• Tidak ada hasil yang ditemukan

G4-EN22 Total air yang dibuang berdasarkan kualitas dan tujuan

G4 Guidelines menjabarkan indikator EN22 sebagai praktik dalam melaporkan total air yang dibuang berdasarkan kualitas dan tujuan. Praktik pengungkapan atas indikator EN22 hanya diterapkan oleh dua perusahaan yakni, INCO dan ADRO. Dalam pengungkapannya, isi laporan dari INCO dan ADRO sedikit berbeda namun laporan keduanya telah cukup sesuai dengan instruksi dalam panduan pelaporan. INCO melaporkan volume total air yang dibuang berdasarkan tujuan serta kualitas air termasuk metode penanganan, sedangkan ADRO melaporkan volume total air yang dibuang berdasarkan tujuan dan penggunaan kembali air tersebut oleh organisasi lain. Akan tetapi, tidak ada laporan mengenai standar, metodologi, serta asumsi yang digunakan oleh masing-masing perusahaan. Berikut adalah kutipan-kutipan yang terkait dengan EN22:

Tingginya curah hujan menciptakan implikasi secara finansial yang disebabkan oleh peningkatan biaya operasional, baik yang terkait dengan kegiatan penambangan maupun pengelolaan dan pengolahan air limpasan. PT Vale berupaya mempercepat proses pengendapan kolam sedimen dengan menambahkan flokulan dan koagulan agar kandungan TSS tetap terjaga. Dengan demikian, buangan olahan air limpasan dinyatakan memenuhi syarat untuk dialirkan ke badan air Danau Matano.

(SR PT Vale Indonesia, Tbk., 2014, Halaman 25)

Kami telah membangun kolam sedimentasi berkapasitas 3,5 juta m3 yang berfungsi mengendapkan padatan terlarut di dalamnya, dengan menambahkan ferrous sulfat monohidrat. Selanjutnya, dilakukan pengujian secara teratur untuk memastikan bahwa kualitas olahan air limbah tersebut telah memenuhi baku mutu yang ditetapkan Pemerintah.

Sebagian dari air di kolam pengendapan ini juga dimanfaatkan untuk

penyiraman jalan di area tambang. (SR PT Vale Indonesia, Tbk., 2014, Halaman 44)

Volume air limbah dan sumbernya dinyatakan dalam sebuah tabel yang berisi: Sumber, Badan Air, Volume Buangan (m3) tahun 2014, Pengolahan Cr6+ (Total padatan mg/L), Fe terlarut (mg/L). (SR PT Vale Indonesia, Tbk., 2014, Halaman 45)

In the last two years there was a 72.2% increase in the volume of water discharge, from 142.3 billion cubic meters in 2012 to 245.1 billion cubic meters in 2013. Of several discharge destinations, Jaing Creek received most of the disposed water. We disposed as much as 64.3 billion and 88.7 billion cubic meters of water to Jaing Creek in 2012 and 2013 respectively. (SR PT Adaro Energy, Tbk., 2012-2013, Halaman 52) Another body of water that received the second biggest volume of disposed water in 2012 was Sei Dahai. However, in 2013, Sei Dinding received the second biggest volume of disposed water. As much as 19.6 billion and 26.3 billion cubic meters of water was disposed to Sei Dahai in 2012, while the volume disposed to Sei Dinding was 8.5 billion and 45.1 billion cubic meters in 2012 and 2013 respectively. (SR PT Adaro Energy, Tbk., 2012-2013, Halaman 52-53)

Data mengenai destinasi pembuangan air beserta volumenya untuk tahun 2012 dan 2013 disajikan dalam sebuah tabel. (SR PT Adaro Energy, Tbk., 2012-2013, Halaman 53)

G4-EN23 Bobot total limbah berdasarkan jenis dan metode pembuangan limbah

Di dalam G4 Guidelines, indikator EN23 berfokus pada pelaporan atas bobot total limbah berdasarkan jenis dan metode pembuangan limbah yang diterapkan.

Indikator EN23 merupakan salah satu indikator yang pengungkapannya dilakukan oleh seluruh perusahaan pertambangan. INCO, TINS, dan PTRO mengungkapkan bobot total dari limbah berbahaya dan tidak berbahaya berdasarkan metode pembuangan yang dihasilkan masing-masing perusahaan. Sedangkan ADRO hanya mengungkapkan besarnya bobot dari limbah yang dihasilkan tanpa menjelaskan mengenai metode pembuangan limbah yang digunakan, hal ini tentu saja tidak sesuai dengan instruksi panduan pelaporan. Meskipun INCO, TINS, dan PTRO telah

mengungkapkan metode pembuangan yang diterapkan, ketiga perusahaan ini tidak turut serta mengungkapkan bagaimana metode pembuangan tersebut ditentukan, hal ini juga tidak sesuai dengan instruksi panduan pelaporan. Berikut adalah kutipan-kutipan yang terkait dengan EN23:

Seiring meningkatnya kegiatan penambangan untuk memenuhi pasokan bahan baku bijih nikel laterik, maka volume limbah yang dihasilkan, terutama kupasan tanah lapisan atas atau overburden, juga mengalami peningkatan. Kami mengelola material overburden dengan cara:

Ditimbun pada area penimbunan (disposal pit) di sekitar lokasi kegiatan penambangan; Dimanfaatkan ulang sebagai material timbun, untuk menimbun kembali lahan pascatambang dalam proses reklamasi. (SR PT Vale Indonesia, Tbk., 2014, Halaman 46)

Limbah lain juga dihasilkan dari proses produksi nikel dalam matte.

