• Tidak ada hasil yang ditemukan

PERADILAN LINGKUNGAN

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2022

Membagikan "PERADILAN LINGKUNGAN"

Copied!
84
0
0

Teks penuh

(1)
(2)

Dr. Imamulhadi, S.H., M.H.

Dr. Idris, S.H., M.A.

Dr. Eva Nuriyah H, S.Sos, M.Si.

PERADILAN LINGKUNGAN

Editor:

Fatia Kultsum, S.H.

Penerbit K-Media Yogyakarta, 2021

(3)

Copyright © 2021 by Penerbit K-Media All rights reserved

Hak Cipta dilindungi Undang-Undang No 19 Tahun 2002.

Dilarang memperbanyak atau memindahkan sebagian atau seluruh isi buku ini dalam bentuk apapun, baik secara elektris mau pun mekanis, termasuk memfotocopy, merekam atau dengan sistem penyimpanan lainnya, tanpa izin tertulis dari Penulis dan Penerbit.

Isi di luar tanggung jawab percetakan

Penerbit K-Media Anggota IKAPI No.106/DIY/2018 Banguntapan, Bantul, Yogyakarta.

e-mail: [email protected]

PERADILAN LINGKUNGAN vi + 213 hlm.; 14 x 20 cm

ISBN: 978-623-316-537-2

Penulis : Imamulhadi, Idris & Eva Nuriyah H.

Editor : Fatia Kultsum Tata Letak : Nur Huda A.

Desain Sampul : Nur Huda A.

Cetakan 1 : November 2021

(4)

KATA PENGANTAR

Puji syukur senantiasa penulis sampaikan kehadirat Allah SWT Tuhan Yang Maha Esa, karena atas izin-Nya buku ini berhasil penulis susun sebagaimana diharapkan. Buku PERADILAN LINGKUNGAN merupakan buku publikasi hasil penelitian para penulis yang berjudul SISTEM PERADILAN

LINGKUNGAN HIDUP BERBASIS KEARIFAN

MASYARAKAT ADAT SEBAGAI DASAR PEMBENTUKAN

PENGADILAN KHUSUS LINGKUNGAN HIDUP

INDONESIA.

Buku ini menyajikan bahasan mengenai proses peradilan lingkungan di lembaga pengadilan, dan menyajikan pula model- model peradilan lingkungan oleh masyarakat adat serta praktik di beberapa negara-negara modern. Analisis dikaitkan dengan konsep pembangunan berkelanjutan sebagai tujuan penyelenggaraannya.

Uraian mengenai etika lingkungan merupakan landasan moral-etik dan eko-sofi, sebagai paradigma analisis buku yang tersaji.

Penulis menyadari buku ini masih jauh dari kesempurnaan dan kebenaran, namun penulis meyakini bahwa keberagaman analisis akan sangat membantu dalam menemukan kebenaran itu sendiri.

Untuk itu kritik dan saran dalam merajut kesempurnaan gagasan sangat penulis harapkan. Akhir kata penulis mengucapkan terima kasih kepada nara sumber yang analisisnya penulis jadikan sebagai rujukan dalam penyusunan buku ini, semoga kelak menjadi amal

(5)

jariyah yang menghadirkan pahala yang tak terputus. Ucapan terima kasih terutama penulis sampaikan kepada saudari Fatia Kultsum, S.H. yang telah membantu editing naskah buku ini.

Bandung, 30 Oktober 2021

Penulis

(6)

DAFTAR ISI

KATA PENGANTAR ... iii

DAFTAR ISI ... v

A. ETIKA LINGKUNGAN ... 1

B. EFEKTIVITAS PERADILAN LINGKUNGAN DALAM PERSPEKTIF PEMBANGUNAN BERKELANJUTAN ... 7

C. TUJUAN PENYELENGGARAAN PERADILAN LINGKUNGAN DI INDONESIA ... 20

D. PUTUSAN HAKIM DALAM KERANGKA PEMBANGUNAN BERKELANJUTAN ... 35

E. EFEKTIVITAS SANKSI ADMINISTRASI ... 39

F. PERADILAN PTUN BIDANG LINGKUNGAN HIDUP ... 60

1. Kasus PLTU Cirebon Power ... 62

2. Kasus PT Semen Gresik Tbk. ... 72

3. Kasus Reklamasi Teluk Jakarta ... 81

G. PERADILAN LINGKUNGAN PERDATA ... 96

1. Kasus PT. Nasional Sago Prima (PT. NSP) ... 96

2. Kasus PT. Kalista Alam ... 103

3. Kasus PT. Merbau Pelalawan Lestari... 120

(7)

H. PERADILAN LINGKUNGAN PIDANA ... 132

1. Kasus PT. National Sago Prima ... 132

2. Kasus PT. Indo Barat Rayon ... 146

3. Kasus Pencemaran Teluk Balik Papan ... 164

I. PERADILAN MASYARAKAT ADAT ... 182

1. Indonesia ... 182

a. Sistem Peradilan Adat Dayak Kalimantan ... 182

b. Para-Para Adat, Sistem Peradilan Adat Papua ... 185

c. Sistem Peradilan Masyarakat Adat Bali ... 187

2. Di Beberapa Negara ... 189

a. Masyarakat Adat Iroquois, Canada ... 189

b. Sistem Peradilan Masyarakat Adat di Afrika ... 192

c. Sistem Peradilan Adat Penchayat Pakistan ... 194

d. Sistem Peradilan Adat Gjakmarrja Albania ... 195

J. MODEL PENGADILAN LINGKUNGAN ... 198

1. Model Pengadilan Lingkungan Independen (Operationally Independent); ... 198

2. Model Mandiri Secara Keputusan (Decisionaly Independent Environmental Court); ... 199

3. Model Kemitraan dengan Pendekatan Multidisipliner (Mix of Law-Trained and Science- Trained Judges); ... 200

4. Model Penunjukan Hakim Pengadilan Umum (General Court Designated Judges); ... 201

5. Model Sertifikasi Hakim Lingkungan ( Environmental Law Trained Judges). ... 202

DAFTAR PUSTAKA ... 207

(8)

ETIKA

LINGKUNGAN

ergeseran paradigma dalam pengelolaan lingkungan hidup dari paradigma yang berbasis kepentingan manusia (antroposentrisme) ke arah paradigma yang berbasis atau berporos pada ekologi (ekosentrisme) membawa angin segar bagi pencinta, pemerhati, dan aktivis lingkungan hidup dalam upayanya menyelamatkan dunia dari bahaya kehancuran lingkungan hidup.

Tanpa mengabaikan kesejahteraan umat manusia, paradigma baru ekosentris1 menjanjikan pengelolaan lingkungan hidup secara lebih bijaksana. Tercapainya keseimbangan antara unsur-unsur ekologi yang mengarah pada keseimbangan kelestarian dan pemanfaatan telah menjadi sasaran dalam setiap evaluasi kebijakan pengelolaan lingkungan hidup.

Paradigma ekosentris dilandasi oleh etika lingkungan, yang menempatkan semua makhluk secara seimbang ke dalam masalah moralitas.2 Sebelumnya manusia beranggapan bahwa masalah etika

1 Riley E. Dunlap & Kent D. Van Liere, (2014), The New Environmental Paradigm, Journal of Environmental Education, Taylor & Francis Online.p.1.

2 Lihat Muhammad Syawal (20150, Perspektif Antropentrisme, Biosentrisme, dan Ekosentrisme Sebagai Etika dalam Lingkungan Hidup, dalam https://www.soskita.com/2015/09/etikalingkungan-antroposentrisme.html

P

(9)

hanyalah menyangkut hubungan antara manusia dengan manusia saja. Kini aturan berperilaku tidak hanya ditujukan untuk mengatur hubungan antara manusia dengan manusia, namun dipandang penting aturan berperilaku menyangkut pula hubungan antara manusia dengan lingkungan hidup sekitarnya. Etika lingkungan mempermasalahkan apakah memusnahkan hewan-hewan liar, menghancurkan spesies asli, atau membuka lahan dengan cara menebang dan membakar hutan/lahan dapat dibenarkan? Apakah perusahaan berkewajiban moral untuk mengembalikan keadaan ekologi pasca penambangan? Etika lingkungan mempermasalahkan hal yang sangat sensitif, apakah dapat dibenarkan manusia memanfaatkan sumber daya alam secara merusak untuk kesejahteraan hidup umat manusia?3

Dengan diterimanya etika lingkungan, secara global telah diakui pentingnya etika dalam mengatur hubungan antara manusia itu dengan lingkungannya. Umat manusia telah menyadari pentingnya moralitas manusia atas keberadaannya yang inferior terhadap lingkungan hidup.4 Keangkuhan manusia terhadap lingkungan telah menempatkan manusia dalam permasalahan besar yang mengancam keberlangsungan hidup umat manusia itu sendiri.

Dalam tataran yang lebih luas materi muatan mengenai etika lingkungan sebagai masalah moralitas ternyata tidak hanya menyoroti perilaku manusia dengan lingkungannya, namun lebih jauh dari itu perhatian juga mencakup hubungan timbal balik antar unsur-unsur ekologi dalam ekosistem, terutama dampak perilaku manusia pada kesejahteraan makhluk hidup lainnya. Masalah perilaku yang disoroti etika lingkungan kemudian menghasilkan

3 SEP (2015), Etika Lingkungan dalam https://plato.stanford.edu/

entries/ethics-environmental.

4Stamitios Ntanos at all (2019), Penerapan Skala Paradigma Lingkungan Baru (NEP) dalam Konteks Yunani, Artikel, hlm. 1-2.

