Elektrik

Dalam dokumen Re-Desain Stasiun Pulo Brayan (Halaman 46-116)

PLN Gardu / Trafo Meteran Main Panel Generato Panel Lighting Panel Power UPS Panel Distribusi Panel Pompa Panel AC Pompa Mesin AC Panel Fire Alarm Distribusi Distribus Panel

5.3.6 Konsep Sistem Transportasi Vertikal’

Gambar 5.7 Transportasi vertikal Sumber : Pribadi, 2016

Transportasi vertikal pada bangunan stasiun menggunakan tangga dan eskalator. Tangga kebakaran ditunjukkan pada kotak warna merah yang terletak di kanan dan kiri bangunan stasiun. Untuk eskalator ditunjukkan pada kotak warna hitam yang terletak di tengah bangunan stasiun.

Gambar 5.8 Transportasi vertikal Sumber : Pribadi, 2016

Untuk akses masuk ke stasiun pengunjung telah di sediakan tangga serta ram khusus disabilitas yang akan memudahkan akses menuju ke dalam stasiun. Di tunjukkan pada warna biru yang berada di kanan dan kiri bangunan, sedangkan warna hitam adalah transportasi eskalator penghubung dari lantai ground ke lantai 2 dan lantai 3 yang berfungsi sebagai peron stasiun kereta api.

BAB VI

HASIL PERANCANGAN

Bab ini merupakan hasil akhir dari perancanagn baru. Dimana temuannya adalah sebuah stasiun kereta api dengan inovasi yang tinggi. Sehingga dapat memenuhi kebutuhan masayarakat kota Medan di masa yang akan datang. Berikut adalah hasil perancangan bangunan yang terdiri dari gambar-gambar perspektif bangunan, maket perancangan. Sedangkan gambar kerja akan disertakan pada lampiran.

6.1 Perspektif 3 Dimensi

Perspektif 3D terdiri dari susasa eksterior dan interior bangunan.

Gambar 6.1. Tampak Atas Site Perancangan Sumber : Pribadi, 2016

Gambar 6.3. Perspektif Suasana Bangunan dari Sisi Kanan Sumber : Pribadi, 2016

Gambar 6.4. Suasana Bangunan dari Depan Sumber : Pribadi, 2016

Gambar 6.5. Perspektif Suasana Bangunan dari Atas Sumber : Pribadi, 2016

Gambar 6.6. Perspektif Atap Bangunan Sumber : Pribadi, 2016

Gambar 6.7. Perspektif Suasana Pedestrian Sumber : Pribadi, 2016

Gambar 6.8. Perspektif Suasana Ruang Parkir Sumber : Pribadi, 2016

Gambar 6.9. Suasana Interior Peron Sumber : Pribadi, 2016

Gambar 6.10. Perspektif Suasana di Sekitar Rel Kereta Sumber : Pribadi, 2016

Gambar 6.11. Perspektif Interior Bangunan Sumber : Pribadi, 2016

Gambar 6.12. Suasana Interior Restoran Sumber : Pribadi, 2016

Gambar 6.13. Suasana Interior Resepsionis Sumber : Pribadi, 2016

Gambar 6.14. Suasana Interior Loket Tiket Sumber : Pribadi, 2016

Gambar 6.15. Suasana Eksterior Taman Sumber : Pribadi, 2016

Gambar 6.16. Suasana Eksterior Taman Sumber : Pribadi, 2016

6.2 Maket Perancangan

Berikut adalah foto dari maket perancangan.

Gambar 6.16. Foto Maket Perancangan Kawasan Sumber : Pribadi, 2016

Gambar 6.17. Foto Maket Bangunan 1 Sumber : Pribadi, 2016

Gambar 6.18. Foto Maket Bangunan 2 Sumber : Pribadi, 2016

Gambar 6.19. Foto Maket Bangunan 3 Sumber : Pribadi, 2016

Gambar 6.20. Foto Maket Bangunan 4 Sumber : Pribadi, 2016

BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

2.1. Terminologi Judul

Re-desain Stasiun Pulo Brayan terdiri dari enam kata dengan makna masing-masing:

Re : sekali lagi atau kembali.

