anksi administrasi dalam sistem penegakan hukum lingkungan merupakan salah satu instrumen penegakan (enforcement) mendampingi instrumen perdata dan pidana.
Secara “teoretis-konseptual” berdasarkan sifatnya sanksi administrasi memiliki dua sisi. Pada sisi yang pertama sanksi administrasi bersifat preventif oleh karenanya termasuk sebagai instrumen penaatan (compliance). Dikatakan bersifat preventif karena mekanisme kerja sanksi administrasi jenis ini mencegah penanggungjawab usaha atau kegiatan melakukan perusakan dan/
atau pencemaran lingkungan hidup. Agar tidak melakukan tindakan yang mengakibatkan terjadinya kerusakan dan/ atau pencemaran lingkungan hidup, sanksi administrasi jenis ini difungsikan terlebih dahulu oleh pejabat tata usaha negara untuk mencegahnya. Oleh karenanya dikatakan sebagai sanksi administrasi yang bersifat preventif dan difungsikan sebagai instrumen penaatan. Sebelum penanggungjawab kegiatan atau usaha melanggar dan mencemari lingkungan, segera dilakukan teguran tertulis agar lingkungan terhindar dari bahaya kerusakan dan pencemaran. Adapun agar sanksi teguran tertulis efektif diindahkan sanksi teguran hendaknya dibarengi dengan penerapan
S
sanksi administrasi berupa uang paksaan. Beberapa contoh pelanggaran yang belum menimbulkan terjadinya kerusakan dan/
atau pencemaran lingkungan hidup adalah seperti :
1. Melanggar baku mutu air limbah, baku mutu emisi, dan baku mutu gangguan
2. Membuang/dumping limbah tanpa izin
3. Melalukan kegiatan/usaha tanpa memiliki izin lingkungan 4. Menyimpan limbah B3 tanpa izin
5. Pengangkutan limbah B3 tanpa izin 6. Mengumpulkan limbah B3 tanpa izin 7. Memanfaatkan limbah B3 tanpa izin 8. Mengolah limbah B3 tanpa izin 9. Menimbun limbah B3 tanpa izin
10. Memanfaatkan air tanpa izin oleh perusahaan 11. Memanfaatkan hasil hutan tanpa izin
12. Menebang pohon tanpa izin
Beberapa sanksi administrasi yang ideal diterapkan untuk jenis pelanggaran ketentuan-ketentuan dibidang lingkungan hidup dan syarat-syarat yang belum mengakibatkan terjadinya kerusakan dan/atau pencemaran lingkungan hidup adalah sanksi administrasi sebagai berikut:
1. Teguran Tertulis
2. Pengenaan uang paksaan (dwangsom)
Sisi lainnya dari sanksi administrasi selain bersifat preventif, adalah bersifat represif dan oleh karenanya termasuk instrumen penindakan (enforcement). Sanksi administrasi jenis ini didayagunakan sebagai tindak penghukuman secara administrasi kepada penanggungjawab kegiatan atau usaha yang telah mengakibatkan terjadinya kerusakan dan/ atau pencemaran
lingkungan hidup. Sanksi administrasi yang bersifat represif atau bersifat penindakan meliputi:
1. Penghentian sementara kegiatan;
2. Perampasan alat yang digunakan;
3. Pembekuan izin lingkungan;
4. Tindakan tata tertib, termasuk tindakan pemulihan lingkungan;
5. Pencabutan izin lingkungan.
Terkait dengan sanksi administrasi yang bersifat represif, dalam kajian teoretis-konseptual pengenaannya harus dibedakan.
Untuk pelanggaran yang mengakibatkan pencemaran dan/ atau perusakan yang masih dapat dipulihkan, sanksi a, b, c, d, ideal untuk diterapkan baik secara alternatif maupun secara komulatif.
Adapun untuk pelanggaran yang mengakibatkan pencemaran dan/
atau perusakan yang tidak dapat dipulihkan maka mutlak tidak boleh tidak harus dikenakan pencabutan izin, dan tindakan tata tertib.
