• Tidak ada hasil yang ditemukan

TUJUAN PENYELENGGARAAN PERADILAN LINGKUNGAN DI

Dalam dokumen PERADILAN LINGKUNGAN (Halaman 27-42)

INDONESIA

alam teori ethic Aristoteles mengajarkan bahwa tujuan daripada hukum adalah keadilan. Hukum semata-mata menghendaki keadilan. Kepada yang sama penting diberikan yang sama, dan kepada yang tidak sama penting diberikan yang tidak sama. Identik dengan tujuan hukum Aristoteles adalah Francois Genny, dikatakannya bahwa tujuan hukum semata-mata hanya untuk mencapai keadilan.28

Dalam teori utility oleh Jeremy Bentham dikatakan bahwa hukum berfungsi dan bertujuan untuk mencapai kebahagiaan yang setinggi-tingginya bagi anggota masyarakat yang sebanyak-banyaknya, the greatest happiness for the greatest number of people. Teori utility sejalan dengan prinsip moral tertinggi yang disampaikan oleh Bentham yang dinamainya the principle of utility. Prinsip tersebut mewajibkan manusia agar berbuat dan bertindak guna mendatangkan kebahagiaan atau kenikmatan yang setinggi-tingginya bagi anggota masyarakat yang sebanyak-banyaknya.29

28 Imamulhadi, Ikhtisar Ilmu Hukum, Bandung: K-Media, 2017, hlm. 48-56.

29 Ibid.

D

Teori kebahagiaan atau kenikmatan dilatarbelakangi filsafat etika Bentham yang individualis. Bentham meyakini bahwa alam memosisikan manusia atas dua keadaan, kesenangan atau kepedihan (pleasure and paine). Menurut Jeremy Bentham moral tidaklah terkait dengan kepatuhan individu pada aturan-aturan.

Moralitas terkait dengan seberapa individu dapat mendatangkan kebahagiaan atau kesenangan bagi orang banyak. Kesenangan dianggapnya sebagai suatu kebajikan, sedangkan kepedihan sebagai suatu kejahatan. Untuk menjamin kebajikan dan menghindari kejahatan maka hukum harus melayani keseluruhan kebutuhan individu dalam masyarakat, sehingga tercapai kesenangan bagi sebesar-besarnya individu tersebut.30

Jeremy Bentham juga meyakini bahwa segala tindak perbuatan adalah benar apabila mendatangkan sejumlah kesenangan yang lebih besar dibandingkan kepedihan. Adapun kebahagiaan atau kesenangan individu sama derajatnya dengan kebahagiaan atau kesenangan individu lainnya. Kebahagiaan atau kesenangan tiap-tiap individu tidak bisa dibeda-bedakan satu sama lainnya.31

Menurut Bentham, baik-buruknya suatu undang-undang ditentukan oleh kesenangan atau kepedihan yang diakibatkan oleh undang-undang tersebut. Apabila undang-undang akan memberikan kesenangan yang lebih banyak bagi kebanyakan anggota masyarakat, maka undang-undang tersebut adalah baik.

Untuk mencapai kebahagiaan atau kesenangan yang banyak, suatu undang-undang harus memenuhi syarat-syarat sebagai berikut : 1. Undang-undang harus memberi nafkah hidup (to provide

subsistence);

30 Ibid..

31 Ibid.

2. Undang-undang harus memberikan nafkah makanan yang berlimpah (to provide abundance);

3. Undang-undang harus memberikan perlindungan (to provide security)

4. Undang-undang harus mencapai persamaan (to attain equity)32

Menurut Rudolf Von Jhering hukum bertujuan untuk melindungi kepentingan-kepentingan masyarakat dan individu-individu, dimana kepentingan masyarakat dan individu harus diseimbangkan oleh isyarat sosial.33 Berdasarkan pengertian hukum Von Jhering, terdapat tugas unsur hukum yang sangat menentukan, yaitu:

1. paksaan (coercion);

2. norma (norm);

3. tujuan (purpose).

