BAB IV ANALISIS DAN PEMBAHASAN
B. Hasil dan Pembahasan
1. Hasil Perhitungan dan Analisis Efisiensi Bank Syariah dengan
Pada hasil perhitungan DEA terdapat angka aktual dan angka target, angka aktual yaitu angka input dan output yang dimiliki, sedangkan angka target yaitu angka yang disarankan oleh metode DEA agar input dan outputnya menjadi efisien. Kemudian juga terdapat nilai actual, target, to gain dan achieved. Nilai actual adalah nilai input-output yang digunakan, target adalah pencapaian yang diharapkan untuk mencapai tingkat efisiensi
persentase dari tingkat keberhasilan efisiensi yang dicapai (Shafitranata, 2011 : 80).
Hasil yang diperoleh dari perhitungan metode DEA yang berasumsikan Variable Return to Scale (VRS) dengan software DEAWIN, dapat dilihat tingkat efisiensi Bank Syariah di Indonesia pada tabel 4.6 di bawah ini. Hasil perhitungan tersebut menggambarkan pencapaian nilai tingkat efisiensi masing-masing bank sangat beragam.
Tabel 4.6
Hasil Efisiensi 11 Bank Syariah di Indonesia dengan Metode DEA Periode 2005-2015
(satuan dalam persen)
Kode Bank 2005 2006 2007 2008 2009 2010 2011 2012 2013 2014 2015 Rata-rata Efisiensi BMI 100,00 100,00 100,00 100,00 100,00 100,00 100,00 100,00 100,00 100,00 100,00 100,00 BSM 100,00 100,00 100,00 100,00 100,00 100,00 100,00 100,00 100,00 100,00 100,00 100,00 BRIS 100,00 100,00 100,00 100,00 100,00 100,00 100,00 100,00 100,00 100,00 100,00 100,00 BDS 100,00 100,00 100,00 100,00 100,00 100,00 100,00 100,00 100,00 100,00 100,00 100,00 DKIS 100,00 100,00 100,00 100,00 100,00 100,00 100,00 100,00 100,00 100,00 100,00 100,00 BPS 33,97 31,53 100,00 100,00 100,00 100,00 100,00 100,00 100,00 100,00 100,00 87,77 BIIS 57,16 18,59 23,49 100,00 100,00 100,00 100,00 100,00 100,00 100,00 100,00 81,75 BTNS 100,00 100,00 93,92 76,72 49,49 70,91 82,06 71,53 65,72 84,02 94,60 80,82 BNIS 85,12 100,00 66,42 44,76 31,00 55,61 100,00 100,00 100,00 100,00 100,00 80,26 BNS 40,49 42,89 49,78 50,68 100,00 76,82 52,15 46,29 44,3 43,74 49,09 54,20 BMSI 51,28 44,47 28,63 53,39 26,37 30,63 28,94 23,23 25,11 37,48 44,45 35,82 Rata-rata Efisiensi Bank 78,91 76,13 78,39 84,14 82,44 84,91 87,56 85,55 85,01 87,75 89,83
Sumber: Laporan Keuangan Tahunan Bank Umum Syariah Tahun 2005-2015
Berdasarkan Tabel di atas, dapat diketahui pencapaian efisiensi bank syariah selama periode 11 tahun penelitian periode 2005-2011. Dapat dilihat bahwa terdapat 5 Bank Syariah yang selalu mencapai nilai efisiensi 100 persen yaitu Bank Muamalat Indonesia (BMI), Bank Syariah Mandiri
(BSM), Bank Rakyat Indonesia Syariah (BRIS), Bank Danamon Syariah (BDS), Bank DKI Syariah (DKIS). Bank yang sudah mencapai efisiensi maksimal ini dapat menjadi acuan kepada bank lain yang masih mengalami inefisien pada setiap tahunnya.
Dari tabel di atas juga dapat diketahui pada periode 2005 sampai 2015 rata-rata efisiensi Bank Syariah per tahunnya masih mengalami fluktuatif. Pada tahun 2006, 2009, dan 2012 terjadi penurunan rata-rata efisiensi Bank Syariah, hal ini dikarenakan telah terjadi inefisiensi pada beberapa Bank Syariah yang menyebabkan kecilnya angka rata-rata efisiensi Bank Syariah yang dihasilkan.
Bank-bank yang inefisien tersebut dapat dikatakan bahwa bank syariah belum dapat memaksimalkan nilai input dan output yang dimilikinya. Hal ini menunjukkan bahwa nilai input dan output yang dicapai oleh bank yang inefisien belum dapat meraih target yang sebenarnya (Harjum Muharam dan Pusvitasari, 2007:12).
