BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN
C. Profil Subjek 3
2. Eksplorasi Keberagaman Agama dengan Tetap Melekatkan Diri pada
a. Keterbukaan Terhadap Variasi Agama Beserta Ajarannya
Memiliki latar belakang lingkungan sekolah dengan agama yang berbeda-beda, membuat Arsi memahami bahwa ternyata terdapat berbagai jenis agama yang berbeda yang juga memiliki ajaran berbeda di tiap agamanya.
“…aku SD disekolahin di sekolah Islam, SMP di sekolah Kristen, SMA di sekolah Katolik dimana waktu SMP setiap minggu aku ikut kebaktian dan aku hapal semua lagu-lagu pujiannya, SMA selalu ikut misa, yaudah kayak punya pengetahuan tentang banyak agama”
Mengetahui adanya variasi agama di lingkungan sekitarnya, perlahan membuat Arsi menyadari dengan adanya perbedaan agama di dalam keluarganya. Arsi mulai menyadari adanya perbedaan agama di dalam keluarganya ketika dirinya duduk di SD. Selain berusaha menyadarinya sendiri, ibunya juga menceritakan pada Arsi bahwa ia sempat mengubah agamanya hanya untuk menikah dengan ayahnya.
“SD itu aku udah mulai agak nyadar tapi belum yakin, eh trus ibu cerita kalo dulu dia itu awalnya Islam trus sempet pindah agama gara-gara nikah sama Bapak tapi ya sekarang gini, ga ikut agama
Bapak juga”
Perbedaan ini kemudian membuat Arsi berusaha mempelajari berbagai jenis agama tersebut, seperti agama Budha yang menurut Arsi hanya menitikkan pada hukum karmapala, agama Islam yang memiliki kepercayaan bahwa semua manusia harus menjadi Islam serta ajarannya yang terlalu fundamental, agama Kristen mengajarkan tentang kasih serta cara pandang terhadap umat agama lain dengan kesan yang berbeda.
“..orang Budha tuh bener-bener bebas gitu dan secara kepercayaannya-pun bebas, intinya agama yang bebas sih lebih apa ya, hal yang simple mungkin, misal kamu punya darma lalu hidupmu diatur sama karmapala, dan kepercayaan mereka seperti harus bertindak dengan baik dan dari kecil aku emang udah sering denger soal itu, karmapala, kalo kamu berbuat darma ya kamu akan mendapat darma, jadi ya kalo kamu berbuat baik maka kamu akan dapat hal yang baik, kalo kamu berbuat salah ya kamu akan mendapatkan balasannya dan yang penting itu adalah, kamu berbuat, berpikir, berkata yang baik”
“Aku udah mulai ngerasa agama ini (Islam) aneh, ini agama ga masuk akal, ngerasa nilai-nilainya Islam itu terlalu fundamental, terlalu keras kayak misalnya menentang tentang sesuatu tapi menurutku ga masuk akal aja, ga manusiawi”
“..mereka (Muslim) punya kepercayaan bahwa seharusnya semua manusia itu agamanya Islam dan mereka itu memandang orang yang tidak Islam itu beda, beda dari mereka”
“Kristen, enak kan tiap kebaktian nyanyi-nyanyi, buka Alkitab ajarannya tentang kasih…”
“Galungan gitu ya, sebenernya esensinya bukan buat perayaan makan-makan kayak lebarannya orang Islam, beda itu tuh lebih kayak sembahyang lama, berjam-jam, ada pawai nanti ada acaranya nonton tari-tarian trus ntar ada pawai ogoh-ogoh gitu”
“Nyepi itu hari difungsikan puasa kenapa? Karena kita harus menghindari keduniawian, makan dan minum itu keduniawian, godaan”
Mempelajari beberapa agama memberikan efek yang baik dalam diri Arsi. Baginya, keterbukaan akan berbagai macam agama memberikan kekayaan pandangan dalam dirinya dalam melihat lingkungan sekitarnya.
“…rasanya tuh jadi lebih kaya aja tentang pandangan dan skema sebuah agama. Kan kalo orang yang udah terpatok sama satu agama, jarang banget pandangannya bisa berubah atau dimodifikasi tapi kalo aku tuh jadi terima banyak hal dan istilahnya bisa ngambil yang terbaiknya, jadi rasanya lebih bebas aja, ga terkungkung”
Selain itu, proses memahami berbagai dalam diri Arsi juga beriringan dengan membedakan ajaran tiap agama. Arsi dapat menemukan perbedaan di tiap ajaran dan perbedaan esensi di tiap tradisi suatu agama.