Desain : kerangka bentuk atau rancangan.

Stasiun : tempat untuk menaikkan dan menurunkan penumpang

yang menggunakan jasa transportasi.

Pulo Brayan : kawasan yang terletak di Koordinat: 3°37’54N

98°40’13”E Kelurahan Pulo Brayan, Kecamatan Medan Timur dan Medan Barat, Kota Medan, Provinsi Sumatera Utara, Indonesia. Dari pengertian di atas, maka disimpulkan bahwa Re-desain Stasiun Pulo Brayan adalah proses pembaruan rancangan tempat menaikkan dan menurunkan penumpang yang menggunakan jasa transportasi kereta api di kawasan yang terletak pada Koordinat: 3°37’54N

98°40’13”E, Kelurahan Pulo Brayan, Kecamatan Medan Timur dan Medan Barat, Kota Medan, Provinsi Sumatera Utara, Indonesia.

2.2. Lokasi

Lokasi adalah letak atau tempat dimana fenomena geografi terjadi. Konsep lokasi dibagi menjadi dua yaitu lokasi absolut dan lokasi relative. Lokasi absolut adalah letak atau tempat yang dilihat dari garis lintang dan garis bujur (garis astronomis). Lokasi kawasan berada

di Koordinat: 3°37’54N 98°40’13”E, Kelurahan Pulo Brayan, Kecamatan Medan Timur dan Medan Barat, Kota Medan, Provinsi Sumatera Utara, Indonesia. Secara astronomis, Propinsi Sumatera Utara terletak di koordinat antara 1°-4° Lintang Utara dan antara 98°-100° Bujur Timur.

Gambar 2.1 Kecamatan Pulo Brayan Sumber : google earth peta kota medan, 2016

2.2.1. Kriteria pemilihan lokasi

Lokasi penelitian dipilih berdasarkan kriteria-kriteria berikut :

a. Tinjauan terhadap Struktur Kota

Berada di kawasan pusaka kolonial yang merupakan daerah sejarah Pulo Brayan. Berada di Jalan Cemara dan Jalan Yos Sudarso Medan. Dalam pemilihan lokasi perancangan untuk Re-Desain Stasiun Pulo Brayan perlu memperhatikan Rencana

INDONESIA SUMATERA

KEC. MEDAN TIMUR MEDAN

ALTERNATIF SITE

Umum Tata Ruang Kota Medan (RUTRK). Pemilihan lokasi haruslah sesuai dengan kebijakan pemerintah terhadap peruntukan lahan itu sendiri.

Tabel 2.1 Rencana Sistem Pusat Pemukiman Kawasan Perkotaan Mebidangro

No Kawasan Pusat Kegiatan

1 Kawasan

Perkotaan Inti Medan

a. Pusat pemerintahan provinsi;

b. Pusat pemerintahan kota dan/atau kecamatan; c. Pusat perdagangan dan jasa skala internasiona,

nasional dan regional;

d. Pusat pelayanan pendidikan tinggi

e. Pusat pelayanan olah raga skala internasional, nasional dan regional;

f. Pusat pelayanan kesehatan skala internasional, nasional dan regional;

g. Pusat kegiatan industri kreatif h. Pusat kegiatan industri manufaktur;

i. Pusat kegiatan industri hilir pengelolaan hasil sektor unggulan perkebunan, perikanan dan kehutanan;

j. Pusat pelayanan sistem angkutan umum penumpang dan angkutan barang regional;

k. Pusat pelayanan transportasi laut internasional dan nasional;

l. Pusat pelayanan transportasi udara internasional dan nasional;

m. Pusat kegiatan pertahanan dan keamanan negara; n. Pusat kegiatan pariwisata; dan

o. Pusat kegiatan pertemuan, pameran dan sosial budaya.

b. Pencapaian

Dapat diakses melalui jalan fly over Pulo Brayan atau Jalan umum seperti Jl. Yos Sudarso dan Jl. Cemara dengan kendaraan pribadi dan kendaraan umum.

