• Tidak ada hasil yang ditemukan

B. Peradilan Agama di Indonesia

1. Eksistensi Peradilan Agama dalam

Di wilayah Nusantara, sebelum masa pemerintahan kolonial Belanda, terdapat empat macam lembaga pengadilan, yaitu Pengadilan Pradata, Pengadilan Padu, Pengadilan Adat dan Pengadilan Islam (Surambi). Pengadilan Pradata merupakan pengadilan kerajaan yang menangani kasus-kasus tindak pidana dan kasus-kasus makar yang

69

Lihat Ibn al-Qayyim al-Jauzi>yah, A‘la>m al-Muwaqqi‘i>n ‘an Rabb al-A<lami>n

(Beirut: Da>r Ih}ya> al-Tura>th al-‘Arabi>, t.th.) vol. 1, 12-14; Manna> al-Qat}t}a>n, Ta>ri>kh

al-Tashri>‘ al-Isla>mi> (Kairo: Maktabah Wahbah, 1989), 241-242. 70

Keputusan ‘Ali> ibn Abi> T{a>lib tentang rad dan ‘aul dalam waris dilembagakan dalam hukum waris mazhab empat. Demikian halnya keputusan ‘Umar ibn Khat}t}a>b tentang

hajarayn/himariyah dalam hal pewaris meninggalkan saudara sekandung, suami, ibu dan saudara seibu. Jika mengikuti Q.S. Al-Nisa>’ [4] : 12, maka saudara sekandung tidak mendapat waris. Dalam bidang perkawinan, keputusan ‘Umar ibn Khat}t}a>b yang menetapkan talak tiga yang diucapkan satu kali dihitung talak tiga.

55

PENGAD ILA N AGAMA

ditangani oleh raja secara langsung. Pengadilan Padu menangani kasus-kasus perdata dan pidana ringan yang ditangani oleh penjabat yang ditunjuk oleh raja. Pengadilan Adat menangani kasus-kasus yang berhubungan dengan sengketa masyarakat adat dan ditangani oleh kepala adat –

kebanyakan terdapat di wilayah Indonesia di luar Pulau Jawa. Pengadilan Surambi, pada masa Sultan Agung memerintah kerajaan Mataram, menggantikan pengadilan Pradata yang kewenangannya meliputi kasus pidana dan perdata. Kekuasaan Pengadilan Surambi dijabat oleh raja yang berkuasa, akan tetapi dalam praktiknya ditangani oleh para penghulu yang diangkat oleh raja.72

Pada awal pemerintahan kolonial Belanda, keberadaan Pengadilan Agama73 masih tetap dipertahankan. Bahkan keberadaannya diakui dalam Stbl. Nomor 2 Tahun 1854 tentang Indonesische Staatsregeling (Konstitusi Pemerintahan Hindia Belanda),74 sedangkan kewenangannya diatur dalam Stbl. 1882 Nomor 152 tanggal 19 Januari 1882 untuk Pengadilan Agama di Wilayah Jawa dan Madura dan dalam Stbl. Nomor 638 Tahun 1937 untuk Pengadilan Agama di wilayah Kalimantan Selatan dan Timur, meliputi perkawinan, perceraian, waris dan wakaf. Sejak 1 April 1937, kewenangan Pengadilan Agama di wilayah Jawa dan Madura dipersempit sehingga hanya berwenang mengadili kasus perkawinan dan perceraian, sedangkan kasus waris dan wakaf menjadi wewenang Landraad (sekarang Pengadilan Negeri).75

Setelah Indonesia merdeka, keberadaan lembaga Peradilan Agama

dipertahankan berdasarkan Pasal II Aturan Peralihan UUD ’45. Pada saat

itu, pembinaan lembaga Peradilan Agama berada di bawah kementerian

72

R. Tresna, Peradilan di Indonesia dari Abad ke Abad (Jakarta: Pradnya Paramita, 1978), 15-20. Lihat pula Soetandyo Wignyosoebroto, Dari Hukum Kolonial ke Hukum Nasional, 32.

73

Pada masa pemerintahan Hindia Belanda, nama lembaga Pengadilan Agama di wilayah Jawa dan Madura disebut Priesterraad (Raad Agama), sedangkan di wilayah Kalimantan Selatan, Tenggara dan Timur dinamakan Pengadilan Kadi. Lihat R. Soepomo,

Sistem Hukum di Indonesia sebelum Perang Dunia II (Jakarta: Pradnya Paramita, 1970), 69-70.

