• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN

4.2 Pembahasan

Berdasarkan analisis hasil dan pengamatan peneliti, maka peneliti membuat pembahasan adalah sebagai berikut,

Peneliti telah mengambil keempat pasangan informan utama penelitian ini untuk memaparkan penjelasan yang mampu menjawab tujuan penelitian ini yakni untuk mengetahui pemahaman komunikasi verbal dan non verbal pasangan suami istri yang menikah di usia muda yang berstatus sebagai mahasiswa di kota Medan, dan untuk mengetahui efektivitas komunikasi verbal dan non verbal pasangan suami istri yang menikah di usia muda yang berstatus mahasiswa di kota Medan.

Komunikasi adalah salah satu dari aktivitas manusia yang dikenali oleh semua orang namun sangat sedikit yang dapat mendefenisikannya secara memuaskan. Komunikasi memiliki variasi defenisi yang tidak terhingga seperti;

saling berbicara satu sama lain, televisi, penyebaran informasi, gaya rambut kita, kritik sastra dan masih banyak lagi (john fiske, 2012: 1).

Onong uchyana mengatakan komunikasi sebagai proses komunikasi pada hakikatnya adalah proses penyampaian pikiran, atau perasaan oleh seseorang (komunikator) kepada orang lain (komunikan). Pikiran bisa merupakan gagasan, informasi, opini, dan lainilain yang muncul dari benaknya. Perasaan bisa berupa keyakinan, kepastian, keraguan, kekhawatiran, kemarahan, keberanian, kegairahan, dan sebagainya yang timbul dari lubuk hati (Uchyana, 2002:11).

Komunikasi verbal adalah komunikasi yang menggunakan kata-kata, baik lisan maupun tulisan. Komunikasi verbal menggunakan sistem lambang verbal yang disebut bahasa, bahasa dapat didefinisikan sebagai seperangkat simbol, dengan aturan untuk mengkombinasikan simbol-simbol tersebut, yang digunakan dan dipahami suatu komunitas. Bahasa verbal adalah sarana utama untuk menyatakan pikiran, perasaan, dan maksud seseorang. Bahasa verbal menggunakan kata-kata yang mempresentasikan berbagai aspek (Mulyana, 2007:

261).

Komunikasi non verbal adalah komunikasi yang pesannya dikemas dalam bentuk non verbal, tanpa kata-kata. Dalam hidup nyata komunikasi non verbal jauh lebih banyak dipakai dari pada komunikasi verbal. Dalam berkomunikasi hampir secara otomatis komunikasi non verbal ikut terpakai. Karena itu, komunikasi non verbal bersifat tetap dan selalu ada. Komunikasi non verbal lebih jujur mengungkapkan hal yang mau diungkapkan karena spontan (Hardjana, 2003:26).

Kategori komunikasi non verbal dalam Sendjaja Sasa Djuarsa antara lain vocalic atau paralanguage, kinesic yang mencakup gerakan tubuh, lengan dan

kaki, serta ekspresi wajah (facial expression), perilaku mata (eye behavior), lingkungan yang mencakup objek benda dan artefak, proxemics yang merupakan ruang dan teritori pribadi, haptics (sentuhan), penampilan fisik (tubuh dan cara berpakaian), chronomics (waktu) dan olfaction (bau) (Sendjaja,2005:6.17).

Menurut hasil wawancara dan pengamatan pribadi peneliti, pasangan informan pertama yaitu Syahrial Affandi dan Nida Ulhaq sudah sama-sama memahami betapa pentingnya komunikasi verbal dan non verbal pada pernikahan mereka. Ketika Syahrial sebagai suami mendapati komunikasi verbal istri yang tidak biasa maka dia sudah tahu harus berbuat apa atau bersikap bagaimana, begitu pun Nida sebagai istri. Kejadian yang sama pada komunikasi non verbal, ketika Syahrial mendapati reaksi diam atau raut wajah istri tidak seperti biasanya maka dia sudah tau apa yang harus diperbuat, begitu pula Nida sebagai istri ketika mendapat reaksi non verbal dari suami.