Berikut beberapa contoh jenis-jenis pelanggaran-pelanggaran yang akan mengakibatkan terjadinya kerusakan dan/ atau pencemaran lingkungan hidup :
1. Mengakibatkan dilampauinya baku mutu udara ambien (mencemari lingkungan)
2. Mengakibatkan dilampauinya baku mutu air (mencemari lingkungan)
3. Mengakibatkan dilampauinya baku mutu air laut (mencemari lingkungan)
4. Mengakibatkan dilampauinya baku kerusakan (perusakan lingkungan)
Namun berbeda dengan pembidangan sanksi administrasi berdasarkan kajian teoretis-konseptual, secara normatif dalam UUPPLH pembidangan sanksi administrasi karena sifatnya yang preventif dan represif tidak dikenal. UUPPLH, dalam Pasal 76 ayat (2) mengatur jenis-jenis sanksi administrasi sebagai berikut : 1. Teguran tertulis
2. Paksaan pemerintahan 3. Pembekuan izin lingkungan 4. Pencabutan izin lingkungan
Pada Pasal 80 UUPPLH, selanjutnya dijelaskan apa yang dimaksud dengan sanksi paksaan pemerintahan. Sanksi administrasi dalam bentuk paksaan pemerintahan meliputi :
1. Penghentian sementara kegiatan produksi;
2. Pemindahan sarana produksi;
3. Penutupan saluran pembuangan air limbah atau emisi;
4. Pembongkaran;
5. Penyitaan terhadap barang atau alat-alat yang berpotensi menimbulkan pelanggaran;
6. Penghentian sementara seluruh kegiatan;
7. Tindakan lain yang bertujuan untuk menghentikan pelanggaran dan tindakan memulihkan fungsi lingkungan hidup.
Selanjutnya bagaimana Pasal 76 UUPPLH diimplementasikan dalam praktik penerapan sanksi administrasi? Untuk hal ini Menteri Lingkungan Hidup R.I. telah mengeluarkan Peraturan Menteri Lingkungan Hidup Nomor 02 Tahun 2013 tentang Pedoman Penerapan Sanksi Administratif di Bidang Perlindungan dan Pengelolaan Lingkungan Hidup. Berpedoman pada peraturan menteri, jenis sanksi administrasi teguran tertulis diberikan
kepada penanggungjawab kegiatan atau usaha yang telah melanggar peraturan perundang-undangan di bidang lingkungan hidup atau persyaratan sebagai mana tercantum dalam izin lingkungan, namun akibat dari pelanggaran tersebut tidak berdampak negatif terhadap lingkungan hidup dan sifat pelanggarannya dikategorikan sebagai pelanggaran ringan.
Pelanggaran yang bersifat ringan seperti pelanggaran yang bersifat administrasi, meliputi:45
1. Tidak menyampaikan laporan;
2. Tidak memiliki log book dan neraca limbah B3;
3. Tidak memiliki label dan simbol limbah B3;
4. Pelanggaran yang bersifat teknis namun perbaikannya bersifat ringan, tidak memerlukan waktu yang lama, tidak memerlukan teknologi yang tinggi, seperti: Parameter BOD5
kurang dari 0,2ppm;
