• Tidak ada hasil yang ditemukan

Letak dan Bentang Alam Tapanuli

Dalam dokumen SEJARAH KOPI MANDAILING (Halaman 31-44)

TAPANULI MASA KOLONIAL

A. Letak dan Bentang Alam Tapanuli

Tapanuli atau juga sering disebut Tapian na oelie merupakan sebutan secara umum untuk daerah-daerah yang berada di pesisir pantai barat Provinsi Sumatera Utara. Secara astronomis wilayah ini terletak pada koordinat 3° sampai 15° Lintang Utara (ENI, 1921:

273). Posisi geografis Tapanuli membujur dari tenggara ke barat laut secara teratur, sehingga menciptakan beberapa teluk besar dan kecil di pesisir pantai yang dapat dijadikan sebagai bandar atau pelabuhan (Couperus, 1855: 1).

Tapanuli pada pertengahan abad kesembilan belas memiliki luas sekitar 3.300 paal (Sumatera)1 atau lebih kurang 6.100 kilometer(Couperus, 1855: 2). Namun seiring dengan perluasan wilayah kolonial Belanda ke utara (Tanah Batak sekitar Toba dan Silindung), dan ke

1 Panjang paal di Sumatera sama dengan 1 mil laut Inggris, yaitu 1.852 meter (Godon, 1862: 8).

Timur (daerah Padang Lawas) yang mana daerah-daerah tersebut kemudian dimasukkan dalam administrasi Tapanuli, maka bertambah luas pula total keseluruhan wilayah ini. Menurut Joustra, luas wilayah Tapanuli di abad dua puluh diperkirakan sekitar 42.000 km2 sampai 50.000 km2 atau lebih kurang satu per sembilan dari total luas Pulau Sumatera (ENI, 1921: 273; Joustra, 1926: 5).

Ciri utama topografi daerah pedalaman Tapanuli ditandai dengan keadaan yang berbukit-bukit, berlembah, serta diselang-selingi oleh daratan yang tidak begitu luas. Sebagian besar daerah pedalaman juga ditutupi oleh hutan tropis yang lebat. Menurut Gusti Asnan, secara umum antara daerah pedalaman Tapanuli dengan daerah pesisir lautnya dihubungkan oleh dua gugusan pegunungan. Pertama, di bagian paling utara terdapat gugusan pegunungan Pak-Pak yang menghubungkan daerah Singkel, Barus, dan sekitarnya dengan daerah Batak pedalaman (Asnan, 2007: 20-21; Ypes, 1907: 355; Rosenberg, 1855: 397-408). Kedua, gugusan pegunungan dari kawasan Teluk Sibolga, Lubuk Raya di Angkola, dan terus ke pedalaman hingga ke daerah Ganting dan kemudian membelok ke selatan hingga daerah Rao (Asnan, 2007: 21-22).

Gambar 1. Wilayah Tapanuli dalam Peta Sumatera (Sumber: Diolah dari Gusti Asnan, 2007: 19)

Dari dua gugusan pegunungan yang ada di Tapanuli, Couperus mencatat beberapa nama gunung dan bukit dengan daerah asalnya, di antaranya: Sorik Marapi (2.145 meter), Si Tampa, Si Doar-doar di Mandailing

Godang (Groot Mandeling); Kulabu (2.172 meter) dan Tanjung Agam di Pakantan; Lubuk Raya (1.990 meter) dan Tindoan Laut di Angkola Julu; Dolok Gaganan, Dolok Sigupang, Tengabegu, dan Sibualbuali (1.819 meter) di Angkola Jae; Taro na Pijar di Batang Taro; Nagalang Gulang di Lumut; Simpang Maropat, Sikara Kara di Natal; Simare-mare dan Siatap di Sibolga; Palaka Gading, Batara, Tomba Rajang, dan Batu-arimau di Sibuluan;

Parambunan dan Toma Rajang di Sirudut; Sitio-tio dan Patua Nalugung di Kalangan. Sebagian besar gunung di Mandailing dan Angkola memiliki ketinggian 2.500 sampai 3.000 kaki (Couperus, 1855: 17; Joustra, 1926:

8; ENI, 1921: 273).

Selain bergunung dan berbukit-bukit, bentang alam Tapanuli juga memiliki danau. Danau tersebut seperti Danau Gosong Telaga di daerah Singkel, Danau Siais di Angkola, dan Danau Pandan di Pinangsori. Sebagian besar wilayah Tapanuli juga masih ditutupi hutan tropis yang lebat dengan pohon-pohon besar. Sebagian besar hutan belum memiliki nama tertentu, dan pemberian nama pun biasanya sesuai dengan nama kampung yang ada di sekitarnya, seperti hutan Siabu, hutan Surumatinggi, hutan Simapil-apil, dan hutan Batang Toru (Couperus, 1855: 18).

