• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN

B. Ekstraksi Daun Pepaya

Langkah pertama dalam proses ekstraksi daun pepaya yaitu melakukan penyarian serbuk daun pepaya yang diperoleh dari Merapi Farma. Penyarian dilakukan dengan maserasi, yaitu merendam serbuk dalam cairan penyari. Untuk obat atau zat aktif yang mudah larut dalam larutan penyari, maserasi merupakan metode ekstraksi yang paling efisien (Allen et al, 2005). Cairan penyari akan menembus dinding sel dan masuk ke dalam rongga sel yang mengandung zat aktif yang larut dalam cairan penyari. Zat aktif akan larut dan karena adanya perbedaan konsentrasi antara larutan di dalam dan di luar sel maka larutan yang pekat didesak keluar. Proses tersebut berulang sampai terjadi kesetimbangan konsentrasi antara larutan di dalam dan di luar sel (Anonim, 1986).

Maserasi dilakukan selama 24 jam pada 16,6 g serbuk dengan perbandingan campuran cairan penyari etanol:aquades 25 ml:75ml menggunakan tabung maserasi dan shaker (160 rpm). Jumlah tersebut berdasarkan hasil

orientasi jumlah serbuk dalam 100 ml cairan penyari. Pemilihan campuran etanol:air sebagai penyari berdasarkan kelarutan carpaine di dalam kedua pelarut tersebut. Carpaine merupakan salah satu golongan alkaloid terbesar yang terkandung di dalam tanaman (Anonim, 2009c). Carpaine tidak larut dalam air tetapi larut dalam alkohol (Marion, 2009). Di dalam tanaman sebagian besar alkaloid berupa garam basa, termasuk carpaine. Karena carpaine berupa garam basa yang larut air, maka digunakan aquades sebagai pelarut dalam maserasi. Digunakan campuran etanol:aquades (1:3), agar dapat menyari semua carpaine di dalam daun pepaya. Aquades untuk menarik carpaine dalam bentuk basanya, sedangkan etanol untuk menarik carpaine dalam bentuk lain yang tidak larut air.

Sebanyak 500 ml maserat kemudian dievaporasi menggunakan vacuum evaporator hingga diperoleh berat ekstrak 30 g. Ekstrak yang diperoleh dimasukkan dalam oven untuk menguapkan sisa pelarut selama 24 jam hingga didapatkan 10 g ekstrak. Ekstrak yang diperoleh kental dan berwarna coklat tua.

C. Formulasi

Carbopol 940 dalam sediaan gel antiacne ekstrak daun pepaya berfungsi sebagai gelling agent. Bahan ini digunakan sebagai basis untuk mengentalkan sediaan gel. Dalam penelitian ini, viskositas carbopol tidak menurun saat dicampurkan dengan ekstrak daun pepaya seperti yang terjadi pada penelitian Ardina dkk (2007). Hal ini disebabkan karena dalam penelitian ini digunakan carbopol 940 yang memiliki tingkat viskositas lebih tinggi dan lebih stabil dari carbopol 934 yang digunakan pada penelitian Ardina dkk (2007). Selain itu,

dalam penelitian ini digunakan konsentrasi carbopol yang lebih tinggi. Dengan demikian, carbopol tetap dapat digunakan sebagai gelling agent dalam pembuatan gel antiacne ekstrak daun pepaya. Fungsi dari gliserol yaitu sebagai emolien, humectant, plasticizer, pelarut, bahan pemanis dan bahan pengisotonis. Pada sediaan topikal, gliserol digunakan sebagai humectant sekaligus emolien yang dapat melembabkan kulit. Gliserol merupakan humectant yang paling umum digunakan namun cenderung menimbulkan rasa berat (heavy) dan basah (tacky) yang dapat ditutupi dengan mengkombinasikan bersama humectant lain (Zocchi, 2001). Propilenglikol memiliki berat molekul yang lebih kecil, viskositas yang lebih rendah dan kemampuan menguap yang lebih tinggi dibandingkan dengan gliserol (Sagarin, 1957). Gliserol yang cenderung kental dikombinasikan dengan propilenglikol yang memiliki viskositas lebih rendah, sehingga diperoleh campuran humectant dengan viskositas yang sesuai, tidak terlalu kental dan tidak terlalu encer (viskositasnya rendah). Dengan kombinasi kedua humectant tersebut dalam formula gel antiacne ekstrak daun pepaya diharapkan diperoleh sediaan gel antiacne yang nyaman digunakan dan dapat melepaskan obat dengan baik. Trietanolamin berfungsi sebagai basa yang berfungsi untuk menetralkan sifat asam dari carbopol sehingga dicapai pH optimum carbopol (4,5-11) dan dapat diperoleh gel dengan viskositas yang sesuai. Metil paraben digunakan sebagai pengawet, sedangkan natrium metabisulfit berfungsi sebagai antioksidan. Karena sediaan gel terbuat dari bahan alam, sedangkan bahan alam mudah teroksidasi, maka perlu ditambahkan antioksidan ke dalam formula gel antiacne. Sediaan gel mengandung cukup banyak air yang merupakan media yang baik untuk

