Penyajian Sustainability Report
berdasarkan Global Reporting Initiative G4 Guidelines pada Perusahaan Pertambangan di Indonesia
Oleh:
VALENTINA ARIN PRASASTI NIM : 232012138
KERTAS KERJA
Diajukan kepada Fakultas Ekonomika dan Bisnis Guna Memenuhi Sebagian dari
Persyaratan-Persyaratan untuk Mencapai Gelar Sarjana Ekonomi
FAKULTAS: EKONOMIKA DAN BISNIS PROGRAM STUDI: AKUNTANSI
FAKULTAS EKONOMIKA DAN BISNIS UNIVERSITAS KRISTEN SATYA WACANA
SALATIGA 2016
MOTTO
“Serahkanlah hidupmu kepada Tuhan dan percayalah kepada-Nya, dan Ia akan bertindak; Ia akan memunculkan kebenaranmu seperti terang, dan hakmu seperti
siang.”
Mazmur 37: 5-6
“Apapun juga yang kamu perbuat, perbuatlah dengan segenap hatimu seperti untuk Tuhan dan bukan untuk manusia.”
Kolose 3:23
“Kapak sudah tersedia pada akar pohon dan setiap pohon yang tidak menghasilkan buah yang baik, pasti ditebang dan dibuang ke dalam api.”
Matius 3:10
KATA PENGANTAR
Puji dan syukur tiada henti penulis panjatkan kepada Tuhan Yesus Kristus karena berkat limpahan kuasa dan kasih-Nya, tugas akhir ini dapat terselesaikan dengan baik. Penulisan tugas akhir ini merupakan salah satu syarat akademik yang harus diselesaikan untuk meraih gelar sarjana dalam bidang Akuntansi pada Fakultas Ekonomika dan Bisnis Universitas Kristen Satya Wacana (UKSW).
Penulis menyadari bahwa masih terdapat kekurangan yang mungkin akan ditemukan dalam penelitian ini. Oleh karena itu, kritik, saran, serta masukan dari pembaca sangatlah diharapkan guna memperbaiki tugas akhir ini.
Semoga penelitian ini dapat memberikan manfaat bagi para pembaca dan pihak-pihak yang membutuhkan.
Salatiga, Juli 2014
Penulis
UCAPAN TERIMAKASIH
Penulis menyadari sepenuhnya bahwa selama masa perkuliahan di Universitas Kristen Satya Wacana dan juga dalam proses penyusunan serta penyelesaian tugas akhir ini begitu banyak pihak yang baik secara langsung maupun tidak langsung telah turut membantu dan senantiasa turut memberikan semangat serta motivasi kepada penulis. Oleh karena itu, beribu-ribu terimakasih ingin penulis ucapkan kepada:
Prof. Christantius Dwiatmadja, SE., ME., Ph.D., selaku Dekan Fakultas Ekonomika dan Bisnis.
Ibu Theresia Woro Damayanti, SE., M.Si., Ak., CA., BKP., selaku Ketua Program Studi Akuntansi Fakultas Ekonomika dan Bisnis Universitas Kristen Satya Wacana.
Ibu Arthik Davianti, SE., M.Si., Akt., CA., selaku dosen pembimbing utama tugas akhir penulis yang sangat memahami keterbatasan potensi penulis, dan yang dengan penuh sabar memberikan arahan kepada penulis dalam penyelesaian tugas akhir ini.
Ibu Birgitta Dian Saraswati, SE., M.Si., selaku wali studi penulis yang juga dengan sabar memberikan masukan-masukan yang bermanfaat bagi kelancaran studi penulis.
Seluruh staf pengajar Fakultas Ekonomika dan Bisnis UKSW, yang telah memberikan ilmu serta menambah wawasan intelektual penulis.
Seluruh staf Fakultas Ekonomika dan Bisnis UKSW, yang dengan penuh keramahan melayani penulis dalam perkuliahan dan proses penyusunan skripsi.
Ayahku Agus Sri Kuncoro dan Ibuku Maria Supriharinigsih, serta Adikku Mahardika Putri P., terimakasih untuk doa yang tak pernah putus, kasih sayang serta perhatian yang tulus dan berlimpah, dukungan moral dan material yang selalu diberikan.
Efratian Kristison, yang selalu mendukung, mengingatkan, memberi begitu banyak bantuan dan juga semangat.
Sahabat-sahabat terkasih, ifni, ovie, shenny, dea, nitikah, maya, octa, lala, pindo, riko, wulan, dan lain-lain. Teman-teman dari Korps Asisten, Team SDTF, Team Thambourine, teman-teman dari semua kepanitian, teman-teman LK, teman-teman seperbimbingan, kakak-kakak angkatan, adik-adik angkatan, dan teman-teman lainnya yang tidak bisa disebutkan satu persatu. Terimakasih untuk kebersamaan yang hangat, serta doa dan dukungan kalian, semoga kita semua dapat menggapai semua impian kita.
Keluarga besar penulis, terimakasih atas doa dan dukungannya.
Semoga Tuhan Yang Maha Kuasa melimpahkan rahmat dan kasih-Nya kepada semua pihak yang telah membantu serta mendukung penulis dalam penyusunan tugas akhir ini.
PENDAHULUAN
Sustainable development merupakan salah satu isu penting dalam proses pembangunan dewasa ini. Bruntland Report (1987) menyatakan sustainable development sebagai pembangunan yang dapat memenuhi kebutuhan saat ini tanpa harus mengorbankan kemampuan generasi masa depan dalam memenuhi kebutuhannya. Sustainable development perlu diterapkan karena kegiatan ekonomi saat ini kemungkinan besar dapat mengurangi pemenuhan kebutuhan di masa datang karena rusaknya ekosistem global (Utama, 2007). Perusahaan kian dituntut untuk menjalankan operasi usahanya secara etis agar dalam menjalankan operasinya perusahaan tidak hanya memikirkan masa sekarang saja tetapi juga untuk masa mendatang sebagai bentuk dari proses berkelanjutan (Atmajaya, 2014).
Salah satu bentuk tanggung jawab dan kontribusi korporasi sebagai stakeholder dalam pencapaian sustainable development adalah dengan melaksanakan praktik pengungkapan informasi sustainability actions mereka dalam sebuah pelaporan keberlanjutan (sustainability reporting) yang efektif, bermakna, dan terarah sesuai dengan panduan pelaporan G4 (G4 Guidelines) yang diterbitkan oleh Global Reporting Initiative (GRI). GRI merupakan salah satu organisasi internasional, dimana aktivitas utamanya difokuskan kepada pencapaian transparansi dan pelaporan suatu perusahaan melalui pengembangan standar dan pedoman pengungkapan sustainability (Widianto, 2011).
Sustainability Report (SR) semakin menjadi tren dan kebutuhan bagi perusahaan progresif untuk menginformasikan perihal kinerja ekonomi, sosial, dan lingkungannya kepada seluruh pemangku kepentingan perusahaan (Chariri, 2009).
Pendahuluan framework G4, standar keberlanjutan komprehensif yang paling sering digunakan di dunia yang dikeluarkan oleh lembaga GRI pada tahun 2013, menguraikan bahwa kesadaran atas sustainable development terus meningkat dan
perusahaan semakin dituntut untuk lebih transparan mengenai kinerjanya dalam menjamin sustainable development.
Salah satu jenis industri yang banyak dikaitkan dengan sumber daya alam dan lingkungan adalah industri yang bergerak di sektor pertambangan. Di Indonesia, sektor pertambangan menjadi salah satu sektor bisnis yang relatif diminati oleh para investor baik dari dalam maupun luar negeri. Sektor pertambangan telah memberikan kontribusi ekonomi yang besar dalam perekonomian Indonesia. Akan tetapi, selain dampak positif yang telah diberikan, tidak dapat dipungkiri bahwa sektor pertambangan juga memberikan dampak negatif yang tidak kalah besar pada lingkungan. Contohnya, habitat satwa endemik pesut Mahakam saat ini ada dalam kondisi rusak akibat aktivitas pelayaran kapal pengangkut hasil tambang batu bara (sindonews.com, 9 Juli 2015). Aktivitas penambangan timah yang diduga dilakukan secara ilegal di lepas laut dan pola penambangan yang tanpa sistem menyebabkan kerusakan parah pada ekosistem di perairan Bangka Belitung. Dari 41 titik pusat terumbu karang, hanya 10 titik yang tersisa (tempo.co, 12 November 2015). Oleh karena banyaknya isu-isu yang terjadi di dalam sektor pertambangan di Indonesia yang berkaitan dengan isu lingkungan, menarik untuk diteliti apakah perusahaan pertambangan di Indonesia telah melaporkan kinerja lingkungannya dalam sebuah sustainability report yang sesuai dengan standar atau panduan pelaporan dari GRI.
