederhanaan, pengabstrakan, dan transformasi data “kasar” yang muncul dari catatan-catatan tertulis di lapangan. Tahapan-tahapan reduksi data meliputi: (1) membuat ringkasan (2) mengkode (3) menelusur tema (4) membuat gugus-gugus (5) membuat partisi (6) menulis memo.
2) Penyajian Data (Data Display)
Penyajian data berarti mendisplay atau menyajikan data dalam bentuk uraian singkat, bagan, hubungan antar kategori, dsb. Penyajian data yang sering digunakan dalam penelitian kualitatif adalah bersifat naratif. Ini dimaksudkan untuk memahami apa yang terjadi, merencanakan kerja selanjutnya berdasarkan apa yang dipahami.
3) Penarikan Kesimpulan Dan Verifikasi (Conclusion Drawing And Verification)
Kesimpulan dalam penelitian mungkin dapat menjawab rumusan masalah, karena rumusan masalah dalam penelitian kualitatif masih bersifat sementara dan berkembang setelah peneliti berada di lapangan. Kesimpulan penelitian kualitatif merupakan temuan baru yang disajikan berupa deskripsi atau gambaran yang awalnya belum jelas menjadi jelas dan berupa hubungan kausal atau interaktif dan hipotesis atau teori. Penarikan kesimpulan dan verifikasi dilakukan setelah dari lapangan. (Pujileksono, 2015:152)
Kegiatan analisis data dalam kegiatan ini akan dimulai dengan menelaah semua data yang terkumpul yaitu melalui data primer yang berupa metode interview. Hasil data yang diperoleh berdasarkan teknik pengumulan data itu, akan disusun membentuk laporan yang sistematis. Selanjutnya data yang disusun akan dibagi menjadi data utama dan data penjelas. Hasil penelitian akan dijabarkan dalam bentuk deskripsi yang didukung dengan teori yang bersumber dari buku, kemudian dianalisis untuk mengetahui efektivitas komunikasi verbal dan non verbal pasangan suami istri yang menikah di usia muda di kota Medan.
Selanjutnya ditarik beberapa kesimpulan hasil penelitian.
Proses triangulasi dilakukan terus-menerus sepanjang proses mengumpulkan data dana, menganalisis data, sampai si peneliti yakin bahwa sudah tidak ada lagi perbedaan-perbedaan dan tidak ada lagi yang perlu dikonfirmasi kepada informan. Uji keabsahan melalui triangulasi dilakukan karena dalam penelitian kualitatif, untuk menguji keabsahan informasi tidak dapat dilakukan dengan alat uji statistik. Begitu pula materi kebenaran tidak diuji berdasarkan kebenaran alat sehingga substansi kebenaran apabila kebenaran itu mewakili orang banyak. Kebenaran bukan hanya muncul wacana etnik dari masyarakat yang diteliti (Bungin, 2010:252).
Gambar 3.2 Bagan Analisis Data Model Miles Dan Huberman (Pujileksono, 2016:153)
Sumber: Telah Diolah Kembali
Kesimpulan data
Penyajian data
Kesimpulan-Kesimpulan Penafsiran/
Verifikasi Reduksi data
BAB IV
HASIL DAN PEMBAHASAN 4.1 Hasil Penelitian
4.1.1 Proses Pelaksanaan Penelitian
Berdasarkan penelitian yang berjudul “Efektivitas Komunikasi Verbal dan Non Verbal terhadap Pasangan Suami Istri yang Menikah di Usia Muda yang Berstatus sebagai Mahasiswa di Kota Medan”, peneliti melaksanakan penelitian berdasarkan teknik maupun metode penelitian yang telah dijelaskan pada bab III.
Untuk mendapatkan informasi mengenai penelitian ini, peneliti memakai informan utama yaitu mahasiswa yang menikah di usia muda di kota Medan yang terpilih oleh peneliti untuk melengkapi data penemuan pada penelitian ini.
Dalam melakukan penelitian mengenai mahasiswa yang menikah di usia muda di kota Medan, peneliti terlebih dahulu melakukan observasi mengenai karakteristik dan jumlah subjek yang akan dijadikan sebagai informan dalam penelitian. Adapun karakteristik informan pada penelitian ini adalah:
a. Usia suami ketika menikah adalah 18-22 tahun dan istri berusia 18-23 tahun (berdasarkan usia pasangan suami istri yang menikah muda dan kematangan emosi pria dan wanita).
b. Pasangan suami istri ketika menikah merupakan mahasiswa di kota Medan.
