• Tidak ada hasil yang ditemukan

Efisiensi Penggunaan Modal Kerja Untuk Mengukur

Dalam dokumen ANALISIS EFISIENSI PENGGUNAAN MODAL KERJ (Halaman 63-80)

BAB 4. HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN

2. Rentabilitas Modal Sendiri

4.3.4 Efisiensi Penggunaan Modal Kerja Untuk Mengukur

Penilaian efisiensi penggunaan modal kerja untuk mengukur profitabilitas pada PRIMKOP Darma Putra Uddhata tahun buku 2013, sesuai dengan Keputusan Menteri Koperasi dan Usaha Kecil dan Menengah No.129/Kep/M/KUKM/XI/2002.

Tabel 4.4 Hasil Perhitungan Penggunaan Modal Kerja Primkop Darma Putra Uddhata Tahun Buku 2013

No. Variabel Persentase Nilai Klasifikasi

1 Perputaran Kas 32,84 kali 75 Efisien

2 Perputaran Piutang 7,92 kali 50 Cukup

3 Perputaran Persediaan 11,67 kali 0 Kurang Efisien 4 Perputaran Modal Kerja 2,63 kali 75 Efisien

5 Rasio Laba Usaha 0,17% 50 Cukup

6 Rentabilitas Ekonomi 0,07% 50 Cukup

7 Rentabilitas Modal Sendiri 0,16% 0 Kurang Efisien Sumber: Data primer yang telah diolah

Tabel 4.4 menunjukkan hasil perhitungan penggunaan modal kerja pada PRIMKOP Darma Putra Uddhata Jember Tahun Buku 2013. Dari tabel diatas diketahui penggunaan modal kerja PRIMKOP Darma Putra Uddhata masih sangat memerlukan peningkatan, terutama pada perputaran persediaan dan rentabilitas modal sendiri yang masih kurang efisien. Koperasi harus mengetahui penyebab dari rendahnya persentase perputaran persediaan dan rentabilitas modal sendiri. Dengan mengetahui penyebabnya, maka koperasi dapat mengambil langkah untuk mengatasi hal tersebut. Karena setiap persentase dari variabel mempengaruhi likuiditas koperasi. Modal kerja yang tertanam dalam unsur perputaran piutang, rasio laba usaha, dan rentabilitas ekonomi sudah dalam klasifikasi cukup. Hal ini menunjukkan bahwa koperasi harus meningkatkan lagi efisiensi modal kerjanya. Sehingga dengan efisiensi modal kerja pada setiap unit-unit usaha tersebut, koperasi mampu meningkatkan keuntungannya. Seiring dengan meningkatnya keuntungan maka koperasi juga mampu meningkatkan klasifikasi yang cukup menjadi efisien.

Perputaran kas dan perputaran modal kerja pada PRIMKOP Darma Putra Uddhata sudah dalam klasifikasi efisien. Koperasi perlu mempertahankan efisiensi perputaran kas dan perputaran modal kerja tersebut. Karena semakin efisien perputaran kas dan perputaran modal kerjanya maka semakin banyak keuntungan yang diperoleh koperasi. Sehingga koperasi memiliki tingkat likuiditas yang tinggi. Dengan demikian kelangsungan kegiatan usaha koperasi dapat terjamin.

4.4 Pembahasan

Berdasarkan analisis data tersebut, hasil dari perhitungan menunjukkan perputaran kas tahun buku 2013 pada PRIMKOP Darma Putra Uddhata sudah dalam klasifikasi efisien dengan tingkat perputaran kas sebanyak 32,84 kali dalam setahun. Rata-rata lama waktu kembalinya kas adalah 12 hari. Menurut Munawir (2007:158), semakin besar kas yang dimiliki koperasi semakin tingi pula likuiditas atau semakin tinggi tingkat kemampuan koperasi membayar kewajiban jangka pendeknya. Hal ini

menunjukkan kemampuan PRIMKOP Darma Putra Uddhata dari setiap penggunaan kasnya dalam meningkatkan jumlah penjualan. Sehingga koperasi memiliki kemampuan yang tinggi dalam memenuhi kewajiban jangka pendeknya.