Pada tabel di bawah ini memperlihatkan input-output yang menyebabkan inefisiensi pada Bank Syariah:
Tabel 4.7
Nilai Actual, Target, To gain, dan Achieved Input-Output Bank Syariah yang Inefisien Tahun 2005
Tingkat
Efisiensi Actual Target To Gain Achieved (persen) (Juta) (Juta) (persen) (persen)
BPS Beban Pegawai 33,97 5778,00 4769,00 17,50 82,50 Beban Administrasi 1005,00 1005,00 0,00 100,00 Beban Lain-lain 7953,00 2047,20 74,30 25,70
Pendapatan Operasional Lain 4013,00 11815,00 194.40 34,00 Penempatan Dana Pada Bank
Lain 7442,00 52143,00 600,70 14,30 BIIS Beban Pegawai 57,16 11575,00 9308,00 19,60 80,40 Beban Administrasi 9766,00 7615,20 22,00 78,00 Beban Lain-lain 2111,00 2111,00 0,00 100,00
Pendapatan Operasional Lain 10174,00 17798,30 74,90 57,20 Penempatan Dana Pada Bank
Lain 5689,00 151041,90 2555,00 3,80 BNIS Beban Pegawai 85,12 31526,00 24287,30 23,00 77,00 Beban Administrasi 28677,00 28677,00 0,00 100,00 Beban Lain-lain 9367,00 9367,00 0,00 100,00
Pendapatan Operasional Lain 14316,00 28199,00 97,00 50,80 Penempatan Dana Pada Bank
Lain 198357,00 233041,00 17,50 85,10 BNS Beban Pegawai 40,49 13356,00 13356,00 0,00 100,00 Beban Administrasi 13743,00 2005,00 85,40 14,60 Beban Lain-lain 42798,00 6268,60 85,40 14,60
Pendapatan Operasional Lain 10543,00 25754,10 144,30 40,90 Penempatan Dana Pada Bank
Lain 7426,00 102827,30 1284,70 7,20 BMSI Beban Pegawai 51,28 15223,00 15223,00 0,00 100,00 Beban Administrasi 8945,00 1852,80 79,30 20,70 Beban Lain-lain 46643,00 6872,60 85,30 14,70
Pendapatan Operasional Lain 14113,00 27520,30 95,00 51,30 Penempatan Dana Pada Bank
Lain 11357,00 113415,70 898,60 10,00
Sumber: Laporan Keuangan Tahunan Bank Mega Syariah Indonesia Tahun 2005-2015, diolah
Berdasarkan Tabel, maka dapat dijelaskan tentang target perubahan input output yang dapat dicapai untuk mencapai nilai efisiensi pada perbankan syariah yang mengalami inefisiensi pada tahun 2005 adalah BPS, BIIS, BNIS, BNS, dan BMSI akan dijelaskan sebagai berikut:
a. Bank Permata Syariah (BPS)
Bank Permata Syariah (BPS) mengalami inefisien pada tahun 2005 karena adanya ketidakefisienan input maupun outputnya. Ketidakefisienan tersebut disebabkan penggunaan input yang berlebihan. Tingkat efisiensi input tersebut mencapai 82,50 persen (beban pegawai) dan 25,70 persen (beban lain-lain). Target efisiensi dapat diupayakan dengan pengurangan tingkat input sebesar 17,50 persen (beban pegawai) dan 74,30 persen (beban lain-lain). Penggunaan input berjumlah 5778,00 juta (beban pegawai) dan 7953,00 juta (beban lain-lain), meskipun target efisiensinya hanya berjumlah 4769,00 juta (beban pegawai) dan 2047,20 juta (beban lain-lain). Hasil output juga belum maksimal, di mana hal ini ditandai dengan tingkat efisiensi hanya mencapai 34,00 persen (pendapatan operasional lainnya) dan 14,30 persen (penempatan dana pada bank lain). Target efisiensi dapat diupayakan dengan perbaikan tingkat efisiensi sebesar 194.40 persen (pendapatan operasional lainnya) dan 600,70 persen (penempatan dana pada bank lain). Hasil output hanya berjumlah 4013,00 juta (pendapatan operasional lainnya) dan 7442,00 juta (penempatan dana pada bank
operasional lainnya) dan 52143,00 juta (penempatan dana pada bank lain).
b. Bank Internasional Indonesia Syariah (BIIS)
Bank Internasional Indonesia Syariah (BIIS) mengalami inefisien pada tahun 2005 karena adanya ketidakefisienan input maupun outputnya. Ketidakefisienan tersebut disebabkan penggunaan input yang berlebihan. Tingkat efisiensi input tersebut mencapai 80,40 persen (beban pegawai) dan 78,00 persen (beban administrasi). Target efisiensi dapat diupayakan dengan peningkatan tingkat efisiensi input sebesar
19,60 persen (beban pegawai) dan 22,00 persen (beban administrasi). Penggunaan input berjumlah 11575,00 juta (beban pegawai) dan 9766,00
juta (beban administrasi), meskipun target efisiensinya hanya berjumlah
9308,00 juta (beban pegawai) dan 7615,20 juta (beban administrasi). Hasil output juga belum maksimal, di mana hal ini ditandai dengan tingkat efisiensi hanya mencapai 57,20 persen (pendapatan operasional lainnya) dan 3,80 persen (penempatan dana pada bank lain). Target efisiensi dapat diupayakan dengan perbaikan tingkat efisiensi sebesar
74,90 persen (pendapatan operasional lainnya) dan 2555,00 persen (penempatan dana pada bank lain). Hasil output hanya berjumlah
10174,00 juta (pendapatan operasional lainnya) dan 5689,00 juta (penempatan dana pada bank lain), meskipun target sebenarnya adalah
17798,30 juta (pendapatan operasional lainnya) dan 151041,90 juta (penempatan dana pada bank lain).
c. Bank Negara Indonesia Syariah (BNIS)
Bank Negara Indonesia Syariah (BNIS) mengalami inefisien pada tahun 2005 karena adanya ketidakefisienan input maupun outputnya. Ketidakefisienan tersebut disebabkan penggunaan input yang berlebihan. Tingkat efisiensi input tersebut mencapai 77,00 persen (beban pegawai). Target efisiensi dapat diupayakan dengan peningkatan tingkat efisiensi input sebesar 23,00 persen (beban pegawai). Penggunaan input berjumlah 31526,00 juta (beban pegawai), meskipun target efisiensinya hanya berjumlah 24287,30 juta (beban pegawai). Hasil output juga belum maksimal, di mana hal ini ditandai dengan tingkat efisiensi hanya mencapai 50,80 persen (pendapatan operasional lainnya) dan 85,10 persen (penempatan dana pada bank lain). Target efisiensi dapat diupayakan dengan perbaikan tingkat efisiensi sebesar
97,00 persen (pendapatan operasional lainnya) dan 17,50 persen (penempatan dana pada bank lain). Hasil output hanya berjumlah
14316,00 juta (pendapatan operasional lainnya) dan 198357,00 juta (penempatan dana pada bank lain), meskipun target sebenarnya adalah
28199,00 juta (pendapatan operasional lainnya) dan 233041,00 juta (penempatan dana pada bank lain).