Setelah menentukan karakteristik informan penelitian ini, selanjutnya adalah mempersiapkan materi pertanyaan yang akan diajukan saat wawancara dengan informan. Peneliti menggunakan metode observasi, wawancara secara mendalam, penelusuran data online dari masing-masing akun sosial informan untuk memperoleh data atau informasi terkait dengan tujuan penelitian.
Sebelumnya peneliti sudah menyadari tantangan dan hambatan yang akan dihadapi ketika waktu penelitian, mengingat bahwa informan adalah mahasiswa yang menikah di usia muda, sehingga untuk menentukan waktu wawancara cukup
sulit karena mencocokkan jadwal kosong antar suami istri agar bisa mengikuti wawancara secara bersamaan dengan kondisi yang tidak terjepit. Misalnya di hari A si istri memiliki waktu luang untuk diwawancari namun tidak cocok dengan waktu si suami yang kemungkinan pada hari tersebut memiliki pekerjaan yang harus diselesaikan, akibatnya harus mencari hari yang tepat untuk bertemu pada keduanya. Dan hal lain juga bisa terjadi seperti misalnya saya dan si istri sudah menentukan waktu untuk bertemu pada keluarga mereka namun ternyata pada waktu tersebut si suami terlambat pulang kerja dan akhirnya pertemuan harus ditunda dan mencari waktu yang lain.
Peneliti mulai turun ke lapangan untuk meneliti pada hari Selasa, 14 Maret 2017. Peneliti pun berencana mendatangi informan yang pertama di rumahnya pada jam 20.15 setelah shalat Isya. Namun ternyata pasangan informan pertama menelpon dan mengajak bertemu di Indomaret dekat UMSU (Universitas Muhammadiyah Sumatera Utara) dengan alasan agar jarak tempuh peneliti tidak terlalu jauh dengan lokasi.
Tiba di lokasi, peneliti sudah mendapati pasangan informan sedang duduk-duduk dengan putera nya di kursi santai yang telah disediakan oleh pihak Indomaret sambil memakan beberapa snack dan meminum kopi. Ada sedikit perasaan tidak enak di hati peneliti karena terlambat namun memang jarak nya cukup jauh dan memakan waktu lebih dari setengah jam untuk tiba di lokasi, dan alhamdulillah pasanganinforman pertama begitu hangat menyambut peneliti dan merasa tidak menunggu terlalu lama.
Setelah bersalaman dan tak lupa dengan sedikit bercanda dengan putera pasangan informan, peneliti melanjutkan sedikit ice breaking atau semacam basa basi terhadap informan sebelum memulai wawancara. Sebelumnya peneliti hanya sekedar mengenal suami dari informan pertama, bahwa suami informan pertama adalah abang senior di organisasi internal UAD USU (Ukmi Ad-Dakwah Universitas Sumatera Utara) pada tahun 2014. Sehingga peneliti memang memerlukan pendekatan terlebih dahulu kepada pasangann informan agar nantinya wawancara berlangsung dengan lancar.
Adapun pendekatan yang peneliti lakukan seperti meminta maaf karena sudah terlambat, lanjut kepada perkenalan, berbasa-basi dengan putera informan, menanyakan kabar, hingga pada mengucapkan keberkahan pada pernikahan mereka. Setelah memakan waktu beberapa menit, dan peneliti sudah merasa cukup dengan trik pendekatan, dan melihat pasangan informan mulai cair dan merasa nyaman, barulah peneliti memulai untuk membuka wawancara. Peneliti menjelaskan kembali maksud dan tujuan kedatangan untuk keperluan wawancara dalam mengumpulkan data.
Nida Ulhaq dan Syahrial Affandi merupakan pasangan informan pertama yang peneliti wawancarai. Peneliti juga menjelaskan bahwa judul skripsi mengenai “Efektivitas Komunikasi Verbal dan Non Verbal terhadap Pasangan Suami Istri yang Menikah di Usia Muda yang Berstatus sebagai Mahasiswa di Kota Medan”.
