• Tidak ada hasil yang ditemukan

Putusan Peradilan Agama dan Upaya

B. Peradilan Agama di Indonesia

3. Putusan Peradilan Agama dan Upaya

Sesuai kewenangan yang diatur dalam peraturan perundang-undangan yang berlaku, Peradilan Agama memutus perkara perkawinan, kewarisan, ekonomi syariah, dan pidana syariah. Terhadap putusan Pengadilan Agama, pihak yang tidak puas dapat mengajukan banding kepada Pengadilan Tinggi Agama. Jika ada pihak berperkara yang tidak puas terhadap putusan Pengadilan Tinggi Agama, maka dapat mengajukan kasasi ke Mahkamah Agung. Dalam tingkat kasasi, Mahkamah Agung memeriksa putusan Pengadilan Tinggi Agama dengan bentuk putusan: (1) Mengabulkan permohonan kasasi dengan membatalkan putusan Pengadilan Tinggi Agama dan mengadili sendiri; (2) Menolak permohonan kasasi (putusan Pengadilan Tinggi Agama sudah tepat dan benar); (3) Menolak permohonan kasasi dengan perbaikan pertimbangan dan/atau amar putusan Pengadilan Tinggi Agama; (4) Menyatakan permohonan kasasi tidak dapat diterima; (5) Menyatakan permohonan kasasi gugur; dan (6) Permohonan kasasi dicabut.

Mahkamah Agung dapat mengabulkan permohonan kasasi dan membatalkan putusan Pengadilan Tinggi Agama jika: (1) Tidak berwenang atau melampaui batas wewenang; (2) Salah menerapkan hukum; (3) Lalai memenuhi syarat-syarat yang diwajibkan oleh peraturan perundang-undangan yang mengancam kelalaian itu dengan batalnya putusan yang bersangkutan;95 dan (4) Putusan Pengadilan Tinggi Agama kurang pertimbangan.96 Putusan Mahkamah Agung yang mengabulkan permohonan kasasi, secara substantif mengandung dua kemungkinan; Pertama, putusan Pengadilan Agama dan Pengadilan Tinggi Agama dibatalkan, dan Kedua,

93

Lihat http://www.media.com/view, diakses tanggal 7 Juni 2010.

94

Hasbi Hasan, Kompetensi Peradilan Agama dalam Penyelesaian Perkara Ekonomi Syariah (Jakarta: Gramata, 2010), 175-429.

95

Pasal 30 UU Mahkamah Agung.

96

64 DINAM IKA PUTU SAN MA

DALAM BIDA NG

P

ERD ATA

ISL AM

putusan Pengadilan Tinggi Agama dibatalkan, sebaliknya putusan Pengadilan Agama dikuatkan. Sedangkan putusan yang menolak permohonan kasasi mengandung dua kemungkinan; Pertama, putusan Pengadilan Agama dan Pengadilan Tinggi Agama dikuatkan; dan Kedua, putusan Pengadilan Tinggi Agama dibenarkan, sebaliknya putusan Pengadilan Agama dibatalkan. Putusan Mahkamah Agung yang menolak kasasi dengan perbaikan substansinya mengandung tiga kemungkinan:

Pertama, amar dan pertimbangan putusan Pengadilan Tinggi Agama kurang tepat atau tidak sempurna; Kedua, amar dan pertimbangan putusan Pengadilan Agama kurang tepat atau kurang sempurna; dan Ketiga, amar dan pertimbangan putusan Pengadilan Agama dan Pengadilan Tinggi Agama kurang tepat atau kurang sempurna. Selanjutnya putusan Mahkamah Agung yang menyatakan permohonan kasasi tidak dapat diterima disebabkan empat hal: Pertama, permohonan dan atau memori kasasi lewat waktu yang telah ditentukan peraturan perundang-undangan yang berlaku; Kedua, surat kuasa tidak memenuhi syarat; Ketiga, perkara tersebut seharusnya diajukan permohonan banding terlebih dahulu; dan

Keempat, pihak pemohon kasasi tidak mempunyai legal standing untuk mengajukan permohonan kasasi. Bentuk putusan lainnya adalah putusan pencabutan jika pihak pemohon kasasi mengajukan permohonan pencabutan hal ini terjadi disebabkan para pihak berdamai, atau pemohon kasasi tidak berkehendak untuk melanjutkan permohonan kasasinya. Adapun putusan yang menggugurkan permohonan kasasi jika pemohon kasasi tidak memenuhi kekurangan biaya perkara setelah dilakukan peneguran.