Perputaran kas yang efisien pada PRIMKOP Darma Putra Uddhata ini menunjukkan adanya manajemen kas yang baik pada koperasi tersebut. Seperti yang dikatakan oleh bendahara koperasi, bahwa:

“Saldo kas a wal lebih besar jika dibandingkan dengan saldo kas akhir. Kas a wal yang besar digunakan untuk membiayai unit-unit usaha dengan efisien. Dari efisiensi penggunaan kas tersebut pada tahun 2013, dapat meningkatkan penjualan baik barang maupun jasa yang berdampak pada meningkatnya keuntungan koperasi” (S, 40 tahun).

Kas awal yang besar dengan perencanaan kerja yang baik menyebabkan koperasi dapat menggunakan kelebihan kas tersebut secara efisien. Besarnya jumlah kas yang diimbangi dengan penggunaan yang optimal berdampak pada meningkatknya penjualan barang maupun jasa. Sesuai dengan keterangan dari bendahara koperasi tersebut, dapat diketahui efisiennya klasifikasi perputaran kas pada PRIMKOP Darma Putra Uddhata ini dikarenakan adanya penjualan yang besar. Penjualan yang besar jika dibandingkan dengan kas awal dan kas akhir yang nominalnya jauh lebih kecil menyebabkan hasil perputaran kasnya cepat.

Perputaran kas yang cepat menunjukkan kegiatan usaha pada PRIMKOP Darma Putra Uddhata sudah produktif. Besarnya partisipasi anggota sangat mempengaruhi peningkatan penjualan yang dapat berdampak pada cepatnya perputaran kas. Sehingga modal kerja yang tertanam dalam kas dapat segera kembali menjadi kas. Kemudian kas tersebut digunakan kembali untuk membiayai unit-unit usahanya. Dari setiap perputaran kas tersebut, PRIMKOP Darma Putra Uddhata memperoleh keuntungan dari penjualannya baik barang maupun jasa. Jadi semakin cepat perputaran kas, maka akan semakin banyak keuntungan yang diperoleh koperasi dalam jangka waktu yang dekat.

Perputaran piutang unit toko pada PRIMKOP Darma Putra Uddhata tahun buku 2013 sebanyak 5,79 kali dengan rata-rata pengumpulan piutang 64 hari. Ini menunjukkan perputaran piutang unit toko dalam klasifikasi cukup. Rata-rata piutang, atau piutang awal toko dan piutang akhir toko jumlah nominalnya masih lebih kecil jika dibandingkan dengan penjualan kredit toko. Sehingga menghasilkan perputaran piutang unit toko yang cukup. Menurut Sunyoto (2013:92), naik turunnya perputaran piutang ini dipengaruhi oleh adanya hubungan perubahan penjualan dengan perubahan piutang. Perubahan dari tahun ke tahun pada koperasi merupakan refleksi dari variabel kebijaksanaan pemberian kredit atau variasi tingkat kemampuan dalam pengumpulan piutang.

Unit simpan pinjam tahun buku 2013 tingkat perputaran piutangnya 3,56 kali dengan rata-rata lama waktu pengumpulan piutang 103 hari. Perputaran piutang pada unit simpan pinjam dalam klasifikasi kurang efisien. Kurang efisiennya perputaran piutang disebabkan banyaknya anggota yang mengambil kredit pada koperasi di akhir bulan. Bahkan sebelum kreditnya terpenuhi, anggota mengambil kredit lagi yang menyebabkan modal kerja hanya menumpuk pada anggota tanpa diimbangi sirkulasi pengembalian kredit yang tinggi. Hal ini menyebabkan perputaran piutangnya rendah sehingga kurang efisien.