Di Indonesia, pelaksanaan sustainability reporting didukung oleh sejumlah peraturan pemerintah, diantaranya UU No. 23 tahun 1997 tentang Pengelolaan Lingkungan Hidup, UU No. 40 Perseroan Terbatas tahun 2007 pasal 66 ayat 2 tentang kewajiban perusahaan dalam menyampaikan laporan tahunan salah satunya Laporan Pelaksanaan Tanggung Jawab Sosial dan Lingkungan, dan pasal 74 mengenai Tanggung Jawab Sosial dan Lingkungan Perusahaan. Selain itu, Pernyataan Standar Akuntansi Keuangan (PSAK) No. 1 dalam IAI tentang tanggung jawab atas laporan keuangan paragraf 9 (sembilan) secara implisit menyarankan
untuk mengungkapkan tanggung jawab akan masalah lingkungan dan sosial dalam laporan tambahan mengenai lingkungan hidup dan laporan nilai tambah. Walaupun demikian, pada faktanya tidak semua perusahaan di Indonesia, termasuk perusahaan berskala besar atau yang telah go public telah melaksanakan praktik sustainability reporting. Berdasarkan observasi awal atas perusahaan tambang masuk bursa dalam penelitian ini, ditemukan bahwa hanya sekitar 20 persen dari 41 perusahaan tersebut menyajikan sustainability reporting. Praktik pelaporan informasi non finansial di negara-negara berkembang memang masih mendapatkan perhatian yang minim.
Praktik pengungkapan informasi non finansial, seperti sustainability reporting, tidak dilakukan seluas di negara maju (Andrew, Gul, Guthrie, dan Teoh, 1989).
Berthelot, Coulmont, dan Serret (2012) menemukan bahwa investor menilai secara positif pengungkapan sustainability report perusahaan. Penemuan ini sekaligus menjadi insentif bagi perusahaan agar menerbitkan sustainability report.
Perusahaan-perusahaan besar telah menggunakan GRI guidelines dalam menyusun sustainability report mereka, dan telah melakukan pelaporan yang cenderung baik dalam hal lingkungan berdasarkan GRI guidelines (Hussey, Kirsop dan Meissen, 2001). Penelitian yang melakukan evaluasi terhadap praktik sustainability reporting pada perusahaan di suatu negara telah dilakukan sebelumnya, seperti penelitian di Australia (Frost, Jones, Loftus, van der Laan, 2005) dan di Yunani (Skouloudis, Evangelinos, Kourmousis, 2010). Penelitian-penelitian tersebut menghasilkan kesimpulan bahwa masih banyak kesenjangan antara standar pelaporan, yaitu GRI guidelines dan praktik pelaporan di negara-negara tersebut. Penelitian yang menganalisis kesesuaian sustainability report dengan standar pelaporan GRI juga telah dilakukan di Indonesia, seperti penelitian yang dilakukan oleh Widenta pada tahun 2012. Namun berbeda dengan penelitian ini, jenis penelitian tersebut merupakan jenis penelitian kuantitatif yang menganalisis dalam bentuk indeks.
Penelitian ini akan melakukan analisis secara kualitatif dalam bentuk naratif secara
pada pelaporan yang berkaitan dengan isu lingkungan, dengan G4 Guidelines pada emiten pertambangan di Indonesia.
Berdasarkan latar belakang di atas, maka perumusan masalah dalam penelitian ini adalah seberapa jauh implementasi panduan pelaporan yang telah diterbitkan oleh GRI yakni G4 Guidelines di dalam penyusunan sustainability report oleh perusahaan pertambangan di Indonesia, serta bagaimana pola yang digunakan perusahaan- perusahaan tersebut dalam menyusun sustainability report. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui dan menganalisis tingkat kesesuaian pengungkapan sustainability report berdasarkan pokok-pokok pengungkapan yang terdapat di dalam panduan pelaporan GRI yakni G4 Guidelines dan mengetahui pola penyusunan sustainability report perusahaan pertambangan di Indonesia.
Hasil penelitian ini diharapkan mampu menjadi bukti empiris mengenai penyusunan sustainability report oleh perusahaan dari sektor pertambangan di Indonesia. Bagi akademisi, bukti empiris tersebut dapat digunakan dalam menganalisis atau mengkritisi penyusunan sustainability report dan penggunaan panduan pelaporan GRI, serta dapat berguna sebagai penambah ilmu pengetahuan mengenai sustainability reporting. Penelitian ini juga diharapkan mampu menjadi referensi bagi perusahaan, khususnya perusahaan di Indonesia, dalam mengambil keputusan mengenai pentingnya pengungkapan atau praktik sustainability reporting sebagai salah satu alat pertanggung jawaban atas setiap aktivitas yang dikerjakan yang memberi dampak bagi masyarakat dan lingkungan, serta pentingnya kesesuaian antara pengungkapan sustainability reporting dengan panduan pelaporan yang dibuat oleh GRI.
TINJAUAN PUSTAKA Sustainable Development
Seperti yang telah diutarakan sebelumnya, sustainable development merupakan salah satu isu penting dalam proses pembangunan dewasa ini. Para ahli mendefinisikan sustainable developmet dengan persepsi yang berbeda-beda, seperti pernyataan Budimanta (2005) dalam bulletin online tata ruang yang menyatakan bahwa sustainable developmet adalah suatu cara pandang mengenai kegiatan yang dilakukan secara sistematis dan terencana dalam kerangka peningkatan kesejahteraan, kualitas kehidupan dan lingkungan umat manusia tanpa mengurangi akses dan kesempatan kepada generasi yang akan datang untuk menikmati dan memanfaatkannya. Dalam proses sustainable developmet terdapat proses perubahan yang terencana, yang didalamnya terdapat eksploitasi sumberdaya, arah investasi orientasi pengembangan teknologi, dan perubahan kelembagaan yang kesemuanya ini dalam keadaan yang selaras, serta meningkatkan potensi masa kini dan masa depan untuk memenuhi kebutuhan dan aspirasi masyarakat.
Sustainability Reporting dan Sustainability Report
Global Reporting Initiative mendefinisikan sustainability reporting sebagai praktik dalam mengukur dan mengungkapkan aktivitas perusahaan, sebagai tanggung jawab kepada stakeholder internal maupun eksternal mengenai kinerja organisasi dalam mewujudkan tujuan sustainable development (G3 GRI Guidelines, 2000).
Sustainability report akan menjadi salah satu media untuk mendeskripsikan pelaporan ekonomi, lingkungan, dan dampak sosial (seperti halnya konsep triple bottom line, pelaporan CSR, dsb). Permintaan akan kebutuhan pengungkapan bagi perusahaan yang lebih transparansi, meningkatkan tekanan bagi perusahaan untuk mengumpulkan, mengendalikan, mempublikasikan tentang informasi sustainability yang mereka miliki. Hasilnya pelaporan sustainability menjadi strategi komunikasi
kunci bagi para manajer dalam menyampaikan aktivitasnya (Falk, 2007 dalam Widianto, 2011). Perkembangan sustainability reporting perusahaan terus meningkat, yang membahas mengenai environment, health, safety setiap tahunnya. Pelaporan sustainability akan menjadi perhatian utama dalam pelaporan non finansial.
Pelaporan ini memuat empat kategori utama yaitu business landscape, strategi, kompetensi, serta sumber daya dan kinerja (Falk, 2007 dalam Widianto, 2011).
David (2002) (dalam Chariri dan Nugroho, 2009) mengatakan sustainability report mengandung teks naratif, foto, tabel, dan grafik yang memuat penjelasan mengenai pelaksanaan sustainability perusahaan. Sustainability reporting dapat dirancang sedemikian rupa oleh manajemen sebagai cerita retorik untuk membentuk pencitraan pemakainya melalui pemakaian teks naratif. Menurut World Business Council for Sustainable Development (WBCSD) (dalam Widianto, 2011) menjelaskan manfaat yang didapat dari sustainability report antara lain:
1. Sustainability report memberikan informasi kepada stakeholder (pemegang saham, anggota komunitas lokal, pemerintah) dan meningkatkan prospek perusahaan, serta membantu mewujudkan transparansi.
2. Sustainabilty report dapat membantu membangun reputasi sebagai alat yang memberikan kontribusi untuk meningkatkan brand value, market share, dan loyalitas konsumen jangka panjang.
3. Sustainability report dapat menjadi cerminan bagaimana perusahaan mengelola risikonya.
4. Sustainability report dapat digunakan sebagai stimulasi leadership thinking dan performance yang didukung dengan semangat kompetisi.
5. Sustainability report dapat mengembangkan dan memfasilitasi pengimplementasian dari sistem manajemen yang lebih baik dalam mengelola dampak lingkungan, ekonomi, dan sosial.
6. Sustainability report cenderung mencerminkan secara langsung kemampuan dan kesiapan perusahaan untuk memenuhi keinginan pemegang saham untuk jangka panjang.
7. Sustainability report membantu membangun ketertarikan para pemegang saham dengan visi jangka panjang dan membantu mendemonstrasikan bagaimana meningkatkan nilai perusahaan yang terkait dengan isu sosial dan lingkungan.