Perkara kasasi terhadap putusan dari lingkungan Peradilan Agama terdiri dari perkara yang berkaitan dengan hukum perkawinan, kewarisan, ekonomi syariah dan pidana syariah. Dari empat kelompok perkara tersebut yang paling banyak adalah perkara yang berkaitan dengan hukum perkawinan, disusul dengan perkara kewarisan, ekonomi syariah, dan pidana syariah. Sebagai gambaran perkara kasasi dari lingkungan Peradilan Agama dari tahun 1991 s/d 2007 dapat dilihat dalam tabel 3.1:

65

PENGAD ILA N AGAMA

67

PENGAD ILA N AGAMA

Dari seluruh perkara kasasi perdata agama dari tahun 1991 s/d 2007, putusan yang diambil sebagai sampel adalah putusan yang dikabulkan, ditolak, dan ditolak dengan perbaikan, karena ketiga bentuk putusan tersebut bermuatan dasar-dasar pertimbangan hukum materiil baik hukum yang bersumber dari Al-Qur’an, Hadis, qaul ulama, kaidah fikih, maupun peraturan perundang-undangan. Dikecualikan dari itu, perkara izin perkawinan, pembatalan talak, rujuk, dan mahar tidak diambil sebagai sampel. Keempat jenis perkara tersebut tidak mengandung pemikiran hukum Mahkamah Agung disebabkan dari sejak tingkat pertama kasusnya sebagian cacat formil dan sebagian lainnya mengandung alasan-alasan yang tidak dapat dibuktikan. Di samping itu, perkara wakaf, hibah, wasiat, nazar, dan perlawanan eksekusi tidak diambil sebagai sampel dengan pertimbangan bahwa perkara perlawanan eksekusi tidak mengandung hukum materiil, melainkan hukum formil, sedangkan empat perkara lainnya walaupun berhubungan dengan hukum kewarisan akan tetapi tidak murni mengenai hukum kewarisan.

Untuk lebih menggambarkan kinerja Mahkamah Agung dalam menyelesaikan perkara bidang hukum perdata Islam, sebelum menganalisa pemikiran hukum Mahkamah Agung, perlu dideskripsikan beberapa hal berikut; Pertama, mengenai waktu penyelesaian perkara di Mahkamah Agung; Kedua, putusan-putusan Pengadilan Agama dan Pengadilan Tinggi Agama yang dikuatkan dan dibatalkan oleh Mahkamah Agung; dan Ketiga, jenis-jenis dasar hukum yang digunakan oleh Mahkamah Agung.

Pertama, asas penyelenggaraan kekuasaan kehakiman yang dimuat dalam Pasal 2 ayat (4) UU Kekuasaan Kehakiman adalah sederhana, cepat dan biaya ringan.97 Mahkamah Agung menjabarkan asas cepat dalam Surat Edaran Mahkamah Agung RI Nomor 3 Tahun 1998 bahwa setiap perkara harus diselesaikan paling lambat dalam jangka waktu enam bulan sejak perkara didaftar.98 Berdasarkan data perkara perkawinan dan waris, batas waktu penyelesaian perkara tersebut secara umum sudah dapat dilaksanakan oleh Pengadilan Agama dan Pengadilan Tinggi Agama. Akan tetapi, Mahkamah Agung belum dapat memenuhi asas cepat yang dimaksud dalam undang-undang tersebut. Gambaran perbandingan jangka waktu penyelesaian perkara hukum keluarga dan hukum waris di Pengadilan

97

UU Nomor 48 Tahun 2009, dalam http://www.theceli.com/dokumen/produk/1964/19-1964.htm, diakses tanggal 14/5/2010

98

Mahkamah Agung RI, Himpunan Surat Edaran Mahkamah Agung dan Peraturan Mahkamah Agung RI Tahun 1955 s/d 2009 (Jakarta: Sekertariat Jenderal Mahkamah Agung RI, 2009), 704.

