• Tidak ada hasil yang ditemukan

Tinjauan Fakta Lapangan

Dalam dokumen 2. IDENTIFIKASI DAN ANALISIS DATA (Halaman 37-42)

Wawanacara dilakukan pada beberapa subyek, yaitu guru Bahasa Indonesia Sekolah Dasar, kelas menulis kreatif, serta terhadap anak-anak kelas 3-4 Sekolah Dasar. Hasil wawancara yang didapat akan dijadikan pembanding dan masukan bagi perancangan buku harian interaktif ini. Responden dari wawancara ini diambil dari guru sekolah kreatif menulis, guru Bahasa Indonesia dan dari anak-anak sesuai dengan target perancangan yaitu kelas 2-4. Kepada responden diajukan beberapa pertanyaan, dari hasil wawancara dapat diperoleh hasil yang bisa dijadikan perbandingan dan masukan bagi kepentingan pembuatan karya ini. Pertanyaan yang diajukan kepada guru sekolah kreatif menulis adalah :

• Cara latihan yang bagaimana yang baik untuk anak agar anak tidak merasa terbebani dengan latihan menulis tersebut?

• Media apa yang paling disukai anak-anak dalam memancing ide?

• Hal apa yang membuat anak jadi malas menulis?

• Kesalahan umum guru Bahasa Indonesia saat mengajar di sekolah?

Gambar 2.28 Suasana Kelas di IWEC

Berikut adalah hasil wawancara dari beberapa responden :

a. Maylia E. Sutarto, Pendiri IWEC (Indonesia Writing Edu Center)

Dalam pengajaran di kelas kreatif ini sendiri, pendekatannya lebih personal dan sebelum memulai kelas anak-anak selalu disapa dengan pertanyaan-pertanyaan seperti “bagaimana akhir pekanmu?”, “ada cerita menyenangkan tidak?” dan lain-lain. Jika ada suatu kondisi dimana anak nampak diam atau sedang memiliki masalah, atau kelas nampak kurang kondusif digunakanlah ice breaking. Beberapa contoh metode ice breaking yang digunakan adalah bercerita tentang pengalaman terlebih dahulu, menggunakan gambar berseri yang digunakan untuk menjawab pertanyaan, atau mendongeng, dan lain-lain. Dengan adanya cara ini akan membantu anak mendapatkan sebuah storyline untuk dituangkan dalam tulisan.

Menurut Maylia menulis itu harus detail seperti narasi dekskriptif. Pengajaran di sekolah formal anak terlalu terbiasa menulis hanya menggunakan mata, padahal kelima panca indra sangat berperan penting dalam menuliskan sebuah tulisan.

Menulis sendiri hubungannya sangat personal, setiap anak bisa memiliki ciri khas masing-masing dalam tulisannya.

Untuk media pembelajaran yang digunakan sangat beragam mulai dari observasi dengan jalan-jalan ke taman di sekitar kelas, melakukan outing, atau berkunjung ke kawasan masyarakat bawah dari situ anak bisa melihat sesuatu dari sudut pandang yang berbeda-beda pula. Media lainnya adalah film yang bisa menstimulus ide mereka. Penggunan media cetak anak usia 8-10 tahun tulisan yang ada dalam buku sudah lebih banyak dan bahasa yang digunakan tidak sesederhana serta lebih dekskriptif dibandingkan buku-buku cerita bergambar anak usia 8 tahun kebawah. Dalam memancing ide anak bisa menggunakan pertanyaan-pertanyaan yang sekiranya berkaitan dengan materi. Untuk pasar Indonesia sendiri, buku bacaan untuk anak usia 8-10 tahun yang sesuai dengan kebutuhan berbahasa anak masih sangat minim. Misalnya saja buku seri Kecil-Kecil Punya Karya, menurut Maylia karena penulisnya masih anak-anak dan kurang pengawasan dalam penulisannya, banyak sekali kegenjanggalan dalam isi ceritanya serta topik cerita yang diangkat masih monoton dan berkisar pada kisah persahabatan. Sehingga diperlukan buku bacaan yang sesuai dengan kebutuhan dan kemampuan berbahasa anak yang sesuai dengan anak umur 8-10.

Hal yang membuat anak malas menulis, salah satu faktor utamanya adalah karena anak tersebut kurang suka membaca. Sehingga dia tidak tahu apa yang harus ia tuliskan. Faktor yang mempengaruhi biasanya adalah lingkungan rumah, tidak ada role model dalam membaca, orang tua tidak membiasakan anak untuk membaca. Kesalahan yang biasanya dilakukan oleh orang tua adalah mereka hanya membelikan anak buku lalu membiarkan anak membaca dengan sendirinya. Anak menjadi enggan membaca karena melihat orang tua mereka sendiri jarang membaca. Untuk usia sekolah dasar sendiri kemampuan otak mereka sudah sangat baik dalam menyerap materi-materi bahasa, sehingga dalam buku sendiri harus disuguhkan materi berbahasa yang benar-benar baik. Kesalahan lainnya adalah kurangnya kesadaran orang tua bahwa membaca adalah sebuah kegiatan yang dapat dilakukan bersama-sama. Padahal dari aktivitas tersebut selanjutnya bisa dijadikan forum diskusi dan akhirnya makin membuka wawasan anak akan hal-hal yang mereka belum tahu sebelumnya.

Untuk kesalahan guru sekolah sendiri lebih terkait pada kurikulum. Misalnya saja merangkai kalimat menurut Maylia kesalahan terjadi pada kurikulum yang

lebih menekankan pada menghafal teori. Contohnya pada saat sekolah, anak hanya diberi pengetahuan secara luas tentang majas, peribahasa, dan lain-lain tanpa anak tahu bagaimana cara mengaplikasikan materi tersebut dalam sebuah tulisan atau kalimat cerita. Hal-hal tersebut yang belum didapatkan dari sekolah kecuali dengan membaca.

