BAB II PERKEMBANGAN SAREKAT ISLAM SURAKARTA 1918-
A. Perkembangan Sarekat Islam Surakarta 1918-1919
1. Kemunculan dan Perkembangan SI di Surakarta
BAB II
PERKEMBANGAN SAREKAT ISLAM SURAKARTA
TAHUN 1918-1919
A. Perkembangan Sarekat Islam Surakarta 1918-1919
Sarekat Islam yang lahir pada tahun 1912, merupakan organisasi pertama yang bersifat lintas kelas dan etnis, bahkan ideologi. Keempat tokoh pendiri Sarekat Islam di Surakarta, yakni Haji Samanhudi, Tirto Adi Suryo, Martodarsono, dan Joyomargoso, pada awalnya tidak merencanakan sebuah kelompok yang kemudian dikenal dengan nama Sarekat Islam, sebagaimana Wahidin Sudirohusodo dan para siswa Sekolah Dokter Pribumi dengan Budi Utomo. Benih Sarekat Islam terbentuk dari sebuah insiden perpecahan dan konflik. Peristiwa itu adalah perkelahian antara dua perkumpulan sosial, yaitu Kong Sing dan Rekso Rumekso. Kong Sing merupakan perkumpulan tolong-menolong untuk penguburan milik orang Tionghoa, sedang Rekso Rumekso perkumpulan jaga malam (ronda) milik para pengusaha batik Pribumi di bawah pimpinan Haji Samanhudi di Laweyan, Surakarta.1
1. Kemunculan dan Perkembangan SI di Surakarta
Sarekat Islam dipandang sebagai sebuah agensi yang memiliki karakteristik pemersatu yang berjiwakan semangat nasional. Jika Boedi Oetomo (BO) dilihat oleh sebagian kalangan sebagai organisasi pergerakan yang cenderung bersifat elitis dan bahkan punya kecenderungan menjadi pendukung
1
Safrizal Rambe, 2008, Sarekat Islam, Jakarta : Yayasan Kebangkitan Insan Cendikia, hlm. 30
commit to user
terbentuknya “nasionalisme-jawa”, maka Sarekat Islam merupakan organisasi
yang berkontribusi dalam menegakan akar kebangsaan dan persatuan Indonesia. Orang Eropa di nusantara merasakan kepanikan yang luar biasa pada saat lahirnya Sarekat Islam. Sebelumnya, kemunculan Boedi Oetomo (BO) yang menuntut perluasan hak ajar bagi priyayi rendahan pada tahun 1908, tidak memancing perhatian pemerintah kolonial secara penuh. Hak untuk memperoleh pendidikan bagi pemerintah Belanda, masih dapat ditunggangi sebagai kepentingan Belanda di tanah Hindia. Barulah ketika mulai banyak pribumi –
yang dianggap sebagai inlander, yang warga negara kelas terendah melakukan perlawanan lewat Sarekat Islam, perubahan dengan lambat tapi pasti mulai dirasakan.
Kepanikan pemerintah kolonial terjadi karena kemunculan SI menunjukan awal dari datang sebuah masa menuju pembebasan nasional, sekaligus menjadi bukti bagaimana sebuah organisasi yang mengatasnamakan Islam mampu berperan sebagai motor emansipasi dalam perjuangan mengukuhkan jati diri dan merebut keadilan. Sambutan yang demikian antusias dan cepat sampai keluar Jawa, mulai dari Aceh, Palembang, Banten, Jakarta, Surabaya, Balikpapan, Makassar, hingga Donggala, menjadi bukti tingginya pengharapan anak bangsa terhadap SI. Fenomena ini telah memaksa Gubernur Jenderal Idenburg dan pemerintah kolonial meningkatkan kewaspadaan. Apabila Boedi Oetomo mendapatkan pengakuan dengan mudah, maka SI dipaksa dipecah sejak kelahirannya di Surakarta. Meskipun kemudian muncul cabang dimana-mana, serta disusul dengan Central Sarekat Islam, kepentingan SI di berbagai daerah seringkali bergesekan.
commit to user
Pada awalnya, Samanhudi merupakan anggota Budi Utomo, hal ini rupanya membuat para pengusaha batik Tionghoa cemas apabila Budi Utomo mendirikan organisasi pengusaha batik di bawah pimpinan Samanhudi. Segera mereka mengajak Samanhudi bergabung ke dalam Kong Sing. Samanhudi setuju, dan dengan dia ikut-serta banyak pengusaha batik Pribumi, konon jumlahnya melebihi pengusaha batik Tionghoa.