Global Reporting Initiative (GRI) dan G4 Guidelines
Global Reporting Initiative merupakan salah satu organisasi non profit internasional yang berpusat di Amsterdam, Belanda dan didirikan pada tahun 1997 di Boston. GRI telah merintis dan mengembangkan kerangka sustainability reporting yang komprehensif dan banyak diadopsi di seluruh dunia, salah satunya adalah G4 Guidelines. G4 merupakan guidelines terbaru hasil dari pengembangan lebih lanjut dari guidelines sebelumnya yakni G3 dan G3.1. G4 Sustainability Reporting Guidelines menyediakan prinsip-prinsip pelaporan, pengungkapan standar, dan panduan penerapan untuk penyusunan sustainability report. Generasi keempat dari pedoman oleh GRI yang diluncurkan pada Mei 2013 tersebut dirancang sedemikian rupa agar dapat diaplikasikan secara universal di semua jenis dan sektor organisasi, skala besar dan kecil, di seluruh dunia. Pada bagian pendahuluan panduan G4 menerangkan bahwa tujuan dari G4 adalah untuk membantu pelapor menyusun sustainability report yang bermakna, berisikan informasi berharga tentang isu-isu organisasi yang paling kritikal terkait kebelanjutan, dan menjadikan sustainability reporting yang seperti demikian sebagai praktik standar. Pedoman G4 dirancang agar sesuai dengan berbagai macam format pelaporan. Selain meningkatkan relevansi dan kualitas sustainability report mandiri, G4 juga memberikan standar yang dikenal secara global untuk informasi keberlanjutan agar dimasukkan ke dalam laporan
Pedoman ini dikembangkan melalui proses yang melibatkan pemangku kepentingan global dari perwakilan dari bisnis, tenaga kerja, masyarakat sipil, dan pasar keuangan, serta auditor dan pakar di berbagai bidang, dan melalui dialog erat bersama regulator dan lembaga pemerintah di beberapa negara. G4 memberikan penekanan lebih besar atas kebutuhan organisasi tentang fokus dalam proses pelaporan dan laporan final, yang berisi topik-topik yang bersifat material bagi bisnis dan pemangku kepentingan utama mereka (G4 GRI Guidelines, 2013).
Peraturan-peraturan Pemerintah Republik Indonesia Pendukung Sustainability Report
Sebagaimana telah disampaikan dalam bagian pendahuluan, pengungkapan sustainability report di Indonesia didukung oleh sejumlah peraturan pemerintah, diantaranya Undang-undang Republik Indonesia nomor 23 tahun 1997 tentang Pengelolaan Lingkungan Hidup dan Undang-undang Republik Indonesia nomor 40 tahun 2007 tentang Perseroan Terbatas. Berikut ini adalah kutipan-kutipan dari UU 40 tahun 2007 yang mengatur tentang pengungkapan sustainability perusahaan dan tanggung jawab sosial dan lingkungan perseroan.
BAB IV: Bagian Kedua, Laporan Tahunan. Pasal 66 Ayat 1 dan Ayat 2 huruf c (1) Direksi menyampaikan laporan tahunan kepada RUPS setelah ditelaah
oleh Dewan Komisaris dalam jangka waktu paling lambat 6 (enam) bulan setelah tahun buku Perseroan berakhir.
(2) Laporan tahunan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) harus memuat sekurang-kurangnya:
c. laporan pelaksanaan Tanggung Jawab Sosial dan Lingkungan;
BAB V: Tanggung Jawab Sosial dan Lingkungan. Pasal 74
(1) Perseroan yang menjalankan kegiatan usahanya di bidang dan/atau berkaitan dengan sumber daya alam wajib melaksanakan Tanggung Jawab Sosial dan Lingkungan.
(2) Tanggung Jawab Sosial dan Lingkungan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) merupakan kewajiban Perseroan yang dianggarkan dan diperhitungkan sebagai biaya Perseroan yang pelaksanaannya dilakukan dengan memperhatikan kepatutan dan kewajaran.
(3) Perseroan yang tidak melaksanakan kewajiban sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dikenai sanksi sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan.
(4) Ketentuan lebih lanjut mengenai Tanggung Jawab Sosial dan Lingkungan diatur dengan peraturan pemerintah.
METODE PENELITIAN
Berdasarkan tujuan penelitian, jenis penelitian yang digunakan adalah studi dokumen, yang tergolong sebagai penelitian kualitatif.
Penelitian ini memilih perusahaan-perusahaan dari sektor pertambangan di Indonesia sebagai objek penelitian dengan alasan seperti yang telah dipaparkan pada bagian pendahuluan. Guna mencegah agar pembahasan dalam penelitian ini tidak meluas atau tidak bias dan lebih fokus pada permasalahan yang ada, prosedur pemilihan sampel perusahaan dilakukan dengan menggunakan metode purposive sampling dengan kriteria sebagai berikut:
1. Perusahaan dalam negeri dari sektor pertambangan yang terdaftar di BEI sampai dengan tahun 2014.
2. Perusahaan memiliki situs web tidak sedang dalam kondisi under construction. Alamat situs web masing-masing perusahaan diperoleh melalui BEI dan ICMD, jika tidak tersedia akan dilakukan pencarian melalui fasilitas search engine.
3. Perusahaan tersebut menerbitkan informasi mengenai sustainability reporting tahun 2013 atau 2014 melalui internet, baik itu file yang bisa di download dalam bentuk PDF maupun tertera dalam situs web perusahaan (HTML) ataupun bisa keduanya.
4. Sustainability report yang diterbitkan menggunakan GRI G4 Guidelines sebagai panduan pelaporan.
Tabel 1
Hasil Pengambilan Sampel Hasil Pengambilan Sampel
Kriteria Jumlah
Perusahaan Perusahaan tambang yang terdaftar di BEI sampai dengan tahun 2014 41 Perusahaan yang situs webnya tidak dapat diakses -2 Perusahaan tidak menerbitkan sustainability report tahun 2013 / 2014 -31 Sustainability Report tidak menggunakan GRI G4 Guidelines 0
Jumlah perusahaan yang lolos kriteria sampel penelitian 8
Kedelapan emiten pertambangan yang memenuhi syarat dan kriteria sebagai sampel penelitian tersebut adalah PT Adaro Energy, Tbk., PT Indo Tambangraya Megah, Tbk., PT Tambang Batubara Bukit Asam (Persero), Tbk., PT Medco Energi Internasional, Tbk., PT Aneka Tambang (Persero), Tbk., PT Vale Indonesia, Tbk., PT Timah (Persero), Tbk., dan PT Petrosea, Tbk.
Sampel penelitian tersebut kemudian akan lebih dipersempit berdasarkan kapitalisasi pasar dari masing-masing perusahaan. Kapitalisasi pasar sering digunakan sebagai alat ukur dari ukuran perusahaan. Pengukuran ini dipilih karena perusahaan dengan ukuran yang lebih besar akan memiliki insentif lebih untuk mengungkapkan lebih banyak informasi (Dainelli, Bini dan Giunta, 2010). Hal ini menunjukan bahwa pengungkapan yang dilakukan oleh perusahaan akan berbeda-beda, sesuai dengan ukuran perusahaan tersebut.
Tabel 2
Daftar Kapitalisasi Pasar Tahun 2014 dari Sampel Penelitian No. Kode
Saham Nama Emiten Kapitalisasi Pasar
(dalam Rupiah)
1 INCO Vale Indonesia Tbk. 36,019,227,860,000
2 ADRO Adaro Energy Tbk. 33,265,400,480,000
3 PTBA Tambang Batubara Bukit Asam
(Persero) Tbk. 28,801,648,125,000
4 ITMG Indo Tambangraya Megah Tbk. 17,372,596,875,000 5 MEDC Medco Energi Internasional Tbk. 12,663,315,510,000 6 ANTM Aneka Tambang (Persero) Tbk. 10,158,459,633,750
7 TINS Timah (Persero) Tbk. 9,160,736,748,420
8 PTRO Petrosea Tbk. 932,959,625,000
Sumber: www.sahamok.com
Perusahaan yang akan diteliti adalah dua perusahaan dengan kapitalisasi pasar tertinggi di tahun 2014, yaitu PT Vale Indonesia, Tbk. (INCO), dan PT Adaro Energy, Tbk. (ADRO), dan juga dua perusahaan dengan kapitalisasi terendah tahun 2014, yaitu PT Timah (Persero), Tbk. (TINS), dan PT Petrosea, Tbk. (PTRO).
Dengan demikian, dapat dilakukan perbandingan atas kecenderungan pelaporan pada kedua kelompok yang berbeda ini.
Data yang digunakan dalam penelitian ini merupakan data sekunder yang telah dipublikasi berupa data dokumenter, yakni sustainability report. Teknik pengumpulan data menggunakan teknik dokumentasi, yakni dengan cara mengumpulkan data, catatan atau dokumen, serta informasi perusahaan yang valid dan relevan (data yang berhubungan langsung dengan objek yang diteliti).
Untuk mencapai tujuan dari penelitian ini, digunakan teknik deskriptif analitis yang dilakukan dengan cara mengumpulkan, menyajikan dan menganalisis data yang berkaitan dengan pengungkapan sustainability report berdasarkan G4 Guidelines. Teknik deskriptif analitis yang dilakukan menggunakan teknik analisis isi
dirancang untuk mengkaji isi informasi terekam (Walizer dan Wienir, 1991). Tujuan content analysis adalah melakukan identifikasi terhadap karakteristik atau informasi spesifik yang terdapat pada suatu dokumen untuk menghasilkan deskripsi yang obyektif dan sistematik (Indriantoro dan Bambang, 1999).
