• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

A. Landasan Teori

5. Efisiensi

a. Konsep Efisiensi

Efisiensi memiliki arti perbandingan antara keluaran (output) dengan masukan (input), atau jumlah yang dapat dihasilkan dari satu input yang digunakan. Suatu perusahaan dapat dikatakan efisiensi apabila menggunakan jumlah unit yang lebih sedikit dibandingkan dengan jumlah unit input yang digunakan oleh perusahaan lain untuk menghasilkan output yang sama, atau menggunakan unit input yang sama guna menghasilkan jumlah output yang lebih besar (Priyonggo Suseno, 2008 : 28).

Efisiensi juga memilliki arti sebagai rasio antara output dengan input. Ada beberapa faktor yang menyebabkan efisiensi diantaranya apabila menggunakan input yang sama dapat menghasilkan output yang lebih besar, input yang lebih kecil dapat menghasilkan output yang sama, dan dengan input yang lebih besar dapat menghasilkan output yang lebih besar lagi. (Ghofur Atmawardhana, 2006; 40).

Apabila ditinjau dari teori ekonomi, terdapat dua pengertian efisiensi, yaitu efisiensi ekonomi dan efisiensi teknik. Efisiensi ekonomi mempunyai sudut pandang makro dengan jangkauan yang lebih luas dibanding efisiensi teknik. Pengukuran efisiensi teknik cenderung terbatas hanya pada hubungan teknis dan operasional dalam proses konversi input menjadi output. Akibatnya, usaha yang digunakan untuk

bersifat internal, yaitu melalui pengendalian dan alokasi sumber daya yang optimal (Ghofur;Atmawardhana, 2006:41 dalam Priyonggo Suseno, 2008:34).

b. Efisiensi Perbankan

Dalam dunia perbankan efisiensi merupakan salah satu pengukuran kinerja yang cukup terkenal atau populer, karena banyak dipergunakan untuk menjawab atas kesulitan-kesulitan dalam menghitung ukuran kinerja sebagaimana yang disebutkan diatas. Dengan diidentifikasikannya alokasi input dan output, dapat dianalisa lebih jauh untuk melihat penyebab inefisiensi. Menurut Muharam dan Pusvitasari (2007), untuk melihat efisiensi perbankan tidak jauh beda dengan perusahaan, efisiensi dalam perbankan juga dapat diartikan sebagai tolak ukur dalam mengukur kinerja dimana efisiensi merupakan jawaban atas kesulitan dalam menghitung ukuran-ukuran pada kinerja seperti tingkat efisiensi alokasi, teknis maupun total efisiensi.

Secara garis besar efisiensi perbankan dapat didekomposisikan dalam efisiensi skala (scale efficiency), efisiensi teknik (technical efficiency), efisiensi cakupan (scope efficiency), dan efisiensi alokasi (allocative efficiency). Bank dapat dikatakan efisien dalam skala ketika bank yang bersangkutan mampu beroperasi dalam skala hasil yang konstan (constant return to scale), sedangkan efisiensi cakupan tercapai apabila bank dapat beroperasi pada diversifikasi lokasi. Efisiensi alokasi tercapai ketika bank yang bersangkutan mampu menentukan berbagai

output yang memaksimumkan keuntungan, sedangkan efisiensi teknik pada hakekatnya menyatakan hubungan antara input dengan output dalam suatu proses produksi. Suatu proses produksi dikatakan efisien apabila pada penggunaan input sejumlah tertentu dapat menghasilkan output yang maksimum atau untuk menghasilkan output dengan jumlah yang besart dengan input yang paling minimal (Muharam dan Pusvitasari 2007:86).

Secara umum ada 3 pendekatan konsep dasar model efisiensi dari sektor finansial termasuk industri perbankan yaitu:

1) Cost Efficiency pada dasarnya pengukuran tingkat biaya suatu bank dibandingkan dengan bank yang memiliki biaya operasi terbaik (best practice bank`s cost) dalam menghasilkan output yang sama dengan teknologi yang sama.