“Hindu dan Budha itu, mereka ga punya sejarah perang perebutan umat, mau kita punya umat apa ga ya udah. Sedangkan Kristen, Katolik dan Islam, di dalam sejarahnya mereka ada tuh perang perebutan umat”
Orang Hindu terbiasa merayakan hari besarnya dengan sembahyang dan buka pesta-pesta seperti umat agama lainnya. Hari raya agama Hindu dinilai Arsi bukanlah hari besar agama yang melambangkan keintiman seperti agama lainnya. Arsi menilai bahwa agama Hindu memiliki budaya sendiri yang lebih berfokus pada individu itu sendiri bukan relasi ataupun kasih sayang.
“Galungan itu ya, sebenernya esensinya bukan buat perayaan makan-makan kayak lebarannya orang Islam, beda itu tuh lebih kayak sembahyang lama, berjam-jam, ada pawai nanti ada acaranya nonton tari-tarian trus ntar ada pawai ogoh-ogoh gitu jadi ga intim kayak lebaran gitu. Karena memang itu bukan hari besar yang melambangkan keintiman .. karena orang Hindu itu ga sama kayak orang Kristen yang menyerukan kasih sayang dan sangat mementingkan relasi, seperti orang Islam yang mementingkan persamaan, orang Hindu itu punya budaya sendiri yang mengurus diri sendiri, jadi semua hari raya itu, semestinya ya kamu merayakannya itu dengan meditasi, dengan introspeksi ke dalam. Jadi misalnya hari ini merayakan dengan menanyakan kebaikan atau kejahatan yang sudah kamu lakukan, kadang kamu melihat sendiri dirimu, konflik di dalam dirimu, kamu sudah membiarkan kejahatan yang menang di dalam dirimu atau kebaikan”
Bagi Arsi, Hindu dan Budha tidak dapat digolongkan menjadi suatu agama karena keduanya hanyalah sebuah kepercayaan yang mengatur tentang gaya hidup.
“Bahkan Hindu itu sebenernya bukan agama. Hindu itu cuma sekedar kepercayaan yang mengatur tentang gaya hidup, seperti Budha”
Sedangkan bagi Arsi, Islam adalah agama yang teramat keras dan fundamental.
“… ngerasa nilai-nilainya Islam itu terlalu fundamental, terlalu keras”
b. Mengumpulkan dan Mempelajari Setiap Informasi yang Berkaitan dengan Agama dan Ajarannya Serta Menjalankan Ritual Keagamaannya
Latar belakang lingkungan sekolah dengan agama yang berbeda-beda tidak hanya membuat Arsi menyadari adanya variasi agama di lingkungannya. Arsi yang saat itu masih TK dan jarang sekali bertemu dengan ayahnya, sempat menjalani beberapa ritual ibadah agama Islam, seperti sholat dan mengikuti TPA.
“Waktu TK tuh aku pernah ikut TPA di agama Islam dan itu dulu seringnya sama pembantuku karena ayah kan emang ga pernah ada waktu buat ngajarin sembahyang dan Ibu ga ngajarin apa-apa, ya aku sebagai anak kecil ya mau ga mau ngikut pengasuh dan pengasuhku waktu itu Islam, dia sholat ya aku ikut sholat”
Tidak hanya menjalani ritual agama Islam namun Arsi juga menjalankan ritual agama lain, seperti Kristen, Katolik, Hindu dan Budha.
“… waktu SMP setiap minggu aku ikut kebaktian dan aku hapal semua lagu-lagu pujiannya, SMA selalu ikut misa”
“.. kalo sembahyang (ibadah umat Hindu) sama Bapak …”
Keragaman akan agama dan perbedaan ajarannya membuat Arsi merasa tertarik untuk mempelajari semua perbedaan itu. Masa SMP adalah masa dimana Arsi memiliki rasa penasaran yang teramat besar untuk mengetahui dan mempelajari berbagai hal termasuk salah satunya agama.
Rasa penasaran ini muncul saat Arsi melihat kedua orang tuanya memiliki agama yang berbeda satu sama lain.
“Mungkin SMP kan masa-masanya kita mempertanyakan banyak hal, ditambah aku melihat orang tuaku beda agama”
“Nah tapi ya itu, masuk SMP aku mulai mempertanyakan, sebenernya aku tuh apa (agama)”
Rasa penasaran dan banyaknya pertanyaan yang muncul dari dalam dirinya mengenai agama, menumbuhkan sikap mau membuka pandangan terhadap agama-agama lain sehingga mendorong Arsi untuk melakukan banyak diskusi keagamaan dengan teman-teman kampusnya. Bagi Arsi, diskusi dengan teman-teman kampusnya memberikan kontribusi yang cukup besar dalam usahanya untuk memahami ajaran berbagai agama.