(10)

cara pandang baru (ekosentrisme) yang menandai perubahan secara revolusioner terhadap hubungan manusia dengan lingkungannya.5

Etika lingkungan diketahui merupakan perkembangan dari teori shallow environmental ethic, intermediate environmental ethic, dan deep environmental ethic. Manusia merupakan salah satu bagian yang terintegrasi dengan lingkungan. Sebagai pendukung hidup yang membutuhkan lingkungan, manusia memiliki persetujuan untuk menghargai, dan menghargai nilai yang terkandung di dalam lingkungan. Perilaku positif manusia dapat menyebabkan kerusakan lingkungan.6 Etika dapat digerakkan sebagai pandangan hidup yang baik yang diwariskan dari satu generasi ke generasi lain. Etika berisikan aturan tentang cara manusia harus hidup yang baik sebagai manusia, perintah dan larangan tentang cara yang baik manusia untuk membicarakan, mengatur, dan melestarikan nilai tertentu, yaitu apa yang dianggap baik dan penting.7 Dengan demikian, etika memberikan prinsip- prinsip moral yang harus diambil dalam menuntun perilaku.8

Perkembangan etika lingkungan kemudian mendapatkan apresiasi yang ideal dalam filsafat lingkungan ketika etika lingkungan didasari oleh teori deep ecology.9 Teori tersebut meyakini bahwa manusia tidak semata-mata makhluk sosial dan biologi, namun lebih dari itu manusia merupakan makhluk ekologi.

Teori deep ecology menolak keyakinan Aristoteles yang meyakini bahwa manusia adalah makhluk sosial. Menolak keyakinan

5 Op.cit.

6 Arni Rahmawati Fahmi Sholihah (2011), Etika Lingkungan, Artikel, Institut Teknologi Bandung, hlm. 1-2.

7 Lihat Rebecca Gillaspy (2019), Etika Lingkungan, Materi Pelatihan, Phoenix University, hlm. 1-2.

8 Op.cit.

9 Lihat A. Sonny Keraf (2014), Filsafat Lingkungan Hidup, Jakarta:

Kanisius.

(11)

Aristoteles yang menyatakan bahwa tumbuhan dan binatang diciptakan untuk kepentingan manusia. Menolak teori Aristoteles yang menyatakan bahwa manusia adalah majikan dari alam semesta. Teori deep ecology juga menolak keyakinan Rene Descrates yang meyakini bahwa manusia memiliki tempat yang istimewa di antara semua makhluk hidup dengan kedudukan yang lebih tinggi di antara makhluk hidup lainnya. Teori deep ecology menolak paradigma antroposentrisme, yang menyatakan bahwa hanya manusia yang perlu mendapatkan perlakuan moral.

Sebaliknya, deep ecology meyakini bahwa subyek moral meliputi semua spesies ekologi dan manusia sebagai pelaku moral berkewajiban dan bertanggungjawab untuk melindungi keseluruhan subyek moral tersebut. Bersandar pada teori deep ecology, etika kini tidak hanya berpusat pada manusia, namun pada seluruh spesies alam dan seluruh komunitas ekologi. Manusia sebagai bagian dari komunitas ekologi menempati kedudukan yang sama dengan komunitas ekologi lainnya.10

Dalam teori deep ecology, Arne Naess menyampaikan bahwa teori tersebut dilandasi oleh eco-sophy. Suatu kearifan yang mengajarkan manusia untuk hidup selaras dengan alam sebagai sebuah rumah tangga besar. Manusia sebagai salah satu organisme hidup tidak bisa dilihat secara terpisah dari ekologi melainkan merupakan bagian dari ekologi itu sebagai satu kesatuan dengan unsur-unsur ekologi lainnya. Manusia terikat pada pola perilaku dalam berhubungan dengan alam.11

10 Lihat A. Sonny Keraf (2010), Etika Lingkungan Hidup, Jakarta: Kompas.

11Naess, A. (2003). The Deep Ecology Movement: Some Philosophical Aspects. Environmental Ethics: An Anthology. 262-274.

(12)

Penerimaan teori deep ecology dalam perkembangan selanjutnya melahirkan gagasan hak asasi alam. Konsep hak asasi alam dilandasi pandangan Aldo Leopold, James A. Nash, dan Paul Taylor. Aldo Leopold memperluas cakupan etika lingkungan yang tidak hanya mencakup manusia namun mencakup pula komunitas biotik dan ekologis seluruhnya termasuk manusia. Dengan perluasan tersebut maka hak asasi tidak hanya dimiliki manusia melainkan dimiliki oleh semua komunitas ekologi. Sebagai subyek moral, alam memiliki hak asasi untuk dihargai dan dijamin keberadaannya oleh pelaku moral.12Sejalan pandangan Aldo Leopold yang memperluas cakupan etika, James A. Nash meyakini bahwa setiap organisme hidup memiliki kecenderungan untuk bertahan hidup (conatus essendi). Menurut Nash meskipun benda- benda tak hidup (abiotik) tidak memiliki kecenderungan untuk bertahan hidup namun benda-benda abiotik harus dijaga dan dilestarikan, karena keberadaan makhluk hidup (biotik) sangat bergantung pada keutuhan benda-benda abiotik.13 Selanjutnya Paul Taylor memperkuat konsepsi hak asasi alam dengan membedakan antara hak legal dengan hak moral. Hak legal adalah hak yang diberikan, diakui, dan disahkan oleh hukum suatu negara. Adapun hal moral dikatakannya sebagai hak yang dimiliki oleh pihak tertentu dan diakui sah berdasarkan prinsip-prinsip moral.

Berdasarkan hal tersebut menurut Taylor pihak lain dituntut secara moral dan memiliki kewajiban moral untuk mengakui, menghormati, dan tidak melanggar hak moral tersebut.14

12Lihat Aldo Leopold dalam Sonny Keraf, op.cit, hlm. 122-126.

13 Lihat James A. Nash dalam Darrell Addison Posey dalam Sonny Keraf, Ibid, hlm. 128.

14 Paul Taylor dalam Sonny Keraf, Ibid.

(13)

Berkenaan dengan hak asasi alam, Sonny Keraf15 merumuskan 6 (enam) prinsip-prinsip hak asasi alam sebagai berikut :

1. Alam mempunyai hak untuk tidak diganggu gugat;

2. Alam mempunyai hak untuk tidak dirugikan;

3. Alam mempunyai hak untuk tidak dicemari dan dirusak;

4. Alam mempunyai hak untuk tidak dibatasi perkembangannya;

5. Alam berhak untuk dibiarkan hidup dan tumbuh;

6. Manusia berkewajiban membiarkan organisme berkembang sesuai dengan hakikatnya.

15 Menteri Negara Lingkungan Hidup Republik Indonesia 1999-2001.

(14)

EFEKTIVITAS PERADILAN LINGKUNGAN DALAM

PERSPEKTIF PEMBANGUNAN BERKELANJUTAN

ondisi lingkungan hidup Indonesia saat ini masih jauh dari ideal, semakin hari lingkungan hidup semakin rusak dan tercemar. Pulau Jawa terancam terendam lumpur panas. Semburan lumpur panas di Porong Sidoarjo hingga kini belum dapat dihentikan. Sungai Citarum di Jawa Barat menjadi sungai yang paling tercemar di dunia. Laut tercemar limbah plastik yang telah mencemari ikan-ikan. Kebakaran hutan dan lahan setiap tahun masih saja terjadi. Jutaan hektar hutan menghilang sebagai dampak illegal logging dan pembakaran. Berdasar data dari Forest Watch Indonesia, dari tahun 2013 hingga tahun 2017 kerusakan hutan rata-rata mencapai angka 1,47 juta hektar setiap tahunnya.16

Terkait kebakaran hutan, kasus kebakaran hutan dan lahan pada bulan Januari sampai dengan September tahun 2019 menjadi kasus kebakaran hutan dan lahan terparah dalam tiga tahun terakhir. Seluas 857.756 hektar hutan dan lahan telah terbakar, 1 orang meninggal dunia dan 8 orang mengungsi. Kasus kebakaran

16 Forest Watch Indonesia (FWI) dalam TEMPO.CO Minggu, 13 Oktober 2019 di unduh dari https://bisnis.tempo.co/read/1259120/forest-watch-indonesia- 147-juta-hektare-hutan-hilang-tiap-tahun, tanggal 2 Mei 2020.

K

(15)

hutan dan lahan telah melibatkan 56 perkebunan sawit, 15 perusahaan HTI, dan 3 HPH.17 Sementara perkembangan terbaru kasus kebakaran hutan dan lahan pada tahun 2020 terhitung Januari sampai dengan Februari 2020 tercatat seluas 179,4 hektar hutan dan lahan telah terbakar dengan melibatkan 44 tersangka pembakar hutan dan lahan.18

Berdasarkan data tersebut tergambar bahwa seolah-olah upaya perlindungan dan pengelolaan lingkungan hidup sejauh ini masih menghadapi persoalan-persoalan terkait perusakan dan pencemaran lingkungan hidup. Laju kerusakan hutan di Indonesia tergambar begitu masif, berlanjut, dan mengancam kelestarian hutan sebagai paru-paru dunia. Realita Sungai Citarum sebagai sungai yang paling tercemar di dunia dan berlanjutnya pembakaran hutan dan lahan setiap tahunya mencerminkan seolah-olah sistem penegakan hukum lingkungan sebagaimana diatur dalam UU No. 32 Tahun 2009 tentang Perlindungan dan Pengelolaan Lingkungan Hidup tidak berjalan dengan baik.