2) Standard Profit Efficiency pada dasarnya pengukuran tingkat efisiensi suatu bank didasarkan pada kemampuan bank tersebut menghasilkan profit yang maksimal pada tingkat harga output tertentu dibandingkan dengan tingkat keuntungan bank yang beroperasi terbaik (best practice bank) dalam sampel. Model ini sering dikaitkan dengan suatu kondisi pasar persaingan sempurna dimana harga output dan input ditentukan oleh pasar. Dengan kata lain tidak ada bank yang dapat menentukan harga input maupun harga output sehingga bank berfungsi sebagai price taking agent.

3) Alternative Profit Efficiency biasa dikaitkan dengan suatu kondisi pasar persaingan tidak sempurna (imperfect market competition), dimana bank diasumsikan memiliki kekuatan pasar dalam menentukan harga output tetapi tidak pada harga input. Karena perbedaan jenis pasar tersebut, maka perbedaan yang paling dominan antara kedua model ini (standard profit efficiency dan alternative profit efficiency) terletak pada penentuan variabel eksogen di dalam pencapaian keuntungan maksimum yaitu tingkat output (Ivan Gumilar dan Siti Komariah, 2011:101).

Dari perspektif mikro, efisiensi perbankan menjadi sangat penting dalam suasana persaingan yang semakin ketat. Sebuah bank dituntut agar dapat bertahan dan berkembang dalam kegiatan operasionalnya. Bank-bank yang tidak efisien, kemungkinan besar akan keluar dari pasar karena kalah bersaing dengan kompetitornya, baik dari kualitas produk, pelayanan, maupun segi harga (pricing). Bank yang tidak efisien juga akan kesulitan dalam mempertahankan nasabahnya dan juga tidak diminati oleh calon nasabah, hal ini akanmengurangi customer-basenya (Weill, 2003 dalam Zaenal Abidin dan Endri, 2009:22).

Sementara dalam perspektif makro, peran yang sangat strategis dari industri perbankan yakni sebagai intermediator dan produser jasa-jasa keuangan tentunya menuntut industri perbankan untuk efisien agar dapat mempengaruhi biaya intermediasi keuangan dan secara

keseluruhan stabbilitas sistem keuangan. Semakin tingginya tingkat efisiensi bank maka akan semakin baik dalam hal kinerja perbankan yang tentunya semakin lebih baik pula bank dalam mengalokasikan sumber daya keuangan, dan pada akhirnya dapat meningkatkan kegiatan investasi dan menumbuhkan perekonomian (Weill, 2003 dalam Zaenal Abidin dan Endri, 2009:22).

c. Pengukuran Efisiensi

Pengukuran efisiensi di dalam perbankan menjadi sangat penting karena menjadi pedoman untuk penilaian kesehatan bank. Menurut Muharam dan Pusvitasari (2007:86), terdapat 2 jenis pendekatan pengukuran efisiensi khususnya perbankan, yaitu:

1) Pendekatan Rasio

Cara mengukur efisiensi dalam pendekatan rasio dilakukan dengan menghitung perbandingan output dan input yang digunakan. Pendekatan rasio akan mendapat nilai efisiensi yang tinggi apabila menghasilkan output yang semaksimal mungkin dengan input yang seminimal mungkin.

Efisiensi: Output

Input

Pendekatan rasio memiliki kelemahan apabila terdapat banyak input dan output yang dihitung, jika diperhitungkannya dilakukan serempak maka akan menghasilkan banyak hasil

perhitungan sehingga menghasilkan asumsi yang tidak tegas. Terdapat 2 konsep dalam pendekatan rasio yaitu:

a) Constant Return Scale (CRS)

Gambar 2.1

Model constant return to scale dikembangkan oleh Charnes, Cooper dan Rhodes (Model CCR) tahun 1978. Model ini mengasumsikan bahwa rasio antara penambahan input dan output adalah sama (constant). Artinya, jika terdapat tambahan input sebesar x kali, maka output juga akan meningkat sebesar x kali.

