• Tidak ada hasil yang ditemukan

Kendala-Kendala Yang Dihadapi Oleh Kreditur Separatis Dalam Mengeksekusi Objek Hak Tanggungan Pada Debitur Pailit

EKSEKUSI BENDA JAMINAN YANG DIBEBANI HAK TANGGUNGAN PADA DEBITUR PAILIT

A. Kendala-Kendala Yang Dihadapi Oleh Kreditur Separatis Dalam Mengeksekusi Objek Hak Tanggungan Pada Debitur Pailit

Hak Tanggungan atas tanah beserta benda-benda yang berkaitan dengan tanah yang selanjutnya disebut Hak Tanggungan, adalah hak jaminan yang dibebankan pada hak atas tanah sebagaimana dimaksud di dalam Undang-Undang No. 5 Tahun 1960 tentang Peraturan Dasar Pokok-Pokok Agraria, berikut atau tidak berikut benda- benda lain yang merupakan satu kesatuan dengan tanah itu untuk pelunasan hutang tertentu yang memberikan kedudukan yang diutamakan kepada kreditur tertentu terhadap kreditur-kreditur lain.136

Dalam Pasal 6 UUHT No. 4 Tahun 1996 disebutkan bahwa, “Apabila debitur cidera janji, pemegang hak tanggungan pertama mempunyai hak untuk menjual objek Hak Tanggungan atas kekuasaan sendiri melalui pelelangan umum serta mengambil pelunasan piutangnya dari hasil penjualan tersebut”. Selanjutnya menurut Pasal 21 UUHT No. 4 Tahun 1996 menyebutkan bahwa, “Apabila pemberi hak tanggungan dinyatakan pailit, pemegang hak tanggungan tetap berwenang melakukan segala hak yang diperolehnya menurut ketentuan UUHT No. 4 Tahun 1996”.

Pemberi hak tanggungan dapat sebagai debitur dan dapat pula hanya sebagai orang ketiga yang bertindak sebagai penjamin. Dalam hal pemberi hak tanggungan

136 Surahman Aditya, 2012, Hak Tanggungan dan Kreditu Preferen Dalam UUHT No. 4

bertindak juga sebagai debitur, maka dari kedua pasal tersebut di atas yaitu Pasal 6 dan Pasal 21 UUHT No. 4 Tahun 1996 dapat dikatakan bahwa pemegang hak tanggungan selaku kreditur pemegang hak tanggungan pertama dapat mengeksekusi aset pemberi hak tanggungan selaku debitur meskipun debitur telah dinyatakan pailit. Undang-Undang No. 37 Tahun 2004 tentang Kepailitan dan Penundaan Kewajiban Pembayaran Utang mendukung ketentuan dalam Undang-Undang Hak Tanggungan No. 4 Tahun 1996 agar eksekusi hak tanggungan oleh pemegang hak tanggungan dapat mengeksekusi haknya seolah-olah tidak terjadi kepailitan.137

Penyelesaian melalui lembaga kepailitan ini diharapkan dapat memberikan keamanan dan jaminan terlaksananya kepentingan pihak-pihak yang berkepentingan, yaitu debitur dan kreditur. Namun demikian, harapan penyelesaian utang melalui lembaga kepailitan dapat menjamin kepentingan para pihak, ada kemungkinan kurang dirasakan sepenuhnya oleh kreditur seperatis. Hal ini disebabkan adanya pengaturan tentang pembatasan hak-hak kreditur seperatis, yang pada akhirnya dianggap kurang melindungi kedudukan kreditur separatis.138

Dalam proses pengurusan dan pemberesan harta pailit dijumpai beberapa hal berkaitan dengan Daftar Pembagian yang diusulkan oleh Kurator kepada Hakim Pengawas selanjutnya disetujui dengan Penetapan Hakim Pengawas tentang Penetapan Daftar Pembagian. Apabila para pihak tidak menerimanya, maka mereka

137Pasal 55 ayat 1 Undang-Undang No. 37 Tahun 2004 tentang Kepailitan dan Penundaan

Kewajiban Pembayaran Utang.