d. Bank Niaga Syariah (BNS)
Bank Niaga Syariah (BNS) mengalami inefisien pada tahun 2005 karena adanya ketidakefisienan input maupun outputnya. Ketidakefisienan tersebut disebabkan penggunaan input yang berlebihan. Tingkat efisiensi input tersebut mencapai 14,60 persen (beban administrasi) dan (beban lain-lain). Target efisiensi dapat diupayakan dengan peningkatan tingkat efisiensi input sebesar 85,40
persen (beban administrasi) dan (beban lain-lain). Penggunaan input berjumlah 13743,00 juta (beban administrasi) dan 42798,00 juta (beban lain-lain), meskipun target efisiensinya hanya berjumlah 2005,00 juta (beban administrasi) dan 6268,60 juta (beban lain-lain). Hasil output juga belum maksimal, di mana hal ini ditandai dengan tingkat efisiensi hanya mencapai 40,90 persen (pendapatan operasional lainnya) dan 7,20 persen (penempatan dana pada bank lain). Target efisiensi dapat diupayakan dengan perbaikan tingkat efisiensi sebesar 144,30 persen (pendapatan operasional lainnya) dan 1284,70 persen (penempatan dana pada bank lain). Hasil output hanya berjumlah 10543,00 juta (pendapatan operasional lainnya) dan 7426,00 juta (penempatan dana pada bank lain), meskipun target sebenarnya adalah 25754,10 juta (pendapatan operasional lainnya) dan 102827,30 juta (penempatan dana pada bank lain).
e. Bank Mega Syariah Indonesia (BMSI)
Bank Mega Syariah Indonesia (BMSI) mengalami inefisien pada tahun 2005 karena adanya ketidakefisienan input maupun outputnya. Ketidakefisienan tersebut disebabkan penggunaan input yang berlebihan. Tingkat efisiensi input tersebut mencapai 20,70 persen (beban administrasi) dan 14,70 persen (beban lain-lain). Target efisiensi dapat diupayakan dengan peningkatan tingkat efisiensi input sebesar
79,30 persen (beban administrasi) dan 85,30 persen (beban lain-lain). Penggunaan input berjumlah 8945,00 juta (beban administrasi) dan
46643,00 juta (beban lain-lain), meskipun target efisiensinya hanya berjumlah 1852,80 juta (beban administrasi) dan 6872,60 juta (beban lain-lain). Hasil output juga belum maksimal, di mana hal ini ditandai dengan tingkat efisiensi hanya mencapai 51,30 persen (pendapatan operasional lainnya) dan 10,00 persen (penempatan dana pada bank lain). Target efisiensi dapat diupayakan dengan perbaikan tingkat efisiensi sebesar 95,00 persen (pendapatan operasional lainnya) dan
898,60 persen (penempatan dana pada bank lain). Hasil output hanya berjumlah 14113,00 juta (pendapatan operasional lainnya) dan 11357,00
juta (penempatan dana pada bank lain), meskipun target sebenarnya adalah 27520,30 juta (pendapatan operasional lainnya) dan 113415,70
Tabel 4.8
Nilai Actual, Target, To gain, dan Achieved Input-Output Bank Syariah yang Inefisien Tahun 2006
Tingkat
Efisiensi Actual Target To Gain Achieved (persen) (Juta) (Juta) (persen) (persen)
BPS Beban Pegawai 31,53 6407,00 6407,00 0,00 100,00 Beban Administrasi 1133,00 1133,00 0,00 100,00 Beban Lain-lain 8371,00 2279,00 72,00 27,00 Pendapatan Operasional Lainnya 4336,00 13752,00 217,00 31,00 Penempatan Dana Pada
Bank Lain 5067,00 62213,00 1127,00 8,00 BIIS Beban Pegawai 18,59 6203,00 6203,00 0,00 100,00 Beban Administrasi 4546,00 4101,00 9,00 90,00 Beban Lain-lain 2567,00 1214,00 52,00 47,00 Pendapatan Operasional Lainnya 2989,00 16077,00 437,00 18,00 Penempatan Dana Pada
Bank Lain 7677,00 124699,00 1524,00 6,00 BNS Beban Pegawai 42,89 14547,00 14547,00 0,00 100,00 Beban Administrasi 14671,00 3351,00 77,00 22,00 Beban Lain-lain 43694,00 5331,00 87,00 12,00 Pendapatan Operasional Lainnya 12921,00 30125,00 133,00 42,00 Penempatan Dana Pada
Bank Lain 10024,00 146694,00 1363,00 6,00 BMSI Beban Pegawai 44,47 16966,00 16966,00 0,00 100,00 Beban Administrasi 9793,00 2856,00 70,00 29,00 Beban Lain-lain 48102,00 6613,00 86,00 13,00 Pendapatan Operasional Lainnya 15096,00 33946,00 124,00 44,00 Penempatan Dana Pada
Bank Lain 28347,00 147199,00 419,00 19,00
Sumber: Laporan Keuangan Tahunan Bank Mega Syariah Indonesia Tahun 2005-2015, diolah
perbankan syariah yang mengalami inefisiensi pada tahun 2006 adalah BPS, BIIS, BNS, dan BMSI akan dijelaskan sebagai berikut:
a. Bank Permata Syariah (BPS)
Bank Permata Syariah (BPS) mengalami inefisien pada tahun 2006 karena adanya ketidakefisienan input maupun outputnya. Ketidakefisienan tersebut disebabkan penggunaan input yang berlebihan. Tingkat efisiensi input tersebut mencapai 27,00 persen (beban lain-lain). Target efisiensi dapat diupayakan dengan peningkatan tingkat efisiensi input sebesar 72,00 persen (beban lain-lain). Penggunaan input berjumlah 8371,00 juta (beban lain-lain), meskipun target efisiensinya hanya berjumlah 2279,00 juta (beban lain-lain). Hasil output juga belum maksimal, di mana hal ini ditandai dengan tingkat efisiensi hanya mencapai 31,00 persen (pendapatan operasional lainnya) dan 8,00 persen (penempatan dana pada bank lain). Target efisiensi dapat diupayakan dengan perbaikan tingkat efisiensi sebesar 217,00
persen (pendapatan operasional lainnya) dan 1127,00 persen (penempatan dana pada bank lain). Hasil output hanya berjumlah
4336,00 juta (pendapatan operasional lainnya) dan 5067,00 juta (penempatan dana pada bank lain), meskipun target sebenarnya adalah
13752,00 juta (pendapatan operasional lainnya) dan 62213,00 juta (penempatan dana pada bank lain).