Undang-Undang Nomor 32 Tahun 2009 tentang Perlindungan dan Pengelolaan Lingkungan Hidup (UUPPLH) digadang-gadang oleh mantan Menteri Lingkungan Hidup Sony Keraf sebagai undang-undang lingkungan hidup terbaik, karena di dalamnya telah lengkap mengatur instrumen-instrumen hukum yang diperlukan sebagai penyempurnaan dari undang-undang lingkungan hidup pendahulunya (UU No. 23 Tahun 1997).

Berkenaan dengan sistem penegakan hukum lingkungan, UUPPLH selain menerapkan instrumen hukum perdata dan hukum pidana, UUPPLH telah menerapkan pula instrumen penegakan

17 BNPB dalam http://www.mongabay.co.id diunggah tanggal 22 Oktober 2019, diunduh pada tanggal 2 Mei 2020.

18 Polri dalam http://www.trubunnews.co.id diunggah tanggal 6 Maret 2020, diunduh pada tanggal 2 Mei 2020.

(16)

hukum lingkungan secara administrasi melalui sanksi administrasi.

Namun sejak undang-undang mengenai lingkungan hidup dari UULH 1982, UUPLH 1997, sampai UUPPLH 2009 kasus-kasus perusakan hutan, tanah dan lahan, pencemaran sungai, serta pencemaran udara masih marak terjadi dan berlanjut. Keadaan demikian menggambar seolah-olah peraturan perundang-undangan dibidang lingkungan hidup tidak mampu menghentikan aktivitas pencemaran dan perusakan lingkungan hidup.

Pasal 76 (1) UUPPLH telah memberikan kewenangan yang besar kepada Menteri Lingkungan Hidup, Gubernur, Bupati, dan Walikota untuk menjatuhkan sanksi administrasi kepada penanggungjawab kegiatan dan/ atau usaha bila terjadi pelanggaran-pelanggaran yang berpotensi menimbulkan kerusakan dan pencemaran lingkungan hidup. Namun, faktanya dalam pengamatan peneliti setiap tahun masih banyak perusahaan- perusahaan terlibat dalam kasus kebakaran hutan dan pencemaran lingkungan hidup. Sebagaimana telah disebutkan di atas pada tahun 2019 perusahaan-perusahaan pemegang konsesi masih banyak yang terlibat dalam pembakaran hutan dan lahan. Dalam pengalaman peneliti menjadi saksi ahli dalam proses penyidikan dan penuntutan kasus-kasus lingkungan hidup di Jawa Barat, dalam kurun waktu tahun 2018 sampai dengan 2020 telah lebih dari 35 perusahaan melanggar UUPPLH yang berpotensi mencemari sungai Citarum.

Semenjak masalah-masalah lingkungan hidup diatur secara formal dalam undang-undang, belum terdapat satu pun undang- undang yang memerintahkan dibentuknya pengadilan khusus lingkungan. UUPPLH sebagai penyempurnaan dari Undang- Undang Nomor 23 Tahun 1997 tentang Pengelolaan Lingkungan Hidup, tidak memberikan tempat untuk berdirinya pengadilan khusus lingkungan.

(17)

Pada era reformasi, sebagaimana diketahui sistem peradilan nasional mengalami perkembangan sangat pesat, banyak bidang- bidang hukum yang dianggap memiliki karakteristik khusus, telah memiliki pengadilannya sendiri. Bidang hukum niaga telah memiliki pengadilan khusus niaga. Bidang hukum hak asasi manusia memiliki pengadilan khusus HAM. Bidang hukum kelautan memiliki pengadilan khusus perikanan. Bidang hukum pajak memiliki pengadilan khusus pajak, hukum pidana korupsi memiliki pengadilan khusus tindak pidana korupsi, dan hukum pidana anak telah memiliki pengadilan anak. Mencermati perkembangan tersebut bagi peneliti memunculkan suatu pertanyaan apakah bidang hukum lingkungan tidak layak memiliki pengadilannya sendiri?

Masalah lingkungan hidup sangat diyakini termasuk masalah yang memiliki karakteristik yang berbeda dengan sengketa- sengketa hukum lainnya. Masalah lingkungan hidup bersifat lintas batas (borderless). Dampak masalah lingkungan hidup tidak dibatasi wilayah, kewenangan, bahkan bersifat lintas generasi.

Kesalahan yang dibuat oleh generasi kini sangat mempengaruhi kelangsungan hidup generasi yang akan datang. Asap yang ditimbulkan oleh kejahatan pembakaran hutan dan lahan mengancam keselamatan masyarakat lintas kabupaten/ kota, lintas provinsi dan lintas negara. Pembakaran hutan dan lahan di Kabupaten Rokan Hilir dampaknya dirasakan masyarakat yang tinggal di provinsi lain bahkan dirasakan di Malaysia dan Singapura. Pencemaran laut, pencemaran sungai, pencemaran danau dan kerusakan tanah akibat aktivitas industri dan pertambangan, dampaknya sampai pada generasi anak cucu pada masa yang akan datang.

Karena sifatnya yang lintas batas dan lintas generasi, maka pendekatan dalam menyelesaikan masalah lingkungan hidup

(18)

menggunakan metode multidisipliner. Masalah lingkungan hidup tidak bisa diselesaikan secara monodisiplin menggunakan ilmu hukum saja. Penyelesaian masalah lingkungan hidup harus pula didekati dari ilmu non hukum. Dalam menentukan apakah telah terjadi tindak pidana pencemaran lingkungan, polisi, jaksa dan hakim tidak berwenang untuk menentukan. Polisi, jaksa dan hakim tidak memiliki cukup ilmu untuk melakukan analisa valid atas peristiwa pencemaran. Adapun pihak yang berkompeten ialah ahli kimia dan ahli biologi. Bila polisi, jaksa dan hakim bukan sarjana kimia dan biologi, dapat dipastikan mereka tidak dapat memahami secara bulat dan utuh mengenai hal ihwal pencemaran lingkungan.

Dan tanpa pengetahuan dan pemahaman yang memadai besar kemungkinan hakim keliru dalam memutus perkara tindak pidana lingkungan hidup.

Selanjutnya apakah pengadilan yang menyelenggarakan peradilan lingkungan hidup telah efektif menyelesaikan masalah lingkungan? Terkait dengan pertanyaan tersebut dugaan sementara menyatakan bahwa penyelesaian sengketa lingkungan hidup di pengadilan belum berdampak positif terhadap pelestarian lingkungan hidup. Pada tahun 2015 terkait kejahatan pembakaran hutan dan lahan telah dilakukan pengenaan sanksi administrasi sebanyak 23 sanksi, 3 kasus telah diajukan gugatan dan 3 kasus telah diajukan gugatan dan 39 kasus telah diproses pidana.19 Seolah tidak terdapat kaitan antara upaya penegakan dengan efek jera, sehingga saat ini kasus kebakaran hutan masih kerap terjadi.

Hampir setiap tahun kasus pembakaran hutan dan lahan terjadi di Indonesia. Saat ini kondisi lingkungan hidup Indonesia semakin rusak dan tercemar. Udara semakin kotor, tanah semakin kritis,

19 Mieke Komar dkk., Kajian Hukum Terhadap Pencemaran Asap Lintas Batas di Indonesia, Laporan Penelitian, Kerjasama UNDP dengan KeMenlhK, Jakarta, 2016, hlm. 13-14.

(19)

sungai semakin kering, hutan semakin gundul, flora dan fauna semakin langka.

Dalam proses penegakan hukum lingkungan di pengadilan, para ahli hukum lingkungan menilai bahwa penegakan hukum lingkungan belum efektif. Putusan-putusan pengadilan tingkat pertama dan tingkat banding mengindikasikan lemahnya pemahaman aparatur penegakan hukum di pengadilan. Pertanyaan- pertanyaan dalam berita acara pemeriksaan dan pertimbangan dalam putusan tingkat pertama mengindikasikan benarnya penilaian tersebut. Dalam memeriksa perkara di bidang lingkungan hidup, terlihat mereka kesulitan dalam mengungkap kebenaran materiil. Untuk mengatasi hal tersebut dalam proses pemeriksaan, keberadaan saksi ahli sangat dominan. Masalahnya kemudian yang sering terjadi adalah perbedaan pendapat antar ahli di persidangan, ditambah lagi aparat penegak hukum tidak memahami apa yang dijelaskan oleh ahli. Akibatnya putusan hakim sering tidak didasari pemahaman yang utuh dan bulat atas permasalahan lingkungan hidup yang dihadapi.

Sebagaimana telah dijelaskan, pendekatan hukum lingkungan itu multidisipliner, karena hukum lingkungan sangat berkaitan dengan bidang-bidang ilmu kimia, fisika, biologi, ekologi, ekonomi, ilmu sosial, dan bidang ilmu lainnya. Berdasarkan sifatnya maka di dalam mengungkap kebenaran materiil atas kasus lingkungan yang dihadapi, aparatur penegak hukum tidak cukup hanya berbekal pada penguasaan ilmu hukum. Tanpa dibekali pemahaman ilmu-ilmu eksakta dan ilmu sosial lainnya secara memadai, niscaya polisi, jaksa, hakim dan pengacara tidak akan mampu menemukan kebenaran secara bulat dan benar.

