2 TINJAUAN PUSTAKA
2.3 Ektoparasit Pengganggu
Parasit pada hewan terbagi dua golongan yaitu ektoparasit dan endoparasit. Golongan parasit yang hidup di dalam tubuh seperti cacing, disebut endoparasit, sedangkan yang hidup di tubuh bagian luar seperti di kulit dan rambut disebut ektoparasit (Hadi dan Soviana 2000). Ektoparasit itu sendiri berperan sebagai inang perantara dari endoparasit, yaitu Protozoa dan cacing yang menginfeksi tubuh inang. Arthropoda yang dapat berperan sebagai ektoprasit adalah kelas Insecta dan Arachnida.
Kelas Insecta terdiri dari empat ordo, yaitu Phthiraptera (kutu), Siphonoptera (pinjal), Hemiptera (kutu busuk), Diptera (nyamuk dan lalat), dan kelas Arachnida itu sendiri terdiri dari ordo Acariformes (tungau) dan Parasitiformes (caplak) (Hadi dan Soviana 2000). Menurut Klos dan Lang (1976) ektoparasit pada primata terdiri dari pinjal, nyamuk, tungau, kutu dan lalat. Sarcoptes scabies pernah ditemukan menginfeksi
orangutan dengan gejala klinis, terdapat kerontokan, kulit berkerak, inflamasi, pruritus, emasiasi dan kematian.
2.3.1 Bebagai Jenis Lalat
2.3.1.2 Lalat Rumah (Musca domestica)
Lalat rumah, Musca domestica, termasuk ke dalam famili Muscidae dan ordo Diptera (subordo Cyclorappha). Musca domestica merupakan lalat rumah yang penyebarannya di seluruh dunia dan merupakan serangga yang keberadaannya sangat dekat dengan manusia maupun hewan.
Ciri morfologi dari lalat rumah adalah memiliki ukuran tubuh 5,8-6,5 mm untuk jantan dan 6,5-7,5 mm untuk betina, berwarna kelabu, toraks mempunyai empat garis hitam logitudinal di dorsal, mulutnya tumpul dengan bagian ujung (labela) melebar dan memiliki struktur seperti spons yang berfungsi untuk menyerap makanan. Antenanya pendek dengan arista yang berambut (plumose) baik pada ventral maupun dorsal, sayapnya jernih dengan vena sayap M1+2 sangat khas yang membentuk lengkungan sudut yang tajam dan sel R5 agak tertutup di distal (Hadi dan Soviana 2000). Abdomen pada betina memiliki pola yang khas, yaitu motif abu-abu dan hitam yang bergatian di bagian dorsal midline dan kekuningan pada bagian pinggirannya (Moon 2002).
Pola makan dari Musca adalah dengan menghisap makanan. Lalat rumah memiliki kebiasaan makan dan tempat perindukannya pada daerah yang kotor maka Musca
berperan dalam penyebaran berbagai macam penyakit secara mekanis. Lalat rumah dapat ditemukan dalam jumlah besar di daerah peternakan, perunggasan, industri hewan yang sederhana secara tidak langsung dapat memberikan dampak bagi kesehatan hewan dan manusia (Moon 2002). Lalat ini merupakan vektor demam tifoid, disentri, patek, antraks dan beberapa bentuk konjungtivitis (Borror et al. 1996).
2.3.1.3 Lalat Kandang (Stomoxys calcitrans)
Lalat kandang, Stomoxys calcitrans, termasuk ke dalam famili Muscidae, ordo Diptera (subordo Cyclorappha). Lalat ini mempunyai kemiripan dengan lalat rumah, tetapi mempunyai mulut untuk menghisap dan minum darah, memiliki nama lain grayish flies (Cheng 1986).
Lalat kandang memiliki ciri morfologi sebagai berikut, yaitu memiliki empat garis hitam longitudinal pada thoraks dan bercak-bercak hitam pada abdomen. Probosisnya panjang dan mencuat ke depan kepala dan palpus maksilanya pendek, untuk menusuk dan menghisap darah. Arista berambut hanya pada sisi dorsalnya, sayapnya jernih dengan vena sayap M1+2 melengkung halus dan sel R5 terbuka di distal (Hadi dan Soviana 2000).
Lalat kandang merupakan vektor dari Trypanosoma evansi dan cacing lambung pada kuda, Habronema majus (Levine 1978). Menurut Cheng (1986), gigitan dari Stomoxys
dalam jumlah yang banyak dapat menyebabkan kehilangan darah yang signifikan serta menyebabkan kehilangan berat badan. Lalat ini dapat berperan sebagai agen miasis pada kulit dan intestinal.