b. Bank Internasional Indonesia Syariah (BIIS)
Bank Internasional Indonesia Syariah (BIIS) mengalami inefisien pada tahun 2006 karena adanya ketidakefisienan input maupun outputnya. Ketidakefisienan tersebut disebabkan penggunaan input yang berlebihan. Tingkat efisiensi input tersebut mencapai 90,00 persen (beban administrasi) dan 47,00 persen (beban lain-lain). Target efisiensi dapat diupayakan dengan peningkatan tingkat efisiensi input sebesar
9,00 persen (beban administrasi) dan 52,00 persen (beban lain-lain). Penggunaan input berjumlah 4546,00 juta (beban administrasi) dan
2567,00 juta (beban lain-lain), meskipun target efisiensinya hanya berjumlah 4101,00 juta (beban administrasi) dan 1214,00 juta (beban lain-lain). Hasil output juga belum maksimal, di mana hal ini ditandai dengan tingkat efisiensi hanya mencapai 18,00 persen (pendapatan operasional lainnya) dan 6,00 persen (penempatan dana pada bank lain). Target efisiensi dapat diupayakan dengan perbaikan tingkat efisiensi sebesar 437,00 persen (pendapatan operasional lainnya) dan 1524,00
persen (penempatan dana pada bank lain). Hasil output hanya berjumlah
2989,00 juta (pendapatan operasional lainnya) dan 7677,00 juta (penempatan dana pada bank lain), meskipun target sebenarnya adalah
16077,00 juta (pendapatan operasional lainnya) dan 124699,00 juta (penempatan dana pada bank lain).
c. Bank Niaga Syariah (BNS)
Bank Niaga Syariah (BNS) mengalami inefisien pada tahun 2006 karena adanya ketidakefisienan input maupun outputnya. Ketidakefisienan tersebut disebabkan penggunaan input yang berlebihan. Tingkat efisiensi input tersebut mencapai 22,00 persen (beban administrasi) dan 12,00 persen (beban lain-lain). Target efisiensi dapat diupayakan dengan peningkatan tingkat efisiensi input sebesar 77,00 persen (beban administrasi) dan 87,00 persen (beban lain-lain). Penggunaan input berjumlah 14671,00 juta (beban administrasi) dan
43694,00 juta (beban lain-lain), meskipun target efisiensinya hanya berjumlah 3351,00 juta (beban administrasi) dan 5331,00 juta (beban lain-lain). Hasil output juga belum maksimal, di mana hal ini ditandai dengan tingkat efisiensi hanya mencapai 42,00 persen (pendapatan operasional lainnya) dan 6,00 persen (penempatan dana pada bank lain). Target efisiensi dapat diupayakan dengan perbaikan tingkat efisiensi sebesar 133,00 persen (pendapatan operasional lainnya) dan 1363,00
persen (penempatan dana pada bank lain). Hasil output hanya berjumlah
12921,00 juta (pendapatan operasional lainnya) dan 10024,00 juta (penempatan dana pada bank lain), meskipun target sebenarnya adalah
30125,00 juta (pendapatan operasional lainnya) dan 146694,00 juta (penempatan dana pada bank lain).