Tuntutan untuk memahami ilmu eksakta dan ilmu sosial lainnya merupakan karakteristik khusus yang membedakan kasus- kasus lingkungan hidup dengan kasus-kasus hukum lainnya. Tidak

(20)

dipahaminya ilmu-ilmu eksakta dan ilmu sosial lainnya menjadi penyebab dominan tidak efektifnya penegakan hukum lingkungan di forum pengadilan. Meskipun saat ini telah terdapat 41320 orang hakim yang telah bersertifikasi lingkungan di lingkungan Mahkamah Agung namun keahlian mereka belum cukup memadai bila tidak memiliki keahlian di bidang ilmu-ilmu non hukum yang terkait dengan kasus-kasus lingkungan hidup yang dihadapi. Hal tersebut terlihat pada kasus-kasus PT. Bumi Mekar Hijau tahun 2015. Majelis hakim Pengadilan Negeri Palembang yang diketuai oleh Parlos Nababan memberikan pertimbangan hukum bahwa kebakaran lahan yang terjadi di lahan PT Bumi Mekar Hijau yang diklaim oleh Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK) mengakibatkan kerugian senilai Rp. 7,9 triliun, tidak mengakibatkan kerusakan tanah. Menurut hakim, lahan pasca kebakaran dinilai masih berfungsi dengan baik dan masih sesuai dengan peruntukkannya sebagai lahan untuk hutan tanaman industri, karena pada bekas lahan terbakar pohon akasia masih bisa tumbuh dengan baik. Majelis hakim yang diketuai oleh Parlos Nababan meyakini bahwa kebakaran lahan tidak menimbulkan kerugian secara ekologis, karena tidak menyebabkan peningkatan pH, Ca, Mg dan K sebagai unsur hara.

Pertimbangan hakim Parlos Nababan dan kawan-kawan mengindikasikan bahwa pemahaman mereka terhadap ilmu lingkungan lemah. Ahli lingkungan tentunya meyakini bahwa kebakaran hutan dan lahan pasti mengakibatkan kerusakan secara ekologis. Rusaknya keanekaragaman hayati tidak menjadi sorotan hakim dan hakim telah mengabaikan pencemaran sebagai dampak langsung aktivitas pembakaran hutan dan lahan. Hakim juga telah

20 Elita Rahmi dan Dadan Ramdhan, disampaikan dalam FGD Pengadilan Lingkungan yang diselenggarakan di Hotel Mercure, Bandung 12 Januari 2019.

(21)

mengabaikan kerusakan ekosistem dan penyakit infeksi saluran pernafasan akut. Hakim telah lalai dalam memahami kebakaran lahan gambut tidak dapat kembali pulih seperti semula.21

Pada dasarnya dalam kasus pembakaran hutan dan lahan di lahan konsesi PT. Bumi Mekar Hijau seluas 20.000 hektar, terlihat bahwa hakim tidak memahami dengan baik ilmu lingkungan. Bila hakim memahami maka mereka akan mengkaji keadaan unsur- unsur lingkungan selain tanah dan memahami kerusakan sistem ekologi serta hilangnya keanekaragaman hayati sebagai dampak aktivitas pembakaran hutan dan lahan. Bahkan Menteri Kesehatan Republik Indonesia pada waktu itu telah mengumumkan penyakit- penyakit yang diderita masyarakat akibat asap kebakaran hutan dan lahan.

Kalaupun hakim yang mengadili telah memiliki sertifikasi hakim lingkungan, namun apabila mereka tidak memahami ilmu lingkungan dengan baik, maka mereka akan tetap kesulitan menumbuhkan keyakinan pada diri mereka bawa kerusakan ekologis telah terjadi. Dan meskipun dalam tingkat banding serta kasasi PT. Bumi Mekar Hijau dihukum ganti rugi dan biaya pemulihan, namun dari besarnya hukuman yang dijatuhkan masih menunjukkan adanya kelemahan-kelemahan sebagaimana telah disampaikan.

Pentingnya pemahaman hakim yang mengadili kasus-kasus lingkungan hidup di pengadilan terlihat pula pada kasus pencemaran Sungai Citarum. Berdasarkan pengamatan peneliti dalam proses peradilan pencemaran meskipun hakim yang mengadili telah bersertifikasi lingkungan namun hakim terlihat kesulitan menemukan keyakinan hakim bahwa telah terjadi

21 Bambang Pahlawan dalam Yudi Rachman, dkk., Putusan PT. BMH Tak Bersalah Hakim Palembang Keliru, diunggah 31 Desember 2015 pada http://kbr.id/nasional/12-2015/ diakses 2 Maret 2019.

(22)

pencemaran sebagai kondisi yang diakibatkan aktivitas pencucian zat kimia pewarna tekstil. Keragu-raguan hakim terjadi karena hakim kesulitan memahami hasil uji laboratorium dan kesulitan dalam memahami penjelasan ahli ilmu kimia dan ilmu biologi.

Ketidakpahaman hakim atas proses kimiawi dan biologi telah mendorong hakim menyatukan hukum percobaan. Sebagaimana diyakini oleh banyak ahli hukum, hukuman percobaan adalah sikap ambigu yang merefleksikan keragu-raguan.

Dalam kasus pembatalan izin lingkungan Pembangkit Listrik Tenaga Uap (PLTU) Cirebon Power oleh PTUN Bandung, meskipun putusan mengabulkan permohonan pembatalan yang diajukan oleh Walhi, namun mencermati pertimbangan hakim, terlihat ketidakpahaman mereka pada pendekatan ekosistem.

Berdasarkan pertimbangannya hakim PTUN Bandung yang mengadili menilai izin lingkungan pembangunan PLTU Cirebon Power di Kabupaten Cirebon cacat hukum didasari pertimbangan yang tidak tepat. Hakim menggunakan pendekatan wilayah yang seharusnya menggunakan pendekatan fungsional.22

Sebagaimana diketahui bahwa Walhi mengajukan gugatan pembatalan izin lingkungan ke PTUN Bandung atas izin lingkungan yang diterbitkan oleh Badan Penanaman Modal dan Perizinan Terpadu (BPMPT) Provinsi Jawa Barat. Dalam pertimbangannya hakim menilai bahwa izin lingkungan yang diterbitkan BPMPT Provinsi Jawa Barat mengandung cacat substansial karena bertentangan dengan (Rencana Tata Ruang Wilayah) RTRW Kabupaten Cirebon. Pertimbangan tersebut didasari oleh pemahaman hakim yang tidak tepat dalam mendekati permasalahan wilayah cantilan (enclave). Terhadap persoalan

22 Imamulhadi dkk., Pendekatan Yuridis Konseptual Sengketa Izin Lingkungan, Yogyakarta: K Media, 2018, Hlm.16-21

(23)

wilayah cantilan hakim hanya melihatnya dari kewenangan administratif. Idealnya hakim menerapkan pendekatan fungsional karena yang dipersoalkan adalah fungsi ruang (peruntukan ruang) bukan persoalan kewenangan. Dalam perencanaan tata ruang, perencanaan dilakukan dengan menggunakan 4 (empat) pendekatan. Pendekatan sistem, pendekatan fungsional, pendekatan kewilayahan, dan pendekatan kegiatan kawasan. Penataan ruang berdasarkan pendekatan sistem seperti sistem permukiman, sistem jaringan kabel, jaringan pipa, sistem jalan, sistem pembuangan, sistem air bersih dll. Pendekatan fungsional terkait dengan daya dukung dan daya tampung lingkungan hidup, meliputi ruang fungsi lindung dan luang fungsi budidaya (pemanfaatan). Pendekatan fungsional sangat berkaitan erat dengan pelestarian fungsi lingkungan hidup. Pendekatan kewilayahan berkenan dengan kewenangan kebijakan, perizinan, regulasi, pengawasan, pembinaan, pengendalian dan penegakkan hukum. Pendekatan yang keempat adalah pendekatan kegiatan kawasan yaitu berkenaan dengan kawasan pedesaan, kawasan perkotaan, kawasan strategis, kawasan khusus, dll. Berkenaan dengan fungsi dan peruntukan wilayah cantilan hakim seharusnya menerapkan pendekatan fungsional bukan pendekatan wilayah administratif.

Kekeliruan tersebut dipahami karena hakim tidak memahami metode pendekatan dalam penataan ruang.23

Memperhatikan perkembangan hukum lingkungan global saat ini, masalah peradilan lingkungan dan model pengadilan lingkungan sebagai bagian dari penegakan hukum, merupakan issue yang ramai diperbincangkan oleh para ahli hukum lingkungan, praktisi, dan LSM lingkungan. Pencarian model

23 Imamulhadi, “Hukum Penataan Ruang Dalam Kerangka Sistem Hukum Lingkungan”, Artikel, 2019, Hlm. 15.

(24)

peradilan dan pengadilan lingkungan mana yang efektif menyelesaikan sengketa lingkungan secara adjudikasi, banyak menjadi fokus diskusi-diskusi dan kajian-kajian mereka.

Sebelumnya, pada awal perkembangan hukum lingkungan, fokus diskusi dan kajian mereka curahkan pada model dan mekanisme penyelesaian sengketa lingkungan secara konsensus di luar pengadilan (ADR). Seiring meningkatnya pelanggaran-pelanggaran terhadap aturan-aturan hukum dibidang lingkungan hidup, perhatian dunia kini mulai bergeser pada pencarian efektivitas penyelesaian sengketa lingkungan di pengadilan. Pengadilan sebagai institusi tempat berlangsungnya proses peradilan lingkungan menjadi tumpuan, harapan, dan garda terakhir penyelamatan lingkungan hidup global dari bahaya kehancuran dan hak asasi manusia.