Hukum berisikan peraturan-peraturan yang didasarkan pada paksaan yang dipunyai oleh masyarakat, akan tetapi, Negara merupakan pelaksana paksaan tersebut. Jhering mendefinisikan Norma sebagai unsur internal perilaku kemanusiaan, serta menurutnya tujuan dari hukum adalah merealisasikan kondisi-kondisi keamanan kehidupan sosial, seperti keamanan fisik, benda-benda, kesenangan dan kebahagiaan hidup.34 Rudolf Von Jhering selanjutnya membagi hukum dalam tiga bentuk hukum sebagai berikut:35

1. Extra Legal, dimaksudkan sebagai kondisi-kondisi kehidupan di bawah pengaruh alam. Seperti makan

32 Ibid.

33 Ibid.

34 Ibid.

35 Ibid.

2. Mixed Legal, dimaksudkan kondisi-kondisi kehidupan yang tergantung pada manusia yang tidak ada hubungannya dengan paksaan, seperti pemeliharaan hidup, kerja, dan hasil usaha.

3. Purely Legal, merupakan aspek-aspek kehidupan yang secara konsekuen tergantung pada hukum sebagai perintah, seperti bayar utang, dan membayar pajak.

Berdasar pada teori idea des rechts dari Gustav Radbrucht dapat dikatakan bahwa menurutnya tujuan hukum itu meliputi keadilan, kemanfaatan (finalitas), dan kepastian (legalitas). Adil menurut Radbruch adalah kesamaan hak bagi semua orang di depan pengadilan. Finalitas sebagai tujuan keadilan umum (dalam arti sempit) adalah memajukan kebaikan atau kemanfaatan dalam hidup manusia. Hukum harus memberikan kebaikan bagi orang, dimana kebaikan merupakan nilai etis. Kepastian atau legalitas sebagai unsur yang ketiga adalah bahwa harus dijamin bahwa hukum berfungsi sebagai peraturan yang harus ditaati.36

Secara singkat sebagaimana tergambar dalam definisi hukumnya Roscoe Pound merumuskan tujuan hukum adalah untuk menjaga perdamaian dari konflik antar kepentingan. Bertemunya kepentingan yang berbeda satu sama lain berpotensi menimbulkan konflik. Pada kondisi demikian maka keberadaan hukum ditujukan untuk menjaga perdamaian dari sengketa antar kepentingan.

Menurut L.J. van Apeldorn tujuan hukum ialah mengatur pergaulan hidup secara damai. Hukum menghendaki perdamaian.

Perdamaian di antara manusia dipertahankan oleh hukum dengan cara melindungi kepentingan-kepentingannya, seperti kehormatan, kemerdekaan, jiwa, dan harta benda. Untuk dapat mengatur pergaulan hidup secara damai, hukum haruslah adil.

36 Ibid.

Dengan merujuk pada ahli hukum lainnya, Utrecht merumuskan tujuan hukum sebagai berikut (teori gabungan);

1. Membuat keadilan (teori ethics Aristoteles);

2. Mengatur tata tertib masyarakat secara damai dan adil (Van Apeldorn);

3. Menjamin kebahagiaan sebanyak-banyaknya bagi anggota masyarakat sebanyak-banyaknya (teori utilitas Jeremy Bentham);

4. Keadilan dan faedah (Bellefroid);

5. Menjamin adanya kepastian hukum;

6. Hukum bertugas polisionil yaitu menjaga supaya dalam masyarakat tidak terjadi main hakim sendiri;

7. Menjamin keadilan, kegunaan, dan kepastian ( die idee des recht dari Gustav Radbruch);

8. Menjaga kepentingan agar kepentingan tidak diganggu (Van Kahn).

Berkenaan dengan tujuan hukum, Mochtar mengajarkan bahwa tujuan pokok dan utama bagi hukum adalah ketertiban (order) sebagai syarat fundamental pada masyarakat. Selain ketertiban terdapat tujuan hukum lainnya yaitu kepastian dan keadilan sebagai tujuan hukum tradisional. Keadilan itu sendiri isi dan ukurannya relatif bergantung pada masyarakat dan waktu.

Mochtar juga menyatakan bahwa pada negara berkembang tujuan utama dan pokok dari hukum adalah ketertiban, adapun syarat untuk tercapainya ketertiban terlebih dahulu harus tercipta kepastian hukum. Dan dalam kondisi masyarakat yang tertib itu keadilan dapat terwujudkan.37

37 Ibid.

Berdasarkan pada pendapat-pendapat ahli hukum terkemuka dunia sebagaimana diuraikan di atas maka tujuan hukum itu tidaklah satu, dua, atau tiga. Tujuan hukum sangat beragam.