68 DINAM IKA PUTU SAN MA

DALAM BIDA NG

P

ERD ATA

ISL AM

Agama, Pengadilan Tinggi Agama dan Mahkamah Agung dapat dilihat dalam diagram 3.1:

Diagram 3.1

Perbandingan Waktu Penyelesaian Perkara dalam Hukum Perkawinan Rata-rata Per Tahun dalam Satuan Bulan antara Pengadilan Agama,

Pengadilan Tinggi Agama dan Mahkamah Agung

Diagram tersebut menunjukkan bahwa jangka waktu penyelesaian perkara dalam bidang hukum perkawinan di Pengadilan Agama sejak tahun 1991 s/d 2007 relatif konstan di bawah enam bulan, kecuali pada tahun 1995 dan 1997 mengalami penundaan mencapai rata-rata tujuh bulan. Demikian halnya di Pengadilan Tinggi Agama, jangka waktu penyelesaian perkara pada umumnya di bawah enam bulan, kecuali pada tahun 1992, 1993 dan 1996 mengalami perlambatan mencapai waktu 11 bulan dan 7 bulan. Sedangkan penyelesaian di Mahkamah Agung tidak konstan dan naik turun antara 11 bulan dan 39 bulan.

Penyelesaian perkara di bidang hukum kewarisan dapat dilihat dalam diagram 3.2: 5 3 4 3 7 5 7 4 4 4 4 5 4 4 5 4 5 6 11 11 6 6 7 6 5 6 5 5 5 4 5 4 5 4 13 11 11 20 24 19 22 19 19 31 39 36 20 19 12 14 14 29 30 30 32 40 35 37 32 32 44 50 50 40 33 25 27 27 19911992199319941995199619971998199920002001200220032004200520062007 PA PTA MA PA-MA

69

PENGAD ILA N AGAMA

Diagram 3.2

Perbandingan Waktu Penyelesaian Perkara Waris Rata-rata Per Tahun antara Pengadilan Agama, Pengadilan Tinggi Agama dan

Mahkamah Agung

Dalam diagram di atas dapat dibaca bahwa proses penyelesaian perkara waris di Pengadilan Agama rata-rata di bawah sepuluh bulan secara konstan, demikian halnya proses penyelesaian di Pengadilan Tinggi Agama. Bahkan Pengadilan Agama dapat menyelesaikan perkara dalam waktu 1-6 bulan sebanyak 56,40% dan Pengadilan Tinggi Agama sebanyak 49,74 %, kecuali pada periode antara tahun 1992-1993 yang melampaui sepuluh bulan. Lain halnya di Mahkamah Agung, penyelesaian perkara menghabiskan waktu rata-rata 32 bulan, bahkan pada tahun 2000 rata-rata mencapai di atas 60 bulan. Perkara yang dapat diselesaikan oleh Mahkamah Agung dalam jangka waktu enam bulan ke bawah hanya mencapai 2 %. Akan tetapi, sejak tahun 2005 mulai nampak percepatan penyelesaian di bawah 20 bulan, bahkan pada tahun 2007 rata-rata hanya membutuhkan 12 bulan. Peningkatan percepatan penyelesaian perkara di Mahkamah Agung

9 5 14 7 11 9 6 6 6 6 6 7 7 6 5 7 8 9 11 16 8 9 8 9 8 7 5 6 7 9 4 5 6 6 19 36 20 25 30 25 31 22 31 62 59 51 39 25 16 19 12 41 59 54 47 53 48 49 45 51 77 72 70 59 38 30 36 30 19911992199319941995199619971998199920002001200220032004200520062007 PA PTA MA PA-MA

70 DINAM IKA PUTU SAN MA

DALAM BIDA NG

P

ERD ATA

ISL AM

tersebut cukup positif bagi pencari keadilan, walaupun belum memenuhi standar 6 bulan. Sedangkan waktu yang dibutuhkan para pencari keadilan dari sejak proses di Pengadilan Agama sampai dengan di Mahkamah Agung membutuhkan rata-rata 52 bulan, dan mencapai puncaknya pada tahun 2000 mencapai rata-rata 70 bulan. Perbedaan percepatan penyelesaian perkara di PA, PTA dan MA menarik untuk dikaji lebih lanjut untuk mengetahui secara rinci faktor apa yang menyebabkan lambatnya penyelesaian perkara di Mahkamah Agung. Apakah faktor human error atau faktor sistem manajemen yang terlalu berbelit-belit.

