• Tidak ada hasil yang ditemukan

Elemen-elemen Desain

Dalam dokumen 2. IDENTIFIKASI DAN ANALISIS DATA (Halaman 23-37)

2.2.3 Tinjauan Desain .1 Prinsip Dasar Desain

2.2.3.2 Elemen-elemen Desain

Elemen-elemen/ unsur-unsur dalam suatu desain adalah sebagai berikut : a. Garis (Line)

Garis atau Line merupakan salah satu unsur desain yang menghubungkan satu titik dengan titik lainnya. Bentuk dari garis dapat berupa garis lurus (straight) maupun garis lengkung (curve). Garis merupakan unsur dasar untuk membuat atau

membangun sebuah bentuk. Tidak hanya bentuk garis lurus atau lengkung saja, garis masih mempunyai banyak bentuk seperti garis putus- putus, garis zig-zag, meliuk-liuk, maupun garis tak beraturan. Setiap garis mempunyai pencitraan yang berbeda-beda (Anggraini,2014, p. 32). Garis juga merupakan elemen satu dimensi dimana hal itu berarti garis tidak memiliki kedalaman (depth), dan hanya memiliki ketebalan dan panjang (Casofa, 2013, p. 9).

b. Bentuk (Shape)

Bentuk atau Shape adalah segala sesuatu yang memiliki diameter, tinggi, dan lebar. Bentuk-bentuk dasar yang paling dikenal adalah bentuk kotak (rectangle), lingkaran (circle), segitiga (triangle), dan lonjong (ellips / oval). (Anggraini, 2014, p. 33).

c. Tekstur (Texture)

Tekstur atau Texture adalah tampilan permukaan atau corak dari suatu benda yang dapat dinilai dengan cara dilihat atau diraba. Tekstur sering dikategorikan sebagai tekstur dari permukaan suatu benda. (Anggraini, 2014, p. 34).

Penggunaan tekstur pada suatu desain agar suatu karya desain dapat memberikan visual yang lebih berkarakter. Tekstur sering digunakan pula untuk mengatur keseimbangan dan kontras dalam sebuah desain komunikasi visual ( Casofa, 2013, p. 17).

d. Gelap Terang (Kontras/ Contrast)

Gelap Terang atau Kontras merupakan warna yang berlawanan antara satu dengan lainnya. Pada kontras terdapat perbedaan tidak hanya pada warna tetapi juga pada titik fokus. Apabila tidak ada warna, kontras pun dapat berupa perbedaan dalam gelap dan terang. Kontras atau gelap terang ini dapat digunakan dalam desain sebagai salah satu cara untuk menonjolkan pesan atau informasi yang dapat juga menambah kesan dramatis. Dengan mengatur komposisi gelap terang suatu desain, akan membantu nilai keterbacaan, fokus dan titik berat suatu desain (Anggraini, 2014, p. 35).

e. Ukuran (Size)

Ukuran atau size dapat diartikan sebagai perbedaan besar atau kecil nya sebuah objek. Pemilihan ukuran bertujuan agar sebuah desain yang dibuat dapat terbaca dengan baik sehingga pesan atau informasi yang ingin disampaikan dapat

tersampaikan dengan baik dan penikmat desain akan lebih mudah mengerti maksud dan tujuan yang ingin disampaikan (Anggraini, 2014, p. 36).

f. Warna (Colour)

Warna atau colour merupakan Warna merupakan faktor yang berguna dalam suatu komposisi sebuah layout yang membuat suatu visual menjadi menarik perhatian dan menekankan suatu elemen visual dalam desain.

Warna dapat berkomunikasi langsung. Walaupun teks dalam suatu desain dapat terbaca, warna secara tidak langsung telah menyampaikan pesan dari teks itu sendiri. Warna yang digunakan secara tepat dapat memberi pengaruh besar bagi audience yang melihat sebuah desain. (Kaye, 1998, p. 4 ).Warna terbagi dalam empat kelompok besar yaitu:

• Warna Primer

Warna Primer merupakan warna dasar yang buka merupakan campuran dari warna-warna lain. Warna-warna yang tergolong dalam golongan warna primer adalah warna Merah, Biru, dan Kuning.

