BAB II PERLINDUNGAN HUKUM PEMERINTAH TERHADAP
NOMOR 28 TAHUN 2004
C. Eksistensi Yayasan Sebagai Badan Hukum Serta Entitas
Dalam bahasa asing istilah badan hukum ini diistilahkan dengan legal person (Inggris), rechtspersoon (Belanda), atau persona moralis (Latin). Badan hukum yang merupakan subjek hukum, berarti kedudukan dari badan hukum ini dipersamakan dengan manusia sebagai subjek hukum yang sama-sama sebagai pendukung hak dan kewajiban.
Ketentuan Staadblad 1870 Nomor 64 tentang Rechtspersoonlijkeheid van
Vereenigingen (Perkumpulan-Perkumpulan Berbadan Hukum) dalam Pasal 8 yang
mengatur bahwa: “Perkumpulan-perkumpulan, yang tidak didirikan sebagai badan hukum menurut peraturan umum (algemeene verordening) atau tidak diakui menurut peraturan ini, dengan demikian tidak dapat melakukan tindakan-tindakan perdata”. Dari peraturan ini dapat ditarik kesimpulan bahwa badan hukum adalah suatu badan yang mampu dan berhak serta berwenang untuk melakukan tindakan-tindakan perdata. Hal ini berarti juga bahwa keberadaan dari badan hukum bersifat permanen, dimana suatu badan hukum tidak dapat dibubarkan hanya dengan persetujuan para pendiri dan anggotanya. Pembubaran badan hukum hanya dapat dilakukan apabila telah terpenuhi segala ketentuan maupun persyaratan yang ditetapkan dalam anggaran dasarnya, yang menjadi sumber eksistensi badan hukum tersebut. Konsekuensinya yaitu keberadaan badan hukum tidak tergantung pada kehendak (para) pendirinya atau (para) anggotanya tetapi pada apa yang ditentukan hukum.
Suatu organisasi yang telah terbentuk memperoleh status sebagai badan hukumnya yaitu:
Jagjit Singh : Tinjauan Hukum Yayasan Keagamaan Hindu Sikh Di Sumatera Utara Sebagai Badan Hukum Setelah Berlakunya Undang-Undang Nomor 16 Tahun 2001 Jo Undang-Undang Nomor 28 Tahun 2004, 2009.
a. Ditetapkan sebagai badan hukum karena undang-undang sendiri yang menentukannya demikian.
b. Karena konsesi, maksudnya status sebagai badan hukum diperoleh setelah mendapatkan persetujuan dari pejabat yang berwenang.
c. Yurisprudensi menentukan sebagai badan hukum, seperti yayasan yang memperoleh status atau kedudukan sebagai badan hukum sejak didirikan, sesuai dengan keputusan Hooggerechtshof tahun 1882.53
Berdasarkan ketentuan Pasal 1653 Kitab Undang-undang Hukum Perdata, dikenal jenis badan hukum sebagai berikut:
a. Badan Hukum Publik (Publiek Rechtspersoon)
Badan hukum publik adalah badan hukum yang didirikan berdasarkan hukum publik atau yang menyangkut kepentingan publik atau orang banyak atau negara umumnya. Badan hukum ini merupakan badan-badan negara dan mempunyai kekuasaan wilayah atau merupakan lembaga yang dibentuk oleh yang berkuasa berdasarkan perundang-undangan yang dijalankan secara fungsional oleh eksekutif atau pemerintah atau badan pengurus yang diberikan tugas untuk itu. Contohnya Negara Republik Indonesia, Pemerintah Daerah Tingkat I, dan II, Bank Indonesia, dan Badan Usaha Milik Negara.
b. Badan Hukum Privat (Privaat Rechtspersoon)
Badan hukum sipil atau badan hukum privat adalah badan hukum yang didirikan berdasarkan hukum sipil atau perdata yang menyangkut kepentingan pribadi
53
Jagjit Singh : Tinjauan Hukum Yayasan Keagamaan Hindu Sikh Di Sumatera Utara Sebagai Badan Hukum Setelah Berlakunya Undang-Undang Nomor 16 Tahun 2001 Jo Undang-Undang Nomor 28 Tahun 2004, 2009.
orang didalam badan hukum itu. Badan hukum ini merupakan badan swasta yang didirikan oleh pribadi orang tersebut untuk tujuan tertentu yaitu mencari keuntungan, sosial, pendidikan, ilmu pengetahuan, politik, kebudayaan, kesenian, olah raga dan lain-lainnya sesuai menurut hukum yang berlaku.
