KERANGKA SNSE INDONESIA 1990
5. Ekivalen Tenagakerja
. Ukuran tenagakerja yang digunakan dalam SNSE disebut sebagai ekivalen tenagakerja (worker equivalents atau ETK). Ukuran ini mendefinisikan bahwa 1 (satu) ETK sama dengan 1 (satu) tenagakerja yang bekerja selama 40 jam seminggu.
Sehingga, bila seorang tenagakerja bekerja kurang dari 40 jam seminggu, maka te~agakerja tersebut dihitung sebagai kurang dari 1 (satu) ETK; demikian juga sebaliknya. Dalam SNSE, jumlah ETK dihitung untuk masing-masing klasifikasi tenagakerja (seperti tenagakerja profesional, tenagakerja pertanian, dsb) dan untuk masing-masing lapangan usaha. Dengan demikian, seorang tenagakerja (misalnya tenagakerja profesional) yang bekerja selama 20 jam di sektor A dan 20 jam di sektor B akan dihitung sebagai 0,5 ETK di sektor Adan 0,5 ETK di sektor B. Ukuran ETK
; ,, '
dimaksudkan untuk ~apat menangkap adanya tenagakerja yang bekerja di beberapa sektor; atau untuk menangkap adanya tenagakerja yang bekerja kurang atau lebih dari
. \ . . ' .
jam kerja normal (40 jam seminggu). Jumlah tenagakerja yang digunakan dalam tabel
: ' . ~~ . '
I-O ,d~~it~~g. dalam ukuran orang; sehingga jumlah tenagakerja yang disajikan oleh SNSE akan berbeda dengan yang disajikan oleh tabel I-O.
!( . ' ' .
Metode Estimasi dan Sumber Data 1. Tabel 1-0 sebagai Tahap Awai
·>
Untuk menyusun kerangka SNSE Indonesia 1990, ·tabel Input-Output (tabel I-O) Indonesia 1990 ·djg~_ryakan sebagai dasar untuk menyusun neraca-neraca lainnya·
dalam kerangka SNSE. Oleh karena itu, agregat-agregat makro yang diperoleh dari
' . .
kerangka SNSE Indonesia 19QO akan sama dengan yang diperoleh dari tabel I-O
16
Indonesia 1990. Namun-demikian, terdapat beberapa perbedaan konsepsi antara kerangka SNSE dengan tabel I-O:
a. Dalam kerangka SNSE, tenagakerja dibagi atas 2 ~dua)' klasifikasi, yaitu: a.
tenagakerja dibayar (paid workers); dan b. tenagakerja tidak dibayar (unpaid workers). Tenagakerja dibayar adalah tenagakerja yang terlibat dalam kegiatan ekonomi sebagai faktor produksi tenagakerja dan mereka memperoleh upah dan gaji sebagai balas jasa bagi faktor produksi yang mereka benkan. Sedangkan tenagakerja tidak dibayar adalah tenagakerja yang terlibat · dalam kegiatan ekonomi sebagai faktor produksi tenagakerja tetapi mereka tidak memperoleh ' sama sekali upah dan gaji sebagai balas jasa faktor produksi mereka; contohnya.
adalah pekerja keluarga (unpaidfamily workers); atau mereka tidak meinperbleh . upah dan gaji karena balas jasa bagi faktor produksi teriagakerja mereka' sudah
' , '
tercakup dalam surplus usaha (keuntungan) dari usaha :yarig -mereka lakukan,' contohnya adalah mereka yang bekerja sendiri (self employed workers).' Total' . balas jasa yang diperoleh tenagakerja dibayar yang' dinilai dalarri be~tuk 'upafrdan'·
gaji dalam SNSE akan sama dengan total upah clan gaji yang terdapat'dalarri tabel , I-O (kode 201). Balas jasa yang diperoleh oleh tenagakerja tidak dib'ayar; dal~ni, . SNSE, dinilai dalam bentuk imputasi upah dan gaji (imputed wages and sal~ries):'·' -Dalam tabel I-O, total balas jasa ini tidak dimunculkan sebagai sa'tu komp~nen ·,
- . . , ' ; ' . ~ ( . ! ' : ' ·. .
