• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN

B. Profil Subjek 2

2. Eksplorasi Agama Tanpa Label Agama yang Melekat

a. Keterbukaan Terhadap Variasi Agama Beserta Ajarannya

Perbedaan agama pada keluarga besar, membantu Oky untuk menyadari dan memahami keadaanya dirinya yang terlahir dan berkembang di dalam keluarga inti yang juga berbeda agama.

.. oh taunya karena keluarga besar yang dari ibu kan Muslim sedangkan bapak kan Kristen. Trus aku juga pernah liat KTP mereka masing-masing dan disitu ditulis agamanya beda”

Menurut Oky, mempelajari berbagai ajaran agama atau aliran kepercayaan apapun serta berusaha mengambil hal terbaik di dalamnya merupakan hal yang paling menyenangkan.

Mempelajari perbedaan agama itu, menurutku salah satu hal yang menyenangkan”

Keadaan ini lalu menciptakan sisi diri yang terbuka, mau menerima setiap perbedaan agama yang ada bahkan terbuka tidak hanya pada sebuah ajaran agama namun juga pada sebuah aliran kepercayaan. Keterbukaan membantu Oky untuk lebih dapat memahami keragaman agama dan aliran kepercayaan.

“ Kalo belajar beberapa ajaran agama, pernah yaa apalagi di rumah udah ada 3 agama. Kalo Islam itu, aku kan pernah sholat, belajar ngaji, puasa, takbiran, tau juga cerita tentang nabi-nabinya. Kalo Kristen juga tau, dari kitab kejadian sampe wahyu, perjanjian lama perjanjian baru, liturginya gimana aku juga tau. Katolik juga tau, misalnya cerita Santo dan Santa, soal baptis, ada baptis lahir,

akil baligh, kematian, pernikahan, sakramen, alat-alat sakramen. Kalo Hindu cuma tau dikit-dikitlah, tentang 3 dewa utama. Trus gimana orang Hindu ibadah. Kalo Budha tau juga kisah dewa-dewinya, ajaran tentang takdir, mereka ga makan daging karena mereka menghargai kehidupan. Aku juga pernah ikut berdoa ala agama Budha, yang pake mukul-mukul alatnya itu, tau kan? Trus agama Shinto yang percaya pada dewa matahari sampe ada upacara kelamin. Ajaran Shinto juga agak diskriminasi karena mereka menempatkan laki-laki diatas perempuan. Trus ada Thaufisme. Trus ada YinYan, menggambarkan bahwa hidup harus seimbang”

Serta perbedaan mengajarkan sikap toleransi terhadap sesama anggota keluarga.

Jadi kita beribadah sesuai dengan keyakinan masing-masing, mungkin lebih ke saling mengingatkan, seperti ketika ibu saya mengingatkan saya dulu ketika SMP untuk ke gereja, trus membangunkan saya untuk sahur karena sampai sekarang saya

menemani ibu saya kalau puasa”

Mempelajari keragaman berbagai ajaran agama menjadi hal yang penting untuk dilakukan dibandingkan hanya memiliki status agama tertentu.

“Tiap agama atau kepercayaan itu ajarannya beda makanya aku berusaha pelajari semuanya”

b. Melakukan Aktivitas yang Bertujuan untuk Mempelajari dan Memahami Agama Beserta Ajarannya

Mempelajari keragaman berbagai ajaran agama bukanlah hal yang mudah dan membutuhkan proses yang panjang. Oky mengalami masa dimana dirinya membutuhkan pengetahuan mengenai esensi suatu agama dan ajaran yang terkandung di dalamnya serta berusaha untuk

memahaminya. Baginya, proses ini lebih banyak ia dapatkan lewat diskusi bersama orang-orang diluar keluarganya namun tetap menjadikan diri sebagai fokus utama dalam memahami.

“Yaa diriku sendiri. Sebenernya semua itu hanya lebih ditempatkan pada sisi subjek dan objek. Jadi semuanya kan berawal dari diriku sendiri gimana, orang lain itu memberi pengaruhnya itu lebih menjadi pemateri saja tapi kalo pembahasan yaa aku lakukan sendiri. Bukan mereka mempengaruhi aku tapi aku berusaha mengisi diriku sendiri. Jadi mereka kayak kujadikan objek dan seringnya kudapat dari orang diluar keluarga”

Pada proses ini Oky tidak hanya tertarik untuk memahami inti di setiap ajaran agama yang ada namun juga memunculkan ketertarikan dalam dirinya untuk menjalani beberapa variasi ibadah agama.

Aku juga pernah ikut berdoa ala agama Budha, yang pake mukul-mukul alatnya itu, tau kan?...”

