• Tidak ada hasil yang ditemukan

G4-EN3 Konsumsi energi dalam organisasi

Indikator EN3 berfokus pada pelaporan atau pengungkapan atas konsumsi energi yang terjadi di dalam perusahaan. Pengungkapan atas indikator EN3 telah dipraktikkan oleh seluruh perusahaan. Akan tetapi, hasil dari pembandingan dengan G4 Guidelines menunjukan bahwa dalam hal pengungkapannya masih terdapat beberapa hal yang tidak disampaikan atau dijelaskan oleh perusahaan secara lengkap seperti yang tertera di dalam panduan pelaporan. Berikut adalah kutipan-kutipan yang di ambil dari sustainability report perusahaan-perusahaan yang terkait dengan indikator EN3:

Seiring peningkatan produksi nikel dalam matte dan kegiatan penambangan bijih nikel, konsumsi energi pada tahun 2014 secara

pelaksanaan CCP 1 telah dapat menurunkan volume pemakaian HSFo, dan secara bersamaan meningkatkan pemanfaatan batu bara sebagai sumber energi pengganti. (SR PT Vale Indonesia, Tbk., 2014, Halaman 36)

Informasi mengenai total energi terpakai disajikan dalam bentuk tabel yang berisi: jenis energi yang digunakan disertai satuannya, volume pemakaian energi di tahun 2012, 2013, dan 2014. (SR PT Vale Indonesia, Tbk., 2014, Halaman 37)(Lampiran 1, Tabel 1)

Informasi mengenai kapasitas daya PLTA disajikan dalam bentuk tabel yang berisi: unit PLTA beserta tahun operasinya, dan besarnya kapasitas daya yang dimanfaatkan. (SR PT Vale Indonesia, Tbk., 2014, Halaman 39)(Lampiran 1, Tabel 2)

Informasi mengenai konsumsi energi terbarukan PLTA disajikan dalam bentuk grafik yang memberi gambaran mengenai besarnya konsumsi energi di tahun 2012, 2013, dan 2014. (SR PT Vale Indonesia, Tbk., 2014, Halaman 39)

As explained earlier, we generally use diesel fuel, biofuel (biodiesel), electricity and solar power. Neither coolant nor hot steam is used in our core production process. Furthermore, we do not determine the use of certain energy source based on operational areas. We use the four types of energy sources as needed in our mines in Tutupan, Wara, and Paringin, the port area and crushing facility in Kelanis, as well as in other operational areas, such as in Tabalong and Balangan. (SR PT Adaro Energy, Tbk., 2012-2013, Halaman 48)

For our daily activities, diesel fuel is consumed for transportation and heavy mining equipment. A small percentage is also used for our power generator to produce electricity. Our diesel fuel consumption amounted to 622,340,002 liters in 2012 and 635,255,444 liters in 2013. The electricity we buy from PLN is used to power our buildings, working tools and machines in the office, processing and port areas, while the supporting equipment placed in mining sites primarily use solar power.

(SR PT Adaro Energy, Tbk., 2012-2013, Halaman 48)

Government through the Minister of Energy and Mineral Resources Regulation No. 25 year 2013 urges all companies to use biofuels. To comply with this regulation, we started to use biofuels (biodiesel) B5 in heavy mining equipment in November 2013. However, since January 2014, we have replaced it with B10, to comply with the obligation to use

10% biodiesel (B10). (SR PT Adaro Energy, Tbk., 2012-2013, Halaman 48)

Rincian informasi yang berkaitan dengan besarnya konsumsi energi bahan bakar diesel dan biodiesel di tahun 2012 dan 2013 disajikan dalam sebuah tabel. (SR PT Adaro Energy, Tbk., 2012-2013, Halaman 48) PT TIMAH menggunakan energi untuk dua kepentingan, yakni kegiatan operasional dan kegiatan pendukung operasional. Untuk kegiatan operasional penambangan dan peleburan, Perseroan menggunakan energi primer berupa BBM, dan LPG. Sedangkan untuk kegiatan pendukung operasional menggunakan energi sekunder berupa tenaga listrik yang dipasok dari PLN maupun dari pembangkit milik sendiri. Energi listrik terutama digunakan untuk keperluan administrasi dan sarana penerangan.

