suatu ciptaan dilahirkan tanpa mengurangi pembatasan menurut peraturan perundang- undangan yang berlaku.
Ketentuan Pidana Pasal 72 :
1. Barangsiapa dengan sengaja atau tanpa hak melakukan per buatan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 2 ayat (1) atau Pasal 49 ayat (1) dan ayat (2) dipidana dengan pidana penjara masing-masing paling singkat 1 (satu) bulan dan/atau denda paling sedikit Rp 1.000.000,00 (satu juta rupiah), atau pidana penjara paling lama 7 (tujuh) tahun dan/atau denda paling banyak Rp 5.000.000.000,00 (lima milyar rupiah).
2. Barangsiapa dengan sengaja menyiarkan, memamerkan, mengedarkan, atau menjual kepada umum suatu Ciptaan atau barang hasil pelanggaran Hak Cipta atau Hak Terkait sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dipidana dengan pidana penjara paling lama 5 tahun dan/atau denda paling banyak Rp 500.000.000,00 (lima ratus juta rupiah).
www.penerbitombak.com 2019
SEJARAH KOPI MANDAILING
Kebijakan Ekonomi Kolonial Belanda dalam Eksploitasi Kopi di Keresidenan Tapanuli, 1841-1928
Diterbitkan oleh Penerbit Ombak (Anggota IKAPI), 2019 Perumahan Nogotirto III, Jl. Progo B-15, Yogyakarta 55599
Tlp.: 085105019945 Email: [email protected]
Facebook: Penerbit OmbakTiga www.penerbitombak.com
PO 511.09.’19
Penulis: Budi Agustono, Junaidi, Kiki Maulana Affandi Penyunting: M. Nursam
Sampul & Tata letak: Tim Ombak
Foto Sampul:
Perpustakaan Nasional: Katalog Dalam Terbitan (KDT) SEJARAH KOPI MANDAILING:
Kebijakan Ekonomi Kolonial Belanda dalam Eksploitasi Kopi di Keresidenan Tapanuli, 1841-1928
Yogyakarta: Penerbit Ombak, 2019 xiii + 87 hlm.; 14,5 x 21 cm
ISBN: 978-602-258-
v
Pertama, penulis mengucapkan puji syukur ke hadirat Allah Swt., Tuhan Yang Maha Kuasa, atas rahmat dan hidayah-Nya tulisan sederhana yang berjudul Sejarah Kopi Mandailing: Eksploitasi Kolonial dalam Komoditi Kopi di Keresidenan Tapanuli 1841-1928 dapat terselesaikan. Buku ini merupakan hasil penelitian yang dilakukan pada tahun 2017 yang dibiayai oleh Lembaga Penelitian Universitas Sumatera Utara.
Tulisan ini berusaha untuk menelusuri sejarah komoditi Kopi Mandailing yang ditanam di wilayah Tapanuli. Wilayah Tapanuli yang dimaksud di sini adalah tempat berdiam penduduk beretnik Mandailing dan Angkola. Kopi Mandailing adalah suatu brand atau merk dagang yang dipakai untuk kopi yang berasal dari daerah Mandailing. Namun, sejak masa lalu banyak daerah-daerah lain di Tapanuli yang memakai merk ini untuk mendulang harga yang tinggi. Kepopuleran Kopi Mandailing sudah sejak masa kolonial Belanda.
Pada masa puncak kejayaannya telah menghasilkan
lebih dari 5.500.000 pohon kopi. Ini merupakan hasil
pencapaian produksi yang luar biasa pada masa itu.
vi
Tapanuli. Beberapa dampak tersebut di antaranya adalah persoalan infrasruktur, pendidikan, dan layanan kesehatan.
Di dalam tulisan ini terdapat beberapa penyebutan nama tempat, sungai, bukit, dan gunung yang masih memakai ejaan lama sesuai dengan sumber yang menyebutkannya. Hal ini dipertahankan oleh penulis untuk menghindari kesalahan penyebutan nama-nama tersebut, karena ada beberapa nama diantaranya sudah tidak ada lagi saat ini. Namun untuk nama-nama yang masih ada sampai sekarang, penulis menggunakan sesuai ejaan yang berlaku saat ini.
Tulisan sederhana ini terselesaikan atas bantuan
dari berbagai pihak. Untuk itu tim penulis mengucapkan
terima kasih yang sebesar-besarnya kepada berbagai
pihak yang telah membantu baik materil dan moril dari
sejak awal penelitian hingga naskah ini selesai untuk
diterbitkan. Pertama sekali tim penulis mengucapkan
terima kasih kepada Lembaga Penelitian Universitas
Sumatera Utara yang telah mendanai penelitian ini
sehingga dapat diselesaikan menjadi naskah sejarah
kopi Mandailing. Selanjutnya penulis mengucapkan
terima kasih kepada pegawai Arsip Nasional Republik
Indonesia dan Perpustakaan Nasional Republik Indonesia yang telah memberikan pelayanan terbaiknya dalam membantu tim penulis menelusuri berbagai arsip dan dokumen yang berkaitan dengan penelitian ini.
Begitu juga kepada Penerbit Ombak yang telah bersedia menerbitkan naskah ini, penulis haturkan terima kasih.
Jika dalam buku ini ada bagian yang tidak selaras atau mungkin bertentangan dengan pandangan pembaca, atau ada kekeliruan lain yang mungkin bertentangan dengan realitas sejarah, maka tim penulis dengan senang hati bersedia membicarakannya. Akhir kata, tulisan ini masih jauh dari sempurna, untuk itu kami terbuka menerima saran dan kritik dari pembaca demi kesempurnaan buku ini.
Medan, 21 Oktober 2018
Tim Penulis
viii
PENGANTAR PENULIS ~ v DAFTAR ISI ~ viii
DAFTAR SINGKATAN ~ x DAFTAR GAMBAR ~ xi DAFTAR TABEL ~ xii BAB I
PENDAHULUAN ~ 1
A. Latar Belakang Masalah ~ 1 B. Historiografi ~ 7
C. Tentang Buku Ini ~ 14 BAB II
TAPANULI MASA KOLONIAL ~ 19 A. Letak dan Bentang Alam Tapanuli ~ 19
B. Penduduk, Permukiman, dan Aktivitas Ekonomi ~ 32 1. Penduduk Tapanuli ~ 32
2. Pola Permukiman ~ 39
3. Aktivitas Ekonomi Penduduk Tapanuli ~ 34
4. Ekspansi Kolonial Belanda dan Pembagian Administratif
Tapanuli ~ 46
BAB III
KEBIJAKAN EKONOMI KOLONIAL BELANDA DALAM EKSPLOITASI KOPI DI TAPANULI ~ 55
A. Perdagangan Kopi Prakolonial ~ 55 B. Penerapan Kebijakan Budidaya Kopi ~ 59 C. Produksi dan Booming Kopi ~ 64
D. Kerja Rodi Pengangkutan Kopi ~ 82
E. Lelang Kopi dan Pelabelan Mandheling Coffee ~ 89 BAB IV
UPAYA PEMERINTAH KOLONIAL BELANDA DALAM MENINGKATKAN KESEJAHTERAAN PENDUDUK TAPANULI ~ 96
A. Penghapusan Kerja Rodi dan Pembangunan Infrastruktur di Tapanuli ~ 98
B. Peningkatan Pendidikan Penduduk ~ 106 C. Peningkatan Kesehatan Penduduk ~ 111 BAB V
KESIMPULAN ~ 115
DAFTAR PUSTAKA ~ 120 INDEKS ~ 128
TENTANG PENULIS ~ 132
x
ANRI Arsip Nasional Republik Indonesia
ASGB-Bt Algemeene Secretarie Grote Bundel Besluit ASGB-MGS Algemeene Secretarie Grote Missive
Gouvernements Secretaris
ASGB-TZG.Ag Algemeene Secretarie Grote Bundel Ter Zijnde Gelegde Agenda
BKI Bijdrage tot de Taal-, Land- en Volkenkunde van Nederlandsch-Indie. Uit gegeven door het Koninklijk Instituut voor Taal-, Land-en Volkenkunden van Nederlandsch-Indie
EIC East India Company
ENI Encyclopaedie van Nederlandsch-Indie IG De Indische Gids
KITLV Koninklijk Instituut voor Taal-, Land-en Volkenkunden van Nederlandsch-Indie
MvO Memorie van Overgave
NHM Nederlandsch Handel Maatschappij
NTvNI Natuurkundig Tijdschrift voor Nederlandsch-Indie
PNRI Perpustakaan Nasional Republik Indonesia
SWK Sumatra’s Westkust
TBG Tijdschrift voor Indische Taal-, Land- en Volkenkunde uitgegeven door het (Koninlijk) Bataviaasch van Kunsten en Wetenschappen
TNI Tijdschrift voor Nederlandsch-Indie
TNLNI Tijdscrift van Nijverheid en Landbouw in Nederlandsch- Indie
VOC Vereenigde Oost-Indie Compagnie
DAFTAR GAMBAR
Gambar 1. Wilayah Tapanuli dalam Peta Sumatera ~ 21 Gambar 2. Sungai Batang Toru dan Gunung Lubuk Raya, 1840 ~ 27 Gambar 3. Teluk Tapanuli (Sibolga), 1919 ~ 30
Gambar 4. Kampung di Padangsidimpuan, sekitar 1870 ~ 41
Gambar 5. Kampung Kota Baringin di Muara Sipongi, 1895 ~ 42
Gambar 6. Kebun Kopi di Padangsidimpuan, 1925 ~ 66
Gambar 7. Gudang Kopi di Muara Sipongi, sekitar 1895 ~ 69
Gambar 8. Jembatan Gantung di Batang Toru, sekitar 1840 ~ 86
Gambar 9. Jalan menuju Muara Sipongi, sekitar 1895 ~ 102
Gambar 10. Jembatan di Padangsidimpuan, sekitar 1920 ~ 104
Gambar 11. Jalan Raya (Postweg) di Mandailing, sekitar 1890 ~ 105
Gambar 12. Perbaikan Drainase Air di Sibolga, 1920-1921 ~ 114
xii
Tabel 1. Sensus Penduduk Tapanuli Tahun 1851 ~ Tabel 2. Sensus Penduduk Tapanuli Tahun 1917 ~ Tabel 3. Daftar Residen Tapanuli dari 1842-1936 ~
Tabel 4. Gudang Penyimpanan Kopi di Keresidenan Tapanuli ~ Tabel 5. Tingkat Produksi Kopi Pasca Penghapusan Budidaya
Kopi di Keresidenan Tapanuli ~
Tabel 6. Jumlah Produksi Kopi Per Daerah di Tapanuli ~ Tabel 7. Ekspor Kopi dari Sibolga ke Padang dariTahun 1913-
1922 ~
Tabel 8. Lelang Kopi di Padang Tahun 1880-1881
1
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang Masalah
Dalam acara resepsi pernikahan putri Presiden Republik Indonesia, Joko Widodo, Kahiyang Ayu, dengan seorang putra yang berasal dari Sumatera Utara, Bobby Nasution, yang beretnik Mandailing pada 2017, terdapat pemandangan yang menarik, yaitu sajian khas pada puncak resepsi pernikahan tersebut. Sajian ini berupa Kopi Mandailing. Jenis kopi ini sangat populer kemasyhurannya hingga ke mancanegara. Peredarannya telah mencapai negara-negara seperti Amerika Serikat, Jepang, Australia, dan juga negara-negara di Eropa.