Hal tersebut juga dipahami oleh pasangan informan kedua yaitu Andi Rahim Pardomuan Siregar dan Kak Liza Umami. Andi mengatakan bahwa istrinya adalah perempuan yang sangat pendiam dan tidak pandai menyampaikan isi hatinya jadi Andi harus banyak memahami bahasa non verbal ketimbang bahasa verbal istrinya. Namun demikian kedua-duanya tetap dianggap penting untuk menjauhkan rumah tangga dari pertengkaran dan semacamnya. Kak Liza juga beranggapan hal yang sama yaitu penting untuk memahami bahasa verbal dan non verbal suami. Kak Liza mengatakan bahwa selama usia pernikahan dia sudah hapal bahwa suaminya merupakan laki-laki yang tidak mau menceritakan masalah nya pada keluarga nya, suaminya lebih memilih untuk diam dan meyimpan rapat-rapat masalahnya.

Pada pasangan informan ketiga yaitu Fahmi Arif dan Nisa Juliana Simamora juga menganggap bahwa penting memahami komunikasi verbal dan komunikasi non verbal pasangan untuk menjaga keutuhan rumah tangga serta menjauhkan dari pertengkaran atau semacamnya. Hal ini diketahui melalui hasil wawancara dan pengamatan yang dilakukan peneliti. Fahmi mengatakan bahwa dia sudah sangat mengenal istrinya, dia sudah paham apa maksud diam dari istrinya ketika berada dalam suatu kondisi. Begitu pula Nisa, kini dia sudah sangat memahami suaminya, akan tetapi Nisa mengatakan bahwa suaminya bukanlah

laki-laki yang pendiam, suaminya adalah laki-laki yang terbuka, jadi ketika ada masalah mereka sama-sama mencari solusi dan mengomunikasikannya bersama.

Hal serupa juga dilakukan oleh pasangan informan keempat yaitu Ananda Syahputera dan Fathimah Nurul Wafa. pasangan ini menganggap betapa pentingnya memahami komunikasi verbal dan komunikasi non vebal pasangan.

Sehingga apabila terjadi suatu hal yang tidak seperti biasanya dan mendapati ucapan atau mimik wajah pasangan berbeda dari biasanya maka mereka sudah tahu harus melakukan apa atau bertindak bagaimana.

Efektivitas Komunikasi antar pribadi dimulai dengan lima kualitas umum yang dipertimbangkan yaitu keterbukaan (openness), empati (empathy), sikap mendukung (supportiveness), sikap positif (positiveness), dan kesetaraan (equality).

- Keterbukaan (Opennes)

Kualitas keterbukaan mengacu pada sedikitnya tiga aspek dari komunikasi antar pribadi. Pertama, komunikator interpersonal yang efektif harus terbuka kepada orang yang diajaknya berinteraksi. Ini tidaklah berarti bahwa orang harus dengan segera membukakan semua riwayat hidupnya. Memang ini mungkin menarik, tapi biasanya tidak membantu komunikasi. Dalam konteks pasangan suami istri yang menikah di usia muda, menyampaikan keterbukaan sebelum atau sesudah pernikahan adalah sangat penting agar suami istri bisa memahami dan mengetahui pribadi masing-masing, sehingga ketika terbentur suatu masalah pasangan suami istri bisa saling memahami dan memaklumi pasangannya.

- Empati (Empathy)

Henry Backrack (1976) mendefinisikan empati sebagai kemampuan seseorang untuk mengetahui apa yang sedang dialami orang lain pada suatu saat tertentu, dari sudut pandang orang lain itu, melalui kacamata orang lain itu. Dalam konteks pasangan suami istri yang menikah di usia muda, empati sangat dibutuhkan dalam rumah tangga, mengetahui apa yang sedang di alami pasangan pada momen tertentu. Hal ini dapat dijadikan sebagai alasan untuk saling menjaga

dan saling perduli di antara pasangan sehingga rumah tangga akan terjaga dengan baik.

- Sikap Mendukung (Supportiveness)

Hubungan antarpribadi yang efektif adalah hubungan dimana terdapat sikap mendukung (supportiveness). Suatu konsep yang perumusannya dilakukan berdasarkan karya Jack Gibb. Dalam konteks pasangan suami istri yang menikah di usia muda, sikap saling mendukung adalah hal yang sangat penting untuk mempertahankan pernikahan muda mereka. Mendukung setiap aktivitas suami/

istri yang tidak melanggar aturan agama dan negara adalah sikap yang sangat diperlukan dalam subuah rumah tangga.

