• Tidak ada hasil yang ditemukan

Biro Neraca Konsumsi dan Akumulasi. Follow this and additional works at:

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2022

Membagikan "Biro Neraca Konsumsi dan Akumulasi. Follow this and additional works at:"

Copied!
133
0
0

Teks penuh

(1)

Accounts and Data RRI Input-Output Archive

11-1994

Sistem Neraca Sosial Ekonomi Indonesia 1990 - Volume 1 Sistem Neraca Sosial Ekonomi Indonesia 1990 - Volume 1

Biro Neraca Konsumsi dan Akumulasi

Follow this and additional works at: https://researchrepository.wvu.edu/rri_ioacctdata

(2)

l

,.__

:

,_

~

i

~--~-

\

SISTEM NERACA SOSIAL EKONOMI INDONESIA

1990

,.Jilill-1:-:-,

'--

~---

I ,:

!

I

---- ....

(3)

SISTEM NERACA SOSIAL EKONOMI (SNSE) INDONESIA 1990 .Jilid I

ISSN: 0216-6070

No. Publikasi: 06440.9401

Naskah Oleh:

Bagian Neraca Sosial Ekonomi

Biro Neraca Konsumsi dan Akumulasi

Diterbitkan Oleh:

BIRO PDSA T STATISTIK

Dicetak Oleh:

C.V. MULTI GRAHA

..,

~'

(4)

,,,

I

I

:

\

KATA PENGANTAR

',-.-~:-.'

Publikasi Sistem Neraca Sosial Ekonomi (SNSE) Indonesia 1990'merupakan kelanju~n dari p~bJikasi ,s~jenis yan-~ pe~ap di~erb}!kan.19l~h B!ro P:i:!sat Statisti~ .

D.-ll.,-\_ .. .,,.,J..·-..,.·-·,,~--;1}~.l..._,~ .• • .... _ Lr;.,.~-.-'•:···_,._:~.': .. .'_'~·- .. - · - , . - ~ . ' - . > , _ - - , : . , . /

(BPS) untuktahun-tahurr-referensi-1975, -r980, dan 1985. ~ · SNSE merupakan suatu kerangka data yang disusun dalam bentuk matrik yang merangkum berbagai variabel sosial ekonomi secara kompak dan terintegrasi sehingga dapat memberikan gambaran umum mengenai perekonomian suatu negara dan keterkaitan antar variabel-variabel sosial ekonomi tersebut pada suatu waktu tertentu.

Dengan menggunakan SNSE, berbagai informasi sosial ekonomi suatu negara dapat ditelaah, seperti struktur perekonomian, distribusi pendapatan rumahtangga, distribusi pendapatan faktor-faktor produksi, dan lain-lain. Publikasi SNSE Indonesia 1990 :- menyajikan kerangka SNSE Indonesia untuk tahun referensi 199(} · yang menggambarkan keadaan sosial ekonomi masyarakat pada tahun referensi bersangkutan. Selain itu, publikasi ini juga menyajikan perbandingan beberapa data

•1

makro SNSE Indonesia 1990-7clengan data makro SNSE tahun-tahun referensi sebelumnya; dan beberapa analisis yang dapat diperoleh dari kerangka SNSE

·>

Indonesia 199Witu sendiri1 _,,

Semoga publikasi'1JsE Indonesia 1990'merupakan salah satu kontribusi BPS dalam upaya menyebarluaskan informasi data sosial ekonomi makro Indonesia kepada masyar?,kat luas. l(epada semua pihak yang telah berpartisipasi dalam penyusunan

S-NSE

I~d~~';;ia:1996,.kami mengucapkan terima kasih. Kami mengharapkan saran dan kritik membangun dari para pembaca untuk dapat menyajikan suatu publikasi SNSE yang lebih baik pada masa yang akan datang.

Jakarta, Nopember 1994 KEPALA BIRO PDSA T ST A TISTIK

Sugito.t'MA NIP.: 340000452

~

I

---...

(5)

- - - -

/

(6)

\

DAFfAR ISi

Bab Perincian Halaman

...

Kata Pengantar Daftar Isi Daftar Tabel

.

. .

. . . .

.

. . . . .

. . .

. . .

. .

. .

.

. .

.

. . . .

.

. .

.

.

. Daftar Gambar .

. . . .

.

. .

.

. .

.

. . . . . . . . . . . . .

. .

. .

.

. .

.

. .

. I. Pendahuluan . . . . 1. Latar Belakang . . . . 2. Maksud dan Tujuan . . . . 3. Tahap-tahap Penyajian . . . . II. Pengenalan Kerangka SNSE . . . . 1. Pendahuluan . . . . 2. Apa Itu SNSE? . . . . 3. Dasar Pernikiran Pembentukan SNSE . . . . 4. Bentuk dan Arti Kerangka SNSE . . . . 5. Kegunaan SNSE . . . . III. Kerangka SNSE Indonesia 1990 . . . . 1. Klasifikasi . . . . 2. Bentuk

3. Konsep dan Definisi . . . . 4. Metode Estimasi dan Sumber Data . . . . 4.1 Tabel I-O Sebagai Tahap Awai . . . . 4.2 Metode Estimasi dan Sumber Data . . . . 5. Neraca-Neraca Pokok SNSE Indonesia 1990 . . . . 5.1 SNSE Indonesia 1990 Ukuran 12x12 . . . . 5.2 Distribusi Nilai Tambah Menurut Lapangan Usaha . . . . 5.3 Distribusi Ekivalen Tenagakerja . . . . 5.4 Rata-Rata Upah dan Gaji per ETK . . . . 5.5 Distribusi Pendapatan Rumahtangga . . . . 5.6 Pola Pengeluaran Rumahtangga . . . . 6. Tinjauan Hasil-Hasil SNSE Indonesia 1990 . . . . 6.1 Neraca Nasional Terintegrasi . . . . 6.2 Perbandingan Beberapa Agregat Makro Indonesia . . . . 6.3 Distribusi Pendapatan Faktorial . . . .

6.3.1 Distribusi Pendapatan Tenagakerja . . . . 6.3.2 Perbandingan Distribusi Pendapatan Tenagakerja

dan Ekivalen Tenagakerja . . . . 6.3.3 Distribusi Pendapatan Faktor Produksi

Bukan Tenagakerja . . . . 6.3.4 Perbandingan Pendapatan Faktor-Faktor Produksi

Tenagakerja dan Bukan Tenagakerja . . . . 6.3.5 Elastisitas Tenagakerja dan Elastisitas Kapital, 1990

lll lV

vi viii 1 1 2 2 3 3 4

5

7 7 12 12 12 13 15 15 17 22 22 25 29 29 39 45 56 56 61 62 62 64 65 70 71

"'I

I,.

,_____,

(7)

V

6.4 Pendapatan dan Pengeluaran Rumahtangga . . . 75

6.4.1 Gambaran Umum . . . 75

6.4.2 Distribusi Pendapatan Rumahtangga, 1990 . . . 77

6.4.3 Kesenjangan Pendapatan Antar Rumahtangga, 1975-1990 . . . 92 ..

6.4.4 Pendapatan dari Usaha Tani . . . 95

Daftar Pustaka . . . 102

Lampiran-lampiran . . . 104

(8)

\

Tabel

DAFfAR TABEL

Judul Halaman

Tabel 2.1 Kerangka Dasar SNSE . . . 8

Tabel 2.2 Arti Hubungan Antar Neraca Dalam Kerangka SNSE . . . 9

Tabel 3.1 Sistem Neraca Sosial Ekonomi Indonesia 1990 3 (12 X 12) . . . •2-• • • • • • • • • • • • • • • • • • • 23 Tabel 3.2 Klasifikasi SNSE Indonesia 199.0:.'Ukuran 12x12 . . . 24

Tabel 3.3 Arti Kerangka SNSE Indonesia 199<Y(12 x 12) . . . 26

Tabel 3.4 Distribusi Nilai Tambah Menurut Lapangan Usaha . . . 28

Tabel 3.5 Distribusi Pendapatan Tenagakerja . . . 30

Tabel 3.6 Distribusi Pendapatan Bukan Tenagakerja . . . 33

Tabel 3. 7 Distribusi Ekivalen Tenagakerja . . . 36

Tabel 3.8 Distribusi Pendapatan Tenagakerja per ETK . . . 40

Tabel 3.9 Rata-Rata Upah dan Gaji per ETK Menurut Klasifikasi Tenagakerja . . . 43