Untuk membantu penelitian ini dalam menarik kesimpulan dengan menggunakan metode content analysis, digunakan instrumen penelitian yang disebut dengan lembar coding. Lembar coding sebagai instrumen penelitian harus memiliki tingkat reliabilitas dan validitas yang memadai, namun pada metode content analysis pendekatan kualitatif, lembar coding content analysis lebih menekankan pada kriteria dibanding reliabilitas dan validitas dalam menerima hasil-hasil penelitian (Krippendorff, 2004).
Dalam menganalisis pengungkapan akuntansi, lembar coding yang akan digunakan disebut sebagai lembar disclosure item atau lembar pokok pengungkapan.
Disclosure item digunakan sebagai panduan dalam mengukur dan menilai keluasan informasi yang dilaporkan pada sarana pengungkapan tertentu oleh suatu entitas tertentu berdasarkan sebuah daftar item-item informasi yang dipilih (Hassan dan Marston, 2010). Dalam penelitian ini, lembar disclosure item digunakan sebagai panduan untuk menganalisis keluasan informasi yang diungkapkan berdasarkan kriteria atau item-item standar dan panduan pelaporan GRI.
Sebagai metode yang sistematis, analisis isi mengikuti suatu proses tertentu.
Desain penelitian analisis isi menurut Eriyanto (2013), menunjukkan tahap-tahap berikut:
MERUMUSKAN TUJUAN ANALISIS
(Apa yang ingin diketahui lewat analisis isi, hal-hal apa saja yang menjadi masalah penelitian dan ingin dijawab lewat analisis isi)
KONSEPTUALISASI DAN OPERASIONALISASI
(Merumuskan konsep penelitian dan operasionalisasi sehingga konsep bisa diamati. Pada bagian ini peneliti menentukan terlebih dahulu konsep, apa yang ingin dilihat dan diteliti. Konsep-konsep tersebut kemudian diturunkan menjadi
satuan-satuan yang dapat dilihat dan diamati dalam suatu dokumen)
LEMBAR CODING
(Menurunkan operasionalisasi ke dalam lembar coding. Lembar coding berisi kriteria yang akan diamati dalam suatu informasi)
POPULASI DAN SAMPEL
(Peneliti merumuskan populasi dan sampel analisis isi)
PROSES INPUT
(Memasukkan semua isi berita atau informasi sesuai dengan lembar coding atau lembar panduan yang telah disusun)
PROSES ANALISIS DATA
(Menganalisis isi berita atau informasi dengan cara mendeskripsikan temuan)
Gambar 1
Tahapan Content Analysis (Adaptasi dari Eriyanto 2013)
Pada penelitian ini, tahapan analisis data dengan menggunakan teknik analisis isi yang dilakukan untuk mencapai tujuan dari penelitian ini adalah sebagai berikut:
1. Merumuskan tujuan analisis. Sebagaimana telah dijelaskan pada bagian pendahuluan, tujuan analisis dari penelitian ini adalah untuk mengetahui dan menganalisis tingkat kesesuaian pengungkapan sustainability report berdasarkan pokok-pokok pengungkapan yang terdapat di dalam G4 Guidelines dan mengetahui pola penyusunan sustainability report perusahaan pertambangan.
2. Konseptualisasi dan operasionalisasi. Dari tujuan penelitian tersebut, konsep- konsep yang diturunkan dalam satuan pengamatan disusun berdasarkan pokok-pokok pengungkapan sesuai standar khusus dalam kategori lingkungan yang terdapat di dalam G4 Guidelines. Pokok-pokok tersebut antara lain:
Tabel 3
Pokok-pokok Pengungkapan Kategori Lingkungan G4 Guidelines Pengungkapan Standar Khusus G4
KATEGORI : LINGKUNGAN 1 BAHAN
2 ENERGI 3 AIR
4 KEANEKARAGAMAN HAYATI 5 EMISI
6 EFLUEN DAN LIMBAH 7 PRODUK DAN JASA 8 KEPATUHAN
9 TRANSPORTASI
Lanjutan Tabel 3
Pokok-pokok Pengungkapan Kategori Lingkungan G4 Guidelines 10 LAIN-LAIN
11 ASESMEN PEMASOK ATAS LINGKUNGAN
12 MEKANISME PENGADUAN MASALAH LINGKUNGAN
3. Lembar coding. Lembar coding untuk menganalisis pengungkapan akuntansi disebut sebagai lembar disclosure item yang berisi item-item pengungkapan.
Lembar coding sebagai instrumen dalam penelitian ini tidak digunakan untuk mengukur secara kuantitatif item-item pengungkapan, melainkan digunakan sebagai panduan untuk melihat setiap item pengungkapan sustainability report dari sampel penelitian.
4. Populasi dan sampel. Pada penelitian ini, sampel dipilih menggunakan teknik purposive sampling pada populasi perusahaan pertambangan di Indonesia yang telah go public, dan juga telah memenuhi kriteria-kriteria sebagai sampel.
5. Proses input. Pada tahapan ini, isi berita dan informasi dari sustainability report dari sampel penelitian yang sesuai dengan disclosure item dimasukkan ke dalam lembar coding yang kemudian akan dianalisis secara deskriptif kualitatif untuk menyimpulkan seberapa jauh pengungkapan suatu objek penelitian.
6. Proses analisis data. Analisis data dalam penelitian ini menggunakan teknik analisis deskriptif kualitatif, dimana setiap temuan informasi yang berkaitan dengan item-item standar pengungkapan dalam G4 Guidelines pada sampel yang telah dimasukkan ke dalam lembar disclosure item dianalisis sesuai kedalaman kemampuan analitis dan berdasarkan konsep yang ada. Hasil yang dicapai dari analisis ini adalah kesimpulan mengenai seberapa jauh implementasi G4 Guidelines yang telah diterbitkan oleh GRI dalam
penyusunan atau pengungkapan sustainability report oleh perusahaan- perusahaan pertambangan serta bagaimana pola penyusunannya.
ANALISIS DAN PEMBAHASAN
Dimensi keberlanjutan lingkungan berkaitan dengan dampak organisasi pada sistem alam yang hidup dan tidak hidup, termasuk tanah, udara, air, dan ekosistem.
Kategori lingkungan meliputi dampak yang terkait dengan input (seperti energi dan air) dan output (seperti emisi, efluen dan limbah). Termasuk juga keanekaragaman hayati, transportasi, dan dampak yang berkaitan dengan produk dan jasa, serta kepatuhan dan biaya lingkungan (G4 GRI Guidelines, 2013).
Analisis dan pembahasan dalam penelitian ini dilakukan dengan cara mengamati setiap pokok pengungkapan yang dikhususkan pada kategori lingkungan dalam sustainability report perusahaan sampel. Hal ini bertujuan untuk mengetahui sejauh mana pengungkapan aspek-aspek lingkungan disajikan oleh perusahaan di dalam sustainability report yang telah dilaporkan. Pokok-pokok pengungkapan dari seluruh sampel kemudian dibandingkan dengan standar pengungkapan GRI yakni G4 Guidelines untuk mengetahui seberapa jauh perusahaan sampel mengimplementasikan G4 Guidelines di dalam penyusunan sustainability report.
Selanjutnya, pokok-pokok pengungkapan dari seluruh sampel dibandingkan antar satu perusahaan sampel dengan perusahaan yang lain untuk mengetahui pola pengungkapannya. Pembandingan dilakukan pada setiap aspek-aspek lingkungan yang terdiri dari 12 aspek yang lebih lanjut dibagi ke dalam 34 indikator (G4-EN1 sampai dengan G4-EN34). Berdasarkan hasil pembandingan tersebut dilakukan penarikan kesimpulan mengenai pengungkapan aspek lingkungan dalam sustainability report perusahaan.
