TAPANULI MASA KOLONIAL
B. Penduduk, Permukiman, dan Aktivitas Ekonomi
4. Ekspansi Kolonial Belanda dan Pembagian Administratif Tapanuli
Pada tahun 1825, untuk pertama kalinya nama Tapanuli muncul dalam administratif pemerintah Hindia Belanda sebagai ibukota Noordelijke Afdeeling (kawasan bagian utara) dari Residentie van Padang en Onderhoorigheden (Keresidenan Padang dan Daerah Taklukannya) yang dipusatkan di Pulau Poncan. Setahun setelahnya (1826), status Tapanuli dikategorikan menjadi onderafdeeling dan masih bagian dari Noordelijke Afdeeling. Tujuh tahun kemudian (1833) kembali dilakukan reorganisasi pemerintahan di bawah Residen Elout sesuai usul dari van den Bosch. Pada penataan wilayah ini, Tapanuli masuk dalam Afdeeling
Natal en Onderhoorigheden di bawah pimpinan seorang penguasa sipil dan militer (Asnan, 2006: 38-43).
Dengan penataan wilayah yang sedemikian rupa, pemerintah kolonial Belanda secara perlahan-lahan telah menyusun rencana secara rinci untuk menundukkan wilayah pedalaman Tapanuli. Tahun 1833, sesuai dengan penataan wilayah yang dilakukan Elout dan menjadikan Tapanuli sebagai salah satu bagian dari wilayah pemerintah Hindia Belanda, maka tahun tersebut ditetapkan sebagai awal dari penancapan kuku kolonialisme Belanda di wilayah Tapanuli.
Masih dalam tahun yang sama, untuk pertama kalinya dilakukan operasi militer ke daerah pedalaman Tapanuli dengan mengirimkan pasukan tentara di bawah pimpinan Mayor Eiler. Pasukan militer Belanda ini pertama kali mendarat di pelabuhan Natal, dan dari sana mereka merangsek masuk ke daerah pedalaman hingga tiba di Pakantan dan Mandailing. Di Pakantan, Mayor Eiler membangun tangsi militer dan juga membuat perjanjian dengan raja-raja Mandailing. Kemudian, tidak berselang lama pasukan tentara Belanda di bawah pimpinan Kolonel Elout datang ke Tapanuli untuk memperkuat pendudukan di daerah Mandailing. Selama di daerah ini Elout membangun sebuah benteng yang kemudian diberi nama Fort Elout. Benteng ini dibangun guna menjaga stabilitas keamanan di daerah Mandailing dan sebagai pusat kegiatan militer kolonial Belanda
di bagian utara. Selain itu juga untuk mempersiapkan kekuatan militer dalam misi penaklukkan Benteng Bonjol yang dikuasai kaum Paderi. Fort Elout juga difungsikan sebagai pos pertahanan pertama tentara kolonial dalam misi perluasan wilayah ke bagian utara yakni ke daerah Angkola dan Sipirok (Kielstra, 1888/b: 299-367; Kielstra, 1889: 313-338).
Pada tahun 1837, tepat setelah empat tahun militer Belanda menguasai daerah Pakantan dan Mandailing, benteng terakhir Paderi di Bonjol jatuh. Jatuhnya benteng tersebut dianggap oleh petinggi sipil dan militer Belanda di daerah ini sebagai lembaran baru kekuasaan mereka. Untuk itu diadakan lagi penataan ulang daerah administratif dengan meningkatkan status Keresidenan Sumatera Barat menjadi Gouvernement van Sumatra’s Westkust. Dalam gubernemen ini, status Tapanuli ditingkatkan menjadi afdeeling dengan nama Afdeeling Natal dan Tapanuli, sedangkan daerah Mandailing dan Angkola juga ditingkatkan statusnya menjadi Afdeeling Mandailing dan Angkola. Kedua afdeelingen ini tergabung dalam Noordelijke Residentie atau Residentie Air Bangis bersama tiga afdeelingen lainnya dengan tempat kedudukan Residen di Air Bangis (Asnan, 2006:
44-46). Kemudian, sesuai penataan ulang pada tahun 1840, daerah yang termasuk dalam Afdeeling Tapanoeli adalah kawasan pantai mulai dari Singkel sampai ke Sibolga, termasuk Nias. Sementara setelah penataan
ulang tahun 1841, daerah yang termasuk dalam Afdeeling Mandailing dan Angkola terdiri dari distrik-distrik Mandailing Godang, Mandailing Julu, Angkola, Ulu dan Pakantan (Asnan, 2006: 47-49).