Pencapaian dari Medan kota ke pulo brayan bengkel menggunakan kereta api :

 Dari Stasiun Medan jarak 4,65 km ± 16 menit

 Dari Stasiun Bandara Kualanamu 4 km ± 43 menit

 Dari Stasiun Belawan 21,6 km ± 1 jam 12 menit

Pencapaian dari Medan kota ke pulo brayan bengkel menggunakan mobil :

 Dari Jl. Perintis Kemerdekaan 4,7 km ± 37 menit

 Dari Jl. Tol Balmera 43 km ±52 menit

 Dari Jl. Batang Kuis dan Tol Balmera 40,4 km ± 1 jam

 Dari Jl. Perjuangan 30,7 km ±1 jam 2 menit

Gambar 2.2 pencapaian menuju Kecamatan Pulo Brayan

Sumber : data pribadi, 2016

c. Area Pelayanan

Lingkungan sekitar merupakan fungsi-fungsi yang dapat saling mendukung dengan bangunan yang direncanakan dengan konsep bisnis dan pariwisata.

d. Status Kepemilikan

Status kepemilikan lahan adalah lahan PT KAI.

SITE

BINJAI ± 50 menit KUALANAMU ± 50

menit

MEDAN KOTA ± 50 menit DANAU TOBA ± 6

jam

e. Nilai Lahan

Nilai lahan relatif tinggi, karena berada di lahan PT KAI.

f. Peraturan

Tanah milik pemerintah yang merupakan pengembangan bisnis dan pariwisata, berfungsi sebagai perdagangan dan fungsi campuran berdasarkan RDTR Kota Medan.

2.2.2. Deskripsi Kondisi Eksisting Lokasi Tapak Perancangan

Berikut ini adalah deskripsi dari kondisi eksisting tapak :

Lokasi 1

a. Nama proyek : Re-desain Stasiun Pulo Brayan

b. Lokasi : Jalan Yos Sudarso, Koordinat 3°37’54N

298°40’13”E, Kelurahan Pulo Brayan, Kecamatan Medan Timur dan Medan Barat, Kota Medan, Provinsi Sumatera Utara.

c. Batas-batas Site

Utara : Kecamatan Medan Deli Selatan : Jl. Cemara dan Fly Over

Timur : Kelurahan Pulo Brayan Bengkel Barat : Jl. Yos Sudarso

d. Kondisi Existing

Gambar 2.3 kondisi eksisting Kecamatan Pulo Brayan Sumber : data pribadi dan google earth, 2016

e. Luas Lahan

Luas lahan yang menjadi studi kasus sebesar 15.000 m² atau ± 1,5 Ha.

f. Kontur

Kontur pada lahan perancangan relatif datar.

g. KLB/KDB

KDB = 60%

h. Luas dan Ketinggian Bangunan

Luas bangunan = 36.000 m² Ketinggian bangunan = 4 lantai

i. Pemilik Bangunan

Pemilik dan pengelola bangunan adalah pihak PT KAI

j. Bangunan Eksisting

Bangunan Eksisting yang terdapat pada site adalah Balai Yasa PT KAI, Stasiun transit lama, rumah pegawai PT KAI, permukiman penduduk, bangunan komersil, bangunan kolonial, tower air PT KAI, dan rumah satelit PT. KAI.

k. Keistimewaan Site

Kawasan Pulo Brayan Bengkel merupakan pusaka terpendam yang terdapat di kota medan dengan peninggalan bangunan serta cerita sejarah dari masa kolonial Belanda hingga jaman maju seperti sekarang. Bisa di rasakan dan dilihat bila kita berada di kawasan bahwa bangunan Kolonial, Tower Air, Rumah Satelit, Balai Yasa, akan menjadi lokasi bisnis dan RTH Ruang Terbuka Hijau yang berada di kawasan bisa membuat para penikmat sejarah merasakan pusaka Kolonial yang terpendam.