tersendiri tetapi digabung dalam komponen surplus usaha' (operating surplus), yaitu kode 202 dalam tabel I-O. Dengan perbedaan konsepsi ini, maka' total upah dan gaji yang terdapat dalam tabel I-O (yaitu kode 201) hanya akan sama dengan total upah dan gaji yang diterima oleh tenagakerja dibayar dalam SNSE.
b. Sebagian pengeluaran pemerintah untuk kesehatan dari pendidikan, yaitu yang berupa subsidi, dicatat dalam SNSE sebagai pengeluaran 'transfer pemerintah yang diberikan kepada rumahtangga. Dalam tabel I-O, pengeluaran pemerintah tidak dipisahkan atas pengeluaran subsidi dan pengelu~ran konsu~sC serilua;';
, , ·:l 1, , 1·:·.;r ;·:- -.
diklasifikasikan dalam satu kategori saja, yaitu pen·geluaran pemerintah (kode 303
t
¥17 . , dalam tabel I-O). Pada sisi yang lain, pengeluaran pemerintah yang berupa subsidi tersebut akan merupakan penerimaan bagi rumahtangga, yang kemudian oleh rumahtangga dikeluarkan lagi sebagai pengeluaran untuk kesehatan dan pendidikan. Dengan demikian, pengeluaran rumahtangga dalam SNSE akan lebih besar dari pada yang terdapat dalam tabel I-O (kode 301).
2. Metode Estimasi. dan Sumber Data
Jumlah Ekivalen Tenagakerja
. : \ . ',;.. "/'_ -,' ~ \
. Jumlah. ekivalen t~nagakerja (ETK) ;dalam SNSE diduga dengan menggunakan hasil-J~r;
1:~~~t;;~duduk
(SP) 1990. Dari SP 1990 dapat diperoleh jumlah tenagakerja (lebih tepat: jumlah pekerja) dan banyaknyajam kerja (selama seminggu) masing-masing tenagakerja menurut klasifikasi t~~~~ak~tja dan lapangan :i-isaha; dan--
..-juga golongan rumahtangga. Dengan informasi int, maka dugaan jumlah ETK dapat diperoleh d~11gaILmengali~n-:masipg~n:asing ju~1~-temrgakerja-dengan-jffrrttah•jam
c,.,--·~:.. .. -;/·xP-~·· ~-- + C..- ~_-.-':-\ ••• ~ , ' ·_..,;,.,,, . ! " • . ·~L.·.t-·.· / r•·r -:7--~_1 .. ,._ .... _ _. : .. :, I ..
kerja. \_,· ~
-Pendapatan Tenagakerja Dibayar dan Tidak Dibayar
Seperti telah dijelaskan sebelumnya bahwa tenagakerja dalam SNSE dirinci atas tenagakerja dibayar dan tenagakerja tidak dibayar. Balas jasa bagi tenagakerja dibayar diukur dalam upah dan gaji yang diterima; sedangkan balas jasa bagi tenagakerja tidak dibayar diukur dalam imputasi upah dan gaji. Informasi mengenai upah dan gaji tenagakerja dibayar diperoleh dari hasil survei upah yang dilaksanakan oleh BPS;
sedangkan imputasi upah da~ gaji tenagakerja tidak dibayar dianggap sama dengan upah dan gaji yang diterima oleh tenagakerja dibayar pada klasifikasi tenagakerja dan
• l • •
lapangan usaha yang sama. Jumlah tenagakerja dibayar yang diperoleh berdasarkan . . SP 1990 yang dikalikan _dengan upah dan gaji yang diperoleh dari survei upah akan .