5. Belum menunjukkan pelanggaran terhadap kriteria baku kerusakan lingkungan;
6. Terjadinya kerusakan atau gangguan pada instalasi pengelolaan air limbah;
7. Terjadi gangguan pada mesin produksi;
8. Pelanggaran yang berpotensi menimbulkan kerusakan dan pencemaran lingkungan hidup;
9. Belum melaporkan pelaksanaan RKL-RPL atau UKL-UPL;
10. Tidak melaksanakan pencatatan debit harian;
11. Tidak melakukan pelaporan swapantau;
12. Laboratorium pengujian yang digunakan belum terakreditasi;
13. Belum melakukan pencatatan dan pelaporan kegiatan penyimpanan limbah B3;
45 Lihat Petunjuk Pelaksanaan Pengenaan Sanksi Administrasi Dibidang Lingkungan Hidup.
14. Belum melakukan pendataan jenis dan volume limbah B3;
15. Tidak memasang lampu penerangan, belum memasang simbol, atau belum memasang label limbah B3;
16. Tidak memiliki SOP penyimpanan, pengumpulan, pemanfaatan, pengolahan dan penimbunan limbah B3 dan tidak memiliki log book limbah B3;
17. Belum melakukan pencatatan dan pelaporan kegiatan pemanfaatan dan pengumpulan limbah B3.
Penerapan sanksi administrasi paksaan pemerintahan sebagai tindakan nyata untuk menghentikan pelanggaran dan/atau memulihkan dalam keadaan semula, diberikan kepada pelanggar sebagai refleksi apabila teguran tertulis tidak dijalankan oleh penanggungjawab kegiatan dan/atau usaha. Namun hal tersebut dikecualikan apabila pelanggaran menimbulkan: Ancaman yang sangat serius bagi manusia dan lingkungan hidup; Akan menimbulkan dampak yang lebih besar dan lebih luas jika tidak segera dihentikan pencemaran dan/atau perusakannya; dan/atau akan menimbulkan kerugian yang lebih besar bagi lingkungan hidup jika tidak segera dihentikan pencemaran dan/atau perusakannya.46
Penanggung jawab usaha dan/atau kegiatan dapat dikenakan sanksi administratif berupa paksaan pemerintah dalam hal melakukan pelanggaran terhadap persyaratan dan kewajiban yang tercantum dalam izin lingkungan dan peraturan perundang-undangan lingkungan dan terkait lingkungan, seperti :47
1. Tidak membuat Instalasi Pengolahan Air Limbah (IPAL);
46 Lihat Ibid.
47 Lihat Ibid.
2. Tidak memiliki Tempat Penyimpanan Sementara (TPS) Limbah B3;
3. Tidak memiliki alat pengukur laju alir air limbah (flowmeter);
4. Tidak memasang tangga pengaman pada cerobong emisi;
5. Tidak membuat lubang sampling pada cerobong emisi;
6. Membuang atau melepaskan limbah ke media lingkungan melebihi baku mutu air limbah;
7. Tidak memenuhi persyaratan sebagaimana yang tertuang dalam izin;
8. Tidak mengoptimalkan kinerja IPAL;
9. Tidak memisahkan saluran air limbah dengan limpasan air hujan;
10. Tidak membuat saluran air limbah yang kedap air;
11. Tidak mengoptimalkan kinerja fasilitas pengendalian pencemaran udara;
12. Tidak memasang alat scrubber;
13. Tidak memiliki fasilitas sampling udara;
14. Membuang limbah B3 di luar TPS limbah B3;
15. Tidak memiliki saluran dan bak untuk menampung tumpahan limbah B3
Sanksi pembekuan izin lingkungan dan/atau izin perlindungan dan pengelolaan lingkungan. Sanksi ini sanksi yang berupa tindakan hukum untuk tidak memberlakukan sementara izin lingkungan dan/atau izin perlindungan dan pengelolaan yang berakibat pada berhentinya suatu usaha dan/atau kegiatan.
Pembekuan izin ini dapat dilakukan dengan atau tanpa batas waktu.