ASPEK: BAHAN
G4-EN1 Berat atau volume bahan yang digunakan
Sebagaimana tertera dalam G4 Guidelines, indikator EN1 difokuskan kepada pelaporan atau pengungkapan atas bahan yang digunakan perusahaan berdasarkan berat atau volume. Praktik pelaporan atas indikator EN1 ini telah dilaksanakan oleh tiga perusahaan yakni INCO, ADRO, dan juga TINS. Hasil pembandingan isi laporan dari ketiga perusahaan tersebut dengan G4 Guidelines menunjukan bahwa ketiga perusahaan telah melaporkan besarnya berat atau volume bahan yang digunakan untuk kegiatan produksi atau operasionalnya sesuai dengan instruksi di dalam panduan pelaporan. Berikut adalah kutipan-kutipan yang diambil dari masing-masing sustainability report perusahaan yang terkait dengan indikator EN1:
Ketersediaan potensi cadangan bijih nikel menjamin ketersediaan pasokan bahan baku, yakni bijih nikel lateritik yang berasal dari penggalian material tambang. Selama tahun 2014, total material bahan baku berupa bijih nikel laterik mencapai 13.557.891 wet metric-ton (WMT). Volume tersebut meningkat 4% dibandingkan tahun 2013 sebanyak 13.070.625 WMT. (SR PT Vale Indonesia, Tbk., 2014, Halaman 27)
Throughout 2013, we mixed the used lubricant, grease, ammonium nitrate, emulsion and ANFO to create explosives. Of all these materials, the largest composition was ammonium nitrate and emulsion. The use of ammonium nitrate and emulsion in 2013 reached 32.97 million kilograms (up 21.5% from that of 2012) and 24.38 million kilograms (up 17.2% from that of 2012) respectively. The rise was in line with the increased production during the year of 2013. (SR PT Adaro Energy, Tbk., 2012-2013, Halaman 47)
Rincian data jumlah pemakaian bahan baku untuk tahun 2012 dan 2013 disajikan dalam sebuah tabel. (SR PT Adaro Energy, Tbk., 2012-2013, Halaman 47)(Lampiran 1, Tabel 3)
Penggunaan material untuk peleburan timah tahun 2014 disajikan dalam bentuk tabel yang berisi: jenis material yang digunakan, fasilitas peleburan, total material yang digunakan dalam satuan metrik ton, dan
klasifikasi jenis material (bahan baku/bahan baku daur ulang/bahan penolong). (SR PT Timah, Tbk., 2014, Halaman 264)
Hasil analisis lainnya menemukan bahwa hanya TINS yang melakukan identifikasi mengenai bahan yang digunakan, apakah berasal dari sumber terbarukan atau tak terbarukan seperti yang diinstruksikan dalam panduan pelaporan. Hal tersebut seperti tertera dalam kutipan berikut yang di ambil dari sustainability report TINS:
PT TIMAH saat ini masih lebih mengandalkan sumber energi tak terbarukan dalam memenuhi pasokan energi untuk kegiatan penambangan timah maupun kegiatan pendukung kegiatan penambangan. Namun demikian, sejak beberapa tahun terakhir Perseroan juga terus berupaya mengembangkan teknik pemanfaatan energi terbarukan dalam operasionalnya, yaitu olein yang berbahan dasar minyak sawit……... Pada tahun 2014, Perusahaan telah mulai menggunakan bahan bakar olein, yang telah dicampur ke dalam bahan bakar HSD oleh produsen, pada furnace di Unit Metalurgi. (SR PT Timah, Tbk., 2014, Halaman 266)
G4-EN2 Persentase bahan input daur ulang
Indikator EN2 dalam G4 Guidelines menginstruksikan perusahaan agar menyusun laporan terkait persentase bahan yang digunakan, yang merupakan bahan input daur ulang. Dalam hal ini, hanya ADRO dan TINS yang melaksanakan praktik pelaporan atas indikator EN2. Kedua perusahaan tersebut melaporkan dengan baik dan sesuai dengan panduan pelaporan mengenai persentase bahan input berupa bahan daur ulang yang digunakan dalam kegiatan produksinya. Berikut adalah kutipan isi laporan dari masing-masing perusahaan yang terkait dengan indikator EN2:
Morover, the use of used lubricant for blasting in 2013 amounted to 47.3 thousand kilograms, significantly down from 121.38 thousand kilograms in 2012. This was because our contractor PT Pama Persada Nusantara, which was authorized to utilize used lubricant as a component in explosives, used more emulsion as a blasting agent. In the coming years, we will plan an integrated program to create emulsion mainly from used lubricant. (SR PT Adaro Energy, Tbk., 2012-2013, Halaman 47)
Jumlah dan persentase pemakaian bahan baku daur ulang untuk tahun 2012 dan 2013 disajikan dalam sebuah tabel. (SR PT Adaro Energy, Tbk., 2012-2013, Halaman 47)
…., material daur ulang yang dipakai oleh Perseroan dalam proses produksi logam timah, sebagai produk utama, di pabrik pabrik peleburannya adalah terak, debu, dross, hardhead, dan timah besi. Total material daur ulang yang dimanfaatkan di tahun 2014 adalah sebesar 8.743 metrik ton (mton) atau mencakup 33,60% dari total material untuk produksi. Jumlah ini menunjukkan penurunan dalam penggunaan bahan baku daur ulang, dari 0,46% di tahun 2013. (SR PT Timah, Tbk., 2014, Halaman 264)
Informasi lain terkait material daur ulang disajikan dalam bentuk tabel yang berisi: jenis material yang digunakan, total material yang digunakan dalam satuan metrik ton, dan klasifikasi jenis material (bahan baku/bahan baku daur ulang/bahan penolong). (SR PT Timah, Tbk., 2014, Halaman 264)(Lampiran 1, Tabel 4)
Persentase daur ulang produk timah untuk memproduksi produk lain, yakni paduan perunggu dan kuningan serta timah solder disajikan dalam sebuah tabel. (SR PT Timah, Tbk., 2014, Halaman 264)
ASPEK: ENERGI
G4-EN3 Konsumsi energi dalam organisasi
Indikator EN3 berfokus pada pelaporan atau pengungkapan atas konsumsi energi yang terjadi di dalam perusahaan. Pengungkapan atas indikator EN3 telah dipraktikkan oleh seluruh perusahaan. Akan tetapi, hasil dari pembandingan dengan G4 Guidelines menunjukan bahwa dalam hal pengungkapannya masih terdapat beberapa hal yang tidak disampaikan atau dijelaskan oleh perusahaan secara lengkap seperti yang tertera di dalam panduan pelaporan. Berikut adalah kutipan-kutipan yang di ambil dari sustainability report perusahaan-perusahaan yang terkait dengan indikator EN3:
Seiring peningkatan produksi nikel dalam matte dan kegiatan penambangan bijih nikel, konsumsi energi pada tahun 2014 secara
pelaksanaan CCP 1 telah dapat menurunkan volume pemakaian HSFo, dan secara bersamaan meningkatkan pemanfaatan batu bara sebagai sumber energi pengganti. (SR PT Vale Indonesia, Tbk., 2014, Halaman 36)
Informasi mengenai total energi terpakai disajikan dalam bentuk tabel yang berisi: jenis energi yang digunakan disertai satuannya, volume pemakaian energi di tahun 2012, 2013, dan 2014. (SR PT Vale Indonesia, Tbk., 2014, Halaman 37)(Lampiran 1, Tabel 1)
Informasi mengenai kapasitas daya PLTA disajikan dalam bentuk tabel yang berisi: unit PLTA beserta tahun operasinya, dan besarnya kapasitas daya yang dimanfaatkan. (SR PT Vale Indonesia, Tbk., 2014, Halaman 39)(Lampiran 1, Tabel 2)
Informasi mengenai konsumsi energi terbarukan PLTA disajikan dalam bentuk grafik yang memberi gambaran mengenai besarnya konsumsi energi di tahun 2012, 2013, dan 2014. (SR PT Vale Indonesia, Tbk., 2014, Halaman 39)
As explained earlier, we generally use diesel fuel, biofuel (biodiesel), electricity and solar power. Neither coolant nor hot steam is used in our core production process. Furthermore, we do not determine the use of certain energy source based on operational areas. We use the four types of energy sources as needed in our mines in Tutupan, Wara, and Paringin, the port area and crushing facility in Kelanis, as well as in other operational areas, such as in Tabalong and Balangan. (SR PT Adaro Energy, Tbk., 2012-2013, Halaman 48)
For our daily activities, diesel fuel is consumed for transportation and heavy mining equipment. A small percentage is also used for our power generator to produce electricity. Our diesel fuel consumption amounted to 622,340,002 liters in 2012 and 635,255,444 liters in 2013. The electricity we buy from PLN is used to power our buildings, working tools and machines in the office, processing and port areas, while the supporting equipment placed in mining sites primarily use solar power.
(SR PT Adaro Energy, Tbk., 2012-2013, Halaman 48)
Government through the Minister of Energy and Mineral Resources Regulation No. 25 year 2013 urges all companies to use biofuels. To comply with this regulation, we started to use biofuels (biodiesel) B5 in heavy mining equipment in November 2013. However, since January 2014, we have replaced it with B10, to comply with the obligation to use
10% biodiesel (B10). (SR PT Adaro Energy, Tbk., 2012-2013, Halaman 48)
Rincian informasi yang berkaitan dengan besarnya konsumsi energi bahan bakar diesel dan biodiesel di tahun 2012 dan 2013 disajikan dalam sebuah tabel. (SR PT Adaro Energy, Tbk., 2012-2013, Halaman 48) PT TIMAH menggunakan energi untuk dua kepentingan, yakni kegiatan operasional dan kegiatan pendukung operasional. Untuk kegiatan operasional penambangan dan peleburan, Perseroan menggunakan energi primer berupa BBM, dan LPG. Sedangkan untuk kegiatan pendukung operasional menggunakan energi sekunder berupa tenaga listrik yang dipasok dari PLN maupun dari pembangkit milik sendiri. Energi listrik terutama digunakan untuk keperluan administrasi dan sarana penerangan.
