BAB II PERKEMBANGAN SAREKAT ISLAM SURAKARTA 1918-
A. Perkembangan Sarekat Islam Surakarta 1918-1919
3. Eksistensi SI Surakarta Pasca Pindahnya SI Pusat dari
Pada masa dominasi Cokroaminoto dalam Sarekat Islam (SI) terus menguat, Surakarta tetap menjadi ingatan dalam masyarakat sebagai tempat lahir dan besarnya SI. Ingatan tersebut juga lekat pada posisi H. Samanhudi sebagai pendiri SI. Tetapi kejayaan SI Surakarta hanya sebatas pada memori kolektif masyarakat Hindia Belanda. Karena terserang berbagai macam masalah, SI
4
Delian Noer, 1996, Gerakan Modern Islam di Indonesia 1900-1942, Jakarta: LP3ES. Hlm. 51
commit to user
Surakarta mengalami kemunduran, tidak bisa bergerak dan hampir kehilangan massa pengikutnya.5
Kejayaan masa lalu SI Surakarta yang didukung oleh para pedagang batik dan aristokrat Kasunanan telah berlalu. Kondisi yang demikian bergeser ketika terjadi perubahan inti pada orang nomor satu di SI. Perpindahan kekuasaan dari Samanhudi ke Cokroaminoto membawa dampak besar bagi kejayaan SI Surakarta. Pergeseran kekuatan dari Surakarta ke Surabaya yang dimulai sejak tahun 1915, juga berarti pergeseran pemasukan dana serta pendapatan SI. Uang-uang dari SI lokal berhenti mengalir ke tangan pimpinan SI Surakarta. Para saudagar batik yang pernah memberi dukungan tidak dapat membiayai lagi aktivitas SI Surakarta karena lonjakan harga bahan mentah untuk produksi batik akibat Perang Dunia I.
SI mencoba mempertahankan eksistensinya yang ditunjukkan dengan adanya pergeseran metode dari boikot dan beating (fisik/berkelahi), menjadi Rally (pengumpulan massa/rapat) dan propaganda. Metode Rally bukanlah metode asli dari SI. Metode Rally diterapkan pertama oleh Indische Partij (IP) yang didirikan
oleh EFE Douwes Dekker. IP yang menyebut diri mereka sebagai “Children Of The Country” (anak-anak negeri), menggunakan rapat umum terbuka sebagai metode pembelajaran untuk massa. Rapat Umum terbuka menjadi andalan organisasi pada waktu itu. Kelebihan cara ini adalah mampu mengumpulkan massa dalam jumlah banyak dari berbagai golongan. Konsep kedua yang telah digagas dan dijalankan oleh IP adalah dimaklumkannya pembicaraan politik secara terus terang dan terbuka mengenai sistem kemasyarakatan kolonial, serta
commit to user
bisa diikuti oleh siapapun.6 SI lebih cenderung menggunakan metode Rally dengan rapat umum terbuka dan penggunaan media massa (meskipun kemudian cara ini condong berbelok pada saat kemunculan SI Merah).
Keadaan SI Surakarta bertambah lesu ketika SI Semarang pada 1917 mulai tumbuh dengan kekuatan serikat buruh di bawah kendali Semaoen. SI Batavia dibawah pimpinan Goenawan juga menurun akibat kasus keuangan yang menimpa SI Batavia. Kubu Cokroaminoto memperkuat SI Jawa Barat sebagai pesaing SI Batavia. Ditengah tumbuhnya kekuatan SI, kubu SI Surabaya di bawah Cokroaminoto dan SI Semarang di bawah Semaoen saling berebut pengaruh.7
SI Semarang di bawah Semaoen menjadi SI dengan kekuatan sosialis.8 Hal ini dikarenakan pada tahun 1916 mulai terjadi gerakan buruh secara besar-besaran di perusahaan kereta api yang ada di Semarang. Gerakan ini kemudian menjalar kepada gerakan buruh-buruh yang lain di pabrik-pabrik besar di Semarang. Gerakan-gerakan tersebut umumnya meminta kenaikan gaji dan melarang pemecatan buruh. Gerakan buruh inilah kemudian didukung oleh SI Semarang dan diperjuangkannya.
Pada tanggal 27 Januari 1918, SI Surakarta mengadakan algeemene vergadering (pertemuan umum) untuk membahas kondisi internal SI di Surakarta.