Gambar 2.4 Jaringan jalan Kecamatan Medan Timur Sumber : RUTRK kota Medan, 2016

Lokasi 2

a. Nama proyek : Re-desain Stasiun Pulo Brayan

b. Lokasi : Jalan Cemara , Kelurahan Pulo Brayan Barat

2,Kecamatan Medan Timur, Kota Medan, Provinsi Sumatera Utara.

c. Batas-batas Site

Utara : Jl. Cemara dan Fly Over Selatan : Permukiman dan Komersil Timur : Permukiman dan Komersil Barat : Permukiman dan Komersil

d. Kondisi Existing

Gambar 2.5 kondisi eksisting Kecamatan Pulo Brayan Sumber : data pribadi dan google earth, 2016

e. Luas Lahan

Luas lahan yang menjadi studi kasus sebesar 15.000 m² atau ± 1,5 Ha.

f. Kontur

Kontur pada lahan perancangan relatif datar.

g. KLB/KDB

KDB = 60%

h. Luas dan Ketinggian Bangunan

Luas bangunan = 36.000 m² dan ketinggian bangunan = 4 lantai

i. Pemilik Bangunan

Pemilik dan pengelola bangunan adalah pihak PT KAI

j. Bangunan Eksisting

Bangunan Eksisting yang terdapat pada site adalah tower kereta api, permukiman penduduk, bangunan komersil.

k. Keistimewaan Site

Terdapat tower kereta api lama yang sampai sekarang masi bisa dipergunakan dan lebih dekat dengan jalan Cemara dan fly over.

Tabel 2.2 Analisa Penetapan Lokasi

Sumber : data pribadi, 2016

Berdasarkan tabel diatas dapat disimpulkan bahwa lokasi yang tepat untuk perancangan Re-Desain Stasiun Pulo Brayan adalah lokasi I yang terletak di Jalan Yosudarso.

No. KRITERIA SITE

Lokasi I JL.Yos Sudarso

Lokasi II JL.Cemara 1 Posisi terhadap struktur ruang kota 3 3

2 Tingkat jalan 3 2 3 Aksesbilitas  Kendaraan pribadi  Kendaraan umum  Pejalan kaki 3 3 1 2 3 1 4 Luas lahan ± 1,5 Ha 3 3

5 Lahan kosong (mudah pembebasan lahan)

3 1

6 Fungsi eksisting 2 1

7 Status kepemilikan 3 2

8 Kontur 3 3

9 Fasilitas sosial dan fasilitas umum 3 2

10 Keistimewaan site 3 1

11 Kesesuaian dengan RUTRK Medan

 KDB  KLB  GSB  Ketinggian bangunan 3 3 3 3 3 3 3 3 Jumlah 46 36 3 = Baik 2 = Cukup 1 = Kurang

2.3. Tinjauan Umum Proyek 2.3.1. Perkembangan Kota

Perkembangan Kota Medan memilki magnet yang kuat untuk dikembangkan menjadi kawasan Metropolitan Mebidang-ro karena integrasi satu kawasan dengan kawasan lainnya sangatlah erat, selain itu Kota Medan memiliki lokasi yang sangat strategis dari hubungan transportasinya dengan kereta api yang menghubungkan Bandara Kualanamu-Kota Medan-Pelabuhan Belawan.

Kebijakan Tata Ruang Nasional menempatkan Metropolitan Mebidangro sebagai Pusat Kegiatan Nasoinal (PKN) sekaligus sebagai Kawasan Strategis Nasional (KSN) dengan fokus pengembangan kegiatan ekonomi. Metropolitan Mebidangro yang berada di Wilayah Sumatera Bagian Utara memiliki kedudukan strategis terhadap pengembangan Segitiga Ekonomi Regional Indonesia-Malaysia-Thailand (IMT-GT).

Poin penting ini menjadi landasan utama bagi pengembangan Metropolitan Mebidangro untuk menjadi pusat pelayanan kegiatan ekonomi regional tersebut. Selain itu, kawasan Metropolitan Mebidangro diharapkan mampu memberikan pelayanan yang prima untuk penduduk Metropolitan Mebidangro.

Dalam Peraturan Presiden Nomor 62 Tahun 2011 tentang Perencanaan Tata Ruang Kawasan Perkotaan Medan, Binjai, Deli Serdang dan Karo, menyatakan bahwa penataan ruang Kawasan Perkotaan Mebidangro bertujuan untuk mewujudkan :

1. Kawasan Perkotaan Mebidangro yang aman, nyaman, produktif, berdaya saing secara internasional dan berkelanjutan sebagai pusat kegiatan nasional di bagian utara Pulau Sumatera.