Di sepanjang kawasan pesisir pantai Tapanuli juga terdapat muara sungai, teluk dan tanjung. Di beberapa

muara sungai tumbuh permukiman penduduk yang sebagian di antaranya pernah menjadi pusat kegiatan ekonomi dan politik yang relatif penting untuk kawasan ini. Beberapa sungai yang mempunyai peran ekonomis yang relatif penting di Tapanuli adalah Sungai Singkel, Batang Gadis atau Singkuang, dan Batang Natal atau Batang Linggabaju (Asnan, 2007: 22-23).

Batang Singkel merupakan salah satu sungai yang terpenting di gugusan pegunungan Pak-Pak. Sungai ini dinamakan juga Batang Air Besar oleh penduduk setempat. Disebut Batang Air Besar karena merupakan gabungan dari beberapa buah anak sungai di bagian hulunya (Asnan, 2007: 23; Rosenberg, 1882: 353-356).

Batang Singkel memiliki lebar kurang lebih 60 meter, sehingga dapat dilayari oleh kapal yang relatif besar hingga beberapa kilometer ke arah hulu selama lima sampai enam hari. Anak-anak sungai yang bergabung dengan Batang Singkel seperti Simpang Kiri dan Simpang Kanan juga dapat dilayari jauh ke arah hulu. Batang singkel mempunyai dua muara yang dikenal dengan nama Kuala Aceh dan Kuala Baru, sedangkan Singkel merupakan kota penting di sepanjang aliran sungai ini (Asnan, 2007: 23; Couperus, 1855: 7).

Di wilayah Barus juga ditemukan beberapa sungai besar yang mengalir dari arah timur laut ke arah barat daya seperti Batang Batu Gerigis dan Batang Sorkam

yang berhulu di pegunungan Toba dan Rambai, dan Batang Tapus yang berhulu di lembah pegunungan Paloeman-dalin di daerah Tanah Dairi. Batang Batu Gerigis dan Batang Sorkam dapat dilayari sampan-sampan bermuatan 8-10 pikul ke daerah hulu selama tiga sampai empat hari, sedangkan Batang Tapus dapat dilayari dengan perahu-perahu bermuatan setengah koyan selama tiga hari. Menurut catatan Couperus, di daerah Barus terdapat sungai-sungai kecil atau anak sungai di bagian hulunya yang bernama Ujung Sialang, Muara Rasu, Kuala Sungai Hantu, Aek Nibung, Kuala Kotatengah, Muara Sibinting, Muara Siputui, Kuala Gedang, Air Tiri, Sungai Majo, Air Busuk, Sipak Obah, dan Muara Talu (Couperus, 1855: 7-8).

Di wilayah Sibolga juga terdapat beberapa sungai seperti Sibolga, Sirudut, Sibuluan, Kalangan, dan Bediri yang semuanya berasal dari pegunungan di daerah timur wilayah ini. Tipikal Sungai di daerah Sibolga dan Barus mengalir deras karena daerah hulu dan muaranya tidak jauh. Sungai-sungai di kedua daerah ini hanya bisa dilayari perahu-perahu kecil selama dua sampai tiga jam (Couperus, 1855: 8).

Di bagian selatan ada sungai yang relatif besar di sepanjang gugusan pegunungan Tapanuli yaitu sungai-sungai dari daerah Angkola dan Mandailing. Di Angkola setidaknya terdapat delapan sungai besar yang mengalir

melewati desa-desa penduduk, sehingga sungai-sungai tersebut memiliki arti sangat penting. Adapun kedelapan sungai besar di Angkola yaitu:

1. Batang Angkola berhulu di Gunung Lubuk Raya di Angkola Julu dan membentang dari arah barat laut ke arah tenggara yang melewati Desa Hutarimbaru, Kampung Huta Baru, dan Surumatinggi. Kemudian Batang Angkola bergabung dengan Batang Gadis atau disebut juga Batang Singkuang dan bermuara di laut di daerah Singkuang. Sepanjang aliran Batang Angkola di bagian hulu hanya bisa dilayari sampan kecil dari Padangsidimpuan ke Surumatinggi.

2. Batang Salai berhulu di Gunung Tindoah, Angkola Julu, Kampung Baru dan mengalir ke arah tenggara melalui Kuria Kampung Baru dan bergabung dengan Batang Gadis di daerah Natal.

3. Aek Sangkunur berhulu di Gunung Pakoetan-toeas di Hutarimbaru dan mengalir ke arah barat melewati Kuria Kampung Baru dan bergabung dengan Batang Danau Siais. Aliran sungai ini tergolong tenang dan dalam, sehingga dapat dilayari perahu bermuatan 30 pikul.