Beberapa di antaranya bersifat mengandung bahan berbahaya dan beracun (B3). Limbah tersebut dikelola dan diolah dengan cara dimanfaatkan ulang, baik oleh PT Vale maupun pihak ketiga yang memiliki izin dari Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan. (SR PT Vale Indonesia, Tbk., 2014, Halaman 47)

Khusus untuk limbah domestik, kami mengelolanya dengan cara melakukan pemisahan (segregasi) antara sampah organik dan non-organik. Selanjutnya sampah organik ditimbun di tempat pembuangan sampah (TPA) yang dikelola Perseroan, sedangkan sampah non-organik dikelola oleh pihak ketiga di bawah pengawasan PT Vale. (SR PT Vale Indonesia, Tbk., 2014, Halaman 48)

Volume limbah bahan berbahaya dan beracun (B3) tahun 2012, 2013, dan 2014 dinyatakan dalam sebuah tabel yang berisi: Jenis limbah B3 dihasilkan, satuan, dan volume dari masing-masing jenis limbah. (SR PT Vale Indonesia, Tbk., 2014, Halaman 47)

Jenis dan metode pengelolaan limbah B3 dinyatakan dalam sebuah tabel.

(SR PT Vale Indonesia, Tbk., 2014, Halaman 47)

The composting of organic solid waste is not a new practice for us.

Organic solid waste includes food waste and plant matters. We processed 27,843 kilograms and 18,753 kilograms of organic waste in 2012 and 2013 respectively. (SR PT Adaro Energy, Tbk., 2012-2013, Halaman 66) Data yang berkaitan dengan timbulan limbah bahan berbahaya dan

pembuangan, jenis limbah B3, dan jumlah atau bobot limbah yang di kelola. (SR PT Timah, Tbk., 2014, Halaman 273)

Kami menerapkan Standard Operating Procedure (SOP) pengelolaan limbah dengan merujuk kepada ketaatan terhadap regulasi yang berlaku.

Perusahaan mentaati tahapan pengelolaan limbah dengan: (1) Memiliki izin penyimpanan sementara limbah B3 yang dikeluarkan Kantor Dinas Lingkungan Hidup, (2) Menyimpan limbah B3 tidak lebih dari 90 hari (sesuai Peraturan Pemerintah No. 18 Tahun 1999 tentang Pengelolaan Limbah Bahan Berbahaya dan Beracun), (3) Mengirim limbah B3 ke pengumpul yang memiliki izin dari Kementerian Lingkungan Hidup Republik Indonesia. (SR PT Petrosea, Tbk., 2014, Halaman 50)

Total limbah yang dihasilkan berdasarkan jenis disajikan dalam sebuah tabel untuk 2 periode pelaporan yakni 2013 dan 2014. (SR PT Petrosea, Tbk., 2014, Halaman 51)

G4-EN24 Jumlah dan volume total tumpahan signifikan

Indikator EN24 merupakan indikator yang oleh G4 Guidelines difokuskan pada pelaporan jumlah dan volume total dari tumpahan yang signifikan. INCO, ADRO, dan TINS merupakan perusahaan-perusahaan tambang yang melakukan pengungkapan atas EN24 terkait dengan tumpahan. Ketiga perusahaan ini memiliki isi laporan terkait tumpahan yang cukup berbeda. INCO hanya menyatakan bahwa telah terjadi tumpahan dalam bentuk tumpahan minyak dalam periode pelaporannya, ADRO menyatakan bahwa selama periode pelaporan tidak ditemukan adanya kasus tumpahan, sedangkan TINS hanya memberikan uraian mengenai upaya perusahaan dalam rangka mengantisipasi tumpahan. Pernyataan INCO terkait tumpahan minyak yang terjadi tidak disertai dengan dilaporkannya jumlah dan volume total dari tumpahan minyak serta dampak signifikan yang ditimbulkan dari kasus tumpahan tersebut. Hal ini tentu saja kurang sesuai dengan apa yang telah diinstruksikan dalam panduan pelaporan. Berikut adalah kutipan-kutipan yang terkait dengan EN24:

Komitmen PT Vale pada upaya melestarikan lingkungan diwujudkan dalam upaya penyelesaian keluhan warga atas dugaan terjadinya tumpahan minyak di Laut Lampia, Kabupaten Luwu Timur. Warga

bahan bakar minyak (BBM) di Pelabuhan Mangkasa. (SR PT Vale Indonesia, Tbk., 2014, Halaman 48)

During 2012, there was no spills occurred in our operational areas.

