• Tidak ada hasil yang ditemukan

Eksekusi Benda Jaminan yang Dibebani Hak Tanggungan Pada Debitur Pailit

EKSEKUSI BENDA JAMINAN YANG DIBEBANI HAK TANGGUNGAN PADA DEBITUR PAILIT

C. Eksekusi Benda Jaminan yang Dibebani Hak Tanggungan Pada Debitur Pailit

Pasal 59 Undang-undang Kepailitan dan Penundaan Kewajiban Pembayaran Utang (UUKPKPU), UU No. 37 Tahun 2004, menyatakan: “(1) Dengan tetap memperhatikan ketentuan Pasal 56, Pasal 57, dan Pasal 58, Kreditor pemegang hak sebagaimana dimaksud dalam Pasal 55 ayat 1 harus melakukan haknya tersebut dalam jangka waktu paling lambat 2 (dua) bulan setelah dimulainya insolvensi sebagaimana dimaksud dalam Pasal 178 ayat 1. (2) Setelah lewat jangka waktu sebagaimana dimaksud pada ayat (1), Kurator harus menuntut diserahkannya benda yang menjadi agunan untuk selanjutnya dijual sesuai dengan cara sebagaimana dimaksud dalam Pasal 185 ayat 1 Undang-Undang No. 37 Tahun 2004 tentang kepailitan dan penundaan kewajiban pembayaran utang, tanpa mengurangi hak kreditor pemegang hak tersebut atas hasil penjualan agunan tersebut. (3) Setiap waktu Kurator dapat membebaskan benda yang menjadi agunan dengan membayar jumlah terkecil antara harga pasar jumlah agunan dan jumlah utang yang dijamin dengan benda agunan tersebut kepada Kreditor yang bersangkutan.

Ketentuan Pasal 59 UUKPKPU ini bertentangan dengan Pasal 21 Undang- Undang Hak Tanggungan (UUHT). Menurut Pasal 21 UUHT yang menentukan bahwa apabila pemberi Hak Tanggungan dinyatakan pailit, maka pemegang Hak Tanggungan tetap berwenang melakukan segala hak yang diperolehnya menurut

ketentuan UUHT. Dengan demikian berarti bahwa Pasal 59 UUKPKPU mengambil dengan sewenang-wenang hak dari kreditur pemegang hak tanggungan yang dijamin oleh UUHT. Keadaan yang demikian menunjukkan adanya konflik norma yang menimbulkan ketidakpastian hukum bagi pelaku ekonomi khususnya pemegang hak jaminan antara UUKPKPU dengan UUHT yang mengatur tentang hak kreditur separatis.

Dengan adanya konflik norma diperlukan suatu asas untuk menyelesaikan yaitu lex specialis derogate legi generalis (Undang-Undang Khusus mengalahkan Undang-Undang yang umum). Asas ini menunjuk kepada 2 (dua) peraturan perundang-undangan yang secara hierarkis mempunyai kedudukan yang sama. Akan tetapi ruang lingkup materi muatan antara kedua peraturan perundang-undangan itu tidak sama, yaitu yang satu merupakan pengaturan secara khusus dari yang lain merupakan pengaturan secara umum.151

Didalam konteks eksekusi objek jaminan hak tanggungan milik debitur yang telah dinyatakan pailit oleh suatu pengadilan yang telah berkekuatan hukum tetap, maka ketentuan khusus (lex specialis) yang berlaku dalam pelaksanaan eksekusi tersebut adalah Undang-Undang No. 37 Tahun 2004 tentang kepailitan dan penundaan kewajiban pembayaran utang. Didalam pelaksanaan eksekusi objek jaminan hak tanggungan milik debitur yang telah dinyatakan pailit oleh keputusan pengadilan yang telah berkekuatan hukum tetap tersebut maka proses eksekusi dilakukan dengan cara eksekusi lelang. Namun sebelum proses eksekusi lelang

dilakukan, Undang-Undang No. 37 Tahun 2004 masih memberikan ruang yang cukup untuk sebuah perdamaian antara para pihak yang bersengketa dalam hal ini antara pihak kreditur dan debitur. Waktu yang disediakan untuk perdamaian adalah paling lambat 8 (delapan) hari sebelum rapat pencocokan piutang di kepaniteraan pengadilan setempat. Dan bisa ditunda sampai rapat berikut yangtanggalnya ditetapkan oleh Hakim Pengawas paling lambat 21 (dua puluhsatu).152

Untuk dapat mengusulkan agar perusahaan debitur pailitdilanjutkan maka harus berdasarkan ketentuan; disetujui oleh kredituryang mewakili lebih dari ½ (satu perdua) dari semua piutang yang diakuidan diterima dengan sementara, yang tidak dijamin dengan hak gadai,jaminan fidusia, hak tanggungan, hipotek, atau hak agunan atas kebendaanlainnya. Apabila ini terjadi, maka dengan sendirinya demi hukum hartapailit berada dalam keadaan insolvensi.153

Dalam hal pembagian hasil eksekusi, kreditur pemegang hak jaminan pada prinsipnya mendapat kedudukan didahulukan dibandingkandengan kreditur lainnya. Kedudukan didahulukan diatur juga dalam Pasal 1133 ayat (1) KUH Perdatamenyebutkan bahwahak untuk didahulukan diantara orang-orang berpiutang terbit dari hak istimewa, dari gadai dan dari hipotik. Dimanaapabila debitur wansprestasi (ingkar janji), kreditur pemegang hak tanggungan akan mempunyai hak yang didahulukan dalam pelunasan piutangnya dibandingkan dengan kreditur lain

152Pasal 147 Undang-Undang No. 37 Tahun 2004 tentang Kepailitan dan Penundaan

Kewajiban Pembayaran Utang.