(SR PT Timah, Tbk., 2014, Halaman 265)
Sumber energi utama yang digunakan dalam kegiatan proses produksi Perseroan di tahun 2014, berdasarkan volume penggunaannya, adalah solar industri, batubara antrasit, dan minyak bakar. Total energi yang digunakan di tahun 2014 mencapai 639.042 gigajoule, naik 5,90% dari jumlah energi yang digunakan di 2013, sebesar 603.422 gigajoule. (SR PT Timah, Tbk., 2014, Halaman 265)
Informasi mengenai penggunaan energi disajikan di dalam sebuah tabel yang berisi: sumber energi beserta satuannya, kandungan energi, jumlah dan total energi yang digunakan pada tahun 2013 dan 2014. (SR PT Timah, Tbk., 2014, Halaman 265)
..., sepanjang tahun 2014, fasilitas PLTD di Unit Metalurgi menghasilkan energi listrik sebesar 15.426.170 kWh (55.534 GJ). Energi listrik yang dihasilkan di 2014 ini naik 2,24% dari 15.088.608 kWh di tahun 2013. Ini sejalan dengan naiknya jumlah logam timah yang diproduksi di tahun 2014. Di tahun 2014, Unit Metalurgi Timah juga menggunakan 2.420 kg briket dan 300 kg gas LPG. (SR PT Timah, Tbk., 2014, Halaman 265)
Total konsumsi energi di dalam organisasi yang dihitung menurut konversi yang ditentukan Peraturan Pemerintah No. 70/2009 tentang Konservasi Energi mengalami penurunan pada tahun 2014. (SR PT Petrosea, Tbk., 2014, Halaman 47)
Konsumsi energi di dalam perusahaan disajikan dalam sebuah tabel yang berisi: total konsumsi bahan bakar solar dan total konsumsi listrik selama 3 periode pelaporan yakni 2012, 2013, dan 2014. (SR PT Petrosea, Tbk.,
Keempat perusahaan melaporkan jenis bahan bakar yang digunakan dan besarnya konsumsi total bahan bakar tersebut dengan baik. Hanya saja tidak ada satupun perusahaan yang mengklasifikasikan bahan bakar tersebut didapat dari sumber yang tak terbarukan atau sumber bahan bakar terbarukan. Dalam hal pelaporan mengenai konsumsi dan penjualan untuk listrik, pemanas, pendingin, dan uap, seperti yang tertera dalam panduan pelaporan untuk indikator EN3, hanya INCO dan TINS yang melakukan pelaporan atas poin tersebut. Kedua perusahaan ini melaporkan jumlah dari konsumsi listrik yang digunakan di dalam organisasi.
Sedangkan pelaporan mengenai standar, metodologi, dan asumsi yang digunakan, serta sumber dari faktor konversi yang digunakan dalam melakukan perhitungan, hanya dilakukan oleh PTRO yang melakukan pelaporan mengenai sumber konversi yang digunakan.
G4-EN4 Konsumsi energi di luar organisasi
Indikator EN4 merupakan indikator yang difokuskan pada pelaporan atas konsumsi energi yang terjadi di luar organisasi. Perusahaan sampel yang melakukan praktik pengungkapan atas indikator EN4 adalah INCO, ADRO, dan juga TINS. Isi laporan dari INCO dan TINS untuk indikator EN4 ini serupa dengan isi laporan yang ditemukan untuk indikator EN3, sehingga masih ditemukan ketidakjelasan atas pengungkapan indikator ini. Sedangkan ADRO membuat laporan yang terpisah.
ADRO melaporkan secara jelas bahwa perusahaannya juga menggunakan energi untuk kegiatan di luar organisasi, hanya saja perusahaan belum bisa membuat kalkulasi atau perhitungan atas besarnya konsumsi energi di luar organisasi yang digunakan. Berikut adalah kutipan-kutipan yang terkait dengan indikator EN4:
Informasi mengenai total energi terpakai disajikan dalam bentuk tabel yang berisi: jenis energi yang digunakan disertai satuannya, volume pemakaian energi di tahun 2012, 2013, dan 2014. (SR PT Vale Indonesia, Tbk., 2014, Halaman 37)
Informasi mengenai kapasitas daya PLTA disajikan dalam bentuk tabel yang berisi: unit PLTA beserta tahun operasinya, dan besarnya kapasitas daya yang dimanfaatkan. (SR PT Vale Indonesia, Tbk., 2014, Halaman 39)
Sesuai batasan dalam pelaporan ini, informasi energi terkonsumsi selama tahun 2014 merupakan konsumsi energi untuk kegiatan penambangan dan pengolahan yang dilakukan oleh PT Vale maupun kontraktor.
Laporan ini belum menyertakan besaran energi yang dikonsumsi masing- masing kontraktor untuk kegiatan lainnya. (SR PT Vale Indonesia, Tbk., 2014, Halaman 39)
Besides the use of energy for mining activities, there are also other activities outside our organization or in our value chain that significantly use the energy. These include the transportation related to our purchases of goods and services and the coal transportation, burning or processing of our coal products by users, and employees’ business trips by land, sea or air. Due to our limited resources, we have not made technical calculation on the energy consumption of those activities. (SR PT Adaro Energy, Tbk., 2012-2013, Halaman 48)
PT TIMAH menggunakan energi untuk dua kepentingan, yakni kegiatan operasional dan kegiatan pendukung operasional. Untuk kegiatan operasional penambangan dan peleburan, Perseroan menggunakan energi primer berupa BBM, dan LPG. Sedangkan untuk kegiatan pendukung operasional menggunakan energi sekunder berupa tenaga listrik yang dipasok dari PLN maupun dari pembangkit milik sendiri. Energi listrik terutama digunakan untuk keperluan administrasi dan sarana penerangan.
(SR PT Timah, Tbk., 2014, Halaman 265) G4-EN5 Intensitas energi
Di dalam G4 Guidelines, indikator EN5 berfokus pada pelaporan atau pengungkapan atas intensitas energi. Indikator EN5 hanya diungkapkan oleh tiga perusahaan yakni INCO, ADRO, dan TINS. Dalam pengungkapannya, ketiga perusahaan tersebut hanya mengungkapkan besar atau jumlah dari intensitas energi yang digunakan atau dimiliki perusahaan, tidak disajikan dalam bentuk rasio seperti yang diinstruksikan dalam panduan pelaporan. Sehingga masih terdapat ketidaksesuaian dalam pelaporan indikator ini. Berikut adalah kutipan-kutipan yang terkait dengan indikator EN5:
Efisiensi yang dilakukan telah mampu mengoptimalkan pemanfaatan energi. Besaran intensitas energi pada tahun 2014 adalah 121,94 GJ/ ton, naik dibandingkan tahun 2013 sebesar 120,98 GJ/ ton. (SR PT Vale Indonesia, Tbk., 2014, Halaman 37)
Informasi mengenai total intensitas energi terpakai disajikan dalam bentuk grafik yang berisi: total produksi (ton), total energi terpakai (Gj), dan intensitas energi (Gj/ton), dimana masing-masing disajikan dalam 3 periode yakni 2012, 2013, dan 2014. (SR PT Vale Indonesia, Tbk., 2014, Halaman 37)
...., we use our energy intensity as the basis to measure our energy performance. With the increased production, 47.19 million metric tons in 2012 and 52.26 million metric tons in 2013, our energy intensity in diesel fuel and biodiesel consumption dropped from 499.86 gigajoules/metric ton in 2012 to 461.17 gigajoules/metric ton in 2013. This 7.74% decline was an indication of our energy efficiency in the last two years, especially in terms of diesel fuel and biodiesel consumption. (SR PT Adaro Energy, Tbk., 2012-2013, Halaman 48)
Rincian informasi mengenai intensitas energi dari bahan bakar diesel dan biodiesel disajikan dalam sebuah tabel untuk tahun pelaporan 2012 dan 2013. (SR PT Adaro Energy, Tbk., 2012-2013, Halaman 49)
Dengan demikian, intensitas energi yang digunakan untuk memproduksi 16.431,98 ton logam timah di tahun 2014 adalah sebesar 639.042 GJ/Ton. (SR PT Timah, Tbk., 2014, Halaman 265)
G4-EN6 Pengurangan konsumsi energi
G4 Guidelines menjabarkan indikator EN6 sebagai praktik dalam pengungkapan pengurangan konsumsi energi yang dilakukan perusahaan. Indikator EN6 merupakan salah satu indikator yang pelaporannya dilakukan oleh seluruh perusahaan. Dari isi laporan keempat perusahaan, hanya INCO, ADRO, dan PTRO yang pelaporannya cukup sesuai dengan G4 Guidelines. Ketiganya sama-sama melaporkan jumlah pengurangan konsumsi energi yang dicapai yang merupakan hasil langsung dari inisiatif konservasi dan efisiensi. Ketiga perusahaan ini juga melaporkan jenis energi yang termasuk dalam pengurangan seperti bahan bakar dan listrik.