6
Soewarsono, 2000, Berbareng Bergerak: Sepenggal Riwayat dan Pemikiran Semaon, Lkis: Yogyakarta, Hlm. 16-18
7
Suradi, 1997, Haji Agus Salim dan Konflik Politik dalam Sarekat Islam, Jakarta: Pustaka Sinar Harapan, hlm. 27
8
Dewi Yuliati, 2000, Semaoen; Pers Bumi Putra dan Radikalisasi Sarekat Islam Semarang, Semarang: Bendera, hlm. 22
commit to user
Tujuan rapat tersebut untuk membahas berbagai permasalahan internal SI, juga mengenai kebutuhan-kebutuhan yang diperlukan segenap anggotanya.9
Kurang aktifnya SI Surakarta tidak berarti vakumnya kegiatan SI Surakarta secata total. Secara organisasi SI Surakarta masih ada, meskipun pengurusnya hanya sedikit orang. Fokus kegiatan SI Surakarta lebih kepada soal pendidikan dan syiar keislaman. Hal ini untuk mengimbangi kegiatan zending yang ada di Surakarta. SI Surakarta pernah membentuk komite Tentara Kanjeng Nabi Muhammad (TKNM) dalam menyelesaikan kasus yang dipicu oleh surat kabar Djawi Hisworo, tetapi komite tersebut tidak berjalan dengan baik. Kas komite habis untuk mengadakan rapat dan tidak ada kemajuan yang berarti dari pembentukan komite tersebut. Pengurus komite dianggap diam saja terhadap permasalahan yang ada. Baik soal kasus Djawi Hisworo, misi penyebaran agama Nasrani, dan janji pendirian sekolah yang berpedoman pada agama Islam. Pengurus komite bahkan diistilahkan sebagai pers berkepala hitam.10
Sejak kongres CSI Central Sarekat Islam (CSI) pada 1918, kekuatan SI mulai disokong oleh serikat buruh dan gerakannya. Perjuangan ekonomi yang disepakati pada kongres CSI 1918 menjamin posisi unggul Cokroaminoto dalam SI. Walaupun pada saat itu banyak serikat buruh yang dipelopori oleh SI Semarang dan Yogyakarta, kekuatan dari keduanya tidak mengubah kontrol Cokroaminoto dalam SI. Baik itu SI Semarang yang diketuai oleh Semaoen dan serikat buruh Yogyakarta yang dipelopori oleh Soerjopranoto.
9
Djawi Hisworo, 28 Januari 1918
commit to user
Pada kongres SI September 1918, para pengurus CSI hampir tidak ada tokoh yang berasal dari SI Surakarta.11 Susunan inti dari pengurus CSI sebagai berikut :
Ketua : Cokroaminoto Wakil Ketua : Abdoel Moeis Sekretaris : Sosrokardono Wakil Sekretaris : Brotosoehardjo Wakil Bendahara : Cokroaminoto Komisaris : Moehammad Joesoef
: Dojosoediro : Hasan Djajadiningrat : Soerjopranoto : Cokrosoedarmo : Semaoen : Wignjadisastra : Mohammad Samin : Soekirno : H Moh. Arip : Prawoto Soedibyo Penasihat : KH Ahmad Dahlan
: H. Ahmad Sjadzili
Berdasarkan sususan pengurus CSI tersebut, SI Surakarta tidak mendapatkan tempat meskipun secara status masih sebagai pemimpin dari SI.
11
Takashi Shiraishi,1997, Zaman Bergerak Radikalisme Rakyat di Jawa 1912-1926, Jakarta: PT.Pustaka Utama Grafiti, hlm. 147-148
commit to user
Kekuatan di dominasi oleh kubu Cokroaminoto dari SI Surabaya. Beberapa tokoh yang masuk dalam kepengurusan CSI berasal dari SI Surabaya, SI Semarang, SI Jawa Barat dan SI Yogyakarta.
Meskipun ada aktivitas dari orang SI Surakarta, kebanyakan terfokus pada kegiatan syiar Islam dan penerbitan. Kondisi yang demikian tentunya tidak muncul begitu saja. Selain hilangnya pamor SI Surakarta dan Samanhudi, beberapa tokoh SI Surakarta ditangkap pemerintah kolonial Belanda atas kegiatan pergerakan mereka. Beberapa diantaranya menjabat sebagai pengurus Inlandsche Joernalist Bond (IJB). Suwardi Suryaningrat tertangkap karena aktivitas radikalnya di Indische Partij. Dr. Tjipto Mangkunkusumo yang juga pernah tinggal di Surakarta, ditangkap terkait kegiatannya dengan tiga serangkai12. Marco Kartodikromo ditangkap dan dipenjara dari 1915-1917 di penjara Weltreveden karena aktivitas jurnalistiknya di Sarotomo (organ SI) dan Doenia Bergerak, yang juga mendukung SI Surakarta. Penangkapan Marco Kartodrikromo ternyata cukup memberi dampak pada aktivitas politik SI Surakarta. Penangkapan Martodharsono dan penangkapan Marco menjadikan SI Surakarta semakin kehilangan suara nyaring, sedangkan tokoh seperti H Misbach masih berjuang dengan menggunakan media penerbitan media massa sebagai corong untuk menyuarakan kepentingan masyarakat Hindia Belanda.