2. Lingkungan perkotaan yang berkualitas dan keseimbangan DAS (daerah aliran sungai).

3. Pemanfaatan sumber daya alam secara berkelanjutan, dan

4. Pertahanan dan keamanan negara yang dinamis serta integrasi nasional di Kawasan Perkotaan Mebidangro.

Khusus pada kawasan Medan Timur dikhususkan untuk menjadi pusat beberapa kegiatan, diantaranya :

 Pusat kegiatan perdagangan/bisnis,

 Pusat pelayanan transportasi (TOD),

Pada bagian Utara Kecamatan Medan Timur terdapat satu potensi yang menjadi salah satu pengembangan Metropolitan Mebidangro, yaitu Stasiun KA Pulo Brayan kota Medan dan lingkungan sekitar Stasiun KA yang memiliki nilai heritage, dengan elemen-elemen ruang yang dikembangkan adalah :

 Pusat komersial pelayanan Medan Timur sekaligus Medan bagian utara Jasa perhotelan, perkantoran.

 Pusat pelayanan transportasi (Stasiun KA Pulo Brayan).

 Ruang Terbuka Hijau Taman Kota.

2.3.2 Kebijakan Pembangunan

Tujuan penataan ruang wilayah Kota Medan mencerminkan keterpaduan pembangunan antar sektor, antar kecamatan, dan antar pemangku kepentingan. Tujuan penataan ruang Kota Medan pada masa yang akan datang tidak akan terlepas dari peran, fungsi, dan kedudukannya dalam lingkup wilayah yang lebih luas. Untuk mendukung pengembangan peran dan fungsi Kota Medan sebagai Pusat Kegiatan Nasional, serta tanggap dengan dinamika perkembangan dan permasalahan Kota Medan saat ini, maka kebijakan dan strategi pengembangan Kota Medan yang akan dituju, adalah:

“Terciptanya wilayah Kota Medan yang aman, nyaman, produktif dan

berkelanjutan serta mempunyai daya saing dan daya tarik sebagai daerah tujuan

investasi”

Untuk mewujudkan tujuan pembangunan tersebut, maka melalui RTRW Kota Medan Tahun 2008-2028 :

1. Terwujudnya pemanfaatan ruang Kota Medan yang sesuai dengan fungsi Kota Medan sebagai Pusat Kegiatan Nasional (PKN) dan Kota Metropolitan serta tanggap terhadap dinamika perkembangan kota yang pesat;

2. Merangsang dan mendorong pengembangan sektor-sektor kegiatan ekonomi di kawasan utara dan pusat kota yang diperkirakan mempunyai skala pelayanan lokal, regional dan Internasional, sehingga diharapkan terbina hubungan saling ketergantungan yang saling menguntungkan antar kawasan utara Medan dengan kawasan pusat Kota maupun daerah belakangnya;

3. Penataan Ruang Kota Medan harus berwawasan lingkungan dengan mengikuti kaidah-kaidah dan norma-norma perencanaan yang tepat dengan memberikan

kesempatan kepada masyarakat untuk berpartisipasi dalam proses perencanaan dan implementasinya;

4. Tersedianya Ruang Terbuka Hijau (RTH) Kota yang memadai;

5. Melindungi kawasan sosial-budaya (bersejarah) yang merefleksikan elemen- elemen dari unit historis, sejarah pembangunan kota, arsitektur, aerkeologi, teknologi dan budaya melalui pelestarian kawasan sosial-budaya dan bangunan bersejarah;

Gambar 2.6 Gambar Rencana Pola Ruang Kecamatan Medan Timur Sumber : RUTRK kota Medan, 2016

2.3.3 Deskripsi Proyek

Re-Desain Stasiun Pulo Brayan adalah bangunan transportasi darat yang memberikan fasilitas yang diperlukan bagi masyarakat serta wisatawan yang ingin

berkunjung ke kawasan “Green Deli Oasis” Pulo Brayan, Medan. Stasiun memberikan beberapa keuntungan terhadap wisatawan maupun masyarakat sekitar karena menggunakan kereta api efisiensi waktu serta biaya adalah mimpi yang terwujud di jaman globalisasi seperti saat ini.