Sanksi pembekuan izin diterapkan apabila penanggungjawab
kegiatan dan/ atau usaha melakukan pelanggaran-pelanggaran sebagai berikut :48
1. Tidak melaksanakan paksaan pemerintah;
2. Melakukan kegiatan selain kegiatan yang tercantum dalam izin
3. Pemegang izin belum menyelesaikan secara teknis kewajiban
Selanjutnya sanksi administrasi berupa pencabutan izin sebagai sanksi terberat dalam bidang hukum administrasi negara, dijatuhkan apabila penanggungjawab kegiatan/ usaha telah melakukan pelanggaran berikut :49
1. Tidak melaksanakan sanksi administratif paksaan pemerintahan
2. Memindahtangankan izin usahanya kepada pihak lain tanpa persetujuan tertulis dari pemberi izin usaha;
3. Tidak melaksanakan sebagian besar atau seluruh sanksi administratif yang telah diterapkan dalam waktu tertentu;
4. Terjadinya pelanggaran yang serius yaitu tindakan melanggar hukum yang mengakibatkan pencemaran dan/atau kerusakan lingkungan hidup yang relatif besar dan menimbulkan keresahan masyarakat;
5. Menyalahgunakan izin pembuangan air limbah untuk kegiatan pembuangan limbah B3;
6. Menyimpan, mengumpulkan, memanfaatkan, mengolah dan menimbun limbah B3 tidak sesuai sebagaimana yang tertuang dalam izin.
48 Lihat Ibid
49 Lihat Ibid
Adapun sanksi denda administratif adalah denda yang diwajibkan kepada penanggungjawab kegiatan usaha karena terlambat melakukan paksaan pemerintahan. Pengenaan denda terhadap keterlambatan melaksanakan paksaan pemerintah ini terhitung mulai sejak jangka waktu pelaksanaan paksaan pemerintah tidak dilaksanakan.50
Penetapan sanksi administrasi kepada penanggungjawab kegiatan dan/atau usaha pada dasarnya harus ditetapkan oleh pejabat yang berwenang, baik berwenang secara atribusi ataupun secara delegasi. Penjatuhan sanksi administrasi oleh pejabat yang tidak berwenang akan menimbulkan permasalahan hukum kebasahan sanksi tersebut. Di daerah kewenangan untuk menetapkan sanksi administrasi adalah Gubernur atau Bupati atau Walikota berdasarkan skala kewenangannya secara otonomi.
Namun kewenangan tersebut dapat didelegasikan kepada kepala dinas teknis yang membidangi urusan perlindungan dan pengelolaan lingkungan hidup, seperti dinas lingkungan hidup.
Berdasarkan kewenangannya pejabat menetapkan sanksi administrasi melalui surat keputusan tentang penerapan sanksi administrasi. Surat keputusan dimaksud harus memuat mengenai:51 1. Nama jabatan dan alamat pejabat administrasi yang
berwenang;
2. Nama dan alamat penanggung jawab usaha dan/atau kegiatan;
3. Nama dan alamat perusahaan;
4. Jenis pelanggaran;
5. Ketentuan yang dilanggar baik ketentuan yang diatur dalam peraturan perundang-undangan maupun persyaratan kewajiban yang dimuat dalam izin lingkungan;
50 Lihat Ibid
51 Lihat Ibid
6. Ruang lingkup pelanggaran;
7. Uraian kewajiban atau perintah yang harus dilakukan penanggungjawab usaha dan/atau kegiatan;
8. Jangka waktu penaatan kewajiban penanggung jawab usaha dan/atau kegiatan;
9. Ancaman sanksi yang lebih berat apabila tidak melaksanakan perintah dalam sanksi teguran tertulis.
Jenis atau bentuk sanksi administrasi yang diterapkan pada dasarkan tidak harus menggunakan metode berjenjang/bertahap dari yang ringan sampai sanksi yang terberat. Jenis atau bentuk sanksi administrasi dikenakan bergantung pada berat ringannya pelanggaran yang dilakukan oleh penanggungjawab kegiatan dan/
atau usaha. Dimungkinkan pejabat berwenang langsung memberikan sanksi administrasi pencabutan izin apabila penanggungjawab kegiatan dan/ atau usaha melakukan pelanggaran yang mengakibatkan pencemaran atau kerusakan lingkungan hidup.52
Selain itu dalam menetapkan sanksi administrasi dimungkinkan sanksi administrasi dijatuhkan secara komulatif.