d. Bank Mega Syariah Indonesia (BMSI)
Bank Mega Syariah Indonesia (BMSI) mengalami inefisien pada tahun 2006 karena adanya ketidakefisienan input maupun outputnya. Ketidakefisienan tersebut disebabkan penggunaan input yang berlebihan. Tingkat efisiensi input tersebut mencapai 29,00 persen (beban administrasi) dan 13,00 persen (beban lain-lain). Target efisiensi dapat diupayakan dengan peningkatan tingkat efisiensi input sebesar 70,00 persen (beban administrasi) dan 86,00 persen (beban lain-lain). Penggunaan input berjumlah 9793,00 juta (beban administrasi) dan
48102,00 juta (beban lain-lain), meskipun target efisiensinya hanya berjumlah 2856,00 juta (beban administrasi) dan 6613,00 juta (beban lain-lain). Hasil output juga belum maksimal, di mana hal ini ditandai dengan tingkat efisiensi hanya mencapai 44,00 persen (pendapatan operasional lainnya) dan 19,00 persen (penempatan dana pada bank lain). Target efisiensi dapat diupayakan dengan perbaikan tingkat efisiensi sebesar 124,00 persen (pendapatan operasional lainnya) dan
419,00 persen (penempatan dana pada bank lain). Hasil output hanya berjumlah 15096,00 juta (pendapatan operasional lainnya) dan 28347,00
juta (penempatan dana pada bank lain), meskipun target sebenarnya adalah 33946,00 juta (pendapatan operasional lainnya) dan 147199,00
Tabel 4.9
Nilai Actual, Target, To gain, dan Achieved Input-Output Bank Syariah yang Inefisien Tahun 2007
Tingkat
Efisiensi Actual Target To Gain Achieved (persen) (Juta) (Juta) (persen) (persen)
BIIS Beban Pegawai 23,49 7214,00 7214,00 0,00 100,00 Beban Administrasi 5267,00 4475,00 15,00 85,00 Beban Lain-lain 3124,00 772,00 75,00 24,00
Pendapatan Operasional Lain 5314,00 22623,00 325,00 23,00 Penempatan Dana Pada Bank
Lain 17406,00 184590,00 960,00 9,00 BTNS Beban Pegawai 93,92 8931,00 8931,00 0,00 100,00 Beban Administrasi 5968,00 4886,00 18,00 81,00 Beban Lain-lain 11551,00 1657,00 85,00 14,00
Pendapatan Operasional Lain 25280,00 26916,00 6,00 93,00 Penempatan Dana Pada Bank
Lain 162745,00 209759,00 28,00 77,00 BNIS Beban Pegawai 66,42 50796,00 29647,00 41,00 58,00 Beban Administrasi 33462,00 33462,00 0,00 100,00 Beban Lain-lain 12346,00 12346,00 0,00 100,00
Pendapatan Operasional Lain 23123,00 38714,00 67,00 59,00 Penempatan Dana Pada Bank
Lain 162745,00 245030,00 50,00 66,00 BNS Beban Pegawai 49,78 23536,00 23536,00 0,00 100,00 Beban Administrasi 12705,00 2616,00 79,00 20,00 Beban Lain-lain 57885,00 9417,00 83,00 16,00
Pendapatan Operasional Lain 21467,00 43121,00 100,00 49,00 Penempatan Dana Pada Bank
Lain 30907,00 208209,00 573,00 14,00 BMSI Beban Pegawai 28,63 25081,00 25081,00 0,00 100,00 Beban Administrasi 12057,00 2375,00 80,00 19,00 Beban Lain-lain 57857,00 10238,00 82,00 17,00
Pendapatan Operasional Lain 12837,00 44836,00 249,00 28,00 Penempatan Dana Pada Bank
Lain 7725,00 208045,00 2593,00 3,00
Sumber: Laporan Keuangan Tahunan Bank Mega Syariah Indonesia Tahun 2005-2015, diolah
Berdasarkan Tabel, maka dapat dijelaskan tentang target perubahan input output yang dapat dicapai untuk mencapai nilai efisiensi pada perbankan syariah yang mengalami inefisiensi pada tahun 2007 adalah BIIS, BTNS, BNIS, BNS, dan BMSI akan dijelaskan sebagai berikut: a. Bank Internasional Indonesia Syariah (BIIS)
Bank Internasional Indonesia Syariah (BIIS) mengalami inefisien pada tahun 2007 karena adanya ketidakefisienan input maupun outputnya. Ketidakefisienan tersebut disebabkan penggunaan input yang berlebihan. Tingkat efisiensi input tersebut mencapai 85,00 persen (beban administrasi) dan 24,00 persen (beban lain-lain). Target efisiensi dapat diupayakan dengan peningkatan tingkat efisiensi input sebesar 15,00 persen (beban administrasi) dan 75,00 persen (beban lain-lain). Penggunaan input berjumlah 5267,00 juta (beban administrasi) dan
3124,00 juta (beban lain-lain), meskipun target efisiensinya hanya berjumlah 4475,00 juta (beban administrasi) dan 772,00 juta (beban lain-lain). Hasil output juga belum maksimal, di mana hal ini ditandai dengan tingkat efisiensi hanya mencapai 23,00 persen (pendapatan operasional lainnya) dan 9,00 persen (penempatan dana pada bank lain). Target efisiensi dapat diupayakan dengan perbaikan tingkat efisiensi sebesar
325,00 persen (pendapatan operasional lainnya) dan 960,00 persen (penempatan dana pada bank lain). Hasil output hanya berjumlah
5314,00 juta (pendapatan operasional lainnya) dan 17406,00 juta (penempatan dana pada bank lain), meskipun target sebenarnya adalah
22623,00 juta (pendapatan operasional lainnya) dan 184590,00 juta (penempatan dana pada bank lain).
b. Bank Tabungan Negara Syariah (BTNS)
Bank Tabungan Negara Syariah (BTNS) mengalami inefisien pada tahun 2007 karena adanya ketidakefisienan input maupun outputnya. Ketidakefisienan tersebut disebabkan penggunaan input yang berlebihan. Tingkat efisiensi input tersebut mencapai 81,00 persen (beban administrasi) dan 14,00 persen (beban lain-lain). Target efisiensi dapat diupayakan dengan peningkatan tingkat efisiensi input sebesar 18,00 persen (beban administrasi) dan 85,00 persen (beban lain-lain). Penggunaan input berjumlah 5968,00 juta (beban administrasi) dan
11551,00 juta (beban lain-lain), meskipun target efisiensinya hanya berjumlah 4886,00 juta (beban administrasi) dan 1657,00 juta (beban lain-lain). Hasil output juga belum maksimal, di mana hal ini ditandai dengan tingkat efisiensi hanya mencapai 93,00 persen (pendapatan operasional lainnya) dan 77,00 persen (penempatan dana pada bank lain). Target efisiensi dapat diupayakan dengan perbaikan tingkat efisiensi sebesar 6,00 persen (pendapatan operasional lainnya) dan 28,00
persen (penempatan dana pada bank lain). Hasil output hanya berjumlah
25280,00 juta (pendapatan operasional lainnya) dan 162745,00 juta (penempatan dana pada bank lain), meskipun target sebenarnya adalah
26916,00 juta (pendapatan operasional lainnya) dan 209759,00 juta (penempatan dana pada bank lain).