“Mmmm, gini, umur berapa yaa, mungkin 3 atau 4 tahun aku sering pergi ke gereja tapi ada masanya ketika aku melakukan keduanya, ya waktu SD. Jadi waktu kelas 1-3 kan aku mutlak ikut Islam. Trus mulai kelas 4 udah ke gereja. Jadi kalo ke tempat sodara dan diajakin ke gereja, ya udah berangkat, jadi nambah kan? Kayaknya itu sampe kelas 6 gitu. Trus SMP ke gereja Kristen. Tapi kelas 2-3 SMP udah ga pernah ke gereja sama sekali. Kalo SMA, malah ke gereja Katolik, biasanya bareng temen, sebelum kita nongkrong”

Menjalani beberapa variasi ibadah agama, memberikan rasa ketertarikan yang lebih terhadap rutinitas berpuasa umat Islam yang hingga saat ini selalu ia lakukan selama bulan Ramadhan.

Tapi lama-kelamaan entah kenapa saya pengen untuk puasa penuh, itupun karena kesadaran sendiri saja”

c. Mempertimbangkan Pilihan Berkomitmen pada Suatu Agama atau Kebebasan untuk Tidak Berkomitmen pada Agama Apapun

Mengenal berbagai keragaman agama tidak menjadi jaminan bagi Oky untuk mengenal semuanya dengan baik dan mendalam. Tiga agama besar (Katolik, Kristen dan Islam) yang ada di di dalam keluarganya adalah agama yang paling ia pahami lebih mendalam.

“ Gimana ya, 3 agama ini (Katolik, Kristen dan Islam ) kan agama yang paling dekat dengan saya. Saya tinggal dengan orang tua dan adik dengan 3 agama ini (Katolik, Kristen dan Islam) jadi yaa jatuhnya lebih dominan dan tau banyak daripada agama yang lain. Kalo agama lain paling ya biasa aja, intinya ga sedekat 3 agama itu”

Namun pemahaman yang mendalam terhadap agama Katolik, Kristen dan Islam tidak membuat Oky berusaha memilih salah satu diantaranya. Memiliki keluarga yang menganut azas kebebasan dalam hal beragama, membuat Oky merasakan haknya sebagai manusia terpenuhi.

“…hal yang menyenangkan karena aku bisa bebas menentukan pilihanku sendiri tanpa ada paksaan dari orang tua. Kalo anak-anak yang lain kan biasanya cuma ngikut agama orang tuanya. Ya ngerasa seneng aja karena aku bisa dengan bebas menentukan pilihanku sendiri, apalagi setiap manusia kan punya hak untuk memilih agamanya sendiri, jadi ngerasanya hakku itu terpenuhi”

Di dalam keluarganya, agama bukanlah suatu hal yang dianggap penting. Inti dari setiap ajaran agama-lah yang menjadi prinsip dan pegangan bagi mereka, termasuk Oky.

“ .. karena memang agama itu ga lebih penting daripada ajarannya sendiri”

Kebebasan yang ia dapatkan justru tidak membuatnya menjadi kebingungan untuk memilih agama manapun karena baginya hal yang menarik adalah ketika dirinya mampu mengkombinasikan semua ajaran kebaikan yang ditawarkan oleh banyak agama dan mengimplementasikannya dalam kehidupan sehari-hari.

“ ..aku lebih berusaha mengkombinasikan ajaran-ajaran Ketuhanan yang baik itu”

d. Keputusan Diri untuk Memilih dan Berkomitmen

Keputusan untuk menjadi netral dan tidak memilih agama apapun, selain di dukung oleh keadaan keluarga yang menganut azas kebebasan dalam beragama juga dipengaruhi oleh rasa kecewa terhadap perilaku manusia terhadap agama. Menurut Oky, tidak ada satu agama-pun yang bertugas membeda-bedakan manusia yang satu dengan yang lainnya yang kemudian hanya menjadi sumber konflik dan perpecahan. Pada akhirnya, bagi Oky, terikat pada suatu agama tertentu tidak akan pernah menjamin seorang manusia menjadi lebih baik.

Karena pada realitanya, terikat pada suatu agama itu tidak membuat semua orang menjadi lebih baik malah agama itu dijadikan sumber konflik. Jadi kalo aku memilih suatu agama, nanti orang lain yang ada di agama B tuh menganggap aku salah, gitu juga sebaliknya kalo aku nanti memilih agama B nanti orang yang menganut agama A, menganggap aku itu salah. Nah trus akhirnya kan jadi dikotak-kotakkan dan esensinya jadi benar dan salah. Padahal agama itu benar tidak salah

Berusaha menjadi netral dengan tetap mengimplementasikan nilai-nilai kebaikan yang ditawarkan setiap agama merupakan cara yang kemudian dipilih Oky dalam mengisi sisi spiritulitasnya.

Berbuat baik kan juga ibadah dan di setiap agama mengajarkan itu. Dan aku menganggap berbuat baik itu sebagai ibadahku dan salah satu caraku mengisi sisi spiritualitasku”