Sanksi administrasi paksaan pemerintahan dapat dikomulasikan dengan sanksi pembekuan izin. Bahkan dimungkinkan sanksi administrasi diterapkan secara simultan dengan upaya untuk memidanakah si pelanggar apabila pelanggaran yang dilakukan tergolong pelanggaran berat yang menimbulkan ancaman serius.53
Sebelum peneliti menganalisis mengenai efektivitas pengenaan sanksi administrasi terkait pelanggaran perizinan dibidang lingkungan hidup dan/ atau persyaratan perizinannya,
52 Lihat Ibid
53 Lihat Ibid
peneliti menganggap penting untuk menetapkan terlebih dahulu tolok ukur efektivitas yang akan dijadikan acuan dan pedoman dalam menganalisis efektivitas hukum. Sebagaimana diketahui hukum telah berlaku efektif apabila hukum berjalan sebagaimana apa yang telah menjadi tujuannya,54 atau dampak dari diterapkannya hukum tersebut telah sesuai dengan apa yang diharapkan dari si pembentuk hukum itu. Dalam warna yang berbeda Friedman menyatakan bahwa efektivitas hukum terkait dengan perilaku hukum. Hukum efektif bila perilaku subyek hukum mengikuti kehendak hukum.55 Adapun secara umum tujuan hukum meliputi keadilan, kemanfaatan, dan kepastian.56 Dalam bahasan ini tujuan hukum tentunya bukanlah dimaksud tujuan hukum dalam pembahasan teori hukum umum, melainkan tujuan hukum secara khusus.
Dengan menyepakati bahwa hukum itu efektif apabila tujuan dari hukum itu telah tercapai maka pembahasan selanjutnya adalah merumuskan apa uang menjadi tujuan sanksi administrasi. Dalam hal ini untuk menentukan apa yang menjadi tujuan hukum secara khusus penerapan sanksi administrasi negara terkait perlindungan dan pengelolaan lingkungan hidup, kita bisa menelusurinya dari apa yang menjadi tujuan sanksi administrasi negara, apa yang menjadi tujuan hukum lingkungan, dan apa yang menjadi tujuan dari diaturnya sanksi administrasi negara dalam UUPPLH.
54Lihat Soerjono Soekanto, Efektivitas Hukum dan Penerapan Sanksi, CV Remadja Karya: Bandung, 1983, hlm. 88
55 Lihat Lawrence M. Friedman, Sistem Hukum Perspektif Il Sosial, Terjemahan M. Khosisn, Nusa Media, Bandung, 2009, hlm. 90-92.
56 Gustav Radbrugh dalam Theo Huijbers, Filsafat Hukum Dalam Lintasan Sejarah, Kanisius: Yogyakarta, 1995.
Secara umum penerapan dan tujuan pengaturan sanksi administrasi negara dalam peraturan perundang-undangan setidak-tidaknya meliputi :57
1. Sebagai upaya penegakan peraturan perundang-undangan, agar peraturan perundang-undangan dipatuhi dan ditaati;
2. Pemberian hukum kepada pelanggar yang sepadan dengan apa yang dilanggar (memberikan pembalasan);
3. Sebagai efek jera, agar pelanggar tidak kembali melakukan pelanggaran;
4. Mencegah orang lain untuk melakukan pelanggaran, Agar orang lain tidak ikut-ikutan melanggar.
Dalam hukum lingkungan sanksi administrasi dikenal sebagai salah satu instrumen penegakan hukum lingkungan. Secara teoretis konseptual dalam hukum lingkungan, sanksi administrasi selain difungsikan sebagai instrumen pencegahan terjadinya pencemaran dan perusakan lingkungan hidup, sanksi administrasi difungsikan pula sebagai instrumen represif agar pelanggar tidak melakukan pelanggaran kembali, serta sebagai instrumen pembelajaran agar orang lain tidak melakukan pelanggaran.