Gambar 2.12 Warna Primer

Sumber: http://www.sebutkan.com/2016/05/sebutkan-warna-primer.html

• Warna Sekunder

Warna Sekunder merupakan warna dari hasil pencampuran warna-warna primer dengan proporsi 1:1. Contoh warna sekunder adalah warna ungu (percampuran warna merah dan biru), warna hijau (percampuran warna kuning dengan biru), dan warna jingga (percampuran merah dengan kuning) (Anggraini, 2014, p. 39).

Gambar 2.13 Warna Sekunder

Sumber: http://www.blogernas.com/2016/07/warna-primer-sekunder-tersier-netral.html

• Warna Tersier

Warna Tersier adalah warna yang merupakan pencampuran dari warna sekunder dan warna primer. Contoh warna tersier adalah warna coklat (pencampuran warna ungu dan kuning) (Anggraini, 2014, p. 39).

Gambar 2.14 Warna Tersier

Sumber: http://www.blogernas.com/2016/07/warna-primer-sekunder-tersier-netral.html

• Warna Netral

Warna Netral adalah warna yang merupakan hasil dari pencampuran ketiga warna dasar dalam proporsi 1:1:1. Warna netral sering muncul sebagai penyeimbang warna-warna kontras di alam. Dan biasa nya hasil campuran yang tepat akan menghasilkan warna hitam (Anggraini, 2014, p. 39).

Gambar 2.15 Warna Netral

Sumber: http://www.blogernas.com/2016/07/warna-primer-sekunder-tersier-netral.html

Menurut Dian Permatasari, M.Psi ditinjau dari psikologi anak, warna juga dapat mempengaruhi cara pikir anak secara langsung misalnya:

• Merah

Memberi kesan semangat sehingga dapat merangsang daya pikir dan meningkatkan energi. Tetapi warna merah juga bisa merangsang agresivitas sehingga dapat mengakibatkan anak kurang dapat berkonsentrasi.

Gambar 2.16 Warna Merah

Sumber: http://www.blogernas.com/2016/07/warna-primer-sekunder-tersier-netral.html

• Kuning

Mengesankan terang, memberi nuansa ceria sehingga dapat menimbulkan rasa senang, bahagia, sekaligus memotivasi anak. Warna kuning juga dapat meningkatkan konsentrasi, daya ingat dan kecerdasan. Tapi tidak dianjurkan untuk diaplikasikan secara berlebihan pada anak bayi karena bisa membuat mudah rewel dan marah.

Gambar 2.17 Warna Kuning

Sumber: http://www.blogernas.com/2016/07/warna-primer-sekunder-tersier-netral.html

• Jingga

Meningkatkan kemampuan komunikasi serta membuat anak mudah beradaptasi dan bergaul.

Gambar 2.18 Warna Jingga

Sumber: http://www.blogernas.com/2016/07/warna-primer-sekunder-tersier-netral.html

• Merah muda

Dapat meningkatkan rasa empati dan bersifat feminin. Namun bila digunakan secara berlebihan, akan membuat bayi mudah cemas.

Gambar 2.19 Warna Merah Muda

Sumber: http://www.blogernas.com/2016/07/warna-primer-sekunder-tersier-netral.html

• Biru

Memiliki efek menenangkan, meningkatkan rasa percaya diri serta dapat menurunkan kecemasan dan sifat agresif.

Gambar 2.20 Warna Biru

Sumber: http://www.blogernas.com/2016/07/warna-primer-sekunder-tersier-netral.html

• Hijau

Memberi rasa sejuk, segar, dan nyaman. Dapat membantu meningkatan kekebalan tubuh (sistem imun) dan kemampuan baca anak.