Berdasarkan tujuannya, badan hukum privat dapat dibagi dalam 4 yaitu:
1. Perserikatan dengan tujuan tidak materil, dalam perserikatan ini pengurus bertindak atas nama perserikatan dan karenanya diikat keluar seperti organisasi agama.
2. Perserikatan dengan tujuan memperoleh laba, seperti persekutuan PT atau persekutuan dagang lainnya.
3. Perserikatan dengan tujuan memenuhi kepentingan materil para anggotanya seperti koperasi.
4. Perserikatan dengan harta benda tersendiri, terpisah dari harta benda para anggotanya, seperti yayasan.54
Menurut C.S.T Kansil dan Christine S.T pengertian yayasan adalah suatu badan hukum yang melakukan kegiatan dalam bidang sosial.55 Menurut Abdul Muis, yayasan adalah suatu badan hukum yang memuliki harta kekayaan yang telah dipisahkan dari pemiliknya, sehingga bersifat mandiri dengan maksud dan tujuan tertentu yang bersifat idial dan diurus oleh suatu badan pengurus tanpa mempunyai anggota.56
54
Ahmad Dahlan, Praktek Peradilan Dalam Menangani Kasus-Kasus Yayasan, Makalah dalam Dialog Interaktif “Perspektif Undang-Undang Yayasan Di Tengah-Tengah Kemajemukan Tuntutan Reformasi Masyarakat” yang diselenggarakan oleh Fakultas Hukum Universitas HKBP Nomensen, bekerja sama dengan Law Office Januari Siregar dan Kantor Notaris Sopar Siburian, di Royal Room Hotel Danau Toba Internasional, Medan 15 April 2002, hal 2.
55
Irwadi, Hukum Perusahaan (Suatu Tela’ah Yuridis Normatif), Mitra karya, Jakarta, 2003, hal. 56.
56
Abdul Muis, Op Cit, hal.6.
Mahadi mengutip dari kamus van Dale mengatakan bahwa yayasan ialah sebagai suatu badan hukum yang didirikan dengan suatu akte atau testament, si
Jagjit Singh : Tinjauan Hukum Yayasan Keagamaan Hindu Sikh Di Sumatera Utara Sebagai Badan Hukum Setelah Berlakunya Undang-Undang Nomor 16 Tahun 2001 Jo Undang-Undang Nomor 28 Tahun 2004, 2009.
pendiri menyisihkan sebahagian dari hartanya untuk tujuan tertentu. Si pendiri juga menetapkan pengurusnya.57
Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa yayasan adalah badan hukum
(rechtspersoon) yaitu suatu kesatuan yang berwenang untuk memperoleh dan
melakukan hal-hal perdata, mempunyai syarat materil yang harus dipenuhi, diantaranya yang terpenting adalah adanya kekayaan yang dipisahkan, tujuan tertentu dan adanya organisasi yang melakukan kegiatan sosial (amal) yang tidak bertujuan mencari keuntungan serta syarat formil adalah surat (akte) pendirian.
Rumusan Pasal 1 Angka 1 Undang-undang Yayasan, menyebutkan bahwa: “Yayasan adalah badan hukum yang terdiri atas kekayaan yang dipisahkan dan diperuntukkan untuk mencapai tujuan tertentu dibidang sosial, keagamaan, dan kemanusiaan, yang tidak mempunyai anggota.”
Rumusan Pasal 1 Angka 1 Undang-undang Yayasan tersebut secara tegas menyatakan bahwa yayasan adalah badan hukum, dengan ketentuan bahwa status hukum yayasan baru diperoleh setelah Akta Pendirian yayasan tersebut disahkan oleh Menteri Hukum dan Hak Asasi Manusia atau oleh Kepala Kantor Wilayah Departemen Hukum dan Hak Asasi Manusia atas nama Menteri Hukum dan Hak Asasi Manusia sebagaimana ditentukan dalam Pasal 11 Undang-undang Yayasan. Dengan demikian berarti pengesahan akta pendirian ini merupakan satu-satunya dokumen yang menentukan saat berubahnya status yayasan menjadi badan hukum.