Kedua, salah satu tugas Mahkamah Agung adalah memeriksa dan mengadili perkara kasasi. Tugas tersebut merupakan fungsi pengawasan Mahkamah Agung terhadap pengadilan tingkat pertama dan pengadilan tingkat banding dalam penerapan hukum. Putusan pengadilan tingkat pertama dan pengadilan tingkat banding dapat dikuatkan, dibatalkan atau dikuatkan dengan perbaikan pertimbangan hukum dan/atau amar putusan.

Persentase putusan Pengadilan Agama dan Pengadilan Tinggi Agama dalam bidang perkawinan yang dibatalkan sangat kecil dibandingkan dengan putusan di bidang kewarisan. Hal ini menunjukkan masih tingginya kesalahan Pengadilan Agama dan Pengadilan Tinggi Agama dalam menerapkan hukum, baik hukum formil maupun hukum materil, dalam kasus kewarisan. Untuk lebih jelasnya, perbandingan putusan Pengadilan Agama dan Pengadilan Tinggi Agama di bidang hukum perkawinan dan hukum kewarisan yang dibatalkan dan dikuatkan oleh Mahkamah Agung dapat dilihat dalam diagram 3.3 di bawah ini:

71

PENGAD ILA N AGAMA

Diagram 3.3

Putusan Pengadilan Agama dan Pengadilan Tinggi Agama dalam Bidang Hukum Perkawinan dan Hukum Kewarisan yang

Dikuatkan dan Dibatalkan oleh Mahkamah Agung

Diagram tersebut menggambarkan perbandingan putusan Pengadilan Agama dan Pengadilan Tinggi Agama dalam bidang perkawinan yang dikuatkan oleh Mahkamah Agung berjumlah 71 %, sedangkan putusan dalam bidang kewarisan sebanyak 54 %. Gambaran lainnya, putusan Pengadilan Agama dan/atau Pengadilan Tinggi Agama dalam bidang perkawinan yang dibatalkan sebanyak 29 % dan di bidang kewarisan sebanyak 36 %.

Pembatalan putusan Pengadilan Agama dan Pengadilan Tinggi Agama di bidang hukum perkawinan dan hukum kewarisan disebabkan Pengadilan Agama dan Pengadilan Tinggi Agama salah menerapkan hukum formil dan/atau hukum materiil. Dalam bidang hukum perkawinan,

71% 54% 4% 14% 12% 22% 12% 10%

Bidang hukum Perkawinan Bidang hukum kewarisan Put.PA dan PTA dikuatkan Put.Pa dan PTA dibatalkan Put.PA.dibatalkan Put.PTA dibatalkan

72 DINAM IKA PUTU SAN MA

DALAM BIDA NG

P

ERD ATA

ISL AM

pembatalan disebabkan karena kesalahan penerapan hukum formil sebanyak 55 % dan kesalahan penerapan hukum materiil 45 %. Sedangkan dalam bidang hukum waris, pembatalan putusan Pengadilan Agama dan Pengadilan Tinggi Agama disebabkan kesalahan hukum formil 72 % dan kesalahan menerapkan hukum materil 28 %. Untuk lebih jelasnya dapat dilihat dalam diagram 3.4:

Diagram 3.4

Persentase Kesalahan Hukum Formil dan Hukum Materiil dalam Putusan PA dan PTA di Bidang Hukum Perkawinan dan Hukum

Kewarisan

Jumlah putusan Pengadilan Agama dan Pengadilan Tinggi Agama yang dibatalkan sejak tahun 1991 s/d 2007 tidak menunjukkan penurunan secara linear. Hal tersebut dapat dilihat dalam diagram 3.5:

55%

72%

45%

28%

Putusan bidang hukum perkawinan Putusan bidang hukum waris Kesalahan hukum formil Kesalahan hukum materiil

73

PENGAD ILA N AGAMA

Diagram 3.5

Perbandingan Putusan PA dan PTA yang Dikuatkan dan yang Dibatalkan Oleh Mahkamah Agung Sejak 1991 s/d 2007