Pergeseran paradigma masyarakat Tionghoa di Hindia Belanda setelah Revolusi Tiongkok terhadap penguasa Dinasti Qing pada 10 Oktober 1911, menimbulkan rasa kebangsaan Tionghoa yang memuncak dan bagi orang Pribumi mungkin terkesan berlebihan. Samanhudi dan pengikutnya keluar dari Kong Sing, dan Rekso Rumekso segera dibentuk.
Pada saat perdagangan kain dan batik pada masa tersebut, muncul kain halus impor yang menggeser kain batik lokal. Menyusul kemudian bahan celupan nila digeser dengan bahan sintetis buatan Eropa. Dua jenis barang ini merupakan bahan pokok industri batik, yang mulai dikuasai pedagang-pedagang Cina. Faktor lain yang juga mendorong semangat kemunculan SI adalah gerakan penginjil yang mendapatkan izin dari Gubernur Jenderal Idenberg untuk membuka cabang di Surakarta.
Reaksi keras datang dari para pedagang batik Laweyan yang mayoritas beragama Islam. Para pedagang Laweyan khawatir dengan meluasnya agama Kristen di Surakarta dapat mempengaruhi orang-orang Jawa, sehingga akan menimbulkan terganggunya stabilitas keamanan. Reaksi juga muncul dari pihak keraton mengenai masalah penginjilan tersebut. Pakubuwono X memiliki persamaan pandangan dengan para pedagang Laweyan. Ketika para penginjil
commit to user
mengajukan permohonan izin untuk mendirikan rumah sakit kepada Kraton Surakarta, permohonan pendirian ditolak. Akhirnya izin pendirian rumah sakit mendapat restu dan tanah dari Mangkunegaran dan berdirilah rumah sakit zending di Jebres. Kraton mempunyai andil yang cukup dalam mendorong munculnya SI. Bahkan hubungan diantara keduanya tidak hanya persoalan keterkaitan karena memiliki misi yang sama dalam melahirkan gerakan kebebasan dan kemerdekaan, melainkan juga keterlibatan dalam berorganisasi dan izin. Munculnya organisasi kebangsaan di wilayah Vorstenlanden (Surakarta dan Yogyakarta) bukan hal yang mengherankan. Meskipun dalam tingkat pemanfaatan teknologi kurang maju dibanding dengan wilayah gubernemen, namun secara kultural daerah kerajaan ini sangat besar potensinya. Terkait dengan hal tersebut, bahkan ada yang beranggapan berdirinya Sarekat Islam di Surakarta salah satunya karena restu dari Pakubuwono X.
Konflik antara pribumi dan Tionghoa di Surakarta pada tahun 1911 secara tidak sengaja memicu tumbuhnya cikal bakal SI. Perkelahian diantara keduanya dijalanan berakhir di kantor polisi. Samanhudi merasa terpojok karena dimintai bukti status badan hukum Rekso Rumekso. Pada tahapan ini, Samanhudi dan semua pengikutnya samasekali tidak paham mengenai seluk-beluk status badan hukum tersebut. Ia pun minta tolong kepada temannya, Joyomargoso, pegawai di Kepatihan. Bantuan berpindah dari Joyomargoso kepada Martodarsono, bekas anggota redaksi suratkabar Medan Prijaji, dan akhirnya Martodarsono minta tolong kapada Tirto Adi Suryo, pemilik suratkabar itu dan pendiri beberapa organisasi berstatus badan hukum di Batavia dan Bogor, seperti Sarekat Prijaji, Sarekat Dagang Islamijah, dan Sarekat Dagang Islam.