Dalam tingkatan regional, konsumsi dan peredaran
Kopi Mandailing banyak dijumpai di kafe atau warung-
warung kopi. Hingga saat ini kopi tersebut dapat diakses
di mana saja, apalagi dengan bertaburnya warung atau
kafe kopi tersebut membuat masyarakat semakin mudah
untuk menikmatinya. Namun, meski masyarakat sering
mengkonsumsi kopi ini, banyak yang tidak memahami
sejarah mengenai komoditi Kopi Mandailing tersebut.
Kepopuleran Kopi Mandailing saat ini merupakan warisan dari masa kolonial Belanda. Pada masa kejayaannya, terdapat sekitar 5.500.000 pohon kopi yang ditanam di Tapanuli (Hoeven, 1864: 44).
Keberhasilan yang dilakukan oleh kolonial Belanda tidak terlepas dari penerapan kebijakan ekonomi budidaya kopi pemerintah. Ide kebijakan ini terinspirasi dari politik ekonomi kolonial di Jawa, yaitu cultuurstelsel.
Jauh sebelum kebijakan kolonial tersebut diterapkan di Tapanuli, penduduk telah membudidayakan dan memperdagangkan kopi. Dalam kehidupan sehari-hari masyarakat Mandailing sering mengkonsumsi kopi. Oleh karenanya tidaklah mengherankan jika perdagangan kopi sudah beredar di pasar-pasar lokal Tapanuli sejak lama. Tanaman kopi banyak dibudidayakan di daerah pedalaman Tapanuli. Diperkirakan tanaman ini dibawa oleh para haji yang pulang dari tanah Arab dan kemudian dibudidayakan di kampung-kampung mereka. Sejarah kopi di Tapanuli tidak hanya berkisah tentang budidaya dan perdagangan, tetapi juga menjelaskan banyak hal.
Beberapa di antaranya adalah persoalan perubahan masyarakat, perkembangan infrastruktur, stratifikasi sosial, dan politik kolonial.
Keberlangsungan kebijakan ekonomi dan politik
kolonial Belanda di Jawa, pengaruhnya sangat terlihat
dalam kebijakan tanam paksa. Pengalaman-pengalaman
pemerintah kolonial dalam mengelola sektor pertanian di Pulau Jawa sebahagian juga diterapkan di luar Jawa.
Hal ini dikarenakan perluasan kekuasaan kolonial di luar Jawa selama abad kesembilan belas mulai semakin intens. Dengan demikian pemerintah kolonial Belanda ingin mencoba menyatukan kekuasaannya yang bertebaran itu menjadi suatu perpaduan politik dan ekonomi yang nyata di bawah suatu negara Hindia Belanda. Terkait hal itu tindakan politik dan kebijakan ekonomi telah dijalankan pula (Zed, 1983: 4-5).
Di Tapanuli, bentuk dari kebijakan ekonomi yang dijalankan pemerintah kolonial Belanda muncul dalam bentuk gouvernement koffiecultuur (budidaya kopi pemerintah). Penerapan kebijakan ini merupakan percobaan pemerintah untuk ‘menjadikan seluruh alam Minangkabau dan Tapanuli sebagai Jawa kedua’
(Dobbin, 2008: 358). Namun berbeda dengan apa yang
ditemukan di Pulau Jawa. Jika di Jawa, penerapan sistem
tanam paksa mengakibatkan gejala kemiskinan, dimana
mereka tidak mampu menumbuhkan kesempatan
untuk memperbaiki dan menopang standar kehidupan
mereka (Geertz, 1976). Akan tetapi di Tapanuli, pada
kenyataannya sifat dari politik ekonomi kolonial Belanda
tersebut tidaklah menimbulkan efek yang begitu parah
terhadap sektor ekonomi penduduk. Sebab, pada saat
penduduk mendapatkan tekanan dari pengaturan
kebijakan kolonial ini, mereka dengan mudah dapat
berpindah ke kegiatan bentuk lain (karena di wilayah ini hanya komoditi kopi satu-satunya tanaman yang diwajibkan). Alternatif yang biasa dilakukan penduduk ialah berdagang atau mengusahakan pertanian selain kopi, yaitu beras.
Penerapan budidaya kopi pemerintah di kawasan pantai barat Sumatera, sebenarnya telah berlaku sejak 1847, namun untuk wilayah Tapanuli baru terlaksana pada 1849. Akan tetapi jika merujuk laporan Alexander Philippus Godon (Asisten Residen Mandailing dan Angkola), budidaya kopi di Mandailing dan Angkola telah berlangsung sejak 1841 (Godon, 1862: 9).
Untuk menggerakkan budidaya tersebut, pemerintah kolonial Belanda di daerah ini telah membangun suatu sistem administrasi dalam pengelolaannya. Gubernur Sumatra’s Westkust adalah orang pertama yang bertanggung jawab atas kebijakan ini, dan kemudian dilanjutkan bawahannya seperti residen, asisten residen dan kontrolir serta volkshoofden (pemuka-pemuka masyarakat).
Dalam meningkatkan kuantitas maupun kualitas
produksi kopi, pemerintah kolonial biasanya
menyediakan semacam perangsang finansial atau
komisi (koffijprocenten) yang diberikan secara legal
kepada pejabat bumiputra tetapi kadang-kadang juga
kepada pejabat kulit putih. Semakin besar jumlah hasil
kopi yang masuk ke tangan pemerintah, semakin besar pula imbalan yang didapat oleh mereka. Kebijakan ini membuat volkshoofden mendesak petani kopi supaya menjual kopinya kepada pemerintah. Komoditi kopi tersebut harus diangkut menuju gudang-gudang penyimpanan yang tersebar di beberapa wilayah Tapanuli (Godon, 1862: 10-11). Volkshoofden juga mengawasi pengangkutan kopi yang dilakukan oleh penduduk. Kebijakan ini begitu eksploitatif dan berdampak pada kondisi sosial dan ekonomi penduduk Tapanuli pada masa itu.
Pelaksanaan budidaya kopi di Tapanuli merupakan suatu kebijakan dan pranata ekonomi politik pemerintah pusat dalam melakukan pengerukan keuntungan atas hasil komoditi pertanian kopi di wilayah tersebut. Dalam penerapan kebijakannya di Tapanuli, mendapat respon penolakan dari penduduk bumiputra. Hal ini dikarenakan skema kerja sama yang disepakati di awal, menurut penduduk telah bergeser pelaksanaannya, yaitu menjadi eksploitasi. Sehingga menimbulkan perlawanan dan kerusuhan di beberapa tempat. Walaupun demikian kebijakan ini tetap dijalankan oleh pemerintah kolonial Belanda dengan memaksa penduduk setempat untuk menanam kopi dan menyerahkan hasil panen kopi mereka ke gudang-gudang milik pemerintah pemerintah kolonial Belanda dengan harga yang telah ditetapkan.