Gambar 2.21 Warna Hijau

Sumber: http://www.blogernas.com/2016/07/warna-primer-sekunder-tersier-netral.html

g. Tipografi (Typography)

Dalam menggunakan jenis huruf sebaiknya menggunakan huruf sebanyak dua jenis family font, atau maksimal tiga jenis font. Terlalu banyak font akan mengganggu pembaca dan membingungkan pembaca. (Samara, 2007, p. 14).

Samara (2007) menambahkan bahwa perubahan dramatis pada ukuran huruf, bloking warna, ataupun pemenggalan kata akan membuat layout menjadi lebih menarik dan mudah untuk dibaca. (p. 15).

Tipografi atau typography merupakan sebutan untuk huruf. Tipografi berasal dari bahasa Yunani yaitu, tupos yang berarti “yang diguratkan” dan graphoo yang berarti “tulisan”. Pada awalnya, tipografi hanya dimaknakan sebagai ilmu cetak-mencetak, namun seiring berjalan nya waktu tipografi sekarang diartikan sebagai cara untuk memahami karakteristik suatu huruf, sehingga dapat dikelola sesuai dengan tujuan tertentu. Setiap jenis huruf memiliki karakter yang berbeda-beda, sehingga pengelolaan dan penanganannya pun berbeda pula. Penempatan huruf, bentuk huruf serta besar kecilnya huruf dan jarak huruf pun harus diperhatikan dengan baik sehingga akan menimbulkan kesan nyaman dipandang dan dapat dimengerti dengan mudah oleh penikmat desain. (Casofa, 2013, p. 23).

Tipografi dalam pengertian yang lebih bersifat ilmiah adalah seni dan teknik dalam merancang maupun menata aksara dalam kaitannya untuk menyusun

publikasi visual, baik cetak maupun non cetak. (Kusrianto, 2007, p. 1). Dalam penggunaannya, tipografi dibagi menjadi dua, yaitu:

• Huruf Teks (Text Type)

Huruf teks adalah huruf yang tersaji untuk naskah. Karena itu, untuk huruf teks sebaiknya menggunakan huruf yang unsur keterbacaannya mudah dan nyaman (Casofa, 2013, p. 24).

• Huruf Judul (Display Text)

Penggunaan huruf judul itu lebih fleksibel. Penggunaan huruf judul bergantung pada tema desain (Casofa, 2013, p. 24).

h. Ruang

Pada dasarnya ruang terjadi karena adanya persepsi pada indera penglihatan mengenai kedalaman sehingga terasa jauh dan dekat, tinggi dan rendah. Ruang lebih mengarah pada perwujudan tiga dimensi sehingga ruang dapat dibagi dua, yaitu ruang nyata dan semu ( Kusrianto, 2007, p. 31).

i. Ilustrasi

Ilustrasi secara harfiah berarti gambar yang dipergunakan untuk menerangkan atau mengisi sesuatu (Kusrianto 2007, p. 110). Ilustrasi sendiri adalah hasil visualisasi dari suatu tulisan dengan teknik sketsa, lukisan, fotografi, atau teknik seni rupa lainnya yang lebih menekankan hubungan subjek dengan tulisan yang dimaksud daripada bentuk.

Menurut Martin Salisbury (2004) ilustasi yang menarik untuk anak-anak harus dapat memvisualisasikan adegan-adegan cerita dengan memberikan tambahan imajinasi dan kejutan. Selain itu, menurut Martin, buku yang disukai anak-anak adalah buku yang menyajikan gambar-gambar yang berukuran besar dan penggunaan tokoh manusia ataupun binatang. Kemudian Martin menambahkan bahwa ilustrasi yang efektif untuk anak yaitu ilustrasi yang menarik dan dapat membuat anak-anak berinteraksi kepada buku tersebut serta ilustrasi yang disajikan harus dapat memberi informasi dan bersifat mendidik untuk anak-anak.