pertumbuhan mikrobia, oleh karena itu ditambahkan pengawet untuk menjaga kestabilan gel selama penyimpanan.

D. Uji Potensi Antibakteri Gel Antiacne Ekstrak Daun Pepaya

Setelah diformulasikan, gel antiacne kemudian diuji potensi antibakterinya terhadap S. epidermidis. Tujuan dilakukannya uji potensi antibakteri gel antiacne untuk mengetahui ada tidaknya potensi hambat gel terhadap bakteri jerawat S. epidermidis.

Formula 1, a, b, dan ab masing-masing sejumlah 0,05 gram, dimasukkan ke dalam lubang sumuran pada petri yang berisi media yang telah ditumbuhi bakteri S. epidermidis. Pada masing-masing petri dibuat 5 sumuran yaitu 4 sumuran untuk 4x replikasi masing-masing formula, dan 1 sumuran untuk basis formula tersebut (kontrol -). Setelah gel antiacne dimasukkan ke masing-masing sumuran, kemudian diinkubasikan selama 48 jam. Dari uji potensi formula 1, a, b, dan ab diperoleh data sebagai berikut:

Tabel IV. Hasil Pengukuran Diameter Zona Hambat Gel Antiacne Formula 1, a, b, dan ab terhadap S. epidermidis

Formula Diameter rata-rata

zona hambat (cm) Formula 1 1,93±0,05 Formula a 2,88±0,13 Formula b 2,95±0,17 Formula ab 2,73±0,39 Basis (kontrol -) -

Dari hasil uji potensi antibakteri gel antiacne formula 1, a, b, dan ab, terjadi overlapping zona hambat gel antiacne dengan basis (kontrol -), sehingga zona hambat basis sebagai kontrol (–) tidak dapat diukur (Lampiran 12, 13, 14,

dan 15). Zona hambat yang terbentuk pada gel antiacne masing-masing replikasi overlapping dengan zona hambat basis (kontrol -). Maka tidak dapat ditentukan secara pasti diameter zona hambat pada basis sebagai kontrol (-). Pada gambar 4, dapat kita lihat, gel yang berada di dalam sumuran tampak mengembang (luber) melebihi lubang sumuran. Hal ini dimungkinkan karena adanya air di dalam media membuat gel swelling (mengembang), sehingga menjadi lebih banyak daripada saat pertama dimasukkan ke lubang sumuran.

Gambar 4. Uji potensi gel antiacne ekstrak daun pepaya formula 1; gel antiacne formula 1 (a, b, c, d); kontrol – (e)

Overlapping zona hambat terjadi karena zona hambat yang terbentuk cukup besar, sedangkan petri yang digunakan kurang memadai. Oleh karena itu dilakukan pengulangan uji pada formula a dan b sebagai verifikasi adanya zona hambat gel antiacne terhadap S. epidermidis. Dalam masing-masing petri dibuat 5 sumuran yang terdiri dari gel antiacne formula a, basis formula a (kontrol -), gel antiacne formula b, basis formula b (kontrol -), dan ekstrak daun pepaya sebagai kontrol positif. Pada pengulangan uji ini dilakukan pengamatan waktu inkubasi 24 jam dan 48 jam. Data yang diperoleh sebagai berikut:

Tabel V. Hasil pengukuran diameter zona hambat gel antiacne formula a dan b pada pengamatan 24 jam dan 48 jam

