• Tidak ada hasil yang ditemukan

Efikasi diri mahasiswa semester akhir ilmu keperawatan dan pendidikan dokter USU

HASIL DAN PEMBAHASAN

5.1 Hasil Penelitian

5.2.1 Efikasi diri mahasiswa semester akhir ilmu keperawatan dan pendidikan dokter USU

Teori sosial kognitif Bandura mengemukakan efikasi diri adalah keyakinan seseorang akan kemampuannya dalam menghadapi masalah, mencari solusi, dan meningkatkan kesiapan kerja pada calon tenaga kerja, serta menentukan bagaimana seseorang merasa, berpikir, memotivasi dirinya dan berperilaku ( Bandura, 1986). Bandura juga menyatakan bahwa efikasi diri merupakan keyakinan individu dalam memperkirakan kemampuan dirinya dalam melaksanakan tugas atau melakukan suatu tindakan yang diperlukan untuk mencapai suatu hasil tertentu. Dengan memiliki keyakinan bahwa dirinya memiliki kemampuan maka akan menimbulkan pada diri seseorang bahwa ia pun siap untuk bekerjasama karena ia yakin ia memiliki kemampuan.

Efikasi diri seperti yang diungkapkan oleh Bandura (1986) merupakan mekanisme psikologis yang penting dalam self influence, yaitu mempengaruhi diri. Bandura menyatakan: Jika orang tidak yakin bahwa mereka dapat menghasilkan efek yang dinginkan dan mencegah hal yang tidak dinginkan dengan tindakan mereka, maka mereka memiliki sedikit dorongan untuk dapat menjalin suatu hubungan kerjasama. Efikasi diri merupakan faktor penting dalam kesiapan bekerjasama seseorang, karena apapun yang menjadi faktor kesiapan bekerjasama, berakar dari keyakinan utama untuk membuahkan hasil yang diinginkan. Efikasi diri juga merupakan keyakinan terhadap kemampuan seseorang untuk menggerakkan motivasi, sumber-sumber kognitif, dan

serangkaian tindakan yang diperlukan untuk memenuhi tuntutan-tuntutan dari situasi yang dihadapi.

Hasil analisa data mengenai efikasi diri mahasiswa semester akhir ilmu keperawatan dan pendidikan dokter USU, terhadap 33 mahasiswa keperawatan dan 127 mahasiswa kedokteran menunjukkan bahwa pada mahasiswa keperawatan terdapat 69,7% mahasiswa dalam kategori efikasi diri tinggi, 30,3% mahasiswa dalam kategori efikasi diri sedang. Dan pada mahasiswa kedokteran terdapat 54,3% mahasiswa dalam kategori efikasi diri tinggi, 45,7% mahasiswa dalam kategori efikasi diri sedang. Hal ini menunjukkan bahwa sebagaian besar mahasiswa, baik mahasiswa keperawatan maupun kedokteran memiliki efikasi diri yang cukup tinggi.

Pengkuran efikasi diri menggunakan 27 pernyataan. Dari pernyataan tersebut diketahui jawaban mahasiswa yang paling tinggi adalah terkait dengan Afektif. Sementara nilai terendah berada pada indikator selektif. Hasil analisis data menunjukkan bahwa pada indikator kognitif dan afektif pada item soal 1,2,3,4,5,6,7,8,16,17,18,19,20,21,22,23,24, mahasiswa keperawatan memiliki skor yang lebih tinggi daripada kedokteran, sementara pada indikator motivasi dan selektif pada item soal 9,10,11,12,13,14,15,25,26,27 mahasiswa kedokteran memiliki skor yang lebih tinggi daripada mahasiswa keperawatan.

Tindakan diatur oleh pikiran manusia. Kebanyakan perilaku manusia bertujuan dan diatur oleh pemikiran-pemikiran yang mewujudkan tujuan-tujuan yang bernilai. Efikasi diri yang lebih tinggi pada mahasiswa keperawatan diasumsikan bahwa mahasiswa keperawatan lebih mampu memikirkan cara-cara

yang digunakan, dan merancang tindakan yang akan diambil untuk mencapai tujuan yang diharapkan, serta mengatur tantangan tujuan yang lebih tinggi untuk diri individu dan komitmen individu yang lebih kuat. Melalui proses kognitif, individu bukan hanya dinilai dari intelektual atau kepintaran melainkan dengan pemikaran akan cara-cara yang akan digunakan dalam mengatasi masalah. Penelitian yang dilakukan Ramachandran (2004) menunjukkan bahwa individu yang memiliki pemikiran akan keyakinan efikasi diri yang tinggi membayangkan skenario-skenario sukses yang memberikan tuntunan yang positif dan dukungan untuk prestasi (performance). Sejalan dengan penelitian tersebut, secara kognitif penelitian ini menunjukkan adanya peningkatan pemikiran dan orientasi mahasiswa untuk menghadapi situasi yang menekan dengan strategi pengelolaan diri yang efektif yang menjadi dasar penilian tingkat keyakinan efikasi diri yang dimiliki mahasiswa. Hal ini dapat dilihat pada analisis data bahwa sebanyak 69,7% mahasiswa keperawatan dan 58,3% mahasiswa kedokteran memiliki kognitif yang tinggi.