2.2.3.3 Layout

Mendesain sebuah buku diperlukan pengertian tentang layout serta alur baca yang baik bagi pembacanya. Pengertian layout adalah pengaturan elemen-elemen pada buku, dimana desainer membuat keputusan dalam mengatur tata letak

elemen-elemen secara menyeluruh. Dua pilar terpenting dalam layout adalah teks, yang diatur pada aliran baca, dan gambar, yang pengaturannya ditentukan dengan pertimbangan komposisi yang didapatkan dari cara menciptakan gambar.

Keseimbangan antara dua prinsip inilah yang membantu pembuatan layout.

Haslam (2006, p. 144-145) menjelaskan tentang beberapa pendekatan layout: text-driven books. Dalam membuat sebuah layout paling mudah memulainya dengan halaman yang memiliki elemen yang sedikit seperti satu kolom teks secara bertahap menambah kekompleksan isi halaman.

1. Layout using running text.

Sebuah novel didesain untuk dibaca, dan komposisi gambarnya sangat diminimalisir. Alur membaca teks pada jenis ini adalah dari satu kolom lalu dilanjutkan pada kolom selanjutnya, mulai dari bagian atas kiri ke bawah kanan.

Pattern membaca model halaman ini halus dan konsisten: paragrafnya berisi pemikiran yang jelas terlihat sekilas dalam halaman.

Gambar 2.22 Layout Using Running Text Sumber: Haslam, A., (2006, p. 144)

2. Text-based works of reference

Buku yang termasuk dalam kategori ini adalah buku kamus, dan buku daftar biasanya sudah memiliki struktur yang ditentukan oleh penulisnnya, editor, ataupun penyusun. Tugas desainer hanya memastikan bahwa desain buku sudah mendukul struktur teks serta mempermudah penggunaan pembaca.

Layout dalam buku referensi disusun dalam dua kolom. Pada garis magenta menunjukkan bagaimana pembaca menggunakan buku referensi alfabetis. Pembaca akan membalik buku secara cepat untuk mencari huruf yang dipikirkan, pembaca

akan mencari lokasi halaman, memindai heading dari atas kiri halaman sebelah kanan, mencari kata yang dicari, dan membaca hingga bagian akhir.

Garis biru menunjukkan kemungkinan cara pembaca menggunakan buku referensi yang tidak diurutkan secara alfabetis. Pembaca membaca daftar isi terlebih dahulu sebelum mencari konten yang diinginkan.

Gambar 2.23 Text-based Works of Reference Sumber: Haslam, A., (2006, p. 144)

3. Text supported by images

Secara luas, buku teks yang menggabukan gambar, seperti buku biografi atau sejarah, di desain dengan alur membaca. Pembaca perlu menggabungkan gambar dengan isi teks sebagai kunci keberhasilan pembaca dalam menangkap isi buku.

Gambar bisa diletakkan dalam kolom teks setelah teks. Jika gambar diletakkan sebelum teks, pembaca tidak diberikan kesimpulan dari isi konteks teks.

Variasi layout yang bisa digunakan: menggantung atau meletakkan gambar pada bagian atas atau kaki halaman; menggunakan samping margin untuk meletakkan gambar di sebelah teks: atau meletakkan gambar dalam satu halaman tersendiri atau spread.

Gambar 2.24 Text Supported by Images Sumber: Haslam, A., (2006, p. 144)

4. Multiple narratives: side story

Pada buku non-fiksi yang menambahkan side story, biasanya di desain dengan alur membaca. Stuktur grid mungkin menambahkan beberapa kolom baru yang memiliki lebar yang berbeda dengan teks utama. Hal ini digunakan saat isi dari side story tersebut berhubungan denga teks utama, dan teks-teks tersebut berperan sebagai informasi yang berperan aktif.

Dalam kolom bisa didukung dengan penggunaan ilustrasi dan keterangan yang berhubungan dengan teks ataupun dibaca secara terpisah. Penting bagi pembaca untuk menghubungkan gambar yang sesuai dalam buku narasi. Gambar tidak boleh menimbulkan kebingungan yang terjadi akibat peletakkan yang salah. Jika cara ini digunakan secara terus menerus, pembaca akan terbiasa dengan halaman side story, dan tidak akan membuat konsentrasi pembaca terpecah.

