• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN

A. Profil Subjek 1

2. Eksplorasi Sebagai Proses Menuju Kristiani yang Ideal

Lita mulai menyadari adanya perbedaan agama di dalam keluarga dan lingkungannya sejak kelas 1 SD dari pelajaran sekolahnya. Pada saat itu, Lita hanya sebatas mengetahui variasi agama yang ada dan belum memahami secara mendalam perbedaan diantaranya.

“Nah pas aku SD kelas 1, aku mulai ngerti ternyata ada beberapa agama dan aku di bagian agama ini trus kakakku disini. Aku juga ga ribet, cuma ya sekedar tau aja”

Walaupun mengetahui terdapat variasi agama di lingkungannya namun pengetahuannya akan agama masih terbatas pada agama Kristen. Hal ini disebabkan karena di dalam keluarganya Lita cenderung menjalankan dan mempelajari ajaran, nilai dan ibadah agama Kristen.

“..aku tau macem-macem agama tapi cuma tau aja tapi karena seringnya diajak ibu baca Alkitab, ke sekolah minggu sama mbakku, jadi ya taunya terbatas di Kristen”

Menempuh jenjang pendidikan di SD dan SMP swasta Kristen, mengakibatkan fokus keagamaan Lita hanya terbatas pada satu agama, yaitu agama Kristen. Namun hal ini tidak membuat Lita menjadi tidak peduli dengan kehadiran agama lain. Memasuki bangku SMA, Lita memasuki sekolah negri yang kemudian memperkenalkan dirinya dengan keberagaman agama yang ada. Hal ini kemudian secara tidak langsung memunculkan rasa penasaran dan ingin tahu pada diri Lita. Proses pemahaman ini kemudian menumbuhkan rasa senang yang berdampak pada keterbukaan untuk mau menerima keberagaman agama yang ada.

Tapi sebenernya tetep seru-seru aja sih, jadi tahu sedikit banyak ajaran agama lain. Satu pengetahuan yg orang lain blm tentu tahu, trus ya itu jadi lebih terbuka juga sama siapapun dengan background apapun

Namun pemahaman Lita mengenai agama lain (Katolik, Hindu dan Budha) di luar agama keluarganya, tidak lebih mendalam dibandingkan dengan pengetahuan agama yang berasal dari keluarganya (Islam dan Kristen).

Yang jelas kalo agama yang selain agama di keluargaku, aku ga begitu tau banyak, cuma tau kayak misal kalo Hindu itu pemujaan terhadap dewa-dewa trus ada sembahyangan, kalo sembahyangan ada baju khususnya, ga boleh makan sapi kalo Budha apa ya, cuma tau ada hukum tentang karmapala, tau ga yang katanya apapun yang kamu berikan ke dunia akan kembali lagi ke kamu, itu karma

ya? Ya pokoknya cuma itu sih .. kalo Katolik ga beda jauhlah sama Kristen cuma beda di misa dan beberapa ajarannya, yang paling tau ya walaupun masih biasa aja ya cuma agama Bapak Ibu,

Kristen sama Islam”

Sikap terbuka dan mau menerima keberadaan agama lain tidak membuat Lita dengan cepat dan mudah mau menerima serta memahami informasi yang ada. Lita merasa, setiap agama memiliki ajaran, pandangan dan landasan yang berbeda. Namun sebagai bentuk rasa saling menghormati, Lita tidak secara frontal mengkritiknya tetapi hanya berusaha memahaminya sendiri.