Sebuah buku yang sangat bermanfaat, sebagaimana diterbitkan oleh United Nations Environmental Program24 (UNEP) telah menginformasikan perkembangan praktik peradilan lingkungan dunia. Tidak sebatas informasi, peneliti buku tersebut juga mengevaluasi efektivitas model pengadilan sebagai penyelenggara peradilan lingkungan yang dipraktikkan oleh banyak negara. Efektivitas pengadilan dalam mengadili perkara lingkungan menjadi pertanyaan yang dipersoalkan. Bangladesh sebagai negara yang telah memiliki undang-undang pengadilan lingkungan sejak tahun 2010, merupakan salah satu negara yang menghadapi kendala efektivitas.25 Brian J. Preston dalam upayanya memberikan panduan praktik peradilan lingkungan yang berhasil,

24 Lihat George (Rock) Pring, & Catherine (Kitty) Pring (2016), Environmental Courts & Tribunals: A Guide for Policy Makers, UNEP. Nairobi.

25 Lihat Farjana Afruj Khan Alin (2019), Effectiveness of Environmental Court, University of Malaya

(25)

mempertanyakan efektivitas praktik peradilan lingkungan di Indonesia dan New South Wales.26

Untuk memberikan panduan mengenai praktik penyelesaian sengketa lingkungan secara adjudikasi di pengadilan, George dan Kitty telah mengusulkan beberapa model peradilan lingkungan yang dapat dipilih oleh pengambil kebijakan. Sebagai ekspresi ketidakyakinannya akan tingkat efektivitas model yang mereka usulkan, George and Kitty menyatakan secara tegas bahwa tidak ada satu model terbaik untuk pengadilan lingkungan. Tidak ada satu ukuran yang cocok untuk semua desain. Setiap model pengadilan yang dipraktikkan suatu negara, mencerminkan karakter bangsa, budaya dan sistem hukum. Hal ini dapat dimengerti karena apa yang terbaik untuk setiap negara adalah yang cocok dengan lingkungan ekologi, sejarah, hukum, peradilan, agama, ekonomi, budaya dan politik yang unik di negara bersangkutan. Ini adalah model yang menghasilkan proses penyelesaian sengketa yang paling efektif dengan akses terhadap keadilan bagi semua kepentingan terpengaruh.27

Sebagaimana telah diketahui umum, bahwa issue pengadilan lingkungan sudah menjadi issue umum di beberapa negara yang telah memiliki undang-undang dibidang lingkungan hidup.

Keberadaan pengadilan lingkungan menjadi penting sebagai sarana proses pencarian keadilan terhadap masyarakat yang dirugikan terkait kebijakan lingkungan hidup, dan sebagai sarana untuk proses penjeraan atas praktik-praktik usaha yang merusak. Model peradilan dan pengadilan lingkungan masing-masing negara

26 Lihat Brian J. Preston (2013), Environmental Court and Tribunal, disampaikan dalam Konferensi Guiyang 2013: Seminar Keadilan Lingkungan ke- 3 pada 20 Juli 2013

di Guiyang, Guizhou, Cina.

27 Op.cit. hlm. 18.

(26)

memiliki karakteristik yang berbeda dengan keunikannya masing- masing. Keunikan dimaksud dipengaruhi oleh kondisi lingkungan ekologi, sejarah, hukum, peradilan, agama, ekonomi, budaya dan politik masing-masing negara. Namun, bukanlah berarti akan sia- sia upaya-upaya untuk merumuskan model peradilan dan pengadilan lingkungan yang efektif dan ideal. Dalam upaya merumuskan model peradilan dan pengadilan lingkungan hidup yang efektif memberikan dampak positif terhadap upaya pelestarian fungsi lingkungan hidup, penelitian dan kajian mengenai model peradilan dan pengadilan lingkungan berdasarkan etika lingkungan dan kearifan lokal sangat penting untuk dilakukan.

(27)

TUJUAN PENYELENGGARAAN PERADILAN LINGKUNGAN DI INDONESIA

alam teori ethic Aristoteles mengajarkan bahwa tujuan daripada hukum adalah keadilan. Hukum semata-mata menghendaki keadilan. Kepada yang sama penting diberikan yang sama, dan kepada yang tidak sama penting diberikan yang tidak sama. Identik dengan tujuan hukum Aristoteles adalah Francois Genny, dikatakannya bahwa tujuan hukum semata-mata hanya untuk mencapai keadilan.28

Dalam teori utility oleh Jeremy Bentham dikatakan bahwa hukum berfungsi dan bertujuan untuk mencapai kebahagiaan yang setinggi-tingginya bagi anggota masyarakat yang sebanyak- banyaknya, the greatest happiness for the greatest number of people. Teori utility sejalan dengan prinsip moral tertinggi yang disampaikan oleh Bentham yang dinamainya the principle of utility. Prinsip tersebut mewajibkan manusia agar berbuat dan bertindak guna mendatangkan kebahagiaan atau kenikmatan yang setinggi-tingginya bagi anggota masyarakat yang sebanyak- banyaknya.29

28 Imamulhadi, Ikhtisar Ilmu Hukum, Bandung: K-Media, 2017, hlm. 48-56.

29 Ibid.

D

(28)

Teori kebahagiaan atau kenikmatan dilatarbelakangi filsafat etika Bentham yang individualis. Bentham meyakini bahwa alam memosisikan manusia atas dua keadaan, kesenangan atau kepedihan (pleasure and paine). Menurut Jeremy Bentham moral tidaklah terkait dengan kepatuhan individu pada aturan-aturan.

Moralitas terkait dengan seberapa individu dapat mendatangkan kebahagiaan atau kesenangan bagi orang banyak. Kesenangan dianggapnya sebagai suatu kebajikan, sedangkan kepedihan sebagai suatu kejahatan. Untuk menjamin kebajikan dan menghindari kejahatan maka hukum harus melayani keseluruhan kebutuhan individu dalam masyarakat, sehingga tercapai kesenangan bagi sebesar-besarnya individu tersebut.30

Jeremy Bentham juga meyakini bahwa segala tindak perbuatan adalah benar apabila mendatangkan sejumlah kesenangan yang lebih besar dibandingkan kepedihan. Adapun kebahagiaan atau kesenangan individu sama derajatnya dengan kebahagiaan atau kesenangan individu lainnya. Kebahagiaan atau kesenangan tiap-tiap individu tidak bisa dibeda-bedakan satu sama lainnya.31

Menurut Bentham, baik-buruknya suatu undang-undang ditentukan oleh kesenangan atau kepedihan yang diakibatkan oleh undang-undang tersebut. Apabila undang-undang akan memberikan kesenangan yang lebih banyak bagi kebanyakan anggota masyarakat, maka undang-undang tersebut adalah baik.

Untuk mencapai kebahagiaan atau kesenangan yang banyak, suatu undang-undang harus memenuhi syarat-syarat sebagai berikut : 1. Undang-undang harus memberi nafkah hidup (to provide

subsistence);

30 Ibid..

31 Ibid.

(29)

2. Undang-undang harus memberikan nafkah makanan yang berlimpah (to provide abundance);

3. Undang-undang harus memberikan perlindungan (to provide security)

4. Undang-undang harus mencapai persamaan (to attain equity)32

Menurut Rudolf Von Jhering hukum bertujuan untuk melindungi kepentingan-kepentingan masyarakat dan individu- individu, dimana kepentingan masyarakat dan individu harus diseimbangkan oleh isyarat sosial.33 Berdasarkan pengertian hukum Von Jhering, terdapat tugas unsur hukum yang sangat menentukan, yaitu:

1. paksaan (coercion);

2. norma (norm);

3. tujuan (purpose).

Hukum berisikan peraturan-peraturan yang didasarkan pada paksaan yang dipunyai oleh masyarakat, akan tetapi, Negara merupakan pelaksana paksaan tersebut. Jhering mendefinisikan Norma sebagai unsur internal perilaku kemanusiaan, serta menurutnya tujuan dari hukum adalah merealisasikan kondisi- kondisi keamanan kehidupan sosial, seperti keamanan fisik, benda- benda, kesenangan dan kebahagiaan hidup.34 Rudolf Von Jhering selanjutnya membagi hukum dalam tiga bentuk hukum sebagai berikut:35

1. Extra Legal, dimaksudkan sebagai kondisi-kondisi kehidupan di bawah pengaruh alam. Seperti makan

32 Ibid.

33 Ibid.

34 Ibid.

35 Ibid.

(30)

2. Mixed Legal, dimaksudkan kondisi-kondisi kehidupan yang tergantung pada manusia yang tidak ada hubungannya dengan paksaan, seperti pemeliharaan hidup, kerja, dan hasil usaha.

3. Purely Legal, merupakan aspek-aspek kehidupan yang secara konsekuen tergantung pada hukum sebagai perintah, seperti bayar utang, dan membayar pajak.

Berdasar pada teori idea des rechts dari Gustav Radbrucht dapat dikatakan bahwa menurutnya tujuan hukum itu meliputi keadilan, kemanfaatan (finalitas), dan kepastian (legalitas). Adil menurut Radbruch adalah kesamaan hak bagi semua orang di depan pengadilan. Finalitas sebagai tujuan keadilan umum (dalam arti sempit) adalah memajukan kebaikan atau kemanfaatan dalam hidup manusia. Hukum harus memberikan kebaikan bagi orang, dimana kebaikan merupakan nilai etis. Kepastian atau legalitas sebagai unsur yang ketiga adalah bahwa harus dijamin bahwa hukum berfungsi sebagai peraturan yang harus ditaati.36

Secara singkat sebagaimana tergambar dalam definisi hukumnya Roscoe Pound merumuskan tujuan hukum adalah untuk menjaga perdamaian dari konflik antar kepentingan. Bertemunya kepentingan yang berbeda satu sama lain berpotensi menimbulkan konflik. Pada kondisi demikian maka keberadaan hukum ditujukan untuk menjaga perdamaian dari sengketa antar kepentingan.