Selain itu, penduduk yang tidak memiliki lahan untuk
pertanian kopi, dipaksa menjadi kuli panggul pengangkut kopi dari gudang-gudang penyimpanan kopi di daerah pedalaman menuju gudang kopi yang terdapat di pelabuhan-pelabuhan pesisir, seperti Air Bangis, Natal, Djaga-djaga, dan Sibolga (Godon, 1862: 10).
Kebijakan budidaya kopi yang diberlakukan oleh pemerintah kolonial Belanda akhirnya dibubarkan pada tahun 1880-an. Namun untuk beberapa daerah di Tapanuli; seperti Mandailing dan Angkola, kebijakan ini masih dijalankan dengan sebutan serah wajib kopi.
Setelah kebijakan ini dibubarkan, pemerintah membuat kebijakan baru, yaitu penerapan sistem pajak yang diberlakukan untuk seluruh kawasan pantai barat Sumatera.
Dalam waktu yang demikian panjang, pelaksanaan kebijakan kolonial Belanda ini telah mengalami pasang surut. Bersamaan dengan itu fluktuasi produksi kopi yang dikumpulkan cenderung menurun di seperempat akhir abad kesembilan belas. Dengan gambaran yang sedemikian rupa, tulisan ini mencoba untuk menelusuri sejarah ekonomi di Tapanuli yang ditekankan pada perubahan-perubahan aspek sosio-ekonomi penduduknya.
Atas dasar uraian di atas, kajian ini sangat penting
untuk dilakukan. Tulisan ini dapat menjadi dokumentasi
mengenai sejarah kopi yang menganalisis perubahan
ekonomi di wilayah Tapanuli. Lebih dari itu, tulisan ini juga diharapkan dapat memberi pemahaman kepada generasi sekarang dan publik secara luas mengenai perjalanan sejarah Kopi Mandailing. Selain itu tulisan ini dapat menjadi lesson learnt tidak hanya kepada pemerintah pusat tetapi juga kepada pemerintah daerah sekarang dalam menentukan kebijakan komoditi kopi di Sumatera Utara.
Jelasnya tulisan ini akan mencoba menjawab dua pertanyaan pokok: bagaimana keadaan Tapanuli pada awal dan sesudah ekspansi kolonial Belanda di wilayah ini? Sejauh mana penerapan kebijakan politik-ekonomi pemerintah kolonial Belanda di Tapanuli? Untuk menjawab kedua pertanyaan pokok ini diajukan lagi beberapa pertanyaan. Bagaimanakah bentang alam, penduduk, pola pemukiman, dan aktivitas ekonomi penduduk Tapanuli? Bagaimana kolonial Belanda mengekspansi dan mengaveling-kaveling wilayah Tapanuli? Bagaimana penerapan kebijakan ekonomi kolonial Belanda dalam budidaya kopi? dan apa dampak dari kebijakan kolonial tersebut sebagai upaya untuk meningkatkan kesejahteraan penduduk Tapanuli.
B. Historiografi
Fokus tulisan ini adalah sejarah Kopi Mandailing di
Tapanuli. Permasalahan utamanya adalah penerapan
kebijakan ekonomi kolonial Belanda terhadap eksploitasi kopi di daerah-daerah Tapanuli. Kebijakan budidaya kopi ini disebut dengan gouvernement koffiecultuur.
Sistem yang diberlakukan dalam pelaksanaan kebijakan ini hampir sama sepenuhnya dengan sistem tanam paksa yang diberlakukan di Jawa. Dalam sumber- sumber kolonial, kebijakan ini dikenal dengan istilah cultuurstelsel atau dalam artian sistem budidaya tanaman. Praktek ini pertama sekali dicetuskan di Jawa pada 1830 yang di inisiasi oleh Johannes van den Bosch.
Beberapa peneliti kemudian mengartikan
cultuurstelsel dengan istilah sistem tanam paksa. Robert
van Niel (1972) menilai kebijakan tanam paksa memiliki
dampak sosio-ekonomi yang besar terhadap penduduk
Jawa. Pengambilan tanah dan tenaga kerja yang diperas
secara paksa telah menghadapkan penduduk Jawa pada
dilema kemiskinan, yang pada gilirannya mereka tidak
mampu menumbuhkan kesempatan untuk memperbaiki
taraf kehidupan mereka. Gejala-gejala yang timbul akibat
dari penerapan kebijakan tanam paksa ini diungkapkan
pula oleh Clifford Geertz (1976) sebagai timbulnya mass-
poverty dalam masyarakat Jawa. Untuk mengungkapkan
gejala kemiskinan ini Geertz mencoba mencari akar-akar
historis dengan menggunakan pendekatan sejarah dari
sudut perubahan-perubahan ekologis yang ditimbulkan
oleh sistem tanam paksa tersebut.
Pengalaman-pengalaman pemerintah kolonial dalam mengelola sektor pertanian di Pulau Jawa sebahagian juga diterapkan di luar Jawa. Hal ini dikarenakan perluasan kekuasaan kolonial di luar Jawa selama abad kesembilan belas mulai semakin intens. Dengan demikian pemerintah kolonial Belanda ingin mencoba menyatukan kekuasaannya yang bertebaran itu menjadi suatu perpaduan politik dan ekonomi yang nyata di bawah suatu negara Hindia Belanda. Terkait hal itu tindakan politik dan kebijakan ekonomi telah dijalankan pula (Zed, 1983: 4-5). Tekanan perubahan sosial dan ekonomi yang ditimbulkannya telah mengakibatkan terjadinya perkembangan ekonomi yang tidak merata.
Keberhasilan sistem tanam paksa di Jawa mendorong
pemerintah kolonial Belanda untuk menerapkan sistem
serupa di luar Pulau Jawa. Wilayah yang dipilih sebagai
tempat penerapan kebijakan ini adalah Sumatra’s
Westust (Minangkabau dan Tapanuli). Penerapan
kebijakan ini merupakan suatu percobaan pemerintah
kolonial untuk menjadikan Sumatra’s Westkust sebagai
Jawa kedua (Dobbin, 2008: 358). Namun pada awalnya,
sifat politik kolonial Belanda dalam penerapan sistem
tanam paksa kopi di Tapanuli tidak begitu berpengaruh
terhadap perekonomian penduduk. Hal ini dikarenakan
komoditi yang diterapkan pada sistem tanam paksa
hanya komoditi kopi saja, sedangkan komoditi lainnya
masih bebas diusahakan oleh penduduk. Selain itu,
sebelum kolonial Belanda masuk ke wilayah ini, pertanian penduduk sudah berorientasi pada pasar.
Dengan demikian penduduk memiliki alternatif lain untuk menghindari sistem tanam paksa tersebut dengan berdagang atau mengusahakan pertanian selain kopi.
Sebelum diterapkannya tanam paksa kopi di Tapanuli oleh pemerintah kolonial Belanda, tanaman ini sebenarnya sudah lama ada dan diusahakan oleh penduduk setempat. Hasil pertanian kopi pada masa ini sudah diperdagangkan pula oleh penduduk setempat dengan berbagai bangsa yang datang ke pelabuhan di sepanjang pantai barat Sumatera. Namun, banyak hasil kopi penduduk dari daerah ini dikuasai oleh kaum Paderi. Monopoli perdagangan yang dilakukan oleh kaum Paderi di pedalaman sangat mengancam monopoli perdagangan yang dilakukan kolonial Belanda di pantai barat Sumatera (Hadler, 2008).
Gencarnya perdagangan kopi yang dilakukan kaum
Paderi di beberapa pelabuhan pantai barat Sumatera
(umumnya kawasan utara), dan pelabuhan-pelabuhan
pantai timur Sumatera telah merusak tatanan monopoli
dagang kolonial di kawasan tersebut. Derasnya arus
perdagangan kopi yang mengalir ke tangan-tangan
pedagang selain kolonial Belanda, telah membuat
perekonomian kolonial Belanda rusak. Mitra dagang
kaum Paderi saat itu ialah Aceh, Inggris, Amerika, dan
Timur Asing seperti Arab, India, dan Cina (Asnan, 2007).
Selain itu pola hubungan dagang masyarakat pedalaman dengan masyarakat pantai telah berlangsung jauh sebelum bangsa Barat datang ke kawasan ini. Pola hubungan ini digambarkan dengan peta akses jalan daerah pedalaman ke wilayah pantai. Perdagangan tradisional tersebut telah membentuk karakter masyarakat kawasan ini, sehingga lahir hubungan politik dan ekonomi tradisional pada saat itu. Hubungan ini terbukti bertahan hingga kedatangan bangsa Barat ke kawasan ini (Asnan, 2002).
Sebagai bahan pertimbangan dan perbandingan dengan kajian sebelumnya, terdapat beberapa penelitian yang terkait dengan kebijakan kolonial dalam sistem tanam paksa kopi. Salah satunya adalah laporan A.P. Godon (1862) De Assistent-Resident Mandheling en Ankola, op Sumatra’s Westkust van 1847-1857.