Penggambaran elemen bisa didorong dengan perubahan tipografi. Misalnya fontm ukuran, leading, ketebalan huruf. Box biasanya digunakan, tapi terkadang menimbulkan kesan berantakan.

Gambar 2.25 Multiple Narratives: Side Story Sumber: Haslam, A., (2006, p. 145)

5. Using images in columns or rows

Dalam buku non-fiksi, penjelasan informasinya sering diikuti dengan ilustra dan keterangan step-by-step. Tergantung dari kontennya, beberapa pembaca akan menyimpulkan apa yang sedang dijelaskan dari ilustrasi. Sedangkan lainnya akan lebih berkonsentrasi pada teks. Desainer perlu memilih bagaimana elemen tersebut bisa bekerja sama. Jika alur baca adalah hal yang terpenting, dan tempat yang tersedia terbatas. Gambar dan teks bisa diurutkan ke bawah dan dilanjutkan pada kolom selanjutnya(garis merah).

Alternatif lain, menggunakan gambar dan teks yang disejajarkan satu baris dari kiri ke kanan, dengan penambahan nomor. Sehingga pembaca membaca isi buku dari atas kiri ke kanan lalu dilanjutkan ke baris selanjutnya. Layout untuk jenis halaman ini berbasi baris, yang memungkinkan pembaca membandingkan diagram-diagramnya.

Gambar 2.26 Using Images in Columns or Rows Sumber: Haslam, A., (2006, p. 145)

6. Multilingual publishing

Terdapat beberapa pendekatan untuk multilingual publishing yang berpengaruh pada layout halaman. Dalam beberapa kasus format, halaman sampul, dan layout untuk edisi luar negri akan sangat berbeda dengan edisi aslinya. Pendekatan lainnya adalah dengan menggunakan kedua bahasa dalam halaman yang sama. Desainer menggunakan grid untuk mengisi satu atau lebih bahasa dengan posisi yang konstan pada kolom yang sama di body text. Buku dengan tipe ini memungkinkan adanya gambar yang bisa ditempatkan berhubungan dengan kedua bahasa. Pada buku jenis ini, sangat jarang ditemukan adanya teks keterangan. Hal ini terkait dengan sempitnya kolom yang akan menjadikan halaman lebih berantakan dengan adanya penambahan teks keterangan.

Pendekatan ketiga adalah buku yang secara luas digunakan pada buku non-fiksi bergambar. Desain halaman menampilkan foto-foto dalam posisi yang sama di semua edisi bahasa. Layout tipe ini harus di desain untuk mendukung teks dalam bahasa lain yang menempati ruang.

Gambar 2.27 Multilingual Publishing Sumber: Haslam, A., (2006, p. 145)

Untuk membuat sebuah desain buku yang baik diperlukan pemahaman tentang visual dalam desain. Hal ini akan membantu tampilan visual buku harian interaktif. Beberapa hal yang penting dalam sebuah buku interaktif adalah teks dan ilustrasi. Warna-warna yang dapat diaplikasikan dalam buku harian interaktif akan menggunakan warna-warna terang seperti merah atau kuning terutama pada elemen gambar yang penting. Hal ini akan membantu anak mengingat materi lebih cepat dan menstimulus otak anak agar lebih cepat menemukan ide untuk menuliskan ceritanya. Pada penggunaan text type penggunaan jenis font akan dipilih font yang mudah dibaca dan tidak mudah membuat mata anak lelah. Visualisasi yang tepat akan mampu memberikan impact sehingga nantinya pembaca khususnya anak-anak usia 8-10 tahun, akan mampu mengingat apa yang sudah mereka baca dan tulis.

Dalam dokumen 2. IDENTIFIKASI DAN ANALISIS DATA (Halaman 23-37)

Dokumen terkait