(SR PT Timah, Tbk., 2014, Halaman 265)

Sumber energi utama yang digunakan dalam kegiatan proses produksi Perseroan di tahun 2014, berdasarkan volume penggunaannya, adalah solar industri, batubara antrasit, dan minyak bakar. Total energi yang digunakan di tahun 2014 mencapai 639.042 gigajoule, naik 5,90% dari jumlah energi yang digunakan di 2013, sebesar 603.422 gigajoule. (SR PT Timah, Tbk., 2014, Halaman 265)

Informasi mengenai penggunaan energi disajikan di dalam sebuah tabel yang berisi: sumber energi beserta satuannya, kandungan energi, jumlah dan total energi yang digunakan pada tahun 2013 dan 2014. (SR PT Timah, Tbk., 2014, Halaman 265)

..., sepanjang tahun 2014, fasilitas PLTD di Unit Metalurgi menghasilkan energi listrik sebesar 15.426.170 kWh (55.534 GJ). Energi listrik yang dihasilkan di 2014 ini naik 2,24% dari 15.088.608 kWh di tahun 2013. Ini sejalan dengan naiknya jumlah logam timah yang diproduksi di tahun 2014. Di tahun 2014, Unit Metalurgi Timah juga menggunakan 2.420 kg briket dan 300 kg gas LPG. (SR PT Timah, Tbk., 2014, Halaman 265)

Total konsumsi energi di dalam organisasi yang dihitung menurut konversi yang ditentukan Peraturan Pemerintah No. 70/2009 tentang Konservasi Energi mengalami penurunan pada tahun 2014. (SR PT Petrosea, Tbk., 2014, Halaman 47)

Konsumsi energi di dalam perusahaan disajikan dalam sebuah tabel yang berisi: total konsumsi bahan bakar solar dan total konsumsi listrik selama 3 periode pelaporan yakni 2012, 2013, dan 2014. (SR PT Petrosea, Tbk.,

Keempat perusahaan melaporkan jenis bahan bakar yang digunakan dan besarnya konsumsi total bahan bakar tersebut dengan baik. Hanya saja tidak ada satupun perusahaan yang mengklasifikasikan bahan bakar tersebut didapat dari sumber yang tak terbarukan atau sumber bahan bakar terbarukan. Dalam hal pelaporan mengenai konsumsi dan penjualan untuk listrik, pemanas, pendingin, dan uap, seperti yang tertera dalam panduan pelaporan untuk indikator EN3, hanya INCO dan TINS yang melakukan pelaporan atas poin tersebut. Kedua perusahaan ini melaporkan jumlah dari konsumsi listrik yang digunakan di dalam organisasi.

Sedangkan pelaporan mengenai standar, metodologi, dan asumsi yang digunakan, serta sumber dari faktor konversi yang digunakan dalam melakukan perhitungan, hanya dilakukan oleh PTRO yang melakukan pelaporan mengenai sumber konversi yang digunakan.

G4-EN4 Konsumsi energi di luar organisasi

Indikator EN4 merupakan indikator yang difokuskan pada pelaporan atas konsumsi energi yang terjadi di luar organisasi. Perusahaan sampel yang melakukan praktik pengungkapan atas indikator EN4 adalah INCO, ADRO, dan juga TINS. Isi laporan dari INCO dan TINS untuk indikator EN4 ini serupa dengan isi laporan yang ditemukan untuk indikator EN3, sehingga masih ditemukan ketidakjelasan atas pengungkapan indikator ini. Sedangkan ADRO membuat laporan yang terpisah.