74

Pasal 134 ayat (2) Indische Staatsregeling berbunyi: “Evenwel staan de burgerlijke rechtzaken tusschen Mohamedanen, indien hun adatrecht medebrengt, ter kennisneming van den godsdien rechter, voor zoover niet bij ordonnantie anders is bepaald” (Akan tetapi perkara hukum perdata antara orang Islam itupun jikalau itu

dikehendaki oleh hukum adatnya diperiksa oleh hakim agama, sekedar yang tidak ditentukan lain dengan ordonansi). Lihat Van Hoeve, De Wetboeken Wetten en Verordeningen Benevens de Grondwet van Republiek Indonesie (Jakarta: Ichtiar Baru van Hoeve, 1989), 144; dan Harun Alrasid, ed. Himpunan Peraturan Perundang-Undangan Republik Indonesia, 23.

75

56 DINAM IKA PUTU SAN MA

DALAM BIDA NG

P

ERD ATA

ISL AM

kehakiman. Dengan terbentuknya Kementerian Agama pada tanggal 3 Januari 1946, H.M. Rasyidi, Menteri Agama pertama, mengajukan permintaan kepada Kementerian Kehakiman yang pada saat itu dipegang oleh Suwandi agar pembinaan Peradilan Agama dilakukan oleh Kementerian Agama. Beradasarkan Penetapan Pemerintah Nomor 5/S.D tanggal 25 Maret 1946 Peradilan Agama diserahkan dari Kementerian Kehakiman kepada Kementerian Agama.

Akan tetapi, upaya penyatuan Peradilan Agama ke dalam Peradilan Negeri oleh kalangan nasionalis terus berlangsung, sehingga disusunnya Undang-Undang Nomor 19 Tahun 1948 tentang Susunan dan Kekuasaan Badan-Badan Kehakiman. Pasal 6 ayat (1) UU Susunan dan Kekuasaan Badan-Badan Kehakiman tersebut menegaskan bahwa dalam Negara Republik Indonesia hanya ada tiga lingkungan peradilan, yakni Peradilan Umum, Peradilan Tata Usaha Pemerintahan, dan Peradilan Ketentaraan. Berdasarkan UU tersebut, lembaga Peradilan Agama, yang sejak tahun 1882 diakui keberadaannya oleh pemerintahan Hindia Belanda, tidak diakui keberadaannya secara yuridis. UU tersebut melebur keberadaan Peradilan Agama ke dalam Peradilan Umum. Peleburan tersebut diatur dalam Pasal 35 ayat (2) yang menyatakan bahwa perkara-perkara perdata antara orang Islam yang menurut hukum yang hidup harus diperiksa dan diputus menurut hukum agamanya, harus diperiksa dan diputus oleh Pengadilan Negeri, yang terdiri dari seorang hakim beragama Islam sebagai ketua dan dua orang hakim ahli agama Islam sebagai anggota.76

Meskipun demikian, Undang-Undang tersebut belum sempat berlaku disebabkan terjadinya revolusi fisik melawan Belanda yang ingin kembali menguasai Indonesia setelah Jepang menyerahkan kekuasaan kepada pemerintahan Indonesia Merdeka.77 Tarik menarik kaum nasionalis dan tokoh Islam mengenai lembaga Peradilan Agama berakhir dengan diundangkannya Undang-Undang Darurat Nomor 1 Tahun 1951 tentang Tindakan-Tindakan Sementara Untuk Menyelenggarakan Kesatuan Susunan Kekuasaan dan Acara Pengadilan-Pengadilan Sipil. Pasal 1 ayat (2) huruf a dan b Undang-Undang tersebut menghapuskan beberapa lembaga peradilan kecuali lembaga Peradilan Agama. Bahkan Pasal 1 ayat (4) menyatakan

76

Lihat http://legislasi.mahkamah agung .go.id/does/uu/1948.pdf., diakses tanggal 31 Agustus 2010.