Artikel ini merupakan laporan Godon ketika menjabat sebagai Asisten Residen di daerah Mandailing dan Angkola, Keresidenan Tapanuli. Dalam laporan tersebut, ia menggambarkan kondisi wilayah, penduduk, dan ekonomi wilayah Tapanuli pada 1840 hingga 1850-an.
Sebagai pengantar laporannya, ia mengangkat masalah
kebijakan pemerintah kolonial Belanda dalam usaha
meningkatkan ekonomi dan kesejahteraan penduduk
jajahan di Hindia Belanda, serta faktor apa saja yang
dapat dicapai dalam usaha tersebut. Laporan ini juga
menjelaskan secara komprehensif sektor pertanian penduduk dalam hal komoditas yang memiliki potensi ekonomi tinggi. Selain itu, ia juga menjelaskan perkembangan komoditi kopi dan dampak penerapan kebijakan budidaya kopi terhadap kondisi sosial dan ekonomi penduduk di wilayah Tapanuli.
Karya lain yang menceritakan tentang budidaya kopi di Tapanuli adalah E.B. Kielstra (1888) De Koffiecultuur ter Westkust van Sumatra. Dalam karyanya tersebut, Kielstra menjelaskan perjalanan penerapan budidaya kopi di kawasan pantai barat Sumatera (Sumatera Barat dan Tapanuli). Sebagai pengantar karyanya tersebut, ia memulai dengan budidaya kopi rakyat yang telah ada sebelum penerapan kebijakan sistem Gouvernement Koffiecultuur oleh pemerintah kolonial Belanda dan jumlah hasil perdagangan kopi pada masa itu. Dalam inti permasalahan karyanya tersebut, Kielstra mengulas penerapan kebijakan Gouvernement Koffiecultuur di seluruh alam Minangkabau dan sebagian wilayah Tapanuli (Mandailing dan Sipirok).
Selain Kielstra, karya lainnya adalah Kenneth R.
Young (1988) Sistem Tanam Paksa di Sumatera Barat:
Stagnansi Ekonomi dan Jalan Buntu dalam Politik, dalam
Anne Booth Sejarah Ekonomi Indonesia. Dalam artikelnya
dijelaskan bahwa sistem tanam paksa yang diterapkan
oleh pemerintah kolonial Belanda pada masyarakat
Minangkabau telah melahirkan istilah stagnasi ekonomi penduduk Sumatera Barat yang sebelumnya sangat giat dan aktif dalam gairah perekonomian di wilayah tersebut. Penerapan kebijakan sistem tanam paksa di Sumatera Barat berdampak terhadap komoditi ekspor di wilayah ini yakni komoditi kopi. Kopi merupakan komoditi yang berkembang sebelum masuknya kolonial Belanda di wilayah ini.
Penelitian senada lainnya yang membahas komoditi
kopi secara mendalam ialah tesis Mestika Zed (1983)
Melayu Kopi Daun: Eksploitasi Kolonial dalam Sistem
Tanam Paksa Kopi di Minangkabau Sumatera Barat
(1847-1908). Dalam tesisnya tersebut, Mestika
menganalisis perubahan ekonomi di Minangkabau
sebagai akibat dari eksploitasi kolonial Belanda terhadap
tanam paksa kopi di wilayah tersebut. Ia memulai tesisnya
dengan penggambaran masyarakat Minangkabau pra-
kolonial dilihat dari perwujudan sosio-ekonominya, dan
dilanjutkan dengan pengulasan tentang sistem tanam
paksa kopi di Sumatera Barat. Prinsip organisatoris dari
sistem tanam paksa kopi di wilayah ini tidak terlepas
dari kajiannya. Selain itu, Mestika juga membahas
konsekuensi ekonomi dari sistem tanam paksa kopi
yang mengakibatkan suramnya tingkat produksi kopi
di daerah ini. Hal ini mengakibatkan sektor pertanian
rakyat banyak yang beralih ke komoditi lain seperti
kopra.
C. Tentang Buku Ini
Penelitian buku ini menggunakan metode sejarah.
Metode penelitian sejarah adalah upaya rekonstruksi peristiwa masa lalu. Peristiwa yang direkonstruksi adalah apa yang sudah dipikirkan, dikatakan, dikerjakan, dan dialami oleh manusia. Dalam upaya merekonstruksi peristiwa sejarah, Gilbert J. Garaghan menekankan pada prinsip-prinsip yang sistematis dan seperangkat aturan-aturan untuk mengumpulkan sumber-sumber sejarah secara efektif, menilainya secara kritis, dan menyajikan sintesis dari hasil-hasil yang dicapai dalam bentuk tulisan (Garraghan, 1957). Menurut Gottchalk, metode sejarah merupakan suatu proses untuk menguji dan menganalisis rekaman dan jejak peninggalan sejarah (Gottchalk, 1985: 39). Dalam implementasinya, metode sejarah menggunakan empat proses tahapan pokok, yaitu heuristik, kritik sumber, interpretasi, dan historiografi.
Dalam penelitian sejarah sangat ditekankan pada sumber sejarah sebagai peninggalan masa lalu.
Berdasarkan jenisnya sumber sejarah dibagi menjadi
sumber primer dan sumber sekunder. Sumber primer
yaitu sumber yang berasal dari kesaksian pertama atau
sumber utama dalam penelitian sejarah, dalam hal ini
berupa arsip. Sumber sekunder adalah sumber dari
kesaksian kedua dan selanjutnya, berupa dokumen,
laporan, dan tulisan-tulisan sejaman. Sumber primer
dapat ditelusuri di Arsip Nasional Republik Indonesia.
Adapun sumber primer yang digunakan dalam tulisan ini adalah Arsip Algemeene Secretarie dan Arsip Sumatra’s Westkust. Arsip Algemeene Secretarie adalah laporan resmi pemerintah kolonial Belanda yang dikeluarkan oleh sekretariat negara kolonial Hindia Belanda.
Beberapa Algemeene Secretarie yang digunakan dalam tulisan ini adalah Algemeene Secretarie Grote Bundel Besluit 1891-1942 (ASGB-Bt), Algemeene Secretarie Grote Bundel Missive Gouvernements Secretarie 1890- 1942 (ASGB-MGS), dan Algemeene Secretarie Grote Bundel Ter Zijnde Gelegde Agenda 1891-1942 (ASGB- TZG.Ag). Arsip Sumatra’s Westkust adalah arsip dan laporan resmi pemerintah kolonial Belanda untuk kawasan pantai barat Sumatera. Arsip ini dibutuhkan karena wilayah Tapanuli pada waktu itu masuk dalam administratif Sumatra’s Westkust.
Selain data primer, digunakan pula data sekunder
berupa dokumen dan tulisan-tulisan sejaman yang dapat
ditemukan dalam Staatsblad, ENI, terbitan berkala, buku
sezaman, dan laporan penelitian. Adapun beberapa
data sekunder yang banyak dirujuk dalam penelitian
ini adalah laporan A.P. Godon, “De Assistent-Resident
Mandaheling en Angkola, op Sumatra’s Westkust
van 1847-1857”; Couperus, “De Residentie Tapanoeli
(Sumatra’s Westkust) in 1852; dan Koffie Statistiek voor
Nederlandsch-Indie 1920, 1927, en 1929.
Tahapan dalam penelitian sejarah dimulai dari tahapan heuristik. Heuristik adalah penelusuran dan pengumpulan sumber yang terkait dengan tulisan ini.
Dalam tahapan proses penelusuran sumber Arsip di ANRI dimulai dari Algemeene Secretarie, baik Grote Bundel Besluit, Missive Gouvernement Secretarie, dan Grote Bundel Ter Zijnde Gelegde Agenda. Inventaris ini memuat informasi dari sekretariat negara pemerintah kolonial Belanda, yang berguna bagi penelitian ini untuk melihat sejauh mana kebijakan kolonial terhadap komoditi kopi di Keresidenan Tapanuli. Inventaris lain yang banyak memberikan informasi bagi penelitian ini adalah inventaris arsip Sumatra’s Westkust. Penelusuran dilakukan ke inventaris ini karena mengingat dalam kurun waktu penelitian ini Keresidenan Tapanuli merupakan bagian dari Sumatra’s Westkust atau Gubernemen pantai barat Sumatera.
Selanjutnya penelusuran sumber dilakukan di
beberapa perpustakaan seperti Perpustakaan Pusat
Universitas Sumatera Utara, Perpustakaan Tengku
Lukman Sinar di Medan, dan Perpustakaan Nasional
Republik Indonesia di Jakarta. Di berbagai perpustakaan
tersebut didapatkan dokumen, dan laporan sejaman
sebagai penunjang penelitian. Selain itu, tulisan ini
juga menggunakan data dari koleksi majalah Indische
Gids IG), Tijdschrift voor Nederlandsch-Indie (TNI),
dan Bijdrage tot de Taal-, Land- en Volkenkunde van
Nederlandsch-Indie (BKI). Semua data tersebut sangat penting untuk dapat menggambarkan dan menjelaskan situasi yang menjadi objek penelitian.