57
Jagjit Singh : Tinjauan Hukum Yayasan Keagamaan Hindu Sikh Di Sumatera Utara Sebagai Badan Hukum Setelah Berlakunya Undang-Undang Nomor 16 Tahun 2001 Jo Undang-Undang Nomor 28 Tahun 2004, 2009.
Rumusan ini tentu membawa akibat bahwa sebagai badan hukum yayasan memiliki kataristik dan kemampuan bertindak sebagaimana layaknya suatu subjek hukum.
Dengan ketentuan Pasal 1 Angka 1 Undang-undang Yayasan tersebut, berarti status badan hukum yayasan, yang semula diperoleh dari sistem terbuka penentuan suatu badan hukum (het open system van Rechtspersonen), beralih berdasarkan sistem tertutup (de gesloten system van Rechtspersonen). Artinya, sekarang yayasan menjadi badan hukum karena undang-undang atau berdasarkan sistem terbuka yang berlandaskan pada kebiasaan, doktrin dan ditunjang oleh yurisprudensi.58
Yayasan yang didirikan harus dilakukan dengan akta notaris dan dibuat dalam bahasa Indonesia. Dalam akta notaris tersebut harus dinyatakan dengan jelas pihak- pihak pendiri yayasan serta berapa besar harta kekayaan dari (para) pendirinya yang akan dijadikan harta kekayaan awal yayasan. Undang-undang Yayasan juga menyatakan bahwa yayasan mungkin didirikan berdasarkan surat wasiat. Ini berarti:
1. yayasan jelas merupakan suatu kumpulan modal dan bukan kumpulan orang; 2. dikatakan bukan kumpulan orang karena yayasan dapat didirikan hanya oleh
satu orang yang menyisihkan harta kekayaan pribadinya menjadi harta kekayaan awal yayasan. Pemahaman ini diperkuat dengan rumusan yang memungkinkan pendirian yayasan dengan surat wasiat;
58
Chatamarraji Ais, Badan Hukum Yayasan (Suatu Analisis Mengenai Yayasan Sebagai
Jagjit Singh : Tinjauan Hukum Yayasan Keagamaan Hindu Sikh Di Sumatera Utara Sebagai Badan Hukum Setelah Berlakunya Undang-Undang Nomor 16 Tahun 2001 Jo Undang-Undang Nomor 28 Tahun 2004, 2009.
3. oleh karena akta pendirian yayasan harus dibuat dalam bentuk akta notaris, maka surat wasiat yang memungkinkan pendirian yayasan juga harus merupakan surat wasiat yang dibuat oleh atau di hadapan notaris.
Tidak dilakukannya pembatasan oleh Undang-undang Yayasan terhadap hanya perorangan saja yang dapat mendirikan yayasan, melainkan juga badan hukum
(artificial person) dapat pula mendirikan yayasan, selama dan sepanjang badan
hukum tersebut telah menyisihkan harta kekayaannya dengan memenuhi ketentuan dan persyaratan yang ditentukan dalam Anggaran Dasar badan hukum tersebut.
Seperti yang telah dinyatakan bahwa yayasan memperoleh status hukum setelah akta pendirian yayasan memperoleh pengesahan dari Menteri Hukum dan Hak Asasi Manusia. Pendiri atau kuasanya dapat mengajukan permohonan tertulis kepada Menteri Hukum dan Hak Asasi Manusia untuk pengesahan akta pendirian yayasan tersebut, dalam waktu paling lambat 30 (tiga puluh) hari terhitung sejak tanggal permohonan diterima secara lengkap. Seperti yang terdapat dalam ketentuan pasal- pasal dalam Undang-undang Yayasan, yaitu Pasal 12 Undang-undang Nomor 28 Tahun 2004 :
(1) Permohonan pengesahan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 11 ayat (2), diajukan secara tertulis kepada menteri.
(2) Pengesahan terhadap permohonan sebagaimana dimaksud pada ayat (1), diberikan atau ditolak dalam jangka waktu paling lambat 30 (tiga puluh) hari terhitung sejak tanggal permohonan diterima secara lengkap.