Menurut L.J. van Apeldorn tujuan hukum ialah mengatur pergaulan hidup secara damai. Hukum menghendaki perdamaian.

Perdamaian di antara manusia dipertahankan oleh hukum dengan cara melindungi kepentingan-kepentingannya, seperti kehormatan, kemerdekaan, jiwa, dan harta benda. Untuk dapat mengatur pergaulan hidup secara damai, hukum haruslah adil.

36 Ibid.

(31)

Dengan merujuk pada ahli hukum lainnya, Utrecht merumuskan tujuan hukum sebagai berikut (teori gabungan);

1. Membuat keadilan (teori ethics Aristoteles);

2. Mengatur tata tertib masyarakat secara damai dan adil (Van Apeldorn);

3. Menjamin kebahagiaan sebanyak-banyaknya bagi anggota masyarakat sebanyak-banyaknya (teori utilitas Jeremy Bentham);

4. Keadilan dan faedah (Bellefroid);

5. Menjamin adanya kepastian hukum;

6. Hukum bertugas polisionil yaitu menjaga supaya dalam masyarakat tidak terjadi main hakim sendiri;

7. Menjamin keadilan, kegunaan, dan kepastian ( die idee des recht dari Gustav Radbruch);

8. Menjaga kepentingan agar kepentingan tidak diganggu (Van Kahn).

Berkenaan dengan tujuan hukum, Mochtar mengajarkan bahwa tujuan pokok dan utama bagi hukum adalah ketertiban (order) sebagai syarat fundamental pada masyarakat. Selain ketertiban terdapat tujuan hukum lainnya yaitu kepastian dan keadilan sebagai tujuan hukum tradisional. Keadilan itu sendiri isi dan ukurannya relatif bergantung pada masyarakat dan waktu.

Mochtar juga menyatakan bahwa pada negara berkembang tujuan utama dan pokok dari hukum adalah ketertiban, adapun syarat untuk tercapainya ketertiban terlebih dahulu harus tercipta kepastian hukum. Dan dalam kondisi masyarakat yang tertib itu keadilan dapat terwujudkan.37

37 Ibid.

(32)

Berdasarkan pada pendapat-pendapat ahli hukum terkemuka dunia sebagaimana diuraikan di atas maka tujuan hukum itu tidaklah satu, dua, atau tiga. Tujuan hukum sangat beragam.

Seperti keberagaman dalam definisi hukum, tujuan hukum juga sangat beragam-ragam. Oleh karena itu tidaklah pas apabila tujuan hukum ditentukan hanya untuk keadilan semata, atau hanya untuk menjamin kepastian hukum saja, atau bahkan hanya untuk memberikan kebahagiaan bagi sebayak-banyaknya anggota masyarakat saja. Dengan berpijak pada teori-teori hukum berkenaan tujuan hukum maka dapat disimpulkan bahwa pada umumnya tujuan hukum itu meliputi:

1. Keadilan;

Keadilan meliputi keadilan Tuhan yang bersifat universal dan abadi dan keadilan manusia yang bersifat relatif. Keadilan manusia meliputi keadilan distributif, keadilan komutatif, keadilan korektif, keadilan legalis, keadilan vindikatif, keadilan protektif, dan keadilan kreatif.

2. Kesebandingan;

Hukum diharapkan mampu mewujudkan kesebandingan atau persamaan dalam pergaulan hidup di masyarakat. Kedudukan individu yang satu dengan lainnya tidaklah lebih tinggi, mereka memiliki kedudukan yang sama di depan hukum.

Kesebandingan menempatkan manusia pada derajat kemanusiaannya.

3. Ketertiban;

Sebagaimana disampaikan oleh Mochtar Kusumaatmadja pada negara berkembang seperti Indonesia ketertiban merupakan tujuan hukum yang utama, karena kondisi masyarakat yang tertib dan teratur menjadi modal dasar tercapainya pembangunan. Tanpa terciptanya ketertiban

(33)

negara tidak dapat dengan baik menyelenggarakan pembangunan.

4. Keamanan;

Hukum harus pula diarahkan untuk menciptakan kondisi masyarakat yang aman, aman dari segala bentuk gangguan.

Keamanan sangat terkait erat dengan ketertiban. Kondisi masyarakat yang tertib dan teratur dengan sendirinya akan menciptakan suatu kondisi masyarakat yang aman.

5. Ketentraman dan kedamaian;

Kondisi masyarakat yang tertib, aman dan teratur selanjutnya akan menumbuhkan rasa aman dan damai bagi masyarakatnya. Apabila masyarakat telah merasa tentram dan damai maka hukum dapat dikatakan telah mencapai tujuan yang hakikinya. Hal itu dikarenakan kondisi masyarakat yang tentram dan damai membutuhkan beberapa syarat mendasar seperti ketertiban, keamanan, kepastian, kesebandingan, keadilan.

6. Kebahagiaan;

Kebahagiaan sebagai lawan dari kesedihan merupakan tujuan hukum yang subyektif dan relatif. Kehilangan sesuatu yang paling dicintai dapat mendatangkan kesedihan, sementara kehilangan merupakan suatu kondisi yang sulit dihindari. Oleh karena itu kondisi masyarakat yang bahagia tidak dapat dilihat secara ajek. Kebahagiaan bersifat fluktuatif.

7. Perlindungan;

Dalam kehidupan bermasyarakat perlindungan merupakan salah satu kebutuhan yang hakiki. Masyarakat membutuhkan perlindungan, dan hukum wajib mewujudkannya. Dalam hidup bermasyarakat, masyarakat membutuhkan perlindungan atas segala hak-haknya, kepentingannya, harga dirinya, kehormatannya, dan keselamatannya.

(34)

8. Kepastian;

Mochtar menyampaikan bahwa kepastian hukum merupakan syarat untuk tercapainya masyarakat yang tertib. Tanpa tercipta kepastian hukum maka ketertiban akan sulit diwujudkan. Secara umum dikatakan bahwa lex scripta (hukum yang tertulis), lex stricta (hukum yang tegas), dan lex certa (hukum yang tidak multitafsir) merupakan syarat untuk terwujudkannya kepastian hukum. Namun perlu pula ditambahkan bahwa selain ketiga hal tersebut keadilan dan kebenaran harus pula menjadi syarat terciptanya kepastian hukum, karena kepastian hukum sesungguhnya adalah pasti akan keadilan, kebenaran, dan implementasinya.

9. Kemanfaatan;

Dalam teori idea des recht dikatakan bahwa selain adil dan memberikan kepastian, hukum harus pula memberikan manfaat bagi masyarakatnya, dimana kemanfaatan dikaitkan dengan kebahagiaan.

10. Kesejahteraan;

Bila kesejahteraan dilawankan dengan kemiskinan, maka tujuan hukum salah satunya harus mengentaskan masyarakat dari kemiskinan. Hukum harus mampu mendorong dan membantu masyarakat agar mencapai kehidupan yang sejahtera.

11. Mengatur Masyarakat;

Bahwa hukum bertujuan mengatur masyarakat agar masyarakat hidup dalam kondisi tertib, aman, dan teratur merupakan ciri khas dari tujuan hukum. Hukum dibuat untuk mengatur masyarakat.

12. Mengendalikan Masyarakat;

(35)

Dalam kondisi tertentu hukum ditujukan pula untuk mengendalikan masyarakat. Hukum mengendalikan masyarakat agar tidak tercipta kondisi yang anarkis.

13. Menyelesaikan Sengketa, dll.

Pada masyarakat yang dinamis, pola hubungan masyarakat terkadang membentuk suatu hubungan yang bersitegang.

Bertemunya kepentingan antar individu yang saling berbeda dapat mengakibatkan konflik antar kepentingan, dan untuk itu hukum ditujukan pula untuk menyelesaikan sengketa, agar sengketa yang terjadi dapat diselesaikan secara damai dan memuaskan semua pihak.

Dari sekian banyak tujuan hukum menurut para ahli hukum terkemuka, lalu apakah yang menjadi tujuan hukum penyelenggaraan peradilan lingkungan hidup di Indonesia? Untuk menjawab pertanyaan tersebut, perlu pula dipertanyakan apa yang menjadi dasar hukum penyelenggaraan peradilan lingkungan, dan apa yang menjadi tujuan pengaturannya?

Dasar hukum penyelenggaraan peradilan lingkungan hidup di Indonesia adalah UUPPLH, sebagai penyempurnaan atas undang- undang lingkungan hidup sebelumnya (UU No. 4 Tahun 1982 tentang Lingkungan Hidup, dan UU No. 23 Tahun 1997 tentang Pengelolaan Lingkungan Hidup). Adapun diundangkannya UUPPLH adalah:

1. Melindungi wilayah Negara Kesatuan Republik Indonesia dari pencemaran dan/atau kerusakan lingkungan hidup;

2. Menjamin keselamatan, kesehatan, dan kehidupan manusia;

3. Menjamin kelangsungan kehidupan makhluk hidup dan kelestarian

4. ekosistem;

5. Menjaga kelestarian fungsi lingkungan hidup;

(36)

6. Mencapai keserasian, keselarasan, dan keseimbangan lingkungan hidup;

7. Menjamin terpenuhinya keadilan generasi masa kini dan generasi masa

8. depan;

9. Menjamin pemenuhan dan perlindungan hak atas lingkungan hidup

10. sebagai bagian dari hak asasi manusia;

11. Mengendalikan pemanfaatan sumber daya alam secara bijaksana;

12. Mewujudkan pembangunan berkelanjutan; dan 13. Mengantisipasi isu lingkungan global.

Bila kesepuluh tujuan pengaturan peradilan lingkungan hidup di Indonesia diperas menjadi satu tujuan, maka muncul satu kata yaitu pembangunan berkelanjutan. Dengan demikian sejatinya tujuan penyelenggaraan peradilan lingkungan hidup di Indonesia adalah tercapainya pembangunan berkelanjutan.