Sedangkan cara pengungkapan yang dilakukan TINS sedikit berbeda dan kurang sesuai dengan instruksi dari panduan pelaporan. Dalam isi laporannya, TINS hanya menjabarkan dengan terperinci upaya-upaya apa saja yang telah dilakukan dalam rangka menghemat penggunaan energi seperti bahan bakar dan listrik. TINS juga memberikan pernyataan bahwa perusahaan tersebut belum dapat menampilkan data-data kuantitatif terkait dengan jumlah pengurangan konsumsi energi yang dicapai yang merupakan hasil langsung dari inisiatif perusahaan. TINS hanya merujuk kepada data-data penggunaan energi secara keseluruhan, sebagai gambaran bahwa terjadi pengurangan konsumsi energi selama periode pelaporan. Berikut adalah isi laporan dari seluruh perusahaan sampel yang terkait dengan indikator EN6:
Efisiensi menjadikan beban pokok pendapatan Perseroan tahun 2014 lebih rendah 6% dibandingkan tahun 2013. Hal ini terutama didorong rendahnya biaya bahan bakar, pelumas dan karyawan. (SR PT Vale Indonesia, Tbk., 2014, Halaman 36)
PT Vale mengoperasikan tiga unit PLTA, termasuk PLTA Karebbe yang mulai beroperasi pada bulan Oktober 2011. Pasokan listrik dari PLTA Karebbe bersama PLTA Larona dan PLTA Balambano, mampu mengurangi pemakaian HSFO sebanyak 400.000 barrel serta 64.000 kiloliter HSD. (SR PT Vale Indonesia, Tbk., 2014, Halaman 38)
Pasokan listrik dari PLTA juga menjadikan biaya pengolahan nikel menjadi lebih murah bila dibandingkan dengan pembangkit termal. Biaya pengolahan nikel dengan menggunakan listrik dari pembangkit termal sebesar AS$2,06 per pon nikel, sementara ongkos produksi bila memanfaatkan listrik PLTA hanya 1 sen dollar AS per pon nikel. (SR PT Vale Indonesia, Tbk., 2014, Halaman 38)
Dari hasil ujicoba yang dilakukan pada tahun 2014, diperoleh hasil bahwa konversi pemanfaatan HSFO dengan batubara telah dapat mengurangi biaya produksi sebesar 31% atau AS$73,1 juta. Konsumsi HSFO pada 2014 sebesar 1,6 juta barel, lebih rendah 0,7 juta barel dibandingkan dengan tahun 2013, dengan harga rata-rata AS$98,45 per barel pada tahun 2014, dibandingkan dengan harga rata-rata AS$100,79 per barel pada 2013. Harga HSFO Perseroan didasarkan pada indeks Platts di Singapura. Efisiensi konsumsi operasional HSFO atas tingkat produksi nikel meningkat dari 30,75 barel per ton nikel pada 2013
dalam hal efisiensi produksi. Selanjutnya, pemanfaatan batubara akan terus dilanjutkan menggunakan mesin tanur pengering maupun tanur pereduksi. (SR PT Vale Indonesia, Tbk., 2014, Halaman 40)
To reduce energy consumption, in general we manage energy on three main aspects. The first is power saving. This is done by reducing the use of lamps and air conditioners in rooms….. The second is the replacement of biodiesel with solar panels in operating the supporting equipment for mining operations, …. The third is the improvement and maintenance of tools and other supporting facilities so we can operate maximally and efficiently. (SR PT Adaro Energy, Tbk., 2012-2013, Halaman 49)
By using solar panels, we managed to reduce as much as 4.7 million gigajoules and 9 million gigajoules of diesel fuel usage in 2012 and 2013 respectively. The increase was in line with the application of more solar panels in supporting equipment. In addition, by utilizing used lubricants to replace diesel fuel, we also reduced diesel fuel consumption as much as 4.6 million gigajoules in 2012. However, this number drastically dropped in 2013 as more emulsion was used to create explosives. (SR PT Adaro Energy, Tbk., 2012-2013, Halaman 49)
Rincian informasi mengenai inisiatif dan pencapaian dalam usaha pengurangan konsumsi energi disajikan dalam sebuah tabel yang berisi:
jenis inisiatif, jenis energi yang akan dikurangi, metode perhitungan, serta hasil atau pencapaian di tahun 2012 dan 2013. (SR PT Adaro Energy, Tbk., 2012-2013, Halaman 49)
Untuk menghemat penggunaan energi, PT TIMAH melaksanakan beberapa langkah inovatif, misalnya melakukan penambangan timah skala besar yang lebih efisien selain melakukan ekstensifikasi penggunaan KIP dalam penambangan lepas pantai, menggantikan peran Kapal Keruk yang boros energi. Selain itu, untuk mengurangi pemakain energi listrik baik yang yang berasal dari pembangkit listrik milik sendiri maupun dari PLN, PT TIMAH menerapkan serangkaian kebijakan untuk menghemat pemakaian energi listrik. Program dan kebijakan yang ditempuh untuk menghemat pemakaian listrik mencakup sosialisasi dan implementasi ke pekerja untuk: (1) Menaikkan setting temperatur AC ke 25oC, (2) Memaksimalkan kapasitas AC, (3) Pemanfaatan cahaya alami.
Sedangkan untuk menghemat konsumsi BBM untuk transportasi, beberapa inisiatif yang dilakukan mencakup: program optimasi operasional penambangan, monitoring dan pengaturan pelayanan kendaraan non tambang, konferensi video antarunit kerja. (SR PT Timah, Tbk., 2014, Halaman 266)
Perseroan belum dapat menampilkan data-data kuantitatif yang menunjukkan adanya pengaruh langsung dari masing-masing item program yang dijalankan terhadap volume penggunaan bahan bakar primer maupun volume konsumsi listrik dari PLN, sebagai hasil inisiatif efisiensi tersebut karena belum adanya sistem informasi yang dikembangkan secara khusus. Namun demikian demikian data penggunan energi secara keseluruhan menunjukkan adanya penurunan kebutuhan energi sebagai hasil pelaksanaan berbagai inisiatif efisiensi tersebut. (SR PT Timah, Tbk., 2014, Halaman 266)
Pengurangan konsumi energi ini tidak saja berkaitan dengan turunnya operasi kontrak pertambangan, tetapi sebagai hasil dari penerapan FMS untuk meningkatkan produktivitas waktu kerja. Penerapan FMS pada 2014 berhasil mengurangi konsumsi bahan bakar hingga 14.255 liter. (SR PT Petrosea, Tbk., 2014, Halaman 47)
Penghematan konsumsi energi setelah penerapan FMS disajikan dalam sebuah tabel. (SR PT Petrosea, Tbk., 2014, Halaman 47)(Lampiran 1, Tabel 6)
Panduan pelaporan juga turut memberi arahan agar perusahaan dapat mengungkapkan standar, metodologi, atau asumsi yang digunakan. Dalam hal ini hanya ADRO yang mengungkapkan metode perhitungan yang digunakan dalam melaporkan indikator EN6.
G4-EN7 Pengurangan kebutuhan energi pada produk dan jasa
Tidak ditemukan pengungkapan atau pelaporan oleh seluruh perusahaan sampel untuk indikator EN7.