Setelah tahapan heuristik selesai, dilakukan kritik sumber yang terbagi menjadi kritik ekstern dan intern.
Kritik ekstern bertujuan untuk mendapatkan sumber yang otentik atau dengan kata lain mencakup seleksi sumber yang didapatkan, apakah sumber-sumber tersebut perlu digunakan dalam penelitian. Sedangkan kritik intern bertujuan untuk menentukan sumber yang kredibel. Tujuannya untuk mendapatkan kebenaran isi dari sumber tersebut. Dengan demikian akan ditemukan fakta yang benar dalam berbagai sumber atau data tersebut. Dalam proses kritik sumber ini dilakukan seiring dengan proses transkripsi penerjemahan sumber, karena sebagian besar sumber tersebut terdiri dari bahasa asing yaitu bahasa Belanda, Inggris, dan Jerman.
Tahapan selanjutnya adalah Interpretasi dengan melakukan penafsiran atau interpretasi terhadap fakta yang telah ditemukan. Interpretasi ini bisa dalam bentuk analisis dan sintesis. Dalam penelitian ini, analisis yang digunakan yaitu analisis kualitatif.
Tahap akhir dari proses ini adalah historiografi atau
penulisan berdasarkan tahapan yang telah dilakukan
sebelumnya. Proses penyajian data dalam tahapan ini
memakai metode deskriptif-analitif. Dengan demikian
data yang telah diolah dideskripsikan secara mendalam
dan terfokus dengan mengikuti prinsip kausalitas dan
kronologis.
19
TAPANULI MASA KOLONIAL
A. Letak dan Bentang Alam Tapanuli
Tapanuli atau juga sering disebut Tapian na oelie merupakan sebutan secara umum untuk daerah-daerah yang berada di pesisir pantai barat Provinsi Sumatera Utara. Secara astronomis wilayah ini terletak pada koordinat 3° sampai 15° Lintang Utara (ENI, 1921:
273). Posisi geografis Tapanuli membujur dari tenggara ke barat laut secara teratur, sehingga menciptakan beberapa teluk besar dan kecil di pesisir pantai yang dapat dijadikan sebagai bandar atau pelabuhan (Couperus, 1855: 1).
Tapanuli pada pertengahan abad kesembilan belas memiliki luas sekitar 3.300 paal (Sumatera)
1atau lebih kurang 6.100 kilometer (Couperus, 1855: 2). Namun seiring dengan perluasan wilayah kolonial Belanda ke utara (Tanah Batak sekitar Toba dan Silindung), dan ke
1 Panjang paal di Sumatera sama dengan 1 mil laut Inggris, yaitu 1.852 meter (Godon, 1862: 8).
Timur (daerah Padang Lawas) yang mana daerah-daerah tersebut kemudian dimasukkan dalam administrasi Tapanuli, maka bertambah luas pula total keseluruhan wilayah ini. Menurut Joustra, luas wilayah Tapanuli di abad dua puluh diperkirakan sekitar 42.000 km
2sampai 50.000 km
2atau lebih kurang satu per sembilan dari total luas Pulau Sumatera (ENI, 1921: 273; Joustra, 1926: 5).
Ciri utama topografi daerah pedalaman Tapanuli
ditandai dengan keadaan yang berbukit-bukit,
berlembah, serta diselang-selingi oleh daratan yang
tidak begitu luas. Sebagian besar daerah pedalaman
juga ditutupi oleh hutan tropis yang lebat. Menurut
Gusti Asnan, secara umum antara daerah pedalaman
Tapanuli dengan daerah pesisir lautnya dihubungkan
oleh dua gugusan pegunungan. Pertama, di bagian
paling utara terdapat gugusan pegunungan Pak-Pak
yang menghubungkan daerah Singkel, Barus, dan
sekitarnya dengan daerah Batak pedalaman (Asnan,
2007: 20-21; Ypes, 1907: 355; Rosenberg, 1855: 397-
408). Kedua, gugusan pegunungan dari kawasan Teluk
Sibolga, Lubuk Raya di Angkola, dan terus ke pedalaman
hingga ke daerah Ganting dan kemudian membelok ke
selatan hingga daerah Rao (Asnan, 2007: 21-22).
Gambar 1. Wilayah Tapanuli dalam Peta Sumatera (Sumber: Diolah dari Gusti Asnan, 2007: 19)
Dari dua gugusan pegunungan yang ada di Tapanuli,
Couperus mencatat beberapa nama gunung dan bukit
dengan daerah asalnya, di antaranya: Sorik Marapi
(2.145 meter), Si Tampa, Si Doar-doar di Mandailing
Godang (Groot Mandeling); Kulabu (2.172 meter) dan Tanjung Agam di Pakantan; Lubuk Raya (1.990 meter) dan Tindoan Laut di Angkola Julu; Dolok Gaganan, Dolok Sigupang, Tengabegu, dan Sibualbuali (1.819 meter) di Angkola Jae; Taro na Pijar di Batang Taro; Nagalang Gulang di Lumut; Simpang Maropat, Sikara Kara di Natal; Simare-mare dan Siatap di Sibolga; Palaka Gading, Batara, Tomba Rajang, dan Batu-arimau di Sibuluan;
Parambunan dan Toma Rajang di Sirudut; Sitio-tio dan Patua Nalugung di Kalangan. Sebagian besar gunung di Mandailing dan Angkola memiliki ketinggian 2.500 sampai 3.000 kaki (Couperus, 1855: 17; Joustra, 1926:
8; ENI, 1921: 273).
Selain bergunung dan berbukit-bukit, bentang alam Tapanuli juga memiliki danau. Danau tersebut seperti Danau Gosong Telaga di daerah Singkel, Danau Siais di Angkola, dan Danau Pandan di Pinangsori. Sebagian besar wilayah Tapanuli juga masih ditutupi hutan tropis yang lebat dengan pohon-pohon besar. Sebagian besar hutan belum memiliki nama tertentu, dan pemberian nama pun biasanya sesuai dengan nama kampung yang ada di sekitarnya, seperti hutan Siabu, hutan Surumatinggi, hutan Simapil-apil, dan hutan Batang Toru (Couperus, 1855: 18).
Di sepanjang kawasan pesisir pantai Tapanuli juga
terdapat muara sungai, teluk dan tanjung. Di beberapa
muara sungai tumbuh permukiman penduduk yang sebagian di antaranya pernah menjadi pusat kegiatan ekonomi dan politik yang relatif penting untuk kawasan ini. Beberapa sungai yang mempunyai peran ekonomis yang relatif penting di Tapanuli adalah Sungai Singkel, Batang Gadis atau Singkuang, dan Batang Natal atau Batang Linggabaju
�(Asnan, 2007: 22-23).
Batang Singkel merupakan salah satu sungai yang terpenting di gugusan pegunungan Pak-Pak. Sungai ini dinamakan juga Batang Air Besar oleh penduduk setempat. Disebut Batang Air Besar karena merupakan gabungan dari beberapa buah anak sungai di bagian hulunya (Asnan, 2007: 23; Rosenberg, 1882: 353-356).
Batang Singkel memiliki lebar kurang lebih 60 meter, sehingga dapat dilayari oleh kapal yang relatif besar hingga beberapa kilometer ke arah hulu selama lima sampai enam hari. Anak-anak sungai yang bergabung dengan Batang Singkel seperti Simpang Kiri dan Simpang Kanan juga dapat dilayari jauh ke arah hulu. Batang singkel mempunyai dua muara yang dikenal dengan nama Kuala Aceh dan Kuala Baru, sedangkan Singkel merupakan kota penting di sepanjang aliran sungai ini (Asnan, 2007: 23; Couperus, 1855: 7).
Di wilayah Barus juga ditemukan beberapa sungai
besar yang mengalir dari arah timur laut ke arah barat
daya seperti Batang Batu Gerigis dan Batang Sorkam
yang berhulu di pegunungan Toba dan Rambai, dan Batang Tapus yang berhulu di lembah pegunungan Paloeman-dalin di daerah Tanah Dairi. Batang Batu Gerigis dan Batang Sorkam dapat dilayari sampan- sampan bermuatan 8-10 pikul ke daerah hulu selama tiga sampai empat hari, sedangkan Batang Tapus dapat dilayari dengan perahu-perahu bermuatan setengah koyan selama tiga hari. Menurut catatan Couperus, di daerah Barus terdapat sungai-sungai kecil atau anak sungai di bagian hulunya yang bernama Ujung Sialang, Muara Rasu, Kuala Sungai Hantu, Aek Nibung, Kuala Kotatengah, Muara Sibinting, Muara Siputui, Kuala Gedang, Air Tiri, Sungai Majo, Air Busuk, Sipak Obah, dan Muara Talu (Couperus, 1855: 7-8).
Di wilayah Sibolga juga terdapat beberapa sungai seperti Sibolga, Sirudut, Sibuluan, Kalangan, dan Bediri yang semuanya berasal dari pegunungan di daerah timur wilayah ini. Tipikal Sungai di daerah Sibolga dan Barus mengalir deras karena daerah hulu dan muaranya tidak jauh. Sungai-sungai di kedua daerah ini hanya bisa dilayari perahu-perahu kecil selama dua sampai tiga jam (Couperus, 1855: 8).