Pada tahun 1842 dilakukan reorganisasi kecil-kecilan pada Gouvernement Sumatra’s Westkust, namun penataan ulang ini berdampak besar bagi Tapanuli. Dengan adanya penataan ulang ini, Tapanuli ditingkatkan statusnya menjadi residentie dengan nama Keresidenan Tapanuli sesuai besluit gubernur tanggal 7 Desember 1842.3 Ibu kota keresidenan ini ditempatkan di Sibolga. Terbentuknya Keresidenan Tapanuli tidak terlepas dari kebijakan Gubernur A.V. Michiels. Pada masa itu Michiels membagi wilayah gubernemen menjadi tiga keresidenan, yaitu: Keresidenan Padangsche Benedenlanden, Keresidenan Padangsche Bovenlanden, dan Keresidenan Tapanuli. Adapun dasar pertimbangannya ialah untuk mengatur wilayah yang baru dikuasai ini, juga karena perbedaan etnik penduduknya. Dua keresidenan pertama merupakan kediaman etnik Minangkabau, sedangkan Keresidenan Tapanuli merupakan tempat kediaman etnik Mandailing, Angkola, Pak-Pak, dan Nias (Asnan, 2006: 52-53).
3 Besluit van den Gouverneur-General van Nederlandsch-Indie van 7 Desember 1842, No. 1. ANRI.
Sesuai dengan penataan ulang 1842, Keresidenan Tapanuli terbagi ke dalam tujuh afdeelingen. Dari masing-masing afdeelingen tersebut terbagi lagi ke dalam beberapa unit pemerintahan yang lebih rendah, dengan nama beragam pula seperti distrik, onderafdeeling, kuria, dan kampung. Adapun ketujuh afdeelingen tersebut adalah:
1. Afdeeling Singkel, terbagi ke dalam sepuluh kampung;
2. Afdeeling Barus, terbagi ke dalam dua distrik, yaitu Kampung di Udik dan Kampung di Hilir. Kedua distrik ini dibagi lagi menjadi delapan onderafdeelingen yaitu, Kampung Udik, Kampung Hilir, Moling, Batu Gerigi, Gambo-gambo, Kwala Gedang, Tapus, dan Sorkam;
3. Afdeeling Sibolga, terbagi ke dalam delapan distrik, yaitu Sibolga, Tapanuli, Sibulang, Bediri, Sirudut, Kala-ang, Tuka, dan Said-nahuta;
4. Afdeeling Angkola, terbagi ke dalam lima distrik, yaitu Angkola Jae, Angkola Julu, Sipirok, Batang Toru, dan Lumut;
5. Afdeeling Mandailing, terbagi ke dalam empat distrik, yaitu Mandailing Godang, Mandailing Julu, Ulu dan Pakantan, dan Batang Natal;
6. Afdeeling Natal, terbagi ke dalam sebelas distrik, yaitu Natal, Sinunukan, Jawi-jawi, Partiloban, Kara-kara, Teloh Baleh, Tabayung, Singkuang, Baru Mundam, Kangkang, dan Batahan;
7. Afdeeling Pulau Nias, terbagi ke dalam lima distrik (Couperus, 1855: 2-3; Asnan, 2006: 55-56).
Adapun batas-batas wilayah Keresidenan Tapanuli pada masa ini adalah: sebelah utara berbatasan dengan Trumon lanskap Bulu Soma dan Batu Bara; sebelah timur berbatasan dengan Groot Toba lanskap Dairi, Pasaribu, Silindung, Toba, dan Padang Lawas; sebelah selatan berbatasan dengan afdeelingen Air Bangis dan Rao; dan sebelah barat berbatasan dengan Samudera Hindia (Couperus, 1855: 1).