- Sikap Positif (Positiveness)

Kita mengkomunikasikan sikap positif dalam komunikasi antar pribadi dengan sedikitnya dua cara: (1) menyatakan sikap positif dan (2) secara positif mendorong orang yang menjadi teman kita berinteraksi. Sikap positif mengacu pada sedikitnya dua aspek dari komunikasi antar pribadi. Dalam konteks pasangan suami istri yang menikah di usia muda, sikap positif merupakan hal yang penting untuk dimiliki setiap pasangan. Menyatakan sikap positif dan secara positif mendukung suami/istri dalam setiap aktivitas-aktivitasnya.

- Kesetaraan (Equality)

Dalam setiap situasi, barangkali terjadi ketidaksetaraan. Salah seorang mungkin lebih pandai, lebih kaya, lebih tampan atau cantik, atau lebih atletis dari pada yang lain. Tidak pernah ada dua orang yang benar-benar setara dalam segala hal. Terlepas dari ketidaksetaraan ini, komunikasi antar pribadi akan lebih efektif bila suasananya setara. Dalam pasangan suami istri yang menikah di usia muda, kesetaraan mungkin sesuatu yang mustahil, karena setiap individu dikaruniai pribadi yang berbeda-beda dan nasib yang berbeda-beda. Akan tetapi pada sebuah rumah tangga, pasangan suami istri harus memiliki visi dan misi pernikahan yang jelas dan selaras agar pernikahan dapat bertahan.

Proses komunikasi dikatakan efektif apabila memenuhi lima hal;

pengertian, kesenangan, pengaruh pada sikap, hubungan yang makin baik, dan tindakan.

• Pengertian artinya penerimaan yang cermat dari sisi stimuli seperti yang dimaksud oleh komunikator. Kegagalan menerima isi pesan secara cermat disebut kegagalan komunikasi primer (primary breakdown in communication). Perlu pemahaman mengenai psikologi pesan dan psikologi komunikator untuk menghindari hal tersebut.

• Kesenangan, tidak semua komunikasi ditujukan untuk menyampaikan informasi dan membentuk pengertian. Ada pula komunikasi yang lazim disebut komunikasi fatis (phatic communication) yang dimaksudkan untuk menimbulkan kesenangan. Komunikasi ini lah yang menjadikan hubungan kita hangat, akrab, dan menyenangkan. Dalam hal ini kita perlu mempelajari psikologi tentang sistem komunikasi interpersonal.

• Mempengaruhi sikap, bisa dikatakan bahwa komunikasi yang kita jalin kebanyakan adalah untuk saling mempengaruhi satu sama lain.

Komunikasi membahasakannya dengan, komunikasi persuasive.

Komunikasi ini memerlukan pemahaman tentang faktor-faktor pada diri komunikator, dan pesan yang menimbulkan efek pada komunikan, dan tindakan orang dengan manipulasi psikologis sehingga orang tersebut bertindak seperti atas kehendaknya sendiri.

• Hubungan sosial yang baik, sebagai makhluk sosial yang tidak pernah bisa sendiri dalam kehidupannya, manusia mempunyai daftar kebutuhan sosial yang akan menumbuhkan dan mempertahankan hubungan yang memuaskan dengan orang lain dalam hal interaksi dan asosiasi (inclusion), pengendalian dan kekuasaan (control), dan cinta kasih sayang (affection).

Kebutuhan sosial ini hanya bisa dipenuhi dengan komunikasi interpersonal yang efektif.

• Tindakan, menimbulkan tindakan nyata memang indikator yang baik untuk mengukur seberapa besar efektivitas yang terjalin selama komunikasi berlangsung karena untuk menimbulkan tindakan, kita harus berhasil terlebih dahulu menanamkan pengertian, membentuk dan

mengubah sikap atau menumbuhkan hubungan yang baik. Tindakan adalah hasil kumulatif seluruh proses komunikasi. Hal ini bukan saja memerlukan pemahaman tentang seluruh mekanisme psikologis yang terlibat dalam proses komunikasi, tetapi juga faktor-faktor yang mempengaruhi perilaku manusia (Rakhmat,2005:12-16).

Dalam konteks pasangan suami istri yang menikah di usia muda, komunikasi yang efektif sangat dibutuhkan agar rumah tangga tetap bertahan dengan baik. pengertian, kesenangan, pengaruh pada sikap, hubungan yang makin baik, dan tindakan merupakan tanda telah terjadinya komunikasi yang efektif.