Tabel 3.10 Rata-Rata Upah dan Gaji per ETK Menurut Lapangan U saha . . . 44

Tabel 3.11 Distribusi Pendapatan Rumahtangga . . . 46

Tabel 3.12 Distribusi Pendapatan Rumahtangga dari Upah dan Gaji . . . . 47

Tabel 3.13 Distribusi Pendapatan Rumahtangga dari Kapital . . . 49

Tabel 3.14 Distribusi Transfer Antar Rumahtangga . . . 51

Tabel 3.15 Pola Pengeluaran Rumahtangga . . . 53

Tabel 3.16 Pengeluaran Konsumsi Rumahtangga Terhadap Komoditas Domestik . . . 54

Tabel 3. 17 Pengeluaran Konsumsi Rumahtangga Terhadap Komoditas Impor . . . ,· . . . 55

Tabel 3.18 Neraca Produksi Indonesia, 1990:;., . . . 56

Tabel 3.19 Neraca Pendapatan dan Pengeluaran Institusi Indonesia, 1990 ,\ . . . : . 58

l, Tabel 3.20 Neraca Kapital Indonesia, 1990 ·· . . . 60

Tabel 3.21 Neraca Luar Negeri, 1990 > . . . • . . . . . . . . . . . . . 60

Tabel 3.22 Perbandingan Beberapa Agregat Makro Berdasarkan . SNSE Indonesia 1975, 1980, 1985, dan 1990 ·':>·:-. : '.:;·':_ .·. . . . 61

Tabel 3.23 Laju Pertumbuhan per Tahun Agregat-Agregat Makro Indonesia . . . 61

Tabel 3.24 Distribusi_ Pendapatan Upah dan G~ji Menurut Klasifikasi Tenagakerja, 1975-19907(Rp Miliar) . . . 66

Tabel ·3.25 Distribusi Pendapatan Upah dan Gaji Menurut Klasifikasi Tenagakerja, 1975-1990.(%) . . . 67

'

(9)

vii

Tabel 3.26 Rata-RataUpah dan Gaji per Tahun Menurut

Klasifikasi Tenagakerja, 1975-1990 ·. . . 68 Tabel 3.27 Banyaknya Ekivalen Tenagakerja Menurut

Klasifikasi Tenagakerja . . . . · . . . 69 Tabel 3.28 Perbandingan PDB Indonesia dan Komponen-komponennya . . 70 Tabel 3.29 Perbandingan Jumlah Ekivalen Tenagakerja, 1975-1990 -~ . . . : '71 Tabel 3.30 Dugaan Elastisitas Tenagakerja dan Elastisitas Kapital

: Menurut Sektor, 1990 ·· . . . ·. . . 75 Tabel !3.31 Sumber Pendapatan dan Pola Pengeluaran Rumahtangga

di Indonesia, 1990 · . . . ; . . . 76 Tabel 3.32 Distribusi Pendapatan per Kapita Dirinci Menurut

Golongan Rumahtangga di Indonesia, 1990 ·-, .- .. -. . . ·. . . 79 Tabel 3.33 Total Pendapatan dan Pengeluaran Rumahtangga Menurut

Golongan Rumahtangga, 1975 . . . ". . . 81 Tabel 3.34 Rata-rata Pendapatan dan Pengeluaran per Kapita

Menurut Golongan Rumahtangga, 1975 . . . 82 Tabel 3.35 Total Pendapatan dan Pengeluaran Rumahtangga Menurut

Golongan Rumahtangga, 1980 . . . 83 Tabel 3.36 Rata-rata Pendapatan dan Pengeluaran per Kapita

Menurut Golongan Rumahtangga, 1980 . . . _:-~ . . . . . 84 Tabel 3.37 Total Pendapatan dan Pengeluaran Rumahtangga Menurut

Golongan Rumahtangga, 1985 . . . :" .. ; . ; . . . . • . 85 Tabel 3.38 Rata-rata Pendapatan dan Pengeluaran per Kapita

Menurut Golongan Rumahtangga, 1985 · . . . ~· . . . 86 Tabel 3.39 Total Pendapatan dan Pengeluaran Rumahtangga Menurut

Golongan Rumahtangga, 1990 . . . · . · 87 Tabel 3.40 Rata-rata Pendapatan dan Pengeluaran per Kapita

Menurut Golongan Rumahtangga, 1990 . . . . : . . . -· 88 Tabel 3.41 Rata-rata Pendapatan per Kapita Menurut Golongan

,-Rumahtangga di Indonesia, 1990 . . . · 93

~ .

Tabel 3.e Perbandingan Pendapatan Antar Rumahtangga

.Selama 1975-1990'; . . . · . . . ;; .. · . . . 96 Tabel 3.43 "Persentase Jumlah Penduduk Menurut Golongan

__ Rumahtangga, 1975-1990 . . . ; . . . . 97 Tabel 3.44-Persentase Jumlah Pendapatan yang Diterima oleh Berbagai

-.~·Golongan Rumahtangga, 1975-1990 . . . 98 Tabel 3.45 Pendapatan Rumahtangga Petani dan Pendapatan

-t ~) J,. ~ -J ...

dari Usaha Tani, 1975-1990 . . . · . . . . : . . . . 101

' ~

I ·- ·t - ~ v i " " ' ·

\ , . , . ' • . / - ·l--_.: \ # ...._ • • • , : , ) : )

;; . ,',.,

,,

t

•"

'

Ir , ;...-•1...__ . f ~ .-, y ( . ._ -.. ~. I .. \ ,' f .~ ( • -T ~ .r •. \ ~ ! i,., ~- (•

7

1"

, '·. f l __ ,.vl'

t· ,-· - I I , ,,

_.,,/

!----< '

..

I . l ,, .'fr•

:,.. f ~ ~ I • · f •••

/::___t,•·~ \--: ', _;,- --r ' . "

.... t ! •\ ''

--~ .., __

\

(10)

viii

Lampiran Tabel 1. Klasifikasi SNSE Indonesia 1990 5

(Ukuran 12xl2) . . . 105 Lampiran Tabel 2. SNSE Indonesia 1990)

(Ukuran 37x37) . . . 106 Lampiran Tabel 3. Klasifikasi SNSE Indonesia 1990· '',

(Ukuran 106x 106) . . . 110 Lampiran Tabel 4. SNSE Indonesia 1990-

?_,

(Ukuran 106x 106) . . . 113

I

(11)

~ , .

Gambar Gambar 2.1 Gambar 3.1 Gambar 3.2 Gambar 3.3 Gambar 3.4 Gambar 3.5

DAFfAR GAMBAR

Judul Halaman

Diagram Sistem Modular SNSE . . . . Marginal Product of Labor (MPL) . . . ; . . . ; ... . Distribusi Pendapatan Rumahtangga , . . . , . . . · Perbandingan Pendapatan per Kapita Menurut

Golongan Rumahtangga, 1975-1990 ':.. . . . . Perbandingan Pengeluaran Konsumsi Akhir Menurut

Golongan Rumahtangga, 1975-1990 - . . . . Perbandingan Tabungan Bruto Menurut Golongan

Rumahtangga 1975-1990

< ... .

6 ... 64 81 89 90 91

(12)

j

BAB I PENDAHULUAN

Latar Belakane

Pelaksanaan pembangunan ekonomi yang dilaksanakan oleh pemerintah Indonesia tidak hanya memperhatikan masalah pertumbuhan ekonomi saja tetapi juga memperhatikan masalah pemerataan, termasuk pemerataan pendapatan. Secara konseptual, masalah pemerataan pendapatan dituangkan dalam butir ketiga pada Delapan Jalur Pemerataan:

1. Pemerataan pemenuhan kebutuhan pokok rakyat banyak, khususnya makanan, pakaian, dan perumahan;

2. Pemerataan kesempatan memperoleh pendidikan dan pelayanan kesehatan;

3. Pemerataan pembagian pendapatan;

4. Pemerataan kesempatan memperoleh pekerjaan;

5. Pemerataan kesempatan berusaha;

6. Pemerataan kesempatan berpartisipasi dalam pembangunan khususnya bagi generasi muda dan kaum wanita;

7. Pemerataan penyebaran pembangunan di seluruh wilayah tanah air;

8. Pemerataan kesempatan memperoleh keadilan.

Biro Pusat Statistik (BPS) sebagai suatu lembaga pemerintah yang bertanggungjawab dalam bidang perstatistikan, sesuai dengan Undang-Undang No.

7 mengenai statistik, telah melakukan berbagai kegiatan pengumpulan, pengolahan,

dan penyajian data, yang dimaksudkan, salah satu, untuk dapat memantau mengenai masalah pemerataan pembagian pendapatan.

Salah satu upaya yang dilakukan oleh BPS untuk memantau perkembangan pemerataan pembagian pendapatan di Indonesia adalah dengan menyajikan dan menerbitkan publikasi data yang disebut sebagai Social Accounting Matrix (SAM) Indonesia yang diterjemahkan ke dalam istilah bahasa Indonesia sebagai Sistem Neraca Sosial Ekonomi (SNSE) Indonesia. Publikasi tersebut telah diterbitkan beberapa kali, yaitu untuk tahun-tahun referensi 1975, 1980, dan 1985. Publikasi

(13)

b-~--

2

yang sekarang merupakan publikasi SNSE Indonesia untuk tahun referensi 1990 yang merupa,kan kelanj-utan dari publikasi-publikasi sebelumnya.

