BAB II KAJIAN PUSTAKA
2.2 Model Teoritis
2.2.4 Komunikasi Non Verbal
Secara sederhana, pesan non verbal adalah semua isyarat yang bukan kata-kata. Menurut Larry A. Samovar dan Richard E. Porter, komunikasi non verbal mencakup semua rangsangan (kecuali rangsangan verbal) dalam suatu setting komunikasi, yang dihasilkan oleh individu dan penggunaan lingkungan oleh individu, yang mempunyai nilai pesan potensial bagi pengirim atau penerima; jadi definisi ini mencakup perilaku yang disengaja juga tidak disengaja sebagai bagian dari peristiwa komunikasi secara keseluruhan; kita mengirim banyak pesan non verbal tanpa menyadari bahwa pesan tersebut bermakna bagi orang lain (Samovar,1991:179).
Komunikasi non verbal adalah komunikasi yang pesannya dikemas dalam bentuk non verbal, tanpa kata-kata. Dalam hidup nyata komunikasi non verbal jauh lebih banyak dipakai dari pada komunikasi verbal. Dalam berkomunikasi hampir secara otomatis komunikasi non verbal ikut terpakai. Karena itu, komunikasi non verbal bersifat tetap dan selalu ada. Komunikasi non verbal lebih jujur mengungkapkan hal yang mau diungkapkan karena spontan (Hardjana, 2003:26).
Batasan lain mengenai komunikasi non verbal dikemukakan oleh beberapa ahli lainnya, yaitu :
a. Frank E.X. Dance dan E. Carl E. Larson : komunikasi non verbal adalah sebuah stimuli yang tidak bergantung pada isi simbolik untuk memaknainya (stimulus not dependent on symbolic content for meaning).
b. Edwar Sapir : komunikasi non verbal adalah sebuah kode yang luas yang ditulis tidak di manapun juga, diketahui oleh tidak seorang pun dan dimengerti oleh semua (an elaborate code that is written nowhere, known to none, and understood by all).
c. Malandro dan Barker yang dikutip dari Ilya Sunarwinadi : komunikasi antar budaya memberikan batasan-batasannya sebagai berikut :
- Komunikasi non verbal adalah komunikasi tanpa kata-kata - Komunikasi non verbal terjadi bila individu berkomunikasi
tanpa menggunakan suara.
- Komunikasi non verbal adalah setiap hal yang dilakukan oleh seseorang yang diberi makna oleh orang lain.
- Komunikasi non verbal adalah studi mengenai ekspresi wajah, sentuhan, waktu, gerak, isyarat, bau, perilaku mata dan lain-lain (Sendjaja,2005:228-229).
Kategori komunikasi non verbal dalam Sendjaja Sasa Djuarsa antara lain vocalic atau paralanguage, kinesic yang mencakup gerakan tubuh, lengan dan kaki, serta ekspresi wajah (facial expression), perilaku mata (eye behavior), lingkungan yang mencakup objek benda dan artefak, proxemics yang merupakan ruang dan teritori pribadi, haptics (sentuhan), penampilan fisik (tubuh dan cara berpakaian), chronomics (waktu) dan olfaction (bau) (Sendjaja, 2005: 17).
Perasaan seseorang lebih banyak dikomunikasikan secara non verbal ketimbang lewat kata-kata. Bahasa tubuh akan selalu menjadi indikator yang paling terpercaya untuk menyampaikan perasaan, pendirian dan emosi. Tanpa disadari, dalam kehidupan sehari-hari kita terus memperlihatkan pikiran-pikiran yang ada dalam benak kita. Bentuk komunikasi yang relatif baru, yakni berbicara, telah memenuhi perannya untuk menyampaikan informasi (fakta dan data), sementara tubuh memenuhi perannya untuk mengungkapkan perasaan (Borg, 2009:24).
Kita dapat memahami perasaan seseorang dengan melihat tanda-tanda komunikasi non verbalnya. Berdasarkan perkiraan ada 700.000 bentuk komunikasi non verbal yang biasa dipakai umat manusia dari berbagai budaya yang berbeda. Setiap budaya mempunyai bentuk komunikasi non verbalnya masing-masing. Beberapa mempunyai pengertian yang sama, namun tidak jarang tanda non verbalnya yang sama mempunyai pengertian yang berbeda, bahkan bertentangan (Rakhmat, 2005:316).