Stasiun KA Pulo Brayan yang sudah memiliki perencanaan proyek MRT (Mass Rapid Transit) untuk kedepannya lebih menjamin kemudahan masyarakan untuk “walkable” lebih baik menggunkan fasilitas umum dari pada kendaraan pribadi. Bisa dilihat dari keefisienan waktu serta biaya, mulai dari parkir, membayar pajak, membeli bahan bakar, dan menservis kendaran pribadi yang digunakan.

Peruntukkan lahan pada kawasan perancangan adalah bangunan fungsi campuran, transportasi, perumahatan, komersil dan ruang

Selain para wisatawan bisa dilihat dari seringnya intensitas petinggi negara luar yang berkunjung ke Indonesia ataupun kegiatan konferensi yang beberapa kali diadakan di Indonesia, hal ini menandakan Indonesia menjadi salah satu negara yang memiliki potensi berkembangnya sarana transportasi yang memudahkan wisatawan.

Kegiatan Stasiun dapat memberikan manfaat langsung pada ekonomi masyarakat seperti akomodasi, hingga transportasi lokal sehingga diharapkan dapat memberikan dampak positif bagi kawasan perancangan seperti lapangan kerja, pertumubuhan ekonomi yang baik, dan Kota Medan lebih menjerat mata dunia.

2.3.4 Prinsip Perencenaan dan Perancangan Proyek

Berikut ini merupakan prinsip perencanaan sebuah bangunan dengan fungsi Stasiun Kereta Api untuk penumpang:

 Menciptakan bangunan stasiun penumpang dengan fungsi mengefisienkan waktu dan biaya.

 Perancangan stasiun memiliki standar yang harus dipenuhi, yaitu sebagai pedoman teknis bagi penyelenggara prasarana perkeretaapian dalam membangun stasiun kereta api untuk menjamin keselamatan, keamanan dan kelancaran perjalanan kereta api, naik turun penumpang dan bongkar muat barang.

 Menghidupkan kawasan Pulo Brayan, Medan dengan merancang stasiun yang memiliki konsep menggemukan Kota medan sebagi pusat yang terkoodinir dengan kawsan Pulo Brayan, Pelabuhan Belawan, dan Bandara Kualanamu.

 Merencanakan akses menuju lokasi perancangan yang aman, tenang, serta nyaman bagi kendaraan umum dan pejalan kaki.

2.3.5 Klasifikasi Stasiun Kereta Api

PERATURAN MENTERI PERHUBUNGAN NOMOR: PM. 33 TAHUN 2011 Pasal 14

(1) Stasiun penumpang dikelompokkan dalam: a. kelas besar; b. kelas sedang; dan c. kelas kecil.

(2) Pengelompokan kelas stasiun kereta api sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dilakukan berdasarkan kriteria: a. fasilitas operasi; b. jumlah jalur; c. fasilitas penunjang; d. frekuensi /alu lintas; e. jumlah penumpang; dan f. jumlah barang.

(3) Kelas stasiun sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dihitung berdasarkan perkalian bobot setiap kriteria dan nilai komponen. Sobot yang diberikan untuk ma.

Pasal 15

Bobot yang diberikan untuk masing-masing kriteria sebagaimana dimakusud da/am Pasal 14 ditentukan 100 angka kredit dengan pembagian sebagai beikut :

a. fasilitas operasi maksimum 25 angka kredit; b. jumlah jalur maksimum 20 angka kredit; c. fasilitas penunjang maksimum 15 angka kredit; d. frekuensi lalu lintas maksimum 15 angka kredit; e. jumlah penumpang maksimum 20 angka kredit; dan f. jumlah barang maksimum 5 angka kredit.

Pasal 16

(1) Komponen fasilitas operasi sebagaimana dimaksud dalam Pasal 14 ayat (2) huruf a terdiri atas : a. Peralatan Persinyalan; b. Peralatan Telekomunikasi; dan c. Instalasi Listrik.

(2) Komponen jalur sebagaimana dimaksud dalam Pasal 14 ayat (2) huruf b terdiri atas : a. Lebih dari 10 jalur; b. 6 sampai dengan 10 jalur; dan c. Kurang dari 6 jalur.