Untuk pasangan informan pertama ini, peneliti memulainya dengan mewawancarai sang istri terlebih dahulu. Peneliti sudah menyiapkan dua lembar pertanyaan dan recorder dari handphone pribadi yang peneliti miliki. Wawancara berlangsung selama 35 menit. Sang istri menjawab pertanyaan dengan baik dan cukup santai, dan terkesan curhat pada peneliti. Setelah mewawancarai istri, peneliti tidak mau membuang waktu lama-lama mengingat malam sudah mendekati larut, peneliti langsung mengajak suami dari informan pertama untuk diwawancarai.
Wawancara berlangsung lebih cepat dari sang istri yaitu selama 30 menit namun hasil wawancara tetap baik dan akurat karena si suami menjawab lebih tegas dan tidak berbelit, hal ini memang berkaitan antara psikologi seorang laki-laki yang tidak pandai berbasa-basi seperti wanita yang peneliti pahami.
Mengingat jam sudah menunjukkan jam 22.10 WIB peneliti merasa tidak enak dengan pihak Indomaret yang hendak tutup lalu setelah menyudahi wawancara, peneliti sedikit berbasa-basi lagi sebelum mengakhiri pertemuan, serta meminta izin kepada mereka untuk melihat sosial media mereka seperti fb, dan instagram.
Setelah itu peneliti juga tidak lupa untuk berterima kasih kepada pasangan pertama karena sudah meluangkan waktunya untuk membantu peneliti dalam
menyelesaikan skripsi peneliti. Ada hal yang terlupa oleh peneliti yaitu melakukan dokumentasi wawancara pada pasangan informan pertama, mengingat waktu wawancara memang begitu terjepit.
Kemudian, besok harinya (15/3) peneliti melanjutkan penelitian kepada pasangan informan kedua, yaitu Kak Liza Umami dan suaminya, Andi Rahim Pardomuan Siregar. Wawancara kedua ini dilakukan di teras jurusan Pebandingan Agama, Fakultas Usuhuddin UINSU (Universitas Islam Negeri Sumatera Utara).
Peneliti tiba di lokasi sekitar pukul 13.33 WIB namun harus menunggu cukup lama karena informan kedua tidak bisa dihubungi. Setelah beberapa menit berlalu, akhirnya peneliti dan informan kedua bertemu. Setelah bertegur sapa dan saling mengutarakan maaf, informan kedua mengajak duduk di tempat yang nyaman untuk kelancaran wawancara. Beberapa menit kemudian, tanpa membuang banyak waktu peneliti menyampaikan maksud dan tujuan wawancara.
Alhamdulillah, keluarga informan kedua begitu hangat menerima. Proses wawancara pun dimulai dari istri, karena informan kedua ini juga memiliki anak sama hal nya seperti informan pertama, suami dari informan kedua mengambil peran untuk menjaga anak mereka agar proses wawancara peneliti dan istrinya berlangsung lancar.
Wawancara berlangsung lebih dari 30 menit dan tanpa memperlama peneliti mengajak suami informan kedua untuk melanjutkan wawancara, hingga waktu wawancara juga mencapai lebih dari 30 menit lamanya. Berhubung informan kedua tidak bisa berlama-lama karena memiliki janji lagi akhirnya penelitian pada informan kedua selesai tepat sebelum jam 16.00 WIB. Setelah bersalam-salaman tak lupa peneliti menyampaikan akan ada pertemuan selanjutnya untuk memperdalam wawancara serta apabila ada pertanyaan yang belum jelas terjawab. Selain itu peneliti juga meminta izin untuk melakukan penelitian melalu sosial media pasangan informan kedua sebagai tambahan hasil penelitian nantinya. Setelah itu peneliti pun berterima kasih dan pasangan informan kedua pun melanjutkan agenda mereka. Di samping itu peneliti juga memutuskan untuk pulang dan melanjutkan wawancara ketiga di kemudian hari.
Wawancara ketiga dilakukan pada sabtu (18/3) di rumah informan ketiga sesuai dengan kesepakatan peneliti dan informan. Sekitar lebih dari 30 menit menuju lokasi, dan mencari-cari alamat informan ketiga alhamdulillah, tidak lama akhirnya tiba di rumah informan ketiga. Informan ketiga pada penelitian ini adalah Nisa Juliana dan Fahmi Arif. Pukul 17.05 WIB peneliti tiba di depan rumah informan, ternyata pasangan informan ketiga sudah menunggu di depan rumah, mereka menyambut dengan begitu hangat kedatangan peneliti. Sedikit berbasa-basi akhirnya peneliti pun menyampaikan maksud dan tujuan dari penelitian yang akan dilakukan. Setelah ketersediaan mereka, wawancara dimulai dari istri dan dilanjuntkan ke suami.