(3) Dalam hal diperlukan pertimbangan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 11 ayat (4), pengesahan diberikan atau ditolak dalam jangka waktu paling lambat 14 (empat belas) hari terhitung sejak tanggal jawaban atas permintaan pertimbangan dari instansi terkait diterima.
(4) Dalam hal jawaban atas permintaan pertimbangan tidak diterima, pengesahan diberikan atau ditolak dalam jangka waktu paling lambat 30 (tiga puluh) hari
Jagjit Singh : Tinjauan Hukum Yayasan Keagamaan Hindu Sikh Di Sumatera Utara Sebagai Badan Hukum Setelah Berlakunya Undang-Undang Nomor 16 Tahun 2001 Jo Undang-Undang Nomor 28 Tahun 2004, 2009.
terhitung sejak tanggal permintaan pertimbangan disampaikan kepada instansi terkait.
Serta dalam Pasal 13 Undang-undang Nomor 16 Tahun 2001 ditentukan: (1) Dalam hal permohonan pengesahan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 12 ayat
(1) ditolak, menteri wajib memberitahukan secara tertulis disertai dengan alasannya kepada pemohon mengenai penolakan pengesahan tersebut.
(2) Alasan penolakan sebagaimana dimaksud dalam ayat (1) adalah bahwa permohonan yang diajukan tidak sesuai dengan ketentuan dalam undang-undang ini dan/atau peraturan pelaksanaannya.
Disisipkan pula Pasal 13A Undang-undang Nomor 28 Tahun 2004 yang berbunyi, Perbuatan hukum yang dilakukan oleh pengurus atas nama Yayasan sebelum Yayasan memperoleh status badan hukum menjadi tanggung jawab pengurus secara tanggung renteng.
Setelah disahkannya akta pendirian yayasan atau perubahan anggaran dasar yang telah disetujui sebagai badan hukum, wajib diumumkan dalam Tambahan Berita Negara Republik Indonesia. Pengumuman tersebut diajukan permohonannya oleh pengurus yayasan atau kuasanya kepada Kantor Percetakan Negara Republik Indonesia dalam waktu paling lambat 30 (tiga puluh) hari terhitung sejak tanggal akta pendirian disetujui oleh Menteri Hukum dan Hak Asasi Manusia. Selama pengumuman tersebut belum dilakukan, pengurus yayasan bertanggung jawab secara tanggung renteng atas seluruh kerugian yayasan.
Pasal 2 Undang-undang Yayasan menyebutkan yayasan mempunyai organ yang terdiri atas pembina, pengurus dan pengawas:
Jagjit Singh : Tinjauan Hukum Yayasan Keagamaan Hindu Sikh Di Sumatera Utara Sebagai Badan Hukum Setelah Berlakunya Undang-Undang Nomor 16 Tahun 2001 Jo Undang-Undang Nomor 28 Tahun 2004, 2009.
1. Pembina
Pembina adalah organ yayasan yang mempunyai kewenangan yang tidak diserahkan kepada pengurus atau pengawas oleh undang-undang atau anggaran dasar (Pasal 28 undang-undang Yayasan). Yang dapat diangkat menjadi anggota pembina adalah orang perseorangan yang merupakan pendiri yayasan dan/atau mereka yang berdasarkan keputusan rapat anggota pembina dinilai mempunyai dedikasi yang tinggi untuk mencapai maksud dan tujuan yayasan. Organ pembina dalam suatu yayasan mirip dengan pemegang saham dalam perseroan terbatas.59
2. Pengurus
Menurut isi Pasal 31 Undang-undang Yayasan, Pengurus adalah organ yayasan yang melaksanakan kepengurusan yayasan. Pengurus yayasan bertanggung jawab penuh atas kepengurusan yayasan untuk kepentingan dan tujuan yayasan serta berhak mewakili yayasan baik di dalam maupun di luar pengadilan. Hal ini mengisyaratkan pada setiap pengurus untuk menjalankan tugas dengan itikad baik, dan penuh tanggung jawab untuk kepentingan dan tujuan yayasan. Organ pengurus dalam suatu yayasan mirip dengan direksi dalam suatu perseroan terbatas.60
Sekurang-kurangnya susunan pengurus terdiri dari : a. Seorang ketua,
59
Munir Fuady, Pengantar Hukum Bisnis, Menata Bisnis Modern Di Era Global, Citra Aditya Bakti, Bandung, 2002, hal. 48.