Tingkat perputaran piutang yang rendah berarti piutang membutuhkan waktu yang lama untuk dapat ditagih dalam bentuk uang tunai. Rendahnya tingkat perputaran ini menunjukkan adanya kelebihan modal kerja yang tertanam dalam piutang sehingga jumlah modal kerja akan lebih besar untuk membiayai piutang. Hal ini disebabkan PRIMKOP Darma Putra Uddhata masih kurang dalam mengatur pemberian kredit pada unit simpan pinjamnya, sehingga terjadi over investment yang menyebabkan perputaran piutangnya rendah. Inilah yang menyebabkan kredit unit simpan pinjam kurang efisien. Seperti yang dikatakan oleh salah satu pengurus koperasi, bahwa:

“Pada unit simpan pinjam tahun buku 2013, koperasi tidak dapat memenuhi kredit yang diajukan oleh anggota. Hal ini dikarenakan

jumlah anggota yang meminjam pada tahun 2013 sangat banyak, sehingga menyebabkan terjadinya pembengka kan kredit yang berdampak pada terbatasnya modal kerja pa da unit simpan pinjam” (S, 40 tahun).

Perputaran piutang secara keseluruhan pada tahun buku 2013 menunjukkan hasil yang cukup dengan tingkat perputaran sebanyak 7,92 kali selama satu tahun. Rata-rata lama waktu pengumpulan piutang pada PRIMKOP Darma Putra Uddhata adalah 47 hari. Perputaran piutang yang cukup ini dikarenakan adanya pemberian kredit yang besar jika dibandingkan dengan rata-rata piutangnya. Sehingga dari kredit yang besar inilah dihasilkan tingkat perputaran piutang dalam klasifikasi yang cukup. Menurut Riyanto (2002:85), salah satu faktor yang mempengaruhi besar kecilnya piutang adalah volume penjualan kredit. Semakin besar volume penjualan kredit yang dilakukan, maka semakin besar pula investasi yang ditanamkan dalam piutang.

Rendahnya ketentuan pembatasan kredit oleh koperasi dalam pemberian kredit, menyebabkan modal kerja yang harus diinvestasikan semakin besar dalam piutang yang menyebabkan lambatnya perputaran piutang. Mengingat perputaran piutang PRIMKOP Darma Putra Uddhata masih dalam klasifikasi cukup, maka koperasi perlu mengendalikan penjualan kreditnya. Di dalam pengendalian piutang yang harus dilakukan adalah melalui kebijakan kredit yaitu dengan memperhatikan tentang besarnya kebijaksanaan penjualan kredit yang dilakukan oleh koperasi. Dengan meningkatkan perputaran piutang maka dengan sendirinya keuntungan dari kredit tersebut akan ikut meningkat.

Perputaran persediaan pada PRIMKOP Darma Putra Uddhata menunjukkan tingkat perputaran sebanyak 11,67 kali dengan klasifikasi kurang efisien. Jumlah nominal harga pokok penjualan yang besar masih belum mampu membuat perputaran persediaannya dalam klasifikasi cukup. Menurut Munawir (2004:77), faktor yang mempengaruhi perputaran persediaan adalah tingkat penjualan, dan daya tahan produk. Sedangkan pada PRIMKOP Darma Putra Uddhata rata-rata lama waktu persediaan disimpan adalah 32 hari.

Pengadaan persediaan dalam koperasi harus direncanakan dengan perhitungan yang matang karena jika kekurangan persediaan akan menghambat kegiatan usaha. Begitu pula sebaliknya jika persediaan terlalu besar akan memperbanyak dana yang dikeluarkan. Kelebihan persediaan dapat menambah beban seperti penyimpanan yang akan meningkatkan resiko kerugian akibat adanya kerusakan persediaan yang disimpan melebihi nilai ekonomisnya. Untuk menghindari kelebihan dan kekurangan dalam persediaan diperlukan adanya pengendalian, yang salah satunya melalui perputaran persediaan untuk menganalisis efisiensi dan efektivitas pengelolaan persediaan. Peningkatan perputaran persediaan akan dapat mengurangi biaya-biaya yang cukup besar yang harus dikeluarkan oleh koperasi.

Perputaran persediaan yang rendah menunjukkan modal kerja yang diinvestasikan dalam persediaan semakin besar dan semakin lama waktu yang dibutuhkan untuk mengganti persediaan. Selain itu, modal kerja yang tertanam dalam persediaan akan membutuhkan waktu yang semakin lama untuk kembali menjadi uang tunai. Hal ini menyebabkan semakin menurunnya keuntungan yang diperoleh koperasi. Tingkat perputaran dengan klasifikasi yang kurang efisien maka PRIMKOP Darma Putra Uddhata perlu meningkatkan lagi perputaran persediaannya. Salah satu pengurus koperasi menyebutkan, bahwa:

“Pada tahun 2013 jumlah penjualan juga sangat tinggi sehingga menarik minat para distributor untuk menitipkan barangnya dalam jumlah yang besa r. Sehingga menyebabkan barang menumpuk pada gudang dan tidak memungkinkan bagi koperasi untuk menata barang pada unit toko dalam jumlah yang besar” (DH, 36 tahun).