Wawancara ketiga ini berlangsung lebih dari 1 jam, atas permintaan keluarga informan ketiga maka peneliti pun melangsungkan sholat Magrib di rumah informan ketiga. Setelah sholat Magrib, sebelum izin permisi peneliti mengucapkan rasa terima kasih serta meminta izin untuk melihat sosial media informan ketiga sebagai tambahan hasil penelitian, dan meminta kesediaan waktu informan ketiga apabila ada kekurangan data nantinya.
Berbeda dengan wawancara yang terjadi pada pasangan informan 1 sampai dengan 3, pasangan informan 4 sama sekali tidak bisa ditemui sehingga proses penelitian hanya melalui Line dan Whatsapp dan survei melalui sosial media seperti Facebook, Line dan Instagram. Komunikasi yang terjalin antara peneliti dan pasangan informan keempat ini melalui sang istri, yaitu Fathimah Nurul Wafa atau biasa peneliti panggil dengan kak Wafa.
Pertama sekali peneliti menghubungi kak Wafa melalui Whatsapp yaitu pada 21 Februari 2017 dan pada saat itu kak Wafa menyetujui, lalu pada 24 Februari 2017 peneliti meminta izin untuk mewawancarai secara langsung namun kak Wafa dan suami sedang berada di rumah orang tua kak Wafa yaitu di Depok, Jakarta. Selanjutnya percakapan antara peneliti dan kak Wafa berlanjut pada tanggal 8 Maret 2017, peneliti menanyakan apakah kak Wafa dan suami sudah berada di Medan dan ternyata alhamdulillah pada saat itu sudah namun kak Wafa dan suami tidak bisa ditemui karena sedang menjalani koas dan tidak ada libur atau jadwal kosong. Lalu komunikasi terputus sampai pada tanggal 12 Juli 2017,
peneliti mencoba menghubungi melalui Whatsapp seperti biasa namun tidak terkirim, lalu peneliti mencoba menghubungi melalui Line, dan Alhamdulillah kak Wafa membalas pesan peneliti.
Pada 13 Juli peneliti mencoba untuk tetap mengajak kak Wafa dan suami wawancara secara langsung namun tidak bisa, dikarenakan jadwal koas yang padat, dan kak Wafa meminta untuk mengirim jawaban wawancara melalui rekaman. Lalu rekaman pun dikirim melalui Whatsapp suaminya ke Whatsapp penelitipada 15 Juli untuk rekaman jawaban kak Wafa, dan pada 15 Agustus jawaban rekaman dari suami kak Wafa. Pengiriman jawaban rekaman suami kak Wafa memang lebih lama dikarenakan suami kak Wafa tidak sempat untuk memberikan jawaban dikarenakan jadwal koas yang benar-benar padat.
Peneliti memaklumi dengan apa yang terjadi pada pasangan informan keempan ini, lalu meminta keringanan kepada dosen pembimbing, dan alhamdulillah disetujui. Berbeda dengan pasangan informan pertama sampai ketiga, pada informan ke empat ini peneliti sempat bertemu mereka pada acara Musyawarah Lembaga Dakwah Kampus pada tahun 2015 ketika pasangan keempat ini baru saja melangsungkan pernikahan mereka, jadi peneliti sempat memperhatikan bagaimana perilaku pasangan informan ke empat ini.
Kak Wafa dan suami memang pasangan muda yang sangat harmonis, terlihat pada acara musyawarah berlangsung ketika kak Wafa sedang mempertanggungjawabkan program kerjanya kepada peserta musyawarah banyak sekali kritikan dari peserta tamu undangan baik senior maupun junior terhadap kak Wafa, lalu peneliti memperhatikan bahwa suami kak Wafa yang pada saat itu juga merupakan tamu pada acara musyawarah memberikan argumen pembelaan, seakan-akan suami kak Wafa tidak ingin melihat istrinya terus dikritik oleh tamu undangan. Lalu ketika jam istirahat, peneliti ingat saat itu suaminya menghampiri kak Wafa dan berbisik, seketika itu terlihatlah begitu hangatnya hubungan dan komunikasi mereka berdua di awal pernikahan.