2.3.1.4 Lalat Tabanus (Tabanus sp)
Lalat kuda, Tabanus sp, termasuk ke dalam famili Tabanidae, ordo Diptera (subordo Brachycera). Lalat kuda merupakan ektoparasit pada sapi di Amerika.
Ciri morfologi dari lalat kuda adalah memiliki ukuran tubuh yang besar di banding dengan lalat lainnya, menurut Hadi dan Soviana (2000) lalat kuda memiliki ukuran tubuh 6-25 mm, bentuk tubuh yang besar dan kokoh, kepalanya berbentuk setengah lingkaran, serta memiliki mata yang dominan. Lalat jantan dan betina dapat dibedakan dari matanya. Lalat jantan mempunyai mata yang holoptik artinya mata kiri dan kanan saling berimpitan, sedangkan yang betina dikoptik artinya mata kiri dan kanan terpisah oleh suatu celah. Antenanya pendek terdiri atas tiga ruas, dengan berbagai modifikasi pada ruas terakhirnya. Bagian mulut terdiri atas probosis yang pendek dengan maksila yang bekerja seperti pisau untuk merobek, serta labrum dan hipofarings sebagai penusuk dan penghisap. Lalat kuda mengalami metamorfosis sempurna, stadium larvanya berlangsung selama enam minggu sampai satu tahun tergantung jenis dan kondisi cuaca, stadium pupa berlangsung selama 1-3 minggu (Hadi dan Soviana 2000).
Lalat kuda termasuk ke dalam lalat penghisap darah dan hanya betina saja yang menghisap darah, lalat jantan hanya menghisap cairan yang ada pada tanaman. Lalat ini dapat menghisap darah sekitar 100-200 ml per harinya (Cheng 1986). Tabanus dapat menjadi vektor nematoda Elaeophora schneideri di Amerika Serikat bagian barat,
antraks, anaplasmosis, penyakit sura oleh Tripanosoma evansi, Tripanosoma theileri dan
Tripanosoma equinum (Levine 1978). Menurut Cheng (1986) lalat ini dapat menularkan tularemia oleh Francisella tularensis.
2.3.1.5 Lalat Hijau (Chrysomya megacephala)
Lalat hijau, Chrysomya megacephala, termasuk ke dalam famili Calliphoridae, ordo Diptera (subordo Cyclorrapha). Ciri morfologi dari lalat hijau adalah ukuran tubuh yang kurang lebih 1,5 kali dari lalat rumah, umunya berwarna hijau metalik dengan banyak bulu-bulu pendek yang menutupi tubuh yang diselingi bulu kasar. Struktur mulutnya termasuk tipe mulut penjilat seperti lalat rumah. Lalat ini mengalami metamorfosis sempurna. Lalat ini dapat menyebabkan miasis fakultatif karena dalam perkembangan pra dewasanya lalat ini tidak membutuhkan jaringan hewan yang masih hidup. Lalat ini dapat menimbulkan masalah dalam kesehatan masyarakat seperti halnya lalat rumah (Hadi dan Soviana 2000).
Menurut Borror et al. (1996) kebanyakan lalat hijau adalah pemakan zat organik membusuk dan berkembangbiak pada bangkai, bersifat kosmopolit, lalat ini meletakan telurnya pada bangkai kemudian larva ini memakan jaringan yang telah membusuk. Lalat ini dapat menjadi agen miasis di permukaan kulit, selain itu lalat ini juga dapat menyebabkan disentri apabila populasi lalat ini sangat banyak. Lalat ini merupakan
forensic entomology yang digunakan untuk identifikasi atau estimasi kematian dari mayat pada medicocriminal investigation (Chen et al. 2004).
2.3.1.6 Lalat Buah (Drosophila melanogaster)
Lalat buah, Drosophila melanogaster, termasuk ke dalam famili Drosophilidae (subfamili Drosophilinae) dan ordo Diptera. Lalat ini biasa disebut dengan vinegar flies, morfologi dari Drosophila melanogaster, yaitu memiliki ukuran tubuh yang kecil sekitar 1-6 mm dan memiliki mata yang merah. Lalat dewasanya dapat di temukan pada buah yang sudah matang, tempat larva yang mengalami pembusukan, fungi dan getah tumbuhan. Larva dari lalat ini berbentuk seperti belatung dengan posterior spirakel berbentuk seperti batang atau tangkai. Lalat ini selalu berada di sekitar rumah dan buah-buahan yang telah matang (Hall dan Gerhardt 2002).