Diagram di atas menunjukkan bahwa baik putusan Pengadilan Agama dan Putusan Pengadilan Tinggi Agama tidak bergerak menurun secara linear, akan tetapi bergerak naik-turun dan tidak konstan. Hal tersebut dapat disebabkan dua hal. Pertama, Pengadilan Agama dan Pengadilan Tinggi Agama selama 17 tahun tidak melakukan perbaikan dalam proses mengadili – seharusnya dalam jangka 17 tahun Pengadilan Agama dan Pengadilan Tinggi Agama mempelajari kesalahan-kesalahan dan koreksi dari Mahkamah Agung sehingga tidak terulang kembali kesalahan-kesalahan yang telah dilakukan dalam penerapan hukum. Kedua, kemungkinan putusan Mahkamah Agung yang tidak konsisten sehingga sulit diprediksi kriteria penerapan hukum yang benar menurut Mahkamah Agung. Dari data-data yang digunakan terdapat indikasi faktor kedua sangat mempengaruhi putusan pengadilan tingkat pertama dan pengadilan tingkat banding. Hal ini dapat dilihat dalam putusan Mahkamah Agung mengenai

0% 10% 20% 30% 40% 50% 60% 70% 80% 1991 1992 1993 1994 1995 1996 1997 1998 1999 2000 2001 2002 2003 2004 2005 2006 2007 K.PA-PTA B.PA-PTA B.PA B.PTA

74 DINAM IKA PUTU SAN MA

DALAM BIDA NG

P

ERD ATA

ISL AM

pengertian kurang pihak dalam putusan waris dan pengesahan nikah yang tidak konsisten.

Dalam beberapa kasus, permohonan pengesahan nikah yang dilakukan secara volunter dibenarkan, dalam beberapa kasus lainnya dibatalkan karena dianggap tidak tepat. Demikian dalam kasus waris, gugatan waris yang tidak mendudukkan seluruh ahli waris sebagai pihak, dalam sebagian putusan Mahkamah Agung menyatakan gugatan tersebut tidak memenuhi syarat formil, namun dalam beberapa putusan lainnya kekurangan pihak tersebut tidak dipermasalahkan. Contoh lainnya dalam kasus pengesahan perkawinan yang dilaksanakan setelah berlakuknya UU Nomor 1 Tahun 1974 yang tidak dicatatkan oleh Pegawai Pencatat Nikah, beberapa putusan Pengadilan Agama dan Pengadilan Tinggi Agama yang mengabulkan permohonan pengesahan nikah dimaksud dikuatkan oleh Mahkamah Agung, tetapi sebagian putusan lainnya dibatalkan oleh Mahkamah Agung.

Selanjutnya berkaitan dengan pertimbangan hukum Pengadilan Agama dan Pengadilan Tinggi Agama yang tidak tepat dan kurang sempurna, pada umumnya tidak diperbaiki oleh Mahkamah Agung. Mahkamah Agung hanya melihat substansi putusan, jika substansi putusan sudah tepat dan benar, pertimbangan yang masih kurang sempurna dan tidak tepat tidak diperbaiki. Mahkamah Agung lebih banyak memperbaiki amar putusan yang tidak tepat dibandingkan dengan perbaikan pertimbangannya.

Dasar hukum yang diterapkan dalam kasus hukum kewarisan meliputi Al-Qur’an, Hadis, kaidah fikih, qaul ulama, peraturan perundang-undangan, KHI dan yurisprudensi. Frekuensi penggunaan dasar hukum yang paling tinggi dalam perkara kewarisan adalah KHI, disusul Al-Qur’an, Hadis, qaul ulama, peraturan perundang-undangan, dan yang paling rendah adalah kaidah fikih. Dasar hukum dalam perkara bidang perkawinan yang paling tinggi frekuensi penggunaannya adalah peraturan perundang-undangan, disusul KHI, qaul ulama dan yang paling rendah adalah yurisprudensi. Dalam kasus yang menyangkut hukum perkawinan, penggunaan qaul ulama menduduki porsi lebih sering diterapkan dibandingkan dengan Al-Qur’an dan Hadis. Berbeda dengan kasus perkawinan, dalam kasus kewarisan Mahkamah Agung lebih banyak menerapkan hukum yang termaktub dalam Al-Qur’an dan Hadis

dibandingkan qaul ulama. Untuk lebih jelasnya dapat dilihat dalam diagram 3.6:

75

PENGAD ILA N AGAMA

Diagram 3.6

Persentase Penggunaan Dasar Hukum

dalam Perkara Bidang Hukum Perkawinan dan Hukum Kewarisan

Sejalan dengan lebih seringnya penggunaan qaul ulama dalam bidang perkawinan di banding dengan bidang kewarisan, demikian halnya kitab yang dirujuk dalam bidang perkawinan lebih banyak dan lebih tinggi frekuensi penggunaannya dibanding dengan bidang kewarisan.