Di bagian selatan ada sungai yang relatif besar di
sepanjang gugusan pegunungan Tapanuli yaitu sungai-
sungai dari daerah Angkola dan Mandailing. Di Angkola
setidaknya terdapat delapan sungai besar yang mengalir
melewati desa-desa penduduk, sehingga sungai-sungai tersebut memiliki arti sangat penting. Adapun kedelapan sungai besar di Angkola yaitu:
1. Batang Angkola berhulu di Gunung Lubuk Raya di Angkola Julu dan membentang dari arah barat laut ke arah tenggara yang melewati Desa Hutarimbaru, Kampung Huta Baru, dan Surumatinggi. Kemudian Batang Angkola bergabung dengan Batang Gadis atau disebut juga Batang Singkuang dan bermuara di laut di daerah Singkuang. Sepanjang aliran Batang Angkola di bagian hulu hanya bisa dilayari sampan kecil dari Padangsidimpuan ke Surumatinggi.
2. Batang Salai berhulu di Gunung Tindoah, Angkola Julu, Kampung Baru dan mengalir ke arah tenggara melalui Kuria Kampung Baru dan bergabung dengan Batang Gadis di daerah Natal.
3. Aek Sangkunur berhulu di Gunung Pakoetan-toeas di Hutarimbaru dan mengalir ke arah barat melewati Kuria Kampung Baru dan bergabung dengan Batang Danau Siais. Aliran sungai ini tergolong tenang dan dalam, sehingga dapat dilayari perahu bermuatan 30 pikul.
4. Batang Toru berhulu di Si-topan, Toba dan mengalir
dari arah barat laut ke arah tenggara Gunung
Lubuk Raya, dan kemudian terus mengalir ke arah
barat melewati Kampung Silingoan, Sigoempoelan,
Latoena dekat Batang Toru, dan terus ke Pisang
Aek Malombu, Aek Janji Maria, dan bermuara di laut daerah Jamburan. Sungai ini dapat dilayari dari muara laut hingga ke Pisang.
5. Batang Mika berhulu di Gunung Sibualbuali di Distrik Sipirok, mengalir dari arah timur ke arah barat melintasi Kuria Sipirok dan Baringin dan terus ke Batang Pane di lembah Padang Lawas.
6. Batang Janji Maria berhulu di pegunungan Na Golang-Goelang di Distrik Said-nahoeta dan mengalir ke arah barat daya melalui sebagian Distrik Lumut.
Sungai ini dapat dilayari dengan perahu kecil dari Air-Kah dekat Tapalan, namun banyak perahu yang mengalami kerusakan berat akibat sulitnya jalur air ini.
7. Aek Lumut berhulu di pegunungan dekat Kampung Si- manasser (Lumut) yang mengalir dari utara ke barat Lumut dan terus ke arah tenggara dan kemudian ke arah barat laut melewati Pertaboean dan bergabung dengan Sungai Pinangsori sebelum bermuara di laut daerah Djaga-djaga. Sungai ini dapat dilayari dari Pertaboean ke Djaga-djaga dengan muatan empat sampai lima koyan, sedangkan di daerah hulunya dari Pertaboean ke Lumut hanya bisa dilayari perahu-perahu kecil bermuatan setengah koyan.
8. Sungai Pinangsori berhulu di pegunungan Na
Golang-Goelang dan mengalir dari timur ke barat dan
bergabung dengan Aek Lumut sebelum bermuara di
laut Djaga-djaga. Sungai ini dapat dilayari perahu bermuatan lima sampai enam koyan.
Selain delapan sungai di atas, masih banyak lagi aliran anak sungai di wilayah Angkola seperti Batang Ayumi, Batang Kumal, Batang Danau Siais, Batang Talang, Batang Kamberi, Batang Mandoerana, Batang Pasareran, Aek Si-bantai, Aek Ringkareh, Aek Saroepok, Aek Pogas, Aek Sobatang, Aek Mossa, Aek Si-maronak, Aek Si-oetkwiek, Aek Si-soemboei, Aek Si-siomboek, Aek Si-ram, Aek Sagala, Aek Gedang, Aek Soengi-doras, dan Aek Pogo (Couperus, 1855: 8-10).
Gambar 2. Sungai Batang Toru dan Gunung Lubuk Raya, 1840 (Sumber: Rosenberg, 1878: 22)
Di wilayah Mandailing juga terdapat banyak aliran sungai seperti Batang Gadis, Batang Sibodak, Batang Pungkuk, Aek Pakantan, Aek Sawani, Aek Si-angi, Aek Talao, Aek Botung, Aek Silanting, Aek Si-omboek, Aek Si- ngingoe, Aek Siapi-Api, Aek Mais, Aek Tambangan, Aek Matta, Aek Papoan, Aek Glaga, Aek Bargot, Aek Sarien, Aek Guo, Aek Sama, Aek Plampungan, Air Nangali, Air Antoenoe, Air Bonko, Sungai Dras, Sungai Kakoh, Muara Tapus, Rantau Paoeran, dan Perlang-tengah (Couperus, 1855: 10-11).
Dari semua sungai yang ada di Mandailing, Batang Gadis atau Batang Singkuang merupakan sungai paling besar, karena hampir semua sungai yang ada di daerah Mandailing bergabung dengan Batang Gadis sebelum akhirnya bermuara ke laut di daerah Singkuang.
Batang Gadis memiliki lebar sekitar 50 kilometer di daerah muaranya. Sungai ini dapat dilayari perahu- perahu ukuran kecil dengan muatan lebih kurang 1,5 ton hingga ke hulu selama dua sampai tiga hari. Bagi masyarakat, Batang Gadis merupakan jalur utama untuk transportasi air, karena menghubungkan beberapa daerah di Mandailing dan Angkola dan daerah-daerah sepanjang alirannya, sehingga memperlancar kegiatan perdagangan dan aktivitas sehari-hari masyarakat yang tinggal di daerah hulu (pedalaman) dan daerah hilir (muara sungai dan muara pantai) (Asnan, 2007: 23;
Couperus, 1855: 11).
Di wilayah Natal juga terdapat beberapa aliran sungai yang berperan penting bagi aktivitas ekonomi masyarakat setempat, seperti Sungai Batahan yang berhulu di Gunung Ulu Pungkuk, Mandailing Julu dan dapat dilayari sejauh delapan sampai sepuluh paal ke hulunya; Sungai Natal berhulu di Sanah-doreh di kaki bukit Sitampa dan dapat dilayari oleh perahu-perahu besar bermuatan 50-60 pikul kopi di wilayah Natal, dan jika hendak lebih jauh ke daerah hulunya dapat menggunakan sampan-sampan kecil; Sungai Tabuyung berhulu di Bukit Sidoar-doar; dan Batang Gadis yang berhulu di Gunung Kulabu, Rao. Sungai Tabuyung dan Batang Gadis dapat dilayari perahu-perahu besar sejauh 15 paal ke daerah hulunya. Selain sungai-sungai tersebut, masih ada sungai-sungai lain yang mengalir di wilayah ini seperti Kangkang, Sinunukan, dan Batu Mundam (Couperus, 1855: 11-12).
Dari semua sungai yang ada di Tapanuli, sungai-sungai
yang berada di wilayah Lumut dan Natal dianggap paling
cocok dan aman untuk dilayari. Aliran sungai tersebut
biasanya dimanfaatkan penduduk daerah hulu dan hilir
sebagai jalur transportasi pengangkutan barang-barang
kebutuhan sehari-hari dan barang ekspor dari daerah
pedalaman seperti hasil hutan dan hasil pertanian
penduduk seperti lada dan kopi (Couperus, 1855: 12).
Topografi bagian barat Tapanuli ditandai dengan banyaknya tanjung dan teluk. Tanjung dan teluk juga memiliki arti penting bagi wilayah ini karena dapat dijadikan sebagai pelabuhan laut (pelabuhan alam). Beberapa tanjung dan teluk yang terkenal dan memainkan peran penting sebagai pelabuhan di Tapanuli adalah Tanjung Singkel, Teluk Tapanuli, Tanjung Kara-kara, dan Ujung Regat (Natal) (Asnan, 2007: 25).
Selain itu kawasan pantai umumnya memiliki rawa- rawa yang cukup luas seperti di daerah sekitar Singkel, Sibolga, dan Natal (Couperus, 1855: 5).