Drosophila melanogaster merupakan lalat yang biasa digunakan sebagai hewan laboratorium sebagai penelitian genetik. Beberapa spesies dari Drosophila berpotensi sebagai transmiter dari agen patogen apabila Drosophila berkembangbiak pada feses hewan (Hall dan Gerhardt 2002).
2.3.2 Berbagai Jenis Nyamuk 2.3.2.1 Aedes
Aedes, termasuk ke dalam famili Culicidae (subfamili Culicinae), ordo Diptera (subordo Nematocera). Terdapat 125 spesies Aedes di dunia dan dua spesies nyamuk yang terkenal dari genus ini, yaitu Aedes aegypti dan Aedes albopictus. Nyamuk ini berwarna belang hitam dan putih dan tersebar di daerah tropis. Aedes dapat dibedakan dari jenis nyamuk lainnya, yaitu dengan melihat ujung abdomen yang meruncing dan mempunyai sersi yang menonjol. Bagian lateral dadanya terdapat rambut post-spiracular
dan tidak mempunyai rambut spiracular. Corak putih pada toraks bagian dorsal atau punggung Aedes aegypti berbentuk seperti siku yang berhadapan (lyre-shape) dan pada
Aedes albopictus berbentuk lurus di tengah-tengah punggung (median stripe) (Hadi 2006).
Nyamuk Aedes aegypti berkembangbiak dalam tempat penampungan air seperti bak mandi, tempayan, drum, vas bunga dan barang bekas lain yang dapat menampung air hujan di daerah urban dan suburban. Aedes albopictus juga demikian tetapi biasanya lebih banyak terdapat di bagian luar rumah. Nyamuk ini mengalami metamorfosis sempurna, yaitu telur-larva-pupa-dewasa. Larva nyamuk ini memiliki siphon yang bulat dan pendek, hal ini untuk dapat dibedakan dengan jenis nyamuk lainnya (Hadi 2006).
Nyamuk jantan tidak menghisap darah hanya menghisap cairan tumbuhan dan nyamuk betina menggit dan menghisap darah manusia. Aktivitas dari nyamuk ini adalah pagi, siang dan sore hari. Jarak terbang nyamuk ini sangat pendek, yaitu sekitar 50-100 meter kecuali jika nyamuk ini terbawa oleh angin. Apabila sudah menghisap darah, nyamuk ini akan istirahat di tempat-tempat yang gelap dan sejuk, sampai penerapan darah untuk perkembangan telur selesai. Nyamuk ini merupakan vektor dari penyakit
2.3.2.2 Culex
Culex merupakan salah satu spesies dari famili Culicidae (subfamili Culicinae) dan ordo Diptera (subordo Nematocera). Di dunia terdapat 82 spesies nyamuk ini. Morfologi dari nyamuk ini adalah betinanya memiliki maksilari palpi yang lebih pendek daripada separuh panjang probosisnya, warna tubuhnya lebih kekuningan, terdapat sisik pada sekitar sayapnya. Culex dewasa memiliki ukuran tubuh 4-10 mm. Larva memiliki siphon yang panjang dan langsing serta memiliki lebih dari satu hair tuft, berkembang pada genangan air di sekitar pemukiman. Culex mengalami metamorfosis sempurna, yaitu telur-larva-pupa-dewasa. Nyamuk dewasa jantan biasanya berumur sampai 6-7 hari dan nyamuk betinanya dapat bertahan sampai dua minggu di alam (Hadi dan Soviana 2000). Menurut Sigit dan Hadi (2006) nyamuk ini memiliki aktivitas menggigit pada malam hari dan puncaknya pada pukul 22.00 sampai 02.00.
C. quinquefasciatus merupakan nyamuk rumah atau nyamuk tong hujan, jenis ini merupakan satu kelompok yang terdiri dari subjenis yang mempunyai perbedaan kebutuhan ekologik dan karakteristik. Anggota kelompok ini terdapat di seluruh dunia dan bersifat kosmopolit serta tinggal dekat pemukiman (Levine 1978). Nyamuk ini memiliki probosis yang gelap unbanded dan bersifat antrhophilic dan mengganggu manusia (Baisas 1974).