However, in the following year, we recorded four spill incidents as follows: ….... (SR PT Adaro Energy, Tbk., 2012-2013, Halaman 69) Sementara untuk mencegah adanya tumpahan (spill) limbah cair, seperti oli, bahan kimia dan bahan bakar yang berpotensi merusak lingkungan Perseroan melakukan langkah antisipatif berupa pembuatan tampungan di sekitar tempat penyimpanan dan upaya pencegahan lainnya, sehingga tidak ada ceceran limbah dimaksud di tempat yang tidak semestinya. (SR PT Timah, Tbk., 2014, Halaman 273)

G4-EN25 Bobot total limbah berbahaya

Indikator EN25 merupakan indikator yang berfokus kepada pelaporan mengenai bobot limbah yang dianggap berbahaya yang diangkut, diimpor, diekspor, atau diolah, dan persentase limbah yang diangkut untuk pengiriman internasional.

Dalam penelitian ini, hanya ADRO satu-satunya perusahaan yang melakukan pengungkapan atas indikator EN25. ADRO menyatakan bahwa dalam tahun pelaporannya tidak ada limbah berbahaya yang diangkut, diolah, maupun diekspor.

Limbah-limbah yang dihasilkan di tahun pelaporan sebagian besar dikirim kepada pihak ketiga. Berikut adalah kutipan-kutipan yang terkait dengan EN25:

We handle hazardous waste in accordance with prevailing regulations.

As in previous years, we did not specifically bring in, process and export hazardous waste. In 2012, our operations resulted in no less than 845 metric tons of hazardous waste. Of this amount, 742 metric tons were transferred to a third party for further processing, while we temporarily stored the remaining 103 metric tons to prevent contamination. That year, over 50% of our hazardous waste was the used filters from heavy equipment and vehicles maintenance activities. (SR PT Adaro Energy, Tbk., 2012-2013, Halaman 66)

The amount of hazardous waste increased in 2013 to 1,129 metric tons.

Of this amount, we transferred as much as 742 metric tons to a third party, while the remaining 233 metric tons were stored in temporary storage. Significant hazardous materials in 2013 included the used

filters, sludge, and contaminated rags. (SR PT Adaro Energy, Tbk., 2012-2013, Halaman 66)

Jumlah atau bobot limbah berbahaya di tahun 2012 dan 2013 disajikan dalam sebuah tabel. (SR PT Adaro Energy, Tbk., 2012-2013, Halaman 67)

G4-EN26 Badan air dan habitat yang terkena dampak pembuangan air

G4 Guidelines menjabarkan indikator EN26 sebagai praktik pelaporan mengenai identitas, ukuran, status lindung, dan nilai keanekaragaman hayati dari badan air dan habitat terkait yang secara signifikan terkena dampak dari air buangan dan limpasan dari organisasi. Praktik pelaporan EN26 hanya dilakukan oleh dua perusahaan pertambangan yakni INCO dan ADRO. Dengan cara pengungkapan yang hampir serupa, kedua perusahaan ini sama-sama mengungkapkan bahwa tidak ditemukan adanya badan air dan habitat terkait yang terkena dampak air buangan dari masing-masing perusahaan. Berikut adalah kutipan-kutipan yang terkait dengan EN26:

Selain mengendalikan volume air yang dimanfaatkan, PT Vale juga selalu memantau kualitas air Danau Matano beserta keanekaragaman hayati di dalamnya. Kami memastikan tidak ada spesies di Danau Matano yang termasuk dalam Daftar Merah IUCN, maupun keanekaragaman hayati lain yang terganggu akibat pengambilan dan pemanfaatan air danau. (SR PT Vale Indonesia, Tbk., 2014, Halaman 43) Di samping penggunaan air untuk keperluan proses produksi dan pembangkitan tenaga listrik (PLTA), PT Vale berupaya meminimalkan dampak terhadap sumber air sebagai akibat dari kegiatan tambang. Air limbah dari wilayah tambang memiliki kandungan konsentrasi Cr6+ yang berpotensi terbawa oleh aliran air hujan. Dampak negatif ini ditanggulangi dengan pengendalian kandungan padatan dalam air limbah pada kolam sedimentasi sebelum dialirkan kembali ke badan air. (SR PT Vale Indonesia, Tbk., 2014, Halaman 44)

As far as we know, our water discharge does not have any negative impacts to the river and its flora and fauna. There are also no parties that specifically use the disposed water. However, the destination river is used by local people, especially for transportation, irrigation and other

Dokumen terkait