Berdasarkan uraian di atas, dapat disimpulkan bahwa eksistensi lembaga peradilan dalam tradisi Islam sudah dimulai sejak masa Nabi Muhammad SAW. Pada masa Nabi, bentuk lembaga peradilan masih sangat sederhana, tidak ada gedung khusus untuk melaksanakan penyelesaian perkara, sehingga proses penyelesaian perkara pada umumnya dilakukan di mesjid atau di kediaman Nabi. Kendati demikian, asas-asas pokok dalam peradilan diterapkan dengan baik, seperti memperlakukan para pihak berdasarkan prinsip kesetaraan. Pada masa khalifah empat, bentuk lembaga peradilan mengalami perkembangan yang lebih kompleks sesuai dengan perkembangan struktur kekuasaan pemerintahan. Pada masa bani Umayyah dan Abbasiyah, bentuk lembaga peradilan mulai mengalami perluasan

6% 38% 5% 20% 5% 0% 20% 5% 79% 8% 67% 40% 3% 3%

Perkara perkawinan perkara waris al-Qur'an Hadits Qaidah Fiqh

Qaul Ulama Per.Per.U.U. Kompilasi Hukum Islam Yurisprudensi

76 DINAM IKA PUTU SAN MA

DALAM BIDA NG

P

ERD ATA

ISL AM

sesuai dengan jenis perkara dan lingkup kompetensi yang menjadi kewenangan masing-masing lembaga peradilan. Pada masa itu telah berkembang beberapa jenis lembaga peradilan, antara lain maz}a>lim sebagai lembaga peradilan militer, h}isbah sebagai lembaga peradilan yang bertugas menertibkan tindak pidana pelanggaran, dan shurt}ah sebagai lembaga peradilan yang bertugas melakukan penuntutan kasus tindak pidana dan melaksanakan eksekusi putusan pidana yang telah dijatuhkan pengadilan serta melakukan pembinaan residivis.

Para fuqaha juga tidak merumuskan jenjang peradilan sebagaimana lembaga peradilan modern yang mengenal peradilan tingkat pertama, tingkat banding dan tingkat kasasi. Namun demikian, asas pemeriksaan ulang terhadap putusan hakim dapat dilakukan oleh hakim yang memutus sendiri atau hakim lain yang menggantikannya di kemudian hari jika dalam putusan tersebut terdapat kesalahan menerapkan hukum. Di samping itu, asas keadilan senantiasa menjadi landasan pokok para ulama dalam merumuskan lembaga peradilan. Dalam fikih mazhab empat terdapat dua topik pokok bahasan yang berhubungan dengan lembaga peradilan, yakni syarat yang harus dipenuhi oleh seorang hakim berikut kode etik hakim dan rumusan hukum acara yang menjadi pedoman dalam proses peradilan. Kedua topik tersebut merupakan pangkal bagaimana lembaga peradilan dibangun untuk memberikan keadilan kepada masyarakat.

Dalam konteks Indonesia, eksistensi lembaga Peradilan Agama sebagai pranata formal di Nusantara telah berjalan seiring dengan perkembangan umat Islam. Institusionalisasi Peradilan Agama telah dilakukan oleh kerajaan-kerajaan Nusantara yang mengadopsi Islam sebagai dasar pemerintahan. Meskipun demikian, kompetensi Peradilan Agama telah mengalami dinamika yang cukup pelik serta mengarah pada pasang surut. Kendati tidak sampai dihapuskan, namun lingkup kompetensi Peradilan Agama kerap dibatasi pada perkara keperdataan tertentu. Kenyataan ini sesungguhnya tidak terlepas dari kehendak politik para penguasa pada masanya yang tercermin dalam kebijakan-kebijakan yang ditempuh oleh penguasa bersangkutan. Sungguhpun demikian, pada akhirnya kebijakan regulasi dan politik hukum negara dapat menempatkan posisi Peradilan Agama dalam sistem peradilan nasional secara lebih proporsional. Konfigurasi dialektika Peradilan Agama antara peluang dan tantangan yang niscaya saling bersitegang itu pada dasarnya muncul dalam bentuk pro dan kontra atas pelbagai kebijakan regulasi, terutama dalam kaitannya dengan status, kedudukan dan kewenangannya dalam sistem peradilan nasional.