4. Batang Toru berhulu di Si-topan, Toba dan mengalir dari arah barat laut ke arah tenggara Gunung Lubuk Raya, dan kemudian terus mengalir ke arah barat melewati Kampung Silingoan, Sigoempoelan, Latoena dekat Batang Toru, dan terus ke Pisang

Aek Malombu, Aek Janji Maria, dan bermuara di laut daerah Jamburan. Sungai ini dapat dilayari dari muara laut hingga ke Pisang.

5. Batang Mika berhulu di Gunung Sibualbuali di Distrik Sipirok, mengalir dari arah timur ke arah barat melintasi Kuria Sipirok dan Baringin dan terus ke Batang Pane di lembah Padang Lawas.

6. Batang Janji Maria berhulu di pegunungan Na Golang-Goelang di Distrik Said-nahoeta dan mengalir ke arah barat daya melalui sebagian Distrik Lumut.

Sungai ini dapat dilayari dengan perahu kecil dari Air-Kah dekat Tapalan, namun banyak perahu yang mengalami kerusakan berat akibat sulitnya jalur air ini.

7. Aek Lumut berhulu di pegunungan dekat Kampung Si-manasser (Lumut) yang mengalir dari utara ke barat Lumut dan terus ke arah tenggara dan kemudian ke arah barat laut melewati Pertaboean dan bergabung dengan Sungai Pinangsori sebelum bermuara di laut daerah Djaga-djaga. Sungai ini dapat dilayari dari Pertaboean ke Djaga-djaga dengan muatan empat sampai lima koyan, sedangkan di daerah hulunya dari Pertaboean ke Lumut hanya bisa dilayari perahu-perahu kecil bermuatan setengah koyan.

8. Sungai Pinangsori berhulu di pegunungan Na Golang-Goelang dan mengalir dari timur ke barat dan bergabung dengan Aek Lumut sebelum bermuara di

laut Djaga-djaga. Sungai ini dapat dilayari perahu bermuatan lima sampai enam koyan.

Selain delapan sungai di atas, masih banyak lagi aliran anak sungai di wilayah Angkola seperti Batang Ayumi, Batang Kumal, Batang Danau Siais, Batang Talang, Batang Kamberi, Batang Mandoerana, Batang Pasareran, Aek Si-bantai, Aek Ringkareh, Aek Saroepok, Aek Pogas, Aek Sobatang, Aek Mossa, Aek Si-maronak, Aek Si-oetkwiek, Aek Si-soemboei, Aek Si-siomboek, Aek Si-ram, Aek Sagala, Aek Gedang, Aek Soengi-doras, dan Aek Pogo (Couperus, 1855: 8-10).

Gambar 2. Sungai Batang Toru dan Gunung Lubuk Raya, 1840 (Sumber: Rosenberg, 1878: 22)

Di wilayah Mandailing juga terdapat banyak aliran sungai seperti Batang Gadis, Batang Sibodak, Batang Pungkuk, Aek Pakantan, Aek Sawani, Aek Si-angi, Aek Talao, Aek Botung, Aek Silanting, Aek omboek, Aek Si-ngingoe, Aek Siapi-Api, Aek Mais, Aek Tambangan, Aek Matta, Aek Papoan, Aek Glaga, Aek Bargot, Aek Sarien, Aek Guo, Aek Sama, Aek Plampungan, Air Nangali, Air Antoenoe, Air Bonko, Sungai Dras, Sungai Kakoh, Muara Tapus, Rantau Paoeran, dan Perlang-tengah (Couperus, 1855: 10-11).

Dari semua sungai yang ada di Mandailing, Batang Gadis atau Batang Singkuang merupakan sungai paling besar, karena hampir semua sungai yang ada di daerah Mandailing bergabung dengan Batang Gadis sebelum akhirnya bermuara ke laut di daerah Singkuang.

Batang Gadis memiliki lebar sekitar 50 kilometer di daerah muaranya. Sungai ini dapat dilayari perahu-perahu ukuran kecil dengan muatan lebih kurang 1,5 ton hingga ke hulu selama dua sampai tiga hari. Bagi masyarakat, Batang Gadis merupakan jalur utama untuk transportasi air, karena menghubungkan beberapa daerah di Mandailing dan Angkola dan daerah-daerah sepanjang alirannya, sehingga memperlancar kegiatan perdagangan dan aktivitas sehari-hari masyarakat yang tinggal di daerah hulu (pedalaman) dan daerah hilir (muara sungai dan muara pantai) (Asnan, 2007: 23;

Couperus, 1855: 11).