..
me~ghasilkan pendapatan tenagakerja dibayar. Kemudian, jumlah tenagakerja tidak dibayar yang-·<liperoleh dari SP 1990 yang!·dikalikan dengan (imputasi) upah dan gaji
18
yang diperoleh dari survei upah akan menghasilkan pendapatan tenagakerja tidak dibayar. Total upah dan gaji yang diterima oleh tenagakerja 'dibayar pada SNSE, seperti telah dijelaskan sebelumnya, harus sama dengan totaF upah dan gaji (kode 201) pada tabel 1-0. Bila sampai tahap ini kedua total tersebut tidak sama,' rriaka total pendapatan tenagakerja dibayar pada SNSE disesuaikan' dengah total tipah :dan gaji pada tabel I-O. Demikian juga, total pendapatan tenagakerja tidak dibayar pada SNSE harus lebih kecil dari pada total surplus usaha (kode 202) pada tabel 1-0, karena total kode 202 pada tabel I-O mencakup juga surplus usaha (keuntungan), penyusutan dan pajak tidak langsung, selain balas jasa · bagi • faktor produksi tenagakerja tidak dibayar. Bila sampai tahap ini total pendapatan tenagakerja 'tidak dibayar lebih besar dari pada total kode 202, maka total pendapatan tenagakerja tidak dibayar pada SNSE disesuaikan agar tidak menyerap semua total kode 202 pada tabel I-O, setelah besarnya surplus usaha masing-masing sektor atau lapangan usaha dipertimbangkan sebelumnya (lihat metode estimasi mengenai alokasi faktor modal·
di bawah ini).
Pendapatan tenagakerja dibayar dan tidak dibayar dibedakan: a. menurut sektor produksi; dan b. golongan rumahtangga.- Rincian menurut golongan ·rumahtangga akan memberikan informasi mengenai distribusi pendapatan rumahtangga yang berasal dari pendapatan faktor (tenagakerja).
Alokasi Faktor Modal
SNSE mengklasifikasikan faktor produksi menjadi faktor produksi tenagakerja dan faktor produksi modal. Faktor produksi tenagakerja menerima upah dan gaji (termasuk imputasi upah dan gaji) sebagai balas jasa bagi penyertaan faktor produksi tenagakerja dalam kegiatan ekonomi. Sedangkan faktoi.produksi modal (dalarri SNSE disebut juga sebagai faktor produksi bukan tenagakerja:) menerima keuntungan, dividen, bunga, sewa rumah, dsb sebagai balas jasa bagi penyert:aan faktor produksi modal dalam kegiatan ekonomi.
19 Balas jasa yang diterima oleh faktor produksi modal diduga dengan menggunakan berbagai. informasi, seperti:
a. Survei industri;
b. Survei pertambangan;
c. Survei konstruksi;
d. Susenas;
e. Survei Khusus Tabungan dan Investasi Rumahtangga (SKTIR), dsb;
untuk memperkirakan surplus usaha masing-masing sektor atau dari usaha rumahtangga.
Total balas jasa yang diterima oleh faktor produksi modal yang diduga berdasarkan survei-survei tersebut harus sama dengan total kode 202 setelah dikurangi dengan pendapatan tenagakerja tidak dibayar pada tabel I-O. Bila sampai tahap ini kedua total tersebut tidak sama, maka penyesuaian dilakukan dengan mengikuti hasil dari tabel I-O.
Rincian balas jasa yang diterima oleh faktor produksi modal (atau disebut juga sebagai pendapatan kapital) dirinci atas: a. sektor produksi; dan b. golongan rumahtangga. Rincian menurut golongan rumahtangga akan memberikan informasi mengenai distribusi pendapatan rumahtangga yang berrasal dari pendapatan kapital.
Transfer
Transfer dalam SNSE dirinci atas penerimaan dan pengeluaran transfer dari atau kepada: a. rumahtangga; b. perusahaan; c. pemerintah; dan d. luar negeri.
Transfer dari rumahtangga dikeluarkan hanya untuk rumahtangga dan untuk pemerintah .. Transfer yang dikeluarkan oleh rumahtangga untuk rumahtangga, misalnya, adalah pengiriman uang dari satu rumahtangga ke rumahtangga yang lain.