c. Bank Negara Indonesia Syariah (BNIS)
Bank Negara Indonesia Syariah (BNIS) mengalami inefisien pada tahun 2007 karena adanya ketidakefisienan input maupun outputnya. Ketidakefisienan tersebut disebabkan penggunaan input yang berlebihan. Tingkat efisiensi input tersebut mencapai 58,00 persen (beban pegawai). Target efisiensi dapat diupayakan dengan peningkatan tingkat efisiensi input sebesar 41,00 persen (beban pegawai). Penggunaan input berjumlah 50796,00 juta (beban pegawai), meskipun target efisiensinya hanya berjumlah 29647,00 juta (beban pegawai). Hasil output juga belum maksimal, di mana hal ini ditandai dengan tingkat efisiensi hanya mencapai 59,00 persen (pendapatan operasional lainnya) dan 66,00 persen (penempatan dana pada bank lain). Target efisiensi dapat diupayakan dengan perbaikan tingkat efisiensi sebesar
67,00 persen (pendapatan operasional lainnya) dan 50,00 persen (penempatan dana pada bank lain). Hasil output hanya berjumlah
23123,00 juta (pendapatan operasional lainnya) dan 162745,00 juta (penempatan dana pada bank lain), meskipun target sebenarnya adalah
38714,00 juta (pendapatan operasional lainnya) dan 245030,00 juta (penempatan dana pada bank lain).
d. Bank Niaga Syariah (BNS)
Bank Niaga Syariah (BNS) mengalami inefisien pada tahun 2007 karena adanya ketidakefisienan input maupun outputnya. Ketidakefisienan tersebut disebabkan penggunaan input yang berlebihan. Tingkat efisiensi input tersebut mencapai 20,00 persen (beban administrasi) dan 16,00 persen (beban lain-lain). Target efisiensi dapat diupayakan dengan peningkatan tingkat efisiensi input sebesar 79,00 persen (beban administrasi) dan 83,00 persen (beban lain-lain). Penggunaan input berjumlah 12705,00 juta (beban administrasi) dan
57885,00 juta (beban lain-lain), meskipun target efisiensinya hanya berjumlah 2616,00 juta (beban administrasi) dan 9417,00 juta (beban lain-lain). Hasil output juga belum maksimal, di mana hal ini ditandai dengan tingkat efisiensi hanya mencapai 49,00 persen (pendapatan operasional lainnya) dan 14,00 persen (penempatan dana pada bank lain). Target efisiensi dapat diupayakan dengan perbaikan tingkat efisiensi sebesar 100,00 persen (pendapatan operasional lainnya) dan
573,00 persen (penempatan dana pada bank lain). Hasil output hanya berjumlah 21467,00 juta (pendapatan operasional lainnya) dan 30907,00
juta (penempatan dana pada bank lain), meskipun target sebenarnya adalah 43121,00 juta (pendapatan operasional lainnya) dan 208209,00
e. Bank Mega Syariah Indonesia (BMSI)
Bank Mega Syariah Indonesia (BMSI) mengalami inefisien pada tahun 2007 karena adanya ketidakefisienan input maupun outputnya. Ketidakefisienan tersebut disebabkan penggunaan input yang berlebihan. Tingkat efisiensi input tersebut mencapai 19,00 persen (beban administrasi) dan 17,00 persen (beban lain-lain). Target efisiensi dapat diupayakan dengan peningkatan tingkat efisiensi input sebesar 80,00 persen (beban administrasi) dan 82,00 persen (beban lain-lain). Penggunaan input berjumlah 12057,00 juta (beban administrasi) dan
57857,00 juta (beban lain-lain), meskipun target efisiensinya hanya berjumlah 2375,00 juta (beban administrasi) dan 10238,00 juta (beban lain-lain). Hasil output juga belum maksimal, di mana hal ini ditandai dengan tingkat efisiensi hanya mencapai 28,00 persen (pendapatan operasional lainnya) dan 3,00 persen (penempatan dana pada bank lain). Target efisiensi dapat diupayakan dengan perbaikan tingkat efisiensi sebesar 249,00 persen (pendapatan operasional lainnya) dan 2593,00
persen (penempatan dana pada bank lain). Hasil output hanya berjumlah
12837,00 juta (pendapatan operasional lainnya) dan 7725,00 juta (penempatan dana pada bank lain), meskipun target sebenarnya adalah
44836,00 juta (pendapatan operasional lainnya) dan 208045,00 juta (penempatan dana pada bank lain).