“Dan buatku temen-temen kampus itu juga ngasih kontribusi yang lumayan banget untuk bantu aku ngerti tentang berbagai agama”
Arsi kemudian mulai mempelajari tentang agama Islam namun semakin mendalami ajarannya, Arsi menentang ajaran agama tersebut.
“… ngerasa nilai-nilainya Islam itu terlalu fundamental, terlalu keras kayak misalnya menentang tentang sesuatu tapi menurutku ga masuk akal aja, ga manusiawi”
Lalu Arsi mencoba untuk mendalami agama Kristen dan kemudian Arsi merasa agama Kristen adalah agama yang menyenangkan.
“ … Kristen karena menurutku kebaktiannya menyenangkan.”
c. Memilah-milah Agama yang Sesuai dengan Kenyamanan Diri atau Mempertimbangkan untuk Tidak Berkomitmen Terhadap Agama Apapun
Mempelajari dan mendalami berbagai agama ternyata tidak hanya membuat Arsi merasa memiliki pengetahuan agama yang lebih banyak namun Arsi juga merasa memiliki ketidaknyamanan dengan ajaran-ajaran yang ditawarkan berbagai agama tersebut. Ketika Arsi mempelajari tentang Islam, lama-kelamaan Arsi mulai menyadari bahwa terdapat ajaran yang menurutnya tidak masuk akal.
“Aku udah mulai ngerasa agama ini (Islam) aneh, ini agama ga masuk akal, ngerasa nilai-nilainya Islam itu terlalu fundamental, terlalu keras kayak misalnya menentang tentang sesuatu tapi menurutku ga masuk akal aja, ga manusiawi.”
Merasa ajaran Islam tidak masuk akal, akhirnya Arsi meninggalkannya dan memilih untuk mempelajari agama Kristen. Menjadi seorang remaja yang masih mementingkan segala sesuatunya dari hal yang menyenangkan membuat menilai bahwa agama Kristen merupakan agama yang baik dan menyenangkan. Namun dalam prosesnya, semakin Arsi mendalami ajarannya, Arsi menemukan keanehan yang membuatnya merasa tidak nyaman.
“Menurutku agama yang baik itu agama Kristen karena menurutku kebaktiannya menyenangkan. Jaman SMP kan mikirnya apa yang
menyenangkan, nah aku dapetnya di Kristen, enak kan tiap kebaktian nyanyi-nyanyi, buka Alkitab ajarannya tentang kasih tapi semakin lama aku mendalami Kristen, aku juga makin menemukan hal-hal yang ga masuk akal dan mulai ngerasa ga nyaman lagi.”
Ketidaknyamanan Arsi terhadap agama Kristen dan Islam kemudian sempat membuat Arsi memiliki keinginan untuk tidak memilih agama apapun sebagai agamanya.
“.. trus muncul deh perasaan agnostik gitu dan mikir yaudahlah, sendiri aja ga usah mikir-mikir soal agama.”
Hingga memasuki awal kuliah, Arsi tidak meyakini agama apapun. Baginya, agama hanya sebuah formalitas yang tidak penting.
“Waktu itu aku ngerasa agama itu cuma buat ada aja.”
Namun, menjadi seorang mahasiswi, membantu Arsi merubah pandangan buruknya tentang agama dan mau bersikap dewasa untuk bersikap positif terhadap agama-agama yang ada.
“ … sejak kuliah ini baru mikir dan ngerasa lebih punya pandangan yang lebih dewasa aja tentang agama-agama yang ada. Kalo dulu kan mikirnya semua agama itu kan jelek kalo sekarang, lebih menerima aja.”
Proses ini kemudian secara tidak sengaja membantu Arsi menyadarkan diri Arsi untuk kembali mengenali agama yang telah dianut sejak dulu, yaitu agama Hindu. Arsi mencoba untuk memahami dirinya sebagai pemeluk agama Hindu dan berupaya untuk lebih mendalami serta
menerima ajarannya dengan lebih terbuka dan memandangnya sebagai agama yang baik.
“ .. menyadari aku tuh sebenernya apa (agama) dan coba buat dalami itu, kayak misalnya aku memahami Hindu ga hanya sekedar memahami dewa-dewa aneh yang ga masuk akal itu tapi juga tau kalo semua yang diajarin di agamaku itu metafora. Jadi kayak dewa itu adalah metafora dari sifat manusia dan dari situ aku berusaha mempelajari lebih dalam dan mulai bisa terima dan aku mulai melihat itu sebagai sebuah agama yang baik”
Memahami kembali agama Hindu secara mendalam, makin menyakinkan bahwa Arsi tidak menemukan rasa nyaman diluar agama Hindu walaupun dirinya menyadari setiap agama selalu mengajarkan hal yang baik.