Mark L. Knapp (dalam Rakhmat,2005:287) menyebut lima fungsi pesan non verbal yaitu repetisi (mengulang kembali gagasan yang sudah disajikan secara verbal, substitusi (menggantikan lambing-lambang verbal), kontradiksi (menolak pesan verbal atau memberikan makna yang lain terhadap pesan verbal, kompleme (melengkapi dan memperkaya makna pesan verbal, dan aksentuasi (menegaskan pesan verbal atau menggaris bawahinya).
Dalam perkembangannya sekarang ini, fungsi komunikasi non verbal dipandang sebagai pesan-pesan yang holistic, lebih dari pada sebagai fungsi pemrosesan informasi sederhana. Fungsi-fungsi holistic mencakup indentifikasi pembentukan dan manajemen kesan, muslihat, emosi, dan struktur percakapan.
Hickson dan Stacks menegaskan bahwa fungsi holistic tersebut dapat diturunkan dalam 8 fungsi, yaitu pengendalian terhadap percakapan, control terhadap perilaku orang lain, ketertarikan atau kesenangan, penolakan atau ketidaksenangan, peragaan informasi kognitif, peragaan informasi afektif, penipuan diri (self-deception) dan muslihat terhadap orang lain (Sendjaja, 2005:234).
Dalam berkomunikasi, Mark Knapp (1978) menyebutkan komunikasi non verbal memiliki fungsi yaitu (Cangara, 2006:100):
1. Meyakinkan apa yang diucapkan (repetition)
2. Menunjukkan perasaan dan emosi yang tidak bisa diutarakan dengan kata-kata (substitution)
3. Menunjukkan jati diri sehingga orang lain bisa mengenalnya (identity) 4. Menambah atau melengkapi ucapan-ucapaan yang dirasakan belum
sempurna
Ada beberapa jenis pesan non verbal yaitu:
Jenis-jenis pesan non verbal
a. Pesan Kinesik
Pesan kinesik merupakan pesan yang menggunakan gerakan tubuh yang berarti. Pesan ini terdiri atas tiga komponen utama berikut ini.
1) Pesan Fasial
Pesan ini menggunakan raut muka untuk menyampaikan makna tertentu. Berbagai penelitian menunjukkan bahwa wajah dapat menyampaikan paling sedikit sepuluh kelompok makna: kebahagiaan, rasa terkejut, ketakutan, kemarahan, kesedihan, kemuakan, pengecaman, minat, ketakjuban, dan tekad.
2) Pesan Gestural
Menunjukkan gerakan sebagian anggota badan seperti mata dan tangan untuk mengkomunikasikan berbagai makna. Pesan ini berfungsi untuk mengungkapkan:
(a) Mendorong atau membatasi
(b) Menyesuaikan atau mempertentangkan (c) Responsif dan tak responsif
(d) Perasaan positif atau negatif
(e) Memperhatikan atau tidak memperhatikan (f) Melancarkan atau tidak reseptif
(g) Menyetujui atau menolak 3) Pesan Postural
Berkaitan dengan keseluruhan anggota badan. Tiga makna yang dapat disampaikan postur adalah sebagai berikut:
a) Immediacy
Merupakan ungkapan kesukaan atau ketidaksukaan terhadap individu yang lain. postur yang condong ke arah lawan bicara menunjukkan kesukaan atau penilaian positif.
b) Power
Mengungkapkan status yang tinggi pada diri komunikator.
c) Responsiveness
Individu mengkomunikasikannya bila ia bereaksi secara emosional pada lingkungan, baik positif maupun negatif.
b. Pesan Artifaktual
Pesan ini diungkapkan melalui penampilan seperti pakaian, kosmetik dan lain-lain. Umumnya pakaian yang dipergunakan untuk menyampaikan identitas yang berarti menunjukkan kepada orang lain bagaimana kita dan bagaimana memperlakukan kita. Selain itu pakaian berguna untuk mengungkapkan perasaan.
Misalnya, berwarna hitam yang berarti duka cita dan formalitas, sAndal untuk sesuatu yang informal, dan batik untuk situasi yang formal.
c. Pesan Sentuhan dan Bau-Bauan
Berbagai pesan dan perasaan dapat disampaikan melalui sentuhan, tetapi paling sering dikomunikasikan antara lain tanpa perhatian, kasih sayang, takut, marah, dan bercanda. Bau-bauan telah digunakan manusia untuk berkomunikasi secara sadar maupun tidak sadar. Saat ini banyak orang yang mencoba menggunakan bau-bauan seperti parfum untuk menyampaikan pesan.
2.2.5 Pengembangan Hubungan pada Komunikasi Antar Pribadi