Maksu~d dan Tujuan

Secara umum, publikasi ini dimaksudkan untuk memperkenalkan kerangka SNSE Indonesia tahun referensi 1990 sebagai kelanjutan dari kerangka data SNSE Indonesia tahun-tahun seri sebelumnya. Tujuan publikasi ini adalah untuk memberikan informasi mengenai kinerja (peiformance) sosial-ekonomi Indonesia

"

secara makro pada tahun 1990·; seperti keragaan perekonomian Indonesia, distrib~si

. (

pendapatan faktor-faktor produksi (factorial income distribution), distribusi pendapatan rumahtangga (household income distribution), pola pengeluaran rumahtangga (household expenditure pattern), dsb.

Tahap-Tahap Penyajian

Publikasi ini mencakup tiga bab yang secara garis besar menguraikan hal-hal sebagai berikut:

I. Bab I menjelaskan mengenai latar belakang, maksud dan tujuan publikasi;

2. Bab II memperkenalkan kerangka SNSE secara umum, yang mencakup mengenai

' ' :

pengenalan kerangka SNSE, pengenalan bentuk dan · arti kerangka SNSE, dan kegunaan SNSE;

'?

3. Bab III menjelaskan mengenai kerangka SNSE Indonesia 199H, yaitu mengenai klasifikasi, bentuk, konsep/definisi, metode estimasi, dan sumber data SNSE Indonesia 1990; termasuk tinjauan mengenai hasil-hasil SNSE Indonesia 1990-, seperti mengenai kinerja perekonomian Indonesia, distribusi pendapatan faktorial (faktor-faktor produksi), distribusi pendapatan rumahtangga, pofa pengeluaran rumahtangga, dsb.

(14)

BAB II

PENGENALAN KERANGKA SNSE

Pendahuluan

Pada sekitar 'ai<hir tahun 1930an, para ahli statistik dan perencanaan

,;,1 ''1.--t ' :; . , :.

pembangunan · menyadari perlunya suatu kerangka statistik (statistical framework)

j: { ;_- ,, , ' . ' ' ' , . t ,

yang dapat menggabungkan berbagai indikator-indikator atau ukuran-ukuran pembarigun~n y'ang selama ini disusun secara terpisah dan berdiri sendiri, seperti ukuran-ukura~ produksi, pendapatan, pengeluaran, konsumsi, dsb, kedalam suatu kerangka dasar neraca ekonomi nasional (national accounting framework). Kebutuhan tersebui°dirasakan perlu untuk dapat memperlihatkan keterkaitan antar ukuran-ukuran

," l. : . :

tersebut sehihgga keragaan perekonomian secara nasional dapat dijelaskan · secara simultan.

Richard Stone dan kawan-kawan dari Universitas Cambridge, Inggeris merupakan salah satu perintis yang mengusahakan penggabungan berbagai ukuran- ukuran ekonomi yang terpisah-pisah tersebut ke dalam suatu neraca ekonomi nasional. Basil karya Stone dan kawan-kawan tersebut kemudian dipublikasikan oleh United Nations (1947) dengan judul Measurement of National Income and Construction of Social Accounts: Studies and Reports of Statistical Methods, No. 7.

Kemudian p~blikasf tersebut dise~purnakan oleh United Nations ( 1968) dengan judul A System of National Accounts (SNA), yang kemudian digunakan sebagai referensi oleh banyak negara untuk melakukan kompilasi statistik pendapatan nasional.

Pada periode setelah perang dunia kedua, strategi pertumbuhan ekonomi merup~n · strategi yang banyak dirujuk oleh banyak negara dalam melakukan pemba.I1gu~an ekonomi. Target utama strategi pertumbuhan ekonomi tersebut adalah peningkatan· output sektor-sektor ekonomi. yang dominan sehingga dengan demikian pendapatan nasional negara bersangkutan akan meningkat. Dan melalui proses penetesan ke bawah (trickle down effect) hasil-hasil pembangunan yang diperoleh dengari strategi pertumbuhan ekonomi kemudian akan mengalir kepada masyarakat sehingga kesejahteraan masyarakat secara umum menjadi meningkat.

I

i

ji

i

i!

Ii !i

(15)

}..,

4

Namun, pengalaman yang diperoleh oleh ban yak negara yang mengaplikasikan strategi pertumbuhan ekonomi adalah bahwa pada satu sisi strategi pertumbuhan ekonomi memang meningkatkan pendapatan nasional: tetapi p<;1da. sisi yang lain strategi pertumbuhan ekonomi memunculkan masalah lain yang cukup serius, diantaranya adalah masalah ketidakmerataan pendapatan. Dari pengalama~ te~sebut, banyak negara, termasuk Indonesia, mulai memperhatikan tidak saja masalah

·'

peningkatan pendapatan nasional, tetapi juga memperhatikan masalah pemerataan

. '

pendapatan dalam melaksanakan pembangunan.

Untuk dapat memantau masalah pemerataan pendapatan, banyak konsepsi yang

' ' . . : '

telah direkomendasikan oleh para ahli, diantaranya adalah pengukuran . ketidakmerataan pendapatan atau distribusi pendapatan dengan menggunakan indek Gini (Gini index), ukuran Bank Dunia, atau pun dengan menggunakan kurva Lorenz.

Social Accounting Matrix (SAM) atau yang dikenaljuga sebagai Sistem Neraca Sosial Ekonomi (SNSE) merupakan salah satu cara yang lain untuk memantau masalah distribusi pendapatan.

Apa Itu SNSE?

SAM atau SNSE merupakan suatu kerangka data yang disusun ~alam bentuk matrik yang merangkum berbagai variabel sosial dan ekonomi secara kompak dan

. '

terintegrasi sehingga dapat memberikan gambaran umum mengenai perekonomian . suatu negara dan keterkaitan antar variabel-variabel ekonomi dan sosial pada suatu waktu tertentu. SNSE juga merupakan suatu sistem akuntansi dimana variabel- variabel sosial dan ekonomi disusun dalam bentuk neraca-neraca yang mempunyai sisi

: ;

debet dan sisi kredit dan kedua sisi tersebut selalu berada dalam keadaan seimbang (balance). Dengan menggunakan SNSE, keragaan ekonomi dan sosial sua~u negara~

', •:•

seperti Produk Domestik Bruto (PDB), tabungan, termasuk masalah-masalah distribusi pendapatan, baik distribusi pendapatan rumahtangga maupun distribusi .

:

pendapatan faktorial, dan juga pola pengeluaran rumahtangga, dapat ditelaah.

/

(16)

I l

I

I

' i

;

5 Pada prinsipnya, SNSE dibentuk atas dasar 2 pilar utama:

1. Sebagai suatu sistem kerangka data yang bersifat modular yang dapat menghubungkan variabel-variabel atau pun subsistem-subsistem yang terdapat di dalamnya secara terpadu;

2. Sebagai suatu sistem klasifikasi data yang konsisten dan komprehensif.

·jii''

Dasar Pemikiran Pembentukan SNSE

Titik · awal penyusunan kerangka SNSE dalam menjelaskan hubungan sosial dan ekonomi masyarakat dimulai dari kenyataan bahwa masyarakat mempunyai . kebutuhan dasar (basic needs and wants) yang harus dipenuhi melalui pembelian sejumlah komoditas. Total permintaan efektif terhadap paket komoditas tersebut kemudian dipenuhi oleh sektor-sektor produksi yang menghasilkan berbagai output komoditas-komoditas. Untuk dapat menghasilkan output tersebut, sektor produksi membutuhkan faktor-faktor produksi, seperti tenagakerja, modal dsb. Permintaan turunan (derived demand) terhadap faktorproduksi tenagakerja memberikan balasjasa berupa upah dan gaji; sedangkan terhadap faktor produksi modal memberikan. balas jasa berupa keuntungan, dividen, bunga, sewa rumah, dsb (disebut juga sebagai pendapatan kapital). Distribusi pendapatan yang diterima masing-masing faktor produksi .dan dirinci menurut sektor ekonomi yang menghasilkan disebut sebagai distribusi pendapatan faktorial. Jumlah upah dan gaji ditambah dengan pendapatan kapital akan menghasilkan nilai tambah (value added); dan total nilai tambah tersebut dikenal sebagai PDB.