Perubahan kompetensi mulai nampak dalam UU No. 1 Tahun 1974, yang meliputi perceraian, penentuan keabsahan anak, perwalian, penetapan

77

PENGAD ILA N AGAMA

asal usul anak, dan izin menikah. Kompetensi Peradilan Agama kemudian diperluas ketika keluar PP No. 28 Tahun 1977 tentang Perwakafan Tanah Milik, terutama dalam ketentuan Pasal 12. Bahkan, pada tahun 1989, kompetensi Peradilan Agama kembali mendapatkan perluasan, tidak lagi sebatas masalah perkawinan, namun juga masalah kewarisan, wasiat, hibah, wakaf, dan shadaqah. Ketentuan tersebut dinyatakan dalam UU No. 7 Tahun 1989 tentang Peradilan Agama. Kemunculan undang-undang ini tidak saja memberikan keluasaan kompetensi, akan tetapi juga telah memberikan kemandirian kepada Peradilan Agama sebagai pelaksana kekuasaan kehakiman. Akhirnya, setelah berjalan selama 15 tahun, UU tentang Peradilan Agama No. 7 Tahun 1989 diubah dengan UU No. 3 Tahun 2006. Lahirnya UU No. 3 Tahun 2006 ini telah membawa perubahan besar bagi kompetensi Peradilan Agama. Dalam UU No. 3 Tahun 2006 tersebut, kompetensi Peradilan Agama diperluas dengan memasukan antara lain ekonomi syariah sebagai salah satu bidang kompetensinya. Dalam skala yang lebih luas, perluasan kompetensi Peradilan Agama sebagaimana diatur dalam undang-undang tersebut merupakan respon terhadap perkembangan dan kebutuhan hukum masyarakat Indonesia, khususnya masyarakat Muslim.

Sesuai kewenangan yang diatur dalam peraturan perundang-undangan yang berlaku, Peradilan Agama memutus perkara perkawinan, kewarisan, ekonomi syariah, dan pidana syariah. Terhadap putusan Pengadilan Agama, pihak yang tidak puas dapat mengajukan banding kepada Pengadilan Tinggi Agama. Jika ada pihak berperkara yang tidak puas terhadap putusan Pengadilan Tinggi Agama, maka dapat mengajukan kasasi ke Mahkamah Agung. Perkara kasasi terhadap putusan dari lingkungan Peradilan Agama terdiri dari perkara yang berkaitan dengan hukum perkawinan, kewarisan, ekonomi syariah dan pidana syariah. Dari empat kelompok perkara tersebut yang paling banyak adalah perkara yang berkaitan dengan hukum perkawinan, disusul dengan perkara kewarisan, ekonomi syariah, dan pidana syariah.

79

DINAM IKA P

UTU SAN MA DALAM

PERKARA H

UKUM

PERKAWI NA N

B

AB

IV

D

INAMIKA

P

UTUSAN

M

AHKAMAH

A

GUNG

DALAM

P

ERKARA

H

UKUM

P

ERKAWINAN

Bab ini akan membahas dinamika pemikiran Mahkamah Agung dalam bidang hukum perkawinan. Tujuan dari pembahasan ini adalah berupaya menelisik pola-pola pergeseran hukum dalam putusan-putusan Mahkamah Agung dari berbagai sumber hukum yang ada – yakni

Al-Qur’an, Hadis, fikih, dan peraturan perundang-undangan – dan pola-pola

pergeseran dari aspek substansi hukum. Pembahasan ini juga akan mengidentifikasi bentuk ijtihad dan kaidah usul fikih yang digunakan oleh Mahkamah Agung dalam memutus perkara perkawinan. Di samping itu, pembahasan ini juga berupaya menggambarkan tingkat responsif Mahkamah Agung terhadap isu-isu keadilan, terutama hak asasi manusia, hak asasi anak, kesetaraan gender dan pluralisme serta menelisik sejauh mana pengaruhnya terhadap dinamika pemikiran hukum Mahkamah Agung dalam bidang perkawinan. Dari data yang diperoleh sejak tahun 1991 s/d 2007, perkara perkawinan dalam putusan-putusan Mahkamah Agung meliputi 12 kategori, yakni pencegahan perkawinan, wali ‘ad}al, isbat perkawinan, pembatalan perkawinan, izin poligami, perceraian,

hadanah/pemeliharaan anak, nafkah istri, nafkah anak, nafkah idah, mut’ah,

dan harta bersama. Dari 12 kategori perkara perkawinan ini, perkara