Transfer yang dikeluarkan oleh rumahtangga untuk pemerintah, misalnya, adalah pajak pendapatan, pajak kekayaan (bumi dan bangunan), iuran radio, iuran televisi, pajak kendaraan bermotor, dsb.
. ;
~-w,,-20
Transfer dari perusahaan dikeluarkan untuk rumahtangga, perusahaan, pemerintah, dan juga luar negeri. Transfer yang dikeluarkan oleh perusahaan untuk rumahtangga, misalnya, adalah pemberian barang-barang produksi perusahaan kepada karyawan yang tidak dihitung dalam upah dan gaji, klaim asuransi, dsb. · Transfer yang dikeluarkan oleh perusahaan untuk perusahaan, misalnya, adalah bantuan yang diberikan oleh perusahaan induk kepada anak perusahaan. Transfer yang dikeluarkan oleh perusahaan untuk pemerintah, misalnya, adalah pajak perusahaan, pajak pendapatan perusahaan, dsb. Transfer yang dikeluarkan oleh perusahaan untuk luar negeri, misalnya, adalah bantuan dari perusahaan untuk membantu musibah yang terjadi di luar negeri dan pengeluaran ini termasuk dalam biaya perusahaan.
Transfer dari pemerintah hanya dikeluarkan untuk rumahtangga, pemerintah, dan untuk luar negeri. Transfer yang dikeluarkan oleh pemerintah untuk rumahtangga, misalnya, adalah subsidi kesehatan dan pendidikan. Transfer dari pemerintah ke pemerintah, misalnya, adalah transfer dari p·emerintah .pusat kepada pemerintah daerah. Transfer yang dikeluarkan oleh pemerintah untuk luar negeri, misalnya, adalah pemberian bantuan kemanusiaan bagi negara lain· yang mengalami
musibah, dsb. rz
, "
./
Informasi mengenai transfer rumahtangga diperoleh dari Susenas 199,0~:SKTIR 199,(): Informasi mengenai transfer pemerintah diperoleh dari anggaran belanja dan anggaran rutin pemerintah. Sedangkan informasi mengenai transfer perusahaan diperoleh dari survei industri, dsb. Data mengenai transfer dari luamegeri yang diperoleh pemerintah diperoleh dari Balance of Payments (BOP) Indonesia 1990;
Namun, seringkali dugaan mengenai transfer dalam SNSE lebih merupakan residual atau guessestimates mengingat data mengenai transfer relatif kurang baik tersedia.
Pengeluaran Konsumsi Rumahtangga · ·
Yang dimaksud dengan pengeluaran konsumsi • rumahtangga · adalah pengeluaran rumahtangga untuk barang dan jasa, misalnya untuk sandang, pangan,
21 dan papan; tidak termasuk pengeluaran trans(er karena sudah tercakup dalam neraca transfer rumahtangga. Sumber data utama - yang digunakan untuk menduga
. . . . ~ 5
pengeluaran konsumsi rum_ahtangga adalah Susenas 1990 dan SKTIR 1990. Distribusi pengeluaran konsumsi rumahtangga tersebut kemudian disesuaikan dengan,tabel I-0
7 '. . • - ,.
Indonesia 199fi (kode 301). /, ;, ·
-Pengeluaran Konsumsi Pemerintah
Yang dimaksud dengan pengeluaran konsumsi pemerintah adalah pengeluaran pemerintah untuk barang dan jasa, misalnya untuk upah dan gaji, pembelian alat-alat kantor (ATK), dsb, tidak termasuk pengeluaran transfer karena sudah tercakup dalam neraca transfer pemerintah. Sumber data utama yang digunakan untuk menduga pengeluaran kons~171si pemerintah adalah publikasi neraca keuangan pemerintah yang memuat mengenai pengeluaran pemerintah. Distribusi pengeluaran konsumsi pemerintah tersebut kemudian disesuaikan dengan \~bt?l l:0 Indonesia 199.a; (kode
. t,.\.. ?·· ,i.-l- ~;:_ -->
302) dengan catatan bahwa terdapatsedikit perbedaan konsepsi mengenai pengeluaran pemerintah yang terdapat dalam tabel I-0 dengan SNSE mengenai subsidi kesehatan dan pendidikan (lihat penjelasan sebelumnya).