Kemudian, pendapatan faktorial diterima oleh berbagai aktor-aktor ekonomi, seperti rumahtangga, perusahaan, dan pemerintah. Pendapatan faktorial yang diterima oleh rumahtangga akan memberikan kontribusi bagi pendapatan rumahtangga; dan ini akan menimbulkan distribusi pendapatan rumahtangga. Rumahtangga yang memiliki faktor-faktor produksi yang relatif banyak akan menerima pendapatan yang lebih besar dari pada mereka yang memiliki faktor-faktor produksi yang relatif sedikit.

(17)

~ ...

6

Pendapatan yang diterima oleh masing-masing aktor ekonomi, seperti rumahtangga dibelanjakan sesuai dengan kebutuhan-kebutuhan mereka; sedangkan sisanya ditabung untuk maksud pembentukan modal atau investasi. Bagi rumahtangga, hal m1

',;. ' r ,

menimbulkan apa yang disebut sebagai pola pengeluaran rumahtangga. Secara

, · I ' ( ,

.' •!

diagram, sistem modular SNSE yang menghubungkan masalah-masalah sosial dan

'.\,' •,

ekonomi dalam masyarakat disajikan oleh gambar 2.1.

Kebutuhan Dasar

,I,

Pengeluaran Rumahtangga

,I,

Permintaan Investasi DistribusL Pendapatan

Akhir Rumahtangga

Konsumsi Pemerintah

't 't

Pemerintah

Ekspor, Impor, dan Neraca Pembayaran

I

,I,

Kegiatan Produksi PDB

dan Distribusi Pendapatan

Gambar 2.1

Diagram Sistem Modular SNSE

(18)

7 Oleh karena itu, dalam kerangka SNSE terdapat 3 tahap mapping untuk dapat membedakan proses-proses:

1. Struktur produksi;

2. Distribusi nilai tambah yang dihasilkan oleh sektor produksi (distribusi pendapatan faktorial); dan

3. Konsumsi, tabungan, dan investasi (distribusi pendapatan rumahtangga).

Dengan penjelasan tersebut dapat diperlihatkan bahwa SNSE dibentuk dengan maksud, paling tidak, agar dapat menggambarkan keterkaitan ketiga proses tersebut.

Bentuk dan Arti Keran~lra SNSE

Tabel 2.1 menunjukkan bentuk dasar kerangka SNSE. Kerangka dasar tersebut berbentuk matrik dengan ukuran 4x4. Lajur ke samping (menurut baris) menunjukkan penerimaan; sedangkan lajur ke bawah (menurut kolom) menunjukkan pengeluaran.

Dalam kerangka SNSE terdapat 4 neraca utama, yaitu:

1. Neraca faktor produksi;

2. Neraca institusi;

3. Neraca sektor produksi; dan 4. Neraca lainnya (rest of the world).

Masing-masing neraca tersebut menempati lajur baris dan lajur kolom.

Perpotongan antara suatu neraca dengan neraca yang lainnya memberikan arti tersendiri. Tabel 2.2 memberikan arti secara singkat mengenai masing-masing perpotongan tersebut.

Ke2,unaan SNSE

Kerangka SNSE dapat digunakan sebagai kerangka data yang menjelaskan mengena1:

1. Kinerja pembangunan ekonomi suatu negara, seperti Produk Domestik Bruto

I

(19)

·, :~--..."

8

(PDB), konsumsi, tabungan, dsb;

2. Distribusi pendapatan faktorial, yaitu distribusi pendapatan yang dirinci menurut faktor-faktor produksi, seperti tenagakerja dan modal;

3. Distribusi pendapatan rumahtangga yang dirinci menurut berbagai golongan rumahtangga;

4. Pola pengeluaran rumahtangga (household expenditure pattern).

Tabel 2.1 Kerangka Dasar SNSE

Pengeluaran

Penerimaan Faktor Institusi Sektor Neraca Total

Produksi Produksi Lainnya

Faktor

Produksi 0 0 Tu T1.4 . t1

Institusi T2.1 T2.2 0 T2.4 t2

Sektor

Produksi 0 T3_2 T3_3 T3.4 t3

Neraca

Lainnya T4.1 T4.2 T4.3 T4.4 t4

Total t' I t' 2 t' 3

t\

7

(20)

9

Tabel 2.2

Arti Hubungan Antar Neraca Dalam Kerangka SNSE

Pengeluaran

Penerimaan Faktor Sektor Neraca Total

Produksi Institusi 'Produksi Lainnya

Faktor Alokasi Pendapatan Distribusi

Produksi 0 0 Nilai Faktor Pro- Pendapatan

Tambah duksi dari Faktorial ke Faktor Luar Negeri

Produksi

Institusi Alokasi Transfer Transfer Distribusi

Pendapatan Antar 0 dari Luar Pendapatan

Faktor Institusi Negeri Institusional

Produksi ke Ins ti tusi

Sektor Permintaan Permintaan Ekspor dan Total Output

Produksi 0 Akhir Antara Investasi

Neraca Alokasi Impor Transfer Total Pene-

Lainnya Pendapatan Tabungan dan rimaan

Faktor Pajak Neraca Lain- Lainnya

Produksi Tidak nya

ke Luar Langsung Negeri

Disamping itu, SNSE juga merupakan suatu sistem kerangka data yang mungkin digunakan sebagai dasar pembuatan suatu model ekonomi dan juga sebagai

' \

dasar analisis, baik untuk analisis partial (punial equiblirium) maupun analisis keseimbangan umum (general equilibrium) dalam melakukan analisis kebijakan.

' ,'t

1. Kinerja Perekonomian Nasional

Kinerja perekonomian nasional ditunjukkan, misalnya, dari nilai tambah yang ditimbulkan oleh berbagai sektor ekonomi (neraca T13 pada tabel 2.1) yang memberikan gambaran mengenai besarnya PDB nasional atas dasar harga faktor

(21)

~

"·-

10

(PDB at factor costs) pada tahun tertentu. Bila ditambah dengan pajak tidak langsung akan menghasilkan PDB atas dasar harga berlaku. Keragaan perekonomian nasional yang lain yang dapat ditunjukkan oleh kerangka SNSE, misalnya, adalah tabungan nasional.

2. Distribusi Pendapatan Faktorial

Distribusi pendapatan faktorial dalam kerangka SNSE ditunjukkan oleh baris neraca pertama pada kerangka umum mengenai SNSE (lihat tabel 2.1 dan tabel 2.2).

Seperti telah ditunjukkan oleh tabel 2.2 bahwa neraca Tu menunjukkan alokasi nilai tambah yang dihasilkan oleh berbagai sektor produksi ke faktor-faktor produksi, yaitu

,,

sebagai balas jasa dari penggunaan faktor-faktor produksi tersebut, misalnya upah dan gaji sebagai balas jasa bagi penggunaan faktor produksi tenagakerja; keuntungan, dividen, bunga, sewa rumah, dsb sebagai balas jasa bagi penggunaan faktor produksi kapital, yang diperoleh dari berbagai sektor produksi. Bila ditambah dengan neraca T1.4 yang menunjukkan pendapatan faktor produksi yang diterima dari Juar negeri,.

maka total kedua penerimaan ini menunjukkan distribusi pendapatan faktorial.

3. Distribusi Pendapatan Rumahtangga

Distribusi pendapatan rumahtangga dalam kerangka SNSE ditunjukkan oleh baris neraca kedua pada kerangka umum mengenai SNSE (lihat tabel 2.1 dan tabel

;

2.2). Salah satu institusi dalam kerangka SNSE adalah rumahtangga. · Seperti telah ditunjukkan oleh tabel 2.2 bahwa neraca T2 _1 menunjukkan alokasi pendapatan faktor

' ' '

produksi yang diterima oleh berbagai institusi, salah satu oleh rumahtangga. Dengan

' '

perkataan lain, neraca ini merupakan mapping dari neraca Tu m~njadi neraca .. T2 _1,

yaitu mapping dari pendapatan faktorial menurut sektor-sektor ekonomi menjadi pendapatan institusi, salah satu adalah rumahtangga, menurut faktor-faktor produksi.

, . .;.

Sementara itu, neraca T2_2 menunjukkan pembayaran transfer (trarzsfer . payment) an tar institusi, misalnya, pemberian subsidi dari pemerintah kepada rumah-

(22)

l

-,

11 tangga, atau pemberian subsidi dari perusahaan kepada rumahtangga, atau pembayaran transfer dari rumahtangga ke rumahtangga yang lain. Sedangkan neraca T2_4 menunjukkan penerimaan ketiga institusi dari luar negeri. Jumlah ketiga neraca T2.1, T2_2, dan T2.4 yang berhubungan dengan rumahtangga menggambarkan distribusi pendapatan rumahtangga.