Waktu Pengamatan Formula a (cm) Basis formula a (kontrol -) (cm) Formula b (cm) Basis Formula b (kontrol -) (cm) Ekstrak daun pepaya (kontrol +) (cm) 24 jam 2,600±0,294 2,275±0,150 3,025±0,236 1,850±0,265 3,800±0,115 48 jam 3,350±0,173 2,675±0,236 3,350±0,100 2,275±0,298 3,800±0,115

Gambar 5. Verifikasi uji potensi gel antiacne ekstrak daun pepaya formula a dan b pada pengamatan 24 jam; formula a (a), basis formula a (kontrol -)

(b), basis formula b (kontrol -) (c), formula b (d), ekstrak daun pepaya (kontrol +) (e)

Pada pengamatan 24 jam, zona hambat tidak terlihat jelas (Gambar 5). Zona yang terbentuk di sekitar sumuran lebih tampak seperti zona difusi. Obat yang terdapat pada lubang sumuran berdifusi ke medium agar. Dengan semakin meningkatnya jarak difusi obat dari lubang sumuran, konsentrasi obat pada gel berkurang, menghasilkan gradien konsentrasi obat pada medium agar di sekeliling sumuran (Jorgensen, Turnidge, & Washington, 1999).

Gambar 6. Verifikasi uji potensi gel antiacne ekstrak daun pepaya formula a dan b pada pengamatan 48 jam; formula a (a), basis formula a (kontrol -)

(b), basis formula b (kontrol -) (c), formula b (d), ekstrak daun pepaya (kontrol +) (e)

Pada pengamatan 48 jam, zona hambat tampak lebih jelas dan jernih jika dibandingkan dengan zona hambat pada pengamatan 24 jam. Hal ini dimungkinkan terjadi karena saat pengamatan 24 jam obat belum seluruhnya dilepaskan dari basis sehingga belum menunjukkan penghambatan terhadap S. epidermidis secara jelas. Dari tabel tersebut, dapat kita lihat bahwa gel antiacne baik formula a maupun formula b, memiliki zona hambat lebih kecil (pada pengamatan 24 jam, diameter zona hambat formula a = 2,600±0,294, formula b = 3,025±0,236; pada pengamatan 48 jam, diameter zona hambat formula a = 3,350±0,173, formula b = 3,350±0,100) dari kontrol positif (3,800±0,115). Namun diameter zona hambat gel antiacne formula a dan b lebih besar dari basis (kontrol -) masing-masing formula (pada pengamatan 24 jam, basis formula a = 2,275±0,150, basis formula b = 1,850±0,265; pada pengamatan 48 jam, basis

formula a = 2,675±0,236, basis formula b = 2,275±0,298). Tujuan digunakannya kontrol (+) dan kontrol (-) yaitu sebagai pembanding potensi antibakteri gel antiacne. Pada kontrol (+) digunakan zat aktif (ekstrak daun pepaya) yang memiliki aktivitas sebagai antibakteri, kontrol (-) yaitu basis formula gel yang tidak mengandung zat aktif. Pada basis formula a dan formula b menunjukkan adanya daya hambat karena di dalam formula gel antiacne juga terdapat pengawet yang berfungsi untuk menjaga kestabilan gel. Selain itu, setelah penelitian dilakukan diperoleh informasi bahwa kedua humectant yang digunakan juga dapat berfungsi sebagai pengawet (Ansel, 1989; Anonim, 1983), oleh karena itu basis formula a dan b sebagai kontrol negatif menunjukkan penghambatan yang cukup besar (pada pengamatan 24 jam, basis formula a = 2,275±0,150, basis formula b = 1,850±0,265; pada pengamatan 48 jam, basis formula a = 2,675±0,236, basis formula b = 2,275±0,298) jika dibandingkan dengan gel antiacne ekstrak daun pepaya (pada pengamatan 24 jam, diameter zona hambat formula a = 2,600±0,294, formula b = 3,025±0,236; pada pengamatan 48 jam, diameter zona hambat formula a = 3,350±0,173, formula b = 3,350±0,100)

Area di mana konsetrasi obat menunjukkan adanya penghambatan, tidak ada pertumbuhan bakteri, membentuk zona hambat di sekitar sumuran. Diameter zona hambat yang terbentuk dipengaruhi oleh kecepatan difusi masing-masing obat (Jorgensen et al, 1999). Adanya zona hambat tersebut menunjukkan adanya penghambatan pertumbuhan bakteri S. epidermidis oleh gel antiacne ektrak daun pepaya.

Dokumen terkait