4.1.2 Karakteristik Pasangan Suami Istri yang Menikah di Usia Muda yang Berstatus sebagai Mahasiswa di Kota Medan
Dalam penelitian ini, informan adalah pasangan suami istri yang menikah di usia muda yang berstatus sebagai mahasiswa di kota Medan. Tidak bergantung berasal dari mana, atau tinggal dimana, yang menjadi pokok tujuan adalah pasangan suami istri adalah berstatus mahasiswa di kota Medan yang menikah di usia muda, yakni usia berkisar 18-22 tahun untuk suami, dan 18-23 tahun untuk istri.
Peneliti melakukan wawancara kepada empat pasangan suami istri yang menikah di usia muda yang berstatus sebagai mahasiswa di kota Medan, sebagai informan utama dalam penelitian ini untuk memperoleh data sesuai dengan tujuan penelitian. Karakteristik informan tentu saja sangat penting untuk mengetahui posisi dan peran mereka sebagai sebuah subjek penelitian. Adapun karakteritik dari masing-masing pasangan suami istri yang menjadi informan dalam penelitian ini adalah sebagai berikut.
(ISTRI)
INFORMAN I
Nama : Nida Ulhaq
TTL : Medan, 11 April 1996
Usia : 21 Tahun
Tanggal Wawancara : Selasa, 14 Maret 2017
Lokasi Wawancara : Indomaret dekat UMSU (Universitas Muhammadiyah Sumatera Utara)
Pukul : 20.15 WIB
Nida Ulhaq merupakan istri dari pasangan informan pada penelitian ini.
Nida lahir di Medan pada 11 April 1996. Nida merupakan mahasiswi di Fakultas Agama Islam Universitas Muhammadiyah Sumatera Utara (UMSU). Nida
memutuskan menikah di usia 18 tahun, dan sekarang Nida sudah memiliki satu orang anak yang dipanggil Jadid. Setelah menikah, Nida bertempat tinggal di jalan Krakatau pasar 3, Gg. Bersama, Medan. Sekarang Nida telah berusia 21 tahun, dan masih aktif sebagai mahasiswi di Universitas Muhammadiyah Sumatera Utara (UMSU). Walaupun terbilang masih sangat muda untuk menikah, Nida tetap percaya diri dan bersemangat menjalani kehidupan barunya sebagai seorang istri, ibu sekaligus mahasiswa. Usia 18 tahun masih terbilang cukup muda untuk berani mengambil keputusan dalam pernikahan. Tetapi dia berusaha meyakinkan dirinya agar lebih kuat dalam menjalaninya.
Adapun alasan Nida menikah di usia yang terbilang cukup muda ini adalah karena dorongan orangtuanya. Orangtuanya menjodohkan Nida pada anak teman dekat orangtuanya. Selain itu Nida juga mengatakan kepada peneliti bahwa kita tidak boleh menolak lamaran orang shaleh, karena bisa kena azab. Oleh karena itu Nida berani mengambil keputusan untuk menikah di usia muda. Pria yang Nida nikahi selain anak dari teman dekat orang tuanya juga merupakan kakak seniornya sewaktu di masa sekolah menengah atas dulu. Nida dan suaminya terpaut usia 5 tahun. Perbedaan usia tidak menjadi penghalang bagi mereka.
Pada 14 Maret 2017, peneliti melakukan wawancara pada pasangan suami istri informan pertama ini. Peneliti melihat diri informan, yaitu Nida yang masih sangat muda dan suami yang lebih tua darinya. Mereka seperti tidak terpisahkan.
Nida sangat dekat dengan suaminya karena masih harus banyak belajar dan dibimbing oleh suaminya yang lebih dewasa. Terlihat ketika wawancara berlangsung mereka berdua begitu kompak untuk menjaga anaknya, ketika Nida diwawancarai maka suami harus menjaga anaknya sementara waktu, mengajak anaknya minum es krim atau makan jajanan agar wawancara peneliti dan Nida berjalan tanpa diganggu anak mereka. Meski masih terbilang muda dalam pernikahan, Nida berusaha untuk melakukan komunikasi yang baik pada suaminya, seperti menggunakan kata-kata yang lembut tidak kasar seperti yang digunakan orang Medan pada umumnya. Dan peneliti melihat kedekatan dan komunikasi yang terjalin dengan baik di antara mereka.