commit to user
Berkat bantuan Tirto Adi Suryo, pada akhir Januari 1912 Rekso Rumekso mendapatkan status badan hukum sebagai organisasi Sarekat Islam (disebut SI), tapi dengan tanggal yang lebih dini pada akte notaris, 9 November 1911. Dalam dokumen itu, SI disebutkan bertujuan untuk mengejar kemajuan bagi seluruh rakyat Hindia-Belanda, tujuan yang dianggap merupakan kewajiban kaum Muslim untuk menyumbang ke arah kemajuan, karena Islam merupakan pengikat rakyat Hindia-Belanda, sebagaimana Konfusianisme bagi Tiongkok, serta Kristen bagi Belanda.
Sarekat Islam ada beberapa, yakni di Batavia, Bogor, dan Surakarta. Tirto Adi Suryo sekalian saja menjadikan SI Surakarta sebagai Badan Kordinasi Pusat (Centrale Commissie). Ketuanya H. Samanhudi, sekretaris Djojomargoso, sedang Tirto Adi Suryo hanya sebagai penasehat. Namun kerjasama Samanhudi dan Tirto Adi Suryo tidak berhenti sampai di sini. Mereka membentuk usaha baru, yaitu menerbitkan suratkabar SI, Sarotomo (panah Arjuna), yang penyelenggaraannya praktis tergantung penuh pada Tirto Adi Suryo. Segera timbul pertengkaran di antara keduanya tentang sejumlah perkara, termasuk ricuhnya pengeluaran uang oleh Tirto Adi Suryo, dan juga sikapnya yang membuat Samanhudi merasa seolah-olah bawahannya. Samanhudi memutus kerjasama itu dan memindahkan kantor redaksi Sarotomo ke Surakarta.
Pada awal berdirinya Sarekat Islam, dari pimpinan yang terdiri dari 11 orang, empat orang diantaranya adalah pegawai Kasunanan. Pada kongres tanggal 23 Maret 1913 di Surakarta, SI menawarkan kepada RM Woerjaningrat, kemenakan sekaligus calon menantu Pakubuwono X untuk duduk dalam pimpinan Sarekat Islam. Pangeran Hangabehi juga diangkat sebagai pelindung SI.
commit to user
Pada kongres tersebut, Samanhudi terpilih sebagai ketua dan Cokroaminoto sebagai wakil ketua. Sebagai pengurus pusat untuk seluruh Jawa Tengah dipilih R.M.A Poespodiningrat, putera dari salah satu penasehat kepercayaan Pakubuwono X, R.M.T Wiriodiningrat. Kedekatan SI dengan Kraton Surakarta ternyata memunculkan kegelisahan dari pihak Mangkunegaran. Sri Mangkunegoro yang takut melihat bertambah besarnya keanggotaan SI yang pro dengan Kasunanan, mencoba mendirikan Sarekat Islam tandingan dengan nama Darmo Hatmoko. Tetapi Darmo Hatmoko ini tidak dapat berkembang karena terkenal atas sifat kekerasannya. Tidak itu saja, di dalam organisasi yang muncul di jantung Pulau Jawa ini, berkumpulah tokoh-tokoh besar pergerakan (yang belakangan kemudian menjadi ideologi dari berbagai macam keyakinan politik) seperti Samanhudi, R HOS Tjokroaminoto, Agus Salim, Abdoel Moeis, KH Ahmad Dahlan, sampai dr Sukiman, Kartosoewiryo, Ki Hajar Dewantara, Semaoen, Darsono. Semuanya mengusung sebuah keyakinan akan pembebasan, persatuan, perlawanan, dan kemandirian atas dasar identitas dan keyakinan bersama dalam SI, meski kemudian beberapa di antara tokoh itu keluar atau dikeluarkan. Dengan luasnya cakupan dukungan itu tidak mengherankan jika pada tahun keempat keberadaannya organisasi ini telah mendapatkan anggota sekitar 700.000 orang yang tersebar di 180 cabang.