Seperti keberagaman dalam definisi hukum, tujuan hukum juga sangat beragam-ragam. Oleh karena itu tidaklah pas apabila tujuan hukum ditentukan hanya untuk keadilan semata, atau hanya untuk menjamin kepastian hukum saja, atau bahkan hanya untuk memberikan kebahagiaan bagi sebayak-banyaknya anggota masyarakat saja. Dengan berpijak pada teori-teori hukum berkenaan tujuan hukum maka dapat disimpulkan bahwa pada umumnya tujuan hukum itu meliputi:

1. Keadilan;

Keadilan meliputi keadilan Tuhan yang bersifat universal dan abadi dan keadilan manusia yang bersifat relatif. Keadilan manusia meliputi keadilan distributif, keadilan komutatif, keadilan korektif, keadilan legalis, keadilan vindikatif, keadilan protektif, dan keadilan kreatif.

2. Kesebandingan;

Hukum diharapkan mampu mewujudkan kesebandingan atau persamaan dalam pergaulan hidup di masyarakat. Kedudukan individu yang satu dengan lainnya tidaklah lebih tinggi, mereka memiliki kedudukan yang sama di depan hukum.

Kesebandingan menempatkan manusia pada derajat kemanusiaannya.

3. Ketertiban;

Sebagaimana disampaikan oleh Mochtar Kusumaatmadja pada negara berkembang seperti Indonesia ketertiban merupakan tujuan hukum yang utama, karena kondisi masyarakat yang tertib dan teratur menjadi modal dasar tercapainya pembangunan. Tanpa terciptanya ketertiban

negara tidak dapat dengan baik menyelenggarakan pembangunan.

4. Keamanan;

Hukum harus pula diarahkan untuk menciptakan kondisi masyarakat yang aman, aman dari segala bentuk gangguan.

Keamanan sangat terkait erat dengan ketertiban. Kondisi masyarakat yang tertib dan teratur dengan sendirinya akan menciptakan suatu kondisi masyarakat yang aman.

5. Ketentraman dan kedamaian;

Kondisi masyarakat yang tertib, aman dan teratur selanjutnya akan menumbuhkan rasa aman dan damai bagi masyarakatnya. Apabila masyarakat telah merasa tentram dan damai maka hukum dapat dikatakan telah mencapai tujuan yang hakikinya. Hal itu dikarenakan kondisi masyarakat yang tentram dan damai membutuhkan beberapa syarat mendasar seperti ketertiban, keamanan, kepastian, kesebandingan, keadilan.

6. Kebahagiaan;

Kebahagiaan sebagai lawan dari kesedihan merupakan tujuan hukum yang subyektif dan relatif. Kehilangan sesuatu yang paling dicintai dapat mendatangkan kesedihan, sementara kehilangan merupakan suatu kondisi yang sulit dihindari. Oleh karena itu kondisi masyarakat yang bahagia tidak dapat dilihat secara ajek. Kebahagiaan bersifat fluktuatif.

7. Perlindungan;

Dalam kehidupan bermasyarakat perlindungan merupakan salah satu kebutuhan yang hakiki. Masyarakat membutuhkan perlindungan, dan hukum wajib mewujudkannya. Dalam hidup bermasyarakat, masyarakat membutuhkan perlindungan atas segala hak-haknya, kepentingannya, harga dirinya, kehormatannya, dan keselamatannya.

8. Kepastian;

Mochtar menyampaikan bahwa kepastian hukum merupakan syarat untuk tercapainya masyarakat yang tertib. Tanpa tercipta kepastian hukum maka ketertiban akan sulit diwujudkan. Secara umum dikatakan bahwa lex scripta (hukum yang tertulis), lex stricta (hukum yang tegas), dan lex certa (hukum yang tidak multitafsir) merupakan syarat untuk terwujudkannya kepastian hukum. Namun perlu pula ditambahkan bahwa selain ketiga hal tersebut keadilan dan kebenaran harus pula menjadi syarat terciptanya kepastian hukum, karena kepastian hukum sesungguhnya adalah pasti akan keadilan, kebenaran, dan implementasinya.

9. Kemanfaatan;

Dalam teori idea des recht dikatakan bahwa selain adil dan memberikan kepastian, hukum harus pula memberikan manfaat bagi masyarakatnya, dimana kemanfaatan dikaitkan dengan kebahagiaan.

10. Kesejahteraan;

Bila kesejahteraan dilawankan dengan kemiskinan, maka tujuan hukum salah satunya harus mengentaskan masyarakat dari kemiskinan. Hukum harus mampu mendorong dan membantu masyarakat agar mencapai kehidupan yang sejahtera.