ADRO melaporkan secara jelas bahwa perusahaannya juga menggunakan energi untuk kegiatan di luar organisasi, hanya saja perusahaan belum bisa membuat kalkulasi atau perhitungan atas besarnya konsumsi energi di luar organisasi yang digunakan. Berikut adalah kutipan-kutipan yang terkait dengan indikator EN4:

Informasi mengenai total energi terpakai disajikan dalam bentuk tabel yang berisi: jenis energi yang digunakan disertai satuannya, volume pemakaian energi di tahun 2012, 2013, dan 2014. (SR PT Vale Indonesia, Tbk., 2014, Halaman 37)

Informasi mengenai kapasitas daya PLTA disajikan dalam bentuk tabel yang berisi: unit PLTA beserta tahun operasinya, dan besarnya kapasitas daya yang dimanfaatkan. (SR PT Vale Indonesia, Tbk., 2014, Halaman 39)

Sesuai batasan dalam pelaporan ini, informasi energi terkonsumsi selama tahun 2014 merupakan konsumsi energi untuk kegiatan penambangan dan pengolahan yang dilakukan oleh PT Vale maupun kontraktor.

Laporan ini belum menyertakan besaran energi yang dikonsumsi masing-masing kontraktor untuk kegiatan lainnya. (SR PT Vale Indonesia, Tbk., 2014, Halaman 39)

Besides the use of energy for mining activities, there are also other activities outside our organization or in our value chain that significantly use the energy. These include the transportation related to our purchases of goods and services and the coal transportation, burning or processing of our coal products by users, and employees’ business trips by land, sea or air. Due to our limited resources, we have not made technical calculation on the energy consumption of those activities. (SR PT Adaro Energy, Tbk., 2012-2013, Halaman 48)

PT TIMAH menggunakan energi untuk dua kepentingan, yakni kegiatan operasional dan kegiatan pendukung operasional. Untuk kegiatan operasional penambangan dan peleburan, Perseroan menggunakan energi primer berupa BBM, dan LPG. Sedangkan untuk kegiatan pendukung operasional menggunakan energi sekunder berupa tenaga listrik yang dipasok dari PLN maupun dari pembangkit milik sendiri. Energi listrik terutama digunakan untuk keperluan administrasi dan sarana penerangan.

(SR PT Timah, Tbk., 2014, Halaman 265) G4-EN5 Intensitas energi

Di dalam G4 Guidelines, indikator EN5 berfokus pada pelaporan atau pengungkapan atas intensitas energi. Indikator EN5 hanya diungkapkan oleh tiga perusahaan yakni INCO, ADRO, dan TINS. Dalam pengungkapannya, ketiga perusahaan tersebut hanya mengungkapkan besar atau jumlah dari intensitas energi yang digunakan atau dimiliki perusahaan, tidak disajikan dalam bentuk rasio seperti yang diinstruksikan dalam panduan pelaporan. Sehingga masih terdapat ketidaksesuaian dalam pelaporan indikator ini. Berikut adalah kutipan-kutipan yang terkait dengan indikator EN5:

Efisiensi yang dilakukan telah mampu mengoptimalkan pemanfaatan energi. Besaran intensitas energi pada tahun 2014 adalah 121,94 GJ/ ton, naik dibandingkan tahun 2013 sebesar 120,98 GJ/ ton. (SR PT Vale Indonesia, Tbk., 2014, Halaman 37)

Informasi mengenai total intensitas energi terpakai disajikan dalam bentuk grafik yang berisi: total produksi (ton), total energi terpakai (Gj), dan intensitas energi (Gj/ton), dimana masing-masing disajikan dalam 3 periode yakni 2012, 2013, dan 2014. (SR PT Vale Indonesia, Tbk., 2014, Halaman 37)

...., we use our energy intensity as the basis to measure our energy performance. With the increased production, 47.19 million metric tons in 2012 and 52.26 million metric tons in 2013, our energy intensity in diesel fuel and biodiesel consumption dropped from 499.86 gigajoules/metric ton in 2012 to 461.17 gigajoules/metric ton in 2013. This 7.74% decline was an indication of our energy efficiency in the last two years, especially in terms of diesel fuel and biodiesel consumption. (SR PT Adaro Energy, Tbk., 2012-2013, Halaman 48)

Rincian informasi mengenai intensitas energi dari bahan bakar diesel dan biodiesel disajikan dalam sebuah tabel untuk tahun pelaporan 2012 dan 2013. (SR PT Adaro Energy, Tbk., 2012-2013, Halaman 49)