Persediaan dalam jumlah yang besar dikarenakan penjualan yang tinggi pada PRIMKOP Darma Putra Uddhata sehingga para distributor tertarik untuk menitipkan barangnya dalam jumlah yang besar. Sedangkan pada setiap awal bulan anggota lebih memilih membelanjakan uangnya pada unit usaha lain. Faktor luar seperti indomart, matahari, roxy, giant, dan lainnya mampu menyediakan barang yang lengkap sehingga menarik bagi anggota. Namun, pada akhir bulan barulah anggota memenuhi

kebutuhannya pada koperasi. Masuknya barang dari distributor dalam jumlah yang besar kurang diimbangi dengan partisipasi anggota, menyebabkan persediaan dalam gudang terus menumpuk. Persediaan yang besar tanpa diimbangi sirkulasi keluarnya barang yang tinggi, menyebabkan menurunnya pendapatan koperasi.

Lamanya persediaan diganti akan menimbulkan resiko kerugian karena penurunan harga, perubahan permintaan atau perubahan mode, serta kerugian akibat kerusakan barang. Jika sudah diketahui kendala rendahnya perputaran persediaan dikarenakan oleh rendahnya sirkulasi keluarnya barang akibat banyaknya distributor yang menitipkan barang dalam jumlah besar, yang menyebabkan barang menumpuk di gudang. Maka PRIMKOP Darma Putra Uddhata perlu meningkatkan sistem pengendalian persediaan untuk perencanaan dan pengendalian pembelian sehingga hanya akan membeli atau menimbun barang yang dibutuhkan anggota. Menurut Sartono (2001:453), salah satu sistem pengendalian persediaan adalah dengan menggunakan sistem komputernisasi.

Komputernisasi, memungkinkan pencatatan persediaan, pengurangan dan pengolahan data persediaan dilakukan dengan cepat. Selain itu komputer dapat menyediakan kapan harus dilakukan pesanan kembali. Sehingga koperasi tidak perlu lagi memesan jumlah barang yang besar, namun dengan menyediakan jumlah persediaan yang cukup. Adanya pengendalian terhadap persediaan diharapkan koperasi dapat mengoptimalkan labanya. Semakin cepat perputaran persediaan semakin pendek waktu tertanamnya dana dalam persediaan tersebut. Sehingga memperkecil resiko PRIMKOP Darma Putra Uddhata untuk tidak dapat memenuhi kewajiban jangka pendeknya.

Perputaran modal kerja pada PRIMKOP Darma Putra Uddhata dalam klasifikasi efisien dengan tingkat perputaran modal kerja 2,63 kali dalam satu tahun. Perputaran modal kerja digunakan untuk mengetahui kemampuan modal kerja dalam menghasilkan aliran pendapatan dari penjualan barang maupun jasa. Antara penjualan dengan modal kerja ini terdapat hubungan yang erat. Jika volume penjualan naik,

investasi dalam persediaan dan piutang juga meningkat, berarti modal kerja yang digunakan juga meningkat. Perputaran modal kerja dengan klasifikasi efisien menunjukkan PRIMKOP Darma Putra Uddhata sudah cukup baik dalam penggunaan modal kerja untuk meningkatkan penjualannya. Seperti yang dikatakan oleh salah satu pengurus koperasi, bahwa:

”Jumlah penjualan barang toko sangat besar pada tahun 2013, selain itu pendapatan da ri penjualan jasa juga besar, jika dibandingkan dengan modal kerja yang digunakan untuk membiayai unit-unit usaha tersebut” (K, 33 tahun).