C. fuscocephalus berukuran kecil, biasa dikenal dengan nyamuk hitam, berkembangbiak di genangan air yang bersih, selokan dan sawah, kebanyakan bersifat
zoophilic (Baisas 1974).
Culex merupakan satu nyamuk yang menjadi masalah yang serius bagi kesehatan, yaitu gigitannya yang dapat mengganggu dan merupakan vektor dari penyakit filariasis dan encephalitis (Patterson et al. 1975).
2.3.2.3 Anopheles
Anopheles merupakan famili dari Culicidae (subfamili Anophelinae) dan ordo Diptera (subordo Nematocera), yang anggotanya terdiri atas 41 genus dengan 3500 spesies. Tetapi tidak seluruhnya menjadi vektor malaria (Anonimus 2004).
Morfologi dari Anopheles dewasa, yaitu memiliki palpus maksila yang sama panjang dengan probosis, tetapi pada yang jantan ujung palpinya membesar. Skutelumnya
membulat, tidak mempunyai lobus. Kaki-kakinya panjang dan langsing, serta abdomennya tidak bersisik. Hanya betina yang menghisap darah. Larvanya tidak mempunyai siphon, pada bagian kiri dan kanan segmen abdomen dan kadang pada thoraks terdapat palmate hair dan pada bagian dorsalnya terdapat keping tergal (Hadi dan Soviana 2000).
Menurut Borror et al. (1996) Anopheles merupakan nyamuk yang dapat terbang jauh, sekitar satu mil dari tempat mereka muncul. Seekor nyamuk Anopheles pada posisi istirahat mempunyai tubuh dan probosis dalam satu garis lurus dan pada satu sudut dimana serangga sedang beristirahat. Menurut Sumantri dan Iskandar (2005) Anopheles
berhabitat di tempat yang paling banyak dikunjungi nyamuk malaria untuk berkembangbiak adalah tempat dengan air jernih yang tidak mengalir. Nyamuk betina umumnya bersifat zoophilic dan juga bersifat eksofilik, aktif menggigit mulai senja hingga menjelang tengah malam.
2.3.2.4 Mansonia
Mansonia merupakan famili dari Culicidae (subfamili Culicinae) dan ordo Diptera (subordo Nematocera) dan penyebarannya luas. Nyamuk ini merupakan vektor penyakit kaki gajah di beberapa wilayah Indonesia (Hadi 2006).
Nyamuk yang betina memiliki ukuran yang sedang dengan pola warna burik kecoklatan, probosis yang burik sampai pucat di sepertiga dan seperempat basal dan warna dominan hitam pada daerah apikalnya, skutum dengan sisik sempit yang keemasan tapi dengan garis di bagian tengahnya, terdapat pola stripe lateral yang luas bidang ke arah belakang, sayap yang pola burik dengan warna hitam dan pucat pada sisik di semua vena sayap (Russell 1996).
2.3.2.5 Culicoides
Agas penggigit, Culicoides, merupakan famili dari Ceratopogonidae dan ordo Diptera (subordo Nematocera). Agas penggigit memiliki ukuran yang kecil dan gigitannya membuat rasa tidak nyaman pada manusia atau pada hewan yang digigitnya (Mullen 2002), Culicoides tersebar di daerah tropik dan daerah subtropik, bisa dikatakan serangga
yang kosmopolit, kecuali Pentagonia dan Selandia Baru. Famili ini beranggotakan sekitar 78 genus dengan lebih dari 3900 spesies dan terdapat empat genus yang menyerang manusia serta hewan berdarah panas lainnya. Keempat genus tersebut di antaranya adalah
Culicoides, Forcifomya, Austroconops dan Leptoconops (Hadi dan Soviana 2000). Mullen (2002) menyatakan penyebaran dari Ceratopogonidae di seluruh dunia terdapat 78 genus dan lebih dari 4000 spesies. Di antara keempat genus tersebut yang paling mendapat perhatian utama dari para ahli adalah Culicoides. Di Indonesia tercatat sebanyak 100 spesies Culicoides tersebar di 19 daerah propinsi di Indonesia (Hadi dan Soviana 2000).
Culicoides dewasa mempunyai ukuran tubuh yang sangat kecil, panjang tubuhnya sekitar 1-2,5 mm, bagian mulutnya beradaptasi untuk mengigit dan menusuk jaringan sehingga berkembang menjadi spesies penghisap darah. Probosis betina relatif pendek.