Ketika pasangan berbicara pada suami/istrinya, memahami maksud yang disampaikan pasangan adalah suatu pengertian yang dapat memberikan respon yang baik sehingga pasangan kita akan menjadi senang atau bahagia karena kita memiliki pemahaman atau pengertian yang sama dengan nya. Berkomunikasi juga tidak hanya soal pengertian yang sama akan tetapi juga memberikan kesenangan.

Sehingga apabila suami istri berkomunikasi dan mereka berdua merasakan senang atau bahagia itu tandanya komunikasi yang terjalin di antara mereka berlangsung efektif. Selain itu adalah pengaruh pada sikap, ketika suami/istri menyampaikan sesuatu pada pasangannya, sehingga pasangannya mengikuti apa yang dia sampaikan itu artinya komunikasi mereka berdua juga berlangusung dengan efektif, dan yang terakhir adalah hubungan yang makin baik serta suatu tindakan.

Teori self disclosure atau pengungkapan diri merupakan proses mengungkapkan reaksi atau tanggapan kita terhadap situasi yang sedang kita hadapi serta memberikan informasi guna memahami suatu tanggapan terhadap orang lain dan sebaliknya. Membuka diri berarti membagikan kepada orang lain perasaan kita terhadap suatu yang telah dikatakan atau dilakukannya atau perasaan kita terhadap suatu kejadian-kejadian yang baru saja kita saksikan (Devito, 1997:231-232).

Melalui wawancara dan pengamatan yang telah dilakukan peneliti pada pasangan informan pertama yaitu Syahrial Affandi dan Nida Ulhaq terangkum bahwa walaupun pasangan ini menikah dikarenakan perjodohan oleh orang tua mereka sehingga untuk melakukan pengenalan sebelum pernikahan tidak dilakukan, artinya tidak ada keterbukaan satu sama lain sebelum pernikahan akan tetapi pasangan informan pertama ini melakukan keterbukaan atau self disclosure

ketika di awal pernikahan. Pada saat itu lah Syahrial dan Nida menyampaikan apa-apa yang mereka sukai dan tidak sukai agar ketika terbentur suatu masalah baik Syahrial maupun Nida sudah tau harus melakukan apa terhadap pasangannya. Self disclusure sangat penting dilakukan oleh pasangan suami istri, terutama pasangan suami istri muda yang masih memiliki keegoisan yang tinggi.

self disclosure dapat dilakukan pada sebelum pernikahan, di awal pernikahan atau bahkan seiring hidup bersama dalam rumah tangga.

Pada pasangan informan kedua yaitu Andi Rahim Pardomuan Siregar dan Liza Umami berbeda dengan pasangan informan pertama. Berdasarkan hasil wawancara dan pengamatan yang dilakukan oleh peneliti, Andi mengatakan bahwa dia telah menyampaikan keterbukaan tentang dirinya/ self disclosure ketika istrinya datang ke rumah saat sebelum menikah. Sedangkan kak Liza mengatakan bahwa dia tidak ada menyampaikan keterbukaan pada suaminya sebelum menikah atau pun di awal pernikahan, semua terjadi seiring berjalannya pernikahan mereka pada saat itu lah kak Liza menganggap bahwa suaminya telah mengetahui segala sesuatu tentang dirinya. Menurut peneliti pasangan informan kedua ini tetap melakukan self disclosure walaupun kak Liza sebagai istri tidak pernah mengungkapkan bagaimana dirinya pada suaminya akan tetapi kak Liza tidak pernah menyimpan rahasia apapun terhadap suaminya.

Hal yang sama juga terjadi pada pasangan informan ketiga yaitu Fahmi Arif dan Nisa Juliana Simamora. Fahmi sebagai suami mengatakan bahwa proses pembukaan diri/ self disclosure antara dia dan istri berlangsung seiring pernikahan, tidak sebelum menikah maupun ketika di awal pernikahan.

Sedangkan Nisa menganggap proses pembukaan diri/ self disclosure terjadi sebelum mereka menikah yaitu pada saat ta’aruf. Menurut pengamatan peneliti pasangan informan ketiga ini tetap melakukan self disclosure dalam pernikahan mereka.

Pada pasangan informan terakhir yaitu Ananda Syahputera dan Fathimah Nurul Wafa juga sama dengan informan di atas yaitu pasangan ini melakukan keterbukaan diri/ self disclosure seiring berjalannya pernikahan mereka. Ananda mengakui bahwa dirinya adalah laki-laki yang terbuka, to the point apabila

menyampaikan sesuatu. Kak Wafa juga menganggap bahwa dia dan suaminya memiliki banyak keasamaan sifat, seperti memiliki sifat terbuka atau tidak menyembunyikan apapun dari pasangannya.