Tabel 4.10
Nilai Actual, Target, To gain, dan Achieved Input-Output Bank Syariah yang Inefisien Tahun 2008
Tingkat
Efisiensi Actual Target To Gain Achieved (persen) (Juta) (Juta) (persen) (persen)
BTNS Beban Pegawai 76,72 15389,00 15389,00 0,00 100,00 Beban Administrasi 12847,00 5616,00 56,00 43,00 Beban Lain-lain 20525,00 3746,00 81,00 18,00 Pendapatan Operasional Lainnya 31167,00 40623,00 30,00 76,00
Penempatan Dana Pada
Bank Lain 118165,00 197351,00 67,00 59,00 BNIS Beban Pegawai 44,76 58156,00 31432,00 46,00 54,00 Beban Administrasi 39386,00 9921,00 74,00 25,00 Beban Lain-lain 15355,00 15355,00 0,00 100,00 Pendapatan Operasional Lainnya 27421,00 61259,00 123,00 44,00
Penempatan Dana Pada
Bank Lain 118165,00 324590,00 174,00 36,00 BNS Beban Pegawai 50,68 36678,00 36678,00 0,00 100,00 Beban Administrasi 17923,00 17923,00 0,00 100,00 Beban Lain-lain 60134,00 18414,00 69,00 30,00 Pendapatan Operasional Lainnya 32479,00 64083,00 97,00 50,00
Penempatan Dana Pada
Bank Lain 147892,00 359394,00 143,00 41,00 BMSI Beban Pegawai 53,39 88912,00 48697,00 45,00 54,00 Beban Administrasi 17239,00 17239,00 0,00 100,00 Beban Lain-lain 95873,00 22192,00 76,00 23,00 Pendapatan Operasional Lainnya 36056,00 67528,00 87,00 53,00
Penempatan Dana Pada
Bank Lain 56800,00 365825,00 544,00 15,00
Sumber: Laporan Keuangan Tahunan Bank Mega Syariah Indonesia Tahun 2005-2015, diolah
Berdasarkan Tabel, maka dapat dijelaskan tentang target perubahan input output yang dapat dicapai untuk mencapai nilai efisiensi pada perbankan syariah yang mengalami inefisiensi pada tahun 2008 adalah BTNS, BNIS, BNS, dan BMSI akan dijelaskan sebagai berikut:
a. Bank Tabungan Negara Syariah (BTNS)
Bank Tabungan Negara Syariah (BTNS) mengalami inefisien pada tahun 2008 karena adanya ketidakefisienan input maupun outputnya. Ketidakefisienan tersebut disebabkan penggunaan input yang berlebihan. Tingkat efisiensi input tersebut mencapai 43,00 persen (beban administrasi) dan 18,00 persen (beban lain-lain). Target efisiensi dapat diupayakan dengan peningkatan tingkat efisiensi input sebesar 56,00 persen (beban administrasi) dan 81,00 persen (beban lain-lain). Penggunaan input berjumlah 12847,00 juta (beban administrasi) dan
20525,00 juta (beban lain-lain), meskipun target efisiensinya hanya berjumlah 5616,00 juta (beban administrasi) dan 3746,00 juta (beban lain-lain). Hasil output juga belum maksimal, di mana hal ini ditandai dengan tingkat efisiensi hanya mencapai 76,00 persen (pendapatan operasional lainnya) dan 59,00 persen (penempatan dana pada bank lain). Target efisiensi dapat diupayakan dengan perbaikan tingkat efisiensi sebesar 30,00 persen (pendapatan operasional lainnya) dan
67,00 persen (penempatan dana pada bank lain). Hasil output hanya berjumlah 31167,00 juta (pendapatan operasional lainnya) dan 118165,00
adalah 40623,00 juta (pendapatan operasional lainnya) dan 197351,00
juta (penempatan dana pada bank lain). b. Bank Negara Indonesia Syariah (BNIS)
Bank Negara Indonesia Syariah (BNIS) mengalami inefisien pada tahun 2008 karena adanya ketidakefisienan input maupun outputnya. Ketidakefisienan tersebut disebabkan penggunaan input yang berlebihan. Tingkat efisiensi input tersebut mencapai 54,00 persen (beban pegawai) dan 25,00 persen (beban administrasi). Target efisiensi dapat diupayakan dengan peningkatan tingkat efisiensi input sebesar 46,00 persen (beban pegawai) dan 74 persen (beban administrasi). Penggunaan input berjumlah 58156,00 juta (beban pegawai) dan
39386,00 juta (beban administrasi), meskipun target efisiensinya hanya berjumlah 31432,00 juta (beban pegawai) dan 9921,00 juta (beban administrasi). Hasil output juga belum maksimal, di mana hal ini ditandai dengan tingkat efisiensi hanya mencapai 44,00 persen (pendapatan operasional lainnya) dan 36,00 persen (penempatan dana pada bank lain). Target efisiensi dapat diupayakan dengan perbaikan tingkat efisiensi sebesar 123,00 persen (pendapatan operasional lainnya) dan 174,00 persen (penempatan dana pada bank lain). Hasil output hanya berjumlah 27421,00 juta (pendapatan operasional lainnya) dan 118165,00
juta (penempatan dana pada bank lain), meskipun target sebenarnya adalah 61259,00 juta (pendapatan operasional lainnya) dan 324590,00
c. Bank Niaga Syariah (BNS)
Bank Niaga Syariah (BNS) mengalami inefisien pada tahun 2008 karena adanya ketidakefisienan input maupun outputnya. Ketidakefisienan tersebut disebabkan penggunaan input yang berlebihan. Tingkat efisiensi input tersebut mencapai 30,00 persen
(beban lain-lain). Target efisiensi dapat diupayakan dengan peningkatan tingkat efisiensi input sebesar 69,00 persen (beban lain-lain). Penggunaan input berjumlah 60134,00 juta (beban lain-lain), meskipun target efisiensinya hanya berjumlah 18414,00 juta (beban lain-lain). Hasil output juga belum maksimal, di mana hal ini ditandai dengan tingkat efisiensi hanya mencapai 50,00 persen (pendapatan operasional lainnya) dan 41,00 persen (penempatan dana pada bank lain). Target efisiensi dapat diupayakan dengan perbaikan tingkat efisiensi sebesar
97,00 persen (pendapatan operasional lainnya) dan 143,00 persen (penempatan dana pada bank lain). Hasil output hanya berjumlah
32479,00 juta (pendapatan operasional lainnya) dan 147892,00 juta (penempatan dana pada bank lain), meskipun target sebenarnya adalah
64083,00 juta (pendapatan operasional lainnya) dan 359394,00 juta (penempatan dana pada bank lain).