4. Pola Pengeluaran Rumahtangga

Pola pengeluaran menurut golongan rumahtangga dalam kerangka SNSE dapat dilihat pada neraca kolom masing-masing golongan rumahtangga (kolom institusi pada tabel 2.1 atau tabel 2.2). Pada rincian ini dapat diperoleh informasi mengenai pola pengeluaran rumahtarigga menurut berbagai komoditas, baik komoditas domestik

· maupun komoditas impor. Dari informasi ini dapat juga diperlihatkan besarnya tabungan masing-masing golongan rumahtangga.

(23)

BAB III

KERANGKA SNSE INDONESIA 1990

Klasifikasi

Dalam publikasi ini, SNSE Indonesia 1990 disusun dengan menggunakan 2 klasi fikasi:

1. Klasifikasi agregat berukuran 37x37; dan 2. Klasifikasi agregat berukuran 106x106.

Klasifikasi yang berukuran 37x37 merupakan agregasi dari klasifikasi 106x106; atau sebaliknya, klasifikasi 10?x106 merupakan perincian dari klasifikasi

r

37x37. Klasifikasi SNSE Indonesia 1990 dibuat sama dengan klasifikasi kerangka SNSE Indonesia tahun-tahun referensi sebelumnya (1975, 1980, .dan 1985) yang dimaksudkan agar perbandingan antar tahun referensi tersebut dapat dilakukan secara mudah.

·~

Pada dasarnya, klasifikasi SNSE Indonesia 1990-, baik yang berukuran 37x37 maupun yang berukuran 106x106 terdiri dari empat neraca utama, yaitu:

1. Faktor produksi;

2. Institusi;

3. Sektor produksi;

4. Neraca lainnya.

Perbedaan antara kedua klasifikasi tersebut terletak pada perbedaan perincian masing-masing neraca utama. Dengan demikian, klasifikasi SNSE Indonesia 1990,) berukuran 106x106 akan memberikan klasifikasi masing-masing neraca utama secara lebih rinci dari pada yang diberikan oleh klasifikasi 37x37. Lampiran tabel 1 menyaji- kan klasifikasi SNSE Indonesia 199.cfherukuran 12x12; sedangkan lampiran tabel 3 menyajikan klasifikasi berukuran 106x106.

Bentuk

~

Kerangka SNSE Indonesia 1990~ seperti juga kerangka SNSE Indonesia seri- seri tahun sebelumnya, disajikan dalam bentuk matrik bujur sangkar dimana kolom

(24)

.J I

j

13 pada _ kerangka tersebut menunjukkan pengeluaran, sedangkan _baris menunjukkan penerimaan, mengikuti bentuk kerangka dasar SNSE seperti telah dijelaskan pada bab II (lihat tabel 2.1). Publikasi ini menampilkan dua bentuk kerangka SNSE _______ _!~donesia 1990, mengikuti dua klasifikasi yang tersedia, yaitu:

1. Kerangka.SNSE Indonesia 1990 ukuran 37x37; dan

2. Kerangka SNSE Indonesia 1990 ukuran 106x106. .

Lampiran tabel 2 menyajikan kerangka SNSE Indonesia 199.0 ukuran 37x37;

sedangkan lampiran tabel 4 menyajikan kerangka SNSE Indonesia 199.0 ukuran 106x106.

Konsep dan Definisi 1. Rumahtangga

Pengertian rumahtangga dalam kerangka SNSE mengikuti konsep rumahtangga yang digunakan oleh BPS, yaitu sekelompok orang yang tinggal dalam satu atap dan makan dari satu dapur. Perbedaan pengertian rumahtangga dalam kerangka SNSE dengan yang digunakan dalam survei atau sensus yang dilaksanakan oleh BPS adalah bahwa rumahtangga dalam SNSE masih diklasifikasikan lagi menjadi golongan-. . J golongan rumahtangga. Dalam kerangka SNSE Indonesia 1990., ukuran 37x37, rumahtangga dirinci menjadi 6 golongan rumahtangga (lihat lampiran tabel l);

sedangkan dalam ukuran 106x106 dirinci menjadi 10 golongan rumahtangga (lihat lampiran tabel 4). Penjelasan golongan rumahtangga dalam kerangka SNSE, baik untuk ukuran 37x37 maupun untuk ukuran 106x106, adalah sebagai berikut:

1. Rumahtangga buruh tani, yaitu rumahtangga dengan kepala rumahtangga atau penerima pendapatan terbesar bekerja sebagai buruh tani;

2. Rumahtangga pengusaha pertanian, yaitu rumahtangga dengan kepala rumahtangga atau penerima pendapatan terbesar yang menerima pendapatan dari hasil mengusahakan lahan pertanian (agricultural operators). Golongan rumahtangga ini dapat diklasifikasikan lagi atas mereka yang memiliki lahan pertanian

(25)

14

kurang dari 0,5 ha (disebut sebagai petani gurem); 0,501-1 ha; atau lebih dari 1

ha· -i

'

3. Rumahtangga golongan rendah adalah golongan rnmahtangga bukari pertanian dengan kepala rumahtangga atau penerima pendapatan terbesar bekerja .· sebagcti_ ____ _

---~

pengusaha bebas golongan rendah, tenaga tata usaha golongtlll rendah',' pedagang keliling, pekerja bebas sektor angkutan (seperti supir bis, kondektur bis), pekerja bebas sektor jasa perorangan, pekerja kasar. Golongan rumahtangga ini dirinci lagi menjadi mereka yang bertempattinggal di pedesaan dan di kota;

4. Rumahtangga golongan atas adalah golongan rumahtangga bukan pertanian dengan kepala rumahtangga atau penerima pendapatan terbesar bekerja sebagai pengusaha bebas (bukan pertanian) golongan atas, manajer, profesional (seperti akuntan, dokter), militer, guru/dosen/guru besar, pekerja tata usaha dan penjualan golongan atas. Golongan rumahtangga ini dirinci lagi menjadi mereka yang berdomisili di pedesaan dan di kota.

2. Pendapatan Rumahtangga

Pendapatan rumahtangga adalah pendapatan yang diterima oleh rumahtangga bersangkutan, baik yang berasal dari pendapatan kepala rumahtangga -rriaupun pendapatan anggota-anggota rumahtangga.

3. Anggota Rumahtangga

Anggota rumahtangga adalah mereka yang bertempat:..tinggal dan menjadi tanggungan rumahtangga bersangkutan. Anggota rumahtangga yang telah berdomisili di wilayah lain lebih dari enam bulan dianggap bukan lagi menjadi anggota rumahtangga tersebut.

4. Tabungan

Tabungan adalah pendapatan rumahtangga yang tidak. dikonsumsi habis.

(26)

l l

15 Tabungan merupakan selisih pendapatan dengan pengeluaran rumahtangga. Dalam kerangka SNSE, tabungan rumahtangga masih merupakan konsep bruto karena masih mengandung unsur_ penyusutan barang modal yang digunakan untuk usaha rumahtangga.

5. Ekivalen Tenagakerja

. Ukuran tenagakerja yang digunakan dalam SNSE disebut sebagai ekivalen tenagakerja (worker equivalents atau ETK). Ukuran ini mendefinisikan bahwa 1 (satu) ETK sama dengan 1 (satu) tenagakerja yang bekerja selama 40 jam seminggu.

Sehingga, bila seorang tenagakerja bekerja kurang dari 40 jam seminggu, maka te~agakerja tersebut dihitung sebagai kurang dari 1 (satu) ETK; demikian juga sebaliknya. Dalam SNSE, jumlah ETK dihitung untuk masing-masing klasifikasi tenagakerja (seperti tenagakerja profesional, tenagakerja pertanian, dsb) dan untuk masing-masing lapangan usaha. Dengan demikian, seorang tenagakerja (misalnya tenagakerja profesional) yang bekerja selama 20 jam di sektor A dan 20 jam di sektor B akan dihitung sebagai 0,5 ETK di sektor Adan 0,5 ETK di sektor B. Ukuran ETK

; ,, '

dimaksudkan untuk ~apat menangkap adanya tenagakerja yang bekerja di beberapa sektor; atau untuk menangkap adanya tenagakerja yang bekerja kurang atau lebih dari

. \ . . ' .

jam kerja normal (40 jam seminggu). Jumlah tenagakerja yang digunakan dalam tabel

: ' . ~~ . '

I-O ,d~~it~~g. dalam ukuran orang; sehingga jumlah tenagakerja yang disajikan oleh SNSE akan berbeda dengan yang disajikan oleh tabel I-O.

!( . ' ' .