77

Daniel S Lev, Islamic Courts In Indonesia, terj. H. Zaini Ahmad Noeh (Jakarta: Intermasa, 1980), 85. Lihat pula Abdul Halim, Peradilan Agama dalam Politik Hukum di Indonesia (Jakarta: Raja Grafindo Persada, 2002), 69; Abdul Manan, Peranan Peradilan Agama dalam Perspektif Pembahuruan Hukum Islam, Disertasi Program Pascasarjana Universitas Sumatera Utara 2004, 65; dan Departemen Agama RI, Peradilan Agama di Indonesia (Jakarta: Direktorat Jenderal Kelembagaan Agama Islam, 1999/2000), 19.

57

PENGAD ILA N AGAMA

“Pelanjutan Peradilan Agama tersebut dalam ayat (2) bab a dan b akan diatur dengan Peraturan Pemerintah.”

Amanat Pasal 1 ayat (4) UU Darurat Nomor 1 Tahun 1951 baru terwujud pada tahun 1957 dengan diterbitkannya Peraturan Pemerintah Nomor 29 Tahun 1957 tentang Pembentukan Pengadilan Agama/Mahkamah

Syar’iyah di Propinsi Aceh. Pasal 1 Peraturan Pemerintah tersebut

menyatakan bahwa “di tempat-tempat ada Pengadilan Negeri di Propinsi

Aceh ada sebuah Pengadilan Agama, yang daerah hukumnya sama dengan

daerah hukum pengadilan Negeri.”78 Peraturan Pemerintah tersebut

selanjutnya dicabut dan diganti dengan Peraturan Pemerintah Nomor 45 Tahun 1957 tentang Pembentukan Pengadilan Agama/Mahkamah Syar’iyah

di Luar Jawa-Madura. Pasal 1 Peraturan Pemerintah tersebut menyatakan

bahwa “di tempat-tempat yang ada Pengadilan Negeri ada sebuah

Pengadilan Agama/Mahkamah Syar’iyah yang daerah hukumnya sama

dengan daerah hukum Pengadilan Negeri.”79 Dengan terbitnya PP Nomor

45 Tahun 1957, keberadaan lembaga Peradilan Agama di seluruh wilayah Indonesia secara yuridis sudah semakin kokoh. Bahkan pada tahun 1964, Peradilan Agama tidak hanya dipayungi oleh Peraturan Pemerintah, melainkan dipayungi oleh Undang-Undang Nomor 19 Tahun 1964 tentang Ketentuan-ketentuan Pokok Kekuasaan Kehakiman.

Peralihan kekuasaan pemerintahan dari Orde Lama ke Orde Baru sangat berpengaruh terhadap reformasi hukum dan lembaga kenegaraan. Undang-Undang Ketentuan-ketentuan Pokok Kekuasaan Kehakiman tahun

1964 dianggap tidak sesuai dengan UUD ’45 karena dalam pasal-pasal

tertentu eksekutif dapat mempengaruhi kemandirian kekuasaan yudikatif. Oleh karenanya Undang-Undang Ketentuan-ketentuan Pokok Kekuasaan Kehakiman tersebut dicabut dengan Undang-Undang Nomor 6 Tahun 1969 tentang Pernyataan Tidak Berlakunya Berbagai Undang-Undang dan Peraturan Pemerintah Pengganti Undang. Dalam Pasal 2

Undang-Undang tersebut disebutkan bahwa “Pernyataan tidak berlakunya Undang-Undang

-Undang yang tercantum dalam Lampiran III -Undang--Undang ini (salah satunya adalah UU Nomor 19 Tahun 1964 tentang Ketentuan-ketentuan Pokok Kekuasaan Kehakiman – penj.) ditetapkan pada saat Undang-Undang

yang menggantikannya mulai berlaku.”80

78

Lihat http://www.cicods.org/upload/database/pp_29_1957.pdf., diakses tanggal 13 Agustus 2010.

79

Hasbullah Bakri, Kumpulan Lengkap Undang-Undang dan Peraturan Perkawinan di Indonesia (Jakarta: Djambatan, 1985), cet. III, 291.