Dalam UUPPLH tentunya tujuan pengaturan sanksi administrasi mengaju pada tujuan diaturnya UUPPLH sebagai dasar hukum berlakunya sanksi administrasi dalam upaya perlindungan dan pengelolaan lingkungan hidup di Indonesia.
Berdasarkan hal tersebut maka tujuan pengaturan sanksi administrasi adalah :
1. Melindungi NKRI dari pencemaran dan/ atau kerusakan lingkungan hidup;
57Lihat Wicipto Setiadi, “Sanksi Administrasi Sebagai Salah Satu Instrumen Penegakan Hukum Dalam Peraturan Perundangan-undangan,” Jurnal Legislasi Indonesia, Vol. 6 No. 4. Desember 2009, hlm. 606-607.
2. Menjamin keselamatan, kesehatan, dan kehidupan manusia;
3. Menjamin kelangsungan kehidupan makhluk hidup dan kelestarian ekosistem;
4. Menjaga kelestarian fungsi lingkungan hidup;
5. Mencapai keserasian, keselarasan, dan keseimbangan lingkungan hidup;
6. Menjamin pemenuhan dan perlindungan hak atas lingkungan hidup sebagai bagian dari hak asasi manusia;
7. Mengendalikan pemanfaatan sumber daya alam secara bijaksana;
8. Mewujudkan pembangunan berkelanjutan;
9. Mengantisipasi isu lingkungan global.
Menurut hemat peneliti, dari 9 (sembilan) tujuan tersebut bisa diperas menjadi hanya 1 (satu) tujuan sebagai inti dasar tujuan hukum perlindungan dan pengelolaan lingkungan bidup di Indonesia, yaitu terwujudnya pembangunan berkelanjutan (pembangunan yang mampu meningkatkan taraf hidup masyarakat tanpa mengakibatkan terjadinya pencemaran dan kerusakan lingkungan hidup).
Selanjutnya berkenaan dengan analisis efektivitas penerapan sanksi administrasi dalam upaya perlindungan dan pengelolaan lingkungan hidup di Indonesia, sebagai indikator efektivitas, tujuan hukum yang manakah dari tiga tujuan tersebut yang hendak kita pilih? Apakah apa yang menjadi tujuan penerapan sanksi administrasi secara umum? Atau kah apa yang menjadi tujuan hukum lingkungan secara teoretis konseptual? Atau kah pembangunan berkelanjutan yang menjadi indikator efektivitasnya?
Menurut peneliti, indikator efektivitas penerapan sanksi administrasi dalam perlindungan dan pengelolaan lingkungan
hidup seharusnya mengacu pada tujuan pengaturan UUPPLH sebagai dasar hukum pemberlakuan sanksi administrasi. Adapun tujuan pengaturan UUPLH apabila diperas menjadi satu adalah terwujudnya pembangunan berkelanjutan di Indonesia.
Berdasarkan indikator tersebut, maka untuk dapat dikatakan bahwa penerapan sanksi administrasi telah efektif dalam perlindungan dan pengelolaan lingkungan hidup di Indonesia harus terdapat korelasi yang positif antara penerapan sanksi administrasi itu dengan pencapaian pembangunan berkelanjutan di Indonesia.
Sebagaimana diketahui pembangunan berkelanjutan memiliki 3 (tiga) pilar dimana pilar-pilarnya sekaligus menjadi indikator pencapaian pembangunan berkelanjutan. Suatu pembangunan dikatakan telah berkelanjutan apabila tercapai keberlanjutan secara ekologi (indeks kualitas lingkungan unggul, sangat baik atau baik), keberlanjutan secara ekonomi (naiknya pertumbuhan ekonomi), dan keberlanjutan secara sosial (meningkatnya pendapatan per kapita masyarakat).
Dengan demikian berdasarkan keterkaitan tersebut, maka dapat dirumuskan bahwa penerapan sanksi administrasi dalam perlindungan dan pengelolaan lingkungan hidup dapat dikatakan efektif apabila penerapan sanksi administrasi telah berhasil mengarahkan bahwa pemanfaatan lingkungan berhasil meningkatkan pertumbuhan ekonomi nasional, dan meningkatkan pendapatan per kapita masyarakat, namun indeks kualitas lingkungan hidup tetap dalam kondisi unggul, sangat baik atau baik.