Penjualan barang maupun jasa pada PRIMKOP Darma Putra Uddhata dalam jumlah yang besar mempercepat kembalinya modal kerja yang ditanamkan dalam penjualan. Semakin tinggi tingkat penjualan maka akan semakin cepat perputaran modal kerjanya. Inilah yang menyebabkan perputaran modal kerja PRIMKOP Darma Putra Uddhata efisien. Koperasi pada tahun buku 2013 mampu menjual barang maupun jasa dalam jumlah yang besar. Jumlah penjualan yang besar jika dibandingkan dengan modal kerja yang digunakan, berdampak pada tingginya perputaran modal kerja.

Perputaran modal kerja yang tinggi dapat meningkatkan perolehan pendapatan koperasi dalam jangka waktu yang dekat. Menurut Munawir (2004:78), tinggi rendahnya tingkat perputaran modal kerja disebabkan tinggi rendahnya perputaran persediaan, piutang atau saldo kas. Unsur-unsur modal kerja yang ada pada PRIMKOP Darma Putra Uddhata, hanya perputaran persediaannya yang kurang efisien. Namun dengan adanya perputaran kas yang efisien dan perputaran piutang yang cukup sehingga membuat perputaran modal kerjanya efisien dalam menghasilkan keuntungan.

Rasio laba usaha digunakan untuk melihat kemampuan modal kerja dalam menghasilkan laba usaha. Pada PRIMKOP Darma Putra Uddhata termasuk dalam klasifikasi cukup dengan tingkat persentase sebesar 0,17%. Perlu adanya peningkatan pada rasio laba usaha ini minimal dengan persentase 6% sehingga dapat dikatakan

efisien. Menurut Hendar (2005:69), semakin besar rasio laba usaha berarti semakin tinggi tingkat efisiensi penggunaan modal kerjanya. Rasio laba usaha yang termasuk dalam klasifikasi cukup maka ini menunjukkan perlunya peningkatan pendayagunaan modal kerja yang tepat.

Pada PRIMKOP Darma Putra Uddhata penyebab rendahnya rasio laba usaha ini dikarenakan laba dari penjualannya masih relatif rendah. Hal ini didukung oleh pernyataan salah satu pengurus koperasi, yang mengatakan bahwa:

Penjualan pada PRIMKOP Darma Putra Uddhata sudah dalam

jumlah yang besar namun memang dalam pemerolehan laba, koperasi hanya mengambil keuntungan yang wajar. Inilah yang menyebabkan laba sebelum pajak yang diperoleh kopera si ma sih rendah” (K, 33 tahun).

Untuk meningkatkan rasio laba usaha ini, PRIMKOP Darma Putra Uddhata perlu meningkatkan penjualannya baik penjualan barang maupun jasa. Mengingat unsur pembanding rasio laba usaha adalah laba sebelum pajak dengan modal kerja rata-rata, jadi dengan adanya peningkatan penjualan maka akan diikuti dengan meningkatnya laba dari setiap penjualan tersebut. Sehingga, semakin besar jumlah laba sebelum pajak jika dibandingkan modal kerja yang digunakan, maka akan semakin efisien rasio laba usahanya. Meningkatnya jumlah laba pada PRIMKOP Darma Putra Uddhata juga dapat mempengaruhi rentabilitas ekonomi maupun rentabilitas modal sendiri. Namun yang sangat membutuhkan peningkatan adalah rentabilitas modal sendiri yang persentasenya kurang efisien.

Jumlah persentase rentabilitas ekonomi pada PRIMKOP Darma Putra Uddhata sebesar 0,07% dengan klasifikasi cukup. Jika melihat jumlah total aktiva yang besar maka seharusnya PRIMKOP Darma Putra Uddhata mampu memperoleh persentase yang lebih besar dari 0,07%. Menurut Sartono (2001:124), rentabilitas ekonomi menggunakan hubungan antara keseluruhan aktiva dengan keuntungan bersih yang diperoleh dari penjualan. Ini menunjukkan PRIMKOP Darma Putra Uddhata dengan total aktivanya yang besar masih kurang mampu dalam

memprioritaskan laba usahanya. Terlihat dari laba bersih yang diperoleh tidak mampu mencapai 1% pun dari keseluruhan jumlah total aktiva yang besar.