Metode Estimasi dan Sumber Data 1. Tabel 1-0 sebagai Tahap Awai

·>

Untuk menyusun kerangka SNSE Indonesia 1990, ·tabel Input-Output (tabel I-O) Indonesia 1990 ·djg~_ryakan sebagai dasar untuk menyusun neraca-neraca lainnya·

dalam kerangka SNSE. Oleh karena itu, agregat-agregat makro yang diperoleh dari

' . .

kerangka SNSE Indonesia 19QO akan sama dengan yang diperoleh dari tabel I-O

(27)

16

Indonesia 1990. Namun-demikian, terdapat beberapa perbedaan konsepsi antara kerangka SNSE dengan tabel I-O:

a. Dalam kerangka SNSE, tenagakerja dibagi atas 2 ~dua)' klasifikasi, yaitu: a.

tenagakerja dibayar (paid workers); dan b. tenagakerja tidak dibayar (unpaid workers). Tenagakerja dibayar adalah tenagakerja yang terlibat dalam kegiatan ekonomi sebagai faktor produksi tenagakerja dan mereka memperoleh upah dan gaji sebagai balas jasa bagi faktor produksi yang mereka benkan. Sedangkan tenagakerja tidak dibayar adalah tenagakerja yang terlibat · dalam kegiatan ekonomi sebagai faktor produksi tenagakerja tetapi mereka tidak memperoleh ' sama sekali upah dan gaji sebagai balas jasa faktor produksi mereka; contohnya.

adalah pekerja keluarga (unpaidfamily workers); atau mereka tidak meinperbleh . upah dan gaji karena balas jasa bagi faktor produksi teriagakerja mereka' sudah

' , '

tercakup dalam surplus usaha (keuntungan) dari usaha :yarig -mereka lakukan,' contohnya adalah mereka yang bekerja sendiri (self employed workers).' Total' . balas jasa yang diperoleh tenagakerja dibayar yang' dinilai dalarri be~tuk 'upafrdan'·

gaji dalam SNSE akan sama dengan total upah clan gaji yang terdapat'dalarri tabel , I-O (kode 201). Balas jasa yang diperoleh oleh tenagakerja tidak dib'ayar; dal~ni, . SNSE, dinilai dalam bentuk imputasi upah dan gaji (imputed wages and sal~ries):'·' - Dalam tabel I-O, total balas jasa ini tidak dimunculkan sebagai sa'tu komp~nen ·,

- . . , ' ; ' . ~ ( . ! ' : ' ·. .

tersendiri tetapi digabung dalam komponen surplus usaha' (operating surplus), yaitu kode 202 dalam tabel I-O. Dengan perbedaan konsepsi ini, maka' total upah dan gaji yang terdapat dalam tabel I-O (yaitu kode 201) hanya akan sama dengan total upah dan gaji yang diterima oleh tenagakerja dibayar dalam SNSE.

b. Sebagian pengeluaran pemerintah untuk kesehatan dari pendidikan, yaitu yang berupa subsidi, dicatat dalam SNSE sebagai pengeluaran 'transfer pemerintah yang diberikan kepada rumahtangga. Dalam tabel I-O, pengeluaran pemerintah tidak dipisahkan atas pengeluaran subsidi dan pengelu~ran konsu~sC serilua;';

, , ·:l 1, , 1·:·.;r ;·:- -.

diklasifikasikan dalam satu kategori saja, yaitu pen·geluaran pemerintah (kode 303

t

¥

(28)

17 . , dalam tabel I-O). Pada sisi yang lain, pengeluaran pemerintah yang berupa subsidi tersebut akan merupakan penerimaan bagi rumahtangga, yang kemudian oleh rumahtangga dikeluarkan lagi sebagai pengeluaran untuk kesehatan dan pendidikan. Dengan demikian, pengeluaran rumahtangga dalam SNSE akan lebih besar dari pada yang terdapat dalam tabel I-O (kode 301).

2. Metode Estimasi. dan Sumber Data

Jumlah Ekivalen Tenagakerja

. : \ . ',;.. "/'_ -,' ~ \

. Jumlah. ekivalen t~nagakerja (ETK) ;dalam SNSE diduga dengan menggunakan hasil-J~r;

1:~~~t;;~duduk

(SP) 1990. Dari SP 1990 dapat diperoleh jumlah tenagakerja (lebih tepat: jumlah pekerja) dan banyaknyajam kerja (selama seminggu) masing-masing tenagakerja menurut klasifikasi t~~~~ak~tja dan lapangan :i-isaha; dan

--

..

-

juga golongan rumahtangga. Dengan informasi int, maka dugaan jumlah ETK dapat diperoleh d~11gaILmengali~n-:masipg~n:asing ju~1~-temrgakerja-dengan-jffrrttah•jam

c,.,--·~:.. .. -;/·xP-~·· ~-- + C..- ~_-.-':-\ ••• ~ , ' ·_..,;,.,,, . ! " • . ·~L.·.t-·.· / r•·r -:7--~_1 .. ,._ .... _ _. : .. :, I ..

kerja. \_,· ~ -

Pendapatan Tenagakerja Dibayar dan Tidak Dibayar

Seperti telah dijelaskan sebelumnya bahwa tenagakerja dalam SNSE dirinci atas tenagakerja dibayar dan tenagakerja tidak dibayar. Balas jasa bagi tenagakerja dibayar diukur dalam upah dan gaji yang diterima; sedangkan balas jasa bagi tenagakerja tidak dibayar diukur dalam imputasi upah dan gaji. Informasi mengenai upah dan gaji tenagakerja dibayar diperoleh dari hasil survei upah yang dilaksanakan oleh BPS;

sedangkan imputasi upah da~ gaji tenagakerja tidak dibayar dianggap sama dengan upah dan gaji yang diterima oleh tenagakerja dibayar pada klasifikasi tenagakerja dan

l •

lapangan usaha yang sama. Jumlah tenagakerja dibayar yang diperoleh berdasarkan . . SP 1990 yang dikalikan _dengan upah dan gaji yang diperoleh dari survei upah akan .

..

me~ghasilkan pendapatan tenagakerja dibayar. Kemudian, jumlah tenagakerja tidak dibayar yang-·<liperoleh dari SP 1990 yang!·dikalikan dengan (imputasi) upah dan gaji

(29)

18

yang diperoleh dari survei upah akan menghasilkan pendapatan tenagakerja tidak dibayar. Total upah dan gaji yang diterima oleh tenagakerja 'dibayar pada SNSE, seperti telah dijelaskan sebelumnya, harus sama dengan totaF upah dan gaji (kode 201) pada tabel 1-0. Bila sampai tahap ini kedua total tersebut tidak sama,' rriaka total pendapatan tenagakerja dibayar pada SNSE disesuaikan' dengah total tipah :dan gaji pada tabel I-O. Demikian juga, total pendapatan tenagakerja tidak dibayar pada SNSE harus lebih kecil dari pada total surplus usaha (kode 202) pada tabel 1-0, karena total kode 202 pada tabel I-O mencakup juga surplus usaha (keuntungan), penyusutan dan pajak tidak langsung, selain balas jasa · bagi • faktor produksi tenagakerja tidak dibayar. Bila sampai tahap ini total pendapatan tenagakerja 'tidak dibayar lebih besar dari pada total kode 202, maka total pendapatan tenagakerja tidak dibayar pada SNSE disesuaikan agar tidak menyerap semua total kode 202 pada tabel I-O, setelah besarnya surplus usaha masing-masing sektor atau lapangan usaha dipertimbangkan sebelumnya (lihat metode estimasi mengenai alokasi faktor modal·

di bawah ini).

Pendapatan tenagakerja dibayar dan tidak dibayar dibedakan: a. menurut sektor produksi; dan b. golongan rumahtangga.- Rincian menurut golongan ·rumahtangga akan memberikan informasi mengenai distribusi pendapatan rumahtangga yang berasal dari pendapatan faktor (tenagakerja).

Alokasi Faktor Modal

SNSE mengklasifikasikan faktor produksi menjadi faktor produksi tenagakerja dan faktor produksi modal. Faktor produksi tenagakerja menerima upah dan gaji (termasuk imputasi upah dan gaji) sebagai balas jasa bagi penyertaan faktor produksi tenagakerja dalam kegiatan ekonomi. Sedangkan faktoi.produksi modal (dalarri SNSE disebut juga sebagai faktor produksi bukan tenagakerja:) menerima keuntungan, dividen, bunga, sewa rumah, dsb sebagai balas jasa bagi penyert:aan faktor produksi modal dalam kegiatan ekonomi.

(30)

19 Balas jasa yang diterima oleh faktor produksi modal diduga dengan menggunakan berbagai. informasi, seperti:

a. Survei industri;

b. Survei pertambangan;

c. Survei konstruksi;

d. Susenas;

e. Survei Khusus Tabungan dan Investasi Rumahtangga (SKTIR), dsb;

untuk memperkirakan surplus usaha masing-masing sektor atau dari usaha rumahtangga.