Gambar 3. Teluk Tapanuli (Sibolga), 1919 (Sumber: KITLV 90265)
Di lepas pantai Tapanuli, terdapat rangkaian pulau
yang terdiri dari Puau Nias dan Pulau Banyak. Pulau
Banyak memiliki rangkaian pulau sekitar 50 hingga 60
pulau yang membentuk beberapa kelompok. Adapun rangkaian Pulau Banyak tersebut di antaranya adalah Gosong Telaga, Kandang, Beberang, Pulau Lipan, Pulau Mangki dan Pulau Panjang yang terletak di antara selatan Singkel dan Tapus; Pulau Karang di Barus; Pulau Sorkam di Sorkam; Pulau Mursala sekitar ¼ derajat dari pantai Teluk Tapanuli; Pulau Gedang, Pulau Kecil, Pulau Panjang, Pulau Pala, Pulau Ongeh, dan Pulau Bakor yang terletak di Teluk Tapanuli; Pulau Ilir di seberang muara Batang Singkuang; Pulau Tabuyung di lepas pantai Tabuyung; Pulau Ringawan, Pulau Telor, dan Pulau Kara-kara di utara Natal; dan Pulau Tamang di selatan Natal (Couperus, 1855: 5-6). Walaupun terdapat banyak rangkaian pulau yang tersebar di lepas pantai Tapanuli, ternyata tidak sepenuhnya berhasil melindungi bibir pantai dari terjangan ombak Samudera Hindia yang terkenal besar dan kuat (Asnan, 2007: 25-27).
Kondisi cuaca di Tapanuli bagian pesisir pantai
pada umumnya lembab dan panas. Sebagian besar
kelembaban udara tersebut juga dipengaruhi oleh
bentangan rawa-rawa di sepanjang pantai. Sedangkan
di daerah dataran tinggi di pedalaman Tapanuli kondisi
udaranya tidak seekstrim di daerah pantai. Meskipun
demikian terkadang di daerah dataran tinggi juga
mengalami terpaan angin barat berupa badai dan hujan
lebat. Menurut Couperus, kondisi cuaca dan iklim yang
tidak menentu seperti itu dapat menimbulkan berbagai
macam penyakit, terutama demam, dan kondisi ini bisa menjadi salah satu penyebab lambatnya tingkat populasi penduduk Tapanuli (Couperus, 1855: 3-4).
Itulah gambaran alam daerah Tapanuli. Berikut ini akan diberikan uraian tentang penduduk yang mendiami daerah ini, dan bagaimana penduduk setempat membentuk pola permukiman mereka serta aktivitas ekonomi yang mereka lakukan dalam memenuhi kebutuhan hidup sehari-hari.
B. Penduduk, Permukiman, dan Aktivitas Ekonomi
1. Penduduk Tapanuli
Suku bangsa utama yang mendiami wilayah Tapanuli
adalah suku Batak. Menurut beberapa pendapat
sejumlah ahli, suku bangsa Batak ini dibagi lagi dalam
beberapa sub-etnik. Marsden misalnya membagi
etnik Batak dalam enam sub-etnik seperti Angkola,
Padangbolak, Mandailing, Toba, Silindung, dan Singkel
(Marsden, 1966: 366). Masri Singarimbun dan Achim
Siebeth juga membagi etnik Batak dalam enam sub-
etnik yang dikelompokkan sebagai Karo, Simalungun,
Pak-Pak, Toba, Angkola, dan Mandailing (Singarimbun,
1967: 115; Siebeth, 1991: 11). Di samping itu dapat
pula ditemui beberapa kelompok masyarakat lainnya,
seperti Eropa, Cina, Arab, Minangkabau, Aceh, dan
Nias (Asnan, 2007: 31, 39). Berhubungan dengan kajian ini, dibandingkan dengan sub-etnik lainnya, maka sub- etnik Mandailing dan Angkola mempunyai peran yang relatif besar dalam wajib tanam kopi yang diberlakukan pemerintah kolonial Belanda di Tapanuli.
Sampai paruh pertama abad kesembilan belas, belum ada informasi yang jelas mengenai jumlah keseluruhan penduduk yang mendiami wilayah Tapanuli. Adapun informasi awal mengenai penduduk Tapanuli diperoleh dari Francis yang memperkirakan jumlah orang Batak sekitar 1.200.000 jiwa (Francis, 1839: 31). Namun menurut Gusti Asnan perkiraan itu terlalu tinggi, sebab dari beberapa laporan tentang penduduk pantai barat Sumatera yang termasuk inlander pada pertengahan abad kesembilan belas hanya sekitar 750.000 jiwa (Asnan, 2007: 38).
Perkiraan jumlah penduduk Tapanuli yang barangkali
bisa dibilang akurat kebenarannya ialah dari laporan
A.P. Godon, seorang Asisten Residen Mandailing dan
Angkola. Menurut laporannya, pada April 1848 peta
keadaan penduduk di Mandailing dan Angkola dengan
total sebesar 44.000 jiwa. Perkiraannya adalah di daerah
Mandailing Godang sebanyak 17.000 jiwa, Mandailing
Julu sebanyak 11.000 jiwa, Ulu dan Pakantan sebanyak
5.000 jiwa, dan Angkola sebanyak 11.000 jiwa. Dasar
dari laporannya tersebut ia ambil dari data sensus yang
dilakukan pemerintah dua tahun sebelumnya, yakni pada tahun 1846 (Godon, 1862: 4).
Dalam rentang waktu sepuluh tahun setelah laporan pertamanya, Godon kembali menggambarkan pemetaan populasi di Mandailing dan Angkola.
Adapun total populasi daerah ini sebanyak 64.840 jiwa.
Perkiraan besar jumlah penduduk menurut daerahnya yaitu di Mandailing Godang sebanyak 28.115 jiwa, Mandailing Julu sebanyak 13.555 jiwa, Ulu dan Pakantan sebanyak 5.000 jiwa, dan Angkola sebanyak 11.000 jiwa.
Penggambaran ini merupakan hasil yang ia dapatkan dari sensus penduduk yang dilakukan pemerintah pada akhir Desember 1857 (Godon, 1862: 38).
Dari kedua sensus yang dilakukan di Mandailing dan Angkola dengan rentang waktu sepuluh tahun maka dapat disimpulkan bahwa di daerah tersebut terjadi peningkatan populasi sebesar 47,37%. Besarnya peningkatan populasi di daerah ini ternyata berbanding terbalik dengan daerah Tapanuli lainnya seperti di Singkel, Barus, Sibolga, dan Nias yang pada masa itu masih sepi. Jadi apa yang diperkirakan Couperus, bahwa
7
/
10bagian dari wilayah Tapanuli pada masa itu masih kosong, bisa jadi benar (Couperus, 1855: 5).
Menurut Godon, ada beberapa alasan yang
mengakibatkan rendahnya tingkat populasi dan sepinya
wilayah Tapanuli pada masa itu. Alasan-alasan tersebut
di antaranya disebabkan karena tingkat kemiskinan, migrasi penduduk ke wilayah pesisir timur, penyakit, kematian, dan penurunan pernikahan. Situasi ini disebabkan karena dampak dari diberlakukannya Gouvernement Koffiecultuur di wilayah Tapanuli yang pelaksanaannya menerapkan sistem tanah paksa dan pengangkutan paksa hasil tanaman kopi dari gudang- gudang kopi di pedalaman ke pelabuhan dengan cara memanggul (Godon, 1862: 4). Bagian ini akan dijelaskan secara mendalam di bagian pembahasan berikutnya
Rendahnya tingkat populasi di wilayah Tapanuli juga bisa disebabkan karena keadaan alam dan iklim. Hal ini berdasarkan catatan Couperus yang menggambarkan topografi wilayah ini yang berbukit-bukit, berlembah, dan berawa dengan iklim yang ekstrim karena sering terjadi badai akibat angin barat dari Samudera Hindia dan hujan lebat. Keadaan seperti ini kurang bagus untuk kesehatan, sehingga sering menimbulkan penyakit, terutama demam (Couperus, 1855: 3).
Tabel 1.
Sensus Penduduk Tapanuli Tahun 1851
Penduduk Berdasarkan Ras Laki-laki Perempuan Anak-anak Jumlah Sumatera (Melayu, Batak,
dll.). 19.139 21.044 4.224 74.407
Eropa dan keturanan
mereka. 34 9 25 68
Cina. 171 32 41 244 Jawa dan Timur Asing
lainnya. 233 60 43 336
Pekerja yang terikat utang. 69 31 - 100
Budak yang dimiliki
penduduk. 2.087 2.721 2.285 7.093
Total 21.733 23.897 36.618 82.248
Sumber: Couperus, 1855: 19.
Secara umum tingkat populasi di sejumlah daerah di Tapanuli terutama di Mandailing, Angkola, Natal, Sibolga dan Barus, mulai meningkat seiring dengan beralihnya kepercayaan sebagian penduduk lokal ke Islam. Melalui perubahan iman ini mereka menjadi lebih beradab dan hidup damai dengan menjalankan kebiasaan hidup yang lebih Islami. Keadaan ini dihasilkan karena terjalinnya hubungan sosial yang baik, sehingga mendorong peningkatan populasi (Couperus, 1855: 20).