d. Bank Mega Syariah Indonesia (BMSI)
Bank Mega Syariah Indonesia (BMSI) mengalami inefisien pada tahun 2008 karena adanya ketidakefisienan input maupun outputnya. Ketidakefisienan tersebut disebabkan penggunaan input yang berlebihan. Tingkat efisiensi input tersebut mencapai 54,00 persen (beban pegawai) dan 23,00 persen (beban lain-lain). Target efisiensi dapat diupayakan dengan peningkatan tingkat efisiensi input sebesar 45,00 persen (beban pegawai) dan 76,00 persen (beban lain-lain). Penggunaan input berjumlah 88912,00 juta (beban pegawai) dan
95873,00 juta (beban lain-lain), meskipun target efisiensinya hanya berjumlah 48697,00 juta (beban pegawai) dan 22192,00 juta (beban lain-lain). Hasil output juga belum maksimal, di mana hal ini ditandai dengan tingkat efisiensi hanya mencapai 53,00 persen (pendapatan operasional lainnya) dan 15,00 persen (penempatan dana pada bank lain). Target efisiensi dapat diupayakan dengan perbaikan tingkat efisiensi sebesar
87,00 persen (pendapatan operasional lainnya) dan 544,00 persen (penempatan dana pada bank lain). Hasil output hanya berjumlah
36056,00 juta (pendapatan operasional lainnya) dan 56800,00 juta (penempatan dana pada bank lain), meskipun target sebenarnya adalah
67528,00 juta (pendapatan operasional lainnya) dan 365825,00 juta (penempatan dana pada bank lain).
Tabel 4.11
Nilai Actual, Target, To gain, dan Achieved Input-Output Bank Syariah yang Inefisien Tahun 2009
Tingkat
Efisiensi Actual Target To Gain Achieved (persen) (Juta) (Juta) (persen) (persen)
BTNS Beban Pegawai 49,49 19183,00 19183,00 0,00 100,00 Beban Administrasi 18400,00 6692,00 63,00 36,00 Beban Lain-lain 76650,00 34439,00 55,00 44,00 Pendapatan Operasional Lainnya 43895,00 88686,00 102,00 49,00
Penempatan Dana Pada
Bank Lain 65603,00 217082,00 230,00 30,00 BNIS Beban Pegawai 31,00 62145,00 28168,00 54,00 45,00 Beban Administrasi 44245,00 6505,00 85,00 14,00 Beban Lain-lain 16367,00 16367,00 0,00 100,00 Pendapatan Operasional Lainnya 23145,00 74662,00 222,00 31,00
Penempatan Dana Pada
Bank Lain 65603,00 211626,00 222,00 31,00 BMSI Beban Pegawai 26,37 188979,00 174369,00 7,00 92,00 Beban Administrasi 55178,00 55178,00 0,00 100,00 Beban Lain-lain 222764,00 222764,00 0,00 100,00 Pendapatan Operasional Lainnya 61968,00 234990,00 279,00 26,00
Penempatan Dana Pada
Bank Lain 227376,00 1257043,00 452,00 18,00
Sumber: Laporan Keuangan Tahunan Bank Mega Syariah Indonesia Tahun 2005-2015, diolah
Berdasarkan Tabel, maka dapat dijelaskan tentang target perubahan input output yang dapat dicapai untuk mencapai nilai efisiensi pada perbankan syariah yang mengalami inefisiensi pada tahun 2009 adalah BTNS, BNIS, dan BMSI akan dijelaskan sebagai berikut:
a. Bank Tabungan Negara Syariah (BTNS)
Bank Tabungan Negara Syariah (BTNS) mengalami inefisien pada tahun 2009 karena adanya ketidakefisienan input maupun outputnya. Ketidakefisienan tersebut disebabkan penggunaan input yang berlebihan. Tingkat efisiensi input tersebut mencapai 36,00 persen (beban administrasi) dan 44,00 persen (beban lain-lain). Target efisiensi dapat diupayakan dengan peningkatan tingkat efisiensi input sebesar 63,00 persen (beban administrasi) dan 55,00 persen (beban lain-lain). Penggunaan input berjumlah 18400,00 juta (beban administrasi) dan
76650,00 juta (beban lain-lain), meskipun target efisiensinya hanya berjumlah 6692,00 juta (beban administrasi) dan 34439,00 juta (beban lain-lain). Hasil output juga belum maksimal, di mana hal ini ditandai dengan tingkat efisiensi hanya mencapai 49,00 persen (pendapatan operasional lainnya) dan 30,00 persen (penempatan dana pada bank lain). Target efisiensi dapat diupayakan dengan perbaikan tingkat efisiensi sebesar 102,00 persen (pendapatan operasional lainnya) dan
230,00 persen (penempatan dana pada bank lain). Hasil output hanya berjumlah 43895,00 juta (pendapatan operasional lainnya) dan 65603,00
juta (penempatan dana pada bank lain), meskipun target sebenarnya adalah 88686,00 juta (pendapatan operasional lainnya) dan 217082,00
b. Bank Negara Indonesia Syariah (BNIS)
Bank Negara Indonesia Syariah (BNIS) mengalami inefisien pada tahun 2009 karena adanya ketidakefisienan input maupun