Total balas jasa yang diterima oleh faktor produksi modal yang diduga berdasarkan survei-survei tersebut harus sama dengan total kode 202 setelah dikurangi dengan pendapatan tenagakerja tidak dibayar pada tabel I-O. Bila sampai tahap ini kedua total tersebut tidak sama, maka penyesuaian dilakukan dengan mengikuti hasil dari tabel I-O.

Rincian balas jasa yang diterima oleh faktor produksi modal (atau disebut juga sebagai pendapatan kapital) dirinci atas: a. sektor produksi; dan b. golongan rumahtangga. Rincian menurut golongan rumahtangga akan memberikan informasi mengenai distribusi pendapatan rumahtangga yang berrasal dari pendapatan kapital.

Transfer

Transfer dalam SNSE dirinci atas penerimaan dan pengeluaran transfer dari atau kepada: a. rumahtangga; b. perusahaan; c. pemerintah; dan d. luar negeri.

Transfer dari rumahtangga dikeluarkan hanya untuk rumahtangga dan untuk pemerintah .. Transfer yang dikeluarkan oleh rumahtangga untuk rumahtangga, misalnya, adalah pengiriman uang dari satu rumahtangga ke rumahtangga yang lain.

Transfer yang dikeluarkan oleh rumahtangga untuk pemerintah, misalnya, adalah pajak pendapatan, pajak kekayaan (bumi dan bangunan), iuran radio, iuran televisi, pajak kendaraan bermotor, dsb.

. ;

~-w,,-

(31)

20

Transfer dari perusahaan dikeluarkan untuk rumahtangga, perusahaan, pemerintah, dan juga luar negeri. Transfer yang dikeluarkan oleh perusahaan untuk rumahtangga, misalnya, adalah pemberian barang-barang produksi perusahaan kepada karyawan yang tidak dihitung dalam upah dan gaji, klaim asuransi, dsb. · Transfer yang dikeluarkan oleh perusahaan untuk perusahaan, misalnya, adalah bantuan yang diberikan oleh perusahaan induk kepada anak perusahaan. Transfer yang dikeluarkan oleh perusahaan untuk pemerintah, misalnya, adalah pajak perusahaan, pajak pendapatan perusahaan, dsb. Transfer yang dikeluarkan oleh perusahaan untuk luar negeri, misalnya, adalah bantuan dari perusahaan untuk membantu musibah yang terjadi di luar negeri dan pengeluaran ini termasuk dalam biaya perusahaan.

Transfer dari pemerintah hanya dikeluarkan untuk rumahtangga, pemerintah, dan untuk luar negeri. Transfer yang dikeluarkan oleh pemerintah untuk rumahtangga, misalnya, adalah subsidi kesehatan dan pendidikan. Transfer dari pemerintah ke pemerintah, misalnya, adalah transfer dari p·emerintah .pusat kepada pemerintah daerah. Transfer yang dikeluarkan oleh pemerintah untuk luar negeri, misalnya, adalah pemberian bantuan kemanusiaan bagi negara lain· yang mengalami

musibah, dsb. rz

, "

./

Informasi mengenai transfer rumahtangga diperoleh dari Susenas 199,0~:SKTIR 199,(): Informasi mengenai transfer pemerintah diperoleh dari anggaran belanja dan anggaran rutin pemerintah. Sedangkan informasi mengenai transfer perusahaan diperoleh dari survei industri, dsb. Data mengenai transfer dari luamegeri yang diperoleh pemerintah diperoleh dari Balance of Payments (BOP) Indonesia 1990;

Namun, seringkali dugaan mengenai transfer dalam SNSE lebih merupakan residual atau guessestimates mengingat data mengenai transfer relatif kurang baik tersedia.

Pengeluaran Konsumsi Rumahtangga · ·

Yang dimaksud dengan pengeluaran konsumsi • rumahtangga · adalah pengeluaran rumahtangga untuk barang dan jasa, misalnya untuk sandang, pangan,

(32)

21 dan papan; tidak termasuk pengeluaran trans(er karena sudah tercakup dalam neraca transfer rumahtangga. Sumber data utama - yang digunakan untuk menduga

. . . . ~ 5

pengeluaran konsumsi rum_ahtangga adalah Susenas 1990 dan SKTIR 1990. Distribusi pengeluaran konsumsi rumahtangga tersebut kemudian disesuaikan dengan,tabel I-0

7 '. . • - ,.

Indonesia 199fi (kode 301). /, -;, · -

Pengeluaran Konsumsi Pemerintah

Yang dimaksud dengan pengeluaran konsumsi pemerintah adalah pengeluaran pemerintah untuk barang dan jasa, misalnya untuk upah dan gaji, pembelian alat-alat kantor (ATK), dsb, tidak termasuk pengeluaran transfer karena sudah tercakup dalam neraca transfer pemerintah. Sumber data utama yang digunakan untuk menduga pengeluaran kons~171si pemerintah adalah publikasi neraca keuangan pemerintah yang memuat mengenai pengeluaran pemerintah. Distribusi pengeluaran konsumsi pemerintah tersebut kemudian disesuaikan dengan \~bt?l l:0 Indonesia 199.a; (kode

. t,.\.. ?·· ,i.-l- ~;:_ -->

302) dengan catatan bahwa terdapatsedikit perbedaan konsepsi mengenai pengeluaran pemerintah yang terdapat dalam tabel I-0 dengan SNSE mengenai subsidi kesehatan dan pendidikan (lihat penjelasan sebelumnya).

Tabungan

Pada dasarnya, tabungan juga merupakan neraca residual dalam kerangka

, -,

SNSE Indonesia 1990;" walaupun data mengenai tabungan dapat juga diperoleh,

~ ,

misalnya, dari Susenas 199(f,' SKTIR 1990-· untuk tabungan rumahtangga; survei industri untuk retained earnings perusahaan; neraca keuangan pemerintah pusat dan daerah, untuk tabungan pemerintah. Hal ini dilakukan karena data mengenai tabungan dianggap sebagai data yang relatif lemah.

(33)

l

22

Neraca-Neraca Pokok 'SNSE Indonesia 199-0·

' y· '• ! ·\' .,. ". ; . . ·.

Sebelum tinjauan mengenai keragaan sosial dan ekonomi Indonesia 1990 yang diperoleh dari kerangka . SNSE Indonesia 1990. dilakukan ,·; beber~pa ne~aca pokok yang diperoleh dari. S~SE_ Indonesia 1990 \ntuk menjelaskan m~sal~~masalah keragaan sosial dan ekonomi Indonesia ditampilkan sebagai tab~l-tabel tersendiri.

I I, \ r

' 1 \ .. t j . • •

I I

l.'SNSE Indonesia 1990 Ukuran 12x12

SNSE Indonesia ukuran 12x 12 (Ii hat tabel 3 .1) merupakan agregasi dari SN~E Indonesia 19~0 ukuran 37x37. Kerangka SNSE ini ditampilkan untuk memperi"i~~t~;~

bentuk ketangka SNSE Indonesia secara sangat agregat sehingga keragaan' sosial clan

,.

ekonomi Indonesia selama tahun 1990 dapat diperlihatkan. Penjelasan mengenai klasifikasi neraca SNSE Indonesia ukuran 12x12 ditunjukkari deh tabel 3.2.

Dari tabel 3 .1, misalnya, dapat diperlihatkan bahwa pendapatan faktor produksi tenagakerja Indonesia (dari upah dan gaji ditamb~h dengan imputasi upah

• • •: . • t ~ C) ~• <",:_ I .>..:) ·. . . . .

dan gaJ1) pada tahun 1990 d1perkirakan sebesar Rp 9A-QR-;t)8 m1har (hhat bar1s 1 kolom 6 pada tabel 3.1); sedang_kap,pendapatan kapital (masih termasuk penyu';utan)

rsb~·t-"-;_.1=~--::- · . . ~ ~ ) 1 ~:.;,

diperkirakan sebesar Rp 1Q457"0, 02 mi liar (lihat baris 2 kolom 6 · pada tabel 3 .1).

Jumlah kedua pendapatan tersebut memberikan dugaan Produk Domestik Bruto (PDB)

~;.:·;:~ uj n_c., ) :.

atas dasar biaya faktor (at/actor costs), yaitu sebesar Rp 19.SS-99;10 miliar. Dan bila ,

"1 •• : : . . . ; ~ ~ . ' . , p-r_ ,.,._,\ /\Le,_ .l-.t.-;.. ...

VU"' ,r ~ \ ! .,.- ' •• , J-... (.,; -

ditambah dengan pajak tidak langsung yang sebesar Rp

12269,44

miliar (yaitu

9-mniah

&-•;, (:;.,..

\C: 9b?,_!~r o Y!:..-,r) .