Tabungan
Pada dasarnya, tabungan juga merupakan neraca residual dalam kerangka
, -,
SNSE Indonesia 1990;" walaupun data mengenai tabungan dapat juga diperoleh,
~ ,
misalnya, dari Susenas 199(f,' SKTIR 1990-· untuk tabungan rumahtangga; survei industri untuk retained earnings perusahaan; neraca keuangan pemerintah pusat dan daerah, untuk tabungan pemerintah. Hal ini dilakukan karena data mengenai tabungan dianggap sebagai data yang relatif lemah.
l
22
Neraca-Neraca Pokok 'SNSE Indonesia 199-0·
' y· '• ! ·\' .,. ". ; . . ,· • ·.
Sebelum tinjauan mengenai keragaan sosial dan ekonomi Indonesia 1990 yang diperoleh dari kerangka . SNSE Indonesia 1990. dilakukan ,·; beber~pa ne~aca pokok yang diperoleh dari. S~SE_ Indonesia 1990 \ntuk menjelaskan m~sal~~masalah keragaan sosial dan ekonomi Indonesia ditampilkan sebagai tab~l-tabel tersendiri.
I I, \ r
' 1 \ .. t j . • •
I I
l.'SNSE Indonesia 1990 Ukuran 12x12
SNSE Indonesia ukuran 12x 12 (Ii hat tabel 3 .1) merupakan agregasi dari SN~E Indonesia 19~0 ukuran 37x37. Kerangka SNSE ini ditampilkan untuk memperi"i~~t~;~
bentuk ketangka SNSE Indonesia secara sangat agregat sehingga keragaan' sosial clan
,.
ekonomi Indonesia selama tahun 1990 dapat diperlihatkan. Penjelasan mengenai klasifikasi neraca SNSE Indonesia ukuran 12x12 ditunjukkari deh tabel 3.2.
Dari tabel 3 .1, misalnya, dapat diperlihatkan bahwa pendapatan faktor produksi tenagakerja Indonesia (dari upah dan gaji ditamb~h dengan imputasi upah
• • •: . • • t ~ C) ~• <",:_ I .>..:) ·. . . . .
dan gaJ1) pada tahun 1990 d1perkirakan sebesar Rp 9A-QR-;t)8 m1har (hhat bar1s 1 kolom 6 pada tabel 3.1); sedang_kap,pendapatan kapital (masih termasuk penyu';utan)
rsb~·t-"-;_.1=~--::- · . . ~ .· ~ ) 1 ~:.;,
diperkirakan sebesar Rp 1Q457"0, 02 mi liar (lihat baris 2 kolom 6 · pada tabel 3 .1).
Jumlah kedua pendapatan tersebut memberikan dugaan Produk Domestik Bruto (PDB)
~;.:·;:~ uj n_c., ) :.
atas dasar biaya faktor (at/actor costs), yaitu sebesar Rp 19.SS-99;10 miliar. Dan bila ,
"1 •• : : . . . ; ~ ~ . ' . • , p-r_ ,.,._,\ /\Le,_ .l-.t.-;.. ...
VU"' ,r ~ \ ! .,.- ' •• , J-... (.,;
-ditambah dengan pajak tidak langsung yang sebesar Rp
12269,44
miliar (yaitu9-mniah
&-•;, (:;.,..\C: 9b?,_!~r o Y!:..-,r) .