Perbedaan aktivitas SI Surakarta dengan SI yang lain juga terlihat pada tindakan yang menuntut kebijakan pemerintah kolonial. Pada bulan April 1918, SI Semarang dan SI Surabaya menuntut pemerintah kolonial Belanda untuk mengurangi jumlah perkebunan tebu di Pulau Jawa, dan digantikan oleh tanaman
commit to user
padi. Tuntutan tersebut sebagai bentuk keprihatinan terhadap bahaya kelaparan yang menyerang Hindia Belanda. SI Surakarta tidak ikut serta dalam mengkritik kebijakan pemerintah kolonial.13 Bahaya kelaparan yang menyerang Hindia Belanda terjadi juga di Trenggalek Jawa Timur. Bahkan Cokroaminoto menulis sebuah surat permohonan (rekest) yang cukup panjang kepada pemerintah kolonial Hindia Belanda di Batavia. Isi rekest tersebut memohon supaya pemerintah membahas lagi dengan serius bencana kelaparan yang terjadi di Trenggalek, karena pemerintah belum bertindak apapun atas bencana tersebut.14 Hal yang sama juga dituliskan oleh Marco Kartodikromo, sebagai pengurus SI Yogyakarta, mengkritik kebijakan kolonial lewat tulisan sama rasa sama rata. Dalam tulisannya, Marco mengungkapkan bahwa pentingnya derajat yang sama bagi manusia.15
Semangat untuk membangun SI Surakarta untuk bangkit dari kelesuan sebenarnya masih ada dan hal tersebut dibuktikan dengan masih banyaknya tokoh-tokoh yang loyal terhadap Samanhudi. Pada awal tahun 1919, tokoh-tokoh lokal Surakarta yang pernah aktif di Sarekat Islam membentuk kepengurusan baru sebagai bukti keberadaan SI Surakarta. Dalam beberapa bulan terakhir kondisi SI Surakarta memang lesu, tetapi pembentukan pengurus tersebut mencoba menjawab pertanyaan mengenai permasalahan SI Surakarta. Samanhudi memperoleh jabatan tertinggi diluar kepengurusan yaitu sebagai dewan kehormatan, sedangkan ketua SI Surakarta dipegang oleh Marco Kartodikromo.
13Neratja, 3 – 4 April 1918
14Sin Po, 1 Mei 1918
commit to user
Berikut ini adalah susunan kepengurusan yang dibentuk pada Januari 1919 tersebut:
Penasihat : H Samanhudi Ketua : Marco Kartodikromo Wakil Ketua : R. Ng. Wirokoesoemo Bendahara : M. H. Abdoelsalam Sekretaris : R. Hadiasmoro Sekretaris 2 : R. Wirowongso M Ng Darmosasmito R. Ng. Djiwopardoto H. Misbach M. Soekarno
Kandidat kandidat tersebut dipilih secara fleksibel, karena sebagian memang tidak hadir dalam rapat di Surakarta pada 19 Januari 1919. Meskipun demikian, para kandidat tersebut diharapkan mampu mengemban amanah sebagai pengurus SI Surakarta yang baru dan mampu menghidupkan kembali kegiatan SI Surakarta.16
Beberapa pengurus baru ini sempat mengeluarkan beberapa tulisan di surat kabar yang mengkritik aktivis pergerakan yang hanya memikirkan gaji saja. Namun sayangnya, kebanyakan dari pengurus baru tersebut memegang dua jabatan pada waktu yang sama di organisasi lain sehingga tidak mampu beraktivitas secara maksimal di SI Surakarta. H Misbach dan Marco Kartodikromo misalnya begitu sibuk mengurus surat kabar mereka
commit to user
masing. Secara organisasi, kemampuan Marco Kartodikromo sebagai pemimpin organisasi tidak begitu maksimal. Apalagi domisilinya berada di Semarang, dan aktif di SI Semarang sebagai pengurus Sinar Hindia.17
Keberadaan SI Surakarta belum menunjukkan posisi yang berarti pada kongres CSI 1919. Kepengurusan CSI masih didominasi oleh orang-orang dari kubu Cokroaminoto, dan tidak ada perwakilan dalam CSI tersebut.18 Sebagaimana kepengurusan CSI yang terbentuk pada kongres 1919 sebagai berikut ini:
Ketua : Cokroaminoto Wakil ketua I : Abdoel Moeis Wakil ketua II : Soerjopranoto Sekretaris : Sosrokardono Wakil Sekretaris I : Brotosoehardjo Wakil Sekretaris II : Rachmat Bendahara : Cokroaminoto Wakil Bendahara : Brotosoehardjo Komisaris : Hasan Djajadiningrat
: H Agus Salim : Brotonoto : Alimin Prawirodirjo : Abikoesno T : Soekirno : Semaoen : Marco Kartodikromo : Haji Fachroedin
17Sinar Hindia, 22 Januari 1919
18
commit to user
: H. Ahmad Sjadzili : Amir Hamza Penasihat : Djojosoediro : KH Dahlan
B. Perubahan Aktivitas Pergerakan di Surakarta Setelah Lemahnya SI