Pada teori social penetration, Altman dan Taylor (1973, Sendjaja, 2002:

2.42) mengemukakan suatu model perkembangan hubungan yang disebut social penetration atau penetrasi sosial. Yaitu proses di mana orang saling mengenal satu dengan lainnya. Model ini selain melibatkan self disclosure juga menjelaskan bila mana harus melakukan self disclosure dalam perkembangan hubungan. Penetrasi sosial merupakan proses yang bertahap, dimulai dari komunikasi basa-basi yang tidak akrab dan terus berlangsung hingga menyangkut topik pembicaraan yang lebih pribadi dan akrab, seiring dengan berkembangnya hubungan. Di sini orang akan membiarkan orang lain untuk mengenal dirinya secara bertahap. Dalam proses ini orang biasanya akan menggunakan persepsinya untuk menilai keseimbangan antara upaya dan ganjaran (cost and rewards) yang diterimanya atas pertukaran yang terus berlangsung memperkirakan prospek hubungan mereka. Jika perkiraan tersebut menjanjikan kesenangan dan keuntungan, maka mereka secara bertahap akan bergerak menuju tingkat hubungan yang lebih akrab.

Melalui hasil wawancara dan pengamatan peneliti, pasangan informan pertama yaitu Syahrial Affandi dan Nida Ulhaq telah melakukan social penetration. Dari sebelum menikah Syahrial dan Nida tidak pernah melakukan komunikasi langsung, mereka berdua hanya sekedar tahu namun tidak begitu mengenal. Berlanjut pada keputusan untuk melangsungkan pernikahan, semua yang meng-handle pernikahan di antara mereka berdua adalah kedua orang tua mereka, mereka sama sekali tidak tahu menahu, mereka hanya mengikuti apa kata kedua orang tua mereka tentang perjodohan mereka. Sampai setelah akad pun pasangan ini belum berani berbicara secara langsung melainkan berkomunikasi melalui sosial media.

Seiring berjalannya waktu setelah hampir tiga tahun menikah dan telah dikaruniai seorang putera, pasangan informan ini sudah saling mengenal, sudah mengetahui bagaimana reaksi pasangan ketika terbentur suatu masalah baik di rumah maupun di luar rumah, serta sudah tahu segala nada dan intonasi ketika

berkomunikasi, mimik wajah dan reaksi tubuh, dan lain sebagainya. Syahrial sebagai suami banyak memberikan ilmu tentang kehidupan dunia dan akhirat pada Nida istrinya. Syahrial terus berusaha untuk membimbing istrinya. Sedangkan Nida ketika peneliti menanyakan sudah seberapa kenal dengan suamu, Nida menjawab sudah mengenal namun terkadang dia masih bingung dengan sifat suaminya akan tetapi Nida tetap bisa mengatasinya.

Berlanjut pada pasangan informan kedua yaitu Andi Rahim Pardomuan Siregar dan Liza Umami. Menurut hasil wawancara dan pengamatan peneliti pasangan ini juga telah melakukan social penetration. Andi dan kak Liza sebelum menjadi suami istri adalah teman sekelas. Kak Liza mengakui bahwa dia tertarik pada suaminya karena suaminya adalah orang yang baik lagi pintar. Sebelum memutuskan untuk menikah, pasangan ini sudah pernah berkomunikasi baik secara langsung maupun melalui pesan singkat melalui hand phone namun tidak intens.

Berangkat dari Andi yang pernah menyinggung soal pernikahan, lalu kak Liza mengutarakan maksudnya untuk menikah. Lalu beberapa pekan kemudian mereka menikah. Andi mengatakan bahwa istrinya adalah perempuan yang sangat pendiam, sedangkan Andi sendiri adalah laki-laki yang mudah berbaur dan bersosial. Ketika di awal pernikahan suasana yang canggung dan malu-malu terpecahkan oleh Andi yang sudah biasa berinteraksi dengan orang banyak.

Seiring berjalannya pernikahan mereka dan sudah dikaruniakan seorang putera maka tidak ada kecanggungan lagi di antara mereka khususnya kak Liza sebagai istri. Mereka sering melibatkan putera mereka ketika hendak menyampaikan maksud. Seperti yang Andi sampaikan pada saat wawancara berlangsung.