(3) Komponen fasilitas penunjang sebagaimana dimaksud dalam Pasal 14 ayat (2) huruf c terdiri atas : a. Penunjang; dan b. Penunjang khusus.

(4) Komponen frekuensi lalu lintas sebagaimana dimaksud dalam Pasal 14 ayat (2) huruf d merupakan frekuensi pergerakan kereta api per hari yang terdiri atas : a. Kereta api berhenti; dan b. Kereta api langsung.

(5) Komponen jumlah penumpang sebagaimana dimaksud dalam Pasal 14 ayat (2) huruf e merupakan jumlah pergerakan penumpang kereta api per hari yang terdiri atas : a. Lebih dari 50.000; b. 10.000 sampai dengan 50.000; dan c. Kurang dari 10.000.

(6) Komponen jumlah barang sebagaimana dimaksud dalam Pasal 14 ayat (2) huruf f merupakan jumlah pergerakan barang dan bagasi kereta api per hari yang terdiri atas : a. Lebih dari 150 ton; b. 100 sampai 150 ton; dan c. Kurang dari 100 ton.

Pasal 17

Rincian angka kredit untuk masing-masing komponen kriteria sebagaimana dimaksud dalam Pasal 18 termuat dalam lampiran peraturan ini.

Pasal 18

(1) Penetapan klasifikasi stasiun kereta api didasarkan pada jumlah angka kredit yang diperoleh stasiun yang bersangkutan.

(2) Jumlah angka kredit untuk menetapkan klasifikasi stasiun sebagaimana dimaksud pada ayat (1) sebagai berikut : a. kelas besar, jumlah angka kredit lebih dari 70; b. kelas sedang jumlah angka kredit lebih dari 50 sId 70; dan c. kelas kecil jumlah angka kredit kurang dari 50.

Pasal 19

Klasifikasi stasiun kereta api ditetapkan dengan Peraturan Menteri tersendiri berdasarkan penilaian dan setiap 3 (tiga) tahun dilakukan dievaluasi.

2.4 Tinjauan Fungsi

Fungsi Re-Desain Stasiun Kereta Api adalah sebuah bangunan sarana transportasi di kawasan pusaka Pulo Brayan.

2.4.1 Deskripsi Penggunaan dan Kegiatan Deskripsi Pengguna

Pengguna pada stasiun terintegrasi ini terdiri dari penumpang (komuter), pengantar dan penjemput, pengelola, petugas servis, petugas moda, dan petugas pada komersial.

1. Penumpang (Komuter) 2. Pengantar dan Penjemput

 Pengantar

 Penjemput 3. Pengelola

a. Pengelola Stasiun

 Kepala Stasiun, Administrasi, Kepala Operasional, Bidang Perlengkapan, Bidang Ticketing.

 Bidang Komunikasi, Bidang Keamanan, Bidang Komersil, Bidang Kebersihan, Bidang Perpakiran (Park and ride).

4. Petugas Servis

 Petugas informasi, Petugas keamanan.

Cleaning service, Teknisi.

 Penjaga parkir, Petugas Medis, Petugas Moda.

Petugas Komersil, Petugas mini market.

Petugas retail, Petugas foodcourt.

Tabel 2.3 Konsep jumlah pengguna.

No. Pengguna Jumlah Orang 1 Komuter

Kereta Api 1.250

2 Pengelola Stasiun

Kepala Stasin 1

Kepala Pengelola Stasiun 2

Administrasi 2 Kepala Operasional 1 Bidang Perlengkapan 4 Bidang Ticketing 1 Bidang Komunikasi 1 Bidang Keamanan 1 Bidang Komersil 1 Bidang Kebersihan 1 Bidang Perpakiran 1 3 Petugas Komersil

Petugas Mini market 12

Petugas Retail 76 4 Petugas Servis Petugas Informasi 2 Petugas Keamanan 32 Cleaning Service 15 Teknisi 4 Penjaga Parkir 4 Petugas Medis 3

2.4.2 Deskripsi Perilaku

Berdasarkan sifat aktifitas yang dilakukan, perilaku dari pengguna Pusat Konvensi dan Pameran Internasional Deli Serdang, yaitu :

Bersifat stastis

Perilaku pengguna bangunan lebih bersifat menetap pada satu tempat. Kebiasaan ini merupakan kegiatan yang bersifat rutinitas maupun sementara dengan intensitas waktu yang lama sebagai contoh pengelola.