Pertanyaan yang diajukan kepada guru Bahasa Indonesia Sekolah Dasar:

• Adakah siswa yang memiliki kesulitan dalam menuliskan sebuah cerita?

Kesulitan apa yang biasanya dialami siswa dalam belajar Bahasa Indonesia?

• Mengapa anak tidak suka menulis?

• Metode yang digunakan saat mengajar yang baik di kelas?

• Bagaimana cara meningkatkan kemampuan menulis ekspresif anak?

Berikut adalah hasil wawancara dari guru Bahasa Indonesia Sekolah Dasar:

b. Sasiati Asmarayoedha, Guru Bahasa Indonesia SDK Santa Clara

Pasti ada siswa yang mengalami kesulitan dalam menulis, biasanya anak kurang mengerti, harus dituntun dulu saat diberikan tema lalu langkah-langkahnya dan baru di jelaskan dalam satu paragraf itu harus ada berapa kalimat. Untuk kelas 3 belum bisa membuat kalimat yang terlalu banyak, pola kalimat masih terbatas. Kelas 4 jenis keterangan sudah lebih dari 2 selain keterangan waktu dan tempat. Salah satu cara untuk meningkatkan menulis adalah memulainya dari lingkungan keluarga terlebih dahulu, tiada hari tanpa menulis seberapa banyak atau sedikit tetap harus dilakukan rutin. Keikutsertaan orang tua sangat perlu dalam membiasakan anak mengekspresikan emosi dan gagasan lewat tulisan. Dengan begitu kemampuan tulis anak akan meningkat dan akan membantu guru di sekolah. Sebagai guru Bahasa Indonesia sendiri metode yang digunakan untuk mengajarkan anak menulis adalah memahami dulu apakah anak ini hobi membaca atau tidak. Anak-anak yang gemar membaca memiliki perbendaharaan kata yang banyak sekali. Sehingga jika saat anak tersebut suka membaca hasil tulisannya akan menjadi sangat baik, kadang bisa menyamai orang dewasa. Orang tua yang bijak saat anaknya berulang tahun akan memberikan hadiah buku bacaan yang sesuai dengan tingkatan umur dan kesukaan anak tersebut. Jika membaca dan menulis dianggap beban bagi anak, dengan

memberikan buku sebagai hadiah ini akan setidaknya membantu anak menjadi lebih antusias.

Pertanyaan yang diajukan kepada siswa-siswa Sekolah Dasar:

• Bagaimanakah pelajaran Bahasa Indonesia di sekolah?

• Bagaimanakah cara guru mengajar di kelas saat pelajaran?

• Apakah suka menulis? Mengapa?

• Jenis buku bacaan apa yang paling disuka?

Berikut adalah hasil wawancara dari siswa-siswa Sekolah Dasar:

c. Dwi dan Cinta, kelas 4

Keduanya menganggap Bahasa Indonesia merupakan pelajaran yang susah.

Unsur cerita susah. Dalam proses pembelajaran Bahasa Indonesia guru hanya menjelaskan tugas tanpa media bantu. Biasanya guru hanya menentukan tema karangan, kemudian membiarkan anak menentukan sendiri judul cerita yang akan mereka buat. Hal ini membuat anak merasa sangat kesulitan untuk mengembangkan tulisan mereka. Dwi dan Cinta juga mengatakan bahwa hanya terbantu sedikit dari penjelasan guru untuk menuangkan pemikiran mereka ke dalam karangan cerita.

Cinta lebih menyukai bercerita secara lisan daripada menuliskan cerita tersebut karena lebih spontan, tidak perlu berlama-lama memikirkan kata. Untuk jenis buku bacaan, Dwi menyukai menyukai jenis-jenis buku cerita rakyat sedangkan Cinta mulai menyukai novel.

d. Putri dan Fida, kelas 3

Keduanya merasa bahwa pelajaran Bahasa Indonesia merupakan pelajaran yang lumayan susah. Menulis cerita dan karangan menjadi susah bagi Putri karena kesulitan mengetahui kata-kata Bahasa Indonesia yang ia pikirkan kesulitan lainnya adalah Putri kesusahan untuk memulai menuliskan sebuah kalimat awal paragraf.

Dalam proses pembelajaran di sekolah kadang guru kurang memperhatikan siswa dan malah bermain handphone saat mengajar. Untuk bacaan buku sendiri Fida lebih menyukai komik dan Putri senang membaca cerita rakyat nusantara. Keduanya mengatakan mereka lebih merasa terhibur dan senang dengan adanya

gambar-gambar dalam buku. Fida sendiri pernah menulis buku harian dan merahasiakan isinya dari kedua orang tuanya.

Dari keempat narasumber anak-anak ditemukan fakta yang menarik, yaitu ketika ditanya tentang buku jenis apa yang paling sering mereka baca, dalam kesempatan yang berbeda, keempat-empat anak tersebut menjawab buku pelajaran.

Waktu perancang menjelaskan jenis buku selain buku pelajaran, keempat siswa ini baru menyebutkan buku-buku lainnya. Mengetahui hal tersebut, dilakukan peninjauan kembali ke orang tua, ternyata di rumah mereka memang tidak pernah membaca buku lain selain buku pelajaran.

Dalam dokumen 2. IDENTIFIKASI DAN ANALISIS DATA (Halaman 37-42)

Dokumen terkait