Culicoides memiliki pola khusus pada vena sayap yang dapat dibedakan dengan serangga yang lainnya. Terdapat area gelap dan area terang pada vena sayapnya, karena pada area gelap tidak ada pigmentasi tapi pola hitam ini terdapat di permukaan sayap (Mullen 2002).
Culicoides betina menggigit dan menyerang manusia dan mamalia lainnya pada waktu senja dan malam hari sedangkan jantan hanya menghisap cairan dari tumbuhan. Pada siang hari agas berkerumun di dekat kolam dan rawa-rawa, serta tanah yang lembab tempat berkembangbiak yang disukainya (Hadi dan Soviana 2000).
Peranan Culicoides di dalam dunia kesehatan adalah sebagai penghisap darah yang sangat mengganggu dan juga sebagai vektor penular berbagai macam penyakit terutama pada hewan, seperti leucocytozoonosis pada unggas, blue tongue pada domba, filariasis dan masonellosis pada manusia, onchocercosis pada kuda dan sapi dan encephalitis pada manusia dan kuda (Hadi dan Soviana 2000).
2.3.2.6 Chironomus
Chironomus merupakan famili dari Chironomidae dan ordo Diptera (subordo Nematocera) biasanya diketahui sebagai serangga yang tidak menggigit, merupakan famili dari Nematocera yang tersebar luas secara global dan terdapat 5000 spesies dan 700 spesies diantaranya berada di Amerika bagian Utara (Wikipedia 2008c). Nama lain
dari Chironomus adalah blood worm karena bentuk larva Chironomus seperti cacing berwarna merah.
Morfologi dari Chironomus dewasa memiliki ukuran tubuh 1-10 mm, dengan kaki yang ramping, terdapat sisik (scales) pada vena sayap dan pada jantan terdapat antena plumosa. Chironomus seringkali keliru dengan nyamuk, karena probosis yang tidak terlalu panjang dan tidak dapat digunakan untuk menghisap darah. Chironomus dewasa, mempunyai waktu hidup yang singkat, hidup hanya beberapa hari sampai beberapa minggu (Hall dan Gerhardt 2002).
Menurut Borror et al. (1996) penampilannya seperti nyamuk, kecil, lembut tetapi mereka tidak mempunyai sisik-sisik pada sayap-sayap dan tidak mempunyai satu probosis yang panjang karena mereka tidak menggigit. Tungkai-tungkai depan mereka biasanya terpanjang dan metanotumnya mempunyai satu jendolan atau lekuk, jantan biasanya mempunyai sungut plumosa. Ektoparasit ini beraktifitas pada sore hari dan terdapat dalam kelompok besar yang kemudian akan mengeluarkan dengungan yang dapat didengar dari jarak jauh.
Chironomus merupakan agas pengganggu yang dapat menyerang manusia dengan cara menggit selain itu juga larva Chironomus sangat menguntungkan karena merupakan sumber pakan untuk satwa yang berada di air (Anonim 2003).
2.3.2.7 Armigeres
Armigeres merupakan dari Culicidae (subfamili Culicinae) dan ordo Diptera (subordo Nematocera), terdapat 58 spesies dengan dua subgenus, yaitu Armigeres 40 spesies dan Leicesteria 18 spesies.
Nyamuk ini memiliki ukuran tubuh lebih besar dibandingkan dengan nyamuk lainnya. Yang khas dari nyamuk ini berwarna hitam, bagian perutnya terdapat bercak-bercak putih, mempunyai proosis yang panjang dan melengkung ke bawah. Gigitannya sangat menyakitkan, bisa menggigit tubuh yang tertutup oleh baju. Menjelang magrib nyamuk ini aktif sekali dan masuk rumah (Hadi 2006)
Habitat pradewasa Armigeres adalah bambu, kayu yang sudah lapuk, dedaunan, batok kelapa. Nyamuk ini bersifat zoophilic, aktif setiap hari dan dapat dijumpai di daerah hutan atau daerah yang rindang (Harbach 2008).
2.3.2.8 Tripteroides
Tripteroides merupakan dari famili Culicidae (subfamili Culicinae) dan ordo Diptera (subordo Nematocera). Nyamuk ini memiliki tiga lobus pada bagian tepi skutelum posteriornya, rambut-rambut terbagi dalam tiga kelompok, tidak ada sisik rambut pada bagian spiracle, pada bagian calypter atas terdapat jumbai. (Stojanovich dan Scott 1965).