Hingga separuh abad kesembilan belas, luas wilayah Keresidenan Tapanuli masih sama dengan luas pada awal terbentuknya keresidenan ini di tahun 1842. Setelah itu, pada tahun 1843, hanya sebagian kecil dari daerah di Padang Lawas yang berhasil dikuasai pemerintah kolonial Belanda. Ekspansi penguasaan wilayah ke daerah Padang Lawas kembali dilanjutkan pada 1858, 1862, dan 1864. Hasil dari ekspansi tersebut 16 distrik di Padang Lawas berhasil ditaklukkan dan kemudian digabungkan ke dalam administrasi Keresidenan Tapanuli. Pada tahun 1879, seluruh daerah di Padang Lawas berhasil ditaklukkan pemerintah kolonial Belanda. Sedangkan daerah Silindung dan Toba baru berhasil ditaklukkan secara penuh pada tahun 1890 (Joustra, 1926: 32-33).
Untuk mengontrol seluruh wilayah Tapanuli yang telah dikuasai, pada tahun 1885 pemerintah kolonial
Belanda memindahkan pusat pemerintahan dari Sibolga ke Padangsidimpuan, karena letak Padangsidimpuan berada di posisi yang strategis dan tepat di tengah-tengah Keresidenan Tapanuli, sehingga memudahkan pemerintah dalam mengontrol daerah taklukan yang baru (Joustra, 1926: 33). Namun pada tahun 1905 pusat pemerintahan Keresidenan Tapanuli dipindahkan kembali ke Sibolga, pemindahan pusat pemerintahan keresidenan ini dikarenakan pada tahun tersebut terjadi penataan ulang administratif pemerintahan. Dari hasil penataan ulang ini Keresidenan Tapanuli dipisahkan dari Gouvernement van Sumatra’s Wetskust yang mulai berlaku sejak 1 Januari 1906. Keputusan tersebut dibuat karena adanya usulan dan pertimbangan dari Departemen Dalam Negeri tentang semakin rumitnya persoalan sosial, politik, dan ekonomi yang dihadapi Keresidenan Tapanuli. Setelah 1915, wilayah Keresidenan Tapanuli dibagi dalam empat afdeelingen yaitu, Mandailing dan Angkola, Batak Landen, Nias, Sibolga en Omstreken (Staatsblad van Nerderlands-Indie 1905, No. 417 & 418; Asnan, 2006: 66).
Tabel 3.
Daftar Residen Tapanuli dari 1842-1936
Nama Masa Menjabat
L. Weddik (*) 1842
L.A. Gallé (**) 1843
Majoor A van der Hart 1844-1847
P.H.A.B van Hengs 1848-1849
W. Kocken 1850-1851
P.F.Couperes 1852
F.H.J. Netscher 1853-1855
J. Blok 1856-1857
J. van der Linden 1858-1860
C.H. Palm 1861
H.A. Steijn Parvé 1862-1863
Mr. J.K de Wit 1864-1865
C.L.L. van Couverden 1865-1869
W.K.H. Ypes 1921-1926
P.C. Arends 1926-1926
U. Pagginger Auer 1926-1933
J.W.Th Heringa 1933-1936
Keterangan: (*) Residen Air Bangis dan Kepala Komite Tanah Batak.
(**) Asisten Residen
Sumber: MvO. J.W.Th. Heringa, 1933-1936, hlm. 12.
Gambaran di atas merupakan perjalanan politik kolonial Belanda dalam penguasaan wilayah di Tapanuli.
Dalam perjalanan politik tersebut, pemerintah kolonial Belanda menerapkan kebijakan-kebijakan ekonomi untuk mengeruk keuntungan yang besar dari daerah jajahan baru tersebut. Salah satu kebijakan ekonomi kolonial Belanda di Tapanuli ialah penerapan kebijakan budidaya tanaman kopi yang dikenal dengan sebutan Gouvernements Koffiecultuur. Bagian ini akan uraikan dengan jelas pada bagian pembahasan selanjutnya.
55