World Commition Environment Development (WCED), merumuskan pembangunan berkelanjutan sebagai berikut

“development that meets the needs of the present without compromising the ability of future generations to meet their own needs.” Berdasarkan rumusan itu dapat dikatakan bahwa pembangunan berkelanjutan merupakan suatu konsep pembangunan dimana pembangunan ditujukan untuk meningkatkan kesejahteraan hidup generasi kini, tanpa mengurangi kemampuan generasi yang akan datang dalam meningkatkan kesejahteraan hidupnya. Berdasar pada pengertian tersebut, dapat dikatakan pula bahwa konsepsi pembangunan berkelanjutan mensyaratkan ketersediaan sumber daya lingkungan pada masa yang akan datang sebagai bekal generasi yang akan datang (future

(37)

generations) untuk memenuhi kebutuhannya. Hal itu berarti pembangunan untuk meningkatkan kesejahteraan generasi kita saat ini tidak boleh mengurangi kemampuan lingkungan untuk mendukung perikehidupan generasi yang akan datang. Untuk itu pembangunan haruslah berkelanjutan. Berkelanjutan baik secara ekologi, berkelanjutan secara ekonomi, dan keberlanjutan secara sosial.38

Berkelanjutan secara ekologi mengandung makna bahwa pembangunan tidak boleh mengakibatkan terjadinya kerusakan terhadap fungsi lingkungan hidup. Pembangunan tidak boleh sampai melampaui batas daya dukung suatu sistem, daya tampung sistem, dan tidak boleh melampaui kemampuan lenting suatu sistem. Untuk itu pembangunan harus selalu memperhatikan dan mengindahkan batas baku mutu dan baku kerusakan lingkungan.

Dengan demikian tolok ukur keberlanjutan secara ekologi adalah terjaganya kelestarian daya dukung, daya tampung, dan daya lenting lingkungan dalam setiap proses pembangunan.

Keberlanjutan secara ekonomi mengandung makna bahwa pembangunan haruslah memberikan keuntungan secara ekonomi.39

Pembangunan harus dapat meningkatkan pertumbuhan ekonomi masyarakat. Proses pembangunan harus memberikan peluang bagi para pelaku usaha untuk mendapatkan keuntungan yang layak. Keberlanjutan secara sosial dimaknai bahwa hasil-hasil pembangunan harus dapat meningkatkan kesejahteraan masyarakat secara merata. Pembangunan harus ditujukan dalam rangka untuk mencapai kemakmuran masyarakat secara menyeluruh. Kiranya belum lah dapat dikatakan telah tercapai keberlanjutan sosial, apabila pembangunan hanya dapat menyejahterakan golongan

38 Imamulhadi, Pokok-Pokok Hukum Lingkungan, Bandung: Unpad Press, 2016, hlm. 26-32

39 Ibid

(38)

tertentu saja. Dan tidak pula dapat dikatakan telah tercapai keberlanjutan secara sosial, apabila masih terdapat masyarakat yang lapar, masyarakat yang menderita gizi buruk, masyarakat yang tidak terjamin kesehatannya, dan masih terdapat masyarakat yang tidak dapat memenuhi kebutuhan hidup manusiawinya. Suatu kondisi yang menggambarkan telah tercapainya pembangunan berkelanjutan adalah apabila pembangunan telah berhasil memberikan keuntungan bagi para pelaku ekonomi, dan pembangunan telah menjadikan masyarakatnya makmur secara merata, sementara kondisi lingkungan tetap terjaga dan lestari.40

Saat ini telah lebih dari 20 tahun konsepsi pembangunan berkelanjutan diimplementasikan dalam program pembangunan baik dalam skala nasional maupun internasional. Namun kondisi lingkungan semakin hari semakin rusak dan tercemar, dan masih banyak terdapat masyarakat yang tidak dapat memenuhi kebutuhan hidup manusiawinya. Sementara pada sisi lain pembangunan telah memberikan keuntungan kepada para pelaku ekonomi lebih dari memadai. Implementasi konsepsi pembangunan berkelanjutan hasilnya saat ini hanya lah memenuhi keberlanjutan secara ekonomi saja, belum memberikan keberlanjutan secara ekologi dan sosial. Apa sebab hal ini terjadi?41

Konsepsi pembangunan berkelanjutan merupakan ide yang sangat cemerlang, dalam menyikapi dampak negatif pembangunan.

Namun konsep pembangunan berkelanjutan tidak membatasi capaian maksimum keuntungan. Para pelaku usaha diberi kebebasan untuk mendapatkan keuntungan yang sebesar-besarnya, bahkan masih dimungkinkan dengan modal yang sekecil-kecilnya, pelaku usaha berupaya untuk mendapatkan keuntungan yang

40 Ibid

41 Ibid

(39)

sebesar-besarnya. Selain itu saat ini penggunaan keuntungan yang diperoleh sebagai hasil dari pembangunan tidak dibatasi. Hasil dari pemanfaatan sumber daya lingkungan dimungkinkan dimanfaatkan untuk memenuhi kebutuhan-kebutuhan yang bersifat bermegah- megahan dan bermewah-mewahan, bahkan tidak jarang digunakan untuk memenuhi kebutuhan hidup yang bersifat sensasional, seperti untuk sekedar kesenangan-kesenangan. Apabila kebutuhan- kebutuhan demikian tidak segera dikendalikan dan dibatasi, maka keberlanjutan secara ekologi, dan secara sosial untuk selamanya tidak akan pernah terwujudkan, melainkan hanya lah sebuah slogan manis. Keberlanjutan secara ekologi dan secara sosial hanya lah merupakan angan-angan, dan hanya lah merupakan angin segar yang meninabobokan negara-negara berkembang dan masyarakat golongan ekonomi lemah.42

Agar keberlanjutan secara ekologi dan keberlanjutan secara sosial dapat terwujud, implementasi konsepsi pembangunan berkelanjutan menghendaki pembatasan-pembatasan, dalam bentuk larangan-larangan tertentu. Masyarakat baik orang-perorangan maupun badan usaha, seharusnya dilarang memanfaatkan hasil eksploitasi sumber daya lingkungan untuk bermewah-mewahan, bermegah-megahan, dan menumpuk-numpuk harta. Pemanfaatan hasil eksploitasi sumber daya lingkungan hendaknya dipergunakan terutama untuk pemerataan kemakmuran, meningkatkan pembangunan dibidang pendidikan, kesehatan, perumahan dan pemukiman, sosial dan agama, dan pembangunan yang menyangkut pelayanan serta hajat hidup orang banyak.43

Pemanfaatan hasil eksploitasi sumber daya lingkungan harus diperuntukkan untuk memenuhi kebutuhan hajat hidup manusia

42 Ibid

43 Ibid

(40)

secukupnya, dan tidak boleh untuk berlebih-lebihan. Pembatasan- pembatasan tersebut sangat lah penting bila memang negara bersungguh-sungguh menghendaki terwujudnya pembangunan yang berkelanjutan. Tanpa adanya pembatasan, manusia memiliki kecenderungan untuk mengeksploitasi sumber daya lingkungan demi mewujudkan kebutuhan-kebutuhannya yang tidak terbatas, meningkat, dan berkembang.44

Berdasarkan uraian di atas kini menjadi jelas bahwa untuk dapat dikatakan suatu pembangunan merupakan pembangunan berkelanjutan tolok ukurnya adalah bahwa pembangunan tersebut harus memenuhi pilar-pilar pembangunan berkelanjutan. Pilar keberlanjutan secara ekologi, keberlanjutan secara ekonomi dan keberlanjutan secara sosial. Adapun indikator tercapainya keberlanjutan secara ekologi adalah apabila pembangunan tersebut tidak melampaui daya dukung, daya tampung, dan daya lenting lingkungan. Indikator keberlanjutan secara ekonomi dan keberlanjutan sosial adalah apabila pembangunan dapat terus berjalan dimana pembangunan menjadi sarana tercapainya masyarakat yang sejahtera. Dengan kalimat lain dapat dikatakan bahwa indikator pencapaian pembangunan berkelanjutan adalah bila pembangunan tersebut tidak mengakibatkan kerusakan dan/

atau pencemaran lingkungan hidup, sementara pembangunan tersebut menjadi sebab tercapainya kesejahteraan rakyat.

Tercapainya pembangunan berkelanjutan sebagai tujuan penyelenggaraan peradilan lingkungan hidup akan berdampak pada tercapainya secara simultan tujuan hukum keadilan, kebahagiaan, kemanfaatan, kepastian hukum, ketertiban, perlindungan, dan penyelesaian sengketa. Hal itu dikarenakan tercapainya pembangunan berkelanjutan memberi keadilan bagi pemerintah,

44 Ibid

(41)

pengusaha, masyarakat, dan lingkungan hidup secara simultan.