138 Ketentuan yang mengatur hak-hak kreditur seperatis antara lain Pasal 55, 56, dan 59

dapat mengajukan keberatan kepada Pengadilan yang akan diputus oleh Majelis Hakim yang ditunjuk oleh Ketua Pengadilan Niaga. Ternyata dalam Penetapan Hakim Pengawas maupun Majelis Hakim tersebut di dapat hal yang tidak sesuai dengan Pasal 55 ayat (1) Undang-Undang No. 37 Tahun 2004, yaitu kreditur seperatis tidak mendapatkan secara utuh hasil penjualan lelang akan tetap masih harus berbagi dengan kreditur lainnya yang kedudukannya bukan kreditur seperatis.139

Ketentuan yang secara limitatif diatur dalam Undang-Undang No.37 Tahun 2004 diterobos dalam praktek. Penyelesaian pembagian harta pailit kepada pada debitur menjadi berbeda daripada yang diatur dalam Undang-Undang.

Dalam Pasal 56 Undang-Undang No. 37 Tahun 2004 tentang Kepailitan dan Penundaan Kewajiban Pembayaran Utang terdapat hambatan untuk melaksanakan hak eksekusi yang diberikan oleh UUHT No. 4 Tahun 1996 tersebut yaitu “dengan adanya penundaan serta pembatasan waktu terhadap pelaksanaan eksekusi objek jaminan Hak Tanggungan tersebut maka hak eksekusi dari kreditur separatis tidak serta merta dapat langsung dilaksanakan seketika itu juga saat debitur telah dinyatakan pailit oleh Pengadilan Niaga, karena disebutkan bahwa hak eksekusi kreditur sebagaimana dimaksud dalam Pasal 55 ayat (1) Undang-Undang No. 37 Tahun 2004 tentang Kepailitan dan Penundaan Kewajiban Pembayaran Utang dan hak pihak ketiga untuk menuntut hartanya yang berada dalam pengawasan debitur

139 Titik Tejaningsih, 2015, Perlindungan Hukum Terhadap Kreditor Saparatis Dalam

Pengurusan Dan Pemberesan Harta Pailit, Disertasi Program Doktor (S-3) Ilmu Hukum Program Pascasarjana, Fakultas Hukum Universitas Islam Indonesia, Yogyakarta, hal. 134

pailit atau kurator ditangguhkan untuk jangka waktu paling lama 90 (sembilan puluh) hari sejak tanggal pernyataan pailit tersebut diucapkan”.140

Kreditur seperatis yang memiliki hak jaminan baik yang diikat oleh hak tanggungan, fidusia, hipotik dan gadai berdasarkan Pasal 55 ayat (1) Undang-Undang Nomor 37 Tahun 2004 tentang Kepailitan dan Penundaan Kewajiban Pembayaran Utang berhak mengeksekusi barang jaminannya seolah-olah tidak terjadi kepailitan, namun didalam prakteknya, apabila debitur pailit maka kreditur harus melapor dan mendaftarkan objek jaminan yang diikat oleh Hak Tanggungan, Fidusia, Gadai dan Hipotek pada kurator agar jaminan piutang tersebut diakui oleh Pengadilan, hal ini berlaku untuk semua jenis kreditur termasuk kreditur separatis dan konkuren. Dan wajib menyerahkan kepada kurator dalam jangka waktu tertentu.141

Pranata hukum yang disebut sebagai penangguhan eksekusi jaminan hutang (stay) atau cool down period atau regal moratorium terjadi karena hukum (by the operation of law), tanpa perlu diminta sebelumnya oleh kurator. Dengan adanya masa penangguhan selama 90 (sembilan puluh) hari kreditur separatis tidak dapat dengan segera melaksanakan hak eksekusinya terhadap asset jaminan debitur untuk memperoleh pengembalian utang debitur dari hasil penjualan asset. Hak eksekusi

140 Rahayu Hartini, 2012, Hukum Kepailitan, Universitas Muhammadiyah Malang, Malang,

hal 36.