Di wilayah Natal juga terdapat beberapa aliran sungai yang berperan penting bagi aktivitas ekonomi masyarakat setempat, seperti Sungai Batahan yang berhulu di Gunung Ulu Pungkuk, Mandailing Julu dan dapat dilayari sejauh delapan sampai sepuluh paal ke hulunya; Sungai Natal berhulu di Sanah-doreh di kaki bukit Sitampa dan dapat dilayari oleh perahu-perahu besar bermuatan 50-60 pikul kopi di wilayah Natal, dan jika hendak lebih jauh ke daerah hulunya dapat menggunakan sampan-sampan kecil; Sungai Tabuyung berhulu di Bukit Sidoar-doar; dan Batang Gadis yang berhulu di Gunung Kulabu, Rao. Sungai Tabuyung dan Batang Gadis dapat dilayari perahu-perahu besar sejauh 15 paal ke daerah hulunya. Selain sungai-sungai tersebut, masih ada sungai-sungai lain yang mengalir di wilayah ini seperti Kangkang, Sinunukan, dan Batu Mundam (Couperus, 1855: 11-12).

Dari semua sungai yang ada di Tapanuli, sungai-sungai yang berada di wilayah Lumut dan Natal dianggap paling cocok dan aman untuk dilayari. Aliran sungai tersebut biasanya dimanfaatkan penduduk daerah hulu dan hilir sebagai jalur transportasi pengangkutan barang-barang kebutuhan sehari-hari dan barang ekspor dari daerah pedalaman seperti hasil hutan dan hasil pertanian penduduk seperti lada dan kopi (Couperus, 1855: 12).

Topografi bagian barat Tapanuli ditandai dengan banyaknya tanjung dan teluk. Tanjung dan teluk juga memiliki arti penting bagi wilayah ini karena dapat dijadikan sebagai pelabuhan laut (pelabuhan alam). Beberapa tanjung dan teluk yang terkenal dan memainkan peran penting sebagai pelabuhan di Tapanuli adalah Tanjung Singkel, Teluk Tapanuli, Tanjung Kara-kara, dan Ujung Regat (Natal) (Asnan, 2007: 25).

Selain itu kawasan pantai umumnya memiliki rawa-rawa yang cukup luas seperti di daerah sekitar Singkel, Sibolga, dan Natal (Couperus, 1855: 5).

Gambar 3. Teluk Tapanuli (Sibolga), 1919 (Sumber: KITLV 90265)

Di lepas pantai Tapanuli, terdapat rangkaian pulau yang terdiri dari Puau Nias dan Pulau Banyak. Pulau Banyak memiliki rangkaian pulau sekitar 50 hingga 60

pulau yang membentuk beberapa kelompok. Adapun rangkaian Pulau Banyak tersebut di antaranya adalah Gosong Telaga, Kandang, Beberang, Pulau Lipan, Pulau Mangki dan Pulau Panjang yang terletak di antara selatan Singkel dan Tapus; Pulau Karang di Barus; Pulau Sorkam di Sorkam; Pulau Mursala sekitar ¼ derajat dari pantai Teluk Tapanuli; Pulau Gedang, Pulau Kecil, Pulau Panjang, Pulau Pala, Pulau Ongeh, dan Pulau Bakor yang terletak di Teluk Tapanuli; Pulau Ilir di seberang muara Batang Singkuang; Pulau Tabuyung di lepas pantai Tabuyung; Pulau Ringawan, Pulau Telor, dan Pulau Kara-kara di utara Natal; dan Pulau Tamang di selatan Natal (Couperus, 1855: 5-6). Walaupun terdapat banyak rangkaian pulau yang tersebar di lepas pantai Tapanuli, ternyata tidak sepenuhnya berhasil melindungi bibir pantai dari terjangan ombak Samudera Hindia yang terkenal besar dan kuat (Asnan, 2007: 25-27).

Kondisi cuaca di Tapanuli bagian pesisir pantai pada umumnya lembab dan panas. Sebagian besar kelembaban udara tersebut juga dipengaruhi oleh bentangan rawa-rawa di sepanjang pantai. Sedangkan di daerah dataran tinggi di pedalaman Tapanuli kondisi udaranya tidak seekstrim di daerah pantai. Meskipun demikian terkadang di daerah dataran tinggi juga mengalami terpaan angin barat berupa badai dan hujan lebat. Menurut Couperus, kondisi cuaca dan iklim yang tidak menentu seperti itu dapat menimbulkan berbagai

macam penyakit, terutama demam, dan kondisi ini bisa menjadi salah satu penyebab lambatnya tingkat populasi penduduk Tapanuli (Couperus, 1855: 3-4).

Itulah gambaran alam daerah Tapanuli. Berikut ini akan diberikan uraian tentang penduduk yang mendiami daerah ini, dan bagaimana penduduk setempat membentuk pola permukiman mereka serta aktivitas

Dalam dokumen SEJARAH KOPI MANDAILING (Halaman 31-44)