1,. ,
( p · . . :~--'":--s::~•Rp 920zr,5111iliar pada baris 11 kolom 8 dan1-Rp 3064,94 miliar pada baris 11 kolom · ;-;, 9 tabel 3.1), maka PDB Indonesia pada ta~un 199.~, tjiperkiraka!]. sebesar Rp
;1c.; 1~~-r-; ~: - • • -- i~-~~-··,_:_-~~-r(~··:.-•._. ~f"":-:;-\~✓.,\-~-~.-'._..,
'A,._..·rrr
2-10866,54-rmhar. v-' · ·
·>
;--:,:J.- (' ,.. . .· ,e-~:..,>I'/-,-Dari tabel 3.1 juga dapat diperlihatkan bahwa total pendapatan rumahtangga (sebelum dikurangi deng~~J~'t-i~ }:argsung dan pengeluaran transfer) pada tahun' 1990;;
diperkirakan sebesar Rp i ~ ~ i l i a r (lihat baris 3 · kolom total pada tabel 3 .1);
dengan rincian penerimaan sebagai berikut:
a. Pendapatan tenagakerja (upah dan gaji termasuk imputasi upah dan gaji) sebesar
'
i
I iI
i
I
, • I • - .-.-.-. -·-•-•··
TABEL 3.1
SISTEM NERACA SOSIAL EKONOMI INDONESIA, 1990 (12xl2) (Rp Miliar)
14.348,63 128.651,83 1.154, 15
12.010,00
4.555,00
31.866,58
41.515,16 359.115,51
7
40.108,53 398.894,95
9
62.644,07 64.789,95
II 12
12.269,42 72.894,51
TOTAL
24
t ,r· '
Rp 94-02'7,12 miliar;
.c~~1 :: .-:~, . ... : ." ..
b. Pendapatan kapital sebesar Rp 49808,87 miliar; . .. ; .
"j 1,l·\ :i 1
-c. Penerimaan transfer dari rnmahtangga sebesar Rp 5130)2 miliar;
, t,•, ',.,,
d. Penerimaan transfer dari perusahaan sebesar Rp
242;-'74
miliar;' / ' .. ( ' '
e. Penerimaan transfer dari pemerintah sebesar Rp $723~37 miliar; dan
/ i
1.,__~ . ' '
f. Penerimaan transfer dari luar negeri sebesar Rp
~5'6.
-~iliar.Neraca
I. Faktor Produksi II. Institusi
III. Sektor Produksi
Tabel 3. 2 -::, Klasifikasi SNSE Indonesia 1990·
Ukuran 12x12
Perincian Kode
1. Tenagakerja 1
2. Modal 2
1. Rumahtangga 3 2. Perusahaan 4 3. Pemerintah 5 IV. Marjin Perdagangan dan Pengangkutan
V. Komoditas Domestik VI. Komoditas Impor VII. Neraca Kapital
VIII. Pajak Tidak Langsung Neto
6 7 8 9 10 11 IX. Neraca Luar Negeri 12
Sedangkan total pengeluaran rumahtangga (lihat kolom 3 baris-baris 3, 5, 8,
X--J:J, ¢
s . :./
9, dan 10 pada tabel 3 .1), diperkirak:an sebesar Rp
1$-854-4,9-8-
miliar (yang sama dengan total pendapatan rumahtangga), dirinci atas:r)'l''.~ 7 --- ... ) f:' .._1,:
a. Pengeluaran transfer untuk rumahtangga sebesar Rp 5-80,-12 miliar; ., ;t.J;, ., 0
":',., .~,,,. / !
b. Pengeluaran transfer untuk pemerintah (atau pajak-langsung) sebesar Rp 1-997
,so-miliar;
25
I b & 'V-/ ;,_/ ~ .'.7 c. Pengeluaran konsumsi untuk komoditas domestik sebesar Rp l--l--7736,97 miliar·
! -:..- 1-S ~: f:. o '
d. Pengeluaran konsumsi untuk komoditas impor sebesar Rp 9-~mtliar;
~~?..!,~
e. Tabungan sebesar Rp 14Cr5, miliar.
Dengan menggunakan tabel 3.1 telah dapat ditunjukkan mengenai besarnya PDB Indonesia, distribusi pendapatan rumahtangga, dan pola pengeluaran
.3
rumahtangga pada tahun 1990-secara sangat agregat. Penjelasan lain mengenai arti masing-masing angka yang terdapat pada tabel 3.1 dapat merujuk kepada tabel 3.3.