11. Mengatur Masyarakat;

Bahwa hukum bertujuan mengatur masyarakat agar masyarakat hidup dalam kondisi tertib, aman, dan teratur merupakan ciri khas dari tujuan hukum. Hukum dibuat untuk mengatur masyarakat.

12. Mengendalikan Masyarakat;

Dalam kondisi tertentu hukum ditujukan pula untuk mengendalikan masyarakat. Hukum mengendalikan masyarakat agar tidak tercipta kondisi yang anarkis.

13. Menyelesaikan Sengketa, dll.

Pada masyarakat yang dinamis, pola hubungan masyarakat terkadang membentuk suatu hubungan yang bersitegang.

Bertemunya kepentingan antar individu yang saling berbeda dapat mengakibatkan konflik antar kepentingan, dan untuk itu hukum ditujukan pula untuk menyelesaikan sengketa, agar sengketa yang terjadi dapat diselesaikan secara damai dan memuaskan semua pihak.

Dari sekian banyak tujuan hukum menurut para ahli hukum terkemuka, lalu apakah yang menjadi tujuan hukum penyelenggaraan peradilan lingkungan hidup di Indonesia? Untuk menjawab pertanyaan tersebut, perlu pula dipertanyakan apa yang menjadi dasar hukum penyelenggaraan peradilan lingkungan, dan apa yang menjadi tujuan pengaturannya?

Dasar hukum penyelenggaraan peradilan lingkungan hidup di Indonesia adalah UUPPLH, sebagai penyempurnaan atas undang-undang lingkungan hidup sebelumnya (UU No. 4 Tahun 1982 tentang Lingkungan Hidup, dan UU No. 23 Tahun 1997 tentang Pengelolaan Lingkungan Hidup). Adapun diundangkannya UUPPLH adalah:

1. Melindungi wilayah Negara Kesatuan Republik Indonesia dari pencemaran dan/atau kerusakan lingkungan hidup;

2. Menjamin keselamatan, kesehatan, dan kehidupan manusia;

3. Menjamin kelangsungan kehidupan makhluk hidup dan kelestarian

4. ekosistem;

5. Menjaga kelestarian fungsi lingkungan hidup;

6. Mencapai keserasian, keselarasan, dan keseimbangan lingkungan hidup;

7. Menjamin terpenuhinya keadilan generasi masa kini dan generasi masa

8. depan;

9. Menjamin pemenuhan dan perlindungan hak atas lingkungan hidup

10. sebagai bagian dari hak asasi manusia;

11. Mengendalikan pemanfaatan sumber daya alam secara bijaksana;

12. Mewujudkan pembangunan berkelanjutan; dan 13. Mengantisipasi isu lingkungan global.

Bila kesepuluh tujuan pengaturan peradilan lingkungan hidup di Indonesia diperas menjadi satu tujuan, maka muncul satu kata yaitu pembangunan berkelanjutan. Dengan demikian sejatinya tujuan penyelenggaraan peradilan lingkungan hidup di Indonesia adalah tercapainya pembangunan berkelanjutan.

World Commition Environment Development (WCED), merumuskan pembangunan berkelanjutan sebagai berikut

“development that meets the needs of the present without compromising the ability of future generations to meet their own needs.” Berdasarkan rumusan itu dapat dikatakan bahwa pembangunan berkelanjutan merupakan suatu konsep pembangunan dimana pembangunan ditujukan untuk meningkatkan kesejahteraan hidup generasi kini, tanpa mengurangi kemampuan generasi yang akan datang dalam meningkatkan kesejahteraan hidupnya. Berdasar pada pengertian tersebut, dapat dikatakan pula bahwa konsepsi pembangunan berkelanjutan mensyaratkan ketersediaan sumber daya lingkungan pada masa yang akan datang sebagai bekal generasi yang akan datang (future

generations) untuk memenuhi kebutuhannya. Hal itu berarti pembangunan untuk meningkatkan kesejahteraan generasi kita saat ini tidak boleh mengurangi kemampuan lingkungan untuk mendukung perikehidupan generasi yang akan datang. Untuk itu pembangunan haruslah berkelanjutan. Berkelanjutan baik secara ekologi, berkelanjutan secara ekonomi, dan keberlanjutan secara sosial.38

Berkelanjutan secara ekologi mengandung makna bahwa pembangunan tidak boleh mengakibatkan terjadinya kerusakan terhadap fungsi lingkungan hidup. Pembangunan tidak boleh sampai melampaui batas daya dukung suatu sistem, daya tampung sistem, dan tidak boleh melampaui kemampuan lenting suatu sistem. Untuk itu pembangunan harus selalu memperhatikan dan mengindahkan batas baku mutu dan baku kerusakan lingkungan.