Pada wawancara tersebut, peneliti melihat Nida begitu sabar dengan kondisinya sekarang, yaitu menjadi istri dan ibu untuk keluarga kecilnya. Terlihat ketika anaknya mulai rewel dia men-stop wawancara lalu fokus pada anaknya, setelah anaknya tidak rewel lagi Nida pun melanjutkan wawancara penelitian ini.
“Alasan saya menikah kak, awalnya sih karena dijodohin sama orang tua, gak ada niat untuk menikah karena memang waktu semester satu cerita-cerita sama kawan mau menikah 4 tahun lagi, tapi karena memang ada hubungan orang tua ini kan dekat jadi dijodohin, ya udah terima aja, karena memang kalo kita menolak orang yang shalih itu kan kita nanti bakalan kena azab jadi ya udah diterima aja.
Karena memang nikah itu kayaknya enak, kakak Nida juga menikah muda umur 18 tahun”.
“Visi pernikahan kami adalah mendapat keridhoan Allah SWT ee seperti kami mau menjadi keluarga yang sakinah mawaddah warrahmah”.
Dari apa yang disampaikan oleh Nida, saya bisa mengambil kesimpulan bahwa Nida memutuskan untuk menikah di usia muda karena ingin mengikuti apa yang dikatakan orangtuanya dan juga tidak ingin mendapat azab karena menolak orang shaleh.
(SUAMI)
Nama : Syahrial Affandi
TTL : penggalangan/ 13 Juli 1992
Usia : 24 Tahun
Tanggal Wawancara : Selasa, 14 Maret 2017
Lokasi Wawancara : Indomaret dekat UMSU (Universitas Muhammadiyah Sumatera Utara)
Pukul : 20.15 WIB
Masih membahas informan pertama, sesudah Nida Ulhaq sebagai istri selanjutnya adalah Syahrial Affandi sebagai suami. Pasangan suami istri ini memenuhi syarat menjadi informan pada penelitian ini, yaitu Nida menikah pada usia 18 tahun, dan Syahrial menikah pada usia 22 tahun. Syahrial adalah mahasiswa lanjutan S1 Ilmu Komputer Universitas Sumatera Utara yang sebelumnya tahun 2010 pernah menjadi mahasiswa D3 statistik FMIPA Universitas Sumatera Utara.
Adapun dorongan Syahrial menikah di usianya yang cukup muda sebagai seorang lelaki, yang pada umumnya menikah di atas usia 25 tahun namun ia memutuskan menikah di usia 22 adalah yang paling utama untuk ketaatan pada Allah SWT, untuk menghindari perzinahan, selain itu juga karena dijodohkan oleh orangtua.
Pada 14 Maret 2017, peneliti melakukan wawancara pada pasangan suami istri informan pertama ini. Peneliti melihat diri informan, yaitu Syharial memang sudah mapan untuk membimbing keluarga kecilnya. Syahrial terlihat begitu memperhatikan keluarganya, memberikan kepedulian yang cukup penuh untuk mengharmoniskan keluarganya. Selain itu, sebagai seorang suami Syahrial benar-banar mendidik istrinya dengan baik, seperti mengajarkan sunnah-sunnah Rasulullah (Nabi Muhammad SAW) dan juga sebagai seorang ayah Syahrial begitu menyayangi anaknya, memberikan kasih sayang yang tulus untuk anak dan istrinya.
Syahrial dan Nida merupakan keluarga yang terbilang cukup muda namun mampu memberikan contoh keluarga yang harmonis pada orang-orang sekelilingnya, dilengkapi dengan canda tawa sang buah hati mereka yang kini memasuki usia dua tahunnya. Katika wawancara berlangsung, Syahrial juga menjawab pertanyaan-pertanyaan peneliti dengan begitu tegas tanpa bertele-tele.
Ini menunjukkan bahwa beliau bukanlah pemimpin keluarga yang loyo, akan tetapi tegas dan penuh prinsip. Menikah adalah hal yang bukan main-main
Ini menunjukkan bahwa beliau bukanlah pemimpin keluarga yang loyo, akan tetapi tegas dan penuh prinsip. Menikah adalah hal yang bukan main-main