Bersifat dinamis

Pengguna bangunan cenderung bergerak dan berpindah-pindah dari satu tempat- ketenpat yang lain seperti pengunjung pameran

Berikut adalah bagan pola kegiatan yang dilakukan oleh masing-masing pengguna. a. Komuter

Diagram 2.1 Pola kegiatan komuter. Sumber : Analisis pribadi, 2016 b. Pengantar/Penjemput

Diagram 2.2 Pola kegiatan pengantar/penjemput.

Datang  Membeli Karcis  Melihat penanda  Berorientasi/bertanya Parkir Pulang Mengambil kendaraan Dijemput

 Menunggu moda kereta api

 Berangkat menuju lokasi

 Tiba di stasiun  Perpindahan moda  Memanfaatkan fasilitas stasiun Penjemput Datang

Masuk hall/lobbi Parkir

Mencari informasi

Mengantar calon penumpang

Menunggu penumpang tiba

c. Pengelola

Diagram 2.3 Pola kegiatan pengelola. Sumber : Analisis pribadi, 2016 d. Petugas Servis

Diagram 2.4 Pola kegiatan petugas servis. Sumber : Analisis pribadi, 2016

e. Petugas Moda

Diagram 2.5 Pola kegiatan petugas moda. Sumber : Analisis pribadi, 2016

Memanfaatkan fasilitas Datang Beristirahat

Kembali bekerja

Melaksanakan pekerjaan sesuai tugas masing- masing pengelola Memasuki ruang kerja Datang Parkir Memanfaatkan fasilitas Mengambil kendaraan Beristirahat Pulang Mengambil kendaraan Memanfaatkan fasilitas Melaksanakan pekerjaan pada area servis

Memasuki ruang kerja Datang

Pulang Beristirahat Parkir

f. Petugas Area Komersial

Diagram 2.6 Pola kegiatan petugas area komersial. Sumber : Analisis pribadi, 2016

2.4.3 Deskripsi Persyaratan dan Kriteria Ruang Pasal 1

Stasiun Kereta Api merupakan prasarana kereta api sebagai tempat pemberangkatan dan pemberhentian kereta api.

Pasal 2

(1) Stasiun kereta api sebagaimana dimaksud dalam Pasal 1menurut jenisnya terdiri atas:

a. stasiun penumpang; b. stasiun barang; dan/atau c. stasiun operasi.

(2) Stasiun penumpang sebagaimana dimaksud pada ayat (1) huruf a, merupakan stasiun kereta api untuk keperluan naik turun penumpang.

(3) Stasiun barang sebagaimana dimaksud pada ayat (1) huruf b, merupakan stasiun kereta api untuk keperluan bongkar muat barang.

(4) Stasiun operasi sebagaimana dimaksud pada ayat (1) huruf c,

merupakan stasiun kereta api untuk menunjang pengoperasian kereta api.

Pasal 3

(1) Stasiun kereta api sebagaimana dimaksud dalam Pasal 2, terdiri atas: a. emplasemen stasiun; dan

b. bangunan stasiun. Mengambil kendaraan

Memanfaatkan fasilitas Melayani pembeli pada area komersil Memasuki

area komersil Datang

Pulang Beristirahat Parkir

(2) Emplasemen stasiun sebagaimana dimaksud pada ayat (1), huruf a terdiri atas : a. jalan rei;

b. fasilitas pengoperasian kereta api; dan c. drainase.

(3) Bangunan stasiun sebagaimana dimaksud pada ayat (1), huruf b terdiri atas:

a. gedung;

b. instalasi pendukung; dan c. peron.

Pasal 4

(1) Gedung pada bangunan stasiun sebagaimana dimaksud dalam Pasal 3 ayat (3) huruf a menurut kegiatannya terdiri atas:

a. gedung untuk kegiatan pokok;

Dalam dokumen Re-Desain Stasiun Pulo Brayan (Halaman 46-116)