Menurut Baisas (1974) nyamuk ini memiliki kepala yang lebar, scales bagian posteriornya gelap, palpus yang pendek, gelap, scutal integument yang pucat kekuningan, kaki berwarna gelap tetapi bagian femora pucat dan bersifat zoophilic. Habitat pradewasa nyamuk ini adalah pada lubang-lubang di kayu, bambu, batok kelapa, daun yang jatuh dan lembab serta rumah siput yang berair. Tripteroides dapat di jumpai di daerah pemukiman dan area hutan, nyamuk ini mempunyai aktivitas setiap waktu (Anonimus 2008a).
2.3.3 Berbagai Jenis Kutu
2.3.3.1 Pediculus humanus humanus, Pediculus humanus capitis
Kutu badan atau kutu orang, Pediculus humanus humanus, termasuk ke dalam famili Pediculidae dan ordo Pthiraptera (subordo Anoplura). Kutu kepala, Pediculus humanus capitis, termasuk dalam famili Pediculidae dan ordo Pthiraptera (subordo Anoplura).
Morfologi dari kutu ini adalah berukuran sekitar 1-2 mm, bentuk kepala yang ovoid sedikit meruncing, abdomennya terdiri dari sembilan ruas, daerah kepalanya memliki sepasang mata sederhana di sebelah lateral, sepasang antena yang pendek dan probosis yang dapat memanjang. Tiap ruas toraks mempunyai sepasang kaki kuat, terdiri dari lima ruas dan mempunyai satu kuku untuk berpegangan erat pada rambut atau bulu. Ruas abdomen terakhir pada yang betina mempunyai lubang kelamin di tengah dan dua tonjolan genital di bagian lateralnya (Hadi dan Soviana 2000).
Kutu tidak hanya menghisap darah tapi juga berperan sebagai vektor dari Borrelia recurrentis (demam kambuhan), Rickettsia prowazekii (tifus endemik) dan Rochalimaea
quintana (demam parit). Kutu ini dapat ditemukan pada semua umur, dari orang tua sampai anak-anak yang tidak memperdulikan kebersihan (Levine 1978).
2.3.3.2 Pthirus pubis
Kutu kelamin, Pthirus pubis, termasuk ke dalam famili Pthiridae dan ordo Pthiraptera (subordo Anoplura). Nama lain dari kutu ini adalah kutu kelamin atau kutu kepiting.
Kutu ini memiliki ukuran yang kecil sekitar 0,8-1,2 mm, bentuknya seperti kura-kura, kepalanya agak segi empat, abdomennya pendek dengan batas ruas tidak jelas serta mempunyai kuku yang besar dan kokoh (Hadi dan Soviana 2000). Weems (2007) menyatakan Pthirus pubis memiliki kaki depan yang lembut, panjang dan cakar yang ramping. Kaki belakang sangat kuat, pendek dan kokoh, mempunyai bentuk tibia seperti ibu jari. Abdomen pendek dan luas, tubuhnya bersegmen padat, yaitu 1-5 segmen. Stigmanya terdiri dari 3-5 buah yang terlihat nyata di lateralprocesus (Weems 2007).
Kutu ini menghisap darah dan menginfeksi rambut di daerah pubis serta daerah perineal. Pthirus pubis bisa pindah sampai ke bagian ketiak, janggut dan kumis. Kutu ini biasanya tinggal di manusia dewasa dan tak ditemukan pada anak-anak di masa pubertas. Infestasi kutu ini terjadi karena kontak saat koitus (Levine 1978).
2.3.2 Tungau, Sarcoptes scabiei
Sarcoptes scabiei termasuk ke dalam famili Sarcoptidae dan ordo Acariformes (subordo Astigmata). Tungau ini berukuran kecil, bulat berukuran 330-600 mikron panjang dan lebarnya 250-400 mikron untuk betina, sedangkan jantan berukuran lebih kecil, yaitu 200-240 mikron untuk panjang dan lebarnya 150-200 mikron, memiliki kaki yang pendek, pasangan kaki yang ketiga dan yang keempat tidak melebihi batas tubuh. Beberapa pasang kaki dilengkapi dengan alat peghisap. Pada bidang dorsal terdapat lipatan-lipatan halus dan cekungan-cekungan memanjang secara transversal (Hadi dan Soviana 2000).
Tungau ini dapat menyebabkan kudis pada manusia dan hewan. Menurut Arlian et al. (1995) efek infestasi dari tungau pada anjing adalah setelah delapan minggu terserang, gejala yang ditimbulkan adalah alopecia, hyperkeratosis, dermatitis dan kehilangan berat badan.