60
Jagjit Singh : Tinjauan Hukum Yayasan Keagamaan Hindu Sikh Di Sumatera Utara Sebagai Badan Hukum Setelah Berlakunya Undang-Undang Nomor 16 Tahun 2001 Jo Undang-Undang Nomor 28 Tahun 2004, 2009.
b. Seorang Sekretaris, c. Seorang bendahara. 3. Pengawas
Pengawas merupakan organ yayasan yang bertugas melaksanakan pengawasan serta memberi nasihat kepada pengurus dalam menjalankan kegiatan yayasan (Pasal 40 Undang-undang Yayasan). Undang-undang Yayasan mengatur bahwa yayasan sekurang-kurangnya harus memiliki 1 (satu) orang pengawas. Wewenang, tugas dan tanggung jawab yayasan diserahkan sepenuhnya dalam anggaran dasar yayasan. Organ pengawas dalam suatu yayasan mirip dengan organ komisaris dalam suatu perseroan terbatas.61
Sebagai entitas hukum privat yayasan merupakan suatu entitas hukum yang keberadaannya sudah diakui sejak lama didalam hukum dan masyarakat Indonesia. Adapun alasan masyarakat cenderung untuk memilih bentuk yayasan sebelum diatur melalui Undang-undang Yayasan yaitu sebagai berikut:
1. Proses pendirian yang sederhana
Pendirian yayasan tergolong lebih sederhana dibandingkan dengan mendirikan badan hukum lainnya. Untuk pendirian sebuah yayasan maka akta pendirian yayasan ini dibuat dengan akta notaris dan sekaligus mendapatkan status badan hukumnya. Dengan begitu proses pendirian yayasan ini dianggap lebih sederhana dan tidak memerlukan waktu yang panjang.
61
Jagjit Singh : Tinjauan Hukum Yayasan Keagamaan Hindu Sikh Di Sumatera Utara Sebagai Badan Hukum Setelah Berlakunya Undang-Undang Nomor 16 Tahun 2001 Jo Undang-Undang Nomor 28 Tahun 2004, 2009.
2. Tidak memerlukan pengesahan dari pemerintah
Akta pendirian yayasan tidak memerlukan adanya pengesahan dari pemerintah sehingga prosesnya tidak rumit dan tidak menyita waktu yang lama, selain itu kontrol negara atas yayasan tidak seketat badan hukum lainnya.
3. Timbul persepsi di masyarakat bahwa yayasan bukan merupakan subjek pajak. Yayasan sebagai pilihan bentuk badan hukum oleh kebanyakan masyarakat, akibat adanya anggapan masyarakat bahwa yayasan terbebas dari pajak. Pada zaman orde baru yayasan yang bertujuan nirlaba dan bergerak dibidang agama, pendidikan, kesehatan, dan kebudayaan diberikan kemungkinan pembebasan pajak.62
Setelah keluarnya Undang-undang Yayasan Nomor 16 Tahun 2001 jo UU Nomor 28 Tahun 2004 maka yayasan telah diakui sebagai badan hukum privat yang diakui sebagai subjek hukum mandiri yang terlepas dari kedudukan subjek hukum para pendiri atau pengurusnya. Sebagai subjek hukum mandiri berarti yayasan dapat menyandang hak dan kewajiban, dapat menjadi debitur serta kreditur, dengan perkataan lain yayasan dapat melakukan hubungan hukum dengan pihak lain.
Pandangan yang menempatkan yayasan sebagai subyek hukum, karena memenuhi hal-hal sebagai berikut :
a. Yayasan adalah perkumpulan orang,
b. Yayasan dapat melakukan perbuatan hukum dalam hubungan-hubungan hukum,
62
Ibrahim Assegaf et.all, Tafsir Sempit Akuntabilitas dan Sisi Bisnis Yayasan, Jurnal Hukum Jentera, Edisi 2, 2003, hal.36.