Dengan demikian, intensitas energi yang digunakan untuk memproduksi 16.431,98 ton logam timah di tahun 2014 adalah sebesar 639.042 GJ/Ton. (SR PT Timah, Tbk., 2014, Halaman 265)

G4-EN6 Pengurangan konsumsi energi

G4 Guidelines menjabarkan indikator EN6 sebagai praktik dalam pengungkapan pengurangan konsumsi energi yang dilakukan perusahaan. Indikator EN6 merupakan salah satu indikator yang pelaporannya dilakukan oleh seluruh perusahaan. Dari isi laporan keempat perusahaan, hanya INCO, ADRO, dan PTRO yang pelaporannya cukup sesuai dengan G4 Guidelines. Ketiganya sama-sama melaporkan jumlah pengurangan konsumsi energi yang dicapai yang merupakan hasil langsung dari inisiatif konservasi dan efisiensi. Ketiga perusahaan ini juga melaporkan jenis energi yang termasuk dalam pengurangan seperti bahan bakar dan listrik.

Sedangkan cara pengungkapan yang dilakukan TINS sedikit berbeda dan kurang sesuai dengan instruksi dari panduan pelaporan. Dalam isi laporannya, TINS hanya menjabarkan dengan terperinci upaya-upaya apa saja yang telah dilakukan dalam rangka menghemat penggunaan energi seperti bahan bakar dan listrik. TINS juga memberikan pernyataan bahwa perusahaan tersebut belum dapat menampilkan data-data kuantitatif terkait dengan jumlah pengurangan konsumsi energi yang dicapai yang merupakan hasil langsung dari inisiatif perusahaan. TINS hanya merujuk kepada data-data penggunaan energi secara keseluruhan, sebagai gambaran bahwa terjadi pengurangan konsumsi energi selama periode pelaporan. Berikut adalah isi laporan dari seluruh perusahaan sampel yang terkait dengan indikator EN6:

Efisiensi menjadikan beban pokok pendapatan Perseroan tahun 2014 lebih rendah 6% dibandingkan tahun 2013. Hal ini terutama didorong rendahnya biaya bahan bakar, pelumas dan karyawan. (SR PT Vale Indonesia, Tbk., 2014, Halaman 36)

PT Vale mengoperasikan tiga unit PLTA, termasuk PLTA Karebbe yang mulai beroperasi pada bulan Oktober 2011. Pasokan listrik dari PLTA Karebbe bersama PLTA Larona dan PLTA Balambano, mampu mengurangi pemakaian HSFO sebanyak 400.000 barrel serta 64.000 kiloliter HSD. (SR PT Vale Indonesia, Tbk., 2014, Halaman 38)

Pasokan listrik dari PLTA juga menjadikan biaya pengolahan nikel menjadi lebih murah bila dibandingkan dengan pembangkit termal. Biaya pengolahan nikel dengan menggunakan listrik dari pembangkit termal sebesar AS$2,06 per pon nikel, sementara ongkos produksi bila memanfaatkan listrik PLTA hanya 1 sen dollar AS per pon nikel. (SR PT Vale Indonesia, Tbk., 2014, Halaman 38)

Dari hasil ujicoba yang dilakukan pada tahun 2014, diperoleh hasil bahwa konversi pemanfaatan HSFO dengan batubara telah dapat mengurangi biaya produksi sebesar 31% atau AS$73,1 juta. Konsumsi HSFO pada 2014 sebesar 1,6 juta barel, lebih rendah 0,7 juta barel dibandingkan dengan tahun 2013, dengan harga rata-rata AS$98,45 per barel pada tahun 2014, dibandingkan dengan harga rata-rata AS$100,79 per barel pada 2013. Harga HSFO Perseroan didasarkan pada indeks Platts di Singapura. Efisiensi konsumsi operasional HSFO atas tingkat produksi nikel meningkat dari 30,75 barel per ton nikel pada 2013

dalam hal efisiensi produksi. Selanjutnya, pemanfaatan batubara akan terus dilanjutkan menggunakan mesin tanur pengering maupun tanur pereduksi. (SR PT Vale Indonesia, Tbk., 2014, Halaman 40)