Asumsi lain yang dipakai dalam model ini menunjukkan bahwa setiap perusahaan atau unit pembuat keputusan (UPK) beroperasi pada skala yang optimal. Rumus dari constant return to scale dapat dituliskan sebagai berikut:

Dimana maksimalisasi di atas merupakan efisiensi teknis (CCR), xij menunjukkan banyaknya input tipe i dari UPK ke-j dan ykke-j menunke-jukkan ke-jumlah output tipe ke-k dari UPK ke-ke-j. Nilai efisinesi selalu kurang atau sama dengan 1. UPK yang bernilai efisiensi kurang dari 1 mengalami inefisiensi sedangkan UPK yang nilai efisiensinya sama dengan 1 menunjukkan UPK tersebut efisien (Hamim S. Ahmad Mokhtar, dkk, 2008:42).

b) Variabel Return Scale (VRS)

Gambar 2.2

Model ini dikembangkan oleh Banker, Charnes, dan Cooper (model BCC) tahun 1984 dan merupakan perkembangan dari model CCR sebelumnya. Model ini berpendapat bahwa perusahaan tidak atau belum beroperasi pada skala yang optimal. Asumsi dari model ini adalah rasio antara penambahan input dan output tidaklah sama (variable return to scale). Artinya, penambahan input sebesar x kali tidak selalu menyebabkan output meningkat sebesar x kali, bisa juga lebih kecil atau lebih

besar dari x kali. Rumus variable return to scale (VRS) dapat dituliskan dengan program matematika seperti berikut ini:

Maksimalisasi di atas merupakan nilai efisiensi teknis (BCC), xij menunjukkan banyaknya input tipe I dari UPK ke-j, dan yrj merupakan jumlah output tipe ke-r dari UPK ke-j. Nilai dari efisiensi tersebut selalu kurang atau sama dengan 1. UPK yang nilai efisiensinya kurang dari 1 menunjukkan inefisiensi sedangkan UPK yang nilainya sama dengan 1 berarti UPK tersebut sudah efisien. Menurut Hamim S. Ahmad Mokhtar, dkk, (2008)VRS terdapat dua model, yaitu :

(1) Increasing Return to Scale

Increasing Return to Scale terjadi apabila terjadi perubahan jumlah output yang dihasilkan lebih besar daripada perubahan input. Contohnya adalah bank mengubah penggunaan inputnya sebesar dua kali dari input semula, dapat menghasilkan output lebih dari dua kali dari output semula.

(2) Decreasing Return to Scale

Decreasing Return to Scale terjadi jika perubahan jumlah output lebih kecil dari output semula dibandingkan dengan perubahan input. Contohnya bank yang menggunakan semua inputnya sebesar dua kali dari semula maka akan menghasilkan output yang kurang dari dua kali dari output semula.

2) Pendekatan Regresi

Pendekatan regresi ini menggunakan sebuah model dari tingkat output tertentu sebagai fungsi dari berbagai tingkat input tertentu untuk mengukur efisiensi. Fungsi regresi adalah sebagai berikut:

Y=f (X1, X2, X3, X4,...Xn) Dimana:

Y = Output X = Input

Pendekatan regresi akan menghasilkan perkiraan hubungan yang dapat digunakan dalam memproduksi tingkat output yang dihasilkan sebuah Unit Kegiatan Ekonomi (UKE) pada tingkat input tertentu. UKE dapat dikatakan efisien apabila menghasilkan output yang lebih banyak daripada perkiraan outputnya. Kelemahan yang

menampung banyak output, karena dalam sebuah persamaan regresi hanya dapat menampung satu indikator output saja. Apabila dilakukan penggabungan banyak output dalam satu indikator maka akan menghasilkan informasi yang tidak rinci lagi.

Dokumen terkait