Dengan demikian tolok ukur keberlanjutan secara ekologi adalah terjaganya kelestarian daya dukung, daya tampung, dan daya lenting lingkungan dalam setiap proses pembangunan.

Keberlanjutan secara ekonomi mengandung makna bahwa pembangunan haruslah memberikan keuntungan secara ekonomi.39

Pembangunan harus dapat meningkatkan pertumbuhan ekonomi masyarakat. Proses pembangunan harus memberikan peluang bagi para pelaku usaha untuk mendapatkan keuntungan yang layak. Keberlanjutan secara sosial dimaknai bahwa hasil-hasil pembangunan harus dapat meningkatkan kesejahteraan masyarakat secara merata. Pembangunan harus ditujukan dalam rangka untuk mencapai kemakmuran masyarakat secara menyeluruh. Kiranya belum lah dapat dikatakan telah tercapai keberlanjutan sosial, apabila pembangunan hanya dapat menyejahterakan golongan

38 Imamulhadi, Pokok-Pokok Hukum Lingkungan, Bandung: Unpad Press, 2016, hlm. 26-32

39 Ibid

tertentu saja. Dan tidak pula dapat dikatakan telah tercapai keberlanjutan secara sosial, apabila masih terdapat masyarakat yang lapar, masyarakat yang menderita gizi buruk, masyarakat yang tidak terjamin kesehatannya, dan masih terdapat masyarakat yang tidak dapat memenuhi kebutuhan hidup manusiawinya. Suatu kondisi yang menggambarkan telah tercapainya pembangunan berkelanjutan adalah apabila pembangunan telah berhasil memberikan keuntungan bagi para pelaku ekonomi, dan pembangunan telah menjadikan masyarakatnya makmur secara merata, sementara kondisi lingkungan tetap terjaga dan lestari.40

Saat ini telah lebih dari 20 tahun konsepsi pembangunan berkelanjutan diimplementasikan dalam program pembangunan baik dalam skala nasional maupun internasional. Namun kondisi lingkungan semakin hari semakin rusak dan tercemar, dan masih banyak terdapat masyarakat yang tidak dapat memenuhi kebutuhan hidup manusiawinya. Sementara pada sisi lain pembangunan telah memberikan keuntungan kepada para pelaku ekonomi lebih dari memadai. Implementasi konsepsi pembangunan berkelanjutan hasilnya saat ini hanya lah memenuhi keberlanjutan secara ekonomi saja, belum memberikan keberlanjutan secara ekologi dan sosial. Apa sebab hal ini terjadi?41

Konsepsi pembangunan berkelanjutan merupakan ide yang sangat cemerlang, dalam menyikapi dampak negatif pembangunan.

Namun konsep pembangunan berkelanjutan tidak membatasi capaian maksimum keuntungan. Para pelaku usaha diberi kebebasan untuk mendapatkan keuntungan yang sebesar-besarnya, bahkan masih dimungkinkan dengan modal yang sekecil-kecilnya, pelaku usaha berupaya untuk mendapatkan keuntungan yang

40 Ibid

41 Ibid

sebesar-besarnya. Selain itu saat ini penggunaan keuntungan yang diperoleh sebagai hasil dari pembangunan tidak dibatasi. Hasil dari pemanfaatan sumber daya lingkungan dimungkinkan dimanfaatkan untuk memenuhi kebutuhan-kebutuhan yang bersifat bermegah-megahan dan bermewah-mewahan, bahkan tidak jarang digunakan untuk memenuhi kebutuhan hidup yang bersifat sensasional, seperti untuk sekedar kesenangan-kesenangan. Apabila kebutuhan-kebutuhan demikian tidak segera dikendalikan dan dibatasi, maka keberlanjutan secara ekologi, dan secara sosial untuk selamanya tidak akan pernah terwujudkan, melainkan hanya lah sebuah slogan manis. Keberlanjutan secara ekologi dan secara sosial hanya lah merupakan angan-angan, dan hanya lah merupakan angin segar yang meninabobokan negara-negara berkembang dan masyarakat golongan ekonomi lemah.42