Mengingat besar kecilnya rentabilitas ekonomi ini ditentukan oleh laba setelah pajak yang dibandingkan dengan total aktiva sehingga dapat diketahui keuntungannya. Laba dipengaruhi oleh tingkat penjualan baik barang maupun jasa selama satu tahun. Jika koperasi ingin memperoleh laba yang tinggi maka koperasi perlu meningkatkan penjualannya baik tunai maupun kredit. Pada PRIMKOP Darma Putra Uddhata ini menurut bendahara koperasi menyatakan bahwa:

”Kelemahan utama pada koperasi ini terdapat pada penjualan kredit. Terutama penjualan kredit pada unit simpan pinjam yang pada tahun 2013 sampai over investment. Hal ini menyebabkan koperasi keterbatasan a kan modal kerja. Sehingga koperasi sampai tidak mampu menyediakan kebutuhan anggotanya” (S, 40 tahun).

Modal kerja yang paling besar diinvestasikan pada unsur piutang ini. Namun, perputaran piutang PRIMKOP Darma Putra Uddhata masih dalam klasifikasi cukup. Hal ini harus diperhitungkan lagi oleh PRIMKOP Darma Putra Uddhata. Penggunaan modal yang besar pada unsur piutang maka koperasi memerlukan pengawasan piutang yang lebih efektif dan kebijaksanaan yang tepat sehubungan dengan perluasan kredit, syarat kredit, dan maksimum kredit bagi anggota.

Perputaran persediaan juga dapat mempengaruhi rentabilitas ekonomi ini, jumlah persediaan yang terlalu banyak menyebabkan pengembalian modal kerjanya lambat. Modal kerja yang besar, yang tertanam dalam persediaan rupanya belum cukup mampu menyumbang keuntungan bagi koperasi. Justru dari persediaan ini membuat koperasi semakin lemah dalam menghasilkan keuntungan. Mengingat klasifikasi persediaan sendiri dalam klasifikasi kurang efisien atau bisa dikatakan buruk.

Selain itu rendahnya persentase rentabilitas ekonomi ini menunjukkan tingginya jumlah modal kerja yang tertanam dalam aktiva tetap. Total aktiva pada koperasi sangat tinggi, dengan demikian harusnya dengan jumlah total aktiva yang

tinggi koperasi mampu meningkatan keuntungannya. Hal ini menunjukkan jumlah aktiva yang ada pada PRIMKOP Darma Putra Uddhata kurang efisien dalam memberikan sumbangan keuntungan bagi koperasi, terutama pada aktiva tetapnya. Namun penjualan barang maupun jasa dalam jumlah yang besar pada koperasi mampu membuat perputaran kas dan perputaran modal kerjanya dalam klasifikasi efisien. Terlihat dari tingginya perputaran kas dan perputaran modal kerja yang menggambarkan penggunaan modal kerjanya efisien.

Rentabilitas modal sendiri pada PRIMKOP Darma Putra Uddhata termasuk dalam klasifikasi kurang efisien dengan hasil persentase 0,16%. Ini menunjukkan rendahnya efisiensi modal sendiri yang digunakan dalam menghasilkan laba setelah pajak. Menurut Sunyoto (2013:61), rentabilitas modal sendiri adalah kemampuan suatu koperasi dalam menghasilkan keuntungan. Rentabilitas modal sendiri yang buruk menunjukkan belum optimalnya penggunaan modal sendiri oleh koperasi untuk mendapatkan laba dan untuk menjalankan kegiatan usaha koperasi. Menurut keterangan dari sekretaris PRIMKOP Darma Putra Uddhata menyebutkan bahwa:

”Unit usaha baru seperti unit isi ulang air minum belum optimal penggunaannya sehingga berpengaruh tinggi pada buruknya persenta se rentabilitas modal sendiri. Mengingat unit isi ulang air minum ini ditunjang dengan biaya yang besar” (S, 46 tahun).

Melihat biaya yang dikeluarkan, harusnya unit isi ulang air minum ini mampu menyumbangkan keuntungan yang besar. Namun pada kenyataannya justru sebaliknya, biaya yang dikeluarkan menyebabkan koperasi mengalami penurunan pendapatan. Modal kerja yang diinvestasikan dalam unit tersebut belum menghasilkan keuntungan yang berakibat pada menurunnya pendapatan. Namun penggunaan dalam jangka panjang bisa jadi unit usaha baru ini mampu meningkatkan penjualan jasanya sehingga koperasi memperoleh keuntungan dari penjualan tersebut.