Efikasi diri memainkan peran dalam pengaturan diri dari motivasi. Individu memotivasi dirinya dan menuntun tindakannya lebih dulu dengan pemikiran ke masa depan. Individu menyusun tujuan-tujuan untuk dirinya dan merencanakan bagian-bagian tindakan yang dirancang untuk mewujudkan masa depan. Keyakinan akan efikasi diri mempengaruhi motivasi dalam beberapa cara : efikasi diri menentukan tujuan yang ditetapkan individu untuk dirinya, berapa banyak usaha yang dikeluarakan berapa lama individu bertahan dalam meghadapi kesukaran, dan ketabahan individu untuk suatu kegagalan (Bandura, 1997). Secara

motivasi, penelitian ini memunjukkan adanya motivasi yang tinggi pada mahasiswa, yang dapat dilihat dari analisis data bahwa sebanyak 78,8% mahasiswa keperawatan dan 78,7% mahasiswa kedokteran memiliki motivasi yang tinggi. Ramachandran (2004) menemukan bahwa ketika mahasiswa kesehatan dihadapkan dengan rintangan dan kegagalan, individu yang mempunyai keraguan akan kemampuannya akan mengurangi usahanya atau segera berhenti. Sedangkan, individu yang mempunyai keyakinan yang kuat akan kemampuannya akan berusaha sekuat tenaga lebih keras lagi ketika mengalami kegagalan. Ketekunan yang kuat mempengaruhi pencapaian prestasi.

Efikasi diri terbentuk melalui afektif seseorang. Efikasi diri berpengaruh pada stress dan depresi manusia. Efikasi diri berperan dalam mengontrol pikiran-pikiran yang menghasilkan stress dan depresi. Keyakinan akan efikasi diri juga memainkan perannya dalam mengontrol stressor yang membangkitkan kecemasan (Bandura 1997 dalam Siregar 2012). Dari analisis data diketahui bahwa afektif mahasiswa keperawatan lebih tinggi dari kedokteran. Peneliti mengamsusikan bahwa mahasiswa keperawatan lebih mampu dalam mengontrol pikiran yang menghasilkan stress dan depresi daripada mahasiswa kedokteran. Ramachandran (2004) menemukan bahwa individu yang percaya bahwa dirinya sanggup mengontrol ancaman-ancaman, tidak mengalami gangguan pikiran. Sedangkan, individu yang percaya bahwa dirinya tidak sanggup mengontrol ancaman-ancaman mengalami pembangkitan kecemasan yang tinggi yang berpengaruh pada tingkat efikasi diri seseorang. Sejalan dengan hal tersebut, pada penelitian ini

ditemukan bahwa 87,9% mahasiswa keperawatan dan 82,7% mahasiswa kedokteran memiliki afektif yang tinggi.

Keyakinan akan kemampuan diri mempengaruhi tipe-tipe aktivitas dan lingkungan yang individu pilih. Ramachandran (2004) mengemukakan bahwa individu yang memiliki efikasi diri yang tinggi cendeng selektif dalam memilih lingkungan dan pilihan yang baik. Pada penelitian ini, diperole data bahwa sebanyak 60,6% mahasiswa keperawatan dan 76,4% mahasiswa kedokteran memiliki tingkat selektif yang tinggi. Proses selektif akan mempengaruhi tingkat efikasi diri seseorang. Siregar (2012), menemukan bahwa pilihan seseorang terhadap suatu aktivitas atau lingkungan menggambarkan keyakinan diri seseorang terhadap kemampuan yang dimilikinya.

Frank Pajares (2002), menjelaskan bahwa ada banyak penelitian yang membuktikan bahwa self efficacy memberikan sentuhan pada setiap aspek kehidupan orang. Apakah itu mereka berpikir produktif, kelemahan diri, pesimis atau optismis. Hal ini menjelaskan bahwa dengan adanya self efficacy pada diri seseorang akan semakin meningkatkan keyakinannya pada kemampuan dirinya. Karena dengan tidak memiliki self efficacy maka individu tersebut akan tidak yakin bahwa dirinya memiliki kemampuan. Rizvi, dkk (2005) menemukan bahwa keyakinan akan kemampuan dibutuhkan untuk meningkatkan kesiapan seseorang terhadap lingkungan yang baru.

Penelitian yang dilakukan Diyan, dkk (2008) tentang hubungan efikasi diri dengan tindakan kolaborasi di RSI PKU Muhammadiyah Pekajangan Pekalongan, mengemukakan bahwa terdapat hubungan positif yang signifikan antara efikasi

diri dan tindakan kolaborasi perawat RSI PKU Muhammadiyah Pekajangan Pekalongan. Semakin tinggi efikasi diri tugas perawat, semakin tinggi motivasi perawat dalam melaksanakan kolaborasi.

Sejalan dengan hal tersebut, pada penelitian ini ditemukan bahwa efiaksi diri memiliki hubungan positif dengan kesiapan IPE mahasiswa ilmu keperawatan dan pendidikan dokter USU. Efikasi diri merupakan suatu kepribadian yang diperlukan untuk memecahkan masalah baik masalah pribadi, sosial, dan pekerjaan serta membantu dalam menyelesaikan tugas-tugas. Efikasi diri yang baik diperlukan oleh mahasiswa semester akhir keperawatan dan kedokteran untuk siap memasuki dunia profesi. Hal ini dikarenakan ketika mahasiswa semester akhir keperawatan dan kedokteran memiliki efikasi diri yang tinggi maka mahasiswa semester akhir akan memiliki kesiapan untuk bekerja sama dengan profesi lainnya dirumah sakit yang tinggi pula dan sebaliknya ketika mahasiswa semester akhir keperawatan dan kedokteran memiliki efikasi diri yang rendah maka kesiapan untuk bekerjasama dengan tim profesi lainnya pun akan rendah.

5.2.2 Kesiapan Interprofessional Education (IPE) mahasiswa semester akhir