Terjaganya lingkungan dari kehancuran dalam menyokong pembangunan memberikan keadilan bagi semua pihak, dan berjalannya roda pembangunan secara berkelanjutan memberikan keadilan bagi semua pihak. Terjaganya lingkungan dari kehancuran akan memberi kontribusi pada rasa aman dan tertib karena masyarakat merasa terlindungi dari bahaya. Dan dengan terwujudkannya pembangunan berkelanjutan akan memberi kebahagiaan dan manfaat bagi masyarakat.

Dapat disimpulkan bahwa pencapaian pembangunan berkelanjutan sebagai tujuan penyelenggaraan peradilan lingkungan hidup secara otomatis akan mencapai tujuan hukum secara umum. Pencapaian pembangunan berkelanjutan sejalan dengan tujuan hukum. Dicapainya pembangunan berkelanjutan mengindikasikan telah dicapainya tujuan hukum. Untuk itu tujuan pengaturan perlindungan dan pengelolaan lingkungan hidup sebagaimana diatur dalam UUPPLH dapat dijadikan sebagai rujukan dalam merumuskan tujuan hukum.

(42)

PUTUSAN HAKIM DALAM KERANGKA PEMBANGUNAN BERKELANJUTAN

eradilan lingkungan sebagai bagian dari proses penyelesaian sengketa, bila tidak dapat diselesaikan di luar pengadilan, prosesnya akan bermuara pada putusan hakim. Bila dikaitkan dengan tujuan penyelenggaraan peradilan lingkungan, maka hakim yang mengadili perkara-perkara lingkungan wajib mengawal pencapaian pembangunan berkelanjutan sebagai tujuan penyelenggaraan peradilan lingkungan. Dalam mewujudkan pembangunan berkelanjutan, putusan-putusan hakim wajib mengarahkan para pihak yang bersengketa melaksanakan kewajiban-kewajibannya dalam mewujudkan pembangunan berkelanjutan sebagaimana diamanatkan UUPPLH.

Berdasarkan pada pemahaman mengenai teori pembangunan berkelanjutan di atas, menurut peneliti untuk dapat dikatakan bahwa peradilan lingkungan hidup efektif dalam mencapai pembangunan berkelanjutan, dapat diukur dengan melihat seberapa putusan hakim mendukung upaya-upaya pencapaian pembangunan berkelanjutan. Bila dalam sebagian besar penyelenggaraan peradilan lingkungan putusan hakimnya mencerminkan putusan yang berkelanjutan maka peradilan lingkungan dapat dikatakan

P

(43)

telah efektif. Tetapi sebaliknya bila sebagian besar putusan hakimnya tidak mencerminkan putusan yang berkelanjutan maka peradilan lingkungan tidak efektif. Adapun kemudian yang menjadi pertanyaan, bagaimana indikator putusan hakim mencerminkan putusan yang berkelanjutan?

Putusan hakim yang berkelanjutan merupakan keputusan hakim yang berpihak pada pelestarian fungsi lingkungan hidup, dengan tidak menghambat berjalannya roda pembangunan dalam rangka menyejahterakan rakyat. Dengan berpegang pada indikator pembangunan berkelanjutan maka putusan hakim yang mencerminkan pembangunan berkelanjutan dapat diukur dengan indikator sebagai berikut :

1. Putusannya mendukung pelestarian fungsi lingkungan hidup (indikator keberlanjutan secara ekologi). Putusan hakim dalam menyelesaikan sengketa lingkungan hidup di pengadilan tidak boleh berdampak pada terjadinya kerusakan dan/ atau pencemaran lingkungan hidup. Putusannya harus menjamin kelestarian fungsi lingkungan dan putusan yang pro lingkungan.

2. Putusannya mendukung pembangunan yang menyejahterakan rakyat secara berkelanjutan.(indikator keberlanjutan ekonomi dan sosial) Selain hakim harus pro lingkungan hakim pun tidak boleh mengakibatkan terhambatnya roda pembangunan.

Putusan-putusan hakim tidak boleh mengakibatkan pembangunan berhenti. Putusan hakim yang mengakibatkan pembangunan terhenti merupakan putusan yang tidak berkelanjutan.

Hakim dalam pengambilan keputusan senantiasa harus berupaya agar indikator-indikator tersebut terimplementasikan.

Bagaimanakah putusan hakim yang mencerminkan implementasi

(44)

kedua indikator tersebut? Putusan hakim dikatakan mendukung upaya pelestarian fungsi lingkungan hidup sebagai perwujudan tercapainya indikator keberlanjutan secara ekologi, apabila putusannya berisikan :

1. Perintah kepada pencemar dan/ atau perusak lingkungan hidup untuk melakukan pemulihan lingkungan yang dirusak dan/

atau dicemarinya;

2. Menjatuhkan hukuman pidana penjara kepada penanggungjawab kegiatan dan/ atau usaha yang telah melakukan pencemaran dan/ atau perusakan lingkungan hidup, apabila lingkungan tidak dapat dipulihkan;

3. Menjatuhkan hukuman secara alternatif (menjalani hukuman penjara atau membayar denda dan/ atau mengikuti kerja sosial terkait pelestarian lingkungan hidup) apabila lingkungan yang dirusaknya dan/ atau dicemarinya masih dapat dipulihkan;

4. Menghukum penanggungjawab kegiatan dan/ atau usaha yang telah melakukan pencemaran dan/ atau perusakan lingkungan hidup untuk membayar ganti kerugian kepada pihak yang dirugikan, sehubungan terjadinya pencemaran dan/ atau kerusakan lingkungan hidup;

5. Perintah kepada pencemar dan/ atau perusak lingkungan hidup untuk menanggung biaya pemulihan lingkungan;

6. Perintah kepada pencemar dan/ atau perusak lingkungan hidup untuk melakukan rekonsiliasi dengan masyarakat yang dirugikan akibat pencemaran;

7. Perintah kepada pencemar dan/ atau perusak lingkungan hidup untuk membayar denda sesuai peraturan perundang-undangan;

Putusan hakim dikatakan mendukung pembangunan yang menyejahterakan rakyat secara berkelanjutan sebagai perwujudan

(45)

pencapaian indikator keberlanjutan ekonomi dan sosial apabila putusannya berisikan :

1. Menyatakan penanggungjawab kegiatan dan/ atau usaha tidak cakap mengelola kegiatan dan/ atau usaha apabila penanggungjawab usaha dan/ atau kegiatan melakukan pencemaran dan/ atau perusakan lingkungan hidup yang tidak dapat dipulihkan.

2. Menyatakan penanggungjawab kegiatan dan/ atau usaha tidak cakap mengelola kegiatan dan/ atau usaha apabila penanggungjawab usaha dan/ atau kegiatan mengulangi kembali perbuatan pencemaran dan/ atau perusakan lingkungan hidup, namun lingkungan hidup masih dapat dipulihkan.

3. Perintah kepada pemerintah agar menunjuk pengelola usaha dan/ atau kegiatan untuk jangka waktu paling singkat 3 tahun, karena penanggungjawab kegiatan dan/ atau usaha dinyatakan tidak cakap oleh hakim, apabila penanggungjawab kegiatan dan atau usaha melakukan pencemaran dan/ atau perusakan lingkungan hidup dimana lingkungan hidup tidak dapat dipulihkan ;

4. Perintah kepada pemerintah agar menunjuk pengelola usaha dan/ atau kegiatan untuk jangka waktu paling singkat 3 tahun, karena penanggungjawab kegiatan dan/ atau usaha dinyatakan tidak cakap oleh hakim, apabila penanggungjawab kegiatan dan atau usaha mengulangi perbuatan pencemaran dan/ atau perusakan lingkungan hidup yang masih dapat dipulihkan ; 5. Jaminan bahwa perusahaan tetap dapat menjalankan

operasional usahanya;

6. Jaminan bahwa perusahaan tidak dihentikan sementara operasional usahanya:

7. Jaminan bahwa perusahaan tidak dicabut izin usahanya.

Referensi

Dokumen terkait

Pengertian Lingkungan Hidup berdasarkan Pasal 1 angka 1 Undang- Undang Nomor 32 Tahun 2009 Tentang Perlindungan dan Pengelolaan Lingkungan Hidup adalah kesatuan

Pengertian Pencemaran Lingkungan berdasarkan Undang-undang No. 32 Tahun 2009 Tentang Perlindungan Dan Pengelolaan Lingkungan Hidup adalah masuk atau dimasukkannya

Kedua , meskipun UU PPLH menerapkan sanksi pidana secara premium remedium , akan tetapi penerapan sanksi administrasi lebih efektif dan lebih memberikan

Undang- undang Nomor 32 Tahun 2009 tentang Perlindungan dan Pengelolaan Lingkungan Hidup mengatur sanksi kepada pihak yang terbukti melanggar yaitu penegakan hukum

32/2009 tentang Perlindungan dan Pengelolaan Lingkungan Hidup, Kajian Lingkungan Hidup Strategis, yang selanjutnya disingkat KLHS, adalah rangkaian analisis yang

32/2009 tentang Perlindungan dan Pengelolaan Lingkungan Hidup, Kajian Lingkungan Hidup Strategis, yang selanjutnya disingkat KLHS, adalah rangkaian analisis yang

Dani Amran Hakim, Politik Hukum Lingkungan Hidup di Indonesia Berdasarkan Undang-Undang Nomor 23 Tahun 2009 tentang Perlindungan dan Pengelolaan Lingkungan Hidup, Fiat Justisia Jurnal

Pentingnya Rencana Perlindungan dan Pengelolaan Lingkungan Hidup (RPPLH) untuk melindungi dan mengelola lingkungan hidup di suatu