ASPEK: AIR
G4-EN8 Total pengambilan air berdasarkan sumber
Indikator kedelapan dalam kategori lingkungan ini berfokus pada pelaporan atas total pengambilan air berdasarkan sumber. Di dalam praktiknya, seluruh perusahaan telah melaporkan total volume pengambilan air dari sumber-sumber yang
juga turut serta diungkapkan. Hanya saja dalam pelaporannya tidak ada satupun perusahaan yang mengungkapkan standar atau metodologi atau asumsi yang digunakan dalam perhitungan jumlah volume air yang di ambil seperti yang diinstruksikan dalam panduan pelaporan. Berikut adalah kutipan-kutipan serta informasi lain yang terkait dengan indikator EN8 dalam sustainability report perusahaan:
Selama tahun 2014 total volume air yang digunakan 13.050.096 meter kubik (m3), naik 19,7% dibandingkan tahun 2013 sebanyak 10.904.033 m3. (SR PT Vale Indonesia, Tbk., 2014, Halaman 43)
The volume of mining water and rainwater flowed into the settling pond increased significantly from 1.2 million cubic meters in 2012 to 3.1 million cubic meters in 2013 (166% increase). In Kelanis, the volume of river water consumption was also dramatically increased from 476.9 thousand cubic meters in 2012 to 1.3 million cubic meters in 2013 (182%
increase). This rise was related to the intensity of our operations, improvements and developments throughout 2012 and 2013. (SR PT Adaro Energy, Tbk., 2012-2013, Halaman 51-52)
Rincian informasi mengenai air yang di ambil dan digunakan disajikan dalam sebuah tabel yang berisi: sumber air, lokasi, volume air yang di ambil dan digunakan, tahun pelaksaan, dan persentase kenaikan atau penurunan pengambilan air. (SR PT Adaro Energy, Tbk., 2012-2013, Halaman 52)
Penggunaan air dicatat secara lengkap oleh Unit Metalurgi dan Unit Produksi Kundur, sementara pada unit-unit yang lainnya sifat pencatatannya tidak menyeluruh. Di tahun 2014, Unit Metalurgi menggunakan air dengan volume total 422.339 kiloliter, turun 5,88% dari 448.743 kiloliter di 2013. Seluruh air yang digunakan tersebut diperoleh dari waduk. Sebanyak 124.453 kiloliter (29,47% dari total) digunakan untuk keperluan sarana produksi, sementara sisanya digunakan untuk keperluan lainnya. Di tahun 2013, jumlah air untuk keperluan sarana produksi adalah 152.969 kiloliter (34% dari total). (SR PT Timah, Tbk., 2014, Halaman 268)
Untuk penghematan penggunaan air, kami terus mengoptimalkan sumber daya air hujan dibanding air bawah tanah dan permukaan (G4-EN8) yang kami upayakan sejak tahun 2010. Pengelolaan sumber daya air hujan ini dilakukan dengan membuat tempat penampungan di beberapa titik. Air
yang ditampung ini diolah dan kemudian dimanfaatkan untuk kepentingan operasional Perusahaan. (SR PT Petrosea, Tbk., 2014, Halaman 47)
Penggunaan air menurut sumber disajikan dalam bentuk tabel yang berisi: volume penggunaan air dalam 5 periode pelaporan (2010, 2011, 2012, 2013, 2014) berdasarkan sumbernya yakni ground water, surface water, dan rain water. (SR PT Petrosea, Tbk., 2014, Halaman 48)(Lampiran 1, Tabel 7)
G4-EN9 Sumber air yang secara signifikan dipengaruhi oleh pengambilan air Indikator EN9 merupakan indikator yang berisi panduan pelaporan mengenai sumber air yang secara signifikan dipengaruhi oleh pengambilan air. Hanya INCO dan ADRO yang melaksanakan pengungkapan atas indikator ini. Kedua perusahaan tersebut menyatakan bahwa kegiatan pengambilan air yang dilakukan perusahaan tidak memberikan dampak signifikan kepada sumber air, sehingga tidak ditemukan informasi lain terkait indikator ini. Berikut adalah kutipan-kutipan yang di ambil dari sustainability report perusahaan terkait dengan indikator EN9:
….. Proses pemanfaatan air Danau Matano dilakukan dengan pengawasan ketat dan tidak mempengaruhi volume air danau keseluruhan. (SR PT Vale Indonesia, 2014, Halaman 43)
During 2012 and 2013, the withdrawal and consumption of mining water, rainwater and river water increased. However, we believe it did not disturb the river as the withdrawal was estimated to be less than 5%
of the river’s capacity. In addition, there was no observable water level drop associated to the water withdrawal for our operations. (SR PT Adaro Energy, 2012-2013, Halaman 51)
G4-EN10 Persentase dan total volume air yang di daur ulang dan digunakan kembali
Di dalam G4 Guidelines, indikator EN10 merupakan indikator yang berfokus pada pelaporan atas persentase dan total volume air yang di daur ulang dan digunakan kembali. Hanya ADRO dan TINS yang melaksanakan praktik pelaporan atas
indikator ini. Hasil analisa serta pembandingan dengan panduan pelaporan menunjukan bahwa ADRO mengungkapkan indikator ini lebih terperinci jika dibandingkan dengan TINS. ADRO melaporkan secara detail total volume beserta persentase air yang didaur ulang dan digunakan kembali oleh perusahaan, sedangkan TINS menyebutkan bahwa air yang digunakan oleh perusahaan seratus persen adalah air hasil dari daur ulang.
In the last two years, we had recycled no less than 898.9 thousand cubic meters of water. In 2012, we recycled 165.6 thousand cubic meters or 35% compared to the river water volume we withdrew and used. The following year, it rose to 733.3 thousand cubic meters or 55% of the water withdrawn and used. This increase is a proof of our commitment to taking care of the environment. (SR PT Adaro Energy, Tbk., 2012-2013, Halaman 52)
Rincian informasi mengenai air yang di daur ulang disajikan dalam sebuah tabel yang berisi: tahun pelaksanaan, volume air yang di ambil, volume air yang di daur ulang, dan persentase daur ulang air. (SR PT Adaro Energy, Tbk., 2012-2013, Halaman 52)
Air yang digunakan dalam operasional tambang darat, seluruhnya (100%) merupakan air daur ulang yang diolah melalui penerapan sistem sirkulasi air tertutup (close loop). Selain untuk efisiensi, sistem ini juga mencegah sedimen air limbah mencemari air sungai. (SR PT Timah, Tbk., 2014, Halaman 267)
ASPEK: KEANEKARAGAMAN HAYATI
G4-EN11 Lokasi operasional di dalam atau berdekatan dengan kawasan lindung
Indikator EN11 dalam G4 Guidelines difokuskan kepada pengungkapan atas lokasi-lokasi operasional yang dimiliki, disewa, dikelola di dalam, atau yang berdekatan dengan, kawasan lindung dan kawasan dengan nilai keanekaragaman hayati tinggi di luar kawasan lindung. Praktik pengungkapannya hanya dilakukan oleh ADRO dan TINS, namun hanya ADRO yang melaporkan indikator ini secara
cukup lengkap dan cukup sesuai dengan panduan pelaporan. ADRO melaporkan informasi terkait posisi dalam hubungannya dengan kawasan lindung atau kawasan dengan nilai keanekaragaman hayati tinggi di luar kawasan lindung, jenis operasi, ukuran lokasi operasional atau luas area, dan nilai keanekaragaman hayati dalam area operasional. Sedangkan pelaporan yang dilakukan TINS hanya terkait luas area kegiatan operasional yang masuk dalam wilayah hutan lindung dan hutan konservasi.
Berikut adalah kutipan-kutipan terkait dengan indikator EN11:
All of our operations are not located in conservation areas. However, we have identified that the post-mining reclamation area Paringin has high biodiversity. The area is a habitat for many species of flora and fauna.
(SR PT Adaro Energy, Tbk., 2012-2013, Halaman 54)
Rincian informasi mengenai area operasional perusahaan yang memiliki nilai biodiversitas yang tinggi disajikan dalam sebuah tabel yang berisi:
nama area, luas area, jenis operasi yang dilakukan di area tersebut, status area konservasi, dan jenis-jenis keanekaragaman hayati yang terdapat di area. (SR PT Adaro Energy, Tbk., 2012-2013, Halaman 54)
Seluruh kegiatan penambangan darat yang dilakukan Perusahaan di Kepulauan Bangka Belitung berlangsung di atas lahan yang telah disahkan oleh Pemerintah dengan terbitnya Izin Usaha Pertambangan (IUP). Sekitar 8% atau 27 ribu hektare dari luas wilayah IUP darat Perusahaan adalah berupa hutan lindung dan sebanyak 1% atau 3.546 hektare lainnya merupakan hutan konservasi. (SR PT Timah, Tbk., 2014, Halaman 276)
Rincian luas Wilayah Izin Usaha Pertambangan (WIUP) Provinsi Kep.
Bangka Belitung disajikan dalam sebuah tabel. (SR PT Timah, Tbk., 2014, Halaman 277)
G4-EN12 Dampak langsung dan tidak langsung terhadap keanekaragaman hayati
Indikator EN12 difokuskan pada pengungkapan atas uraian dampak signifikan kegiatan, produk, dan jasa terhadap keanekaragaman hayati di kawasan lindung dan kawasan dengan nilai keanekaragaman hayati tinggi di luar kawasan lindung. Dari keempat perusahaan, hanya ADRO dan TINS yang melakukan pelaporan atas
indikator EN12 ini. ADRO menguraikan secara cukup jelas dampak signifikan yang dapat timbul akibat kegiatan operasional perusahaan terhadap keanekaragaman hayati. Namun, ADRO juga menyatakan bahwa sampai dengan akhir periode pelaporan, tidak ditemukan dampak-dampak signifikan yang muncul. Sedangkan pelaporan yang dilakukan TINS adalah dengan mengidentifikasi dampak penting dari seluruh mata rantai kegiatan operasional terhadap kualitas habitat satwa liar, keanekaragaman jenis satwa liar, biota air, biota perairan laut, terumbu karang, kualitas air laut, dan lain sebagainya seperti tertera dalam tabel yang disajikan oleh TINS. Berikut adalah kutipan-kutipan terkait dengan indikator EN12:
We realize that our operation can cause pollutions that affect biodiversity. Although so far we have not found any significant effects due to the pollution from our activities, we continue to apply environmental management and monitoring procedures to maintain biodiversity.
Our operational activities can also potentially lead to the emergence of new diseases and species. But until this report is published, we have not found any new species or diseases that can be associated with our operations.
Our operations could also reduce the population of new animal and plant species. However, we have not been able to conclude which species is reduced in population since animals often migrate from one region to another. We collaborate with the Faculty of Forestry of the University of Lambung Mangkurat in revegetation and forest plant enrichment or tests.
We do this because we the mining site has become a plantation after the operations stopped, which results in the change of endemic plant species and population reduction.
Our operational activities could have impacts on habitat and ecosystem.
In relation to this, we collaborate with the Faculty of Forestry of the University of Lambung Mangkurat to conduct a study on this subject.
(SR PT Adaro Energy, Tbk., 2012-2013, Halaman 55-56)
Rincian informasi yang berkaitan dengan dampak penting yang ditimbulkan dari kegiatan-kegiatan operasional disajikan dalam beberapa tabel. (SR PT Timah, Tbk., 2014, Halaman 254-257)