1,. ,

( p · . . :~--'":--s::~•

Rp 920zr,5111iliar pada baris 11 kolom 8 dan1-Rp 3064,94 miliar pada baris 11 kolom · ;-;, 9 tabel 3.1), maka PDB Indonesia pada ta~un 199.~, tjiperkiraka!]. sebesar Rp

;1c.; 1~~-r-; ~: - • • -- i~-~~-··,_:_-~~-r(~··:.-•._. ~f"":-:;-\~✓.,\-~-~.-'._..,

'A,._..·rrr

2-10866,54-rmhar. v-' · ·

·>

;--:,:J.- (' ,.. . .· ,e-~ :..,>I'/-,-

Dari tabel 3.1 juga dapat diperlihatkan bahwa total pendapatan rumahtangga (sebelum dikurangi deng~~J~'t-i~ }:argsung dan pengeluaran transfer) pada tahun' 1990;;

diperkirakan sebesar Rp i ~ ~ i l i a r (lihat baris 3 · kolom total pada tabel 3 .1);

dengan rincian penerimaan sebagai berikut:

a. Pendapatan tenagakerja (upah dan gaji termasuk imputasi upah dan gaji) sebesar

'

i

I i

I

i

I

(34)

, • I - .-.-.-. -·-•-•··

TABEL 3.1

SISTEM NERACA SOSIAL EKONOMI INDONESIA, 1990 (12xl2) (Rp Miliar)

2 3 4 5 6 7

8 9 10 11 12

94.027,12 2

49.808,87 43.207,88 1.937,79

10.773,95 3

5.130,12

1.997,80

117.736,97 9.593,94 24.085,95

TOTAL I 94.027,12 105.728,49 158.544,78 4

242,74 1.296,71 2l.121,26

19.667,51

7.519,83

49.848,05

5

5.723,37

3.724,01 6

94.027,08 104.570,02

14.348,63 128.651,83 1.154, 15

12.010,00

4.555,00

31.866,58

41.515,16 359.115,51

7

40.108,53 8

359.115,32 30.575, 13

9.204,50

40.108,53 398.894,95

9

9.533,40

3.064,94 50.045,73

10

44.760,40 20.029,55

(J

62.644,07 64.789,95

II 12

1.158,47 3.612,56

\ 5.343,46 I ;

12.269,42 \ 464,88 -..._

53.288,65

9.026,49

12.269,42 72.894,51

TOTAL

94.027,08 105.728,49 158.544,78 49.848,05 41.515,16 359.115,32 40.108,53 398.895,01 62.644,22 64.789,95 12.269,44 72.894,51

N t,.l

(35)

24

t ,r· '

Rp 94-02'7,12 miliar;

.c~~1 :: .-:~, . ... : ." ..

b. Pendapatan kapital sebesar Rp 49808,87 miliar; . .. ; .

"j 1,l·\ :i 1 -

c. Penerimaan transfer dari rnmahtangga sebesar Rp 5130)2 miliar;

, t,•, ',.,,

d. Penerimaan transfer dari perusahaan sebesar Rp

242;-'74

miliar;

' / ' .. ( ' '

e. Penerimaan transfer dari pemerintah sebesar Rp $723~37 miliar; dan

/ i

1.,__~ . ' '

f. Penerimaan transfer dari luar negeri sebesar Rp

~5'6.

-~iliar.

Neraca

I. Faktor Produksi II. Institusi

III. Sektor Produksi

Tabel 3. 2 -::, Klasifikasi SNSE Indonesia 1990·

Ukuran 12x12

Perincian Kode

1. Tenagakerja 1

2. Modal 2

1. Rumahtangga 3 2. Perusahaan 4 3. Pemerintah 5 IV. Marjin Perdagangan dan Pengangkutan

V. Komoditas Domestik VI. Komoditas Impor VII. Neraca Kapital

VIII. Pajak Tidak Langsung Neto

6 7 8 9 10 11 IX. Neraca Luar Negeri 12

Sedangkan total pengeluaran rumahtangga (lihat kolom 3 baris-baris 3, 5, 8,

X--J:J, ¢

s . :./

9, dan 10 pada tabel 3 .1), diperkirak:an sebesar Rp

1$-854-4,9-8-

miliar (yang sama dengan total pendapatan rumahtangga), dirinci atas:

r)'l''.~ 7 --- ... ) f:' .._1,:

a. Pengeluaran transfer untuk rumahtangga sebesar Rp 5-80,-12 miliar; ., ;t.J;, ., 0

":',., .~,,,. / !

b. Pengeluaran transfer untuk pemerintah (atau pajak-langsung) sebesar Rp 1-997

,so-

miliar;

(36)

25

I b & 'V-/ ;,_/ ~ .'.7 c. Pengeluaran konsumsi untuk komoditas domestik sebesar Rp l--l--7736,97 miliar·

! -:..- 1-S ~: f:. o '

d. Pengeluaran konsumsi untuk komoditas impor sebesar Rp 9-~mtliar;

~~?..!,~

e. Tabungan sebesar Rp 14Cr5, miliar.

Dengan menggunakan tabel 3.1 telah dapat ditunjukkan mengenai besarnya PDB Indonesia, distribusi pendapatan rumahtangga, dan pola pengeluaran

.3

rumahtangga pada tahun 1990-secara sangat agregat. Penjelasan lain mengenai arti masing-masing angka yang terdapat pada tabel 3.1 dapat merujuk kepada tabel 3.3.

2. Distribusi Nilai Tambah Menu~t Lapangan Usaha

Bila dari. tabel 3 .1 telah dapat diperkirakan besarnya PDB Indonesia pada tahun 1990, tabel 3.4 menyajikan informasi lebih Ianjut mengenai distribusi PDB yang dirinci menurut lapangan usaha dan komponen-komponen PDB (yaitu upah dan gaji, pendapatan kapital, dan pajak tidak langsung neto). Dari tabel 3.4, misalnya, dapat ditunjukkan bahwa PDB Indonesia yang diperkirakan sebesar Rp

~ll,:14

1 -:...

miliar Oihat baris dan kolom total pada tabel 3.4), selain dapat dirinci menurut komponen-komponen PDB, juga dapat dirinci menurut lapangan usaha, seperti dari:

a. Sektor pertanian tanaman pangan sebesar Rp ~ miliar;

b. Sektor pertanian tanaman lainnya sebesar Rp ~ miliar;

dan seterusnya sampai dengan sektor jasa perseorangan, rumahtangga, dan jasa lainnya 'yang menyumbang nilai tambah sebesar Rp 614e,3-2-miliar kepada PDB ··

Indonesia tahun 1990.

.'~r ~-

:i_

Tabel 3.4 merupakan tabel yang diekstrak dari kerangka··sNSE Indonesia 1990- ukuran 106xl06 (lihat lampiran tabel 4), yaitu dengan mengagregasi faktor produksi tenagakerja, dan faktor produksi modal menjadi satu komponen saja (pada kerangka

·1.,

SNSE Indonesia 199,0', faktor produksi tenagakerja dirinci atas 16 klasifikasi;

seda11gkan faktor produksi modal dirin,~i atas 7 klasifikasi. Pajak tidak langsung neto, pact'aJcerangka SNSE Indonesia 1990, merupakan rincian satu baris sehingga tidak perlu diagregasi).

Referensi

Dokumen terkait

Walaupun mengalami kesulitan cukup besar dalam mengkoordinasikan sistem Palapa-A yang pertama (Palapa-1 dan Palapa-2) dengan sistem satelit lain pada tahun 1974, semisal

Perbedaan Inggris dan USA secara tajam diungkap oleh Self 22 adalah bahwa di Inggris, fragnientasi tersebut setnata-mata diakibatkan terutarna oleh institusi penierintah pusat

Tttjuan dari penampilan tabel-tabel ini adalah untuk memberikan gambaran tentang final demand dan output ( open clan closed model) di salah satu region, yaitu

Walaupun demikian, periode pasca PD II juga ditandai oleh niunculnya super power lain, yakni Uni Soviet (sampai saat pecahnya tahun 1991) serta great power baru seperti Cina (RRC),

Pada tahun 1976 Indonesia menjadi negara ketiga di dunia yang mengoperasikan Sistem Komunikasi Satelit Domestik dengan menggunakan Satelit GSO, yakni sistem Palapa A.. Sistem

11,3 milyar, dengan laju pertunibuhan pada 2006 (sampai bulan Agustus) mencapai 31,5 persen lebih tinggi dibandingkan pada 2005 (15,64 %). Peningkatan ekspor komoditas

a) Kebijakan otoritas untuk mempertahankan stabilitas nilai tukar dengan menerapkan sistem nilai tukar managed floating telah mengakibatkan nilai tukar riil keluar dari

Mengingat di Indonesia abortus sudah diatur dalam KUHP, sungguhpun pengaturannya bersifat kaku dan ketat, maka upaya yang perlu dilakukan adalah menyadarkan masyarakat Indonesia