Agar keberlanjutan secara ekologi dan keberlanjutan secara sosial dapat terwujud, implementasi konsepsi pembangunan berkelanjutan menghendaki pembatasan-pembatasan, dalam bentuk larangan-larangan tertentu. Masyarakat baik orang-perorangan maupun badan usaha, seharusnya dilarang memanfaatkan hasil eksploitasi sumber daya lingkungan untuk bermewah-mewahan, bermegah-megahan, dan menumpuk-numpuk harta. Pemanfaatan hasil eksploitasi sumber daya lingkungan hendaknya dipergunakan terutama untuk pemerataan kemakmuran, meningkatkan pembangunan dibidang pendidikan, kesehatan, perumahan dan pemukiman, sosial dan agama, dan pembangunan yang menyangkut pelayanan serta hajat hidup orang banyak.43

Pemanfaatan hasil eksploitasi sumber daya lingkungan harus diperuntukkan untuk memenuhi kebutuhan hajat hidup manusia

42 Ibid

43 Ibid

secukupnya, dan tidak boleh untuk berlebih-lebihan. Pembatasan-pembatasan tersebut sangat lah penting bila memang negara bersungguh-sungguh menghendaki terwujudnya pembangunan yang berkelanjutan. Tanpa adanya pembatasan, manusia memiliki kecenderungan untuk mengeksploitasi sumber daya lingkungan demi mewujudkan kebutuhan-kebutuhannya yang tidak terbatas, meningkat, dan berkembang.44

Berdasarkan uraian di atas kini menjadi jelas bahwa untuk dapat dikatakan suatu pembangunan merupakan pembangunan berkelanjutan tolok ukurnya adalah bahwa pembangunan tersebut harus memenuhi pilar-pilar pembangunan berkelanjutan. Pilar keberlanjutan secara ekologi, keberlanjutan secara ekonomi dan keberlanjutan secara sosial. Adapun indikator tercapainya keberlanjutan secara ekologi adalah apabila pembangunan tersebut tidak melampaui daya dukung, daya tampung, dan daya lenting lingkungan. Indikator keberlanjutan secara ekonomi dan keberlanjutan sosial adalah apabila pembangunan dapat terus berjalan dimana pembangunan menjadi sarana tercapainya masyarakat yang sejahtera. Dengan kalimat lain dapat dikatakan bahwa indikator pencapaian pembangunan berkelanjutan adalah bila pembangunan tersebut tidak mengakibatkan kerusakan dan/

atau pencemaran lingkungan hidup, sementara pembangunan tersebut menjadi sebab tercapainya kesejahteraan rakyat.

Tercapainya pembangunan berkelanjutan sebagai tujuan penyelenggaraan peradilan lingkungan hidup akan berdampak pada tercapainya secara simultan tujuan hukum keadilan, kebahagiaan, kemanfaatan, kepastian hukum, ketertiban, perlindungan, dan penyelesaian sengketa. Hal itu dikarenakan tercapainya pembangunan berkelanjutan memberi keadilan bagi pemerintah,

44 Ibid

pengusaha, masyarakat, dan lingkungan hidup secara simultan.

Terjaganya lingkungan dari kehancuran dalam menyokong pembangunan memberikan keadilan bagi semua pihak, dan berjalannya roda pembangunan secara berkelanjutan memberikan keadilan bagi semua pihak. Terjaganya lingkungan dari kehancuran akan memberi kontribusi pada rasa aman dan tertib karena masyarakat merasa terlindungi dari bahaya. Dan dengan terwujudkannya pembangunan berkelanjutan akan memberi kebahagiaan dan manfaat bagi masyarakat.

Dapat disimpulkan bahwa pencapaian pembangunan berkelanjutan sebagai tujuan penyelenggaraan peradilan lingkungan hidup secara otomatis akan mencapai tujuan hukum secara umum. Pencapaian pembangunan berkelanjutan sejalan dengan tujuan hukum. Dicapainya pembangunan berkelanjutan mengindikasikan telah dicapainya tujuan hukum. Untuk itu tujuan pengaturan perlindungan dan pengelolaan lingkungan hidup sebagaimana diatur dalam UUPPLH dapat dijadikan sebagai rujukan dalam merumuskan tujuan hukum.

PUTUSAN HAKIM DALAM

Dalam dokumen PERADILAN LINGKUNGAN (Halaman 27-42)

Dokumen terkait