Dengan mengacu pada laporan resmi status lingkungan hidup Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan RI tahun 2019 diperoleh informasi bahwa indeks kualitas lingkungan hidup (IKLH) Indonesia tahun 2019 adalah BAIK (70 < IKLH ≤ 80).
Sebelumnya pada tahun 2017 dan tahun 2018 indeks kualitas
lingkungan hidup Indonesia juga dalam kategori BAIK. Artinya dalam tiga tahun berturut-turut Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan RI berhasil mempertahankan kualitas lingkungan hidup Indonesia secara baik.58 Meskipun demikian masih terdapat di beberapa daerah-daerah tertentu IKLH-nya memperoleh nilai kurang baik seperti Lampung, Banten, Jawa Barat, dan tentunya DKI Jakarta. Adapun pada tahun 2019 daerah yang nilai IKLH sangat baik adalah Sumatera Selatan (88,15), Maluku Utara (88,01), Kalimantan Timur (86,19), Sulawesi Tenggara (86,17), Sumatera Barat (83,94), Sulawesi Barat (82,43), Bangka Belitung (82,13), Bengkulu (82,08), Gorontalo (81,93), Kalimantan Utara (81,86), D.I Yogyakarta (81,63), Papua Barat (81,25) dan Jambi (81,21).59
Membaca laporan IKLH menggambarkan bahwa penegakan hukum lingkungan menggunakan instrumen sanksi administrasi (salah satunya) secara umum telah mempengaruhi arah pemanfaatan lingkungan hidup oleh pemrakarsa kegiatan. Dengan penerapan sanksi administrasi pemrakarsa kegiatan dan/ atau usaha mematuhi ketentuan-ketentuan perizinan di bidang lingkungan hidup. Sanksi-sanksi yang telah dijatuhkan telah membuat penanggungjawab kegiatan dan/ atau usaha mematuhi larangan-larangan sebagaimana diatur dalam peraturan perundang-undangan dan syarat perizinan.
Penerapan sanksi administrasi terhadap pemegang izin lingkungan berupa pembekuan izin dan pencabutan izin oleh Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan RI, telah menjadi instrumen pembelajaran bagi penanggungjawab kegiatan dan/ atau usaha di daerah-daerah lainya untuk tidak melakukan pelanggaran.
58 Lihat IKLH 2017, 2018, dan 2019, Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan RI.
59 Lestari Moerdijat, Indeks Kualitas Lingkungan Hidup, Nov 2019.
Dalam kasus kebakaran hutan dan lahan tahun 2015 KeMenlhK telah menerapkan sanksi administrasi pembekuan izin terhadap 16 perusahaan pemegang konsesi, dan menerapkan pencabutan izin terhadap 3 perusahaan.60 Penerapan sanksi administrasi tersebut telah berhasil menurunkan tingkat pelanggaran pada tahun-tahun berikutnya (2017, 2018, dan 2019).
Pengaruh penerapan sanksi administrasi yang diterapkan Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan pada tahun 2015 baru terlihat hasilnya pada tahun 2017, 2018, dan 2019. Pada awalnya Indeks Kualitas Lingkungan Hidup (IKLH) tahun 2015, dan tahun 2016 masih di nilai CUKUP. Setelah pada tahun 2015 KeMenlhK menerapkan sanksi administrasi pembekuan izin terhadap 16 perusahaan pemegang konsesi, dan menerapkan pencabutan izin terhadap 3 perusahaan, terjadi perbaikan nilai pada tahun 2017, 2018, dan 2019 yaitu pada nilai BAIK.