153Pasal 180 ayat 1 Undang-Undang No. 37 Tahun 2004 tentang Kepailitan dan Penundaan

yang tidak memegang haktanggungan. Sifat pemenuhan piutang yang didahulukan ini disebut dengan kreditur seperatis/preferen. Sebaliknya kreditur yang tidak mempunyai hak yang didahulukan, dimana diantara kreditur-kreditur ini mempunyai kedudukan yang samaantara yang satu sama lainnya yang tidak memegang hak tanggungan, disebut dengan kreditur konkuren.

Dalam hal pelaksanaan penjualan objek haktanggungan, kreditur pemegang hak tanggungan berdasarkan Pasal 59 ayat (1) Undang-Undang No. 37 Tahun 2004 tentang KPKPU diberi tenggangwaktu dua bulan kreditur harus dapat menjual obyek hak tanggungan. Apabila dalam jangka waktu 2 ( dua ) bulan kreditur pemegang haktanggungan tidak dapat menjual obyek hak tanggungan, kreditur pemegang hak tanggungan harus menyerahkan obyek hak tanggungan kepada kurator untuk dijual dcngan cara sebagaimana dimaksud dalam Pasal185 Undang-undang No. 37 Tahun 2004 Tentang KPKPU, danhasil penjualan obyek hak tanggungan akan dibayarkan kepada krediturpemegang hak tanggungan.154

Dengan ketentuan Pasal 59 ayat (1) dan (2) Undang-Undang No. 37Tahun 2004 Tentang KPKPU ini telah membatasi wewenang kreditur pemegang hak tanggungan untuk melaksanakan hak-haknya berdasarkanPasal 20 ayat 1 Undang- Undang No. 4 Tahun 1996 Tentang HakTanggungan. Sebagai ketentuan yang tidak mengakui keberadaan hak separatis daripemegang hak tanggungan :

“Ketentuan sebagaimana ditentukan dalam Pasal 56 ayat 3 danPasal 59, bukan saja rnenegaskan dan meperjelas sikap UUKepailitan yang tidak mengakui

154Pasal 59 ayat 2 Undang-Undang No. 37 Tahun 2004 tentang Kepailitan dan Penundaan

hak separatis dari krediturpemegang hak jaminan (termasuk pemegang hak tanggungan, daripenulis), karena memasukkan benda-benda yang dibebani Hakjaminan sebagai harta pailit, tetapi juga sekaligus telah tidak mengakui dan merenggut hak kreditur pemegang hak jaminanuntuk dapat mengeksekusi sendiri hak jaminannya, yaitu dengancara menjual benda-benda yang telah dibebani Hak Jaminan itu.”

Seandainya obyek hak tanggungan yang dijual oleh kreditur pemegang hak tanggungan berdasarkan Pasal 20 ayat 1 Undarng-UndangNo. 4 Tahun 1996 Tentang Hak Tanggungan jauh dibawah harga pasar, maka sudah menjadi resiko kreditur pemegang hak tanggungan untuk menerima pelunasan sebagai kreditur konkuren. Eksekusi hak tanggungan dapat ditunda eksekusinya apabila penundaan itu akan lebihmenguntungkan. Mungkin saja penundaan tersebut disebabkan oleh kesepakatan yang dibuat antara kreditur dan Kurator, namun perlu diingat kesempatan kreditur pemegang hak tanggungan hanya dua bulan, setelah lewat dua bulan kreditur pemegang hak tanggungan tidak berwenang lagiuntuk menjual obyek hak tanggungan.155Berdasarkan Pasal 59 ayat 3 Undang-undang Kepailitan ditentukan bahwa setiap waktu Kurator dapat membebaskan barang agunan dengan membayar kepada kreditor (kreditur pemegang hak tanggungan) yang bersangkutan jumlah terkecil antara harga pasar barang agunan dan jumlah hutang yang dijamin dengan barang agunan tersebut. Kurator mempunyai wewenang melunasi hutang debitur terhadap kreditur pemegang hak tanggungan sehingga obyek hak tanggungan berada

dalam penguasaan kurator secara penuh, dengan ketentuan pembayaran kepada krediturpemegang hak tanggungan tersebut dengan harga yang terkecil.156.

Ketentuan ini akan menimbulkan permasalahan tentang pihak yang dapat menentukan harga pasar apakah kurator atau debitur, hal ini akan berkaitan dengan harga obyek hak tanggungan yang hendak dijual dalam perkara kepailitan (harga likuidasi/liquidation price) seringkali lebihrendah dibandingkan dengan apabila obyek hak tanggungan dijual dalamkeadaan normal (harga pasar/market price)

Apabila kurator benar-benar melaksanakan wewenangnya, misalnya dengan membayar kreditur sesuai dengan harga pasar yang lebih rendah dibandingkan dengan jumlah hutang, tentunya akan merugikan kreditur pemegang hak tanggungan. Apabila ditelaah secara seksama tindakan kurator ini adalah bertujuan agar harta pailit yang ada dalam penguasaan kurator menjadi lebih besar, sehingga dapat diharapkan dapat menguntungkan kreditur secara umum (seluruh kreditur).

156Pasal 59 ayat 3 Undang-Undang No. 37 Tahun 2004 tentang Kepailitan dan Penundaan

BAB V