141 Pasal 56 Undang-Undang No. 37 Tahun 2004 tentang Kepailitan dan Penundaan

tersebut dapat dilaksanakan setelah debitur dinyatakan dalam keadaan insolvensi serta dibatasi hanya dalam waktu dua bulan sejak keadaan insolvensi.142

Penangguhan eksekusi objek jaminan hak tanggungan ditujukan untuk memperbesar kemungkinan tercapainya perdamaian, memperbesar kemungkinan mengoptimalkan harta pailit, dan memungkinkan kurator melaksanakan tugasnya secara optimal.143 Tetapi hal ini menjadi salah satu kendala bagi kreditur separatis untuk dapat segera mendapatkan hak piutangnya terhadap asset debitur. Kreditur separatis diberi hak untuk melawan penangguhan eksekusi objek jaminan hak tanggungan, tetapi walaupun sedang mengajukan perlawanan, kreditur separatis tetap harus melaksanakan hak eksekusinya dalam waktu 2 (dua) bulan sejak debitur dinyatakan dalam insolvensi.144

Perhitungan waktu 2 (dua) bulan tersebut tidak dapat dihentikan sementara kreditur separatis mengajukan perlawanan terhadap penangguhan eksekusi. Tetapi tidak tertutup kemungkinan kondisi ideal tersebut tidak tercapai sebagaimana mestinya. Berdasarkan penjelasan-penjelasan tersebut di atas dapat dilihar bahwa adanya disharmonisasi antara Undang-Undang Hak Tanggungan No. 4 Tahun 1996 dengan Undang-Undang No. 37 Tahun 2004 tentang Kepailitan dan Penundaan Kewajiban Pembayaran Utang. UUHT No. 4 Tahun 1996 menjamin terpenuhinya hak eksekusi pemegang hak tanggungan meskipun pemberi hak tanggungan telah

142Pasal 59 ayat 1 Undang-Undang No. 37 Tahun 2004 tentang Kepailitan dan Penundaan

Kewajiban Pembayaran Utang.

143 M. Hadi Subhan, 2012,Kepailitan, Primsip, Norma, dan Praktek di Peradilan,Kencana,

Jakarta, hal 70.

144 Ahmad Yani dan Gunawan Wijaya, 2012, Hukum Bisnis (Kepailitan), Pustaka Utama,

dinyatakan pailit, namun Undang-Undang No. 37 Tahun 2004 tentang Kepailitan dan Penundaan Kewajiban Pembayaran Utang mengingkarinya dengan menunda pelaksanaan eksekusi objek jaminan Hak Tanggungan selama 90 (Sembilan puluh) hari sejak debitur dinyatakan pailit melalui putusan pengadilan yang telah berkekuatan hukum tetap serta membatasi pelaksanaan eksekusi hanya dalam waktu 2 (dua) bulan sejak debitur dinyatakan dalam keadaan insolvensi, walaupun pemegang hak tanggungan sedang dalam upaya hukum melakukan perlawanan penangguhan.

Dengan adanya ketentuan dari Undang-Undang Kepailitan yang membatasi pelaksanaan eksekusi atas jaminan yang dibebani hak tanggungan, maka diperlukan suatu asas untuk menyelesaikan masalah yaitu asas lex specialis derogate legi generalis, yaitu ketentuan mana yang dianggap sebagai ketentuan umum dan mana dianggap ketentuan khusus.145

Apabila dicermati ketentuan diatas maka dapat disimpulkan ketika di dalam praktek pada saat debitur dinyatakan pailit berdasarkan putusan Pengadilan maka yang berlaku adalah dalam hukum kepailitan, sehingga ketentuan dalam Undang- Undang Kepailitanatas objek jaminan yang diikat dengan gadai, fidusia, hak tanggungan dan hipotek merupakan bentuk khusus (lex specialis derogate ) dari ketentuan jaminan secara umum (legi generalis) sebagaimana diatur dalam Pasal