..Aku ga menyerang, mendengarkan, maksudnya gini kalo aku mempertahankan diri, trus aku merasa ada bedanya sama mereka. Jadinya cuma dengerin cerita-cerita mereka, jadi kan kita ngerti sendiri tuh”

“ Mereka itu (Islam) menganggap kita tuh sama karena di kitab mereka, ada juga malaikat-malaikatnya cuma ya namanya beda, beda dikit, tapi di kitabku, aku nemuinnya ga sama. Sebenernya pengen sih ngomong ga sama tapi kesannya kok terlalu, ntar terlalu dikira garis keras gitu lo. Jadinya, aku diem aja”

“ Trus apa lagi ya, banyak deh aku liatnya, beda (ajaran agama) sebenernya kalo aku bilang”

b.Melakukan Aktivitas yang Bertujuan untuk Mempelajari dan Memahami Agama Beserta Ajarannya

Berupaya untuk memahami ajaran agama dengan lebih baik, Lita melakukan diskusi bersama teman-teman sekolahnya, teman-teman di lingkungannya dan ibunya. Proses diskusi keagamaan bersama teman-teman, dilakukan semenjak Lita duduk di bangku SMA.

“Baru bahas tentang agama lain, selain agama Ibu Bapak itu ya SMA karena sekolahku negri dan waktu belajar tentang agama kan kelasnya pisah-pisah nah ternyata aku terpisah sama beberapa temenku, nah dari situ jadi tanya-tanya”

“Nah itu, kadang-kadang ya dari lingkungan jadi bertukar pikiran gitu (tentang berbagai agama)”

Sedangkan diskusi bersama ibunya, telah ia lakukan sejak kecil namun lebih berorientasi secara umum dan pada agama Kristen.

Dulu kan aku ga ngerti apa-apa dan ketika aku tanya ke ibuku, ibu cuma bilang kalo di kitab suci masing-masing udah diatur. Trus yaudah, aku percaya”

“… ibu biasanya yang kasih tau. Ya kayak yang aku bilang, ibu itu yang ngasih tau tentang isi Al Kitab. Pertama aku dikasih tau awal mula kejadian ini sampai ulangan“

Diskusi yang dilakukan hanya bertujuan untuk menambah pengetahuan Lita mengenai keberagaman agama walaupun dalam prosesnya, Lita tidak selalu merasa sejalan dengan apa yang menjadi pandangan teman-temannya.

Cuma untuk nambah pengetahuan aja tapi ga lebih dari itu c. Ketertarikan untuk Lebih Memahami Agama Tertentu

Keberagaman agama yang ditemui Lita, ternyata hanya membuat Lita merasa lebih dekat dengan agama keluarganya, Islam dan Kristen.

“… yang paling tau, ya walaupun masih biasa aja ya cuma agama Bapak Ibu, Kristen sama Islam

Dalam kesehariannya, Lita sering memperhatikan sikap dan kegiatan umat agama Islam dan Kristen.

….aku selalu mencermati orang-orang Islam. Orang Islam itu dari dulu setauku ga pernah dia mengambil doa diluar 5 waktu, berdoa diluar sholat 5 waktu itu…”

“ …orang Kristen kan juga ada puasanya tapi kebanyakan orang Kristen itu ga tau kalo kita harus ikut puasa-puasa gitu…”

“ Trus kayak puasa, misalnya udah bulan Ramadhan sama mau lebaran. Di tivi-tivi kan langsung happening, booming banget kan acara-acara kayak itu, iya kan? Dan kita ( Kristiani) cuma biasa-biasa aja kan? Kayaknya itu cuma hari biasa-biasa gitu dan ini, semua yang namanya orang Kristen, mereka sampe ga tau apa yang harus mereka lakuin, kadang-kadang aku sebelnya disitu”

Perhatian ini membuat Lita semakin mengenal keduanya lebih mendalam dan subjektif. Tidak hanya pandangan yang positif namun juga secara negatif.

“Kalo plusnyaaa … Ini, orang Islam itu kan orangnya getol banget.

Gini, jadi sampe agama mereka, mereka tahu itu dihina, mereka ga akan terima itu. Ya sih, mungkin landasannya mereka berpikir kalo mereka itu jihad atau apa tapi kalo orang Kristen mikir, Tuhanku itu ga perlu dibela kok. Tapi dari situ tuh, mereka getol, jadi kayak apa

yaa … Gini misalnya lagi mereka sampe nabung buat naik haji, nah kalo di Kristen mana ada, perpuluhan aja, iya ga iya ga.