Jagjit Singh : Tinjauan Hukum Yayasan Keagamaan Hindu Sikh Di Sumatera Utara Sebagai Badan Hukum Setelah Berlakunya Undang-Undang Nomor 16 Tahun 2001 Jo Undang-Undang Nomor 28 Tahun 2004, 2009.
c. Yayasan mempunyai harta kekayaan sendiri, d. Yayasan mempunyai pengurus,
e. Yayasan mempunyai maksud dan tujuan,
f. Yayasan mempunyai kedudukan hukum (domisili) tempat, g. Yayasan mempunyai hak dan kewajiban,
h. Yayasan dapat digugat atau menggugat di muka pengadilan.63
Berdasarkan cara pembentukan atau pendiriannya, yayasan terbagi dalam 2 (dua) jenis yaitu, yayasan yang didirikan oleh penguasa atau pemerintah, termasuk BUMN dan BUMD dan yayasan yang didirikan oleh perorangan atau swasta. Yayasan yang didirikan oleh pemerintah sebelum keluarnya undang-undang yayasan, ada yang didirikan dengan surat keputusan dari pejabat yang berwenang dan ada yang didirikan dengan akta notaris. Kekayaan awal yayasan ini dapat diambil dari kekayaan negara yang dipisahkan atau dilepaskan penguasaannya dari pemerintah dan dari kekayaan pribadi pendiri. Pendirian yayasan oleh pemerintah, yang perlu dicermati yaitu urgensi pendirian yayasan tersebut, sebab begitu yayasan didirikan maka yayasan tersebut akan berada dalam bingkai hukum privat, ia akan menjadi entitas hukum privat dengan segala konsekuensi yuridisnya. Kekayaan negara yang dipisahkan atau dilepaskan penguasaannya secara yuridis kedudukannya akan disamakan dengan hibah, sehingga segala konsekuensi penggunaan pengelolaan dan pengawasan atas kekayaan akan lepas sama sekali dari pihak yang memberi atau yang menghibahkan.
63
Jagjit Singh : Tinjauan Hukum Yayasan Keagamaan Hindu Sikh Di Sumatera Utara Sebagai Badan Hukum Setelah Berlakunya Undang-Undang Nomor 16 Tahun 2001 Jo Undang-Undang Nomor 28 Tahun 2004, 2009.
Pada umumnya yayasan kelompok ini didirikan untuk kepentingan fungsi pelayanan maupun peningkatan kesejahteraan dan taraf hidup masyarakat. Biasanya yayasan dalam kelompok ini akan sangat bergantung kepada instansi pemerintah yang membentuknya, baik secara keuangan maupun dalam pengangkatan pergantian dan pengisian lowongan pengurusan yayasan.64
Yayasan yang didirikan oleh pihak swasta maupun perorangan biasanya dilakukan dengan akta notaris, bahkan Undang-undang Yayasan mengharuskan pendirian sebuah yayasan harus dengan akta notaris. Terhadap yayasan yang didirikan oleh kelompok swasta pemerintah pusat maupun daerah sama sekali tidak mencampurinya. Yayasan yang didirikan oleh sekelompok masyarakat luas maupun masyarakat pada kelompok masyarakat atau wilayah tertentu dalam memiliki dan mengelola aset masyarakat. Hal inilah yang dianut oleh sebagaian besar yayasan keagamaan Hindu Sikh yang ada di Sumatera Utara, dimana kepentingan masyarakatnya secara luas diwakili oleh segelintir orang yang kemudian menjadi pengurus mengelola manajemen keseharian yayasan-yayasan tersebut. Seyogianya sifat yayasan ini terbuka dan kepengurusannya juga tidak terbatas dalam suatu keluarga saja, dimana masih dapat ditemui bahwa pengurus yang duduk di organ suatu yayasan tidak jarang terdiri dari satu keluarga yang memonopoli, walaupun hal Dalam kelompok ini banyak didirikan yayasan-yayasan oleh pemerinah pusat maupun pemerintah daerah seperti yayasan bahan makanan (sebelum menjadi Bulog) maupun yayasan-yayasan yang dimiliki TNI, Kepolisian, TVRI dan lain sebagainya.
64
Jagjit Singh : Tinjauan Hukum Yayasan Keagamaan Hindu Sikh Di Sumatera Utara Sebagai Badan Hukum Setelah Berlakunya Undang-Undang Nomor 16 Tahun 2001 Jo Undang-Undang Nomor 28 Tahun 2004, 2009.
ini bukan merupakan cermin dari sebagian besar yayasan keagamaan Hindu Sikh yang ada di Sumatera Utara.