BAB 5. PENUTUP

5.1 Kesimpulan

Berdasarkan hasil perhitungan analisis rasio pada PRIMKOP Darma Putra Uddhata Jember Tahun Buku 2013, efisiensi penggunaan modal kerja dilihat dari perputaran modal kerjanya sudah efisien dengan rasio laba usaha yang cukup. Hal ini menunjukkan penjualan baik barang maupun jasa dalam jumlah yang besar mampu memperoleh keuntungan yang cukup. Adanya penjualan barang maupun jasa dalam jumlah yang besar mempercepat kembalinya modal kerja yang diinvestasikan dalam kegiatan usaha. Semakin tingginya tingkat penjualan mempengaruhi cepatnya perputaran modal kerja pada PRIMKOP Darma Putra Uddhata.

Profitabilitas pada PRIMKOP Darma Putra Uddhata dilihat dari rentabilitas ekonomi dalam klasifikasi cukup dan rentabilitas modal sendiri masih kurang efisien. Hal ini dikarenakan PRIMKOP Darma Putra Uddhata ini tidak hanya mengejar profit oriented semata, namun lebih mengutamakan pelayanannya dalam memenuhi kebutuhan anggota. Selain itu, ada beberapa faktor yang mempengaruhi rendahnya klasifikasi tersebut, seperti: over investment pada unit simpan pinjam, lambatnya sirkulasi barang pada persediaan, pengadaan unit usaha baru yang belum optimal pada unit isi ulang air minum. Koperasi perlu memperhitungkan penggunaan modal kerjanya dengan manajemen yang baik agar kegiatan usaha koperasi dapat meningkat.

5.2 Saran

Berdasarkan hasil dan pembahasan, maka saran yang dapat peneliti berikan kepada PRIMKOP Darma Putra Uddhata Jember ialah:

1. Koperasi perlu mempertahankan perputaran modal kerja dan memaksimalkan kegiatan usahanya agar modal kerjanya semakin efisien.

2. Koperasi perlu meningkatkan pengendalian persediaannya agar sirkulasi persediaan semakin cepat. Selain itu, koperasi perlu memberikan ketentuan pembatasan kredit dalam penjualan kredinyat agar tidak terjadi over investment pada unit simpan pinjam. Mengoptimalkan unit usaha lainnya agar turut menyumbang keuntungan yang bermanfaat bagi koperasi.

DAFTAR BACAAN

Buku

Hendar dan Kusnadi. 2005. Ekonomi Koperasi. Jakarta: Fakultas Ekonomi UI. Kartasapoetra. 2003. Praktek Pengelolaan Kopera si. Jakarta: PT. Rineka Cipta. Keputusan Menteri Koperasi dan Usaha Kecil dan Menengah

No.129/Kep/M/KUKM/XI/2002. Tanggal 29 November 2002. Pedoman Klasifikai Koperasi.

Munawir, S. 2004. Analisa Laporan Keuangan. Yogyakarta: Liberty. Munawir, S. 2007. Analisa Laporan Keuangan. Yogyakarta: Liberty.

Riyanto, Bambang. 1999. Dasar-dasa r pembelanjaan perusahaan. Yogyakarta: Yayasan Badan Penerbit Gajah Mada.

Riyanto, Bambang. 2002. Dasar-dasa r pembelanjaan perusahaan. Yogyakarta: BPFE.

Sartono, Agus. 2001. Manajemen Keuangan Teori dan Aplikasi. Yogyakarta: BPEF Sjahrial, Dermawan. 2012. Pengantar Manajemen Keuangan. Jakarta: Mitra Wacana

Media.

Sunyoto, Danang. 2013. Analisis Laporan Keuangan Untuk Bisnis. Jakarta: PT. Buku

Dalam dokumen ANALISIS EFISIENSI PENGGUNAAN MODAL KERJ (Halaman 63-80)

Dokumen terkait