“Kalo Islam kan, mereka harus berbuat baik untuk mendapatkan upah, surga. Nah tapi kalo orang kita (Kristen), dosanya udah ditebus kok, kalo ngelakuin dosa tinggal minta maaf tapi ga gitu juga, kalo kamu udah tau apa yang kamu perbuat itu dosa maka dosamu ga akan diampuni tapi memang dengan adanya berkat dari Tuhan, maka kita bisa mendapatkan pengampunan karena bukan suatu hal yang impossible. Tapi kan sebenernya ada hukumnya seperti itu, sampe mereka nanti reinkarnasi. Tapi yaa itu, kesannya jadi santai gimana gitu. Istilahnya kan kamu jadi kayak melecehkan apa yang sudah kamu terima”

Walaupun dalam pemahaman Lita umat agama Kristen dan Islam memiliki sisi positif dan negatifnya masing-masing namun Lita lebih tidak menyukai ajaran agama Islam serta sikap umatnya serta berusaha membandingkannya dengan ajaran agama Kristen.

“Yaa itu yang aku ga suka, gigi ganti gigi mata ganti mata. Trus apa ya, kadang-kadang mereka iti bukan jadi ambisius tapi malah jadi arogan”

“Apa-apa disalahin. Trus mereka mau kayak menang sendiri. Kayak sekarang, hal kecil aja dipermsalahin, warung dibuka waktu puasa ya digrebek. Mereka ga tau sih sama apa yang mereka lakukan. Lah ya piye to? Kalo ga dibuka, mereka ga makan satu keluarga. Ya mungkin karena ga diajarkan tentang satu prinsip itu, kasih. Sebenernya apa ya, kayak cuci otak gitu. Sebenernya kan kita juga ga bisa percaya ini ataupun itu dengan mudah, ya kan? Tapi apa yaa, mereka ga kenal sih tentang 3 hal itu, tentang iman, pengharapan dan kasih. Mereka itu selalu, kalo aku pengen itu akan tak kejar tapi kalo di kita kan doa tanpa usaha sia-sia, usaha tanpa doa juga sia-sia, nah kalo di kita kan gitu. Nah sekarang itu dipake tuh (oleh umat Islam)“

Melihat bahwa sikap umat Islam dan beberapa ajaran di dalamnya sangat buruk membuat Lita tidak memiliki keinginan untuk menganut agama bawaan ayahnya itu. Pandangan yang buruk terhadap kelompok agama Islam, secara tidak langsung mengikis dan menghilangkan rasa simpati Lita pada agama Islam.

d. Kesiapan Diri untuk Membuat Komitmen Beragama

Keberagaman agama yang ada serta kedekatan Lita dengan agama Islam dan Kristen pada akhirnya tidak merubah prinsip Lita untuk menjadi seorang kristiani. Melalui wawancara yang lebih mendalam,

diketahui bahwa Lita memang sudah merasa lebih nyaman dengan agama Kristen yang telah dia imani dan laksanakan ibadahnya sejak kecil.

“…aku emang udah sreg sama agamaku (Kristen)” “…soalnya emang dari kecil udah diarahin ke Kristen”

Keyakinannya untuk menjadi seorang Kristiani juga makin kuat. Lita lebih banyak menemukan kesesuaian dan rasa simpati terhadap ajaran agama Kristen sehingga hal ini lah yang kemudian menjadi dasar dirinya untuk berkomitmen menjadi seorang kristiani.

Kalo aku sih, itu (prinsip dasar ajaran agama Kristen) sederhana tapi menurutku pengaruhnya kemana-mana, penting dan pasti”

3. Komitmen untuk Menjadi Kristiani yang Ideal