145Munir Fuady, 2005, Hukum Pailit dalam Teori dan Praktek,Citra Aditya Bakti, Bandung,

1131 KUHPerdata dan Pasal 1132 KUHPerdata dan Undang-Undang Hak Tanggungan No. 4 Tahun 2004.146

Namun demikian, Undang – Undang No.37 Tahun 2004 merupakan penerapan lebih lanjut dari Pasal 1131 KUHPerdata dan Pasal 1132 KUHPerdata. Di samping kendala-kendala yang dihadapi oleh kreditur separatis dalam mengeksekusi objek jaminan yang diikat oleh hak tanggungan, kendala lain juga dihadapi oleh Balai Harta Peninggalan selaku Kurator dalam menjalankan tugasnya untuk melakukan pengurusan dan pemberesan terhadap harta/boedel kekayaan debitur pailit. Kendala- kendala yang dihadapi antara lain:147

1. Kurangnya pemahaman instansi terkait, sehingga proses penetapan putusan pailit dari Pengadilan Niaga terlambat datangnya dan kadang – kadang menyebabkan asset pailit rusak atau habis.

2. Debitur pailit kadangkala tidak diketahui keberadaannya sehingga Kurator mengalami hambatan untuk mengetahui keberadaan harta debitur pailit. Dan jika Kurator telah mengetahui dimana asset kekayaan debitur pailit, kadangkala pihak – pihak yang bekerja untuk debitur menghalang-halangi Kurator untuk melakukan inventarisasi harta debitur pailit.Dan aset yang dikira milik debitur pailit ternyata hanya asset yang disewa oleh debitur. Kendala lainnya adalah agar

146Wawancara dengan Syuhada, Anggota Tehnis Hukum Balai Harta Peninggalan Medan.

Wawancara dilakukan pada hari Selasa tanggal 13 Desember 2016.

147 Pasal 1131 KUH Perdata berbunyi: Segala barang-barang bergerak dan barang-barang

tidak bergerak milik Debitur, baik yang sudah ada maupun yang aka nada, menjadi jaminan untuk perikatan-perikatan perorangan debitur itu. Selanjutnya, Pasal 1132 berbunyi: Barang-barang itu menjadi jaminan bersama bagi semua kreditur terhadapnya; hasil penjualan barang-barang itu dibagi menurut perbandingan piutang masing-masing, kecuali apabila diantara para kreditur itu ada alasan untuk didahulukan.

asset barang bergerak tidak cepat dipindah tangankan yang akan mengurangi asset utk menghindari pengalihan-pengalihan diluar pengetahuan kurator. Kurator harus cepat mengumumkan kepada seluruh masyarakat melalui surat kabar yang berhubungan dengan si debitur pailit mengenai keadaan debitur. Dalam kepailitan, masalah dapat terjadi tanpa dapat diprediksi. Misalnya tidak adanya kerjasama dari pihak debitur pada saat Kurator melakukan pengecekan asset.

3. Kendala lain yang dihadapi oleh Kurator adalah tidak adanya tempat bagi Kurator untuk menyimpan barang-barang debitur pailit dan belum terdapat SOP (standard Operation Procedure)untuk penyimpananboedelpailit.

4. Tidak lengkapnya dokumen kreditur separatis sehingga menghambat proses pelaksanaan eksekusi objek jaminan. Dalam melaksanakan pemberesan dan pengurusan harta pailit, Kurator harus bekerjasama dengan aparat-aparat Pemerintah seperti pihak Kepolisian, Kecamatan, Kelurahan bahkan buruh dari Perusahaan debitur pailit untuk menjaga asset pailit agar tidak hilang sebelum dilakukan pemberesan.148

B. Kedudukan Kreditur Pemegang Sertipikat Hak Tanggungan Pada Debitur