H.M. Hasballah Thaib menambahkan bentuk yayasan yang ketiga yaitu yayasan yang didirikan oleh seseorang atau satu keluarga kecil untuk kepentingan dan pencapaian tujuan yang sempit dan terbatas pada keluarga itu atau anak cucunya saja. Harta yang disendirikan juga berasal dari harta seseorang, baik yang diserahkan semasa hidup sebagai penghibahan biasa maupun yang diserahkan setelah meninggal dunia dalam bentuk hibah wasiat.65
Pada hakekatnya yayasan yaitu kekayaan yang dipisahkan oleh undang- undang yang diberi status badan hukum. Kekayaan yang dipisahkan itu bagi yayasan diperuntukkan bagi pencapaian tujuan dibidang sosial, keagamaan dan kemanusiaan. Oleh sebab itu semua kegiatan yayasan harus diabdikan kepada pencapaian tujuan tersebut. Pada awal pendirian yayasan-yayasan keagamaan Hindu Sikh di Sumatera Utara kesemuanya dilakukan dengan cara mengumpulkan dana dari masyarakat khususnya kaum Sikh dengan cara mengumpulkan dana secara menjemput bola pada rumah-rumah kaum Sikh yang tersebar yang mana dari anggota masyarakat tersebut kemudian menjelma menjadi pendiri serta pengurus yayasan-yayasan tersebut.
Alasan awal pemilihan yayasan sebagai perwujudan bentuk dari badan hukum keagamaan Hindu Sikh yaitu karena setelah ditelusuri semua Gurdwara (rumah
65
Jagjit Singh : Tinjauan Hukum Yayasan Keagamaan Hindu Sikh Di Sumatera Utara Sebagai Badan Hukum Setelah Berlakunya Undang-Undang Nomor 16 Tahun 2001 Jo Undang-Undang Nomor 28 Tahun 2004, 2009.
ibadah kaum Sikh) mengunakan bentuk yayasan,66 karena yayasan semata-mata berorientasi untuk bekerja secara sosial serta melayani masyarakat tanpa suatu imbas hasil maka yang dianggap paling tepat adalah yayasan,67 karena dianggap lebih legal dimata pemerintah serta negara dari pada bentuk badan hukum lainnya dan juga badan hukum yayasan lebih dikenal oleh masyarakat umum.68
Dengan keluarnya Undang-undang yayasan maka keberadaan yayasan sebagai entitas huku m privat tidak perlu diragukan lagi dan yayasan juga sudah mempunyai landasan yuridis yang kuat. Terhadap yayasan yang belum melakukan penyesuaian anggaran dasar terhadap Undang-undang Yayasan, maka entitasnya sebagai badan hukum privat tetap dan yayasan tersebut tetap sebagai subjek hukum yang berbadan hukum.
69
Terhadap yayasan-yayasan keagamaan Hindu Sikh yang tersebar di Sumatera Utara yang dibuat tidak berdasarkan pada Undang-undang Yayasan yang mana undang-undang ini sendiri terbentuk pada tahun 2001. Sementara yayasan-yayasan yang ada sudah berdiri jauh sebelum disahkannya undang-undang ini berdasarkan pada yurisprudensi yang berdiri berdasarkan Pasal 1338 KUH Perdata yang kemudian didaftarkan ke Pengadilan Negeri setempat. Dengan demikian bila terjadi sesuatu maka aturan yang diperhatikan adalah Anggaran Dasar Yayasan itu sendiri, tetapi
66
Wawancara dengan ketua harian Yayasan Missi Gurdwara Medan, Gopal Singh, tanggal 14 Mei 2009.
67
Wawancara dengan ketua Yayasan Sosial Sikh Gurdwara Sri Guru Arjun Dev Ji, Pritam Singh, tanggal 15 Mei 2009.
68
Wawancara dengan Bendahara Yayasan Sosial Kaum Sikh Shree Guru Granth Sahib Darbar Gurdwara Parbandhak Committee, Harbinder Singh, tanggal 17 Mei 2009.
69
Jagjit Singh : Tinjauan Hukum Yayasan Keagamaan Hindu Sikh Di Sumatera Utara Sebagai Badan Hukum Setelah Berlakunya Undang-Undang Nomor 16 Tahun 2001 Jo Undang-Undang Nomor 28 Tahun 2004, 2009.