Indeks Kualitas Lingkungan Hidup mengukur Indeks Kualitas Udara (IKU), Indeks Kualitas Air (IKA) dan Indeks Kualitas Tutupan Lahan (IKTL). Pengukuran dilakukan di 33 Provinsi di Indonesia. Nilai IKLH suatu wilayah berkategori UNGGUL bila mencapai nilai > 90; SANGAT BAIK 82–89; BAIK 74-81;
CUKUP 66-74; KURANG 58-65; SANGAT KURANG 50-57, DAN WASPADA < 50. Dari 33 Provinsi terdapat beberapa provinsi yang nilai IKLH-nya langganan di level KURANG, bahkan Provinsi DKI Jakarta pada nilai WASPADA (38).
Pada wilayah-wilayah yang berpotensi terjadinya kebakaran hutan dan lahan, memang sejak tahun 2015-2019 nilai IKLH-nya berkisar antara KURANG sampai dengan SANGAT KURANG, seperti Provinsi Riau, Provinsi Sumbar, Provinsi Jambi, Provinsi
60 Lihat Mieke Komar dkk., “Kajian Hukum Terhadap Pencemaran Asap Lintas Batas di Indonesia”, Laporan Hasil Penelitian, Bandung, 2015. hlm. 61-62.
Lampung, Provinsi Jawa Barat, Provinsi Banten, Provinsi Jawa Tengah, Provinsi DI Yogyakarta, dan Provinsi Jawa Timur. Namun di daerah-daerah lainnya nilai IKLH rata-rata pada nilai baik. Hal ini berarti bahwa fakta-fakta sebagaimana disebut peneliti pada latar belakang permasalahan adalah fakta-fakta yang terjadi di daerah rawan tersebut. Berpegang pada analisis tersebut, secara nasional penerapan sanksi administrasi pembekuan izin terhadap 16 perusahaan pemegang konsesi, dan menerapkan pencabutan izin terhadap 3 perusahaan pada tahun 2015 telah menjadi instrumen pembelajaran bagi pemegang izin lainnya sehingga mereka tidak melakukan pelanggaran ketentuan di bidang lingkungan hidup.
Artinya sanksi administrasi telah membuat perusahaan yang tidak dikenai sanksi administrasi untuk patuh pada perundang-undangan dibidang lingkungan hidup dan persyaratan perizinan. Dengan demikian terdapat korelasi positif antara penerapan sanksi administrasi dengan kepatuhan para pemegang izin.
Peneliti sangat menyadari bahwa analisis tersebut didasarkan pada premis-premis yang masih bersifat umum. Sangat diakui oleh peneliti bahwa peneliti melakukan analisis atas gejala-gejala yang tampil ke permukaan, namun apakah memang benar terdapat korelasi antar gejala-gejala tersebut perlu dilakukan penelitian terhadap perusahaan-perusahaannya secara langsung.
Namun demikian dalam pengalaman peneliti di Provinsi Jawa Barat, tindakan tegas dari pemerintah melalui penerapan sanksi administrasi dalam bentuk penutupan saluran pembuangan telah didukung oleh Asosiasi Pengusaha Indonesia (APINDO) Wilayah Jawa Barat. Dalam kesempatan diskusi peneliti dengan pengurus APINDO mereka mendukung tindakan tegas terhadap perusahaan bandel, namun mereka berharap agar perusahaan-perusahaan yang patuh agar tidak diperlakukan sama dengan perusahaan-perusahaan yang bandel. Apindo Jawa Barat menilai
bahwa penerapan tindakan tegas pemerintah merupakan terapi kejut bagi perusahaan-perusahaan lain agar mereka tetap taat.
Apindo mempersalahkan pemerintah mengambil tindakan tegas terhadap perusahaan yang melanggar sebagai bentuk pembinaan.
Secara kasuistik, efektivitas penerapan sanksi administrasi tergambar dalam kasus CV Slamet Widodo di Jawa Tengah. Badan
Secara kasuistik, efektivitas penerapan sanksi administrasi tergambar dalam kasus CV Slamet Widodo di Jawa Tengah. Badan