Peningkatan populasi di daerah ini juga didorong atas
pertimbangan dari berbagai aspek yang diberlakukan
pada masyarakat seperti menghapuskan perbudakan,
memodifikasi djoedjoeran (harga beli wanita di pesta
pernikahan), membebaskan perempuan dari pekerjaan
berat, meningkatkan pendidikan penduduk, pemberian
vaksin, pembekalan pengetahuan medis dan kebidanan,
peningkatan imigrasi orang Toba, Padang Lawas, dan
daerah lainnya ke wilayah ini, melakukan penolakan
secara tegas terhadap segala bentuk pemerasan
dan penindasan, dan memiliki kebebasan dalam perdagangan. Maka dengan terciptanya keadaan seperti ini, diperkirakan angka kelahiran akan meningkat dan usia harapan hidup juga akan naik 2% per tahun. Selama ini usia rata-rata penduduk bumiputra ditetapkan 50 tahun, namun untuk daerah Angkola masih banyak ditemukan penduduk yang berusia 70 sampai 80 tahun (Couperus, 1855: 21-22; Godon, 1862: 25-26).
Memasuki abad kedua puluh tingkat populasi di wilayah Tapanuli terus mengalami peningkatan.
Selain kehidupan penduduk yang sudah damai dengan memeluk ajaran Islam dan Kristen, juga karena tingkat pendidikan dan pelayanan kesehatan yang sudah memadai. Selain itu dalam rentang lima puluh tahun terakhir terjadi pertambahan luas wilayah dengan bergabungnya daerah Centrale Battalanden (Toba dan Silindung), Dairi, Trumon, dan Padang Lawas ke dalam wilayah administrasi Tapanuli.
Tabel 2.
Sensus Penduduk Tapanuli Tahun 1917
Wilayah Eropa Timur Asing Bumiputra Jumlah Daerah Pesisir Tapanuli 304 1578 184.520 186.402
Padangsidimpuan 169 447 166.118 166.734
Tanah Batak 250 646 411.206 412.102
Total 723 2671 761.844 765.238 Sumber: ENI, 1921: 274.
Dari data di atas terdapat kesenjangan kepadatan penduduk yang mana tingkat kepadatan populasi di daerah pedalaman (Padangsidimpuan dan Tanah Batak) lebih tinggi dibandingkan dengan daerah pesisir pantai Tapanuli. Keadaaan ini disebabkan karena wilayah pesisir pantai Tapanuli yang sebagian besar berawa- rawa dapat menimbulkan berbagai macam penyakit, terutama ancaman wabah malaria (ENI, 1921: 275).
Tiga tahun setelah sensus 1917, Joustra melaporkan angka yang sangat mengejutkan mengenai peningkatan jumlah penduduk bumiputra di negara Batak yang lebih dari 900.000 jiwa. Ini berarti dalam tiga tahun jumlah penduduk bumiputra di negara Batak meningkat pesat lebih dari 300.000 jiwa. Barangkali hal ini wajar, karena dasar dari laporannya tersebut ia ambil dari data sensus yang dilakukan pemerintah tahun 1920. Selain itu Joustra juga melihat hubungan geneologis-antropologis penduduk Batak, sehingga ia bisa jadi menggabungkan jumlah penduduk dari sub-etnik Karo dan Simalungun yang notabenenya daerah kediaman dua sub-etnik ini di luar wilayah Tapanuli (Joustra, 1926: 9).
Itulah gambaran dinamika penduduk Tapanuli.
Berikut ini akan diberikan uraian tentang bagaimana
penduduk tersebut membentuk pola permukiman
mereka.
2. Permukiman
Sampai seperempat awal abad kesembilan belas, konsentrasi permukiman penduduk di wilayah Tapanuli umumnya di daerah pedalaman. Hal ini disebabkan karena daerah pedalaman kaya akan hasil hutan dan juga merupakan kawasan yang subur dan cocok untuk ditanami dengan beraneka ragam tanaman perdagangan.
Blink mengatakan bahwa tingkat kesuburan tanah yang tinggi ini berada di sekitar gunung berapi. Kesuburan ini diperolehnya dari abu yang disemburkan oleh gunung berapi ketika meletus (Blink, 1926: 18-21; Asnan, 2007:
20).
Pada umumnya permukiman awal penduduk Tapanuli terbentuk di dataran antara bukit-bukit dan di sekitar aliran sungai. Pola permukiman ini dibangun menghadap langsung ke arah sungai dan jika pun tidak langsung di pinggir sungai, permukiman tersebut dibangun di kawasan yang memiliki akses ke sungai.
Menurut Gusti Asnan, pola seperti ini merupakan pola awal permukiman tertua di Sumatera, yang mana sungai merupakan denyut nadi dalam sejarah pertumbuhan berbagai bentuk permukiman di sepanjang alirannya hingga ke muara di pesisir pantai (Asnan, 2016: 67).
Seperti telah digambarkan sebelumnya, ada
ratusan sungai yang mengalir di wilayah Tapanuli. Oleh
karena itu ada ratusan permukiman yang tumbuh di
sepanjang aliran sungai dan di sekitar muara sungai-
sungai tersebut. Di daerah Angkola misalnya tumbuh beberapa permukiman di sepanjang aliran Batang Angkola seperti Desa Hutarimbaru, Kampung Huta Baru, dan Surumatinggi. Kemudian aliran Batang Angkola bergabung dengan Batang Gadis di daerah Mandailing. Di sepanjang aliran Batang Gadis tumbuh pula beberapa permukiman seperti Pakantan, Muara Sipongi, Kotanopan, Panyabungan, Siabu, dan bermuara di Singkuang, sehingga aliran Sungai Batang Gadis ini dikenal juga dengan Batang Singkuang di daerah muaranya (Couperus, 1855: 8-12).
Oleh karena umumnya sungai yang mengalir ke dan bermuara di pesisir pantai Tapanuli kecil-kecil, maka permukiman yang tumbuh di kawasan itu juga dapat dikatakan kecil. Kalau ada permukiman yang berkembang menjadi besar, maka umumnya berada di muara sungai yang relatif besar pula. Biasanya sungai tersebut adalah sungai yang dapat dilayari hingga jarak yang jauh ke pedalaman. Sebagai contoh permukiman yang termasuk dalam kelompok ini adalah Singkel.
Permukiman yang tumbuh berkembang menjadi besar
di wilayah Tapanuli lainnya adalah Barus, Sibolga, dan
Natal. Namun permukiman tersebut tidak seperti
Singkel yang memiliki muara sungai yang lebar, namun
lebih karena di tiga daerah permukiman ini mempunyai
teluk, sehingga kapal dan perahu yang berlabuh di muara
sungai relatif aman dari terpaan gelombang Samudera
Hindia (Asnan, 2017: 70-71).
Memasuki pertengahan abad kesembilan belas, pola permukiman penduduk yang selama ini mengikuti aliran sungai mulai berubah setelah jalan raya dikenal, sebab setelah jalan raya itu dibangun oleh pemerintah kolonial Belanda, penduduk cenderung membelakangi sungai dan membangun permukiman mereka di sekitar jalan dan menghadap ke jalan raya tersebut.
Gambar 4. Kampung di Padangsidimpuan, sekitar 1870 (Sumber: KITLV 3591)
Gambar 5. Kampung Kota Baringin di Muara Sipongi, 1895 (Sumber: KITLV 114560)
Dua gambar di atas merupakan contoh permukiman
penduduk di dua daerah berbeda di Tapanuli yang
menghadap ke jalan raya. Dengan berubahnya pola
permukiman penduduk dari sekitar aliran sungai
menghadap jalan raya barangkali akan berimbas pula
pada laju aktivitas ekonomi penduduk setempat. Berikut
ini akan diberikan uraian tentang aktivitas ekonomi
yang dilakukan penduduk setempat demi memenuhi
kebutuhan hidup sehari-hari.
3. Aktivitas Ekonomi Penduduk Tapanuli
Sejak abad kedelapan belas aktivitas ekonomi penduduk Tapanuli sudah berkembang dengan pesat.
Aktivitas ekonomi yang mereka geluti ialah dalam bidang perdagangan, karena sebagian besar penduduk pedalaman wilayah ini dikenal sebagai pengumpul hasil hutan. Hasil hutan yang mereka kumpulkan dijual ke daerah pantai barat Tapanuli dengan menyusuri aliran sungai dan jalanan setapak. Setidaknya di wilayah ini sudah terdapat tiga jalur utama perdagangan yang menghubungkan daerah pesisir dengan daerah pedalaman yaitu: 1). Rute antara Singkel dan Barus dengan daerah Pak-Pak; 2). Rute antara Sibolga dengan Angkola; dan 3). Rute antara Natal dengan pedalaman Mandailing (Asnan, 2007: 144).
Kegiatan perdagangan antara Singkel dan Barus dengan daerah Pak-Pak telah berlangsung lama. Sebagai pusat perdagangan berlangsung di Singkel dan Barus untuk daerah pantai dan pangkalan
2untuk daerah Pak- Pak. Produk utama yang dijual di pasar-pasar daerah tersebut adalah kemenyan dan kapur barus yang didatangkan dari daerah pedalaman. Perdagangan antara Singkel dengan Pak-Pak lebih mengandalkan
2 Pangkalan dapat diartikan sebagai tempat pertemuan antara penduduk atau saudagar penjaja dari daerah hulu dengan saudagar daerah hilir atau pantai. Dengan artian pangkalan juga dapat dipahami sama dengan pasar (Asnan, 2007: 191).