To reduce energy consumption, in general we manage energy on three main aspects. The first is power saving. This is done by reducing the use of lamps and air conditioners in rooms….. The second is the replacement of biodiesel with solar panels in operating the supporting equipment for mining operations, …. The third is the improvement and maintenance of tools and other supporting facilities so we can operate maximally and efficiently. (SR PT Adaro Energy, Tbk., 2012-2013, Halaman 49)

By using solar panels, we managed to reduce as much as 4.7 million gigajoules and 9 million gigajoules of diesel fuel usage in 2012 and 2013 respectively. The increase was in line with the application of more solar panels in supporting equipment. In addition, by utilizing used lubricants to replace diesel fuel, we also reduced diesel fuel consumption as much as 4.6 million gigajoules in 2012. However, this number drastically dropped in 2013 as more emulsion was used to create explosives. (SR PT Adaro Energy, Tbk., 2012-2013, Halaman 49)

Rincian informasi mengenai inisiatif dan pencapaian dalam usaha pengurangan konsumsi energi disajikan dalam sebuah tabel yang berisi:

jenis inisiatif, jenis energi yang akan dikurangi, metode perhitungan, serta hasil atau pencapaian di tahun 2012 dan 2013. (SR PT Adaro Energy, Tbk., 2012-2013, Halaman 49)

Untuk menghemat penggunaan energi, PT TIMAH melaksanakan beberapa langkah inovatif, misalnya melakukan penambangan timah skala besar yang lebih efisien selain melakukan ekstensifikasi penggunaan KIP dalam penambangan lepas pantai, menggantikan peran Kapal Keruk yang boros energi. Selain itu, untuk mengurangi pemakain energi listrik baik yang yang berasal dari pembangkit listrik milik sendiri maupun dari PLN, PT TIMAH menerapkan serangkaian kebijakan untuk menghemat pemakaian energi listrik. Program dan kebijakan yang ditempuh untuk menghemat pemakaian listrik mencakup sosialisasi dan implementasi ke pekerja untuk: (1) Menaikkan setting temperatur AC ke 25oC, (2) Memaksimalkan kapasitas AC, (3) Pemanfaatan cahaya alami.

Sedangkan untuk menghemat konsumsi BBM untuk transportasi, beberapa inisiatif yang dilakukan mencakup: program optimasi operasional penambangan, monitoring dan pengaturan pelayanan kendaraan non tambang, konferensi video antarunit kerja. (SR PT Timah, Tbk., 2014, Halaman 266)

Perseroan belum dapat menampilkan data-data kuantitatif yang menunjukkan adanya pengaruh langsung dari masing-masing item program yang dijalankan terhadap volume penggunaan bahan bakar primer maupun volume konsumsi listrik dari PLN, sebagai hasil inisiatif efisiensi tersebut karena belum adanya sistem informasi yang dikembangkan secara khusus. Namun demikian demikian data penggunan energi secara keseluruhan menunjukkan adanya penurunan kebutuhan energi sebagai hasil pelaksanaan berbagai inisiatif efisiensi tersebut. (SR PT Timah, Tbk., 2014, Halaman 266)

Pengurangan konsumi energi ini tidak saja berkaitan dengan turunnya operasi kontrak pertambangan, tetapi sebagai hasil dari penerapan FMS untuk meningkatkan produktivitas waktu kerja. Penerapan FMS pada 2014 berhasil mengurangi konsumsi bahan bakar hingga 14.255 liter. (SR PT Petrosea, Tbk., 2014, Halaman 47)

Penghematan konsumsi energi setelah penerapan FMS disajikan dalam sebuah tabel. (SR PT Petrosea, Tbk., 2014, Halaman 47)(Lampiran 1, Tabel 6)

Panduan pelaporan juga turut memberi arahan agar perusahaan dapat mengungkapkan standar, metodologi, atau asumsi yang digunakan. Dalam hal ini hanya ADRO yang mengungkapkan metode perhitungan yang digunakan dalam melaporkan indikator EN6.

G4-EN7 Pengurangan kebutuhan energi pada produk dan jasa

Tidak ditemukan pengungkapan atau pelaporan oleh seluruh perusahaan sampel untuk indikator EN7.

Dokumen terkait