80

58 DINAM IKA PUTU SAN MA

DALAM BIDA NG

P

ERD ATA

ISL AM

Undang-Undang tentang Ketentuan-ketentuan Pokok Kekuasaan Kehakiman berlaku sampai dengan tanggal 17 Desember 1970 saat diundangkan Undang-Undang Kekuasaan Kehakiman yang baru, yakni Undang-Undang Nomor 14 Tahun 1970. Sebagaimana dalam UU Kekuasaan Kehakiman tahun 1964, dalam UU Kekuasaan Kehakiman tahun 1970, kekuasaan kehakiman dilakukan oleh pengadilan dalam lingkungan: a. Peradilan Umum, b. Peradilan Agama, c. Peradilan Militer, dan d. Peradilan Tata Usaha Negara.81 Dalam empat Undang-Undang Kekuasaan Kehakiman produk pemerintahan Orde Lama maupun Orde Baru ditetapkan mengenai kekuasaan pembinaan teknis yudisial di bawah Mahkamah Agung, sedangkan kekuasaan pembinaan organisasi, keuangan, dan kepegawaian di bawah Kementerian Kehakiman, Kementerian Agama, dan Angkatan Bersenjata.

Dualisme kewenangan pembinaan lembaga peradilan oleh Mahkamah Agung dan eksekutif pada era reformasi dianggap suatu kondisi di mana lembaga peradilan tidak sepenuhnya independen karena pihak eksekutif masih ikut campur dalam urusan lembaga peradilan.82 Oleh karena itu, pada tahun 1999 dilakukan perubahan terhadap UU Kekuasaan Kehakiman dengan Undang-Undang Nomor 35 Tahun 1999. Di antara pasal yang mengalami perubahan adalah Pasal 11 dari UU Nomor 14 Tahun 1970. Pasal 1 ayat (1) UU Nomor 35 Tahun 1999 menyatakan bahwa kekuasaan pembinaan organisatoris, administratif, dan finansial berada di bawah kekuasaan Mahkamah Agung. Sementara Pasal 1 ayat (2) mengatur tentang jangka waktu peralihan kekuasaan pembinaan organisatoris, administratif, dan finansial dari departemen masing-masing kepada Mahkamah Agung secara bertahap paling lama 5 (lima) tahun sejak undang-undang ini mulai berlaku, kecuali untuk Peradilan Agama tidak ditentukan jangka waktu penyerahannya. Setelah perubahan UU Kekuasaan Kehakiman, berturut-turut dilakukan perubahan terhadap undang-undang organik empat lingkungan peradilan sebagai langkah penyesuaian, kecuali Peradilan Militer.83

81

Mahkamah Agung RI, Himpunan Peraturan Perundang-Undangan, 11.

82

Bagir Manan, Sistem Peradilan Berwibawa: Suatu Pencarian (Jakarta: Mahkamah Agung RI, 2005), 145.

83

UU Nomor 8 Tahun 2004 tentang Perubahan UU Nomor 2 Tahun 1986 tentang Peradilan Umum; UU Nomor 3 Tahun 2006 tentang Perubahan UU Nomor 7 Tahun 1989 tentang Peradilan Agama; UU Nomor 9 Tahun 2004 tentang Perubahan UU Nomor 5 Tahun 1986 tentang Peradilan Tata Usaha Negara; UU Peradilan Militer sampai saat ini belum diadakan perubahan. Dalam Perubahan UU Peradilan Umum, Peradilan Agama, dan Peradilan Tata Usaha Negara memuat pasal tentang pembinaan organisasi, administrasi, dan finansial yang semula oleh Departemen Kehakiman dan Departemen Agama menjadi

59

PENGAD ILA N AGAMA

Eksistensi Peradilan Agama sebagai lembaga kekuasaan kehakiman di bawah Mahkamah Agung semakin kokoh seiring dengan amandemen

ketiga UUD ’45 tanggal 9 November 2001. Pasal 24 ayat (2) UUD ’45

tersebut menyatakan bahwa kekuasaan kehakiman dilakukan oleh sebuah Mahkamah Agung dan badan peradilan yang berada di bawahnya dalam lingkungan Peradilan Umum, lingkungan Peradilan Agama, lingkungan Peradilan Militer, lingkungan Peradilan Tata Usaha Negara, dan oleh sebuah Mahkamah Konstitusi.84 Atas dasar pasal dalam UUD ’45 tersebut,

pergantian UU Kekuasaan Kehakiman tahun 2004 dan tahun 2009 tidak merubah eksistensi Peradilan Agama sebagai peradilan negara. Bahkan pasal mengenai kekuasaan kehakiman dari dua UU Kekuasaan Kehakiman tahun 2004 dan 2009 tersebut secara eksplisit mengadopsi Pasal 24 ayat (2)

UUD ’45.