Pada pasangan informan ketiga yaitu Fahmi Arif dan Nisa Juliana Simamora juga telah melakukan social penetration. Pasangan informan ketiga ini adalah teman sejurusan namun beda kelas dulunya sebelum sah menjadi suami istri. Mereka hanya sekedar tahu namun tidak begitu mengenal. Sebelum menikah, pasangan informan ketiga ini hanya pernah berkomunikasi melalui sosial media namun tidak intens. Lalu karena Fahmi saat itu sudah berniat untuk menikah maka dia mengajak Nisa. Setelah menikah, komunikasi mereka berdua

juga sangat canggung dikarenakan Nisa yang begitu pendiam. Namun lama kelamaan suasana mencair dan mereka berdua kini sudah saling mengenal. Fahmi sudah tahu bagaimana komunikasi verbal maupun non verbal istri ketika sedang bahagia maupun sedang memiliki masalah, begitu pula Nisa juga sudah sangat mengenal suaminya. Dan sekarang pasangan ini tengah menunggu lahirnya anak pertama mereka. Peneliti mendo’akan keberkahan pada pasangan yang ramah ini.

Menurut hasil rekaman wawancara, pasangan terakhir yaitu Ananda Syahputera dan Fathimah Nurul Wafa juga telah melakukan social penetration.

Ananda dan kak Wafa adalah teman sejurusan namun beda kelas di fakultas Kedokteran USU. Proses perkenalan mereka hanya melalui organisasi. Pasangan ini mengungkapkan bahwa mereka hanya sekedar tahu namun tidak begitu mengenal secara detail. Proses pernikahan mereka juga begitu singkat. Tidak ada perkenalan/ ta’aruf. Kak Wafa mengatakan bahwa dia saat itu hanya berpikir jika sholeh akan ia terima dan nantinya akan bisa menemani dia di masa koas nya yang memakan waktu cukup lama. Setelah mereka menikah, komunikasi di antara mereka juga canggung dan malu-malu. Namun pasangan ini tidak membutuhkan waktu lama untuk mencairkan diri. Seperti yang disampaikan oleh kak Wafa, dia dan suaminya memiliki sifat yang hampir sama. Sehingga kecocokan membantu kelancaran komunikasi mereka di awal pernikahan hingga sekarang semakin baik.

Ananda tahu apa yang harus dia lakukan ketika istrinya sedang marah atau ada masalah, begitu pula kak Wafa dia tahu apa yang harus dia lakukan agar tidak mengundang pertengkaran di antara mereka.

Process view menganggap bahwa kualitas dan sifat hubungan dapat diperkirakan hanya dengan menggunakan atribut masing-masing sebagai individu dan kombinasi antara atribut-atribut tadi. Hubungan intensif antara orang-orang dalam kelompok primer dapat menyebabkan lahirnya process view. Jadi, umpanya suami istri memahami perilaku masing-masing, istri memahmi makna senyum suami, sedangkan suami juga memahami kerutan kening istri. Namun pemahaman makna itu berhubungan secara spesifik dengan objek tertentu. Jadi umpanya pemahaman istri terhadap senyuman suami itu ketika berhubungan dengan peristiwa ketika suami menyentuh istri, begitu pula pemaknaan suami terhadap

senyuman istri ketika berada di toko pakaian. Atribut yang sama, yaitu

“senyuman”, namun memiliki makna yang berbeda apabila dilakukan oleh orang dan objek serta situasi yang berbeda. Process view membutuhkan waktu dalam memahami atribut-atribut yang digunakan di antara orang-orang dalam kelompok primer itu.

Menurut hasil penelitian dan pengamatan peneliti, semua pasangan informan pada penelitian yang dilakukan telah melakukan process view. Masing-masing dari mereka telah memahami setiap maksud bahasa, mimik wajah dari pasangan mereka akan suatu objek. Sehingga dari pemahaman tersebut akan mengurangi pertengkaran dalam rumah tangga mereka.

Teori Social Exchangemenelaah bagaimana kontribusi seseorang dalam suatu hubungan, di mana hubungan itu mempengaruhi kontribusi orang lain.

Teori Social Exchangemenelaah bagaimana kontribusi seseorang dalam suatu hubungan, di mana hubungan itu mempengaruhi kontribusi orang lain.