“Cuma ya itu, aku ngerasa agama lain itu pasti ada sisi yang kayaknya bikin aku ga nyaman”
e. Dominasi Agama Hindu Berdampak pada Keinginan Diri untuk Berkomitmen Terhadap Agama Hindu
Pengenalan terhadap agama Hindu telah dialami Arsi sejak kecil. Dominasi ayahnya serta ketaatan ayahnya dalam menjalankan ibadah agama Hindu sempat menjadi sebuah kewajiban bagi Arsi dan saudara kandungnya untuk mengikuti rutinitas agama Hindu.
Hal ini bertolak belakang dengan sikap ibunya yang sama sekali tidak memperkenalkan budaya Islam di keluarganya sehingga pada akhirnya Arsi dan saudaranya lebih cenderung mengikuti agama ayahnya walaupun terkadang masih merasakan sebuah keterpaksaan.
“Ibu ga ngajarin, ga ngajarin sembahyang, ga ngajarin sholat jadi yaa emang ga pernah diajariin ibadah dalam bentuk apapun, jadi yaudah. Kalo sembahyang sama Bapak juga bentuknya kayak paksaan gitu, jadi ga melihat itu sebagai agama, ga melihat itu sebagai ibadah jadi cuma kayak kewajiban, nurutin perintah gitu”
Namun setelah melewati berbagai proses, akhirnya Arsi mulai memiliki ketertarikan mendalam terhadap agama Hindu. Ketertarikan ini kemudian mendapatkan apresiasi yang baik dari ayahnya. Ayahnya yang merasa senang dengan usaha Arsi untuk mempelajari agama Hindu, memberi dukungan kepada Arsi dengan memberikan fasilitas yang dibutuhkan Arsi, seperti membelikan baju khusus untuk sembahyang, mengirimkan informasi-informasi tentang agama Hindu lewat internet. Cara ayahnya memberi dukungan, menurut Arsi bukanlah cara yang tepat. Baginya, dukungan secara materi saja tidaklah cukup apabila tidak diimbangi dengan pendampingan secara nyata, seperti mengajarkan sembahyang.
“… aku yo males gitu belajar lewat internet, pengennya ada pelajaran secara nyata yang dikasih bukan lewat internet, kayak misal ngajarin sembahyang makanya walaupun secara materi Bapak itu support banget tapi secara pendampingan minim banget”
Minimnya dukungan dari ayah, kemudian membuat Arsi mencari mediator lain yang dianggapnya mampu membantu dirinya dalam memahami agama Hindu. Mengikuti komunitas agama Hindu di kampus adalah salah satu cara yang dianggapnya efektif untuk memenuhi kebutuhannya itu.
“… KMHD, aku jadi lebih paham tentang Hindu dan itu sangat merubah pandanganku banget dari aku yang ga ngerti apa-apa sampe akhirnya aku bisa ngerti beberapa hal, kayak misal ngajarin sembahyang dan itu sangat membantu aku banget dalam menemukan identitas agamaku”
Pengenalan yang semakin mendalam tentang agama Hindu membuat Arsi membandingkan ajaran tiap agama dengan agama Hindu namun tidak memberikan penilaian yang buruk terhadap agama lain.
“Mungkin jadi lebih bandingin kali ya karena kan aku sekarang udah mendalami satu agama jadi kalo lihat agama lain itu lebih ke apa sih yang ga masuk akal dari Islam, Kristen dsb, apa sih yang ga baik di setiap agama itu dan biasanya aku diskusiin ini sama kakakku karena kan dia Hindu juga. Jadi kita tuh melihat Islam yang teroris, Katolik yang ada perang salib, ya menurutku itu ga baik aja, kenapa harus sampe ada peperangan hanya untuk memperebutkan umat. Cuma itu tadi kan agama dan belum tentu orangnya juga gitu kan?”
Bagi Arsi, agama Hindu yang dianutnya berbeda dengan agama Hindu yang berasal dari keluarga ayahnya. Arsi merasa kurang nyaman dengan ajaran Hindu yang diterapkan keluarga ayahnya. Oleh karenanya Arsi lebih memilih untuk menjadi seorang penganut agama Hindu yang liberal.
“.. aku juga ga nyaman sama agama yang ada di keluarga Bapak, mistis-mistis aneh gitu, ga jelas lah jadi aku memilih jadi Hindu yang gini aja, liberal ga aneh-aneh, yang masuk akal aja, yang bikin aku nyaman”
Agama Hindu yang cenderung fleksibel dan tidak mengekang, membuat Arsi merasa agama Hindu sangat sesuai dengan pendiriannya.
“menurutku agama yang cocok buat aku, cocok dengan pendirianku, cocok dengan kepercayaanku, aku merasa Hindu itu sangat fleksibel”
3. Berkomitmen Terhadap Suatu Agama dan Meyakininya dengan